Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Cinta akan Uang

Ibadah

Cinta akan Uang

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 20 Mei 2018

Bacaan Alkitab: Yoh 11:54-57, Yoh 12:1-8

Dalam pembacaan Alkitab di atas, Yudas menjadi salah satu tokoh yang penting di dalam hal yang negatif. Perkataan Yudas di dalam pasal 12 menjadi latar belakang yang gelap yang membuat keindahan perbuatan Maria yang keluar dari hati yang mengasihi akan Kristus semakin cemerlang.

Sebelumnya dalam pasal 11 diakhiri dengan para imam dan orang-orang Farisi yang sepakat untuk membunuh Yesus. Yesus kemudian menyingkir ke Efraim karena memang belum waktunya Dia ditangkap dan dibunuh. Tetapi kita tahu bahwa misi Kristus dari pertama datang ke dalam dunia untuk menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka melalui kematian-Nya. Di dalam Alkitab ESV pasal 12 dimulai dengan kata: Karena itu (therefore) – “Karena itu enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania,…” Ini adalah 6 hari terakhir; mulai dari pasal 12 ayat yang pertama sampai dengan akhir dari Injil Yohanes menceritakan 6 hari terakhir dari pada hidup Yesus Kristus.

Yesus tahu bahwa dia datang ke dalam dunia untuk mati menebus umatNya dari dosa mereka, karena itu Dia datang ke Betania. Letak Betania kira-kira 3 km dari Yerusalem, dimana Dia akan dihakimi nantinya. Dalam Yoh 12:2  dikatakan diadakan perjamuan makan. Ini bukan perjamuan makan biasa tapi perjamuan makan yang diadakan untuk Dia. Dalam Yoh 12:3  Maria menyatakan kasihnya kepada Yesus dengan meminyaki kaki Yesus dengan minyak yang mahal harganya, menyekanya dengan rambutnya.

Di dalam konteks seperti ini dalam peristiwa yang begitu indah, di ayat Yoh 12:4 dimulailah kegelapan hati dari Yudas; Yudas Iskariot, seorang dari murid-murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata: “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?”

Apa yang dikatakan Yudas ini adalah kebalikan, kontras dengan kebaikan hati Maria. Keindahan hati Maria dengan penuh ucapan syukur mengenal Kristus yang mulia dan adalah begitu berharga. Namun dalam keadaan yang begitu indah itu, muncullah perkataan Yudas yang gelap, tajam, perkataan yang muncul bukan karena hati yang mencintai orang-orang miskin tetapi karena keserakahannya yang biasa mencuri uang (Yoh 12:6).    

Ada 2 hal yang kita bisa renungkan khususnya melalui perkataan Tuhan Yesus di dalam Yoh 12:7-8: “Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburanku. Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu”.

Kedua hal ini adalah:

1.“Biarkanlah dia,… karena Aku tidak akan selalu ada pada kamu”. Tuhan Yesus mau mengatakan kepada Yudas bahwa dia tidak mengerti apa yang dikerjakan oleh Maria, tidak mengerti betapa berharga, bernilainya Yesus yang waktunya tinggal sebentar lagi. Yesus mau mengatakan kepada Yudas bahwa dia tidak sungguh-sungguh mengenal Yesus, tidak mengerti bahwa mengenal Yesus, melihat-Nya, mendengar perkataan-Nya, memiliki persekutuan yang intim dengan-Nya itu adalah sesuatu yang sangat berharga melampaui akan apapun. Tetapi Maria mengerti hal itu dan hatinya penuh dengan kasih, dengan syukur karena mengenal Tuhan dan waktu yang tinggal sebentar lagi.

Harga minyak narwastu murni 300 dinar sama dengan gaji seseorang selama 300 hari kerja satu tahun. Kristus melihat hati Maria yang meluap dengan kasih karena mengenal Yesus itu lebih berharga dari segala yang lain. Ia telah melihat kemuliaan Allah yang telah membangkitkan Lazarus yang dikasihinya. Sesungguhnya Kristus telah membangkitkan setiap kita yang mati dari dosa-dosa kita, Ia telah memberikan hidup yang baru bagi kita. Karena itu bukankah sesungguhnya kita perlu belajar seperti Maria? Kristus ingin kita memiliki hati seperti Maria.

Kita juga harus mempunyai hati yang serius dalam memberikan persembahan kepada Tuhan karena itu adalah bagian dari ibadah kita. Tuhan melihat hati kita apakah kita mengerti bahwa Kristus adalah begitu berharga dan belajar seperti Maria yang mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan. Ketika kita datang setiap Minggu ke tempat ini, apakah kita memiliki hati yang demikian? Hati yang sungguh-sungguh menyadari Tuhan itu begitu berharga lebih dari pada segala sesuatu?

 2. “Biarkanlah dia… karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu.". Yesus mengetahui hati Yudas. Seandainya perkataan Yudas itu benar bahwa dia memang peduli dengan orang-orang miskin, maka perkataan Tuhan Yesus menyatakan bahwa setelah Dia pergi, Yudas mempunyai seumur hidupnya melayani orang miskin. Kita tahu cerita selanjutnya bahwa beberapa hari setelah peristiwa ini, Yudas menjual Tuhan Yesus seharga 30 keping perak, harga seorang budak pada waktu itu.

Maria sungguh-sungguh mencintai Tuhan dan dia pakai uang yang dia miliki untuk menyatakan itu. Tetapi Yudas sebaliknya. Yudas mencintai uang dan dia memakainya untuk kepentingan dirinya. Kita tahu bahwa hasil dari orang yang mencintai uang itu akan binasa

 1 Timotius 6: 7 -10 menyatakan: “Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman   dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka”.

Cinta akan uang itu membutakan Yudas dari keindahan perbuatan Maria. Yudas tidak mengerti perbuatan Maria, keindahan hati Maria, malah me-rebuke Maria.  Mungkinkah hati kita itu seperti Yudas yang merasa bahwa mencintai Tuhan itu adalah suatu pemborosan?

Biarlah kita boleh belajar hari ini dan mengoreksi hati kita, betulkah kita sungguh-sungguh mengenal akan Kristus sebagai Tuhan yang berharga lebih dari segala sesuatu? Betulkah kita mencintai Dia? Betulkah apa yang kita kerjakan dan lakukan, bagaimana kita memakai uang kita menyatakan bahwa kita sungguh-sungguh mencintai Tuhan, menempatkan Dia lebih daripada segala-galanya?

 Jangan ada di antara kita yang terjebak di dalam cinta akan uang yang akhirnya menghancurkan diri kita dan membuat kita binasa.

 

Ringkasan oleh Adrian Gandanegara | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya