Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Perjamuan Terakhir

Ibadah

Perjamuan Terakhir

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 1 Juli 2018

Bacaan Alkitab: Yoh 13:21-30

Beberapa tahun yang lalu, saya diajak oleh Pak Tong untuk bersama-sama dengan pendeta-pendeta lainnya untuk tur ke Eropa. Salah satu tempat yang kita pergi adalah the Church of Santa Maria Del Gracia di Milan, Itali. Gereja yang tidak terlalu besar itu, banyak dikunjungi orang, dan semua orang itu ke sana hanya untuk melihat satu lukisan. Salah satu lukisan yang paling terkenal di seluruh dunia, Last Supper, dilukis oleh Leonardo da Vinci. Lukisan ini sangat besar 4,6 x 8,8 m dan di salah satu tembok di ruangan makan dari biara di situ. Lukisan ini dilukis berdasarkan Yoh 13:21 "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku." Berdasarkan satu kalimat ini dan juga dengan konteksnya pada waktu itu, Leonardo da Vinci mau melukiskan peristiwa itu. Tentu lukisan itu tidak 100% sama dengan peristiwa aslinya, seperti waktu Yesus hidup mungkin makannya tidak di meja, dan duduk di bangku, melainkan lesehan melingkar berbentuk U. Tetapi penafsiran Leonardo banyak yang menarik, seperti gambaran Petrus yang membawa pisau; ke dua belas murid dibagi menjadi 4 kelompok, semuanya kaget, dan saling bertanya satu sama lain ‘akukah itu’? Siapa yang akan mengkhianati Yesus? Murid (Yohanes) yang dikasihi-Nya dilukis di sebelah kanan Yesus, digambarkan dengan sangat lembut, seperti perempuan. Yudas digambarkan memegang kantong uang, dan tangan yang satunya lagi sedang akan menerima roti yang Yesus sodorkan. Yudas memegang kantong uang itu dengan kencang, yang menggambarkan dia sangat cinta uang, dan dia nanti binasa karena cinta akan uang.

Tuhan Yesus berkata Yoh 13:21 "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku." Kata “sesungguhnya” (amin-amin/truly-truly) menunjuk kepada sesuatu yang sangat serius, yang harus didengar oleh para Murid. Mereka memandang seorang kepada yang lain, dengan kebingungan, seperti yang di gambarkan di dalam lukisan tadi. Di dalam lukisan itu, Yohanes duduk di sebelah kanan Yesus, seperti juga yang ditulis di dalam Alkitab LAI. Tetapi dalam tulisan aslinya tidak disebutkan bahwa Yohanes duduk di sebelah kanan Yesus. Banyak penafsir menyatakan kemungkinan besar Yohanes duduk di sebelah Yesus, di sebelah kanan; sedangkan Yudas di sebelah kiri (di lukisan Leonardo, dia duduk di bagian kanan Yesus).

Kepada Yohanes, Simon Petrus menyuruh “tanyalah kepada Yesus siapa yang dimaksudkan-Nya?” Kemungkinan Petrus tidak duduk disebelah Yohanes, dia hanya memberi isyarat kepada Yohanes untuk menanyakan hal itu. Yohanes kemudian bertanya kepada Yesus, kemungkinan dengan suara yang pelan, dan jawaban Yesus juga pelan, sehingga tidak didengar oleh murid-murid yang lain. Karena kalau di dengar pasti mereka langsung mengetahui bahwa yang dimaksud Yesus itu adalah Yudas. Yesus menjawab (Yoh 13:26): "Dialah itu, yang kepadanya Aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya." Sesudah berkata demikian Ia mengambil roti, mencelupkannya dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot.

Apa yang dikerjakan Yesus di sini adalah secara umum, suatu tindakan yang menghormati seseorang: Dia mencelupkan roti dan memberikannya kepada Yudas. Tindakan ini seperti the final appeal kepada Yudas, menusuk hati nuraninya supaya dia sadar, dia ditempatkan di tempat yang sangat terhormat. Yesus memberikan roti kepadanya sebagai suatu tanda penghormatan, seperti seorang memberi makanan kepada tamu sebagai suatu penghormatan. Tuhan Yesus ingin supaya Yudas menyadari kesalahannya. Namun sesudah Yudas menerima roti itu, dia kerasukan iblis, namun bukan kerasukan seperti meronta-ronta dengan suara-suara aneh. Yudas memang sebelumnya, hatinya sudah dikuasai oleh setan, namun kali ini setan menguasai dia sepenuhnya dan tidak ada lagi jalan kembali, there is no turning point anymore. Lalu Yesus mengatakan kepadanya (Yoh 13:27): "Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera." Karena dia terus melakukan kejahatan, setelah peringatan-peringatan diberikan kepadanya, dia terus membutakan pikirannya, maka Yesus gave him up.

Yoh 13:28 menyatakan tidak ada seorangpun dari antara mereka yang duduk makan itu mengerti, apa maksud Yesus mengatakan itu kepada Yudas. Karena Yudas adalah bendahara mereka, maka mereka pikir Yesus menyuruh Yudas untuk membeli keperluan untuk perayaan itu, atau memberi sesuatu untuk orang miskin. Ini juga menunjukkan bahwa Yesus tidak membuat mukjijat seperti membuat roti dan anggur; dan biasanya mereka juga memberi sedekah kepada orang miskin, sebagaimana dikerjakan orang-orang pada saat Paskah di jaman itu.

Yudas menerima roti itu lalu segera pergi; pada waktu itu hari sudah malam (Yoh 13:30). Kata “malam” di dalam Injil Yohanes memiliki arti simbolik yang berarti kegelapan. Yohanes menyebutkan di dalam Yesus ada terang, dan kegelapan tidak bisa menguasainya (lihat Yoh 1:4-5); Yesus datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi mereka menolak Dia, seperti yang dilakukan Yudas. Yudas masuk ke dalam kegelapan dan tidak bisa keluar lagi.

Kita akan merenungkan ada tiga hal yang dapat kita lihat, yang dapat membangun iman kita:

1.    Kasih Kristus yang begitu besar, bahkan kepada Yudas

Kristus mengasihi dunia ini (lihat Yoh 3:16), Dia datang ke dalam dunia ini, dalam rangka mengasihi manusia termasuk juga Yudas. Yesus mengasihi manusia melalui perkataan dan perbuatan-Nya. Yudas menyaksikan semua itu, dia sendiri dipanggil sebagai murid oleh Tuhan Yesus. Yesus berkata-kata, membuat mukjijat supaya dunia mengenal siapa diri-Nya, supaya orang percaya kepada-Nya, dan memperoleh hidup. Yesus menyatakan diri-Nya secara puncak di atas kayu salib, demi menyatakan kasih-Nya kepada manusia yang berdosa.

Yudas menyaksikan bagaimana Yesus memecahkan lima roti dan dua ikan dan membagikan kepada 5000 orang laki-laki; Yesus menyatakan kasih-Nya dengan mencelikkan mata orang buta, dengan membangkitkan lazarus. Yudas hadir, mungkin di semua peristiwa itu, dia menyaksikan itu sendiri dengan mata-kepalanya. Terlebih lagi Yesus secara personal mencuci kaki murid-murid-Nya, termasuk Yudas. Yesus memberikan peringatan kepada Yudas berkali-kali, sampai pada yang terakhir dalam perjamuan malam.

Sewaktu Petrus menolak untuk dicuci kakinya, maka Yesus menjawab (Yoh 13:10) "Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua." Bagi Yudas yang sudah merencanakan untuk mengkhianati Yesus, kalimat itu tentu dimaksudkan untuk menggoncang Yudas. Kalimat ini sekali lagi merupakan peringatan Yesus bagi Yudas, sebagai kasih Yesus terhadap Yudas. Kalimat ini sebenarnya memberikan kesempatan kepada Yudas untuk bertobat. Di dalam perjamuan akhir, Yesus memberikan roti sebagai tanda penghormatan kepada Yudas; sebagai the final appeal, seruan terakhir Yesus kepada Yudas.

2.    Kengerian dosa dan kerasnya hati orang berdosa

Pak Tong pernah berkotbah tentang “Yudas yang berbahagia”. Ini adalah tema kotbah yang menarik, karena betul, Yudas itu adalah seorang yang sangat beruntung, yang seharusnya berbahagia karena mendapatkan begitu banyak privilege di dalam hidupnya. Yudas diajar oleh Guru yang teragung. Kalau saudara belajar di tingkat yang amat tinggi, saudara bukan mencari sekolah yang terbagus tetapi mencari profesor yang terbaik.  Pada jaman itu, guru yang memilih murid, sebagaimana halnya yang dilakukan Aristotle dan Plato. Tuhan Yesus memilih Yudas, dan selama tiga setengah tahun Yudas belajar langsung dari Yesus,  mendengar perkataan dan melihat perbuatan Yesus. Yudas juga belajar bersama-sama murid-murid yang teragung, orang-orang yang Tuhan pilih sendiri. Yudas mengalami dan melihat kuasa Kristus, dengan mata kepalanya sendiri.

Kemungkinan sewaktu Yudas diutus dengan 72 murid, memberitakan Injil, menyembuhkan orang, diapun turut memberitakan Injil dan menyembuhkan orang. Yudas juga melihat kerendahan hati Yesus, yang berkata “berbahagialah mereka yang rendah hati.”  (lihat Mat 5) Yudas melihat dengan mata kepalanya sendiri kerendahan hati Yesus yang sempurna. Yesus berkata jadilah suci karena Aku suci (lihat 1 Ptr 1:16), dan Yudas melihat sendiri kesucian Yesus di dalam seluruh hidupnya. Yesus berkata berbahagialah mereka yang membawa damai, dan Yudas menyaksikan Yesus dalam seluruh hidup-Nya membawa damai. Bahkan Yesus mencuci kaki Yudas.

Apa yang ada di dalam hati kita, jikalau Yesus mencuci kaki kita satu per satu. Apakah itu akan merubah seluruh hidup kita secara radikal? Meskipun waktu itu kita belum mengenal seluruhnya Kristus, tetapi dengan melihat kuasa dan kemuliaan yang ditunjukkan melalui perkataan dan mukjijat-Nya, apa respon kita ketika Dia mencuci kaki kita.

Kalau kita tidak percaya kepada Kristus dengan sungguh-sungguh, tidak sungguh-sunguh mengenal, mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan yang berkuasa seluruh hidup kita, maka kita tidak akan berubah meskipun Yesus sendiri mencuci kaki kita satu per satu. Mengapa saya mengatakan demikian? Karena kemuliaan Allah telah dinyatakan bagi kita sekarang. Yudas, meskipun dia melihat dengan mata kepala sendiri, tetapi dia belum melihat puncak kemuliaan Kristus yaitu mati dan bangkit. Kematian Kristus mengguncang murid-murid-Nya, Petrus menyangkal Kristus tiga kali. Tetapi ketika mereka bertemu Kristus yang bangkit itu, maka Petrus yang tadinya ketakutan ketika ditanya seorang budak perempuan kecil, ketika dia di tanya tiga kali (lihat Yoh 21:15-18) “hai Simon Petrus, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada semuanya?” maka Yesus memulihkan dia. Demikian juga Kristus memulihkan setiap murid satu persatu. Ketika mereka bertemu dengan Kristus yang bangkit, mereka berubah seratus delapan puluh derajat. Petrus yang tadinya begitu ketakutan kepada seorang budak perempuan kecil, sekarang berani berkata-kata kepada Gubernur dan kepada Kaisar, sekarang katakan kepadaku, lebih baik takut kepada manusia atau kepada Allah. Petrus dengan berani memberitakan Injil, dan akhirnya dia disalib dengan kepala di bawah.

Bagi kita hari ini, kita yang sudah melihat Kristus yang sudah mati dan bangkit itu, melalui seluruh bukti-bukti sejarah yang kuat, kalau kita masih tidak percaya dengan sungguh-sungguh, maka kita pun tidak akan percaya kalau Kristus mencuci kaki kita.

Inilah kekerasan hati orang yang berdosa. JC Ryle mengatakan “the extent to which we may harden ourselves, by resisting light and knowledge, is one of the most fearful fact in our nature. We may lose entirely our sense of fear, or shame, or remorse and have a heart as hard as mill stone, blind to every warning, and deaf to every appeal. It a serious disease but one happened that is not uncommon among professing Christian.” Seberapa kerasnya hati manusia menolak kebenaran firman adalah salah satu fakta yang mengerikan di dalam natur orang yang berdosa. Kita tidak punya hati yang takut akan Tuhan, tidak punya rasa bersalah, karena hati kita keras seperti batu gilingan, mata kita buta terhadap setiap peringatan, telinga kita tuli terhadap setiap teguran. Ini adalah penyakit yang mengerikan tetapi sayangnya ini adalah umum ditemukan di antara orang-orang yang mengaku Kristen. Ini menjadi peringatan bagi kita sekalian.

Orang-orang yang datang ke Gereja, kalau mereka tidak sungguh-sungguh gentar maka apa yang terjadi kepada Yudas, yang sudah mendapat begitu banyak berkat, begitu banyak firman, seperti juga kita hari ini, maka kita menjadi buta, tuli, dan tidak mau sungguh-sungguh taat kepada Tuhan. Mungkin hal ini terjadi sampai penganiayaan datang. Penganiayaan yang datang untuk membangunkan kita. Pak Tong pernah bercerita, sebelum orang-orang Kristen dibangkitkan di Cina, ada dua misionaris perempuan yang berdoa untuk membangkitkan Cina. Tuhan mendengar doa mereka dengan membangkitkan Mao Tse Tung, yang memenjarakan dan membunuh orang-orang Kristen. Justru dengan itu orang-orang Kristen di Cina bangkit, karena tidak bisa tidak harus memilih, meninggalkan Tuhan atau sungguh-sungguh percaya rela mati demi iman mereka. Begitu banyak negara dimana orang-orang Kristen, dianiaya, dibunuh, dipenggal kepalanya, seperti di Korea utara, di Iran, Pakistan, Afganistan, tetapi justru di negara-negara itu, kekristenan tumbuh paling pesat. Di Iran, pertumbuhan persentase jumlah orang Kristen adalah yang paling besar di seluruh dunia. Justru di dalam Gereja-Geraja yang dianiaya, orang Kristen paling bertumbuh.

Sebaliknya Gereja yang paling merosot adalah di negara seperti Australia. Kita hidup di most liveable city, namun sebenarnya adalah the most dangerous city. Betapa mengerikannya kalau kita tidak sungguh-sungguh mengenal Tuhan, dan sungguh-sungguh percaya kepada Dia. Ketika kebaikan Tuhan sudah dinyatakan kepada kita dan kita tertidur. Sampai kapan hal ini akan terjadi, haruskah sampai datangnya penganiayaan kepada Gereja-Gereja Tuhan di dalam negara-negara ini. Mungkin juga akan ada kesulitan yang besar di keluarga kita, menggoncangkan hidup kita, mungkin ada kematian, kecelakaan, kebangkrutan besar, baru kita boleh-boleh sungguh mencari Tuhan.

Biarlah kita menghargai setiap kesempatan berbakti kepada Tuhan, setiap doa dan pujian yang begitu limpah. Jangan sampai Tuhan memberikan peringatan terakhir kepada kita, seperti waktu Yesus memberikan peringatan terakhir kepada Yudas: “apa yang mau kita perbuat, perbuatlah dengan segera.” Ini mirip dengan apa yang Roma 1:24 katakan “God gave them up”. Setelah mereka menyaksikan sendiri kasih dan kemulian Allah, diperingatkan berkali-kali, namun terus-menerus tidak mau percaya, akhirnya Kristus menyerahkan mereka dan berkata apa yang mereka mau lakukan lakukanlah.

3.    Kengerian dosa, pengkianatan Yudas tidak menggagalkan kasih Allah, tetapi justru menggenapinya

Yesus berkata kepada Yudas (Yoh 13:27) "Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera." Kalimat ini sangat mengerikan, di satu sisi Yesus menyerahkan Yudas kepada kegelapan, dan dia tidak pernah keluar lagi dari situ, namun di sisi lainnya, kita bisa melihat apa yang Yudas lakukan, tanpa dia sadari, menggenapi rencana Allah bagi manusia. Di atas kayu salib, Yesus mengatakan “sudah selesai” (Yoh 19:30), sudah sempurna karya-Nya untuk menyelamatkan mereka yang dipersatukan dengan-Nya. Kengerian dosa, keberdosaan Yudas, dan keberdosaan setiap orang di dunia ini tidak pernah menggagalkan rencana keselamatan Tuhan untuk menarik domba-domba-Nya, anak-anak Tuhan untuk kembali dan percaya kepada Tuhan. Seluruh yang dikerjakan iblis, yang menganiaya umat Tuhan, ultimately tidak akan melawan kehendak Tuhan yang berdaulat, namun justru akan menggenapinya.

Perkataan Yesus dalam Yoh 14:1 “Janganlah gelisah hatimu (Do not let your hearts be troubled), percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku”, dapat kita kontraskan dengan Yoh 3:21 “Setelah Yesus berkata demikian Ia sangat terharu, lalu bersaksi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku."

Kata “terharu” dalam Yoh 13:21 sebenarnya adalah sama dengan “gelisah” dalam Yoh 14:1 . Yesus sangat gelisah (troubled), namun bagaimana Yesus yang gelisah, Dia bisa berkata jangan engkau gelisah? Kita mengerti dua hal yang penting di sini:

-  Kita memiliki iman besar yang mengerti segala kelemahan kita. Di dalam dunia ini, Yesus juga gelisah, Dia mengerti dan dicobai dengan segala cara , sama seperti dengan kita. Tetapi hanya satu bedanya: Dia tidak berdosa. Dia mengalami segala pencobaan, yang puncaknya di kayu salib, mengalami kengerian yang begitu ngeri, kengerian yang hanya akan dialami orang yang terus menerus tidak percaya kepada Allah sampai selama-lamanya. Di atas kayu salib Dia berseru Allah-Ku, Allah-Ku mengapa Engkau meninggalkan Aku (lihat Mat 27:46). Dia menanggung dosa manusia. Dia adalah imam besar yang agung yang mengerti segala kesulitan dan pergumulan kita, karena itu kita boleh datang menyerukan suara pergumulan dan kegelisahan kita. Imam besar itu mewakili umat-Nya kepada Tuhan. Imam besar yang mengerti segala pergumulan umat-Nya karena Dia juga pernah hidup di dunia. Dia mau kita datang kepada Dia.

- Yesus gelisah, namun dengan kegelisahan yang berbeda dengan kegelisahan murid-murid-Nya dan dengan kegelisahan kita juga. Tuhan Yesus mengatakan Yoh 14:1 “Janganlah gelisah hatimu, percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” Kegelisahan dari murid dan juga dari kita bersumber kepada ketidakpercayaan kita. Termasuk juga orang Kristen yang sungguh-sungguh, kita harus berperang dengan ketidakpercayaan hati. Yesus mengatakan (lihat Mat 6:25-34) “jangan kuatir”, artinya orang Kristen juga bisa kuatir. Namun ketika kita kuatir, artinya kita tidak sungguh percaya kepada pemeliharaan Tuhan. Jangan kuatir akan apa yang engkau makan atau minum, karena Allah Bapa mengetahui engkau membutuhkan itu semua. Lihatlah burung-burung yang tidak menanam dan tidak menabur, mereka diberi makan setiap hari. Lihatlah bunga bakung yang sekarang ada dan besok hilang, Tuhan mendandani dengan begitu indah. Bukankah engkau lebih berharga daripada bunga bakung itu, bukankah hidupmu lebih berharga daripada burung pipit itu.

Kegelisahan kita adalah karena kita kurang percaya. Kita menjadi marah mau membalas orang yang menyakiti kita, karena kita kurang percaya bahwa Dia adalah Allah yang adil. Kita sombong, dan ingin merebut kemuliaan karena kita tidak percaya bahwa Dia adalah Allah yang akan meninggikan umat-Nya yang merendahkan diri.

Segala macam dosa di dalam hidup kita, adalah berakar di dalam ketidakpercayaan kita. Karena itu Tuhan katakan “Jangan gelisah, percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.”

Tuhan Yesus memberi contoh bahwa kita yang beriman bukan berarti kita tidak bisa gelisah. Justru melalui Tuhan Yesus yang gelisah di sini, kita mengerti ada kegelisahan lain. Bukan gelisah karena dosa-dosa kita, tetapi Tuhan menginginkan kita untuk gelisah seperti Dia. Gelisah karena kasih-Nya kepada Tuhan, dan karena kasih-Nya kepada orang berdosa.

Yesus berkata “sesungguhnya seorang diantara kamu akan menyerahkan Aku.” Tuhan Yesus bukan hanya gelisah karena Dia akan dikhianati, dan akan meminum cawan murka Allah sampai habis. Nanti di taman Getsemani Yesus bergumul di taman Getsemani dengan keringat yang mengucur seperti darah. Tetapi di bagian ini, Yesus gelisah karena melihat Yudas yang bersama-sama Dia selama tiga setengah tahun, yang bersama sama melayani, yang sudah mengalami pekerjaan Tuhan dalam hidupnya; Yudas bahkan mengkhianati Dia. Tuhan menginginkan kita untuk gelisah melihat orang-orang berdosa, gelisah karena anak-anak kita belum sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan; gelisah karena kita belum sungguh-sungguh mengasihi Dia. Gelisah yang benar, bukan karena gelisah yang tidak percaya, tetapi gelisah karena kasih kepada Kristus, dan kasih kepada Tuhan.

Biarlah hidup kita mengalami kegelisahan yang benar, bukan gelisah karena tidak percaya, tetapi karena kita belum mentaati Tuhan sepenuhnya. Harus ada kegelisahan itu, karena kita belum selesai mentaat Tuhan secara sempurna. Kita belum selesai mengerjakan pekerjaan-Nya, melihat banyak orang yang masih belum percaya, dan hidup di dalam dosa. Bahkan hidup kita sendiri belum beres di hadapan Tuhan. Tidakkah hatimu gelisah. Tuhan ingin kita gelisah terhadap hal-hal itu. Gelisah yang membawa kita untuk tidak tinggal diam.

Apa yang membuat engkau gelisah, dan tidak bisa tidur? Apakah karena disakiti hati, dirugikan. Tuhan tidak gelisah karena itu. Tuhan gelisah karena orang-orang berdosa dan tidak percaya. Tuhan berduka cita melihat dosa orang-orang disekeliling-Nya.

Mari kita mengenal kasih Tuhan yang begitu besar. Kalau kita melawan Tuhan, kita hanya menghancurkan hidup kita sendiri. Datanglah dan percayalah kepada Tuhan. Waktu kita melayani Tuhan, ada pergumulan, kesulitan, dan ada kegelisahan. Namun di dalam kegelisahan itu ada damai sejahtera dari Tuhan. Ini adalah paradoks sekali. Justru damai sejahtera yang sejati adalah ketika kita gelisah, karena kita tidak mentaati Tuhan. Satu-satunya orang yang berbahagia adalah orang yang berduka cita karena dosa orang lain dan dosa dirinya sendiri. Satu-satunya orang yang bebas merdeka, adalah dia yang merendahkan dirinya dan menyerahkan dirinya sebagai budak Kristus. Biarlah Tuhan berkuasa atas seluruh  hidup kita, maka kita menjadi orang yang merdeka. Biarlah kita boleh mengerti kehidupan yang Tuhan inginkan dan kita boleh mentaati Tuhan seumur hidup.

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya