Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > God's Greatest Gift (2) (Minggu Paskah 2018)

Ibadah

God's Greatest Gift (2) (Minggu Paskah 2018)

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 1 April 2018

Bacaan Alkitab: Yoh 11:1-16, Roma 8:35-39

Hadiah Allah yang terbesar yaitu ketika Dia memberikan Diri-Nya sendiri di dalam Kristus. Ketika kita berbicara tentang apa yang Kristus kerjakan di atas kayu Salib, kita berbicara tentang justification, pengampunan, dan keselamatan yang Tuhan berikan, yang merupakan pancaran dari pada cahaya terang kemuliaan Allah pada wajah Kristus. Kita boleh diampuni dosa, menerima hidup yang kekal adalah hal yang indah. Tetapi janganlah kita lupa bahwa refleksi itu adalah berasal dari Kristus itu sendiri. Cahaya kemuliaan Allah tampak pada wajah Kristus.

Allah bukan hanya memberikan hadiah terbesar itu, Allah juga memampukan kita untuk melihat hadiah yang terbesar itu. Allah mencelikkan mata rohani kita sehingga kita bisa melihat terang kemuliaan Allah yang tampak pada wajah Kristus. Khususnya ketika kita melihat kemuliaan Allah dalam wajah Kristus dalam kematian dan kebangkitan Kristus. Kebangkitan-Nya menjadi sesuatu yang mengagetkan sepanjang sejarah. Kebangkitan Kristus adalah salah satu fakta sejarah yang tidak mungkin didebatkan lagi. Dengan segala macam fakta dan kritik apapun, kebangkitan Kristus tidak bisa dipertanyakan. Kalau kebangkitan Kristus bisa dipertanyakan, maka peristiwa sejarah apapun bisa lebih tidak jelas.

Kita akan merenungkan bagaimana hadiah Allah yang terbesar itu dapat kita alami dalam hidup kita sehari-hari. Khususnya kita akan melihat di dalam pengalaman hidup kita, pergumulan dan bahkan kematian. Biarlah kita di dalam seluruh kesulitan ini, kita dapat mengalami kemuliaan Allah yang tampak pada wajah Kristus.

Dalam kisah Lazarus, kita dibawa kepada peristiwa yang dialami oleh setiap manusia di dunia ini. Kita dibawa kepada cerita Lazarus yang sakit, keluarganya yang sedih, dan kemudian Lazarus yang mati. Ada pergumulan yang dalam dari pada Kristus sendiri, keluarga Lazarus, dan kasih Kristus yang dinyatakan kepada mereka. Ini adalah pengalaman yang dialami banyak orang.

Konteks cerita Lazarus adalah ketika Yesus baru meninggalkan Yerusalem, di mana orang-orang Yahudi berusaha menangkap dan membunuh Dia (lihat Yoh 10). Kemudian Yesus pergi ke seberang sungai Yordan, dan di situ Dia melayani dan banyak orang percaya. Setelah beberapa waktu kemudian tibalah seorang utusan dari Betania yang dekat dengan Yerusalem, memberi kabar tentang Lazarus yang sakit (Yoh 11:3) “Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit.”. Lazarus adalah orang yang dikasihi Kristus, dan dikatakan juga Maria adalah perempuan yang meminyaki kaki Yesus dengan minyak wangi dan menyekanya dengan rambutnya. Jadi keluarga ini adalah keluarga yang mengasihi Kristus, dan Kristus juga mengasihi mereka. Bahkan juga ditekankan sekali lagi dalam Yoh 11:5 “Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus.”

Tetapi yang mengagetkan adalah Yoh 11:6 “Namun setelah didengar-Nya bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada;” Terjemahan Indonesia menggunakan kata “Namun”, tetapi terjemahan ESV menggunakan kata “So” atau “Therefore”.  Ini menjadi sesuatu yang sangat menarik “Jesus loves Martha and her sister and Lazarus. So, when he heard that Lazarus was ill, he stayed two days longer in the place where he was”. Ini adalah kalimat yang aneh. Yesus mengasihi Marta, kakaknya dan Lazarus karena itu Dia tinggal di situ dua hari lamanya. Justru karena Yesus mengasihi mereka, ketika Dia mendengar Lazarus sakit, Dia tidak langsung pergi ke sana. Ini adalah aneh, bukankah kalau Yesus mengasihi mereka, Yesus seharusnya buru-buru pergi menolong Lazarus? Tetapi Yohanes di sini mencatat sedemikian untuk mengagetkan kita, supaya kita berpikir mengapa seperti itu? Ini adalah suatu kebenaran yang kalau kita sungguh-sungguh mengerti, hal ini akan menjungkir- balikkan hidup kita.

Banyak anak-anak Tuhan bergumul dalam hidup mereka. Mereka berkata Tuhan Engkau mengasihi aku mengapa Engkau membiarkan aku mengalami segala kesulitan. Mengapa engkau membiarkan aku mengalami sakit, kecelakaan, mendapatkan pasangan yang sulit, bahkan kematian dalam keluarga. Meski penderitaan yang kita alami, seringkali ada second cause-nya, tetapi ultimately Allah yang berdaulat, yang mengijinkan segala kesulitan itu terjadi di dalam hidup kita. Kalau kita malas, kita tidak lulus sekolah, kalau kita korupsi kita dipenjara, itu adalah kesalahan kita dan kita harus bertobat. Tetapi ada penderitaan yang kita alami yang bukan dari kesalahan kita, seperti ditabrak mobil yang pengemudinya mabuk. Juga penyakit-penyakit, seperti kanker, atau sakit jantung dlsb bukan karena kesalahan kita. Hal-hal itu mungkin akibat kesalahan orang lain atau dunia ini yang sudah jatuh ke dalam dosa. Tetapi ultimately kita perlu mengerti kebenaran yang diajarkan Alkitab khususnya dalam Injil Yohanes ini. Bahwa segala macam kesulitan itu tidak akan terjadi kalau Tuhan tidak mengijinkan hal itu terjadi di dalam hidup kita.

Kalau kita bertanya Tuhan mengapa Engkau membiarkan segala kesulitan terjadi di dalam hidup kita, maka Tuhan akan menjawab seperti yang dinyatakan dalam Yoh 11 “Justru karena Aku mengasihi engkau”; bukan “meskipun karena Aku mengasihi engkau”. Paulus berkata dalam 2 Kor 1:8-9 “Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati.” Paulus sadar sekali, hamba-hamba Tuhan sadar sekali, para rasul , para nabi sadar sekali, bahwa segala kesulitan dan penderitaan yang mereka alami itu adalah by God’s design. Meskipun bukan Tuhan yang secara langsung menghancurkan hidup Ayub, ada setan yang membunuh anak-anaknya dan menghacurkan hidupnya; namun itu tidak akan terjadi kalau Tuhan tidak mengijinkan hal itu terjadi dalam hidup Ayub. Paulus mengatakan kami mengalami segala kesulitan itu supaya kami tidak bergantung kepada diri kami sendiri, tetapi bergantung kepada Allah yang membangkitkan orang mati.

Kita harus mengerti segala kesulitan kita ultimately adalah God’s design for us. Kalau kita melihat Roma 8:32 “Ia yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” Anugerah yang terbesar adalah Anak-Nya sendiri, kalau Allah sudah memberikan anugerah yang terbesar itu, apalagi anugerah-anugerah yang lain, Allah pasti memberikannya beserta dengan Dia. “Anugerah-anugerah yang lain” menunjuk kepada segala sesuatu yang kita butuhkan untuk melakukan kehendak Allah dan memuliakan nama-Nya. Ini termasuk hal-hal yang kita sadari bahwa kita perlukan dan ketika kita terima, kita bersyukur dan bersuka-cita. Kita memerlukan makanan supaya kita bisa melayani Tuhan. Tuhan memberikan itu setiap hari kepada kita. Tuhan memberikan kesehatan yang cukup supaya kita bisa melayani Tuhan. Ini adalah hal-hal yang baik, Tuhan memberikan itu bersama-sama dengan memberikan Kristus.

Tetapi kalau kita baca ayat selanjutnya, maka yang disebut dengan segala sesuatu yang Dia berikan bersama-sama dengan Kristus, bukan hanya hal-hal yang menyenangkan bagi kita, tetapi termasuk juga penindasan, kesesakan, penganiayaan, kelaparan, ketelanjangan, bahaya pedang. Ini dinyatakan dalam Roma 8: 36 “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari” Kemudian Paulus melanjutkan dalam Roma 8:37 “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.”

Apa maksudnya “kita lebih dari pada orang-orang yang menang?” Kalau Tuhan melepaskan kita dari pada kesulitan dan Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, kita bersyukur kepada Tuhan dan kita bisa mengerti bahwa kita adalah pemenang. Tetapi di sini dikatakan kita lebih dari pada pemenang. Kita jarang mendengarkan ungkapan “lebih dari pada pemenang”. Di sini kita lebih dari pada pemenang berarti ketika kita berada di dalam segala penindasan dan kesesakan, Tuhan terus memimpin dan kita menerima itu. Kita rela mengalami segala kesulitan itu dan bersuka-cita di dalam kasih-Nya yang tidak mungkin melepaskan kita dari Kristus. Kita lebih dari pada pemenang ketika kita menyadari God’s love is better than life. Justru dalam kesulitan dan pergumulan seringkali Tuhan menyatakan kebesaran dan kemuliaan-Nya di dalam hidup kita.

Kalau kita melihat pengalaman Paulus, Dia mengatakan (lihat 2 Kor 12:7-9) bahwa Tuhan mengirim utusan Iblis untuk menggocoh dia, yaitu duri dalam daging yang sangat menyusahkan dia. Paulus, seorang rasul yang banyak menyembuhkan orang, bahkan dia pernah membangkitkan orang mati, sekarang dia berdoa bagi dirinya sendiri. Paulus meminta bukan hanya satu kali, dua kali, Paulus berdoa cabut duri ini dalam dagingku tiga kali. Ini menjadi sesuatu yang sangat menyusahkan rasul Paulus. Tuhan menjawab doa Paulus tetapi bukan dengan mencabut duri dalam daging itu, Tuhan berkata “My Grace is sufficient for you”, “justru di dalam kelemahanlah kekuatan-Ku menjadi sempurna.” Karena itu Paulus berkata 2 Kor 12:9-19 “Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” Paulus menyadari bahwa ini adalah desain Tuhan yang mengijinkan itu terjadi di dalam hidupnya, supaya dia sadar bahwa justru dalam keadaan yang begitu lemah, dia mengalami kekuatan Tuhan. Tanpa dia mengalami kelemahan dan kesusahan yang begitu berat, dia tidak pernah mengerti dan sungguh-sungguh menyadari kekuatan Tuhan yang menjadi sempurna di dalam kelemahan dia.

Ini adalah juga desain Tuhan dalam kehidupan Lazarus. Setelah 2 hari, Tuhan Yesus mengatakan marilah kita pergi ke tempat Lazarus. Padahal Lazarus sudah mati. Perjalanan ke Betania membutuhkan waktu, dan waktu Yesus sampai di sana, Lazarus sudah mati 4 hari. Tuhan Yesus sengaja menunggu sampai Lazarus betul-betul mati. Karena bagi orang-orang Yahudi, sebelum 3 hari, mereka percaya roh orang yang mati itu masih melayang-layang di udara, mungkin setelah itu roh orang itu bisa kembali. Mungkin yang terjadi adalah mati suri (koma), tidak betul-betul mati, dan sebelum tiga hari orang itu hidup lagi. Tetapi kalau sudah lewat dari 3 hari, setelah 4 hari, orang Yahudi pasti mengatakan bahwa Lazarus sudah betul-betul mati. Tuhan Yesus sengaja menunggu dua hari sebelum Dia pergi ke tempat Lazarus.

Kita bisa bertanya di sini, bagaimana hal ini adalah kasih? Jawabannya ada di dalam Yoh 11:4 dan Yoh 11:15. Dalam Yoh 11:4 Yesus berkata “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan”; Yoh 11:15 menyatakan “tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya.” Ini adalah jawaban yang aneh bagi banyak orang, bagaimana Yesus bisa menunggu dua hari lagi, khususnya bagi orang yang mendefinisikan kasih sebagai melepaskan kita dari rasa sakit dengan sesegera mungkin. Mereka mungkin menganggap Kristus tidak mengasihi Lazarus karena Dia membiarkan Lazarus mati dan membiarkan kesedihan yang begitu dalam bagi keluarga Lazarus.

Namun kita harus bertanya di sini Apa itu kasih? Kalau kita mengasihi seseorang, apa yang kita lakukan? Kita bisa menjawab mengasihi seseorang adalah memberi apa yang orang itu butuhkan. Apa yang Yesus berikan bagi Lazarus dan bagi kita? Yesus akan memberikan apa yang memuaskan jiwa Lazarus dan juga jiwa kita selama-lamanya. Kristus mengasihi Lazarus dan keluarganya juga, karena itu Dia memberikan apa yang paling memuaskan jiwa mereka selama-lamanya. Apa yang memuaskan Lazarus, keluarganya dan juga kita, adalah bukanlah kesembuhan. Yang bisa memuaskan jiwa kita yang terdalam adalah bukan lepas dari penderitaan. Yang membuat jiwa kita bersuka sedalam-dalamnya adalah bukan harta di dalam hidup kita. Tetapi yang memuaskan jiwa kita yang terdalam selama-lamanya adalah ketika Tuhan menyertakan kemuliaan-Nya kepada kita. Kasih Tuhan berarti Dia melakukan apa saja supaya kita menyadari dan melihat bahwa Allah yang maha mulia itu adalah satu-satunya pribadi yang dapat memuaskan jiwa kita selama-lamanya.

Yesus mengasihi Marta, Maria dan Lazarus karena itu Dia menunggu dua hari lagi supaya Dia dapat menyatakan kemuliaan-Nya. Yesus mengatakan penyakit ini tidak akan membawa kematian; artinya kematian bukanlah tujuan (goal) dari peristiwa ini. Tetapi penyakit itu akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab karena penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan. Tuhan menyatakan kemuliaan-Nya ketika Dia membangkitkan Lazarus.

Ada perkataan kunci antara Yesus dengan Marta, dalam Yoh 11:24-26. Marta berkata kepada Tuhan Yesus “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.”; dan Yesus menjawab “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya.” Yesus mengatakan “Akulah kebangkitan dan hidup.” Yesus menyatakan Diri-Nya kepada Lazarus dan semua orang di situ, barang siapa percaya kepada-Nya, dia akan hidup walaupun dia sudah mati.

Perkataan ini menunjuk khususnya kepada Lazarus, Lazarus sudah mati tetapi dia akan hidup. Perkataan ini juga menunjuk kepada kita semua, orang-orang yang juga akan mati. Kita akan mati secara fisik, tetapi kita tahu bahwa ketika kita mengenal Tuhan, dan dibawa kepada Allah maka kita akan hidup walaupun kita sudah mati. Yoh 11:26 menyatakan secara lebih tegas lagi “dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya” Bukan berarti kita tidak akan mati secara fisik, tetapi kita tidak akan mati untuk selama-lamanya. Ketika kita mati secara fisik, maka kita akan bertemu dengan Kristus dan mengalami hidup yang kekal selama-lamanya. Ketika engkau mengenal Kristus sebagai kebangkitan dan hidup itu, biarlah kita sungguh-sungguh percaya dan mengenal kemuliaan Tuhan.

Kemudian Tuhan Yesus menantang Marta (Yoh 11:26) “Percayakah engkau akan hal ini?”. Ketika Dia menyatakan kuasa-Nya, kemuliaan-Nya, Diri-Nya, percayakah kita akan hal ini? Ketika kita percaya maka kita akan menyadari bahwa Tuhan adalah segala-galanya, dan bahkan tidak ada apapun yang bisa memisahkan kita dengan kasih Allah di dalam Kristus. Salah satu ciri utama dari orang yang sungguh-sungguh mengenal dan melihat kemuliaan Allah adalah bahwa Allah itu menjadi yang utama dalam hidupnya dan bukan anugerah dan kebaikan-Nya. Kita bersyukur untuk anugerah dan kebaikan-Nya, tetapi anak-anak Tuhan yang sejati bukan hanya menginginkan anugerah, namun terutama mereka akan menginginkan Allah itu sendiri.

Ada suatu ilustrasi yang indah yang diberikan oleh Pdt Agus Marjanto. Ketika ada seorang ayah yang baru pulang dalam waktu yang lama dari luar negeri, anaknya sudah sangat kangen. Ketika ayahnya pulang, anaknya memeluk dia, dan ayahnya juga memeluk dia. Ayahnya membawakan suatu hadiah, yang diberikan kepada anaknya. Hadiah yang sangat dia rindukan dan dia sangat senang sekali, maka anak itu memeluk lagi ayahnya dan berkata “papah jangan pergi lagi”, tetapi dia lebih senang karena ayahnya sudah pulang. Ayahnya itu juga memberikan hadiah yang sama kepada anak tetangganya, karena anak itu adalah teman baik anaknya. Dia memberikan hadiah itu kepada anak tetangganya, dia juga senang mendapat hadiah itu. Anak tetangga itu berterima kasih dan mengatakan satu kalimat “Kapan oom pergi lagi.” Itulah yang bukan anak sesungguhnya, hanya menginginkan hadiahnya, bukan menginginkan pribadinya.

Anak-anak Tuhan yang sejati yang sudah melihat cahaya kemuliaan Allah dalam wajah Kristus, mereka akan lebih menginginkan Allah dibandingkan segala sesuatu yang lain. Tuhan menyatakan kepada anak-anak-Nya, Diri-Nya dan kemuliaan-Nya, supaya kita boleh terpana dan mengenal Dia, dan sungguh-sungguh menjadikan Tuhan yang utama, sumber suka-cita kita selama-lamanya.

Ketika kita menyadari akan hal itu maka kesulitan, pergumulan bahkan kematian sekalipun tidak akan menggentarkan dan menggoncangkan hidup kita. Roma 8 bukan hanya berbicara kesulitan dan pergumulan tetapi juga tentang kematian. Roma 8:38 menegaskan “Sebab aku yakin, baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang ada di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu mahluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Tuhan mengasihi kita bukan dengan melepaskan kita dari segala kesulitan, pergumulan dan bahkan dari kematian sekalipun. Tetapi Tuhan mengasihi kita, di tengah-tengah segala kesulitan, pergumulan bahkan kematian, dengan tidak memisahkan kita dari tangan kasih Allah yang maha kuasa.

Bagi kita anak-anak Tuhan, kita percaya, bahkan kematianpun Tuhan pakai menjadi hamba kita. Kematian itu Tuhan pakai untuk membawa kita untuk bertemu muka dengan muka dengan Kristus. Paulus mengatakan (lihat Fil 1:21-23) aku ditarik oleh dua sisi, apakah aku tinggal di dunia ini atau aku mati dan bertemu dengan Tuhan. Kalau aku di suruh memilih, maka aku akan memilih untuk meninggalkan dunia ini dan bertemu dengan Tuhan, karena itu jauh lebih baik bagiku. Paulus mengatakan (Fil 1:21) “karena hidup bagiku adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” Ketika kita mengenal kemuliaan Tuhan maka kematian pun menjadi budak kita. Ketika kita menarik nafas terakhir, kita yang sudah mengenal Tuhan dan mengenal kemuliaan-Nya, biarlah kita bisa berkata seperti Paulus “mati adalah keuntungan.” Orang-orang yang tidak mengenal Tuhan dan tidak pernah melihat kemuliaan-Nya, tidak mungkin mengerti kalimat ini. Paling jauh mereka mengatakan, ya sudah, kalau sudah mati, matilah. Tetapi tidak ada di antara mereka yang saat menarik nafas terakhir, berkata “untung”.

John Owen seorang puritan yang terbesar, di dalam buku the Glory of God, pada saat-saat terakhirnya dia dikunjungi oleh teman baiknya. Dia berkata kepada temannya itu, “sebentar lagi aku akan melihat kemuliaan Allah, dari sisi yang berbeda. Aku sudah mengenal Allah sepanjang hidupku, sebentar lagi aku rindu melihat kemuliaan Allah dari sisi yang berbeda, yaitu aku akan bertemu Dia muka dengan muka.” Itulah kemuliaan Tuhan yang Dia nyatakan di dalam kematian dan kebangkitan-Nya.

Kita bersyukur kita dapat merayakan kebangkitan Kristus. Kristus adalah satu-satunya pendiri agama yang pernah mati dan bangkit dari pada kematian. Satu-satunya pendiri agama yang kuburnya kosong. Itu membuktikan bahwa Dia adalah maha mulia, maha kuasa, dan Dia sendiri adalah kebangkitan dan hidup. Biarlah kita, seperti orang-orang percaya sepanjang jaman, seperti para rasul mengenal kemuliaan Tuhan dan sungguh-sungguh mengubah hidup kita.

Saya akan tutup dengan satu kesaksian dari nyonya Angsono. Bapak Angsono adalah seorang pengusaha kaya yang sangat mencintai Tuhan dan adalah juga salah satu majelis GRII. Dia waktu itu sangat sehat, dan suatu saat setelah bermain basket, dia dibunuh oleh pembunuh bayaran yang disuruh oleh mantan menantunya. Ini menjadi sesuatu yang mengagetkan, dan bahkan menjadi berita besar di Indonesia. Seorang yang mencintai Tuhan meninggal dengan cara yang tragis. Di dalam kebaktian penghiburan bapak Angsono, nyonya Angsono mengatakan “biarlah hari ini melalui kematian bapak Angsono, kejahatan berhenti. Engkau bisa membunuh tubuh bapak Angsono, tetapi engkau tidak dapat membunuh jiwanya. Dia sudah bersuka-cita dengan Tuhan selama-lamanya.” Ini bukan hiburan di siang hari bolong, tetapi ini adalah berdasarkan firman Tuhan. Maka dia mengutip 1 Kor 15:55 “Hai maut di mana kemenanganmu? Hai maut, di mana sengatmu?” Maka maut yang ditantang itu tidak menjawab, maut tidak bisa menjawab, karena maut sudah dikalahkan oleh Kristus yang sudah bangkit.

Bagi kita yang sudah percaya di dalam Kristus, yang sudah mengenal Kristus dan melihat kemuliaan-Nya, kematian tidak akan bisa memisahkan kita dari kasih Allah dalam tangan Kristus. Biarlah kita boleh sungguh-sungguh percaya. Buat saudara yang belum sungguh-sungguh percaya, saya tantang saudara, seperti tantangan Yesus kepada Marta (Yoh 11:25) “Akulah kebangkitan dan hidup, barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya, percayakah engkau akan hal itu?”

Tuhan menyatakan kemuliaan-Nya melalui kematian dan kebangkitan. Biarlah kita bisa memandang kemuliaan-Nya dan boleh percaya kepada-Nya; dan tidak ada apa pun yang dapat memisahkan kita dari pada kasih-Nya.

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya