Ibadah

Perintah Baru

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 8 Juli 2018

Bacaan Alkitab: Yoh 13:31-35

Sebelum bagian ini, dalam Yoh 13:1-30, Yesus makan malam bersama untuk terakhir kalinya dengan para-murid. Makan malam ini “the Last Supper” adalah makan malam yang terpenting. Dalam the Last Supper, Yesus mengatakan salah seorang dari 12 murid ini akan menyerahkan Aku. Kalimat yang mengagetkan ini dilukis oleh Leonardo Da Vinci dalam lukisan “the Last Supper”. Petrus menyuruh Yohanes untuk bertanya kepada Yesus siapa yang akan mengkhianati-Nya. Yesus kemudian mengambil roti dan mencelupkannya dan memberikannya kepada Yudas, sebagai pertanda bahwa Yudas-lah pengkhianat itu. Seketika itu juga setan menguasai Yudas sepenuhnya. Yesus kemudian berkata kepada Yudas apa yang mau kamu perbuat lakukanlah segera. Murid-murid yang lain berpikir bahwa Yesus menyuruh Yudas untuk membeli sesuatu atau memberi sedekah kepada orang miskin. Tetapi kemudian Yudas pergi meninggalkan Yesus dan murid-murid lainnya. Alkitab mencatat “it was night”, kata “malam” bagi Injil Yohanes mempunyai maksud simbolik bahwa Yudas masuk ke dalam kegelapan dan tidak pernah keluar lagi. Ini adalah pertemuan terakhir Yesus dengan Yudas, sebelum Yudas mencium Yesus nantinya di taman Getsemani.

Kata-kata dalam Yoh 13:31-35 adalah kata-kata yang intimate, yang secara khusus diberikan kepada murid-murid-Nya yang sejati. Yudas adalah murid yang palsu, sudah pergi. Sekarang Yesus berkata kepada murid-murid-Nya yang akan satu demi satu mati demi nama-Nya, setiap dari mereka akan mengikuti Kristus kemanapun Tuhan memimpin dan mengarahkan hidup mereka.

Dalam Yoh 13:33 Yesus memanggil para murid dengan “Hai anak-anak-Ku”, ini adalah panggilan yang khusus yang tidak ada di seluruh Alkitab. Kata yang dipakai dalam bahasa Yunani adalah teknia, “my little children”. Ini berbeda dengan paedia atau children/anak-anak. Kata ini secara khusus memberi impresi kepada Yohanes yang menulis bagian ini. Teknia adalah kata yang dipakai seorang ayah kepada anaknya yang masih kecil. Seperti orang tua yang sudah mau mati di tempat tidur dan memanggil anak-anaknya yang masih kecil untuk memberikan pesan yang terakhir kepada mereka.

Kata ini memberikan kesan yang mendalam bagi Yohanes, sehingga dia memakai kata ini di dalam surat-suratnya yang lain. 1 Yoh 2:1 “Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil.”;

1 Yoh 2:12 “Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, sebab dosamu telah diampuni oleh karena nama-Nya.”;

1 Yoh 2:18 “Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir.” Kata Teknia menjadi kata favorit bagi Yohanes sehingga dia menggunakan istilah yang sama ketika dia mengajar kepada orang-orang Kristen yang lain.

Bukan istilah Teknia saja yang dipakai oleh Yohanes, tetapi juga “perintah baru” yang ada di Yoh 13:34 “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” Istilah “perintah baru: hanya dicatat oleh Yohanes. Ini adalah hal-hal khusus yang Yohanes tangkap dengan begitu indah, dengan inspirasi Roh Kudus. Injil sinoptik, Matius, Markus dan Lukas, tidak mencatat bagian ini.

“Perintah baru” ini memberikan impresi yang sangat dalam bagi Yohanes, sehingga perintah baru ini mewarnai seluruh 1 Yoh dan 2 Yoh. Kita mengetahui perintah baru untuk saling mengasihi menjadi pusat dari surat-surat ini. Bapa Gereja Jerome menulis tentang Yohanes pada masa tua Yohanes. Saat Yohanes tua dia ditolong dan banyak orang berkumpul mendengarkannya. Jerome mencatat bahwa Yohanes sering berkata teknia, little children, hai anak-anakku, kasihilah satu dengan yang lain. Mereka lama-lama bosan dengan perkataan ini, dan bertanya kepada Yohanes mengapa dia terus menerus mengatakan hal ini. Yohanes menjawab because it is the Lord’s commandmend, and if it is alone kept it is sufficient. Ini menjadi penting sekali, karena ini adalah perintah Tuhan dan jika ini diaplikasikan dalam Gereja Tuhan, maka itu sudah cukup.

Mari kita merenungkan perintah dalam Yoh 13:34 ini. Ada kebenaran yang sangat penting, sehingga kita bisa kagum atas perintah yang maha penting ini.  

Dua hal yang besar dalam perintah ini yang bisa kita renungkan:

-       Sesuatu yang menarik ketika kita melihat perintah Yesus untuk saling mengasihi sama seperti Aku telah mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi. Tetapi kalau kita lihat dalam 1 Yoh dan 2 Yoh, Yohanes tidak pernah menulis secara langsung supaya kita mengasihi seperti Kristus mengasihi kita. Yohanes tidak pernah mencatat secara langsung tentang kasih Kristus kepada murid-murid-Nya, Yohanes selalu berbicara tentang kasih Allah kepada anak-anak-Nya. Ketika Yohanes berbicara tentang Kristus, Yohanes berbicara tentang kasih Allah dalam memberikan Yesus Kristus bagi kita. Yohanes mendorong kita untuk mengasihi sesama sama seperti Allah telah mengasihi kita.

1 Yoh menjadi seperti commentary dari perintah ini. 1 Yoh 4:10-11 mengatakan “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.”

Dalam Yoh 13, Tuhan Yesus yang berkata kasihilah saudara-saudaramu sama seperti Aku mengasihi kamu. Tetapi Yohanes dalam surat-suratnya tidak pernah mencatat bahwa Kristus telah mengasihi kita, namun secara konsisten menuliskan tentang kasih Allah dan bukan kasih Kristus. Allah telah mengasihi kita dengan mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa kita. Saudara-saudaraku yang terkasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita harus saling mengasihi.

Ini adalah sesuatu yang menarik mengapa Yohanes mencatat seperti demikian? Karena Yohanes semakin menyadari signifikansi peristiwa yang sudah terjadi sebelumnya itu, yaitu pada saat saat terakhir Yesus sebelum Yesus memberikan perintah untuk saling mengasihi. Ketika Yesus mencuci kaki murid-murid-Nya, itu sebenarnya adalah Allah sedang menyatakan kasih kepada murid-murid-Nya. Ketika Yesus berkata salah seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku, di situ Allah sendiri sebenarnya sedang mengatakan bahwa salah seorang dari mereka akan menyerahkan Anak-Nya yang tunggal itu. Ketika Yohanes sedang bersandar kepada Yesus dan menanyakan siapakah orangnya itu, Yohanes sadar bahwa dia sedang bersandar kepada dada dari pada Allah itu sendiri. Ketika Yesus mengatakan bahwa sebentar lagi Dia akan disalibkan dan dimuliakan, sebenarnya Yohanes sadar bahwa Allah sedang menyatakan kasih-Nya kepada murid-murid melalui diri Yesus Kristus. Yohanes menyadari bahwa Allah sedang menyatakan kasih-Nya kepada mereka malam itu. Ketika Yesus berkata Aku akan disalibkan dan menyerahkan nyawa-Ku, biarlah engkau melihat kasih yang terpuncak ini dan biarlah engkau saling mengasihi sama seperti Allah telah mengasihi engkau.

Yohanes menyadari bahwa Yesus adalah Allah itu sendiri yang telah datang ke dalam dunia menyatakan kasih-Nya kepada kita. Ketika Yohanes mengatakan dalam surat-suratnya, bahwa Allah mengasihi kita, bukan dia sedang merendahkan Tuhan Yesus, tetapi dia justru sedang meninggikan Kristus karena Yohanes sadar bahwa Kristus itu adalah firman yang telah menjadi manusia, firman yang adalah Allah itu sendiri yang telah datang sebagai manusia, dan yang mati menyatakan kasih-Nya yang begitu besar.

-       Yohanes menganggap perintah saling mengasihi dan percaya kepada Kristus bukanlah dua perintah tetapi merupakan satu perintah. 1 Yoh 3:23 “Dan inilah perintah-Nya itu: supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita” Di dalam terjemahan inggrisnya, “And this is His command” menggunakan command singular. Kalau kita membaca perintah itu seperti ada dua, supaya kita percaya akan nama Kristus Anak-Nya dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita. Perintah untuk saling mengasihi tidak bisa dilepaskan dengan perintah untuk percaya kepada Kristus. Inilah satu perintah yang ditujukan kepada murid-murid-Nya yang sejati, yang sudah percaya, beriman dan lahir baru di dalam Kristus. Perintah untuk saling mengasihi dan perintah untuk percaya kepada Kristus bukanlah dua perintah melainkan satu perintah yang menjadi satu di dalam hidup murid-murid-Nya yang sejati dan orang-orang percaya. 

Kalau kita kembali kepada 1 Yoh 13:35 “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” Sekali lagi ditegaskan di sini, bahwa dunia akan tahu bahwa engkau adalah murid Kristus jika engkau saling mengasihi. Hal ini bukan berarti kalau kita tidak mengasihi satu sama lain maka orang-orang tidak akan tahu bahwa kita adalah murid-murid-Nya. Namun penekanannya adalah kalau kita tidak mengasihi satu-sama yang lain, bukan hanya dunia yang tahu kita bukan murid-murid-Nya, tetapi sesungguhnya kita bukanlah murid-murid Kristus. Kalau kita tidak mengasihi satu sama lain, kita bukanlah murid-murid Kristus yang sejati. Karena kalau kita sudah sungguh-sungguh dipersatukan dengan Kristus, menjadi murid-murid Kristus yang sejati maka sudah pasti, dan tidak mungkin tidak, secara natural, kita harus saling mengasihi.

1 Yoh menegaskan hal ini berkali-kali:

-       1 Yoh 3:10 “Inilah tandanya anak-anak Allah dan anak-anak Iblis: setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian juga barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya.”

-       1 Yoh 3:14 “Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut.“

-       1 Yoh 4:7-8 “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.”

-       1 Yoh 2:9-10 “Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang. Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan.”

Kita melihat point yang sama ditekankan berulang ulang. Kalau engkau tidak mengasihi satu dengan yang lain, engkau masih tinggal di dalam kegelapan, engkau bukanlah murid-murid-Ku, engkau masih murid dari setan. Mengasihi itu adalah bukti yang sangat penting. Kalau engkau sudah berpindah dari maut ke dalam terang, dari dalam kegelapan ke dalam terang, kalau engkau sudah sungguh-sungguh di dalam Kristus maka engkau pasti saling mengasihi satu dengan yang lain.

Bukti bahwa kita adalah murid Kristus yang sejati bukanlah kalau kita mengaku orang Kristen, bukanlah kalau kita datang ke Gereja setiap hari minggu, bukanlah karena aktif melayani. Hal itu memang semua penting, tetapi hal-hal itu bukanlah bukti bahwa kita adalah murid Kristus yang sejati. Bukti yang Tuhan tuntut di sini, bahwa kita adalah orang Kristen yang sejati, yang sudah lahir baru, dan sudah di dalam Kristus adalah jikalu kita mengasihi saudara kita.

Mengapa kasih itu begitu penting, sebagai bukti yang paling puncak bahwa kita adalah murid Kristus yang sejati? Jawabannya terdapat pada pemakaian kata perintah baru di dalam Yoh 13:34 “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi.”

Kalau kita membaca perjanjian lama sebenarnya perintah ini sudah ada.

Imamat 19:18 mengatakan “kasihilah sesama manusia seperti dirimu sendiri…” Jadi ini adalah perintah lama, tetapi mengapa Yesus mengatakan sebagai perintah baru? Penjelasan Kristus selanjutnya, sama seperti Aku mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi. Sebentar lagi Tuhan Yesus akan menyatakan puncak kasih-Nya di atas kayu salib. Ini adalah sesuatu yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah sampai saat itu. “Baru” nya adalah mereka baru sekarang melihat dan mengerti apa artinya kasih itu.

Tuhan Yesus menjelaskan kembali perintah ini dalam Yoh 15:12-13 “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Kristus menjelaskan perintah ini dan menegaskan bahwa sesaat lagi Dia akan memberikan nyawa-Nya kepada sahabat-sahabat-Nya. Ini adalah kasih yang terbesar yang akan Kristus berikan kepada murid-murid-Nya, karena itu kasihilah saudaramu seperti Aku sudah mengasihi seperti demikian. Inilah perintah baru, sesudah melihat dan mengerti, Aku menyatakan melihat kasih yang terbesar. Ini belum pernah terjadi sebelumnya, seperti Aku mengasihi kamu demikianlah kamu harus saling mengasihi.

Bagaimana kita bisa mengasihi seperti Kristus menyerahkan nyawa-Nya bagi sahabat-sahabat-Nya? Kita bukan hanya meniru atau meneladani kasih Kristus, tetapi kita bisa melakukannya, dan bisa secara natural di dalam hidup yang baru itu, kalau kita tinggal di dalam kasih-Nya itu.

Dalam Yoh 15:9 Yesus mengatakan “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.” Ini memberi pengertian bagaimana kita boleh seperti Kristus mengasihi sahabat-sahabat-Nya. Ketika kita tinggal di dalam kasih Kristus, kita sungguh-sungguh percaya di dalam Kristus, maka kita bukan hanya menerima kasih itu, tetapi sebenarnya kita bersatu dengan Kristus, yaitu kasih itu. Dengan kata lain kita bersatu dengan kasih itu sendiri.

Karena itu tidak mungkin orang yang di dalam Kristus tidak mengasihi. Ini menjadi tanda yang krusial, tanpa ini engkau bukan murid-murid Kristus yang sejati. Karena ketika engkau beriman, yang disebut orang Kristen yang sejati adalah orang yang dipersatukan di dalam Kristus, bersatu dengan kasih itu. Maka apa yang kita kerjakan pasti harus memancarkan kasih itu. Kalau tidak ada kasih itu maka kita belum tinggal di dalam kasih itu, kita belum tinggal di dalam Kristus itu sendiri.

1 Yoh 2:9-10 mengatakan “Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang. Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan.“  Jikalau seorang mengaku berkata dia sudah percaya, pergi ke Gereja, memberikan persembahan, dll. tetapi dia membenci saudaranya, maka dia tetap berada di dalam kegelapan. Satu-satunya bukti adalah engkau harus mengasihi, karena engkau mengasihi maka engkau sendiri berada di dalam terang. Seperti perumpamaan tentang pokok anggur, jikalau engkau adalah ranting-ranting dan Aku adalah pokok anggur yang benar itu, tinggallah di dalam Aku maka kamu akan berbuah banyak. Buah pertama seperti yang dikatakan dalam Galatia 5:22-23 adalah kasih. Kasih tidak boleh tidak ada dalam hidup anak-anak Tuhan.

Perintah baru ini menjadi sangat krusial karena kita mengerti ketika Kristus mati, semua orang yang percaya dipersatukan di dalam salib Kristus. Barang siapa di dalam Kristus, dia adalah ciptaan baru. Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Manusia lama yang berdosa sudah berlalu, sudah mati, dan disalibkan bersama sama dengan Kristus. Sesungguhnya yang baru sudah datang, hidup yang di dalam Kristus, hidupku bukan aku lagi tetapi Kristus yang hidup di dalam aku, dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging adalah hidup oleh iman di dalam Anak Allah, yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.

Kita seperti ranting-ranting itu tinggal di dalam pokok anggur, kalau kita terputus dari pokok anggur maka kita tidak bisa berbuat apa-apa. Tinggallah di dalam-Ku (abide in Me), maka engkau akan berbuah banyak, dan buah yang utama adalah engkau harus mengasihi satu sama lain. Terutama mengasihi saudara seiman, satu Gereja, satu keluarga, teman-teman sepelayanan, seperti Kristus telah mengasihi kita. Kalau kita mengerti akan kasih Tuhan dan pengorbanan Kristus, maka bukan hanya menggerakkan hati kita tetapi juga sadar bahwa jati diri kita, eksistensi kita bergantung kepada Kristus. Ketika kita beriman kepada Kristus, kita dipersatukan ke dalam Kristus, maka iman yang sejati adalah iman yang mempersatukan kita dengan kasih Kristus.

Bukan berarti secara otomatis kita bisa mengasihi seperti Kristus telah mengasihi kita, tetapi perintah ini diberikan supaya kita harus berjuang, menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Kristus. Tuhan sudah memberikan sesuatu yang paling penting dalam hidup kita. Kalau kita di dalam Kristus, kita adalah manusia baru, memiliki hidup yang baru. Sehingga hidupku bukan aku lagi tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.

Untuk dapat melihat kasih secara praktikal, kita melihat definisi kasih yang diberikan oleh Paulus dalam 1 Kor 13:4-7 :  

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu..”

Allah adalah kasih, Kristus adalah Allah, karena itu Kristus adalah kasih, maka kita mengganti kata kasih dalam 1 Kor 13:4-7 dengan Kristus:

Kristus itu sabar, Kristus itu murah hati, Kristus itu tidak iri-hati, Kristus tidak memegahkan diri, Kristus tidak sombong, Kristus tidak melakukan yang tidak sopan, Kristus tidak mencari keuntungan diri sendiri, Kristus tidak pemarah, dan Kristus tidak menyimpan kesalahan orang lain, Kristus tidak bersuka cita karena ketidakadilan, tetapi Kristus bersuka cita karena kebenaran, Kristus menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Untuk menangkap berita ini, sekarang bisakah kita ganti kata “kasih” itu dengan nama saudara sendiri (contohnya “Anton”/saya):

Anton itu sabar, Anton itu murah hati, saya tidak cemburu, saya tidak memegahkan diri, saya tidak sombong, saya tidak melakukan yang tidak sopan, dan tidak mencari keuntungan diri sendiri, saya tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, saya tidak bersuka cita karena ketidakadilan, tetapi saya bersuka cita karena kebenaran, saya menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. 

Apa yang saudara rasakan sewaktu membaca hal ini? Pasti saudara merasa malu, karena hidup saudara belum seperti itu. Biarlah kita mengerti dengan dalam, bahwa ini adalah perintah Tuhan. Kalau kita adalah murid Kristus yang sejati maka kita harus menyatakan kasih itu. Kasih yang dinyatakan dengan jelas, dengan begitu praktis, seperti yang Paulus katakan di sini. Waktu kita melihat diri kita di hadapan kasih Tuhan, kalau kita murid Kristus yang sejati, maka kita sadar seluruh perintah ini adalah sesuatu yang benar. Ketika kita melihat kasih Kristus, ketika kita dipersatukan dengan Kristus, maka kita mau tidak mau harus mengasihi. Karena jati diri kita sendiri ada di dalam Kristus yang adalah kasih itu sendiri.

Tetapi kita sadar bahwa kasih kita masih begitu kecil, begitu terbatas, begitu lemah dalam mengasihi satu dengan yang lain. Karena itu kita datang kepada Tuhan, menyadari akan Tuhan yang sudah menebus kita, yang sudah mati bagi kita. Kematian-Nya bukan hanya menjadi teladan bagi kita, tetapi kematian-Nya mempersatukan semua orang yang percaya sepanjang sejarah: murid-murid-Nya, anak-anak-Nya yang dikasihi-Nya, dan juga kita boleh dipersatukan dengan Kristus. Biarlah Tuhan memberi kekuatan, keberanian, kerelaan berkorban untuk mengasihi. Mengasihi itu pasti tidak mudah, Kristus harus mati karena mengasihi orang-orang yang berdosa seperti saudara dan saya. Kita belum sampai mati, tetapi kita dituntut menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Kristus.

Biarlah kita boleh mengasihi, dalam segala kesulitan, bahkan kepada orang orang yang menyakiti kita. Justru disitulah kesempatan Tuhan menginginkan kita untuk mengasihi, berdoa bagi mereka, dan dengan demikian dunia tahu bahwa kita adalah murid-murid-Nya. Badge yang kita bawa bukanlah kalung salib, bukanlah Alkitab yang kita pegang. Badge atau tanda kita sebagai orang Kristen adalah kita mengasihi satu dengan yang lain. 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya