Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Mukjijat tidak Membuat Orang Percaya kepada Kristus

Ibadah

Mukjijat tidak Membuat Orang Percaya kepada Kristus

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 6 Mei 2018

Bacaan Alkitab: Yoh 11:45-57

Bagian Alkitab kali ini merupakan respon dari kebangkitan Lazarus. Sebelumnya Tuhan Yesus menegur Marta (Yoh 11:40) “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?” Berkaitan dengan ayat ini, ada seorang yang berkata kepada saya bahwa orang-orang karismatik juga sangat senang memakai ayat ini. Kita tahu konteksnya, kemuliaan Allah saat itu adalah Lazarus yang akan dibangkitkan. Karena itu, orang karismatik berkata karena itu kamu harus percaya, kalau kamu percaya maka kamu akan sembuh, hidupmu akan dilepaskan dari kesulitan, maka bisnismu akan berhasil dan melihat kemuliaan Allah.

Saya jadi berpikir, sepertinya hal itu sangat logis. Namun kalau kita pikir dengan tajam, dalam peristiwa ini kemuliaan Allah memang dinyatakan melalui kebangkitan Lazarus; Marta, Maria melihat kemuliaan Allah. Memang betul, kita harus sungguh-sungguh percaya akan kalimat itu, tetapi kemuliaan Allah itu tidak harus dinyatakan melalui apa yang kita harapkan terjadi dalam hidup kita. Memang betul Lazarus dibangkitkan, tetapi kemuliaan Allah juga dinyatakan ketika Yesus tidak mencabut duri dalam daging dari Paulus. Sebaliknya ,Tuhan menyatakan kepada Paulus (2 Kor 12:9-10) “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru di dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Karena itu Paulus berkata “Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku”, “sebab jika aku lemah maka aku kuat.” Paulus menyadari kekuatan Tuhan jauh lebih besar dari segala kelemahannya.

Kemuliaan Allah dinyatakan ketika John Huss dibakar sampai mati. John Huss, seorang pra-reformator, sekitar 100 tahun sebelum Martin Luther, dia memberitakan firman, melawan pengajaran yang salah, dan terus tidak menarik beritanya, sampai dia dibakar sampai mati. Kemuliaan Allah dinyatakan melalui darah kaum martir. Kemuliaan Allah dinyatakan bukan seperti yang kita pikir.

Kali ini kita akan melihat kesalahan yang lain. Kalau saja ada orang mati hari ini, dan kemudian dibangkitkan di depan mata kita; dimasukkan ke youtube, dan betul-betul terjadi. Kalau itu terjadi, apakah semua orang akan percaya kepada Yesus. Tidak. Alkitab berkali-kali menyatakan hal ini.

Dalam Luk 16:20-31 dikisahkan ada seorang kaya yang berada di dalam neraka. Dia berkata kepada Abraham supaya Lazarus (Lazarus ini yang lain, bukan yang dibangkitkan oleh Yesus) yang ada dipangkuan Abraham di surga, supaya Lazarus turun ke bumi memberitakan supaya saudara2 orang kaya itu, mereka percaya kepada Tuhan. Namun Abraham mengatakan mereka sudah mempunyai kitab Musa, kitab para nabi, kalau mereka tidak mendengarkan firman Tuhan itu, mereka pun tidak akan percaya kalau orang mati dibangkitkan.

Ini adalah sesuatu yang harus kita mengerti, bahwa mukjijat tidak akan membawa orang percaya kepada Kristus. Ini adalah kesalahan pemahaman pendalaman Firman Tuhan dari penganut health and wealth theology.

Yoh 11:45 mengatakan orang-orang yang melihat sendiri apa yang diperbuat Kristus menjadi percaya. Tetapi kalau kita mengikuti alur pikiran Tuhan Yesus, Dia mengatakan jikalau engkau percaya, engkau akan melihat kemuliaan Allah. Artinya mereka sudah percaya dulu, baru mereka melihat kemuliaan Allah yang dinyatakan melalui kebangkitan Lazarus. Kemuliaan Allah itu hanya bisa dilihat oleh orang yang percaya.

Tetapi ada orang-orang lain yang melihat mukjijat itu, mereka tidak men-dispute lagi, mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri bahwa Lazarus bangkit. Mereka mengatakan (Yoh 11:37) “Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?”, berarti orang orang ini juga telah melihat Yesus mencelikkan mata orang yang buta. Mereka melihat mukjijat-mukjijat yang dilakukan Yesus, namun mereka tetap tidak percaya, bahkan mereka mau membunuh Yesus.

Jadi mukjijat tidak membuat orang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan. Kalau saudara dan saya boleh percaya kepada Tuhan itu adalah anugerah Tuhan, belas kasihan Tuhan semata-mata bagi kita. Ini adalah anugerah Tuhan yang besar kalau kita yang mati secara rohani, boleh dibangkitkan dan boleh percaya kepada Tuhan. Kita percaya kita boleh menyaksikan pekerjaan dan kemuliaan Tuhan dinyatakan di dalam hidup kita.

Kita melihat persekongkolan yang jahat di dalam Yoh 11:47-51. Bukan hanya mereka tidak percaya kepada Kristus, mereka juga ingin membunuh Yesus Kristus. Ini adalah manusia yang berdosa, yang tanpa anugerah, akan berespon seperti ini.

Orang-orang ini yang melihat Yesus membangkitkan Lazarus, pergi kepada imam-imam Farisi, menceritakan apa yang mereka lihat. Lalu berkumpullah imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, memanggil Mahkamah agama, dan berkata apakah yang harus mereka perbuat karena orang ini (Yesus) membuat banyak mukjijat. Mereka sendiri yakin bahwa Yesus membuat mukjijat. Pada jaman itu Mahkamah agama adalah gabungan mahkamah secara agama dan juga secara politik. Mahkamah yang disebut Sanhedrin ini adalah konstelasi tingkat tinggi antara pimpinan bangsa dan pimpinan agama. Mereka berkumpul bukan untuk menemukan kebenaran karena kebenaran itu sudah jelas, mereka sudah mengakui bahwa kebangkitan Lazarus memang mukjijat. Tetapi pertanyaannya adalah apa yang harus mereka lakukan sekarang. Mereka berkumpul bukan untuk mencari kebenaran, tetapi untuk menyelamatkan posisi mereka sendiri.

Seorang penulis menyatakan, ketika mereka melihat mukjijat Kristus, kesimpulan yang seharusnya mereka ambil sudah sangat jelas: marilah kita percaya bahwa orang ini adalah Mesias, Dia adalah Anak Allah. Tetapi mereka memikirkan apa dampaknya bagi diri mereka, mereka memikirkan apa untung dan ruginya bagi mereka. Karena itu mereka menyimpulkan Yesus harus dibunuh.

Ketika seseorang memikirkan untung dan rugi bagi dirinya, dan tidak mencari kebenaran, tidak mencari apa yang menjadi kehendak Tuhan, orang itu akan memakai segala cara, termasuk cara-cara agama, bahasa-bahasa agama, tetapi motivasi hatinya adalah mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Pendeta Stephen Tong mengatakan kalau orang berpikir demikian, maka apapun yang dikerjakan pasti rusak.

Kesimpulan dari argumentasi mereka (Yoh 11:48) “Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita.” Mereka berpikir jika semakin banyak orang percaya Kristus, maka Roma akan menghancurkan sisa-sisa otonomi yang Israel miliki. Artinya, jika orang-orang mulai berpikir bahwa Yesus adalah raja yang akan datang itu, Mesias yang akan memimpin Israel di dalam kebesaran-Nya, dan semakin besar gerakan ini, maka Roma pasti tidak akan suka. Roma akan datang menghancurkan mereka dan habislah mereka. Ini adalah pemikiran mereka.

Maka solusinya adalah (Yoh 11:49-51) seorang di antara mereka yaitu Kayafas imam besar berkata kepada mereka “Kamu tidak tahu apa-apa” dengan otoritas dan nada menghina, “dan kamu tidak insyaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita daripada seluruh bangsa kita binasa.” Solusinya adalah bunuh Yesus.

Yang menarik adalah apa yang dikatakan dalam Yoh 11:50 ini, kemudian dijelaskan oleh Yohanes, penulis Injil ini di dalam Yoh 11:51, menurut sudut pandang Tuhan di dalam history (His-story). “Hal ini dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai imam besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu.” Ini menarik sekali, karena Kayafas yang ingin membunuh Yesus karena kebenciannya, ketakutannya, memakai alasan atau preteks bahwa lebih berguna bagimu jika satu orang mati untuk bangsa kita, daripada seluruh bangsa binasa. Namun Yohanes dipimpin oleh Roh Kudus mengatakan bahwa itu justru adalah perkataan Allah.

Ini adalah hal yang luar biasa. Ketika Kayafas mengatakan kalimat ini, itu memang keluar dari ketakutan dan kebenciannya; tetapi Yohanes mengatakan Kayafas sedang bernubuat, artinya dia sedang berkata sebagai nabi, sebagai penyambung lidah dari Allah. Sebenarnya di dalam Kedaulatan Allah, Tuhan berkarya di situ, dan dari mulut Kayafas muncul salah satu doktrin yang paling penting untuk mengerti kematian Yesus, bahwa Yesus mati menggantikan kita, mengggantikan umat yang berdosa.

Bagaimana perkataan yang muncul dari motifasi Kayafas yang jahat ini, disebut sebagai nubuatan, sebagai perkataan dari pada Allah sendiri. Ini memberikan suatu hal yang penting untuk kita mengerti sebagai orang Kristen dan sebagai anak-anak Tuhan. Yohanes mengatakan Allah adalah yang berdaulat atas segala sesuatu, Dia bukan hanya bisa membalikkan hal yang jahat menjadi kebaikan, tetapi juga Dia bekerja dan mengijinkan hal yang jahat itu terjadi untuk kebaikan umat-Nya. It is better for you that He died. Ini adalah doktrin yang sangat penting, tapi sekaligus yang dapat membingungkan kita. Tetapi kalau kita mengerti hal ini, ini dapat menjadi kekuatan dan penghiburan yang besar dalam hidup kita sebagai anak-anak Tuhan.

Ada seorang jemaat kami yang pernah kena kanker, di dalam masa sakit itu, dia menulis kesaksiannya di satu majalah. Dia mengutip perkataan John Piper dalam buku Don’t waste your cancer. Salah satu intinya adalah you waste your cancer if you don’t accept it as the will of God. Jangan sia-siakan penyakit yang kamu dapatkan itu. Kamu akan men sia siakan kanker kalau engkau tidak menerima kanker itu sebagai kehendak Tuhan. Kemudian ada seorang yang mengkritik bahwa Tuhan tidak menghendaki kita kena kanker, dan Tuhan bisa memakai kanker itu untuk kemuliaan Tuhan. Tentu benar Tuhan bisa memakai kanker atau kesulitan apa pun untuk menyatakan kebaikan-Nya dan kemuliaan-Nya.

Tetapi kritikan ini lupa akan hal ini: kanker itu bisa terjadi karena Tuhan mengijinkan. Kita menggunakan istilah “mengijinkan”, karena Tuhan tidak pernah akan melakukan kejahatan; kanker dlsb itu adalah akibat dosa. Tetapi yang mau ditekankan adalah, segala kanker, kesulitan dan penderitaan anak-anak Tuhan itu tidak akan terjadi kalau Tuhan tidak mengijinkan. Kalau itu terjadi di dalam kehidupan kita, itu artinya Tuhan dalam kedaulatan-Nya, Dia mengijinkan hal itu terjadi, karena Dia memiliki rencana dan bekerja di dalam hal itu.

Dia bekerja di dalam segala sesuatu, Dia tidak sekedar membalikkan hal yang jahat itu menjadi kebaikan, tetapi Allah bekerja di situ. Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya (lihat Kel 50:20): engkau memang merancangkan hal yang jahat kepadaku, tetapi Allah merancangkannya (kejahatan) itu untuk mendatangkan kebaikan. Jadi Dia bukan sekadar membalikkan kejahatan menjadi kebaikan, tetapi Dia juga bekerja, memiliki rencana yang baik bagi kita anak-anak-Nya, untuk kemuliaan nama-Nya.

Kalau saudara termasuk orang-orang yang sungguh-sungguh percaya dan mengasihi Kristus, maka perkataan ini memberi kekuatan yang begitu dalam. Bahwa Allah berdaulat, Dia mengetahui kalau segala pergumulan, penyakit bahkan kematian, Dia memang mengijinkan itu terjadi di dalam hidup kita, untuk mendatangkan kebaikan. Dia ingin membentuk kita supaya kita bisa berseru dan makin mengenal Dia, makin menyadari dalamnya anugerah-Nya, mengalami penghiburan-Nya.

Paulus sadar bahwa di dalam kelemahannya, justru dia kuat (2 Kor 12:10). In the mist of suffering, of weaknesses, he experienced God’s power. Tuhan ingin kita makin mengenal Dia dengan mengalami pekerjaan-Nya. Pasti kita tidak ingin sakit kanker, tidak ingin anak kita lebih cepat mati mendahului kita , tetapi di dalam kedaulatan Tuhan yang tidak setiap detilnya kita mengerti, kita mengetahui isi hati Tuhan bahwa Dia selalu menginginkan yang terbaik terjadi bagi kita, yaitu ketika kita makin mengenal Dia, makin menyaksikan kemuliaan-Nya.

Yang terbaik itu tidak selalu berarti : kalau kita disembuhkan; duri dilepaskan dari daging ; kita dilepaskan dari kesulitan. Memang Tuhan sering menolong kita sesuai dengan apa yang kita doakan, tetapi tidak selalu Tuhan mengerjakan itu. Tetapi satu hal yang pasti Dia selalu mengerjakan sesuatu supaya kita makin mengenal Dia, Dia selalu bekerja untuk menyatakan kemuliaan-Nya, Dia selalu bekerja untuk menyatakan kebaikan-Nya. Tetapi bukan kebaikan menurut kita, melainkan kebaikan menurut Tuhan supaya hati kita diubahkan dan makin mengerti Tuhan sedang mengerjakan itu bagi kita.

Biarlah kita boleh percaya dan percaya akan kedaulatan Tuhan, yang selalu memiliki rencana yang terbaik bagi anak-anak-Nya. Di dalam segala kesulitan kita, biarlah kita datang kepada Tuhan dan beriman bahwa Tuhan bukan hanya membalikkan kesulitan kita, tetapi Tuhan bekerja di situ, in the mist of our weaknesses, of our sufferings, Dia sedang berkarya menyatakan kemuliaan-Nya, membentuk kita untuk semakin serupa dengan Dia.

Kayafas berkata lebih baik Yesus mati supaya seluruh bangsa tidak binasa. Ini adalah doktrin substitution. Paulus setuju dengan perkataan ini, walaupun kalimat ini adalah ucapan Kayafas, bahkan kalimat ini adalah perkataan Allah sendiri. Lebih baik Kristus mati, supaya umat-Nya yang telah berdosa tidak binasa. Ini adalah jantung iman Kristen. Tuhan yang berdaulat menyatakan kebenaran melalui mulut Kayafas yang jahat itu.

Di dalam satu kebaktian Paskah di penjara, ada seorang hamba Tuhan yang berkotbah. Di penjara itu banyak di antara narapidana itu, sangat membenci ayah mereka. Salah satu alasan utama mereka, adalah karena mereka tidak memiliki role model, dan penuh dengan kemarahan terhadap ayah mereka. Pendeta itu bertanya dalam kotbah Jumat Agung: siapakah yang membunuh Yesus? Banyak yang menjawab Yudas, imam besar, Pilatus dsb. Pendeta itu menjawab bukan, tetapi yang membunuh Yesus ultimately adalah Bapa-Nya sendiri. Mereka semua terdiam, mereka telah begitu marah kepada ayah mereka, sekarang diberitakan bahwa yang membunuh Anak Allah adalah Bapa-Nya sendiri. Kalimat ini sangat keras, tetapi kalau kita membaca Yes 53, kalimat ini menggambarkan kebenaran.

  • Yes 53:4 “Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang  dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.”
  • Yes 53:6 “Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.”
  • Yes 53:10 “Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya.” NIV menyatakan Yes 53:10 “the Lord’s Will to crush him .. “, adalah kehendak Bapa untuk meremukkan Kristus. Ini adalah jantung iman Kristen. Bahwa Bapa meremukkan Anak-Nya sendiri supaya Dia tidak meremukkan kita.

Biarlah kebenaran ini membentuk hati kita, yaitu ketika kita jatuh dalam dosa, bergumul dengan rasa bersalah dan Iblis menuduh kita, percuma datang ke Gereja dan ikut dalam pelayanan, coba engkau mengikuti saja jalan dari dunia ini …. Maka bersegeralah engkau memandang kepada salib Kristus dan mengerti kebenaran apa yang dikatakan Kayafas itu. Bahwa Dia yang tidak berdosa, dijadikan berdosa karena kita, supaya kita yang ada di dalam Kristus dan percaya kepada Kristus boleh dibenarkan. Kita boleh mengerti kebenaran yang begitu besar yang dinyatakan di atas salib Kristus. Bahwa Dia yang suci dan tidak berdosa itu, diremukkan oleh Bapa-Nya sendiri bagi kita, sehingga kita tidak diremukkan oleh Allah. Sehingga tidak ada lagi penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus.

Anugerah Tuhan yang besar ini, seharusnya mendorong kita untuk berbelas kasih kepada orang lain, betapa pun besarnya kesalahan orang itu kepada kita. Ketika kita melihat salib Kristus, mau tidak mau, kita harus berbelas kasih kepada orang orang yang bersalah kepada kita. Berbahagialah orang yang berbelas kasih, karena dia sendiri akan menerima belas kasih dari Tuhan.

Kematian Kristus bukan hanya bagi bangsa Israel, tetapi juga bagi anak-anak Allah yang tersebar di segala bangsa, suku dan bahasa. Ini dinyatakan di dalam ayat selanjutnya Yoh 11:52 “.. dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai.” Ini memberi pengertian, bahwa kematian Kristus bukan hanya menggantikan umat Israel, tetapi juga anak-anak Allah di segala bangsa, di segala suku dan bahasa. Melalui kematian Kristus, semua mereka ditarik oleh Kristus. Ini sangat mirip dengan Yoh 10:16: Yesus mengatakan “Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu Ku-tuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dan satu gembala.” Domba-domba lain yang bukan dari bangsa Israel, domba-domba yang berasal dari orang gentile, mereka adalah domba-domba milik-Kristus. Kematian Kristus juga menggantikan mereka. Mereka juga adalah anak-anak Kristus juga. Bukan hanya untuk bangsa Israel saja, tetapi juga untuk anak-anak Allah yang tercerai berai. Mereka masih tercerai berai di segala suku, bangsa, dan bahasa, di segala agama-agama lain. Kematian Kristus menggantikan mereka juga. Sebelum dikumpulkan mereka sudah disebut anak-anak Allah. Mereka adalah umat pilihan Allah sendiri, mereka akan datang kepada-Nya, akan bertobat dan percaya kepada Kristus.

Kita harus mengerti, kematian Kristus di sini bukan hanya membuka jalan keselamatan, tetapi juga akan memastikan bahwa umat pilihan-Nya, domba-domba-Nya, akan datang, percaya kepada-Nya, bertobat dan menerima Dia sebagai Juruselamat mereka. Kematian Kristus bukan sekadar menyatakan kasih-Nya, bukan hanya menyatakan kesempatan supaya orang bisa datang kepada-Nya, bukan hanya berhenti di situ. Tetapi kuasa Kristus jauh lebih besar.

Kalau Dia hanya berhenti dengan memberikan kemungkinan saja, maka mungkin tidak ada seorang pun yang percaya. Karena kalau Dia hanya membuka kemungkinan saja, maka keselamatan kita hanya bergantung kepada kita sendiri. Namun bagian Alkitab ini menegaskan bahwa kematian Kristus bukan hanya memberikan kemungkinan itu, tetapi memastikan bahwa anak-anak Allah, domba-domba yang adalah milik-Nya, umat pilihan-Nya yang sudah ditebus, dipilih sebelum dunia dijadikan, itu pasti akan datang.

Roh Kudus bekerja, ketika Injil diberitakan, Roh Kudus menghancurkan hati manusia, sehingga manusia sadar akan dosanya. Roh Kudus membawa manusia menyadari betapa mulia dan Agungnya Kristus. Maka Roh Kudus yang bekerja di situ memastikan umat pilihan-Nya, domba-domba-Nya, anak-anak-Nya, untuk datang kepada Kristus dan beriman kepada-Nya. Keselamatan kita menjadi sangat teguh, sangat kuat, karena semata-mata bersandar kepada kedaulatan Tuhan.

Karena semua orang yang dipilih Tuhan itu pasti ditetapkan oleh Tuhan untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya (Roma 8:29-30), dan semua yang ditetapkan oleh Tuhan pasti akan dipanggil-Nya, dan semua yang dipanggil-Nya pasti akan dibenarkan, dan semua yang dibenarkan-Nya, pasti akan dimuliakan. Ini adalah pekerjaan dan kehendak Tuhan yang dinyatakan kepada kita, menjadi kekuatan, penghiburan yang besar kepada kita, anak-anak Tuhan.

Kristus sudah mati, diremukkan untuk kita. Injil Yohanes di sini menegaskan bahwa karena kita adalah anak-anak Tuhan, artinya adalah sungguh-sungguh percaya di dalam Kristus, maka seharusnyalah kita sadar bahwa Allah dan Kristus mengasihi kita secara khusus, secara pribadi. Karena engkau termasuk anak-anak Allah, bagi kitalah Kristus sudah mati. Dia tidak mati memberikan kemungkinan bagi semua orang. Tetapi Dia mati bagi pribadi lepas pribadi. Paulus menegaskan dalam Gal 2:19-20 “Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Ini adalah sesuatu yang personal.

Paulus sadar sekali bahwa Kristus bukan hanya menyatakan kasih-Nya kepada semua orang, tetapi Kristus mati menyatakan kasihnya kepadaku, aku pribadi, pribadi lepas pribadi. Dia yang mengasihi aku dan telah menyerahkan nyawa-Nya untuk aku. Kristus bukan hanya menawarkan kasih kepada manusia, tetapi Dia menggerakkan hati saudara dan saya dengan kasih-Nya; Dia mengubah dan menghancurkan hati saya, yang keras seperti batu dan menggantinya dengan hati yang taat, hati yang mengasihi Dia. “Oh love that wont let me go”, kasih yang tidak akan melepaskan kita. Biarlah kasih dan kebenaran-Nya sungguh-sungguh menggerakkan hati kita untuk menyadari betapa besarnya kasih Tuhan bagi kita, kasih Tuhan secara pribadi lepas pribadi.

Anak-anak Allah dikumpulkan itu menjadi satu Yoh 11:52 NIV “ .. to bring them together and make them one”. Tuhan menebus kita satu per satu dari segala tempat dan segala jaman; dan mempersatukan kita dalam satu tubuh, satu roh, satu tujuan, satu jiwa dan satu kasih. Dosa bersifat menceraiberaikan manusia, tetapi kasih keselamatan Kristus bersifat mempersatukan. Tiap minggu, kita menyatakan bahwa kita percaya kepada satu Gereja yang kudus dan Am. Kudus sifatnya dan universal. Kita dipersatukan dalam satu tubuh Kristus. Kita dipersatukan dari segala tempat dan jaman, bukan hanya melewati ruang, tetapi juga melewati waktu; dipersatukan sebagai satu umat gembalaan milik Tuhan. Dengan satu roh kita dilahirbarukan, sehingga menjadi satu jiwa, satu tujuan.

Biarlah tujuan Tuhan yang mempersatukan ini, boleh terlihat juga di dalam Gereja lokal, Gereja yang kelihatan. Kita bertemu satu sama lain, bersentuhan di dalam persekutuan-persekutuan, di dalam rumah keluarga.

Mazmur 133:1 berkata “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!” Inilah kehendak Tuhan, Tuhan mati untuk kita, untuk mempersatukan kita. Kebenaran ini muncul dari mulut Kayafas yang jahat itu.

Berharaplah kita bisa menyatakan hal itu di dalam kehidupan Gereja kita, dan di dalam hidup kita sehari-hari. Berharaplah nama Tuhan dipermuliakan di tengah-tengah kita. Hidup kita dibentuk untuk mengasihi Tuhan dan sesama.

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya