Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Janji Kristus akan Damai Sejahtera, Sukacita dan Iman

Ibadah

Janji Kristus akan Damai Sejahtera, Sukacita dan Iman

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 9 September 2018

Bacaan Alkitab: Yoh 14:25-31

Saya akan memulai dengan satu pertanyaan: apa yang saudara lakukan hari ini jika saudara akan dihukum mati besok? Kemungkinan besar saudara dan saya akan bergumul berat akan iman kita, mengapa hal ini bisa terjadi? John Huss sebelum esoknya dia dibakar, pada malam harinya dia mencoba memegang lilin dengan tangannya, api itu panas, karena dia tahu besok pagi dia akan dibakar hidup-hidup. Pasti hati kita akan kacau, dan tidak ada damai sejahtera, kecuali ada Tuhan yang memimpin, yang memberikan iman dan kekuatan, seperti John Huss, yang ketika dibakar. Pemimpin gereja saat itu memberi kesempatan bagi John Huss untuk menarik semua perkataannya, dan dia akan diturunkan dari tumpukan kayu bakar. Tetapi dia tetap menolak, karena apa yang dia tuliskan itu adalah kebenaran. Kemudian John Huss bisa menyanyi memuji Tuhan ketika dia dibakar. Inilah salah satu keagungan dan kemuliaan Tuhan Yesus.

Bacaan kali ini menceritakan perkataan-perkataan Yesus pada malam sebelum Dia disalibkan. Yesus berkata (Yoh 14:31) “bangunlah, mari kita pergi dari sini”. Dia akan ke taman getsemani, dan akan bergumul berat di situ. Sebentar lagi Yudas akan membawa tentara-tentara untuk menangkap Dia, dan kemudian mereka akan menganiaya Dia. Dia akan dilucuti bajunya, dicambuk dan dipaku di atas kayu Salib. Dia tahu besok Dia akan mati. Sebentar lagi Dia menghadapi tantangan penderitaan dan kematian yang sangat mengerikan. Bangsa Romawi telah menciptakan satu hukuman mati yang sangat mengerikan, menyiksa sedemikian rupa. Tuhan Yesus tahu sekali karena dari sejak kecil Dia sering melihat orang dipaku di atas kayu salib, di taruh di pinggir jalan dan dibakar hidup-hidup. Tuhan Yesus tahu sekali apa yang akan Dia hadapi.

Tetapi malam sebelum Dia menghadapi itu, Dia mengatakan perkataan yang memberi penghiburan dan damai sejahtera kepada murid-murid-Nya.

Kita akan merenungkan tiga janji yang ada di dalam Yoh 14:27-29.

  • Yoh 14:27, Tuhan Yesus mengatakan “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Malam sebelum penderitaan-Nya, Yesus menguatkan murid-murid-Nya: janganlah gelisah dan gentar hatimu.
  • Yoh 14:28, Yesus berbicara tentang sukacita “Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku.”
  • Yoh 14:29, Yesus berbicara tentang iman supaya mereka percaya dan dikuatkan, “Dan sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi.”

Tuhan menginginkan murid-murid-Nya mendapat damai sejahtera yang bukan berasal dari dunia, mengalami sukacita ketika mereka mengerti apa yang akan terjadi sebentar lagi, memperoleh iman dari dan kepada Kristus. Iman, suka-cita dan damai sejahtera yang bukan berasal dari dunia, tetapi berasal dari Kristus sendiri.

Sebelum kita membahas tiga hal ini, kita akan mempertanyakan tentang suatu yang sangat mendasar yang dijawab dalam Yoh 14:25-26: untuk siapa janji iman, sukacita dan damai sejahtera ini diberikan? Tentu kita tahu dalam konteks peristiwa saat itu, janji ini diberikan kepada murid-murid-Nya. Tetapi janji ini juga diberikan bagi kita. Darimana kita tahu bahwa janji ini juga untuk kita? Bukankah janji itu diberikan 2000 tahun yang lalu dan kita tidak secara langsung mendengarkan janji tersebut yang dari Yesus.

Yoh 14:25-26 memberikan dasar yang penting bagi jawaban pertanyaan ini. Yoh 14:25-26 Yesus mengatakan “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” Kedua ayat ini memastikan bahwa janji akan iman, suka-cita dan damai sejahtera adalah janji yang akan diterima oleh seluruh murid-murid-Nya di segala tempat dan disegala jaman.

Kedua ayat ini sama pentingnya dengan 2 Tim 3:16 “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Tim 3:16 berbicara tentang insiprasi Roh Kudus yang diberikan khususnya kepada penulis perjanjian lama. Paulus mengatakan hal itu karena perjanjian baru belum selesai ditulis, jadi dia mengacu kepada perjanjian lama yang dia katakan sebagai “diilhamkan”, atau NIV sebagai “God breathed” – nafas Allah sendiri.

Namun bagaimana dengan perkataan-perkataan Tuhan Yesus yang belum dituliskan pada waktu itu karena Yesus melayani kira kira dari tahun 30 sampai tahun 33 Masehi. Bagaimana perkataan-perkataan Yesus bisa diterima oleh murid-murid, dan apakah itu juga merupakan inspirasi Roh Kudus. Maka ayat Yoh 14:25-26 menegaskan hal ini “tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.”

Sepuluh hari setelah Yesus naik ke surga, Roh-Kudus turun mengajar dan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu. Setelah para murid mengikuti Yesus selama tiga setengah tahun, kita tahu bahwa tidak ada dari antara mereka yang mencatat. Bagaimana mereka bisa mengingat pengajaran Tuhan Yesus selama tiga setengah tahun? Kita saja belum tentu ingat kotbah minggu lalu, apalagi para murid, bagaimana mereka harus mengingat pengajaran selama tiga setengah tahun yang begitu banyak. Maka Yoh 14:25-26 adalah sangat penting, Roh Kudus yang diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu dan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.

Roh Kudus mengajarkan dan mengingatkan seluruh arti perkataan Tuhan Yesus. Yoh 15:26 mengatakan “Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.” Yoh 16:13-14 mengatakan “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.

Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.”

Roh Kudus, pribadi Allah Tri-Tunggal yang ketiga, menjadi penting sekali, karena Dia yang akan mengingatkan, mengajarkan, mengkonfirmasi apa yang Yesus telah ajarkan. Kita sangat bersyukur kepada Tuhan, karena dengan inspirasi Roh Kudus, para murid bisa menulis apa yang mereka sudah dengar dan alami sendiri, yang mungkin mereka sudah lupa tanpa pertolongan Roh Kudus. Tulisan-tulisan mereka menjadi Kitab Suci yang kita baca. Waktu kita membacanya, atau waktu firman itu diberitakan melalui kotbah, itu seperti Tuhan Yesus sendiri sedang mengajar kepada kita. Kalau kita tidak pernah tergerak ketika kita mendengarkan firman, seringkali masalahnya bukan dari pemberitaan firman, tetapi dari hati kita sendiri. Kalau firman itu tidak menggerakkan hati kita, maka tidak ada apapun yang bisa menggerakkan hati kita.

Biarlah kita dengan hati yang bersyukur, waktu kita membaca dan mendengar firman, Roh yang sama yang menginspirasi para murid, dan orang-percaya segala jaman, Roh itu juga memimpin, mengajar, membawa kita mengingat segala perkataan dari pada Kristus sendiri. Marilah kita secara objektif sadar bahwa ini adalah perkataan Tuhan Yesus sendiri, inspirasi dari pada Roh Kudus, nafas dari pada Tuhan sendiri. Tetapi lebih daripada itu, Roh yang sama yang sudah bekerja pada 2000 tahun yang lalu, adalah Roh yang sama yang berkarya pada hidup kita pada saat ini, memimpin pikiran dan hati kita untuk mengerti setiap perkataan Tuhan sebagai perkataan Tuhan kepada kita pada hari ini. Dengan kesadaraan ini kita bisa melihat tiga janji yang Tuhan berikan.

  1. Janji akan Damai Sejahtera

Yoh 14:27 “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Suatu kali ada perlombaan melukis tentang damai sejahtera. Maka masuklah banyak lukisan. Ada lukisan yang sangat bagus yang menggambarkan matahari terbenam, ada gunung yang indah, ada danau yang tenang, ada burung-burung yang sedang terbang, dan menyanyi dengan riang-nya, ada satu keluarga yang sedang piknik di pinggir danau. Tetapi yang mendapat juara pertama, secara sekilas tidak menggambarkan damai sejahtera di dalam pikiran banyak orang. Lukisan itu menggambarkan hal yang sangat mengerikan, langit begitu gelap, sedang ada badai, petir menyambar, pohon berdoyong-doyong, air terjun yang muncrat ke sana-kemari. Tetapi lukisan itu menang, karena di balik air terjun itu digambarkan dua ekor anak burung yang sedang diberi makan oleh ibu mereka.

Damai sejahtera yang Yesus berikan adalah seperti demikian. Damai sejahtera yang tidak seperti dunia berikan, damai sejahtera yang ditengah-tengah kesulitan, kegelisahan, dan penderitaan. Karena itu Yesus berkata janganlah gelisah dan gentar hatimu. Berarti ada alasan untuk takut, untuk gentar, tetapi ditengah-tengah segala ketakutan dan kegentaran seperti yang Kristus hadapi sendiri itulah, Kristus memberikan damai sejahtera kepadamu. Dalam Yoh 16:32-33 Yesus mengatakan “Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia."”

Damai sejahtera yang Kristus berikan tidak dikenal oleh dunia ini. Dunia pasti mengatakan bahwa di tengah-tengah kondisi dimana damai sejahtera itu diberikan, engkau pasti akan takut, bingung. Damai sejahtera bukan karena lingkungan begitu baik, bukan karena ada asuransi rumah, mobil dan jiwa, bukan karena situasi keluarga, dan anak-anak yang baik. Kalau keluarga baik-baik dan hidup kita baik-baik, pekerjaan dan masa depan yang baik, kita memang harus bersyukur, tetapi damai sejahtera yang Yesus berikan adalah bukan dipengaruhi oleh dunia ini. Damai sejahtera yang meskipun engkau mengalami penganiayaan, gembala ditangkap, domba tercerai-berai, maka justru di dalam keadaan seperti itu, damai sejahtera diberikan kepadamu. Yesus sendiri mengalami penganiayaan, dikhianati oleh murid-Nya sendiri, tetapi ‘Aku tidak takut karena Bapa yang akan menyertai Aku’. Karena itu Filipi 4:7 mengatakan “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”

Apakah engkau mengenal dan mengalami akan damai sejahtera (peace) seperti ini. Kristus yang sebentar lagi akan disalibkan dan melalui kematian-Nya akan memperdamaikan kita dengan Allah, itulah yang menjadi sumber damai sejahtera yang paling utama. Kita diperdamaikan dengan Tuhan, maka ada kedamaian yang melampaui segala akal dan hati kita yang paling dalam. Damai sejahtera yang akan mendorong kita dalam melakukan pekerjaan Tuhan. Damai sejahtera di dalam kesulitan dan pergumulan seperti yang Kristus sendiri alami. Murid-murid akan tercerai berai dan meninggalkan Yesus seorang diri, namun ada damai sejahtera karena Bapa menyertai Aku. Ini adalah rahasia damai sejahtera dari pada anak-anak Tuhan.

Paulus sendiri berdoa kepada Tuhan untuk mengambil duri dalam daging (lihat 2 Kor 12) Dia berdoa tiga kali memohon Tuhan mencabut duri itu, sesuatu yang sangat menyusahkan dia, Paulus jarang sekali berdoa untuk dirinya sendiri. Tetapi Tuhan berkata tidak, Aku tidak akan mencabut duri itu, tetapi Aku akan memberikan anugerah damai sejahtera: My grace is sufficient for you. Karena justru didalam kelemahanmu lah, Aku memberikan kekuatan, anugerah dan damai sejahtera. Karena itu Paulus berkata aku lebih bersuka dan bermegah didalam kelemahanku, karena ketika aku lemah, maka aku kuat. Ketika aku lemah aku bersandar, berseru kepada Tuhan menyadari bahwa ditengah-tengah kesulitan ini, damai sejahtera itu pasti diberikan. Bukan damai sejahtera yang nanti setelah kita selesai dari dunia ini, betul memang ada damai sejahtera yang puncak, tidak ada lagi air-mata, tidak ada lagi kematian, kita bertemu muka dengan muka dengan Tuhan. Tetapi bukan hanya nanti pengharapan itu, ditengah-tengah kesulitan dan pergumulan kita, seperti Kristus sendiri juga mengalaminya, maka Tuhan Yesus mengatakan damai sejahtera Aku berikan kepadamu. Inilah janji Tuhan yang Tuhan inginkan kita alami.

Paulus mengatakan jikalau engkau mau taat maka engkau pasti akan mengalami aniaya. Tetapi justru disitulah Tuhan berjanji damai sejahtera Aku berikan kepadamu. Dalam buku Michael Desmore “Ditetapkan untuk menghasilkan buah”, dia menyampaikan ketika engkau mendengarkan suara setan, saat itu juga hatimu akan dipenuhi dengan kegelisahan dan ketakutan. Tetapi ketika engkau melakukan kehendak Tuhan, memang ada kesulitan, pergumulan, kelemahan dan penderitaan, tetapi di tengah-tengah semua itu, maka ingat janji Tuhan “damai sejahtera Kuberikan kepadamu, Aku akan menyertai engkau.”

2. Janji akan Sukacita

Kristus menjanjikan sukacita kepada murid-murid-Nya jika mereka sungguh-sungguh mengerti apa yang akan terjadi. Yoh 14:28 “Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku.” Kalimat ini tidak mudah untuk dimengerti. Apa kaitan bersuka cita dengan Yesus akan pergi kepada Bapa? Kalimat “sebab Bapa lebih besar daripada Aku” seringkali dipakai oleh saksi Yehova, mereka beralasan itu artinya Yesus tidak satu level dengan Bapa. Kita melihat bagian-bagian yang lain, dari Yoh 1:1 “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah”, Yoh 1:14 “Firman itu telah menjadi manusia” (sehingga Firman itu menunjuk kepada Kristus), dan juga yang paling puncak Yoh 10:30 Yesus mengatakan “Aku dan Bapa adalah satu.”

Apa artinya ketika Yesus berkata “Bapa lebih besar daripada Aku?” Ini adalah mirip seperti Filipi 2:5-11 yang menyatakan teori Kenosis, Kristus yang walaupun dengan rupa Allah, tidak menganggap kesetaraannya dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan. Melainkan Dia mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Di dalam keadaan-Nya sebagai manusia, Dia taat sampai mati di atas kayu salib. Jadi di dalam keadaan-Nya sebagai manusia Dia merendahkan diri-Nya, di dalam inkarnasi, di dalam keadaan inilah, Dia mengatakan “Bapa lebih besar daripada Aku.” Seluruh yang Aku lakukan, Aku lakukan dalam ketaatan kepada Bapa, dan bukan sebaliknya. Maka seperti yang Filipi 2 katakan selanjutnya setelah Yesus mati di atas kayu salib, maka Allah sangat meninggikan Dia, membangkitkan Dia dan memberikan Dia nama di atas segala nama, supaya dalam nama itu, semua lidah akan mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan, semua lutut akan bertelut dan mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah Bapa.

Karena itu Yesus mengatakan engkau tentu akan bersuka cita ketika Aku kembali kepada Bapa dan menerima kembali kemuliaan yang memang adalah milik-Ku. Sebentar lagi Yesus akan ditangkap, mati, bangkit pada hari yang ketiga, dan kembali kepada Bapa menerima kemuliaan milik-Nya. Sehingga dalam nama Kristus, semua akan mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan dan menyembah Dia. Yesus akan kembali ke dalam persatuan dengan Bapa yang penuh kasih, sukacita, akan kemuliaan Allah, dalam persekutuan satu dengan yang lain. Persatuan yang dalam waktu yang singkat akan dirobek di atas kayu salib. Ketika Yesus berkata di atas kayu salib (Mat 27:46) “My God, My God, why hast Thou forsaken Me.” Allah-Ku, Allah-Ku mengapa Engkau meninggalkan Aku, di dalam puncak kegelapan dosa, Anak Allah yang tunggal yang tidak pernah dipisahkan sedetik pun dari Bapa-Nya, sekarang ditinggalkan. Karena murka Allah datang di atas kayu salib atas Yesus yang menanggung seluruh dosa manusia. Pada saat itulah, persekutuan yang kekal itu dirobek.

Yoh 14:31 menegaskan kepada kita bahwa semua ini adalah karena kasih-Nya kepada Bapa. Yoh 14:30-31 mengatakan “Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa dunia ini datang dan ia tidak berkuasa sedikitpun atas diri-Ku. Tetapi supaya dunia tahu, bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku, bangunlah, marilah kita pergi dari sini."

Janji sukacita diberikan adalah karena Kristus telah menyelesaikan karya keselamatan Allah, dan telah memungkinkan kita berbagian di dalam persekutuan dengan Bapa, Anak yang penuh kasih, sukacita dan kemuliaan.

Kalau engkau mengerti bahwa semua hal yang Aku lakukan adalah karena kasih Ku yang puncak kepada Bapa, maka engkau akan bersuka cita karena engkau akan berbagian didalam dan dengan  (setan)kasih itu, dalam persekutuan dengan Bapa yang tidak akan terpisahkan lagi untuk selama-lamanya. Kalau engkau mengerti itu dan berbagian dalam kasih-Ku itu, maka engkau akan bersuka cita, dalam sukacita Allah Tri-Tunggal, bukan dalam sukacita dunia.

3. Janji akan Iman

Tuhan Yesus mengatakan Yoh 14:29 “Dan sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi.” Tuhan Yesus mengatakan hal ini supaya iman kita dikuatkan. Pertanyaannya adalah percaya apa? Percaya meskipun Yesus ditangkap, dianiaya, dijatuhi hukuman mati, diolok-olok, disalibkan, meskipun (Yoh 14:30) penguasa dunia ini datang dan ia tidak berkuasa sedikitpun atas diri-Ku. Penguasa dunia, yaitu setan, berkuasa atas banyak manusia, karena ada dosa pada manusia. Setan menuduh - dia memang disebut sebagai penuduh dari awalnya – karena memang manusia berdosa.

Tetapi di dalam hidup Yesus, tidak ada dosa apapun, bagaimana setan bisa menuduh Dia, bisa berkuasa atas-Nya? Tidak ada satu titik pun di dalam hidup Yesus, di mana dia ( setan) bisa memakai itu untuk mencengkram dan menguasai Yesus. Setan telah mencengkram Yudas dan dia akan segera datang dengan tentara-tentara, tetapi ketahuilah bahwa setan tidak mempunyai kuasa apa pun atas diri-Ku. Tuhan Yesus mengatakan bahwa Dia akan mati, tetapi mati bukan karena terpaksa, tidak ada jalan keluar atau tidak berdaya.

Sewaktu Petrus mencabut pedangnya seolah-olah ingin membunuh orang yang akan menangkap Yesus, Yesus berkata (lihat Mat 26:51-56) “Sarungkan pedangmu, Petrus, tidak tahukah kamu bahwa Aku hanya butuh satu kata saja “tolong”, maka berlaksa-laksa malaikat akan datang. Tetapi tidak tahukah engkau memang Aku harus mati, Aku datang untuk melakukan kehendak Allah, untuk menyatakan kasih-Ku kepada Allah.

Dia mentaati Bapa dalam perjanjian kekal yang disebut sebagai factum salutis, untuk menyelamatkan manusia, dan Anak setuju dengan rela karena kasih-Nya kepada Bapa, kasih-Nya kepada kita, mati menanggung dosa demi menyelamatkan umat-Nya yang percaya. Yesus memang akan mati tetapi kematian-Nya bukan karena setan yang berkuasa, bukan karena Pilatus yang berkuasa, bukan karena rakyat yang berkata salibkan Dia, tetapi karena Aku mengasihi Bapa dan mentaati segala perintah Bapa.

Salib bukanlah tanda kemenangan setan dan kejahatan. Salib adalah tanda kemenangan Kristus, tanda kemenangan kasih. Salib merupakan ekspresi puncak kasih Kristus kepada Bapa, yang berdasarkan perjanjian antara Anak dan Bapa di dalam kekekalan untuk menyelamatkan umat-Nya di dunia ini.

Gambaran yang diberikan Alkitab tentang hal ini adalah ketika Abraham akan mempersembahkan Ishak, namun kita kali ini akan memfokuskan pada Ishak. Setelah tiga hari mereka berjalan, dalam Kej 22, Abraham dan Ishak naik ke atas gunung. Ishak membawa kayu, Abraham membawa pisau dan api. Ishak berkata kepada Abraham, bapa sudah ada kayu sudah ada pisau, ada api, di mana anak domba yang akan dikorbankan. Abraham menjawab dengan kata yang sangat bermakna: Allah yang akan menyediakannya anakku. Ada penafsir yang mengatakan mungkin yang dimaksud adalah Allah yang akan menyediakan anak domba itu yaitu Anak-Ku. Jadi itulah gambaran bayang-bayang Kristus yang akan naik ke Golgota. Kristus yang membawa kayu ke atas gunung. Abraham pada saat itu sudah sangat tua, sedangkan Ishak masih muda dan bertenaga. Ketika Abraham akan mengikat Ishak, maka Ishak baru sadar, bahwa tidak ada domba, dan dialah yang akan dipersembahkan. Kalau Ishak tidak taat, maka dia bisa lari dan Abraham tidak mungkin dapat mengejarnya. Itu menggambarkan Ishak yang taat kepada ayahnya, seperti ketaatan Abraham kepada Allah. Ishak mempersembahkan dirinya.

Namun kita tahu akhir ceritanya, ketika Abraham akan mengangkat pisaunya, datanglah malaikat Tuhan yang berkata Abraham Abraham, jangan apa-apakan anak itu, karena sekarang Aku tahu bahwa engkau mengasihi Aku, karena engkau tidak segan-segan menyerahkan anakmu yang tunggal itu. Ishak adalah bayang-bayang Kristus, Ishak bukan juru selamat, dia tidak perlu mati untuk menebus dosa manusia, dan dia memang tidak bisa. Tetapi Ishak adalah bayang-bayang Kristus, yang taat memikul salib-Nya, naik ke atas kayu salib untuk mati menanggung dosa saudara dan saya, untuk menyatakan kasih-Nya kepada Bapa.

Yesus mengatakan kalimat-kalimat ini sebelum Dia betul-betul ditangkap dan disalibkan untuk menunjukkan who is in charge. Tuhan Yesus mengatakan tidak ada seorang pun yang dapat merebut nyawa-Ku dari pada-Ku kalau Aku tidak memberikannya. Tuhan Yesus mengatakan sebentar lagi aku akan ditangkap dan mati, tetapi bukan penguasa dunia ini yang membunuh Aku, bahkan mereka sebenarnya di dalam kedaulatan Tuhan dipakai oleh Tuhan untuk menggenapi rencana keselamatan Tuhan bagi manusia yang berdosa. Aku akan menyerahkan nyawa-Ku, menyatakan kasih-Ku kepada Bapa-Ku dengan ketaatan yang paling puncak. Dia ingin menyatakan bahwa Bapa berkuasa atas seluruh peristiwa ini, tidak seorangpun mengambil nyawa-Ku dari pada-Ku.

Yesus mengatakan kalimat-kalimat ini sebelum semua itu terjadi supaya murid-murid-Nya dan kita juga boleh percaya kepada Kristus. Kita boleh beriman sungguh-sungguh di dalam Kristus, karena Dia berkuasa atas titik sejarah yang paling gelap. Kayu salib menyatakan kengerian dosa yang paling puncak, sekaligus kasih Kristus yang paling puncak.

Yoh 14:29 “Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi.” Ini adalah tujuan dari seluruh prediksi di dalam kalimat-kalimat yang Yesus katakan sebelum hal itu terjadi, untuk menyatakan siapa yang paling berkuasa. Kalau Dia berkuasa atas titik yang paling gelap itu, maka Dia juga berkuasa atas titik tergelap di dalam hidup kita. Dan bagi kita yang percaya dan mengasihi Dia, biarlah kita percaya dan bersandar kepada Tuhan, kalau  Dia berkuasa atas titik tergelap dalam sejarah, Dia tentu berkuasa atas titik tergelap dalam hidup kita.

Biarlah kita beriman kepada Dia atas tiga janji yang Yesus katakan sebelum Dia dipaku di atas kayu salib. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, bersukacitalah kalau engkau mengerti apa yang akan terjadi sebentar lagi, dan percayalah kepada-Ku karena sebelum semuanya itu terjadi, Aku sudah mengatakan kepadamu bahwa itu akan terjadi. Karena Aku berkuasa, Bapa berkuasa, Dia tidak pernah meninggalkan kita. Dia mengalahkan titik tergelap dalam sejarah manusia, maka Dia juga bisa mengalahkan titik tergelap di dalam hidup kita.

Mari kita beriman dan percaya kepada-Nya, di dalam apapun kesulitan dan pergumulan yang kita hadapi. Biarlah kita kembali kepada firman, perkataan Tuhan yang sudah Tuhan berikan kepada kita, melalui Roh-Nya yang kudus. Biarlah kita membaca firman, merenungkan dan berdoa memohon Roh-Nya yang kudus berbicara kepada hati kita yang paling dalam, menguatkan kita. Damai sejahtera-Nya yang melampaui segala akal boleh memimpin hidup kita, mendorong kita mentaati Tuhan dan melakukan kehendak-Nya.

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya