Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Yesus Membasuh Kaki Murid-Murid-Nya

Ibadah

Yesus Membasuh Kaki Murid-Murid-Nya

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 24 Juni 2018

Bacaan Alkitab: Yoh 13:1-20

Di dalam Yoh 13, Yesus memulai pengajaran kepada murid-murid-Nya secara secara intimate. Public ministry Yesus sudah selesai di Yoh 12, dan mulai Yoh 13, Yesus berbicara dan melakukan segala sesuatu khusus untuk murid-murid-Nya. Maka dari itu, dari Yoh 13 sampai Yoh 19, kalau kita adalah orang-orang yang percaya, kita bisa melihat pengajaran Yesus yang sangat personal. Biarlah bagian ini dapat kita renungkan bersama, dan menjadi pengajaran khusus bagi para murid-Nya dan juga bagi kita.

Yoh 13:1 “Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.” NIV menterjemahkan “sampai kepada kesudahannya” sebagai “the full extend of His love”. Di dalam bahasa Grika diterjemahkan sebagai “sampai kepada akhir” atau to the utmost, sampai kepada puncaknya, sampai sempurna. Yesus menyatakan kasih-Nya kepada murid-murid-Nya sampai pada puncaknya.

Jikalau kita adalah anak-anak Tuhan, maka apa yang akan Yesus lakukan kepada murid-murid-Nya di Yoh 13 dst, adalah juga pernyataan the full extend of His love bagi kita. Ini adalah kasih Kristus yang khusus bagi mempelai wanita-Nya. Kasih-Nya kepada murid-murid-Nya jauh lebih besar daripada “kasih” kepada dunia yang dinyatakan dalam Yoh 3:16. Kasih di dalam Yoh 3:16, adalah tawaran the salvation for all, tetapi kasih di dalam Yoh 13 di sini memastikan bahwa murid-murid-Nya ditarik kepada-Nya. Kasih yang di dalam Roh-Kudus yang bekerja di dalam hidup kita, sehingga kita bisa mengalami kasih-Nya, sehingga kita boleh percaya kepada Dia. Ketika kita membaca Yoh 13 dst, biarlah kita menganggap ini sebagai surat cinta dari seorang suami kepada istrinya, yang menyatakan kasih, sampai the full extent, yang selalu menginginkan yang terbaik bagi istrinya. Dia menyerahkan nyawa-Nya bagi saudara dan saya.

Di dalam Yoh 13:1-20, kita bisa melihat dua bagian besar atau dua level dari berita Tuhan yang mau nyatakan secara khusus bagi murid-murid-Nya.

Bagian yang pertama adalah level yang kelihatan, yang kita langsung mengerti. Level yang kedua adalah yang lebih dalam, yang tidak secara langsung dapat dimengerti, dan kita harus mengertinya dengan membukanya secara lebih dalam.

1.    Yesus Membasuh Kaki Murid-Murid-Nya

Level yang pertama adalah teladan yang Yesus lakukan sewaktu Dia membasuh kaki murid-murid-Nya. Yoh 13:14-15, Yesus menjelaskan tentang pembasuhan kaki tersebut, “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” Kita langsung mengerti, biarlah kita bisa saling mengasihi.

Namun ini bukan harus secara literal membasuh kaki. Dalam setiap perayaan Paskah, Paus membasuh kaki para bawahannya, namun para reformator dari dahulu menentang itu. Mereka mengatakan setiap tahun Paus membasuh kaki kardinal-kardinalnya dalam perayaan Paskah, tetapi sepanjang tahun Paus dilayani oleh bawahannya tersebut; ini adalah hanya simbolik belaka. Jadi pembasuhan kaki bagi kita, tidak boleh dimengerti secara literal saja, tetapi dengan melayani setiap waktu. Kita meneladani suatu pelayanan yang merendahkan diri kita, melayani setiap hari.

Kita melihat suatu konteks yang penting, mengapa Yesus memerintahkan murid-murid-Nya supaya melayani saudara-saudara seiman. Dalam Yoh 13:20, Yesus mengatakan “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku.” Perintah Yesus untuk meneladani Dia, melayani dengan rendah hati, adalah di dalam konteks Tuhan ingin mengutus kita di tengah-tengah dunia ini untuk mewakili Dia. Yesus sebentar lagi akan mengutus murid-murid-Nya, dan ketika orang-orang di dunia ini menerima murid-murid-Nya maka mereka menerima Kristus, dan ketika mereka menerima Kristus, mereka menerima Bapa yang telah mengutus Anak yaitu Yesus Kristus.

Tuhan Yesus ingin supaya wakil-Nya di tengah-tengah dunia ini adalah orang-orang yang memiliki karakter seperti Dia. Ini adalah panggilan yang sangat mulia. Kita sebagai murid-murid Kristus, apa yang kita kerjakan adalah mewakili Kristus di tengah-tengah dunia ini. Tuhan menginginkan wakil-wakil-Nya memiliki karakter seperti Kristus, yang seperti Paulus katakan dalam Filipi 2:6-7: yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Kristus yang turun terus dari Allah menjadi manusia, menjadi hamba, taat sampai mati, mati di atas kayu salib. Tuhan menginginkan murid-murid-Nya, saudara dan saya, menyatakan kehidupan dan karakter seperti Tuhan kita, Yesus Kristus.

Injil Sinoptik tidak mencatat peristiwa pembasuhan kaki, tetapi mencatat satu hari sebelum Yesus disalibkan. Injil Matius, Markus dan Lukas mencatat adanya perdebatan di antara para murid mengenai siapa yang terbesar di antara mereka. Ini menjadi satu kontras, karena sebelum Yesus disalibkan, murid-murid berdebat siapa yang terbesar di antara mereka. Bahkan sebelumnya, ibu daripada Yohanes dan Yakobus datang kepada Yesus dan berkata bolehkah anaknya yang satu itu duduk di sebelah kanan Kristus, dan satu lagi di sebelah kiri-Nya (lihat Mat 20:20-28). Mereka menginginkan kemuliaan, dan Yohanes khususnya mencatat bahwa apa yang dilakukan Tuhan Yesus menanggapi akan perdebatan mereka yang mencari kemuliaan dengan mengajarkan suatu tindakan yang lebih powerful daripada mengkritik sikap yang salah dari murid-murid-Nya.

Tuhan tidak menginginkan seorang yang tinggi hati, yang merasa layak dihormati menjadi wakil-Nya di tengah-tengah dunia ini. Dia menginginkan wakil-wakil-Nya adalah orang yang memiliki karakter seperti Dia, suatu panggilan yang sangat mulia, yaitu orang yang merendahkan dirinya melayani sesama. Ini dinyatakan secara simbolik, secara powerful, dengan Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya.

Mari kita membayangkan apa yang terjadi saat itu. Yoh 13:4-5 “Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu.”. Kalau saudara adalah salah satu daripada murid-Nya, bagaimana respon saudara.

Saudara tahu sebelumnya Yesus baru dielu-elukan, hosanna bagi Dia yang dimuliakan dalam nama Tuhan. Saudara melihat Yesus sebagai seorang yang begitu besar, yang mengajar dengan penuh otoritas, yang memerintahkan Lazarus yang sudah mati empat hari untuk bangkit dan keluar dari kubur. Saudara kagum dan sadar, bahwa Yesus adalah raja yang diurapi, yang akan dimuliakan. Tetapi ketika saudara berpikir bahwa saudara juga akan kecipratan kedudukan yang Dia akan dapatkan, paling tidak menjadi menteri dari seorang raja yang besar, tiba-tiba Yesus membuka jubah-Nya, mengambil kain dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya satu per satu. Suasana pasti tegang sekali, hening, tidak ada seorangpun yang melakukan apa-apa, sampai Petrus memecah keheningan itu.

Yesus dengan jelas menjelaskan mengapa Dia melakukan itu. Yoh 13:12-14, ketika selesai membasuh kaki murid-murid-Nya, “Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu;” Yoh 13:16 menegaskan “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya..” Yoh 13:3 menegaskan lebih lagi bahwa Yesus datang dari Allah, dan kembali kepada Allah. Ini mirip dengan Matius 28:18 yang menyatakan bahwa segala kuasa di sorga dan di bumi telah diberikan kepada Kristus. Seluruh kemuliaan Kristus akan dinyatakan, Dia adalah Allah itu sendiri, Dia-lah yang kekal, Dia yang adalah firman, yang ada dari semula, dan firman itu adalah Allah. Dia yang menciptakan segala sesuatu, tetapi Dia merendahkan diri-Nya melayani murid-murid-Nya. Maka kita mengerti dan saling membasuh kaki kita, melayani satu sama lain.

Ini adalah pemutarbalikkan dari konsep dunia, dan sebenarnya sangat sulit untuk kita lakukan di dunia ini, di mana orang-orang yang kaya, yang berkuasa, pemimpin-pemimpin harus dilayani. Tetapi Yesus membalikkan itu, kalau engkau mau menjadi pemimpin biarlah engkau menjadi pelayan.

Kita bisa kagum dengan presiden Jokowi, yang dengan kesederhanaan dan keluguannya dia melayani. Kita bisa melihat bahwa dia melakukan hal itu secara natural, seperti ketika dalam keadaan hujan, dia mengambil payung, dan memayungi gubernur. Sebenarnya orang dunia sendiri sangat menghargai pemimpin-pemimpin yang melayani. Mereka menghargai, apalagi kita yang memiliki teladan dari Yesus Kristus, yang jauh lebih tinggi dari raja, Dia adalah raja di atas segala raja, Dia adalah Tuhan, pencipta segala sesuatu, tetapi Dia merendahkan diri-Nya sedemikian. Dia merendahkan diri-Nya sampai mati di kayu salib, kematian yang sangat hina. Dia adalah Tuhan kita, Dia adalah Allah yang datang untuk melayani sebagai budak di tengah-tengah dunia ini.

Hal ini ditekankan terlebih lagi di dalam konteks tentang Yudas.

Yoh 13:18-19 menyatakan “Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku. Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya, bahwa Akulah Dia.” Ini menekankan bahwa Yudas adalah bukan suatu insiden, tetapi part of the plan. Yohanes menekankan berkali-kali bahwa Yesus sudah tahu apa yang akan terjadi.

Yoh 13:18-19 menekankan bahwa Yesus bukanlah korban yang tidak berdaya oleh kelicikan setan yang memakai Yudas. Yesus tahu sekali apa yang akan Yudas lakukan terhadap-Nya. Dalam ayat2 tsb mau menekankan Yesus sedang menyatakan Diri-Nya kepada murid-murid-Nya, supaya mereka mengenal-Nya sebagai Allah itu sendiri.

Yoh 3:19 menyatakan “Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya, bahwa Akulah Dia.” Bahasa aslinya dari “Akulah Dia” adalah “I AM”, yang mau menegaskan, melalui peristiwa Yudas, bahwa Yesus-lah the great I AM. Nama I AM adalah nama yang Allah nyatakan ketika Musa bertanya kepada Allah dengan nama siapa dia harus memberitahu kepada bangsa Israel (Kel 3:13-14) tentang siapa yang mengutusnya. Maka Allah menjawab AKULAH AKU (I AM) yang mengutus kamu kepada bangsa Israel. Ini mau menyatakan bahwa Yesus-lah yang dinyatakan dalam Yesaya 6 sebagai yang suci, suci, suci itu, yang dengan kemuliaan-Nya menutupi seluruh bumi.

Tetapi Allah yang begitu besar itu, yang kebesaran-Nya tidak terucapkan oleh mulut manusia, Dia telah merendahkan Diri-Nya, Dia telah mencuci kaki murid-murid-Nya. Biarlah setiap kita, setiap pelayan, yang mengaku sebagai orang Kristen yang percaya kepada Tuhan, merendahkan diri kita. Ini adalah suatu panggilan yang sangat mulia, ditengah-tengah dunia ini mewakili Kristus. Tuhan Yesus mengatakan ketika orang menerima engkau, mereka menerima Kristus, dan dengan demikian mereka juga menerima Allah Bapa. Engkau mewakili Kristus, mewakili Allah, tetapi cara engkau mewakili Dia, cara engkau menjawab panggilan itu adalah justru dengan merendahkan dirimu menjadi pelayanan.

Richard Pratt mengatakan ini adalah panggilan yang penuh dignity tetapi juga penuh dengan humility. Kita harus mengerti diri kita sebagai orang yang sangat mulia, karena Tuhan sudah menciptakan kita menurut gambar dan rupa-Nya, mewakili Dia di tengah-tengah dunia ini. Kita adalah the image of God. Bukan malaikat atau bintang-bintang yang begitu indah, mereka tidak mewakili Tuhan di tengah-tengah dunia ini. Tetapi engkaulah yang diciptakan menjadi the image of God itulah yang mewakili Aku di tengah-tengah dunia ini. Meskipun engkau sudah jatuh di dalam dosa, namun Kristus menebus dan memulihkan engkau menjadi wakil-Ku di tengah-tengah dunia ini. Akulah terang dunia, engkaulah terang dunia, engkaulah garam dunia. Ini adalah panggilan yang agung, yang penuh dignitiy, tetapi baiklah kita juga menyadari bahwa ini adalah panggilan yang hanya dapat kita lakukan justru ketika kita merendahkan diri, ketika kita melayani, ketika kita mencuci kaki, mengambil tempat yang paling rendah terhadap sesama kita.

Ini adalah panggilan hidup kita, biarlah setiap kita boleh mentaati panggilan ini, dan kita boleh hidup saling merendahkan diri, saling melayani, saling mengasihi, dan saling berkorban. Betapa indahnya ketika Gereja Tuhan, bersama-sama melayani sebagai seorang hamba, merendahkan diri, menganggap yang lain lebih utama dan mengasihi, mengikuti teladan Tuhan yang begitu indah. Melayani bukan karena kita minder, bukan karena menganggap diri tidak berharga, bukan karena tidak bisa melakukan apa-apa, terpaksa menjadi pembantu, melakukan hal hal yang paling rendah. Tidak, justru kita menyadari panggilan yang mulia. Tuhan sudah menciptakan kita begitu mulia, Tuhan sudah mati menebus kita, dan tidak ada seorangpun yang dapat merebut kita dari kasih-Nya. Kita adalah anak-anak Allah, mewakili Allah di tengah-tengah dunia. Tetapi justru kita menyatakan itu dengan merendahkan diri kita, melayani satu sama lain. Secara praktis kita boleh melayani satu dengan yang lain.

2. Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku

Level yang kedua adalah sesuatu yang lebih dalam, yang tidak terlihat secara langsung. Dalam Yoh 13:6-11, Petrus menolak untuk dibasuh kakinya. Kita membayangkan suasana yang hening ketika Guru mereka membasuh kaki mereka. Semua juga diam, termasuk juga Yudas yang pasti juga dibasuh kakinya. Ketika sampai Petrus, maka dia tidak tahan dan berkata “Tuhan engkau hendak membasuh kakiku”, maka Tuhan menjawab (Yoh 13:7) “Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak.” Tetapi Petrus menjawab “Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya.“ Petrus merasa bagaimana Tuhan dan gurunya bisa membasuh kakinya. Tetapi jawaban Tuhan Yesus penting untuk kita lihat. Tuhan Yesus menjawab Yoh 13:8b “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku.” Ini adalah suatu kalimat yang mengagetkan.

Artinya adalah kalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak termasuk murid-murid-Ku, engkau adalah orang-orang yang sama seperti Yudas, yang tidak berbagian dari pada-Ku, bukan termasuk orang yang diselamatkan. Mengapa urusan membasuh kaki menjadi begitu serius? Bukankah ini hanya urusan teladan untuk mereka melakukannya. Ternyata bukan hanya itu. Masalah membasuh kaki menunjukkan kepada suatu tindakan simbolik kepada apa yang Tuhan akan kerjakan nanti, yaitu penyucian akan dosa kita.

Kita akan melihat hal itu dalam Yoh 13:9-11. Kata Simon Petrus kepada-Nya, aku mau berbagian, kalau begitu jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku, semuanya. Kita mengerti Petrus, seorang yang selalu ekstrim. Jawaban Yesus kepadanya (Yoh 13:10-11) “Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua." Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata: "Tidak semua kamu bersih.”

Ini menjadi kunci untuk mengerti level yang kedua. Yudas termasuk orang yang tidak bersih. Urusan membasuh kaki ini menjadi sangat serius karena merupakan tindakan simbolik yang menunjuk kepada salib Kristus. Tempat di mana darah Kristus dicurahkan untuk membasuh kita dari segala dosa-dosa kita. Tanpa kita dibasuh oleh darah Kristus, maka kita tidak memiliki persekutuan dengan Kristus, kita tidak berbagian di dalam Kristus. Ke sebelas murid-murid sudah bersih, mereka adalah anak-anak Tuhan yang sejati, yang telah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup. Mereka telah memiliki hidup yang kekal, sehingga tidak ada yang dapat merebut mereka dari tangan Allah. Di dalam istilah Paulus, mereka adalah orang-orang yang sudah dibenarkan “justified” Tidak ada lagi yang menuduh mereka, tidak ada lagi penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus. Secara status mereka di hadapan Tuhan , mereka sudah bersih. Hanya Yudas yang tidak termasuk orang-orang yang dibenarkan.

Lalu apa artinya ketika Yesus mengatakan Yoh 13:8 “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian di dalam Aku.” Di dalam 1 Yoh 1:7-10 dikatakan “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.

Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.”

Yang dimaksud dalam Yoh 13:8 adalah menunjuk kepada pentingnya kita boleh mengakui dosa kita. Meskipun kita sudah dibenarkan, meskipun darah Kristus sudah menyucikan dosa kita, dan secara status kita sudah bersih atau “mandi” dalam perumpamaan Tuhan Kristus, tetapi “kaki” kita masih kotor. Artinya kita masih bisa jatuh di dalam dosa, karena itu kita perlu datang kepada Tuhan, memohon belas kasihan Tuhan, memohon sekali lagi aplikasi darah Kristus yang sudah menyucikan kita, sekali lagi menyucikan kita dari segala dosa kita, membasuh “kaki” kita yang masih kotor itu.

1 Yoh 1:7-10 juga ditujukan kepada orang-orang Kristen, mereka yang sudah dibenarkan, tetapi Alkitab terus menerus menegaskan orang yang benar, yang sudah di dalam Tuhan, adalah orang yang masih bisa jatuh di dalam dosa. Meskipun mereka tidak bisa terus menerus di dalam dosa, tetapi seperti saudara dan saya sering kali kita jatuh di dalam dosa. Karena itu kita perlu datang kepada Tuhan untuk sekali lagi memohon pengampunan Tuhan, memohon Tuhan untuk menyucikan kita dari dosa-dosa kita. John Calvin mengatakan satu-satunya jalan kita boleh datang kepada Allah, adalah berdasarkan belas kasihan Allah. Bukan hanya ketika pertama kali kita bertobat, kita memohon belas kasihan Tuhan yang menyucikan kita, tetapi setiap kali kita datang kepada Dia, kita hanya bisa datang kepada Tuhan yang suci dan mulia itu, hanya karena belas kasihan-Nya. Karena Dia terus menerus menyucikan kita, mengampuni kita kita dari segala dosa kita. Karena itu John Calvin mengatakan doa pengakuan dosa itu menjadi syarat kita boleh datang kepada Tuhan. Biarlah di dalam hidup kita, kita sadar bahwa tanpa dosa kita diampuni oleh Tuhan, kita tidak mungkin bisa datang kepada Allah yang suci dan agung itu. Pengakuan dosa adalah syarat daripada seluruh doa-doa lain yang boleh kita nyatakan kepada Tuhan. Seluruh ucapan syukur kita kepada Tuhan, terlebih dahulu harus didahului dengan penyucian segala dosa kita oleh darah Kristus. Ini adalah syarat untuk datang ke hadapan takhta anugerah Allah.

Paulus juga mengatakan di dalam hidupnya, dengan segala pertumbuhan imannya, pelayanannya, dengan semakin dekat hidupnya untuk mewakili Tuhan, membawa orang kepada Tuhan melalui mukjijat, dia makin sadar bahwa dia membutuhkan anugerah Tuhan. Kesadaran Paulus akan anugerah belas kasihan Tuhan itu semakin bertumbuh. Pertama kali kita bertobat, syarat yang pertama adalah kita menyadari bahwa kita miskin di hadapan Allah. Tanpa itu, tidak ada orang yang bisa diselamatkan. Ketika orang itu sungguh-sungguh bertemu Tuhan, maka dia sadar bahwa dia adalah orang berdosa, layak menerima murka Allah, dan hanya karena belas kasihan Tuhan, kita boleh diselamatkan. Pak Tong pernah menceritakan ketika dia bertobat dan menyerahkan diri sebagai hamba Tuhan, dia menangis dan basah seluruh bajunya, menyadari akan dosanya, menyadari betapa besar anugerah Tuhan baginya. Pertobatan yang sejati harus disertai dengan kesadaran miskin di hadapan Tuhan. Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah karena merekalah empunya kerajaan Allah.

Tetapi kesadaran akan betapa miskinnya kita di hadapan Allah itu tidak berhenti ketika kita sudah bertobat. Paulus mengatakan di awal pelayanannya, di antara para rasul aku adalah yang paling hina (lihat 1 Kor 15:9). Ketika dia maju lagi di dalam pelayanannya, maka dia mengatakan di antara saudara-saudara seiman, akulah yang paling kecil. Tetapi menjelang waktu akhir hidupnya, ketika dia dipenjara, di sesah, sudah membangkitkan orang mati, ketika kapalnya sudah karam, ketika Tuhan sudah menyatakan kuasa kepadanya, ketika banyak orang sudah bertobat karena pelayanan Paulus, maka kepada Timotius, anak rohaninya, dia berkata (lihat 1 Tim 1:15) “di antara orang berdosa, akulah yang paling berdosa.”

Paulus bukan menunjuk kepada hidupnya yang dulu, yang penuh dengan kemarahan dan kebencian, menangkap, memenjarakan dan membunuh orang-orang Kristen; tetapi dia menunjuk kepada hidupnya yang sekarang. Ketika Paulus sudah melewati seluruh jalan mengikut Tuhan, mengalami anugerah Tuhan yang besar, ketika sudah membawa banyak orang mengikut Tuhan, ketika sudah menulis begitu banyak surat yang menjadi kitab suci, maka dia berkata di antara orang berdosa, I am, bukan I was, the worst. Paulus semakin sadar dia perlu akan anugerah Tuhan.

Inilah yang Tuhan inginkan dari kita, inilah berita yang ingin dinyatakan di dalam bagian ini. Biarlah kesadaran akan anugerah belas kasihan itu terus bertumbuh di dalam hidup kita. Tetapi kalau kita terus menerus berkata seperti yang Petrus katakan dalam Yoh 13:8 “aku tidak mau Engkau membasuh kakiku”, kalau kita terus-menerus merasa self-sufficient, hidupku bisa aku atur sendiri dan tidak memerlukan pengampunan dosa, walaupun kita berdoa meminta ampun, tetapi tidak sungguh-sungguh di dalam hati kita yang paling dalam bahwa, kita perlu anugerah Tuhan, maka kita membuat Allah menjadi pendusta, seperti yang dikatakan di dalam 1 Yoh 1:9.

Kita pasti mengaku bahwa kita orang berdosa, tetapi sedalam hati-hati kita, betulkah kita sadar bahwa kita sudah berdosa dan kita perlu anugerah belas kasihan Tuhan, dan memerlukan sekali lagi darah Kristus menyucikan kita dari segala dosa. Kalau kita tidak menyadari hal ini, maka kita membuat Allah sebagai pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam hidup kita. Dengan kata lain, kita tidak mendapat bagian di dalam Kristus. Tanda yang tidak boleh tidak ada di dalam hidup kita sebagai anak-anak Tuhan adalah membenci segala dosa kita. Bukan hanya dosa yang sadar kita lakukan, tetapi juga dosa yang tidak kita sadari.

Yang disebut dosa, bukan hanya kita berbuat sesuatu yang Tuhan larang, tetapi juga kita tidak melakukan apa yang benar; kita tahu apa yang Tuhan inginkan, tetapi kita tidak lakukan itu. Anak-anak Tuhan yang sejati menyadari dirinya adalah orang berdosa, dia membenci dosanya, karena itu dia datang kepada Allah, mengakui dosanya with sincere affection of heart, seperti yang Calvin katakan; mengakui dosa kita secara sungguh-sungguh sedalam hati kita. Alkitab mengatakan (1 Yoh 1:9), jikalau kita mengaku dosa kita sedalam hati kita, maka Dia adalah setia dan adil dan Dia akan mengampuni dosa kita, menyucikan kita dari segala kejahatan.

Hidup Kristen adalah bersifat paradoks; di satu sisi, Tuhan Yesus mengatakan kamu sudah bersih, hanya kakimu saja yang belum bersih. Kita adalah orang-orang yang optimis, berani datang kepada Tuhan, karena tidak ada apapun yang dapat merebut kita dari tangan Tuhan, yang lebih daripada pemenang, karena Tuhan tidak akan meninggalkan kita, begitu bangga, begitu bernilai, bahkan sebagai wakil Tuhan di dunia ini, dan Dia menyertai kita. Begitu bangga, dan mulianya menjadi anak-anak Tuhan tetapi sekaligus Tuhan membawa kita untuk merendahkan diri melayani satu dengan yang lain. Sekaligus Tuhan membawa kita untuk menyadari bahwa setiap saat kita masih memerlukan anugerah Tuhan, karena kita masih bisa jatuh di dalam dosa. Sadar bahwa kita terus memerlukan pengampunan Tuhan, sadar bahwa di antara semua orang berdosa akulah yang paling berdosa. Artinya semakin sadar bahwa tanpa anugerah belas kasihan pengampunan Tuhan maka aku tidak bisa melangkah sedikitpun, bahkan tidak bisa datang dan berdoa kepada-Nya.

Inilah sifat hidup Kristen yang bersifat paradoks. Di satu sisi kita adalah orang yang sudah disucikan tetapi di sisi lain, kita harus terus menerus disucikan. Kita adalah manusia baru, seperti orang yang sudah membuang baju yang lama, yang sudah mendapat baju yang baru. Tidak ada apapun yang bisa merubah hal ini, bahkan kematian pun tidak bisa merebut kita dari tangan Allah. Tetapi Paulus mengatakan manusia barumu harus terus menerus diperbaharui.

Seperti istilah already but not yet, paradoks, yang sudah benar di hadapan Tuhan, tetapi hidup kita belum seluruhnya kudus, kita masih bisa jatuh ke dalam dosa. Tanda orang yang hidupnya adalah suci adalah justru orang itu membenci dosa, yang bukan hanya tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, tetapi juga yang menyakiti diriku sendiri, melawan jati diriku sendiri, dan tentu melawan Tuhan. Karena itu orang-orang Kristen yang sejati, dia tidak bisa tenang, ada pergumulan dan kegelisahan, dia terus menerus datang kepada Tuhan.

Tetapi dia tidak menjadi orang yang aneh, yang terus kuatir, karena sadar bahwa tidak ada apapun yang bisa merebut kita dari kasih Allah, ada ketenangan dengan terus menerus bergantung kepada Dia. Justru tandanya bahwa kita adalah orang yang sudah dikuduskan, adalah kita terus menerus memohon belas kasihan Tuhan untuk menguduskan kita.

Apakah kita sungguh-sungguh mengabarkan Injil dan menjadi terang di dalam dunia?

Natur kita adalah terang, kita tidak bisa tidak menerangi, namun mengapa Tuhan berkata tidak ada orang menaruh pelita di bawah gantang (lihat Luk 11:33). Karena memang banyak orang Kristen seperti itu. Namun itu tidak sesuai dengan naturmu, engkau harus gelisah, engkau tidak mentaati Tuhan seluruhnya, masih banyak dosa. Karena itu kita harus bersandar, berseru kepada Tuhan, bersama saudara-saudara seiman, diingatkan, dikoreksi, ditegur, untuk maju lagi. Inilah dinamika orang Kristen, melayani Tuhan dengan ketenangan, tetapi sekaligus ada pergumulan.

Paulus mengatakan ketika aku lemah, justru aku kuat (lihat 2 Kor 2:7-10). Ini adalah paradoks. Ketika aku betul-betul lemah, duri dalam daging ini menyusahkan aku, tetapi ketika aku lemah, aku datang kepada Tuhan, aku berseru kepada Tuhan, dan Tuhan memberikan pertolongan; di dalam kelemahan justru aku menjadi kuat. Biarlah kita mengerti keseimbangan ini, biarlah kita mengalami ketenangan di dalam keadaan kita sekarang.

Bukan tenang yang tidak ada lagi pergumulan, ketika engkau sungguh-sungguh mentaati Tuhan, menjadi wakil Tuhan, pasti ada kesulitan. Paulus mengatakan siapa yang mau hidup yang beribadah pasti akan menderita, akan dianiaya. Tetapi itulah tanda anak-anak Allah yang sejati.

Biarlah kita anak-anak Allah, yang telah dipanggil untuk mewakili Kristus dan Allah di dunia ini, panggilan mulia, biarlah kita melakukannya dengan merendahkan diri, melayani sesama. Melayani sesama adalah tidak mudah, kalau engkau tidak pernah merendahkan diri dan melayani, maka menjadi tanda tanya besar apakah betul engkau adalah murid Kristus. Ini adalah satu satunya cara engkau menyatakan hidupmu sebagai wakil Kristus di tengah-tengah dunia ini.

Biarlah setiap pelayan di Gereja merendahkan diri dan melayani, biarlah setiap orang tua, merendahkan diri dan melayani keluarga, biarlah orang-orang Kristen yang memiliki kedudukan yang tinggi di perusahaan atau pemerintah, merendahkan diri dan melayani masyarakat, mencuci kaki bawahan-bawahanmu. Biarlah orang-orang kaya merendahkan diri dan melayani sesamamu, mahasiswa-mahasiswi yang pintar merendahkan diri dan melayani sesamamu. Biarlah orang-orang yang mempunyai banyak talenta merendahkan diri dan melayani sesamamu.

Ketika kita melakukan itu maka kita tahu bahwa kita adalah orang-orang yang sungguh-sungguh berbahagia, seperti yang dikatakan dalam Yoh 13:17 “Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.” Orang-orang yang hidupnya berlimpah adalah justru orang-orang yang mengerti panggilan Tuhan yang mulia, mewakili Allah dan Kristus di dunia ini, dengan merendahkan diri dan melayani sesama.

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya