Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Kristus adalah Pribadi yang Hidup

Ibadah

Kristus adalah Pribadi yang Hidup

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 15 April 2018

Bacaan Alkitab: Yoh 11:28-38

Dalam bacaan kali ini kita akan melihat bagaimana Tuhan Yesus menyatakan Diri-Nya, khususnya melalui emosi yang dalam yang dinyatakan kepada Marta, Maria dan juga orang-orang disekelilingnya, yang mengalami kesedihan karena kematian Lazarus. Namun sebelumnya, waktu saya membaca dan merenungkan bagian ini, ada sesuatu yang sangat menarik yaitu perbedaan antara karakter Marta dan Maria. Ketika mereka sedang bersedih, dan ada orang yang memberi tahu bahwa Yesus datang ke tempat mereka, maka Marta langsung datang menjemput Yesus, tetapi Maria diam saja di situ. Sampai akhirnya, setelah menemui Yesus, Marta kembali dan memberitahu Maria bahwa Yesus memanggil Maria, barulah Maria pergi. Semua orang di situ mengira bahwa Maria mungkin akan meratap di Kubur, namun waktu Marta pergi, orang-orang tidak mengira demikian. Sifat Marta dan Maria sangat berbeda, Maria akhirnya datang menemui Yesus, dan tersungkur di hadapan-Nya, dengan tangisan dan mengatakan kalimat yang persis sama seperti apa yang Marta katakan kepada Tuhan Yesus “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.”

Kita tahu bahwa perkataan yang sama ini muncul dari dua karakter yang berbeda, dan karenanya memiliki arti dan kesan yang berbeda. Perkataan Marta lebih bersifat menuduh, to the point, dan tidak dengan tersungkur. Sebaliknya Maria mengatakan dengan tersungkur dan disertai dengan emosi yang lebih dalam dibandingkan Marta. Di bagian Injil yang lain, kita bisa melihat bahwa Marta adalah orang yang sangat ekstrovert, sedangkan Maria adalah seorang yang introvert.

Dalam analisa karakter, sifat ekstrovert dibagi menjadi dua: sanguine dan koleris. Sifat sanguine Marta dinyatakan dengan kesibukan dia mau melayani Yesus, sifat kolerisnya dinyatakan dengan keinginan dia untuk mengatur. Seorang sanguine biasanya menjadi pusat perhatian, karena cara dia berbicara, kelucuannya. Seorang koleris biasanya pandai mengatur, mengajak orang, menggerakkan orang. Sewaktu Maria duduk di kaki Tuhan Yesus, Marta bahkan menyuruh Yesus untuk membantu dia di dapur. Maria adalah seorang introvert, dia duduk mendengar di kaki Tuhan Yesus. Waktu Lazarus mati dan diberitahu bahwa Yesus datang, dia tetap duduk di tempatnya, dan waktu bertemu Yesus dia tersungkur dengan sedihnya.

Seorang introvert bersifat lebih melihat ke dalam diri dan dapat dibagi menjadi dua macam karakter: melankolik dan plegmatik. Saya bisa memberikan ilustrasi, ketika seseorang berjalan dan terhalang oleh batu yang besar. Kalau orang itu seorang sanguine, dia langsung ribut dan berteriak “Mengapa bisa ada batu di sini?”, bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kalau orang itu seorang koleris, mungkin dia langsung memanggil teman-temannya, mengatur mereka untuk menggeser batu tersebut. Tetapi seorang melankolis, akan duduk termenung di depan batu dan bertanya kepada diri sendiri “Mengapa ada batu di situ?”. Orang plegmatik, hanya melihat batu itu dan berkata “Emang gua pikirin, besok saya datang lagi, mungkin batunya besok tidak ada.”

Respons temperamen orang itu berbeda-beda, dan Gereja Tuhan membutuhkan segala macam temperamen yang berbeda-beda ini. Kita bisa melihat bagaimana Yesus bisa menghargai Marta dan Maria, sesuai dengan temperamen mereka. Setiap karakter ada kelebihan dan sekaligus kekurangannya masing-masing. Orang sanguine menyegarkan suasana, membuat orang ceria, namun biasanya adalah orang yang terlalu banyak bicara, terlalu banyak komentar. Orang sanguine harus belajar bahwa tidak semua orang mau mendengar komentarnya. Orang koleris, bersifat positif, menggerakkan orang mengerjakan suatu projek, namun dia akan seringkali memanipulasi orang, orang akan takut dia dan mengerjakan sesuatu karena takut dengan orang yang koleris itu. Orang melankolis biasanya memiliki pemikiran yang dalam, dapat melihat masalah dengan tajam supaya kita bisa mengambil langkah yang tepat. Namun karena dia melihat sesuatu masalah dengan tajam, seringkali dia bisa melihat segi negatif, dan lebih banyak berbicara tentang negatifnya, bergumul sendiri, dan tidak bisa mengungkapkan kesulitannya. Orang plegmatik stabil emosinya, di dalam Gereja, di tengah konflik dia bisa menjadi pendamai, namun bahayanya, adalah dia biasanya cuek, tidak perduli dengan segala kesulitan di sekelilingnya, dia tidak merasakan kedalaman kesakitan yang ada.

Setiap karakter ada yang bisa dikembangkan, tetapi ada kelemahan yang harus diperbaiki. Kristus menghargai keunikan masing-masing orang, namun Dia juga mengajar, membentuk orang di dalam temperamennya untuk bertumbuh, dan tidak menjadi orang lain. Ketika orang itu bertumbuh sepertinya dia menjadi seorang yang lain, tetapi sebetulnya tidak, itu karena dia bisa mengurangi karakternya yang negatif.

Di dalam kisah Alkitab ini, Yesus menyatakan Diri-Nya kepada karakter Marta dan Maria yang berbeda.

Yoh 11:33, ketika Yesus melihat Maria menangis dan orang-orang Yahudi yang datang bersama sama dengan dia, maka masygullah Dia dan sangat terharu. Yoh 11:35, maka menangislah Yesus. Ayat ini adalah ayat yang terpendek di seluruh Alkitab, Cuma dua kata Jesus wept.

Yoh 11:38 mengatakan masygullah hati Yesus lalu Dia pergi ke kubur itu. Di sini kita melihat Tuhan Yesus menyatakan kemuliaan-Nya, khususnya kepada Marta dan Maria, di dalam emosi-Nya yang dalam. Sekilas ayat-ayat ini menggambarkan Yesus yang sedih, tetapi kalau kita menyelidiki maka ayat ayat ini menyatakan sesuatu yang jauh lebih kompleks dari sekedar sedih dan terharu.

 Kata “masygul” jarang orang pakai, di dalam terjemahan Inggrisnya, kata yang digunakan adalah “deeply moved in spirit” (NIV, John 11:33), “growl in spirit” (ESV, John 11:33), sedangkan kata “terharu” diterjemahan sebagai “troubled”. Di dalam bahasa aslinya masygul itu bisa diartikan sebagai “snorting of a horse under heavy load”, seperti kuda yang ditaruh beban yang berat. Kata “troubled” dalam bahasa aslinya dipakai juga ketika kolam Bethesda goncang.  Banyak teolog reform seperti John Calvin dan BB Warfield, berpendapat bahwa apa yang dialami Yesus ada unsur anger di dalamnya. Jadi bukan hanya sedih dan terharu, tetapi juga ada kemarahan, marah melihat akibat dosa yang menyebabkan kematian Lazarus, dan kesedihan dari orang-orang yang Yesus kasihi. Jadi ada unsur sedih, beban yang berat, terharu, goncangan, kemarahan, dsb; artinya ada emosi yang kompleks. Seperti kita juga, kalau kita sedang emosi, emosi itu sulit sekali digambarkan, tetapi itu adalah sesuatu yang eksist. Sebagai contoh relasi antara orang-tua dan anak bisa menjadi hate-love relationship, bisa benci dan marah sekali tetapi sebenarnya ada kasih yang dalam.

Meskipun kita tidak dapat mengerti seluruh perasaan Kristus di sini. Tetapi Tuhan sedang mau menyatakan akan kemuliaan-Nya, bahwa Dia, sang Firman yang kekal, pencipta segala sesuatu, menjadi manusia di dalam tubuh, daging, darah, perasaan yang sama seperti kita, hanya tentunya Dia tanpa dosa. Artinya, Yesus sedang menyatakan Diri-Nya kepada Maria, Marta dan juga kepada kita, bahwa Dia bukanlah hanya Tuhan yang jauh di sana, pencipta yang berdaulat akan segala sesuatu. Di dalam bahasa teologi, Dia adalah Tuhan yang self-sufficient, independent, autonomous, tidak bergantung kepada siapapun. Tetapi kalau kita berpikir bahwa Tuhan adalah jauh di sana, yang tidak tergoncangkan oleh apapun berarti bukankah Dia mirip seperti batu karang, yang kuat-kokoh, tidak tergoncangkan, tetapi tidak memiliki perasaan.

Alkitab mengajarkan kepada kita, Dia adalah Allah yang bukan seperti batu, bukan seperti bintang, atau matahari yang bersinar terang, yang begitu dahsyat, tetapi tidak berpribadi. Allah yang dinyatakan di dalam Alkitab adalah Allah yang berpribadi, di dalam seluruh Diri-Nya, Dia bisa berespons kepada manusia. Dia bisa digerakkan oleh kesedihan Maria, Dia betul-betul tergerak oleh belas kasihan, yang bukan hanya di pikiran. Hatinya juga tergerakkan, dan bahkan Alkitab mengatakan (Yoh 11:35) “Yesus menangis.” Alkitab mengajarkan Tuhan kita bukan hanya sebagai suatu kuasa (power). New-age movement menganggap ada allah yang merupakan the higher power; orang-orang yang tidak beragama juga sering menyetujui tentang adanya the higher power. Namun mereka tidak mengerti apa itu the higher power. Alkitab mengatakan kepada kita bahwa Dia adalah suatu pribadi yang hidup, yang nyata di dalam banyak hal mirip dengan kita tetapi tanpa dosa. Orang-orang Yunani percaya kepada dewa-dewa bersifat apathea. Dewa-dewa yang memiliki total inability to feel any emotion whatsoever, yang tidak bisa merasakan emosi. Karena kalau dewa-dewa itu bisa beremosi, seperti marah, sedih, kecewa, dlsb, itu berarti dewa-dewa itu bisa dipengaruhi oleh keadaan, oleh orang lain. Dengan kata lain orang lain itu mempunyai certain power mempengaruhi dewa yang mulia itu. Karena itu dewa harus bersifat apathea, tidak mampu merasakan perasaan apapun. Pemikiran Yunani ini amat dipengaruhi oleh Aristotle god yang mengatakan bahwa Allah itu adalah the unmoved mover, penggerak yang tidak digerakkan oleh apapun. Semuanya yang ada digerakkan oleh sesuatu, sampai ujungnya yaitu unmoveable mover, yaitu dewanya orang Yunani.

Tetapi Alkitab mengajarkan bahwa kita memiliki Tuhan, Sang Juruselamat yang dapat turut merasakan pergumulan, kesulitan dan kesedihan kita. Khususnya ini ditulis dalam ayat yang paling pendek Yoh 11:35 “Jesus wept”.

Charles Spurgeon memberikan komentar mengenai ayat ini: ada begitu banyak rahasia yang bisa diungkapkan dari dua kata ini, lebih banyak dari yang dikotbahkan anak-anak Tuhan; meskipun hamba Tuhan itu telah menyelidikinya dengan sungguh-sungguh tetapi ada begitu banyak rahasia yang tersimpan dalam dua kata ini.

Yes 3:43 mengatakan Juruselamat kita sebagai “a man of sorrow”, seorang yang penuh kesedihan, yang bersahabat dengan dukacita. Kesedihan dan duka cita Kristus tentu bukan karena dosa-Nya, tidak seperti kita yang bersedih berduka cita karena dosa kita.

Dalam Yoh 11:37 orang-orang berkata “Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?” Yesus tahu sejak semula, sebelum orang-orang ini berkata, bahwa Dia akan membangkitkan Lazarus. Beberapa menit lagi, memang Dia akan membangkitkan Lazarus, karena Dia adalah kebangkitan dan hidup. Tetapi sekarang ini, Dia menangis karena melihat sahabat-sahabat-Nya yang sedang berduka. Maka hati-Nya yang penuh kasih, sangat tergerak dan menangislah Dia. Kita bisa merenungkan hal ini, dan mengenal siapakah Juruselamat kita.

Yesus menyatakan Diri-Nya kepada Marta, keluarganya, orang-orang Yahudi, dan juga kepada kita sekarang, khususnya kepada mereka yang mengalami kesusahan dan pergumulan. Banyak di antara kita yang sedang mengalami kesusahan yang berat sekali, baik itu masalah keluarga, pernikahan, anak-anak, pekerjaan, dlsb. Biarlah kebenaran firman yang dinyatakan di sini, bahwa Yesus mengerti, bahkan menangis, melihat pergumulan kita. Walaupun saudara saat ini tidak mengalami pergumulan, tetapi saudara pasti akan mengalami, atau sudah mengalami. Biarlah ketika mengingat keadaan-keadaan susah, kesedihan, pergumulan, ingatlah bahwa Allah kita adalah Allah yang perduli, dan Dia mendengar tangisan kita.

Di dalam Alkitab banyak bagian yang menyatakan hal ini, seperti dalam Mazmur 6:9 “Tuhan telah mendengar tangisku”, dan Maz 9:13 “Dia ingat kepada orang yang tertindas, teriak mereka tidaklah dilupakan-Nya.”

Charles Spurgeon mengatakan doa yang berkenan kepada Allah adalah doa yang penuh air mata, yang keluar dari hati, membasahi mata, menetes di pipi, dan hati Allah akan pasti tergerak ketika mendengar suara tangisan itu. Biarlah ini mendorong kita untuk datang kepada Tuhan. Pemazmur menarik kita, biarlah di dalam pergumulan dan ketidakmengertian datanglah kepada Dia, dan Dia akan perduli.

Biarlah kalimat “Jesus wept” menghibur kita. Dia yang berdaulat, dan menciptakan segala sesuatu, segala sesuatu ada dalam tangan-Nya, Dia tahu apa yang akan terjadi, tidak ada yang membuat Dia terkejut. Dia tahu Dia akan membangkitkan Lazarus, tetapi saat Dia melihat Maria menangis dan tersungkur, maka tergeraklah hati Yesus, dan Yesus menangis. Allah melihat air mata kita dan itu berharga di mata-Nya.

Mazmur 51:19 mengatakan “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kau pandang hina, ya Allah.” Biarlah kita datang kepada Dia, dengan sungguh-sungguh, di tengah segala pergumulan kita, mengingat Kristus yang mengasihi kita.

Yesus Kristus bukan hanya menangis dengan mencucurkan air mata bagi anak-anak-Nya yang mengalir di pipinya, tetapi kita tahu puncak dari kasih-Nya dinyatakan dengan darah-Nya yang mengalir dari tangan-Nya, dari kaki-Nya, yang terpaku di atas kayu salib. Ini menjadi jawaban puncak bagi kesadaran bahwa aku tahu, percaya, dan sungguh-sungguh mengerti bahwa Engkau adalah Tuhan yang mengasihiku.

Abraham diperintahkan oleh Tuhan untuk mempersembahkan satu-satunya anak yang dia kasihi. Ini adalah kisah yang sangat indah (lihat Kej 22), yang menggambarkan pergumulan Abraham, di tengah kekacauan hatinya, kebingungannya, dia tetap mau taat kepada Tuhan. Abraham membawa Ishak ke atas gunung. Pada waktu Ishak sedang diikat dan akan disembelih, maka Tuhan mengutus malaikatnya untuk berkata kepada Abraham, “jangan kau apa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.”

Bagi kita hari ini, perkataan Tuhan kepada Abraham ini memberi makna yang jauh lebih dalam. Ada Anak Domba Allah yang dipaku di atas kayu salib. Ketika Dia dipaku di atas Salib, tidak ada malaikat Tuhan yang turun dan berkata “jangan kau apa-apakan Anak ini”, Allah bahkan memalingkan muka-Nya dan membiarkan Anak-Nya yang tunggal, yang terkasih di hati Allah, harus mati mengalirkan darah dari tangan dan kaki-Nya dan mati bagi kita. Biarlah ketika memandang salib Kristus, kita bisa sungguh-sungguh berkata Tuhan ketika aku memandang salibMu, Anak-Mu yang Engkau kasihi, satu-satunya itu, dipaku di atas kayu salib, aku tahu bahwa Engkau mengasihi aku. Engkau tidak menyayangkan Anak-Mu sendiri, tetapi Engkau menyerahkan-Nya bagiku. Itulah kasih Tuhan yang terbesar sehingga kita boleh belajar akan Tuhan yang menangis melihat pergumulan Maria dan semua orang yang Dia kasihi.

Biarlah saat kita juga mengalami hal ini, datanglah kepada Tuhan, berseru memohon pertolongan-Nya, dan kemudian mengalami penghiburan, kekuatan yang hanya dari Tuhan. Bagi teman-teman dan orang-orang lain, kita bisa menyatakan kalimat yang memberi kekuatan, namun penghiburan yang utama hanyalah dari Tuhan sendiri.

Ketika kita membaca bahwa Yesus menangis, biarlah ini menggerakkan hati kita yang paling dalam sehingga kita boleh sungguh-sungguh mengasihi Dia dengan segenap hati. Ini adalah relasi timbal-balik, untuk mengenal kasih-Nya, pertama-tama kita harus mengasihi Dia.

Di dalam film “Paul, the Apostle of God”, ada adegan yang berkesan bagi saya. Seluruh cerita film itu konteks nya adalah Paulus yang sedang di dalam penjara, setelah Nero membakar kota Roma. Nero ingin membangun kota Roma atas namanya sendiri, tetapi itu tidak disetujui. Nero kemudian membakar kota itu dan menyalahkan orang Kristen sebagai yang membakar kota. Maka dia menyuruh untuk mengejar dan menangkap orang-orang Kristen. Di dalam keadaan tertekan dan banyak yang dianiaya, orang-orang Kristen berkumpul, ada beberapa di antara mereka yang marah sekali, dan mengajak untuk melawan. Ada yang menentang dengan mengatakan kalau engkau membalas kejahatan dengan kejahatan, engkau keluar dari community ini. Lukas sendiri berusaha menghalangi mereka yang ingin melawan, tetapi dia sendiri tergoncang ketika melihat salah satu anak yang masih kecil, dihajar sampai mati oleh tentara Roma setelah diketahui bahwa anak itu adalah pengikut Kristus. Maka Lukas datang ke Paulus yang ada di dalam penjara, menceritakan apa yang terjadi dan bertanya “apa yang harus kita lakukan?” Lukas menyatakan kemarahannya, apa kita harus membalas? Di situlah Paulus memberi jawaban yang menjadi berkesan bagi saya: “tidak tahukah bahwa kasih itu adalah tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, kasih itu menanggung segala sesuatu, persevere, kasih itu murah hati.” Kalimat-kalimat yang diambil dari 1 Kor 13, memberikan kesan yang mendalam di konteks seperti demikian. Paulus kemudian mengatakan “Seluruh hidupku adalah demi Kristus yang sudah mengasihi aku, dan ketika aku mati, aku mati demi Kristus.”

Lihatlah betapa kasih Paulus kepada Kristus, karena Kristus sudah terlebih dahulu mengasihi dia. Demikian juga apa yang dikatakan orang-orang dalam Yoh 11:36 “Lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya”. Biarlah orang-orang setelah melihat hidup kita, apa yang kita kerjakan, juga bisa mengatakan kalimat itu, dan juga mengatakan sebaliknya “lihatlah betapa dia mengasihi Kristus.” Ini menjadi respons kita yang pertama, ketika kita mengenal dan mengalami kasih Kristus.  

Respons kita yang kedua adalah seharusnya kita mengasihi orang lain. Ada begitu banyak kisah anak-anak Tuhan, hamba-hamba Tuhan yang bisa diceritakan. Seperti yang dinyatakan dalam 1 Yohanes 3, kalau engkau mengenal kasih Tuhan, maka mau tidak mau, menjadi konsekuensi yang logis yang seharusnya terjadi adalah kasih itu harus terpancar di dalam kasih kita terhadap sesama. Di dalam Gereja, perbedaan-perbedaan yang ada itu Tuhan ijinkan terjadi supaya kita bisa mengasihi saudara-saudara kita. Kadang-kadang anak-anak kita membuat sakit hati kepada kita, kalau kita mengenal kasih Tuhan, kita boleh mengasihi mereka.

Ada suatu kisah yang indah, yang menceritakan seorang misionaris wanita yang tidak terkenal. Dia pergi ke Tunisia, di Afrika Utara, memberitakan Injil kepada orang-orang Kristen di sana. Sangat sulit untuk memberitakan Injil di sana, akhirnya dia membuka kelas bahasa Inggris. Ada seorang pemuda yang setiap minggu datang untuk belajar bahasa Inggris. Pada suatu kesempatan misionaris mencoba untuk menceritakan tentang Yesus Kristus, namun pemuda itu tidak tergerak. Berkali-kali setiap ada kesempatan dia mencoba hal yang sama namun pemuda itu tetap tidak tergerak. Saat musim panas tiba, pemuda itu tidak datang lagi, mungkin karena dia harus bekerja. Setelah musim panas selesai, pemuda tsb tiba-tiba datang, karena dia akan pergi untuk masuk ke universitas di kota yang lain. Misionaris wanita itu senang sekali dan mengajak pemuda itu mengobrol. Untuk terakhir kalinya misionaris itu sharing tentang Kristus, karena mungkin pemuda itu tidak akan bertemu dia lagi. Pemuda ini terlihat mendengar dengan serius, namun ketika ditantang untuk percaya, pemuda itu tetap mengatakan tidak. Akhirnya pemuda itu berdiri, mereka harus berpisah, pemuda itu pergi mengucapkan selamat tinggal. Waktu berjalan beberapa meter, pemuda itu menengok ke belakang, dia melihat misionaris itu berdiri dengan air mata yang berlinangan. Pemuda itu melihat air mata misionaris itu, dan hancurlah hatinya. Dia tahu bahwa misionaris itu sangat mengasihi dia dan sangat menginginkan dia untuk boleh percaya kepada Kristus. Tangisan perempuan ini menghancurkan hatinya dan dia kembali dan mengatakan aku mau percaya. Kemudian dia didoakan dan dia menyerahkan diri menjadi orang Kristen yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan.

Biarlah cerita singkat ini boleh menjadi teladan bagi kita. Di dalam sejarah Gereja, kita melihat misionaris-misionaris, hamba-hamba Tuhan, anak-anak Tuhan yang karena mereka mengenal kasih Tuhan yang begitu besar, mereka digerakkan untuk mengajak orang-orang lain mengenal Kristus.

1 Yoh 3:11-18 mengatakan tidak mungkin engkau mengatakan engkau mengasihi Tuhan dan engkau tidak mengasihi saudaramu. Bagaimana engkau bisa mengasihi Allah yang tidak engkau lihat, sedangkan engkau tidak bisa mengasihi orang-orang yang nyata yang ada di sekelilingmu.

Biarlah kita bisa melihat kemuliaan Allah, kasih Kristus kepada Marta dan Maria, menyatakan kemuliaan-Nya melalui satu pribadi yang digerakkan hati-Nya, tersentuh oleh segala penderitaan, kesakitan dan air mata. Biarlah kita boleh digerakkan terlebih lagi karena Dia sudah mencurahkan darah-Nya bagi kita. Biarlah kita boleh mengasihi Tuhan dan saudara-saudara kita.

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya