Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Salib adalah Puncak Kemuliaan Allah

Ibadah

Salib adalah Puncak Kemuliaan Allah

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 3 Juni 2018

Bacaan Alkitab: Yohanes 12:27:36

Injil Yohanes pasal 12 sampai akhir Injil Yohanes menceritakan 6 hari terakhir daripada kehidupan Kristus. Juga kitab Injil lainnya memberikan porsi yang besar menceritakan satu minggu terakhir Yesus di dunia ini. Dari 33 setengah tahun hidup Yesus, Injil memang menceritakan kelahiran Yesus, dan perjalanan pelayanannya, tetapi bagian yang terbesar adalah menceritakan satu minggu terakhir Yesus di dunia. Dari tiga setengah tahun atau sekitar 1000 hari pelayanan Yesus, satu minggu terakhir menjadi porsi yang sangat besar dari seluruh kitab Injil. Satu minggu terakhir ini sering disebut the story of the passion of Christ, sampai kepada kematian dan kebangkitan Kristus. Injil Lukas mengambil seperempat untuk menceritakan satu minggu terakhir. Injil Markus dua per lima, Injil Matius mengambil sepertiga, dan Injil Yohanes adalah yang paling banyak mengambil hampir separuh menceritakan enam hari terakhir kehidupan Yesus. Yoh 12 sampai akhir Injil Yohanes kira-kira 50% menceritakan seminggu terakhir. Seorang penulis bahkan mengatakan kitab Injil sebenarnya cerita tentang penyaliban dan kebangkitan Kristus dengan introduksi yang panjang, yang fokusnya adalah penyaliban dan kebangkitan Kristus.

Penekanan ini sesuai dengan tujuan Kristus datang ke dalam dunia ini. Tuhan Yesus mengatakan (lihat Mat 20:28) “Aku datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani dan memberikan nyawa-Ku menjadi tebusan bagi banyak orang.” Di dalam Yoh 12:27, Yesus berkata “Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini.” Dari seluruh tujuan Kristus datang ke dunia, Allah datang menjadi manusia, adalah untuk saat ini, yaitu saat penderitaan Kristus, saat penyaliban, saat Kristus menyatakan kemuliaan Allah, saat Kristus menebus dosa yang mematikan kehidupan kita.

Mengapa Yesus datang untuk saat penyaliban-Nya? Ini memberikan implikasi yang besar karena salib itu adalah puncak dari karya Kristus untuk menyatakan kemuliaan Allah. Salib adalah puncak karya Kristus di dalam dunia untuk memuliakan kemuliaan Allah yang paling besar.

Yoh 17:4 Yesus mengatakan “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.” Kristus datang untuk menyelesaikan pekerjaan yang Bapa berikan kepada Dia. Waktu Kristus menyelesaikan pekerjaan itu, maka Dia tahu Bapa dipermuliakan.

Paulus berkata apapun yang kita lakukan baik itu makan ataupun minum, lakukanlah untuk memuliakan Allah (lihat 1 Kor 10:31). Tetapi kalau kita melihat seluruh Alkitab, bukan hanya kita yang diperintahkan untuk memuliakan Allah, tetapi Kristus pun, seluruh hidup-Nya ditujukan untuk mempermuliakan Bapa-Nya yang di surga. Bahkan terlebih lagi, bukan hanya kita, bukan hanya Kristus, tetapi seluruh yang dikerjakan oleh Allah sendiri, adalah untuk kemuliaan akan diri-Nya.

John Piper menulis the deepest reason why we live for the glory of God, is because God lives for the glory of God. Ini menjadi sesuatu yang aneh. Namun kalau kita membaca Yoh 12:28, Yesus berkata, “Bapa, muliakanlah nama-Mu!" Maka terdengarlah suara dari sorga: "Aku telah memuliakan-Nya (nama-Nya sendiri), dan Aku akan memuliakan-Nya lagi!".”  Dalam konteks Yohanes, “memuliakan nama-Nya” adalah dalam kebangkitan Lazarus (Yoh 11), dan “akan memuliakanNya lagi” khususnya mengacu kepada puncak dalam kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.

Kadang-kadang terdengar aneh, kalau segala sesuatu yang Bapa lakukan tujuan puncaknya adalah mengerjakan segala sesuatu untuk kemuliaan-Nya sendiri.

Ini jarang kita pikirkan, namun kalau kita mengerti bagian ini, maka kita sadar ini adalah suatu good news. Segala sesuatu di alam semesta, di dalam dunia, di dalam hidup kita adalah dari Dia, oleh Dia, dan bagi Dia-lah kemuliaan selama-lamanya. Allah mengerjakan segala sesuatu adalah untuk kemuliaan nama-Nya sendiri. Ketika kita mengerti hal ini, maka ini adalah good news, karena kemuliaan Allah yang dikerjakan di dalam segala sesuatu termasuk di dalam hidup kita adalah kemuliaan yang penuh dengan kasih karunia dan kebenaran. Yoh 1:14 berkata “firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Allah, penuh kasih karunia dan kebenaran.”  Ketika kita mengenal Allah yang menyatakan kemuliaan-Nya di dalam diri Kristus, dan juga di seluruh aspek kehidupan kita, maka kita akan mengerti bahwa itu adalah anugerah yang begitu besar yang diberikan kepada kita. Kita akan mengerti mengapa kita ada, dan tujuan hidup kita.

Di dalam Mazmur 84:3-4 pemazmur berkata “Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup. Bahkan burung pipit telah mendapat sebuah rumah, dan burung layang-layang sebuah sarang, tempat menaruh anak-anaknya, pada mezbah-mezbah-Mu, ya TUHAN semesta alam, ya Rajaku dan Allahku.” Waktu membaca ayat ini saya teringat tentang film documenter dari Richard Attenbourgh. Burung layang-layang, bersarang di tebing-tebing tinggi. Sewaktu telur mereka menetas, anak-anak burung itu mulai belajar terbang, dan kemudian mereka terbang jauh, beratus-ratus kilometer, bahkan beribu-ribu kilometer. Tetapi setelah bertahun-tahun, ketika tiba waktunya bagi mereka untuk bertelur, entah bagaimana, mereka bisa kembali ke sarang mereka yang dahulu. Penyu-penyu juga demikian, ada satu pantai di mana penyu-penyu itu bertelur. Setelah menetas, anak-anak penyu yang kecil itu merangkak dan masuk ke laut. Mereka terus bertumbuh dan berenang mencari kehidupan, ratusan bahkan ribuan kilometer. Namun ketika mereka sudah dewasa, ketika sudah saatnya mereka bertelur, mereka akan datang kembali, persis ke tempat pantai yang sama. Walaupun mereka telah berenang ke seluruh dunia, mereka bisa kembali ke pantai itu dan memulai siklus yang baru. Pemazmur waktu dia melihat burung pipit telah mendapat rumah, dia bertanya di mana rumahku, di mana hidupku, di mana jati diriku, dan dia sadar bahwa yang paling aku rindukan adalah ketika aku datang kepada Tuhan. Ketika jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran Tuhan, hatiku dan dagingku bersorak sorai kepada Allah yang hidup. Ketika kita datang kepada Tuhan, ketika kita memuliakan Tuhan maka kita justru sadar siapa kita. Sadar mengapa kita hidup, sadar tujuan kita di dunia ini.

Inilah yang Tuhan ingin nyatakan kepada kita, dengan menarik manusia untuk datang kepada-Nya. Biarlah firman ini boleh mendorong kita, untuk memfokuskan kembali kepada tujuan kita ada di dunia ini.

Kita akan melihat secara khusus bagaimana salib Kristus menyatakan kemuliaan Allah. Kristus datang untuk saat ini, saat di mana Anak Manusia ditinggikan dari bumi, yang menyatakan saat kematian-Nya di atas kayu salib. Ketika Anak Manusia dimuliakan, Allah dimuliakan, karena seluruh hidup Anak Manusia itu adalah memuliakan Allah Bapa di surga.

Kita akan melihat empat cara di mana Allah memuliakan diri-Nya di dalam kematian Kristus.

1) Allah memuliakan diri-Nya di dalam salib Kristus melalui penghakiman atas dunia.

Yoh 12:31a “Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini.”

Yoh 5:27 menyatakan “Dan Ia telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia.” Selanjutnya Yoh 5:28-29 menyatakan “Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam  kuburan akan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum.” Jadi akan ada penghukuman bagi orang-orang yang tidak percaya kepada-Nya, yang berbuat jahat, dan tidak berkenan kepada-Nya.

Tetapi ada good news di dalam Yoh 5:24 “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.”  

Yoh 5:24 menegaskan barang siapa yang percaya kepada Kristus, tidak turut dihukum karena dia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.

Bagaimana dengan percaya kepada Kristus, seseorang dapat pindah dari dalam maut ke dalam hidup? Kita boleh mengerti karena melalui percaya di dalam Kristus, maka orang yang percaya itu dipersatukan dengan Kristus. Semua orang sudah berdosa dan harus mengalami kematian karena merefleksikan karakter Allah yang suci. Maka satu-satunya jalan seseorang boleh diselamatkan adalah melalui iman di dalam Kristus.

Di atas salib, Allah menyatakan kemuliaan-Nya; kesucian dan keadilan-Nya tidak bisa dikompromikan, dan Allah menghukum Kristus yang mewakili setiap orang yang beriman di dalam-Nya. Kemuliaan Allah tidak bisa dikompromikan dengan dosa, dan upah dosa adalah maut. Manusia melalui iman di dalam Kristus, dipersatukan dengan Kristus. Ketika Kristus mati di kayu salib, Allah menghukum manusia berdosa yang ada di dalam Kristus, maka Kristus harus mati untuk menebus setiap orang yang beriman di dalam Kristus.

1 Yoh 1:9 mengatakan “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Ayat ini selintas kedengaran aneh, karena jika kita mengaku dosa kita, dan Allah setia dan adil, jika Allah yang tidak akan mengubah perkataan-Nya bahwa upah dosa adalah maut, bagaimana Allah yang setia dan adil itu dapat mengampuni manusia yang mengaku dosanya? Pengampunan dari segala dosa seseorang hanya bisa terjadi jika orang itu beriman di dalam Kristus. Tanpa Kristus, jika seorang mengaku bahwa dia bersalah di hadapan Tuhan, saya sudah berzinah, sudah korupsi, mengebom Gereja, dlsb. maka Allah yang adil justru akan menghukum mati.

Tetapi Alkitab mengatakan tidak, kalau kita mengaku dosa kita, justru Allah yang adil itu akan mengampuni dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Mengapa demikian? Karena kalau kita melihat konteks 1 Yoh 1, maka orang-orang yang mengaku dosa ini adalah orang-orang yang sudah dipersatukan di dalam Kristus, yang percaya dan beriman di dalam Kristus. Sehingga iman di dalam Kristus itulah yang boleh menyelamatkan orang. Karena keadilan Allah sudah ditegakkan dengan menghukum Kristus yang mati di atas kayu salib. Kematian Kristus menyatakan kemuliaan Allah karena dosa sudah dihukum di atas kayu salib.

Penghakiman Allah pasti akan terjadi kepada manusia yang berdosa. Hanya ada dua kemungkinan yang terjadi, orang-orang akan dihukum di dalam dirinya sendiri, mereka dibangkitkan pada akhir jaman untuk menerima hukuman yang kekal. Tetapi ada kemungkinan kedua, bagi mereka yang percaya kepada Kristus, Kristus sudah menanggung dosa mereka di atas kayu salib.

Ketika kita memandang salib Kristus, kita memandang kemuliaan Allah dengan gentar, karena kita menyaksikan Allah yang adil, yang menyatakan akan kesucian-Nya, dengan menghukum dunia yang berdosa di dalam salib Kristus. Semua orang yang beriman di dalam Kristus boleh di selamatkan di dalam Kristus. Sebagai orang beriman, kita boleh bersyukur karena Kristus sudah menerima penghakiman itu di dalam diri-Nya.

2) Allah memuliakan diri-Nya di dalam salib Kristus, dengan melemparkan keluar penguasa dunia ini.

Yoh 12:31b “sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar;”

Kalau kita membaca Yoh 13:27 kita melihat bagaimana iblis merasuki Yudas untuk melakukan tindakan terakhir untuk membunuh musuh besar iblis yaitu Kristus. Juga kita mengetahui sejak Kristus lahir di dalam dunia, iblis selalu berusaha membunuh Yesus dengan segala cara. Iblis memakai Herodes untuk membunuh setiap anak di bawah umur dua tahun. Demkian juga orang-orang Farisi berusaha untuk menangkap dan membunuh Kristus. Tetapi mereka terus tidak berhasil karena memang saatnya belum tiba. Kemudian datanglah saat ini, dan Iblis berpikir inilah saatnya untuk membunuh dan menghancurkan musuh besarnya. Tetapi Iblis tidak tahu bahwa saat kematian Kristus itu adalah saat di mana Iblis dikalahkan dan dilemparkan keluar dari tempat pengadilan surgawi.

Hal ini digambarkan dengan indah di dalam cerita Narnia yang ditulis oleh C.S. Lewis. Di dalam cerita ini ada seorang Singa yang merupakan raja di dunia Narnia. Suatu saat, tiga orang bersaudara Susan, Lucy dan Edmund secara tidak sengaja masuk ke dunia Narnia melalui pintu lemari. Edmund adalah seorang yang nakal, dan suka berbuat jahat. Suatu ketika, Edmund yang mewakili saudara dan saya, dia melanggar perintah Aslan, raja yang sudah menetapkan hukum yang sedemikian. Witch yang jahat, yang adalah musuh besar Aslan mengetahui akan hal itu. Maka witch yang jahat itu berkata kepada Aslan untuk menyerahkan Edmund kepadanya, karena menurut hukummu sendiri maka Edmund harus dihukum mati. Aslan rela mati menggantikan Edmund yang berdosa. Maka karena kasihnya kepada Edmund, Aslan mengatakan aku akan menggantikanmu.

Witch yang jahat itu senang sekali karena tujuan puncaknya memang untuk mematikan Aslan, musuh besarnya. Kemudian Witch itu mengatakan benarkah engkau akan menyerahkan diri besok kepada kami, dan kami akan melakukan apa saja yang kami inginkan terhadapmu? Maka Aslan mengaum, namun tidak mengatakan apa-apa, karena sebenarnya auman ini adalah berarti hukumku sebagai raja di tempat ini. Seluruh karakterku tidak pernah melawan hukumku yang merupakan ekspresi diriku sendiri. Karena inilah aku, raja yang adil, raja yang tidak pernah kompromi, raja yang tidak pernah melawan diriku sendiri. Maka Aslan menyerahkan diri kepada Witch itu. Serdadu-serdadu Witch itu mengikat Aslan, menggunting bulu singa itu, dan menghajar dia, sehingga Aslan menjadi jelek dan kotor. Kemudian Aslan diikat di atas batu sacrifice dan dia dibunuh di situ. C.S. Lewis menggambarkan hal itu dengan begitu mengerikan. Lucy dan Susan, saudara perempuan Edmund, melihat Aslan dari jauh , raja yang sangat mereka kasihi itu, dianiaya, ditertawakan dan akhirnya mati di atas batu sacrifice itu. Setelah semuanya pergi, Lucy dan Susan datang melihat Aslan yang sudah mati itu, dengan wajah yang hancur. Mereka bersedih, hancur hatinya, dan mereka tidur dengan kesedihan yang begitu berat di dekat batu itu.

Keesokan paginya, mereka terbangun, Susan mengatakan sudah waktunya mereka harus kembali turun bukit itu. Sewaktu mereka turun, tiba-tiba terjadilah gempa dan mereka terjatuh. Ternyata batu di mana Aslan dikorbankan itu sudah terpecah, dan Aslan tidak ada di situ. Mereka kembali dan bertanya-tanya di manakah Aslan? Tiba-tiba di balik cahaya matahari yang bersinar, munculah Aslan yang sudah sempurna kembali, dengan surainya yang gagah. Mereka bergembira sekali dan datang memeluk Aslan.

Aslan mengatakan suatu kalimat yang menjawab keraguan dan kebingungan mereka “The witch did not know that the deeper magic from before the dawn of time.” Ini mengacu kepada perjanjian Allah tritunggal, perjanjian kekal antara Bapa dengan Anak-Nya. Isi perjanjian itu adalah ketika korban yang tak bersalah rela dibunuh menggantikan orang yang bersalah, batu itu akan pecah dan kematian akan diputarbalikkan. Itulah yang digambarkan oleh kisah ini.

Senjata Iblis yang paling ampuh untuk menuduh kita di pengadilan surgawi adalah dosa-dosa kita. Iblis adalah penuduh dari awalnya, dia akan menuduh kita. Berdasarkan dosa kita dan keadilan dan kesucian Allah yang tidak kompromi dengan dosa, maka Iblis menuntut bahwa Allah pasti harus menghukum dosa, dan maut harus dinyatakan kepada manusia, karena semua manusia sudah berdosa. Ketika tuduhan Iblis ini sudah nyata seperti hukum Allah sendiri yaitu upah dosa adalah maut, maka Allah harus mematikan semua orang berdosa yang ada di hadapan-Nya. Maka di salib itulah, dosa, sengat daripada iblis itu dihancurkan karena darah Kristus menutupi seluruh dosa kita.

Sang penuduh itu sekarang dilempar keluar dari pada ruang pengadilan sorga, karena semua tuduhannya itu telah dipatahkan di atas kayu salib.

Biarlah kita sungguh-sungguh bersyukur kepada Tuhan, melihat salib Kristus, yang menyatakan kemuliaan Allah. Dosa telah dihukum bukan di dalam diri kita sendiri, tetapi di dalam Kristus, Anak-Nya yang tunggal. Dosa setiap orang yang beriman di dalam Kristus, dipersatukan dengan Kristus, dan kemudian dihukum di atas kayu salib. Sehingga tidak ada lagi tuduhan iblis, dosa kita di masa yang lalu, dosa kita sekarang, bahkan dosa yang akan kita lakukan di masa yang akan datang sudah di hapus di hadapan Tuhan. Ketika kita beriman sungguh-sungguh di dalam Kristus, bukan saja dosa masa lalu, dan dosa kita sekarang, tetapi juga dosa yang akan kita lakukan, karena mungkin kita bisa jatuh lagi dalam dosa, maka seluruh hutang dosa itu sudah dipakukan di atas kayu salib. Sudah lunas seluruh dosa kita, dari masa lalu, masa kini dan sampai selama-lamanya. Sudah tidak ada lagi tuduhan dan iblis dilempar keluar dari takhta pengadilan Allah.

Biarlah ketika kita mengerti ini, hati kita dipenuhi dengan syukur kepada Tuhan. Kalau kita mengerti hal ini, kita tidak bisa berkata aku bisa berbuat dosa semauku, karena kita tahu begitu murkanya Tuhan terhadap dosa, sehingga Anak Allah yang tunggal, yang tidak berdosa itu harus dimatikan di atas kayu Salib, demi menanggung dosa saudara dan saya. Kalau ada orang yang berkata kalau begitu aku dapat berbuat dosa semauku, maka dia belum sungguh-sungguh mengerti akan pengorbanan Kristus, belum sungguh-sungguh percaya, dan bahkan mungkin bukan orang yang diselamatkan.

Orang yang beriman mengerti akan pengorbanan Kristus, mengerti akan murka dan kesucian Allah, dan hidupnya berjuang dan taat kepada Tuhan. Bukan karena supaya kita diselamatkan, tetapi justru karena kita sudah diselamatkan. Kita akan hidup memuliakan Allah, bukan karena kita dipermuliakan, tetapi justru karena Tuhan sudan menyatakan kemuliaan-Nya kepada kita, dan Dia akan mengerjakan, membentuk, menyucikan kita terus menerus sampai kita boleh menerima kemuliaan bersama sama dengan Kristus.

Setiap kali kita menerima perjamuan kudus, biarlah kita disegarkan kembali, kita bersyukur, mengingat karena di dalam Kristus maka tidak ada lagi penghukuman, semua dosa sudah dihapus, tidak ada lagi tuduhan. Walaupun kita masih bisa berbuat dosa, iblis tidak bisa lagi menuduh kita bahwa kita patut dihukum mati, karena Kristus sudah mati bagi kita, aku sudah mati di dalam Kristus, sehingga hidup ku bukan aku lagi, melainkan hidup di dalam Kristus. Hidupku yang ku hidupi sekarang adalah hidup oleh iman di dalam Anak Allah, yang telah mengasihi aku dan yang telah menyerahkan hidup-Nya untuk aku.

 3) Allah memuliakan diri-Nya dengan menarik semua datang kepada-Nya.

Yoh 12:32-33 “apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku.

Ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati.” Ditinggikan dari bumi mengacu saat Yesus ditinggikan di atas kayu salib. Kata “orang” di ayat ini sesungguhnya tidak ada di dalam bahasa aslinya. Secara literal ayat ini berkata “…Aku akan menarik semua datang kepada-Ku”. Karena tidak semua orang datang kepada Kristus ketika Dia disalibkan; Yudas tidak percaya kepada Kristus. Kata “datang” mengacu kepada orang yang diselamatkan.

Yoh 6:37 mengatakan “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.” Jadi bukan semua orang akan diselamatkan, tetapi artinya semua yang diberikan Bapa kepada Kristus, dan barang siapa datang kepada Kristus, dia tidak akan dibuang oleh Kristus. “Semua” mempunyai pengertian semua domba-domba Kristus, semua anak-anak dari pada Bapa di surga, semua umat pilihan Bapa di surga.

Kematian Kristus bukan hanya memberikan kemungkinan bagi manusia diselamatkan, tetapi memastikan anak-anak-Nya, domba-domba-Nya ditarik untuk percaya kepada-Nya, dan mereka akan diselamatkan. Melalui salib, Kristus memastikan umat-Nya, saudara dan saya yang beriman di dalam Kristus, domba-domba-Nya, akan datang kepada-Nya, akan percaya kepada-Nya dan diselamatkan.

Ini adalah doktrin limited atonement, yang berdasarkan Alkitab. Kata “semua” bukan berarti semua orang, tetapi berarti semua anak-anak Allah, domba-domba-Nya. Yoh 10:16 mengatakan “Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.” Ini artinya Kristus akan mengumpulkan semua anak-anak-Nya dari segala suku, bangsa dan bahasa dari seluruh dunia, dan Kristus mati untuk mereka.  

Hal ini membuat kita semakin bersyukur melihat kemuliaan Allah dinyatakan. Karya Kristus di atas kayu salib akan menarik semua domba-Nya, anak-anak-Nya untuk datang kepada-Nya dan diselamatkan. Kematian Kristus bukan hanya memungkinkan kita diselamatkan, tetapi memastikan bahwa umat pilihan-Nya pasti diselamatkan.

4) Allah memuliakan diri-Nya di atas salib, dengan menyinari dunia melalui anak-anak-Nya.

Yoh 12:35-36 menyatakan “Kata Yesus kepada mereka: "Hanya sedikit waktu lagi terang ada di antara kamu. Selama terang itu ada padamu, percayalah kepadanya, supaya kegelapan jangan menguasai kamu; barangsiapa berjalan dalam kegelapan, ia tidak tahu ke mana ia pergi. Percayalah kepada terang itu, selama terang itu ada padamu, supaya kamu menjadi anak-anak terang."  Ayat ini sendiri berbicara tentang kehadiran Kristus yang tidak lama lagi di dalam dunia ini.

Hal ini menjadi aplikasi dari tiga point yang di atas. Ini menjadi tantangan bagi mereka yang percaya di dalam Kristus, karena Allah telah menyatakan kemuliaan-Nya pada salib Kristus. Di mana salib Kristus, menyatakan penghakiman Allah atas dunia, melemparkan keluar penguasa dunia, dan menarik semua umat-Nya untuk datang kepada-Nya.

 

Sebagai aplikasi, maka pertanyaan bagi kita adalah:

  • Ketika kita memandang salib Kristus, maka apakah kita sungguh-sungguh sadar dan percaya dalam hati kita yang paling yang dalam, bahwa tidak ada lagi penghukuman bagi kita karena Kristus sudah menerima penghukuman itu.
  • Ketika kita memandang salib Kristus, maka apakah kita percaya bahwa iblis tidak lagi dapat menuduh kita, karena dia telah dilempar keluar dari takhta pengadilan Allah. Seluruh surat hutang iblis, yang memang sah, karena manusia sudah berdosa, sekarang sudah dipakukan di atas salib Kristus.
  • Ketika kita memandang salib Kristus, menerima perjamuan kudus, menerima roti dan anggur yang merupakan tanda, yang menunjuk kepada realita yang sesungguhnya, yaitu tubuh Kristus yang diserahkan bagi kita, yang juga memeteraikan bahwa kita adalah milik Kristus. Seluruh dosa kita sudah disucikan dan kita percaya bahwa Dia telah menarik kita untuk datang kepada-Nya, sehingga hidupku adalah milik-Nya.

Ketika kita memandang salib, maka kita bukan hanya melihat terang kemuliaan salib Kristus, tetapi kita juga menjadi anak-anak terang. Yoh 12:36 menantang kita “Percayalah kepada terang itu, selama terang itu ada padamu, supaya kamu menjadi anak-anak terang.” Ini adalah panggilan Tuhan bagi kita.

Ketika kita memandang salib, maka kita mengenal kemuliaan Tuhan, yang penuh dengan anugerah, dengan kebenaran. Maka kita makin mengenal Kristus, makin bersyukur, makin taat, makin ditarik kepada-Nya sehingga hidup kita sehari-hari boleh bersinar di tengah-tengah dunia, yang penuh dengan kegelapan.

John Piper pernah memberikan ilustrasi tentang memuliakan Allah. Kata yang lain dari memuliakan Allah adalah membesarkan nama Allah. Dia berkata sewaktu kita membesarkan (magnify) nama Allah, bukan seperti dengan mikroskop tetapi seperti dengan teleskop. Mikroskop membesarkan sesuatu yang begitu kecil, seperti bakteri, menjadi kelihatan besar. Kita tidak membesarkan nama Allah seperti mikroskop, yang membesar-besarkan sesuatu yang tidak besar. Tetapi kita membesarkan nama Allah seperti teleskop, yang membesarkan sesuatu yang kelihatan kecil, seperti bintang yang yang begitu jauh, sehingga terlihat kecil, namun bintang itu sebenarnya begitu besar.

Kita membesarkan Allah bukan dengan kalimat bombastis, tetapi karena Allah itu adalah terlalu besar.

Dunia mengatakan bahwa Allah itu begitu kecil, dan tidak ada gunanya. Mereka berkata Allah tidak dapat dilihat, Allah tidak berkuasa, Allah tidak hidup dan berdaulat atas segala sesuatu. Maka seorang penulis membuat suatu buku When God is Small and Man is Big; Allah itu kecil bagi dunia, manusia itu besar. Alkitab mengajarkan sebaliknya.

Ketika kita menjadi anak-anak terang kita dapat memperlihatkan kemuliaan Allah itu melalui perkataan, melalui hidup kita, melalui ketaatan kita. Maka bolehlah dunia melihat bahwa Allah itu hidup, Allah itu besar, Allah itu berkuasa atas seluruh sejarah, Allah memimpin seluruh alam semesta dan mencipta segala sesuatu. Biarlah kita membesarkan nama Allah seperti teleskop. Sehingga orang boleh tertarik, boleh datang mengenal Allah dan menjadi percaya. Kemuliaan Allah dinyatakan secara puncak di atas salib Kristus, dan kita beritakan itu sebagai satu-satunya kabar baik yang manusia perlukan di dunia ini.

 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya