Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Dua Macam Respons terhadap Firman

Ibadah

Dua Macam Respons terhadap Firman

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 4 Februari 2018

Bacaan Alkitab: Yoh 9:39-Yoh 10:21

Kami sekeluarga pernah bersama-sama bertamasya dengan keluarga Pak Tong, keluarga pendeta lainnya, dan beberapa keluarga majelis ke pulau Putri di kepulauan seribu. Ada kesempatan mengobrol dengan suasana yang rileks berbicara dengan pak Tong dan dengan lainnya. Kita juga bercanda dengan gurauan. Ada seorang yang bercerita bahwa ada seorang suami yang berpikir istrinya sudah mulai tuli. Dia mulai curiga mengapa istrinya kadang-kadang tidak meresponi perkataannya. Suatu hari istrinya sedang memotong sayur di dapur, dan sang suami berdiri di belakangnya, kira kira 10 m, dan bertanya “mah, sedang masak apa?”. Istrinya diam saja. Kemudian dia maju ke depan 2 m, dan bertanya pertanyaan yang sama. Istrinya diam saja. Dia maju lagi 2 m, istrinya diam saja. Sampai dia ada persis di belakang istrinya, kira-kira hanya 1 m saja, dan dia mengulangi pertanyaan yang sama. Istrinya menengok dan berkata “dari tadi saya sudah bilang saya masak ayam, kamu kok tidak mendengar?” Jadi ternyata yang tuli bukan istrinya tetapi sang suami.

 Apa yang ada di bacaan kali ini ada kemiripan dengan cerita di atas, namun kali ini sangat serius. Dalam Yoh 9:40 orang-orang farisi bertanya “apakah itu berarti bahwa kami juga buta?” Kita akan melihat bahwa orang-orang farisi yang menganggap mereka bisa melihat, sesungguhnya mereka adalah buta.

Dalam bagian sebelumnya (Yoh 9:1-38) kita melihat Yesus mencelikkan mata orang yang lahir buta. Kristus menyembuhkan dia pada hari Sabat dengan mengaduk tanah yang dilarang dalam Sabat versi orang Yahudi. Tuhan Yesus melakukan itu dengan sengaja untuk menyatakan bahwa Dia adalah Tuhan atas hari Sabat. Dia datang bukan hanya mencelikkan mata orang buta itu tetapi juga mencelikkan mata rohani orang itu. Dia melakukannya pada hari Sabat supaya orang buta ini dan keluarganya menerima kelegaan yang sejati di dalam Kristus. Tuhan Yesus kemudian menghampiri orang buta itu dan berkata “Percayakah engkau kepada anak Manusia?” Jawab orang buta itu “Siapakah Dia Tuhan? Supaya aku percaya kepada-Nya?” Tuhan Yesus menjawab “Engkau bukan saja melihat Dia; tetapi Dia yang sedang berkata-kata dengan engkau, Dia-lah itu” Orang itu berkata “Aku percaya Tuhan!”, lalu ia sujud menyembah-Nya.

Kita melihat di sini, Yesus bukan hanya menyembuhkan mata fisik orang itu, tetapi juga membuka hati orang buta itu supaya ia mengenal siapakah Kristus. Melalui proses itu, ia makin-mengenal dan akhirnya sujud menyembah kepada Kristus.

Tetapi ada sisi lain dari karya Kristus ini yang menyatakan siapa diri-Nya. Kita melihat juga orang-orang Farisi yang semakin lama semakin buta. Pertama ketika mereka melihat orang buta itu, mereka bertanya “betulkah ini orang yang dulunya betul-betul buta?” Ketika hal itu tidak bisa dibantah lagi, mereka bertanya lagi “betulkah Yesus yang menyembuhkan dia?” Mereka bertanya lagi “bagaimana cara Dia menyembuhkan?” Ketika mengetahui cara Yesus menyembuhkan, mereka mulai tidak suka dan menolak Yesus sebagai seorang nabi yang diutus Allah. Dalam Yoh 9:24, mereka mengatakan pokoknya Yesus adalah orang berdosa “Katakan kebenaran di hadapan Allah! kami tahu bahwa orang itu adalah orang berdosa.” Mereka sudah menyimpulkan apapun yang Yesus kerjakan, Yesus adalah orang berdosa. Mereka menganggap jika engkau mengatakan Yesus adalah orang berdosa, maka engkau memuliakan Allah.

Selanjutnya ketika orang yang tadinya buta itu membuktikan bahwa Yesus adalah orang yang diutus oleh Allah (Yoh 9:33) dia berkata “Jika orang itu tidak datang dari Allah, dia tidak dapat berbuat apa-apa”. Orang itu memberikan pernyataan yang tidak bisa dibantah lagi bahwa Yesus adalah utusan Allah, dia yang tadinya buta dan sekarang dapat melihat. Maka mereka tidak bisa berkata-kata lagi kecuali mengusir orang itu keluar. Mereka mengatakan (Yoh 9:34) “Engkau lahir sama sekali dalam dosa dan engkau hendak mengajar kami? Lalu mereka mengusir dia keluar”

Kita melihat dua kontras, orang yang tadinya buta itu semakin mengenal Kristus, dan berujung kepada dia sujud dan menyembah, mengaku Yesus adalah Tuhan. Tetapi orang-orang farisi, dengan segala fakta, segala interogasi yang mereka lakukan, makin lama mereka tidak mengenal siapakah Kristus. Mungkin mereka makin mengetahui siapakah Yesus, tetapi mereka semakin menolak Yesus.

Karena itulah di dalam dua hal yang kontras ini Yesus mengatakan dalam Yoh 9:39 “Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat menjadi buta.” Tetapi bukankah dalam bagian lain Yesus berkata (Yoh 12:47) “Aku datang bukan untuk menghakimi dunia melainkan untuk menyelamatkannya.” Saya akan memberikan contoh untuk menjelaskan dua hal yang kelihatan kontradiksi di sini. Misalnya ada seorang yang sakit parah, kakinya terkena infeksi yang tidak bisa lagi disembuhkan, maka dipanggillah ahli bedah untuk mengamputasi kakinya. Orang itu bertanya “dokter apakah dokter datang untuk mengamputasi kaki saya.” Maka dokter itu menjawab “saya datang bukan untuk mengamputasi kakimu, tetapi aku datang untuk menyelamatkan nyawamu.” Tujuan dokter itu bukan untuk memotong kakinya, tetapi untuk supaya orang itu tidak mati. Inilah yang dimaksudkan Yesus ketika Dia berkata bahwa Dia datang untuk menyelamatkan dunia melalui seluruh karya-Nya, terutama melalui Salib. Itulah tujuan Dia datang. Itu dinyatakan juga ketika Dia menyembuhkan orang buta itu dan memelekkan mata rohaninya. Dia datang untuk menyelamatkan dunia dari dosa-dosa mereka.

Tetapi ada orang-orang yang setelah melihat seluruh karya Kristus, mereka tetap menolak Kristus. Ini seperti suatu karakter komik yang menyatakan saya tidak bisa melihat. Temannya melihat dan bertanya mengapa kamu tidak bisa melihat? Jawabnya karena saya menutup mata saya. Itulah yang terjadi pada orang-orang farisi. Ketika mereka melihat mukjijat Kristus, dan semua karya-Nya, maka mereka makin menolak Kristus; bahkan menghujat Kristus “give glory to God, karena orang ini adalah orang berdosa” Sehingga apa yang Yesus katakan itu menjadi penghakiman bagi orang-orang farisi. Meskipun tujuan Kristus adalah menyelamatkan manusia dari dosa-dosa mereka. Tetapi mereka yang terus menolak Kristus dan terus menutup mata mereka, maka pemberitaan firman dan karya Kristus menjadi penghakiman bagi mereka. 

Dalam Yoh 9:40, orang-orang farisi memberikan pernyataan yang sarkastik, menanggapi pernyataan Kristus dalam Yoh 9:39. Mereka berkata kepada-Nya “Apakah itu berarti kami juga buta?” NIV menangkap konteks dan semangat saat itu “What, what, are we blind too?” Karena itu adalah pernyataan yang sarkastik, yang mengejek perkataan Yesus. Engkau pasti gila menyatakan kami adalah buta. 

Leon Morris mengatakan sesuatu kalimat tentang orang farisi di dalam konteks ini “They are the embodiment of the condemnation of which Yesus have been speaking.” Mereka adalah perwujudan daripada penghakiman daripada apa yang Yesus katakan dalam Yoh 9:39. Ketika Yesus sedang membongkar kebobrokan mereka, tidak pernah terlintas sedikitpun di dalam pikiran mereka, bahwa mereka mungkin buta. Mereka bahkan mengejek secara sarkastik, apakah itu berarti kami juga buta.

Jawaban Yesus akan hal ini adalah sangat luar biasa. Perkataan Yesus mengagetkan dan semakin membuat saya kagum dan menyadari bahwa Yesus adalah Tuhan. Mereka mungkin mengantisipasi bahwa Yesus akan mengatakan “ya memang kamu buta”, karena implikasi Yoh 9:39 memang membongkar kebutaan orang-orang farisi. Tetapi heran sekali Yesus menjawab dalam Yoh 9:41. Kalau Yesus mengatakan ya memang engkau buta, maka mereka akan mengajak orang-orang untuk mentertawakan dan menghina Yesus. Lihat mata kami melihat bagaimana Dia bisa mengatakan bahwa kami adalah buta. Tetapi Yesus menjawab sesuatu yang mengagetkan (Yoh 9:41) “Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa” Tuhan Yesus mau mengatakan bahwa kalau kamu tidak bisa melihat mengenali siapa Aku karena kamu buta, maka sesungguhnya kamu tidak bersalah. Yesus melanjutkan “tetapi karena kamu mengatakan kamu bisa melihat”  -- Yesus tidak mengatakan bahwa mereka betul-betul bisa mellihat – karena kamu mengatkan kamu bisa melihat, “maka tetaplah dosamu”. Kamu sudah melihat siapakah Aku, tetapi menolak Aku maka engkau menjadi berdosa karena engkau sudah menolak apa yang engkau sudah melihat sendiri.

Ini bukanlah suatu permainan kata, perkataan Yesus adalah untuk membongkar kebutaan mereka yang mereka tidak sadari. Ini mirip dengan Amsal 26 yang mengatakan Amsal 26:4-5 “Janganlah menjawab orang bebal menurut kebodohannya supaya jangan kamu sendiri menjadi sama dengan dia. Jawablah orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan dia menganggap dirinya bijak.” Jadi apakah kita harus menjawab orang bebal menurut kebodohannya atau tidak? Sepertinya 2 ayat yang berurutan ini bertentangan. Konteksnya di sini, di satu sisi Tuhan Yesus tidak menjawab orang farisi itu menurut kebutaannya. Mereka menganggap mereka dapat melihat, tetapi Tuhan Yesus membongkar bahwa mereka sesungguhnya buta. Tetapi dalam Yoh 9:41 Yesus membalikkan kalau engkau mengatakan engkau dapat melihat maka justru engkau sudah berdosa, karena sesungguhnya engkau sudah melihat.

Sekali lagi ini bukan kepandaian permainan kata. Apa yang Yesus katakan adalah untuk masuk ke dalam hati mereka yang paling dalam. Mereka harus berrespons dan berpikir apakah mereka sesungguhnya adalah buta. Tuhan Yesus ingin mereka menyadari apakah mereka sungguh-sungguh mengenal siapakah Dia. Apakah mereka bisa menyimpulkan dengan benar dari segala apa yang mereka lihat akan karya Yesus. Yesus mengatakan hal ini supaya mereka bisa berrespons terhadap apa yang diperlihatkan kepada mereka.

Alkitab menyatakan hanya ada dua respons secara prinsip.

Respons pertama adalah mengaku dan sujud menyembah Dia dan mengenal Dia sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Ini diwakili oleh orang buta yang sudah melihat.

Respons yang kedua adalah menolak Dia bahkan menganggap Dia sebagai orang berdosa atau orang gila. Dua macam respons ini juga dinyatakan dalam Yoh 10:20-21 “Ia kerasukan setan dan gila; mengapa kamu mendengarkan Dia? Yang lain berkata “itu bukan perkataan orang yang kemasukan setan; dapatkah setan memelekkan mata orang-orang buta?”

Di sini kita perlu berhenti sebentar dan merefleksikan diri kita di hadapan Tuhan. Ketika kita mengenal Yesus dan mendengarkan firman Tuhan, bagaimana respons kita kepada Tuhan? Tidak ada yang netral dalam hal ini, semua orang harus berrespons kepada Dia. Hanya ada dua macam respons.

C.S. Lewis mengatakan kalau engkau sungguh-sungguh membaca dan melihat siapakah Yesus yang dinyatakan di dalam Alkitab, maka hanya ada dua respons yang bisa lakukan kepada Dia.

Yang pertama adalah engkau mengatakan Dia orang gila dan tidak masuk akal, semua perkataan-Nya kita tolak dan buang jauh-jauh. Atau, kita mengaku Dia adalah Tuhan dan Juru Selamat, Allah yang patut kita sembah.

Tidak ada jalan tengah dari dua respons ini. Tidak mungkin kita hanya menerima Yesus sebagai guru yang agung. Guru yang agung tidak akan mengatakan kalau engkau tidak membenci ayahmu, ibumu, istrimu, engkau tidak bisa menjadi murid-Ku. Dia bukan hanya guru yang agung, memang Dia mengajarkan banyak hal yang agung, namun secara esensi Dia bukanlah guru yang agung. Dia adalah Allah, Tuhan dan Juru Selamat, yang sudah datang ke dunia, mati untuk menyelamatkan manusia dari dosa-dosa mereka. Kalau engkau percaya bahwa Dia adalah Tuhan dan Juru Selamat, barulah engkau mengerti bahwa seluruh pengajaran-Nya adalah agung. Tetapi engkau tidak bisa menganggap pengajaran-Nya adalah sangat agung, namun sebaliknya engkau menolak Dia sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Kalau engkau engkau menolak Dia sebagai Juru Selamat, engkau hanya bisa menyimpulkan bahwa Dia adalah orang gila dan kerasukan setan.

Tidak ada yang netral di hadapan Kristus, karena Kristus sendiri mengatakan (Yoh 14:6) “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”. Ini adalah perkataan yang ekslusif: apakah engkau menerima dan menyembah Dia ataukah menolak Dia, menganggap Dia orang gila dan kerasukan setan?

Ini juga adalah pertanyaan yang harus kita jawab. Ketika kita mendengar firman dan membaca apa yang Yesus kerjakan kepada orang buta ini, apa yang menjadi respons kita. Apakah engkau menganggap Dia sebagai orang gila atau kerasukan setan? Saya percaya saudara tidak demikian. Tetapi kalau saudara menganggap Dia sebagai Tuhan dan Juru Selamatmu, mengapa hidup kita tidak sungguh-sungguh menyatakan Dia adalah Tuhanku yang berkuasa dan berotoritas. Mengapa kita tidak mentaati Dia sedemikian? Mengapa kita tidak mengasihi Dia dengan seluruh jiwa, seluruh kekuatan kita? Inilah yang Tuhan inginkan bagi kita untuk kita sungguh-sungguh mengenal Dia dan taat kepada Dia.

Perkataan yang ekslusif ini juga dinyatakan dalam Yoh 10:7-10 “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu. Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. Akulah pintu barang siapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.” Ayat Yoh 10:9 ini mirip dengan Yoh 14:6. Yesus melanjutkan (Yoh 10:10) “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan segala kelimpahan. “

Di luar Kristus, ada pencuri dan perampok yang datang untuk mencuri, membunuh dan membinasakan. Tetapi di dalam Kristus dan melalui Kristus, kita datang kepada Bapa, mempunyai hidup, bukan hanya survive tetapi mempunyainya dalam segala kelimpahan. Kalau Dia adalah Tuhan maka kita harus percaya, sujud menyembah dan mentaati Dia. Tetapi bukan hanya supaya kita mendapatkan keselamatan. Tuhan mengatakan kalau engkau mengikuti-Ku maka engkau akan mendapatkan hidup yang berkelimpahan. Saya sangat senang dengan terjemahan Indonesia yang menyatakan hal ini sebagai “mempunyainya dalam segala kelimpahan.”

Kita tidak mengikut Tuhan hanya untuk survive, Tuhan ingin kita taat kepada Dia, mengasihi Dia dengan segenap jiwa, supaya kita dapat memiliki hidup dan hidup dalam segala kelimpahan.

Matius 7:13 mengatakan “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang melaluinya.” Dalam mengikut Kristus, memang akan ada banyak kesusahan dan banyak pergumulan, tetapi engkau akan menemukan hidup. Dalam kesulitan itu ada Tuhan yang menyertai dan memimpin. Dia adalah gembala yang baik itu, Dia akan memimpin kita kepada padang yang berumput hijau. Lebarlah pintu yang banyak orang yang masuk ke dalamnya namun pintu itu menuju kebinasaan. Masuklah ke dalam jalan yang sempit, yang penuh tantangan dan pegumulan, namun ada Tuhan yang memimpin, dan memberikan hidup yang berkelimpahan.

Saya menyaksikan banyak hamba Tuhan yang setia melayani di daerah-daerah. Meskipun sangat sederhana dan kekurangan secara finansial, namun ada kelimpahan hidup yang dapat dibagikan. Celakalah mereka yang hidupnya banyak kelimpahan secara fisik dan uang, tetapi hidup mereka miskin dan tidak menjadi berkat bagi orang-orang lain.

Gembala yang baik itu memanggil domba-domba-Nya. Biarlah kita mendengar gembala kita. Jalan melalui Dia, sempit tetapi menuju kehidupan, mempunyai kehidupan di dalam segala kelimpahan.

Sekali lagi hanya ada dua alternatif, apakah engkau mengikuti Kristus melalui jalan sempit, atau melalui jalan yang lebar yang sepertinya mudah tetapi ujungnya menuju kebinasaan. Biarlah kita mendengar suara gembala yang baik itu, dan ketika kita mendengar suara firman Tuhan, suara Kristus, itu membuktikan kita adalah domba-domba milik-Nya. Karena kalau kita tidak mendengarkan suara gembala yang baik itu, membuktikan bahwa kita bukanlah domba-domba-Nya.

Dalam Yoh 10:11 Yesus mengatakan “Akulah gembala yang baik, gembala yang baik memberikan nyawa bagi domba-domba-Nya.”

Yoh 10:14-15 “Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku. Sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.” Gembala yang baik adalah gembala yang datang untuk menyelamatkan kita, dan memberikan hidup dalam segala kelimpahannya.

Yoh 10:11-18 menjelaskan bagaimana Dia memberikan hidup. Dia memberikan hidup itu melalui kematian-Nya di kayu salib. Tetapi pertanyaannya adalah kalau gembala itu dibunuh, bukankah domba-dombanya dalam keadaan yang sangat berbahaya. Kalau Dia gembala yang baik memberikan nyawanya bagi kita, kalau gembala itu sudah dimatikan, maka domba-dombanya tercerai berai dan mudah menjadi mangsa serigala dan singa. Bapa mengetahui itu, Kristus mengetahui itu. Karena itu Yesus melanjutkan dalam Yoh 10:17-18 “Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku.”

Sekali lagi perkataan ini tidak bisa dikatakan oleh siapapun: “Tidak seorangpun yang dapat mengambil nyawaku daripadaku.” Ketika sudah waktunya seorang mati, maka tidak satu detikpun dia bisa memperpanjang waktunya. Tetapi ada orang yang bisa memberikan nyawanya dengan bunuh diri, namun dia tidak mungkin melakukan yang dikatakan Yesus selanjutnya “Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali.” Tidak ada seorang yang sudah mati yang dapat hidup kembali dengan kekuatannya sendiri. Tetapi itulah Kristus, Dia mati dan Dia bangkit kembali daripada kematian.

Perkataan itu ditangkap oleh orang-orang farisi dengan jelas. Tidak ada seorangpun yang bisa dan boleh mengatakan hal ini. Karena itu mereka bertengkar, sekelompok mengatakan Dia gila dan kerasukan setan, dan kelompok lain mengatakan dapatkah setan memelekkan orang-orang buta?

Sekali lagi responsnya ada dua: apakah Dia gila kerasukan setan, atau Dia adalah Tuhan dan Juru Selamat kita. Saya berdoa supaya setiap kita memiliki mata rohani yang dicelikkan oleh Tuhan. Supaya kita boleh menyadari bahwa Tuhan adalah Tuhan dan Juru Selamat kita. Bahwa Dia adalah gembala yang agung dan baik itu. Yang bukan hanya telah mati memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya, tetapi juga yang telah bangkit supaya Dia bisa memimpin kita untuk selama-lamanya. Dia adalah satu-satunya Tuhan yang mati dan bangkit bagi kita. Biarlah setiap kita boleh sungguh-sungguh mendengar, merenungkan firman, mendengar suara gembala yang baik itu, dan mengikut Dia kemanapun Dia pergi. Karena kita mengetahui di mana Tuhan ada, di situlah sebenarnya ada surga. Di manapun Dia pergi, maka kita tahu di situ ada kebaikan, sukacita, anugerah kehidupan yang berkelimpahan. Saya harap kita dapat sungguh-sungguh mengikuti Dia seumur hidup.

 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya