Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal

Ibadah

Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 27 Mei 2018

Bacaan Alkitab: Yohanes 12:9-26

Yohanes 12 dan pasal-pasal selanjutnya, menceritakan 6 hari sebelum penyaliban Kristus. Salib yang merupakan tanda penghinaan, tanda kutukan oleh Allah, tetapi Yesus mengatakan inilah saatnya Anak Manusia dimuliakan dan bagi Kristus, salib adalah tanda kemuliaan.

Dalam Yoh 12, Yesus Kristus masuk ke Yerusalem, dielu-elukan sebagai raja, yang sekarang ini kita rayakan sebagai minggu palem. Orang Yahudi yang mendengar bahwa Yesus memasuki kota Yerusalem, mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Yesus sambil berseru (Yoh 12:13) “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!”

Ini adalah suatu kutipan dari Mazmur 118 yang merupakan Mazmur mesianik. Yesus datang sebagai raja yang dinantikan itu, yang dinubuatkan dalam perjanjian lama, sebagai mesias. Sebelumnya Yesus menolak untuk disebut sebagai Mesias, karena belum waktunya. Namun ini adalah saatnya Dia masuk ke Yerusalem, sebagai Mesias, raja yang dielu-elukan.

Yesus masuk ke Yerusalem menaiki keledai muda.

Di dalam Injil Sinoptik, keledai muda disebut sebagai keledai yang belum pernah ditunggangi. Hal ini sebenarnya adalah suatu mukjijat, karena seekor keledai yang belum pernah ditunggangi, pasti akan berontak. Yesus masuk ke Yerusalem di atas keledai, yang juga merupakan penggenapan dari Zakharia 9:9 “Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.”

Masuknya Yesus ke Yerusalem menjadi suatu prosesi besar, orang-orang menyambut Dia dan mengatakan inilah raja Israel yang dinanti-nantikan itu.

Dari sudut pandang orang-orang Farisi dan orang Romawi, apa yang dilakukan Yesus itu adalah seperti cari mati. Kita tahu sebelum peristiwa ini, orang-orang Farisi sudah berusaha mencari Kristus untuk membunuh Dia.

Hal yang menarik adalah Yesus yang mengaku sebagai Raja, Dia yang menerima sebutan yang diberikan orang-orang itu, bukan datang dengan menunggangi kuda perang. Biasanya, seorang Raja akan masuk ke suatu kota melalui prosesi dengan kuda yang gagah. Tetapi aneh sekali, Yesus datang sebagai Raja yang bukan seperti yang dipikirkan oleh orang-orang Israel pada waktu itu. Dia adalah Raja yang sesungguhnya, Raja di atas segala Raja, tetapi Dia datang dengan mengendarai seekor keledai muda, yang menjadi tanda damai, tanda  A Man Of Peace. Saudara bisa membayangkan, Yesus menunggang seekor keledai yang kecil, dan semua orang mengelu-elukan-Nya sebagai Raja Israel, Hosanna bagi Mesias yang dinanti-nantikan. Ini adalah sangat paradoks.

Hal yang menarik selanjutnya adalah Yohanes merajut peristiwa yang adalah paradoks. Paradoks dalam arti sepertinya mulia tetapi tidak mulia, sepertinya hina tetapi begitu mulia. Dua hal yang sepertinya bertentangan tetapi ada di dalam satu pribadi yaitu Kristus sendiri. Yohanes merajut peristiwa dengan menyatakan bahwa Yesus bukan hanya Raja Israel tetapi Dia adalah Raja dari seluruh dunia.

Dalam Yoh 12:19 orang-orang Farisi mengatakan “Kamu lihat sendiri, bahwa kamu sama sekali tidak berhasil, lihatlah, seluruh dunia datang mengikuti Dia.”

Tentu kalimat ini bersifat hiperbol, karena tentu tidak seluruh dunia datang pada saat itu. Tetapi seperti perkataan Kayafas dalam Yoh 11:50 “lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa”, maka perkataan hiperbol yang sinis itu, yang dikatakan dengan maksud yang jahat itu, sebenarnya mengandung suatu kebenaran, yaitu bahwa Yesus datang sebagai Raja dari seluruh dunia.

Bagaimana kita mengerti bahwa ini adalah sesuatu yang benar? Karena ayat-ayat berikutnya mengatakan: (Yoh 12:20-23) “Di antara mereka yang berangkat untuk beribadah pada hari raya itu, terdapat beberapa orang Yunani. Orang-orang itu pergi kepada Filipus, yang berasal dari Betsaida di Galilea, lalu berkata kepadanya: "Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus." Filipus pergi memberitahukannya kepada Andreas; Andreas dan Filipus menyampaikannya pula kepada Yesus. Tetapi Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan.” 

Kejadian ini tidak ditulis di dalam kitab Injil lainnya. Bahwa ada orang Yunani yang ingin bertemu dengan Kristus, dan Yesus mengatakan “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan.” Orang Yunani itu bukan orang Yahudi. Bagi orang Yahudi, orang-orang Yunani itu adalah gentile, kafir, bukan termasuk orang pilihan. Tetapi Injil terus menegaskan bahwa Kristus datang ke dalam dunia, bukan hanya menyelamatkan orang-orang Yahudi. Kristus datang mengumpulkan orang-orang dari segala bangsa, suku dan bahasa, dari seluruh dunia untuk boleh percaya kepada Yesus Kristus. Kalau saudara baca selanjutnya, tidak diceritakan lagi tentang orang-orang Yunani ini. Tetapi ini menjadi tanda, Yohanes ingin menyatakan kepada kita, bahwa kematian Yesus bukan hanya bagi bangsa Yahudi tetapi untuk seluruh dunia. Karena ketika orang-orang Yunani itu ingin bertemu dengan Yesus, Yesus langsung mengatakan bahwa sekarang puncak dari misi-Nya akan segera terjadi, bahwa Dia akan dimuliakan sebentar lagi.

Kita akan merenungkan perkataan Kristus dalam Yoh 12:23-24 “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.”

Tuhan Yesus menjelaskan apa artinya bahwa Anak Manusia akan dimuliakan, akan menjadi Raja dari pada seluruh dunia.

Kalau kita melihat Yoh 12:24-26, maka kita akan melihat hal yang paradoks, jalan yang akan Yesus jalani masuk ke Yerusalem dan kemudian menuju ke Golgota untuk disalibkan adalah jalan yang sulit, jalan penderitaan, jalan kematian. Jikalau biji tidak jatuh ke tanah dan mati, ia tetap satu biji saja. Ini adalah jalan salib yang Yesus akan jalankan, tetapi sekaligus jalan ini adalah jalan mulia, jalan yang indah, jalan yang menuju kehidupan kekal, jalan yang dipenuhi dengan kesukaan kekal yang Tuhan berikan. Perjalanan Kristus juga adalah kebenaran bagi setiap kita yang mengaku sebagai pengikut Kristus.

Ada hal paradoks yang disatu sisi sulit namun disisi lain mulia, di satu sisi berat, namun di sisi lain adalah indah. Perjalanan yang menuju kematian tetapi sesungguhnya itu adalah jalan menuju kehidupan kekal. Hal ini dimulai dengan “Aku berkata kepadamu sesungguhnya…” Ketika Yesus ingin menyatakan suatu yang sangat penting, maka kita perhatikan ada kata “sesungguhnya” (amin-amin/truly-truly) yang mendahului hal tersebut.

Biji gandum itu harus mati dan baru kemudian ia menghasilkan banyak buah. Mati itu sulit, begitu menderita, tetapi justru melalui kematian, baru biji gandum itu akan menghasilkan banyak buah. Ini adalah analogi dari alam yang kita boleh mengerti. Biji itu harus jatuh ke tanah, mati baru kemudian bisa bertumbuh dan menghasilkan buah. Apakah itu berbuah seratus kali lipat, atau berjuta-juta kali lipat; tetapi jalannya harus mati.

Kebenaran yang sederhana ini mengagetkan. Orang-orang Yunani ingin bertemu kepada Kristus, kemungkinan besar karena mereka mendengar Kristus yang luar biasa yang sudah membangkitkan Lazarus dari kematian. Tetapi Tuhan Yesus seolah-olah mengatakan kepada mereka dan murid-murid-Nya: engkau ingin melihat kemuliaan-Ku, kebesaran dan keagungan-Ku?  Maka Aku akan menyatakan kemuliaan-Ku sebagai Raja bukan dengan mengajak engkau ke upacara kenegaraan di mana mahkota Raja akan disematkan ke kepala-Ku? Tidak, Aku akan mengajak engkau ke Golgota di mana mahkota duri akan disematkan di kepala-Ku.

Tuhan Yesus ingin menyatakan bahwa kematian-Nya adalah satu-satunya cara melihat kemuliaan-Nya. Kematian-Ku adalah satu-satunya cara engkau akan mengenal Aku, dan kemudian akan menghasilkan banyak buah melalui kematian-Ku. Tetapi kalau Aku tidak mati, maka tidak ada seorang pun yang akan diselamatkan, tidak ada satu buah pun yang akan dihasilkan. Jikalau biji gandum itu tidak jatuh dan mati maka ia tetapi satu biji saja, tetapi jikalau ia mati maka ia akan menghasilkan banyak buah.

Tuhan Yesus pertama-tama ingin menyatakan tentang diri-Nya sendiri, Aku adalah biji gandum itu, Aku harus mati. Kalau biji itu Aku simpan, kalau Aku mengasihi nyawa-Ku, maka biji itu tetap satu biji saja. Tetapi kalau Aku mati maka justru melalui kematian itu, biji gandum itu akan menghasilkan banyak buah. Buah yang bukan hanya untuk orang Yahudi saja, atau orang Yunani saja, tetapi untuk segala bangsa yang datang dan percaya kepada-Ku.

Kita tahu seterusnya ketika Yesus dibangkitkan dan dimuliakan duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Ketika kedatangan Kristus yang kedua kali, maka semua lutut akan bertelut, semua lidah akan mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan. Inilah jalan daripada hidup Tuhan Yesus yang juga dapat diaplikasikan di dalam hidup kita.

Yoh 12:25-26 mengatakan “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.”

Kita melihat di sini, kebenaran dalam Yoh 12:24 tentang biji gandum itu, sekarang diaplikasikan kepada semua pengikut Kristus.

Yoh 12:25 sangat penting karena kitab-kitab lainnya, Matius, Markus dan Lukas mencatat tentang ini. Biarlah kita mengingat ayat ini “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.”

Kita prihatin karena banyak anak muda yang hidupnya mencintai nyawanya. Ada yang mengatakan aku sudah besar, aku bisa melakukan apa saja yang aku inginkan, jangan atur aku. Ini adalah kalimat yang bukan hanya bodoh tetapi sebenarnya semata-mata adalah suatu ilusi. Karena sebenarnya mereka tidak pernah melakukan apa yang benar-benar mereka inginkan. Apa yang mereka lakukan itu dipengaruhi oleh lingkungan. Mereka hanya mengikuti, dan menjadi budak daripada lingkungan mereka. Mereka mengikuti apa yang teman-teman mereka dan dunia katakan. Mereka tidak bisa melakukan apa yang mereka inginkan sendiri. Karena keinginan mereka sudah diperbudak oleh orang-orang disekeliling mereka dan budaya yang sangat melawan Tuhan. Ini adalah suatu ilusi semata-mata.

Ini bukan saja suatu ilusi, tetapi juga suatu kebodohan, karena Alkitab di sini mengingatkan kepada kita “Barangsiapa mencintai nyawanya justru akan kehilangan nyawanya.”

Leon Morris mengatakan bahwa Loving the life is self defeating process, it destroys the very life it is to retain. The man who loves his life, is destroying it right now.

Kata kehilangan nyawa dapat diartikan sebagai sedang menghancurkan nyawa dari hidupmu sendiri. Ketika engkau melakukan yang apa engkau pikir akan memberikan kesukaan, untuk kepentinganmu sendiri, Alkitab mengatakan bahwa engkau akan menghancurkan nyawamu sendiri.

Dalam Yeremia 2:12:13 Allah mengatakan “Tertegunlah atas hal itu, hai langit, menggigil dan gemetarlah dengan sangat, demikianlah firman TUHAN. Sebab dua kali umat-Ku berbuat jahat: mereka meninggalkan Aku, sumber air yang hidup, untuk menggali kolam bagi mereka sendiri, yakni kolam yang bocor, yang tidak dapat menahan air.” Mereka mencari kepuasan, terus tidak puas, bocor tidak pernah terisi penuh. Betapa banyaknya orang yang mencari kenyamanan hidup di dalam dunia ini, yang justru kehilangan nyawanya. Bukan hanya hal yang jahat tetapi juga hal yang bodoh.

Ada seorang ayah yang sedang booming bisnisnya, yang berjuang dengan semangat mengembangkan bisnisnya lebih baik lagi. Kemudian dia membuat bisnisnya untuk setiap saat melayani customer. Dia menjadikan dirinya bisa dapat dihubungi 24 jam setiap hari, di mana saja, kapan saja. Dia menjadikan dirinya available bagi seluruh dunia, kecuali untuk istri dan anak-anaknya, dan terutama dia tidak available untuk Tuhan. Istrinya mengajak dia ke Gereja, namun dia tetap menolak, tidak ada waktu, karena begitu sibuk mengembangkan bisnisnya. Anak-anaknya mengajak dia menonton performance musik di sekolah, namun dia tidak punya waktu. Suatu kali dia periksa ke dokter karena dada-nya merasa tidak enak. Dokter menganjurkan dia untuk mengubah cara hidupnya, namun dia tidak pergi ke dokter itu lagi, supaya dia dapat terus mengerjakan apa yang dia inginkan. Suatu malam, istrinya terbangun dan tahu pasti suaminya masih ada di ruang kerja di rumahnya. Suaminya memang masih ada di sana, namun dengan kepala yang ada di meja. Istrinya berpikir mungkin dia kecapekan, dan saat mau membangunkan suaminya, dia kaget, karena badannya sudah dingin, mati karena serangan jantung. Maka kematiannya masuk ke majalah-majalah terkenal, diberitakan secara luar biasa, sebagai seorang usahawan yang hebat, yang membangun bisnisnya dari nol hingga memberi pengaruh yang besar di negaranya. Banyak orang-orang penting yang datang ke pemakamannya. Satu-per-satu memberikan komentar: dia seorang innovator, usahawan yang besar luar biasa dan masih banyak lagi segala pujian yang luar biasa. Setelah semua upacara pemakaman selesai, semua orang pulang, dan kubur ditutup, malam itu hujan turun. Di tengah-tengah hujan itu Tuhan mengirim malaikat-Nya, dan menulis satu kalimat di batu nisannya: “Fool.”

Ini adalah cerita versi modern dari pada cerita Tuhan Yesus. Seorang yang memiliki semuanya tetapi tidak mengerti hal yang penting di dalam hidup. Seorang yang mencintai nyawanya, memikirkan apa yang paling penting, mengejar segala apa yang dikejar oleh dunia ini. Tetapi justru dia kehilangan apa yang paling penting yaitu nyawanya. Bukan hanya hal yang jahat di hadapan Tuhan, tetapi juga Tuhan Yesus katakan “hai orang bodoh, hari ini juga engkau kehilangan nyawamu.”  

Tuhan Yesus mengatakan “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.“

Dalam bahasa aslinya, “tidak mencintai” disebutkan sebagai “membenci”. Arti ”tidak mencintai” dunia ini adalah membenci apa yang dicintai dunia ini. Artinya adalah dia menyangkal diri, melalui jalan yang sempit, namun itu adalah jalan kehidupan yang penuh dengan kemuliaan Tuhan. Justru ketika engkau membenci nyawamu, engkau membuang apa yang dikejar oleh dunia ini, maka sesungguhnya engkau sedang di jalan yang Tuhan kehendaki, memikul salib, mengikut Kristus. Justru jalan inilah yang membuat engkau menyelamatkan nyawamu untuk hidup yang kekal.

Saudara sekalian biarlah kita mengingat dua aspek panggilan Tuhan ini. Di satu sisi, panggilan ini adalah panggilan yang berat, menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Kristus. Sesuatu yang berat untuk melayani orang-orang yang tidak berterima kasih kepada kita. Sesuatu yang berat untuk mengasihi anak-anak yang memberontak, untuk memberi waktu kepada saudara-saudara kita yang undur imannya, untuk memberitakan Injil kepada orang-orang yang belum percaya, untuk menjadi kepala keluarga yang Tuhan kehendaki, untuk tunduk kepada suamimu seperti panggilan Tuhan bagi hidup kita, untuk mengasihi orang yang telah menyakiti hati kita.

Kalau kita melakukan itu semua, maka orang dunia akan berkata kita sedang membenci nyawa kita sendiri. Ketika kita tidak mementingkan kepentingan diri kita sendiri, dan mau melayani Tuhan, melakukan apa yang Tuhan kehendaki, ini adalah orang yang membenci nyawanya di dunia ini.

Tetapi aspek laininya adalah bahwa ini adalah panggilan yang mulia dan ultimately adalah satu-satunya jalan yang membawa hidup yang kekal dan kesukaan penuh yang Tuhan kehendaki. Barangsiapa mencintai nyawanya justru dia akan kehilangan nyawanya. Barangsiapa membenci nyawanya di dunia ini, akan memeliharanya bagi hidup yang kekal.

Ada seorang pemuda yang pintar, yang orang tuanya bekas pejabat, yang mendapat scholarship, yang memiliki banyak kelebihan, dan memiliki masa depan yang cerah untuk menjadi seorang usahawan yang berhasil. Tetapi dia meninggalkan itu semua, bukan berarti hal-hal itu tidak bisa dipakai, dan mengikuti panggilannya untuk menjadi hamba Tuhan. Dia menjadi satu contoh orang yang tidak mencintai nyawanya di dalam dunia ini, karena justru ultimatelynya itu adalah orang yang berhikmat, orang yang pandai. Justru jalannya harus seperti ini.

Kalau biji gandum itu tidak jatuh dan mati maka akan tetap satu biji saja. Tidak ada jalan yang lain, karena alternatifnya, ketika engkau menjaga biji itu untuk kenyamanan dirimu sendiri, engkau sedang kehilangan nyawamu, engkau sedang menghancurkan hidupmu sendiri. Biarlah kita mengajak pemuda-pemudi, anak-anak kita, untuk mengingat jalan yang sulit ini, tetapi di jalan itu ada anugerah Tuhan. Itulah satu-satunya jalan, tidak ada jalan yang lain, membenci nyawamu di dalam dunia ini, justru orang yang seperti demikianlah yang ultimately akan menyelamatkan nyawanya dan memperoleh hidup yang kekal.

Tuhan Yesus mengatakan dua janji dalam (Yoh 12:26) bagi orang yang membenci nyawanya di dunia ini:

  • Barangsiapa mau melayani Aku, dia harus mengikut Aku, dan di mana Aku berada, di situ pun orang itu akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa. Di mana Aku berada, di situ pun pelayanku berada”, ini mirip sekali dengan ketika Yesus waktu mengatakan bahwa ia akan terangkat ke surga (Yoh 14:2b-3) “Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.” Ultimately inilah janji Tuhan bagi orang yang mengikut Kristus. Kemanapun Dia pergi, di mana Kristus berada, kita berada. Itulah sorga sesungguhnya, sorga yang bukannya tempat, tetapi di mana kehadiran Tuhan dengan penuh ada di situ. 
  • “Barang siapa melayani Aku, dia kan dihormati oleh Bapa”. Kalimat ini perlu kita renungkan dengan dalam dan kita kagumi. Bapa yang pencipta langit dan bumi, yang berkuasa atas seluruh alam semesta, akan menghormati mereka yang melayani Aku. Biarlah kita mengikut Kristus, mentaati segala kehendak-Nya, yang tidak mudah, yang banyak pengorbanan. Tetapi kita harus mengingat bahwa seluruh pengorbanan kita tidak akan sia-sia di dalam Tuhan. Giatlah selalu di dalam pekerjaan Tuhan, karena kita tahu di dalam Tuhan, pekerjaan kita tidak akan sia-sia. ( 1 Korintus 15:58b)

Ada suatu cerita dari Eric Liddle, seorang olahragawan, yang pada suatu final Olimpiade, tidak mau bertanding pada hari minggu. Dia most likely pasti mendapat emas, menjadi kebanggaan bagi negaranya. Dia dicaci maki oleh banyak orang, tetapi dia tetap bersikukuh tidak mau lari, karena hari itu adalah harinya Tuhan. Dia taat beribadah, dia rela “kehilangan” nyawa demi Tuhan. Dia membenci nyawanya di dunia ini. Tetapi ceritanya tidak berhenti sampai di situ, dia kemudian ikut di dalam race 400m. Sangat jarang ada orang yang berlari di 100m, yang menjadi juara di 400m, karena cara larinya berbeda. Meskipun Eric Liddle adalah pelari spesialis 100m, dia ikut bertanding di 400m. Sebelum dia berlari di final 400m, seorang memberikan secarik kertas kepada dia yang mengutip satu ayat perjanjian lama (lihat 1 Samuel 2:30) “God will honour the one who honours Him” Tuhan akan menghormati orang yang menghormati-Nya. Maka dia pegang hal itu dan dia mendapat medali emas untuk jarak 400m.

Inilah yang Tuhan inginkan dari kita, untuk mentaati Tuhan di dalam segala pergumulan yang ada. Tuhan berjanji, Dia akan memimpin dan ultimately, Tuhan akan memberikan hidup yang kekal. Bahkan Bapa pencipta langit dan bumi akan menghormati seorang ciptaan-Nya, seorang yang sederhana. Itulah janji Tuhan yang luar biasa. Biarlah kita rindu akan hal ini.

Pak Tong membuat suatu lagu singkat tentang keledai muda yang tidak pernah ditunggangi oleh siapapun, yang biasanya berontak ketika ditunggangi. Tetapi seperti keledai muda itu biarlah kita dengan segala pergumulan kita, biarlah kita tunduk seperti keledai muda yang Yesus tunggangi itu:

Sebagai keledai kuserahkan

pakai hamba-Mu Tuhanku

Ku mau taat pimpinanMu,

pakai bimbing hambaMu.

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya