Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Believing is Seeing

Ibadah

Believing is Seeing

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 29 April 2018

Bacaan Alkitab: Yoh 11:38-44

Bagian Alkitab kali ini menceritakan tentang Yesus membangkitkan Lazarus. Ada suatu drama yang berdasarkan tentang kisah ini. Drama ini tidak real, namun diambil dengan latar belakang kisah yang real. Judul drama ini adalah Lazarus Laughs (Dan Tertawalah Lazarus). Dalam drama ini, diceritakan bahwa Lazarus diancam oleh kaisar roma Caligula yang sangat membenci orang Kristen. Caligula mengancam Lazarus, karena Lazarus terus memberitakan tentang Kristus yang membangkitkan dia. Caligula mengancam kalau Lazarus tidak berhenti memberitakan Kristus, maka Lazarus akan dipenjarakan. Maka Lazarus tertawa mendengar ancaman itu. Caligula makin marah, dan dia mengancam akan membunuh Lazarus. Maka Lazarus tertawa lebih besar lagi, karena dia sudah pernah mati, dan dia sudah dibangkitkan oleh Kristus.

Meski cerita ini adalah fiksi, namun cerita ini bertolak dari suatu peristiwa sejarah yang menjadi klimaks daripada mukjijat-mukjijat yang dilakukan Kristus. Mukjijat Yesus membangkitkan Lazarus adalah mukjijat yang ketujuh dan yang terakhir yang ditulis oleh Yohanes. Mukjijat ini menjadi point of no return bagi pemimpin-pemimpin agama Yahudi yang ingin membunuh Kristus. Peristiwa ini adalah sangat penting yang menjadi katalis bagi mereka, karena mereka pikir, kalau Kristus tidak dibunuh maka agama Yahudi akan menjadi kacau oleh karena Kristus. Karena melalui kebangkitan Lazarus, banyak orang menjadi percaya kepada Kristus.

Kita akan melihat peristiwa ini melalui tiga perkataan. Kita tahu bahwa waktu Yesus tiba di sana, Lazarus sudah mati empat hari. Kristus sengaja menunggu dua hari sebelum pergi ke tempat Lazarus, memastikan bahwa Lazarus sudah benar-benar mati, dan berbau. Melalui segala peristiwa ini Yesus ingin menyatakan kemuliaan-Nya, ingin menyatakan kasihNya kepada keluarga Lazarus yang sangat dekat dengan Kristus. Dengan menunggu sampai Lazarus mati, Kristus ingin mereka menyadari betapa besar kasih-Nya kepada mereka melalui Kristus yang menyatakan diri-Nya kepada mereka dengan membangkitkan Lazarus. Kasih yang bukan dimengerti sebagai Tuhan yang memberikan segala yang kita perlukan, tetapi kasih yang terbesar ketika Kristus menyatakan Diri-Nya, pekerjaan-Nya, kemuliaan-Nya kepada kita, supaya kita boleh mengenal Dia. Dengan mengenal Dia, hidup kita boleh diubahkan sedalam-dalamnya.    

Kita akan melihat peristiwa ini melalui tiga perkataan Kristus kepada tiga pribadi yang berbeda. Yang pertama, perkataan Kristus kepada Marta, kemudian perkataan Kristus kepada Bapa-Nya, dan yang terakhir perkataan Kristus kepada Lazarus yang dibangkitkan. Melalui perkataan-perkataan ini, kita akan melihat Kristus menyatakan kasih-Nya kepada Maria, Marta dan Lazarus; dan juga kepada kita. Meskipun kita tidak melihat sendiri Lazarus dibangkitkan, tetapi kita memiliki firman Tuhan yang adalah benar, yang kekal, yang tidak bersalah. Melalui kebenaran yang dinyatakan kepada kita, biarlah Roh Kudus bekerja di dalam hati kita, supaya kita bisa mengenal Tuhan dan boleh mengalami akan kasih-Nya yang begitu besar.

 (Yoh 11:38-40) Yesus pergi ke kubur yang ditutup dengan batu dan berkata angkatlah batu itu. Marta berkata kepada-Nya “Tuhan, ia sudah berbau, sudah empat hari ia mati” Tuhan Yesus berkata kepada Marta (Yoh 11:40) “Jawab Yesus: “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?”” Perkataan Yesus ini merupakan teguran dan pengajaran kepada Marta yang imannya sedang diuji.

Yoh 11:39 adalah ayat yang penting yang menegaskan bahwa betul betul Lazarus sudah mati. Yoh 11:39 bukan menyebut Marta sebagai saudara Lazarus tetapi sebagai saudara orang yang sudah meninggal itu. Perkataan Marta juga menegaskan itu, bahwa Lazarus sudah mati empat hari dan sudah berbau.

Marta adalah seorang yang percaya, tetapi sekarang imannya sedang diuji. Marta menghadapi kenyataan bahwa saudaranya sudah mati empat hari. Maka kemudian Tuhan Yesus berkata “Bukankah sudah kukatakan kepadamu jikalau engkau percaya kepada-Ku, engkau akan melihat kemuliaan Allah.” Ini adalah echo dari Yoh 11:4 yang mengatakan bahwa penyakit Lazarus tidak akan membawa kematian tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah. Sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan. Meskipun Yoh 11:4 tidak dikatakan kepada Marta, tetapi kemungkinan besar perkataan itu sampai ke telinga Marta. Sehingga Tuhan Yesus berkata “Bukankah sudah kukatakan kepadamu…”  

Kita boleh menyimpulkan bahwa Tuhan Yesus ingin mengatakan bahwa believing is seeing. Jikalau engkau percaya maka engkau akan melihat kemuliaan Allah. Tentu kita mengetahui di jaman kita sekarang ini, yang terjadi adalah sebaliknya, seeing is believing; kalau engkau bisa membuktikan kepada saya maka saya akan percaya. Tentu seeing is believing tidak sepenuhnya salah karena dunia kita banyak orang-orang berdosa, khususnya bila kita berhadapan dengan manusia yang bisa salah, yang bisa memberikan janji-janji yang manis tetapi tidak ada buktinya. Maka kita bisa berkata buktikan dulu apa yang kamu katakan. Di dalam dunia politik, banyak janji-janji yang diungkapkan oleh calon adalah seeing is believing.

Science juga demikian, harus ada sesuatu yang bisa diukur dan dibuktikan baru kita bisa percaya. Namun science pun tidak pernah hanya berdasar kepada bukti-bukti yang ada. Bukti-bukti mungkin sama tetapi bagaimana engkau menaruh bukti itu di dalam the larger story. Maka sesungguhnya dibelakang logika science ada juga unsur percaya. Apakah engkau percaya kepada naturalism, segala sesuatu terjadi hanya bersifat alamiah; ataukah ada Tuhan yang menciptakan segala sesuatu. Kalau kita terus bertanya kepada science, mengapa seperti ini? Maka science bisa menjawab hal itu. Kalau kita tanya lagi mengapa hal itu seperti itu, dan terus-menerus menanyakan, ujungnya mungkin ke Big Bang. Tetapi kalau kita bertanya mengapa ada Big Bang, maka sebenarnya tidak ada jawabannya. Paling jauh, science akan mengatakan that’s the way it is. Atau, jawabannya adalah ada Tuhan yang menciptakan. Dua-duanya adalah believe. Sehingga bila kita kembali kepada Alkitab, maka kita tahu bahwa Tuhan-lah yang menciptakan segala sesuatu.

Kalau kita mendengar perkataan Kristus, biarlah kita tidak berkata Engkau harus buktikan, karena bukti-bukti itu ujungnya adalah iman juga. Justru iman kepada firman Tuhan adalah jauh lebih solid daripada iman yang berdasarkan bukti, yang by-chance, yang tanpa Tuhan.

Maka di sini, kepada Marta, Yesus berkata jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah. Perkataan Tuhan di sini adalah 100% benar dan pasti tidak ada sedikitpun ketidak pastian yang ada di dalamnya. Dia adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan. Kalau kita mempelajari perjanjian lama, dengan segala nubuat para nabi, bahwa suatu hal akan terjadi, anak dara akan melahirkan seorang anak dsb. maka semua nubuatan yang belum terjadi itu tidak pernah dikatakan dengan kalimat future-tense, tetapi past-tense. Seolah-olah nubuatan itu telah terjadi. Karena perkataan Tuhan tidak akan pergi dengan sia-sia tetapi akan menggenapi apa yang dikatakan.

Maka Yesus berkata “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu, jikalau engkau percaya, engkau akan melihat kemuliaan Allah?” Kita perlu belajar dan mendengar sungguh-sungguh teguran Yesus kepada Marta. Marta adalah seorang yang sungguh-sungguh percaya, artinya dia adalah seorang yang sudah di dalam Kristus. Tetapi dia masih harus belajar banyak hal untuk bertumbuh di dalam iman. Kita juga perlu merefleksikan apakah kita sungguh-sungguh percaya akan janji-janji Tuhan dan pemeliharaan Tuhan di dalam hidup kita. Apakah di dalam doa-doa kita, kita percaya kepada Tuhan yang hidup itu? Bahwa Tuhan mendengar dan menjawab doa kita, bahwa Dia akan menjawabnya di dalam bijaksana dan yang selalu menginginkan yang terbaik bagi kita? Tuhan Yesus mengatakan “kalau engkau percaya, maka engkau akan melihat kemuliaan Allah.

Di dalam ketaatan kita, kita harus percaya kepada Tuhan, dan boleh melayani, di dalam segala keadaan. Di dalam suatu KKR yang Pendeta Tong pimpin, sebelumnya pak Tong sedang diare yang tidak bisa ditahan. Walaupun sudah minum obat, diare tetap berlangsung, dan akhirnya pak Tong harus naik mimbar untuk berkotbah. Di tengah-tengah kotbah, dengan menahan segala kesakitan, akhirnya dia terpaksa diare tanpa bisa tahan lagi. Kita bisa bersyukur kepada Tuhan, kita bisa melihat hidup hamba-hamba Tuhan yang sungguh-sungguh melayani Tuhan dalam segala keadaan.

Biarlah kita boleh percaya akan janji-janji Tuhan, dan penyertaan Tuhan di dalam hidup kita. Biarlah kita boleh terus bertumbuh, belajar untuk lebih taat kepada Tuhan, dan kita boleh melihat pekerjaan dan kemuliaan Tuhan dinyatakan di tengah-tengah kita.

Marta adalah seorang yang percaya, tetapi ketika dihadapkan dengan sesuatu yang impossible menurut manusia, imannya menciut, sampai dia menghalangi Kristus untuk menyingkirkan batu liang kubur. Namun biarlah kita sungguh-sungguh percaya kepada perkataan Tuhan, seperti anak kecil yang begitu polos dan percaya akan perkataan orang-tuanya 100 persen. Kalau imanmu tidak seperti anak anak kecil ini, maka engkau tidak layak masuk ke dalam kerajaan surga (lihat Mat 18:3).

Tentu bukan berarti kita nekat melakukan sesuatu yang merupakan ambisi kita. Bagaimana kita bisa membedakan antara percaya yang sungguh-sungguh kepada Tuhan ataukah itu hanya ambisi kita yang ingin kita lakukan? Jawabannya ada pada apakah hal yang kita lakukan itu adalah untuk kemuliaan Allah, apakah hal itu sesuai dengan prinsip firman Tuhan. 

Kristus sebentar lagi akan melakukan mukjijat yang luar biasa, Dia akan menyatakan kuasa-Nya yang besar dengan membangkitkan Lazarus yang sudah mati empat hari. Ini adalah suatu kebaikan yang besar bagi Marta, Maria, Lazarus dan orang-orang di sekelilingnya, tetapi fokusnya di sini adalah kemuliaan Allah. “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?”

Pertanyaan bagi hidup kita adalah apakah Allah dimuliakan, ketika kita melakukan apapun. Apakah kita percaya bahwa Dia adalah Allah yang hidup, apakah yang kita kerjakan sesuai dengan kebenaran firman-Nya. Jika jawabannya adalah Ya, maka biarlah kita melangkah dengan jauh lebih berani, lebih taat, lebih percaya, lebih berkorban, dan kita akan melihat pekerjaan Allah dan kemuliaan-Nya yang dinyatakan kepada kita.

Banyak hal akan kemuliaan Allah yang belum kita alami karena kita kurang beriman, kita kurang percaya, kita tidak sungguh-sungguh percaya akan perkataan Tuhan. Namun kalau kita taat beriman kepada Tuhan maka pekerjaan Tuhan akan dinyatakan. Marta tidak pernah berpikir Tuhan bisa membangkitkan Lazarus yang sudah mati empat hari, kalau kita terus tidak percaya, maka Marta tidak akan menyaksikan perkerjaan Tuhan itu. Perkataan Tuhan menegur Marta, dia sadar dan tidak menghalangi ketika orang-orang menggeser batunya.

Ketika mereka menggeser batu itu, Yesus berkata kepada Bapa-Nya (Yoh 11:41-42) “Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Perkataan ini sangat penting karena ini menggambarkan relasi antara Anak dan Bapa yang berbeda secara kualitatif dibanding dengan relasi para nabi/para rasul dengan Allah. Ini adalah Anak Tunggal Allah yang selalu isi hati-Nya, kehendak-Nya bahkan diri-Nya sendiri adalah bersatu dengan Allah Bapa. Kristus bukan berdoa supaya Bapa membangkitkan Lazarus, tetapi Dia berdoa bersyukur kepada Bapa yang selalu mendengarkan doa-Nya. Ketika Yesus membangkitkan Lazarus Dia tidak berkata “Di dalam nama Bapa …”, namun Yesus berseru dengan suara keras (Yoh 11:43) “Lazarus, marilah ke luar” dengan otoritas yang dari diri-Nya sendiri. Dengan satu kalimat itu Lazarus pun keluar.

Perkataan Yesus di sini bukan hanya menyatakan relasi-Nya dengan Bapa, tetapi juga untuk kebaikan orang-orang yang ada di situ, dan juga bagi kita (Yoh 11:42) “... supaya mereka percaya bahwa Engkau yang mengutus Aku”. Yesus mengatakan hal itu supaya mereka mengenal siapakah Yesus Kristus itu, bahwa Dia adalah Mesias, Anak Allah, yang memiliki kehendak dan esensi yang sama dengan Bapa. Dia adalah Anak yang melakukan kehendak Bapa.

Fakta bahwa Bapa selalu mendengarkan doa Anak, adalah suatu penghiburan dan kekuatan yang melampaui segala apa pun yang bisa dilakukan manusia kepada kita.

Roma 8:34 mengatakan “Kristus yang duduk di sebelah kanan Allah” berdoa syafaat bagi kita. Kita tahu Bapa selalu mendengar Kristus, selalu sesuai dengan permintaan Anak, karena seluruh hati dari pada Bapa sama dengan Anak. Seluruh kehendak Anak adalah bersatu dengan kehendak Bapa, bahkan seluruh esensi Anak adalah sama dengan Bapa. Seluruh doa Kristus di dengar oleh Bapa, dan Kristus berdoa bagi kita. Ini adalah penghiburan bagi kita yang mengalami kesulitan. Kalau kita melihat konteks kitab Roma, jemaat Roma mengalami banyak aniaya, kesulitan, dan pergumulan. Kalimat Paulus ini tentu menjadi penghiburan dan kekuatan bagi mereka.

Di dalam buku Christian Dogmatics, sewaktu membahas Yes 43, dikatakan bahwa seringkali kemuliaan Allah dinyatakan kepada kita justru di saat-saat kita tidak bisa melangkah satu langkahpun. Ketika ancaman datang dari segala sisi, dan kita tidak dapat berbuat apa-apa, justru kehadiran Allah dan kemuliaan Allah dinyatakan. Yes 43:2-3 “Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau. Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, Yang Mahakudus, Allah Israel, Juruselamatmu.” Artinya kita perlu melewati air deras yang siap menyapu habis, melalui api yang menghanguskan. Bukan kita harus mencari gara-gara, tetapi kita yang melakukan perkataan firman Tuhan, apapun resikonya, ketika kita mentaati itu, kita akan tahu pertolongan Tuhan, anugerah-Nya, penghiburan-Nya. Perkataan Tuhan itu menjadi penghiburan yang besar bahwa Yesus berdoa bagi kita, dan segala doa Anak akan didengar 100% oleh Bapa, tidak ada yang tidak dijawab, karena isi hati Kristus sama dengan isi hati Bapa. Kalau kita hidup bagi diri kita sendiri dan terlalu sibuk dengan urusan sehari-hari dan melupakan Tuhan, kita tidak memerlukan Tuhan dan sudah bisa mengatur semuanya.

Tetapi ketika kita melangkah mengikuti Tuhan, banyak hal yang kita tidak tahu. Ketika Abraham diperintah oleh Tuhan ikutlah Aku, kemana Tuhan? ke tempat yang Aku akan tunjukkan, di mana itu, tidak usah tanya, taat saja. Abraham taat, walaupun dia tidak mengetahui ke mana dia harus pergi, tetapi dia taat akan perkataan Tuhan, dan percaya dan beriman kepada Tuhan, sehingga dia menjadi bapa orang beriman. Biarlah kita taat kepada Tuhan, melakukan kehendak-Nya, di tengah-tengah dunia ini dan kita akan mengalami pertolongan dan anugerah Tuhan, karena Anak Allah berdoa bagi kita dan seluruh doa-Nya itu selalu didengar oleh Bapa.

(Yoh 11:43-44) “Sesudah berkata demikian, berserulah Yesus dengan suara keras “Lazarus, marilah ke luar!” Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kafan dan mukanya tertutup dengan kain peluh.” Kristus tidak berkata dengan nama Allah Bapa tetapi dengan otoritas Kuasa-Nya sendiri. Kristus memuliakan Allah dengan menyatakan Diri-Nya yang adalah Allah itu sendiri kepada orang-orang di sekeliling-Nya dan kepada kita juga hari ini.

JC Ryle mengatakan tentang hal ini: apa yang terjadi tidak bisa diexegerated, pikiran manusia tidak mampu memahami seluruh keagungan peristiwa ini. Of the sound of that voice, of the sound of Jesus voice, the king of terror yield up his captive, and the insatiable grave gave up its prey. Suara Kristus itu “Lazarus keluar” membuat raja terror, yaitu dosa kematian, pada detik itu juga melepaskan tahanannya, dan kuburan yang tidak pernah dipuaskan, yang menelan bermilyar-milyar manusia, orang akan terus mati, melepaskan tangkapannya. Lazarus bangkit.

Biarlah kita mengerti dan percaya bahwa apa yang terjadi pada Lazarus adalah preview dari pada apa yang akan terjadi bagi setiap orang yang beriman di dalam Kristus. Suara yang memanggil Lazarus dari kubur suatu hari akan menembus kuburan kita, dan mempersatukan lagi tubuh dan roh dalam keadaan yang tidak akan binasa untuk selama-lamanya. 1 Kor 15:52 berkata “Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah.” Biarlah ini menjadi penghiburan bagi kita, bahwa Juruselamat kita, Yesus Kristus, adalah Tuhan yang berkuasa, bukan hanya atas hidup kita sekarang, tetapi juga ketika mati. Dia adalah Tuhan yang berkuasa membangkitkan kita pada saatNya.

Tentu ini memberi implikasi, tidak ada seorang berdosapun, orang orang yang sudah mati secara rohani, ketika perkataan Kristus membangkitkan Lazarus yang sudah mati secara fisik, juga menjadi preview secara rohani.

Ketika perkataan itu diberitakan maka tidak ada seorangpun yang ada di luar jangkauan Kristus. Tidak ada seorangpun yang tidak bisa dibangkitkan kembali, karena kuasa kebangkitan Kristus. Darah Kristus yang dicurahkan akan terus nyata kuasa-Nya.

Ketika kita memberitakan firman Tuhan, baik secara pribadi di coffee shop, di tempat parkir waktu menunggu anak, firman itu akan membawa orang kembali kepada Tuhan. Firman-Nya berkuasa menyelamatkan manusia.

 Setelah Lazarus bangkit, tubuhnya masih tertutup kain kafan. Tuhan Yesus memerintahkan orang-orang yang sebelumnya menggeser batu “Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi.” Tuhan Yesus membangkitkan Lazarus, tentu Dia bisa menggeser batu. Tetapi Dia tidak menggeser batu itu, tetapi Dia minta orang-orang di situ untuk menggeser batu itu. Juga Dia minta kepada mereka untuk membuka kain kafan Lazarus dan memberi dia makan. Maksudnya adalah kuasa Kristus yang besar itu tidak meniadakan tanggung jawab kita, tidak menjadikan kita pasif dan tidak berbuat apa-apa.

Tuhan mengajak kita, seperti perkataan Mordekhai kepada Ester: Tuhan berkuasa tetapi Dia ingin engkau taat, engkau maju menghadap raja, dan kalau terpaksa engkau harus mati. Orang-orang ini menggeser batu, membuka kain kafan. Kita harus mengerti bahwa perintah-Nya bagi kita adalah bagian dari pada anugerah-Nya.

Saudara bisa membayangkan, orang-orang itu, yang menggeser batu, yang membuka kain kafan, menyentuh Lazarus, yang empat hari lalu mereka kubur. Orang-orang itu pasti tidak akan sama lagi untuk selama-lamanya. Mereka akan bersaksi kemana-mana, kami yang memegang sendiri, bahwa itu adalah Lazarus yang empat hari lalu kami kubur, namun sekarang sudah bangkit.

Biarlah kita percaya seperti orang-orang ini. Biarlah kita ajak orang-orang lain menggeser batu, membuka kain kafan, menyaksikan sendiri kemuliaan Allah yang dinyatakan melalui perkataan Kristus.

 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya