Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Akulah Kebangkitan dan Hidup

Ibadah

Akulah Kebangkitan dan Hidup

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 8 April 2018

Bacaan Alkitab: Yoh 11:5-6, Yoh 5:17-44

Yesus mengasihi Marta, Maria dan Lazarus, karena itu setelah mendengar Lazarus sakit, Yesus justru tinggal dua hari lagi sebelum Dia pergi ke tempat Lazarus. Ini bukan berarti, karena Yesus membiarkan Lazarus mati maka Yesus mengasihi mereka. Artinya adalah ini bukan masalah mati dan hidup, kalau Yesus membiarkan Lazarus hidup pun, itu karena Yesus mengasihi mereka. Ada waktunya di mana Lazarus dibiarkan dan seluruh keluarganya mengalami kesedihan yang dalam. Demikian juga dalam hidup kita, dimana kita dibiarkan menderita, adalah justru karena Yesus mengasihi kita. Dia mengasihi kita dengan cara demikian karena di dalam segala kesulitan, dan pergumulan hidup kita, Dia mau menyatakan Diri-Nya supaya kita boleh mengenal Dia, mengenal kemuliaan-Nya, mengalami penghiburannya, melihat pekerjaan-Nya yang dinyatakan di tengah-tengah segala kesulitan, pergumulan dan bahkan kematian.

Bukan berarti kita ingin hidup kita sulit supaya kita dikasihi Tuhan, karena kalau demikian maka kita adalah orang yang aneh sekali, orang yang suka disakiti. Kita pasti tidak suka mengalami kesulitan, dan pergumulan yang berat. Tetapi dengan contoh apa yang dikerjakan Kristus kepada keluarga Lazarus, Tuhan membiarkan kesulitan itu terjadi pada hidup kita, justru dengan tujuan yang lebih besar, yaitu supaya kita mengalami pertolongan Tuhan, mengalami anugerah-Nya yang besar, dan sungguh-sungguh menyadari bahwa kasih-Nya itu lebih baik daripada hidup. His love is greater than live. Kalau kita tidak mengalami segala kesulitan itu, kita tidak mengerti kehadiran Tuhan dan pertolongan-Nya.

Seringkali orang mengalami pergumulan yang begitu berat, sampai suatu tahap di mana orang itu menyadari bahwa Tuhan-lah satu-satunya yang dia miliki.

Inilah yang Tuhan ingin nyatakan kepada kita, ini bukan masalah hidup atau mati, bukan masalah sehat atau sakit, tetapi masalah kemuliaan Allah yang akan dinyatakan melalui sakit, kesulitan, kesedihan yang terjadi dan juga melalui kebangkitan daripada Lazarus. Ini adalah kasih Kristus kepada Lazarus, Maria dan Marta, dengan membiarkan mereka mengalami kesulitan dan kesedihan seperti demikian. Di dalam hidup kita, di dalam keadaan susah, sakit hati, putus-pacaran, kegagalan, kematian orang yang kita kasihi, barulah kita datang kepada Tuhan, menyadari bahwa kita membutuhkan Tuhan lebih daripada segala-galanya. Tuhan membiarkan hal-hal ini terjadi di dalam hidup kita, karena Tuhan mengasihi kita.

Joni Eareckson Tada, sewaktu remaja putri, dia adalah seorang yang sangat aktif, dia hiking, berkuda. Tahun 1967, waktu dia berusia 17 tahun, dia lompat ke suatu pantai dan salah memperhitungkan kedalaman laut dan kena batu karang, dan kemudian lumpuh dari bahu sampai kaki, menjadi paraplegic seumur hidupnya. Dia bergumul berat bertahun-tahun, mengalami kesakitan yang tidak habis-habisnya. Tahun 2010, dia diagnose kanker payudara stadium 3. Dia mengalami banyak penderitaan tetapi hidupnya menjadi berkat yang besar, menjadi kekuatan banyak sekali orang melalui kesaksian imannya. Dia menulis lagu, dia bersaksi, dia berbicara dalam seminar-seminar, menulis lebih dari 40 buku. Tahun 2016, dia menulis buku A Spectacle of Glory, di dalamnya dia mengatakan “Don’t ever think your live is too ordinary, your world is too small, or your work is too insignificant, all of it is a stage, set for you to glorify God.” Joni Eareckson Tada adalah seorang yang telah mengalami kasih Allah di dalam Kristus di tengah-tengah segala kesulitan dan pergumulan di dalam hidupnya. Dia adalah seorang yang telah menyaksikan kemuliaan Allah pada wajah Kristus yang puncaknya dinyatakan di dalam kematian dan kebangkitan Kristus. Sehingga di tengah segala kesulitan dan pergumulan yang dia alami, dia sadar Tuhan ingin memakai hidupnya sebagai a spectacle of His Glory.

Biarlah kita juga sadar di dalam keadaan apapun yang sedang kita hadapi maka Allah ingin kita untuk semakin mengenal Dia, Tuhan sedang bekerja dan mengasihi anak-anak-Nya. Seringkali Tuhan mengijinkan hal itu terjadi, tetapi ingatlah itu karena Tuhan mengasihi kita, supaya kita makin mengenal Dia, Allah yang begitu besar, berkuasa, begitu berharga, begitu manis dari pada segala sesuatu, bahkan lebih indah dari pada hidup itu. Ketika kita mengenal kemuliaan-Nya, kita akan memancarkan keindahan-Nya, akan memuliakan Dia di dalam segala apapun yang terjadi di dalam hidup kita.

Janganlah kita mengukur kasih Allah kepada kita dengan kekayaan, kesehatan, kelancaran yang Tuhan berikan. Memang Tuhan seringkali berikan semuanya itu karena He is a generous God. Tetapi janganlah itu menjadi ukuran. Kalau Tuhan berikan itu, kita bersyukur kepada Tuhan, membawanya sebagai berkat yang dapat kita pakai untuk memuliakan Tuhan. Karena berkat selalu diikuti dengan perintah Tuhan, berkat itu bukan hanya untuk dinikmati saja, tetapi untuk dipakai memuliakan Tuhan. Janganlah kita mengukur kasih Allah dengan hal-hal itu saja, tetapi biarlah kita mengukur kasih Allah dengan menyadari betapa besar Dia menyatakan diri-Nya kepada kita. Ukurlah kasih Allah dengan seberapa besar Dia menyatakan kuasa-Nya, kemuliaan-Nya kepada kita. Namun seringkali untuk mengenal Allah dan kasihnya yang sedemikian, itu disertai dengan Tuhan yang mengijinkan segala kesulitan, pergumulan bahkan kematian di dalam hidup kita. Kalau itu terjadi, hal itu karena Tuhan mengasihi kita. Kristus mati menebus segala dosa kita untuk membawa kita kepada Allah (lihat 1 Petrus 3:18).

Kristus mengasihi Marta, Maria dan Lazarus, membiarkan kesulitan itu terjadi, dan membiarkan mereka berjalan dalam lembah bayang-bayang maut. Setelah dua hari, Yesus pergi ke tempat Lazarus. Perjalanan sampai ke Betania adalah cuma satu hari, namun waktu Yesus sampai di sana, Lazarus sudah meninggal empat hari. Kemungkinan besar Lazarus mati tidak lama setelah utusan dari Betania itu pergi untuk menyampaikan berita bahwa Lazarus sakit. Jadi utusan Betania itu berjalan satu hari, Yesus menunggu dua hari, dan Yesus pergi ke Betania satu hari, sehingga totalnya adalah empat hari.

Waktu Yesus datang ke Betania, ada tiga macam respon yang seluruhnya mempertanyakan akan kasih-Nya:

  1. Yoh 11: 21 kata Marta kepada Yesus “Tuhan sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati”. Marta tidak sungguh-sungguh menuduh Yesus, tetapi cukup jelas bahwa Marta mempertanyakan kasih Kristus.
  2. Yoh 11:32, Maria bertanya akan hal yang sama, tetapi dengan sikap yang berbeda. “Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati”.” Intinya adalah sama, mempertanyakan apakah betul Yesus mengasihi mereka?
  3. Yoh 11:36-37 “Kata orang Yahudi: “Lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya!” Tetapi beberapa orang di antaranya berkata: “Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?”” Orang-orang banyak juga mempertanyakan kasih-Nya.

Yoh 11:5-6 menyatakan karena kasih, Kristus menunda dua hari, dan ketika Dia tiba di Betania, Lazarus sudah mati empat hari. Sepertinya ini adalah suatu tindakan yang tidak menunjukkan kasih. Jadi kasih dipertanyakan oleh Marta, Maria dan orang-orang di situ. Saya sadar bahwa Alkitab itu ditulis untuk orang-orang seperti saudara dan saya. Ketika kita mengalami seperti yang dialami oleh Marta dan keluarganya, maka wajarlah kita bertanya seperti itu. Pemazmur juga bergumul berat, dia berseru kepada Tuhan (lihat Mazmur 73) “Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, namun sepanjang hari aku kena tulah dan kena hukum setiap pagi, sedangkan orang fasik hidupnya begitu lancar”. Kita boleh datang dan berseru kepada Tuhan seperti itu. Tetapi hal yang indah di sini, ketika pemazmur tidak mengerti dan marah, dia tidak lari, namun dia datang kepada Tuhan dengan bergumul.

Tetapi Tuhan tidak berhenti sampai di situ, Tuhan membukakan kepada pemazmur, kepada Marta dan keluarganya, dan mungkin juga kepada kita. Tuhan menjawab dengan tiga hal:

-       Tuhan menjawab keraguan dengan menyatakan tentang Diri-Nya.

-       Tuhan menjawab dengan emosi yang dalam dari Diri-Nya.

-       Tuhan menjawab dengan menyatakan kuasa melalui tindakan.

Kebenaran tentang Diri-Nya, emosi yang dalam dari Diri-Nya, kuasa melalui perbuatan-Nya, itu seluruhnya mau menyatakan kemuliaan Diri-Nya kepada anak-anak-Nya. Di dalam segala keraguan, ketidakmengertian, mempertanyakan kasih Allah, Tuhan meresponi dengan menyatakan kebenaran tentang Diri-Nya.

Dalam Yoh 11:20-21 Marta berkata kepada Tuhan Yesus, “Tuhan sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak akan mati. Tetapi sekarangpun aku tahu bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya. Perkataan Marta ini agak membingungkan, karena kalimat pertama sepertinya menuduh, tetapi kalimat kedua sepertinya Marta percaya bahwa Yesus dapat melakukan apa saja. Selanjutnya sewaktu Yesus menyuruh pintu kubur di buka, Marta berkata (Yoh 11:39), “Tuhan ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati.” Maka sepertinya tidak begitu jelas apakah Marta percaya atau tidak. Maka perkataan itu menjadi alat bagi Tuhan Yesus untuk menyatakan diri-Nya khususnya kepada Marta dan juga kepada kita hari ini.

Tuhan Yesus kemudian berkata saudaramu akan bangkit, dan Marta menjawab Yoh 11:24 “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.” Ini adalah sebenarnya kepercayaan bangsa Yahudi bahwa ada hari yang besar pada akhir zaman, ketika orang percaya akan dibangkitkan. Ini memang tidak salah, karena hal ini dinyatakan dalam perjanjian lama (contoh: lihat Daniel 12). Jawaban Kristus dalam Yoh 11:25 membukakan suatu rahasia atau misteri yang dinyatakan oleh seluruh kitab suci, namun dinyatakan secara singkat “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.”

Tuhan Yesus mau mengatakan di sini, betul akan ada hari itu nanti, pada akhir jaman, ketika orang percaya dibangkitkan. Tetapi ada rahasia yang besar yaitu hari yang besar dan mulia itu sekarang sudah tiba, dengan kehadiran Kristus, meskipun belum sempurna, yang akan terus mencapai puncaknya, yaitu nanti ketika Yesus datang kedua kalinya. Yohanes Pembaptis juga berkata yang hampir mirip (Mat 3:2): “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat”. Yesus menyatakan hari yang besar itu sudah tiba dengan mengatakan “Akulah kebangkitan dan hidup.” Ini berarti kebangkitan dan hidup itu bukanlah terjadi nanti, tetapi sudah tiba sekarang.

Sehingga, apa maksudnya dengan “Akulah kebangkitan dan hidup”?

  • Yesus tidak sekedar mengatakan bahwa Aku akan memberikan kebangkitan, tidak sekedar Aku akan memberikan hidup kepadamu, tetapi Yesus mengatakan Aku-lah kebangkitan itu, Aku-lah hidup itu. Ini adalah pernyataan yang sangat penting yang harus kita pikirkan dan bisa begitu belajar banyak daripadanya. Ini adalah salah satu dari tujuh perkataan Kristus tentang diri-Nya sendiri. Perkataan “Akulah” – “the I’am sayings”: “Akulah terang dunia” (Yoh 8:12), “Akulah roti hidup” (Yoh 6:51), “Akulah pintu” (Yoh 10:9), “Akulah gembala yang baik” (Yoh 10:11), “Akulah kebangkitan dan hidup” (Yoh 11:25), “Akulah jalan kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6), dan “Akulah pokok anggur” (Yoh 15:5).

Kita bisa mempelajari Injil Yohanes melalui kerangka tujuh perkataan ini, yang mengajarkan siapakah Kristus yang dinyatakan di dalam Injil. Seperti pertanyaan Musa sewaktu bertemu Allah Siapakah namamu kalau orang Israel bertanya siapa nama Allah yang mengutus engkau? Maka Allah menjawab (lihat Keluaran 3:14) “I AM that I AM that send you to the Israel” Siapakah nama-Mu: I AM; karena Aku tidak bisa dibandingkan dengan siapapun, Allah yang maha suci, yang maha agung yang maha benar. Jikalau engkau mengenal Aku, hidupmu tidak akan tereduksi, melainkan menjadi utuh. Engkau akan mengenal Kristus, dan mengerti seluruh aspek hidup yang Tuhan ingin nyatakan kepadamu.

  • Perkataan Akulah kebangkitan dan hidup, artinya adalah menunjuk kepada hidup di dalam di age to come itu yang sudah tiba sekarang. Perkataan ini berbicara tentang hidup yang telah dibangkitkan. Hidup itu sudah tiba sekarang dan ketika engkau percaya maka engkau akan hidup walaupun engkau sudah mati. Hidup yang tidak mungkin mati lagi, hidup yang kekal.

Kematian adalah bukan akhir bagi hidup orang percaya, tetapi kematian adalah sebuah pintu yang menuju kepada kehidupan kekal di dalam persekutuan dengan Allah. Perkataan tidak akan mati selama-lamanya bukan menunjuk kepada kematian secara fisik, tetapi menunjuk kepada hidup yang kekal itu. Hidup yang kekal itu bisa engkau alami sekarang, ketika engkau percaya. Hidup yang dihasilkan dari kebangkitan, hidup yang akan terus ada sampai selama-lamanya.

Kristus membangkitkan Lazarus, ini hanyalah preview dari pada kebangkitan dan hidup yang kekal. Lazarus memang akan mati lagi, kita juga yang akan mengalami kematian. Tetapi kematian bukanlah akhir daripada hidup itu. Karena setiap orang yang percaya kepada Kristus, di dalam Kristus, dia telah memiliki hidup yang kekal dan tidak akan binasa sampai selama-lamanya. Kehidupan itu menjadikan kita manusia yang baru, oleh Roh Kudus, manusia yang baru yang tidak akan mati selama-lamanya.

Inilah kasih Tuhan kepada Marta dan kepada kita sekalian. Aku bukan hanya memberikan kebangkitan dan hidup; Aku sendiri adalah kebangkitan dan hidup itu. Ini memberikan penghiburan sepanjang jaman bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Kalau ada orang yang kita kasihi meninggal dunia, perkataan ini bukan penghiburan yang kosong. Kalau orang yang kita kasihi itu meninggal di dalam Tuhan, maka dengan iman ya pasti kita mempercayai bahwa orang itu akan mendapatkan hidup yang kekal karena Dia sendiri adalah kebangkitan yang hidup. Kubur tak berdaya, kuasa maut tak berdaya untuk menahan kemuliaan Tuhan yang mutlak menang atas kuasa maut. Biarlah kita kali ini makin mengenal Tuhan bahwa Kristus adalah kebangkitan dan hidup.

Kata kunci dalam Yoh 11:25-26 adalah kata “barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati”. Tuhan Yesus mengatakan tiga kali kata “percaya”: “barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati”,” setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya.”, ”Percayakah engkau akan hal ini?” Kalau kita pikirkan, siapapun orangnya, secara duniawi, maka yang paling menang di dunia ini adalah belatung-belatung, yang memakan habis tubuh orang. Tetapi di sini, Yohanes mengingatkan kita, bahwa siapa yang percaya di dalam Kristus, yang dipersatukan dengan Kristus melalui kematian-Nya dan kebangkitan-Nya, manusia lama kita juga sudah dikubur bersama-sama dengan Kristus; dan kita dibangkitkan bersama-sama dengan Kristus.

Kebangkitan itu sudah terjadi secara spiritual di dalam diri kita. Ketika kita beriman di dalam Kristus, kita mengalami kelahiran baru, menjadi manusia baru, mengalami hidup yang baru, menjadi ciptaan yang baru. Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (2 Kor 5:17). Biarlah ini menjadi penghiburan, dan kekuatan yang pasti, bagi anak-anak Tuhan. Tuhan Yesus menantang Marta dan kita juga dengan pertanyaan (Yoh 11:26b) “Percayakah engkau akan hal ini?” Biarlah respons kita seperti respons Marta (Yoh 11:27) “Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.” Perkataan Marta ini menggambarkan iman yang sejati, dan biarlah ini menjadi patron dari iman kita juga. Marta percaya bahwa Yesuslah Mesias. Mesias yang diharapkan dan dinanti-nantikan oleh orang Yahudi.

Kita tidak mengerti seberapa jauh Marta mengerti, tetapi itulah yang dinyatakan oleh Injil Yohanes. Seluruh Injil Yohanes ditulis supaya kita mengenal dan percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah. Engkau adalah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang, pembebas yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama, yang akan melaksanakan kehendak Allah dengan sempurna. Yesus Kristus meminum cawan murka Allah itu sampai habis; dan dengan itu Dia mentaati kehendak Bapa-Nya yang di Surga dengan sempurna.

Marta mengerti dan percaya kepada Kristus. Marta saat itu belum melihat Lazarus dibangkitkan, tetapi dia mendengar firman Allah, dan dia percaya. Kristus menyatakan kemuliaan-Nya melalui kebenaran-Nya yang Dia katakan kepada Marta, dan Marta berespon dan percaya. Percaya harus di dasari dengan content iman yang kokoh, dengan mengenal Tuhan sebagaimana Ia ingin dikenal. Yesus Kristus adalah kebangkitan dan hidup itu sendiri, dan Dia harus mati untuk menyelamatkan kita. Namun kubur maut tidak bisa mengalahkannya dan Dia bangkit, yang membuktikan bahwa Dia adalah satu-satunya Tuhan yang telah mati dan telah bangkit dari kematian.

Inti dari iman Kristen adalah salib Kristus, yang tidak ada di dalam ajaran agama lain. Salib itu adalah salib yang kosong, tidak ada Yesus yang tergantung, karena Yesus sudah bangkit mengalahkan maut. Ketika kita sungguh percaya dan mengenal Tuhan secara demikian, maka waktu kita menghadapi kematian, kita tahu bahwa kematian adalah bukan akhir, melainkan kita akan hidup walaupun kita sudah mati. Barangsiapa hidup dan percaya, dia tidak akan mati selama-lamanya, meskipun dia mati secara fisik, tetapi hidupnya akan ada selama-lamanya. Bahkan tidak ada suatu apapun yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah di dalam Kristus. Kalau kita percaya akan hal ini, maka seharusnya kita mengarahkan dan memfokuskan seluruh hidup kita, memberikan kesadaran bahwa tidak ada apapun yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah di dalam Kristus yang sudah mati dan bangkit.

Salah satu aplikasinya adalah kisah Paulus dalam Kis 20:24 “Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.” Kalau kita merenungkan perkataan Paulus ini, maka hidup kita akan menjadi simple. Kita tidak menghiraukan nyawa kita, apalagi harta. Tidak menghiraukan bukan berarti tidak memperdulikan, tetapi artinya adalah fokus seluruh hidup kita adalah aku akan mencapai garis akhir dengan suatu pelayanan yang diberikan oleh Tuhan Yesus kepadaku. Biarlah diseluruh hidup kita, kita mau menggenapi apa yang Tuhan inginkan, dengan mengikut Kristus seperti yang Yesus katakan dalam Yoh 17:4 “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.”

Soren Abe Kieerkegard mengatakan “Purity of heart is to will one thing.” Kekudusan hidup itu bukan tidak melakukan ini-itu, tetapi hanya melakukan satu hal, dan terfokus dalam hidup. Hidup menjadi simple, hidup yang bertujuan menyelesaikan pekerjaan yang Allah berikan, yaitu memuliakan Allah, menghadirkan kerajaan Allah di dalam di dunia ini. Bagi Paulus, itu adalah pelayanan yang dia kerjakan yaitu memberi kesaksian akan Injil kasih karunia, ke mana-mana. Ketika kita melakukan hal seperti demikian, hidup menjadi simple, hidup tidak dikacaukan oleh banyak hal.

Biarlah kita berjuang untuk mempersiapkan pekerjaan itu, biarlah kita membangun diri, untuk menggenapi apa yang Tuhan inginkan untuk aku lakukan. Sehingga ketika kita mati, kita dapat bertemu dengan Tuhan, dan Tuhan mengatakan “hai hamba-Ku yang setia, engkau telah setia mengerjakan apa yang menjadi kehadiranmu di tengah-tengah dunia ini.” Dengan hidup seperti ini, hidup kita dapat menjadi berkat yang besar, hidup yang tidak lagi mementingkan diri sendiri, hidup yang memuliakan Tuhan, hidup yang sungguh-sungguh berarti di dalam dunia ini.

Hidup kita harus mempunyai suatu fokus, seperti poros dari suatu roda. Poros itu harus ada di tengah, supaya seluruh roda bisa berjalan dengan baik. Kalau poros itu bergeser sedikit saja, maka roda itu akan hancur berantakan dan tidak bisa jalan lagi. Biarlah poros hidup kita seperti Paulus, yang mengerti bahwa aku sudah disalibkan bersama dengan Kristus, dan mati bersama dengan Kristus, namun aku hidup, dan hidupku bukan aku lagi, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku; dan hidup yang aku hidupi sekarang di dalam daging adalah hidup oleh iman di dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku, dan menyerahkan Diri-Nya untukku.

Hidup oleh iman adalah hidup yang memuliakan Allah diseluruh hidup kita, hidup yang menggenapi apa yang Tuhan inginkan, berfokus kepada Tuhan. Biarlah  kita sungguh-sungguh menerima firman, memegangnya dan menghidupi dalam hidup kita sehari-hari.

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya