Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > The Spirit of Thanksgiving (Ultah GRII Melbourne yg Ke 21)

Ibadah

The Spirit of Thanksgiving (Ultah GRII Melbourne yg Ke 21)

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 25 Februari 2018

Bacaan Alkitab: Roma 1:21-25, Mazmur 8:2

Kita bersyukur untuk 21 tahun Tuhan memimpin GRII Melbourne. Memuliakan Allah dan bersyukur kepada Allah adalah sesuatu yang sangat penting karena ketika kita memuliakan Dia dan bersyukur kepada Dia, kita menyadari bahwa Dia adalah Allah yang layak dipuji dan dimuliakan. Ketika kita bersyukur kepada Dia, kita juga menyadari bahwa segala kebaikan Allah itu telah dinyatakan kepada kita.

Dalam pembacaan Alkitab Roma 1:21 dikatakan bahwa orang-orang yang tidak bersyukur kepada Allah adalah orang-orang yang bodoh dan hatinya menjadi gelap. Roma 1:23 menyatakan: “Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar”. “Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya" (Roma 1:25). Artinya kalau kita tidak memuji Tuhan, tidak bersyukur kepada Tuhan maka kita adalah sama dengan penyembah-penyembah berhala, orang-orang yang tidak mengerti bahwa segala hal yang baik itu adalah dari Tuhan.  

Ada tiga hal yang membentuk hati atau the spirit of thanksgiving. Melalui pembacaan Alkitab dari Mazmur 8, ada tiga prinsip kebenaran tentang the spirit of thanksgiving:

1. Mengenali Allah yang bekerja di dalam hidup kita

Hal ini dinyatakan dalam Mazmur 8: 2-3 yang dimulai dengan pujian kepada Tuhan: “Ya Tuhan, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan. Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkam musuh dan pendendam. Ketika kita membaca bagian ini kita bisa menerka konteks daripada pujian Daud kepada Tuhan. Dalam ayat Mazmur 8:3 ini ada kata-kata “lawan-Mu”, “musuh dan pendendam”. Meskipun kita tidak tahu persisnya kapan hal ini terjadi, tapi kita bisa bayangkan ini adalah salah satu peristiwa di mana Daud menang memimpin perang melawan musuh-musuh dan orang-orang yang melawan umat Tuhan. Kita bisa bayangkan Daud memimpin tentara-tentara Israel masuk ke dalam kota setelah mereka mengalahkan musuh. Dengan gagah perkasa, sorak sorai mereka memasuki kota dengan teriakan kemenangan dan bersyukur kepada Tuhan. Hal yang kita bisa lihat di sini adalah pengertian dan bagaimana Daud mengenali apa yang mereka alami itu semata-mata adalah karya Tuhan di dalam hidup mereka. Keberhasilan dia mengalahkan musuh adalah karena Tuhan yang berkarya, Tuhan yang beranugerah di dalam hidup dia dan dalam hidup bangsa Israel.

Pertanyaannya adalah apakah ini juga respons kita waktu hidup kita berhasil? Ketika kita mendapat promosi dalam pekerjaan, lulus ujian, sembuh dari sakit, ketika anak-anak kita berhasil, apakah respons kita memuji Tuhan dan bersyukur kepada-Nya serta menyadari dan mengenali bahwa Allah itu yang berkarya melalui seluruh kebaikan yang boleh kita terima? Tentu kita sebagai orang Kristen, anak-anak Tuhan ketika kita menerima kebaikan itu mulut kita menyatakan kita bersyukur kepada Tuhan. Tetapi betulkah sedalam hati kita, kita sungguh-sungguh menyadari bahwa ini adalah pekerjaan Tuhan (acts of God)?

Tuhan mengingatkan kita melalui hal-hal yang kecil, sakit penyakit yang kita alami, pergumulan yang kita hadapi bahwa segala hal yang baik yang kita terima dalam hidup kita adalah pekerjaan Tuhan. Kalau Tuhan mengijinkan hal yang sulit, pergumulan yang berat boleh terjadi juga itu tetap di dalam anugerah dan di dalam kedaulatan Allah yang mengijinkan hal itu terjadi untuk kebaikan kita.

Marilah kita coba pikirkan dan lihat hidup kita hari ini, coba pikirkan apa yang terjadi minggu lalu, atau pikirkan apa yang terjadi dalam tahun 2017 yang baru berlalu. Apakah kita mengenali bahwa Allah itu berkarya di dalam hidup kita? Meskipun Dia seringkali berkarya melalui sarana-sarana yang ada. Tapi apakah kita mengenali tangan Tuhan yang memimpin hidup kita? Dan menyadari kalau bukan karena anugerah Tuhan maka kita tidak bisa ada sebagaimana kita ada hari ini. Ketika kita mengenali bahwa Allah berkarya di dalam setiap hal hidup kita maka hati kita akan penuh dengan syukur dan memuji Dia karena segala sesuatu berasal dari Dia.

2. Mengenali ketidaklayakan kita

Dalam Mazmur 8:4-5 dikatakan: “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kau tempatkan; apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia sehingga Engkau mengindahkannya?”. Daud mengenali dirinya begitu kecil dan tidak layak di hadapan Tuhan yang begitu besar dan begitu mulia. Menyadari ketidaklayakan dia dan menyadari anugerah Tuhan yang besar itu yang bekerja dalam hidupnya maka hatinya dipenuhi dengan ucapan syukur dan pujian kepada Tuhan. Tapi tidak demikian dengan orang-orang zaman sekarang yang menganggap bahwa saya sudah selayaknya mendapat hal yang baik ini. Kalau kesulitan dan pergumulan datang, kita complain dan marah. Sampai kita menyadari ketidaklayakan kita dan betapa kecilnya kita, kita akan mengantuk ketika Allah sedang menyatakan karya-Nya, kita akan menganggap sebagai hal yang biasa saja ketika Allah menyatakan karya-Nya.

3. Mengenali anugerah Tuhan itu sangat berharga

Ketika kita menyadari berapa harga dari suatu barang, mengerti harganya dengan tepat maka kita akan menghargainya dengan tepat. Dalam Mazmur 8:6-9, Daud mengenali anugerah Tuhan itu sesuatu yang sangat berharga. Setelah ayat Mazmur 8:4 dan 5 menyatakan ketidaklayakan dan betapa kecilnya dia di hadapan Tuhan, Daud menyatakan dalam ayat Mazmur 8:6 dan 7 “Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kau letakkan di bawah kakinya.”  Daud menyadari bahwa anugerah Tuhan yang diberikan kepada dia dan kepada semua umat manusia adalah sesuatu yang sangat berharga. Kemuliaan yang Tuhan berikan kepada manusia ciptaan-Nya adalah sesuatu yang sangat berharga. Begitu banyak hal yang Tuhan berikan dalam hidup kita, biarlah kita menyadari bahwa itu adalah sesuatu yang sangat berharga. Bagi kita anak-anak Tuhan yang percaya kepada Tuhan, kita menyadari anugerah yang terbesar yang Tuhan berikan kepada kita, yaitu anak-Nya yang tunggal datang ke dalam dunia diserahkan bagi kita.

Mengenali Allah yang bekerja di dalam hidup kita, menyadari bahwa kita adalah orang yang tidak layak menerima anugerah Tuhan dan mengenali bahwa anugerah Tuhan itu sangat berharga membuat kita bersyukur dengan spirit yang benar kepada Tuhan. Seluruh hidup kita, jati diri, keberadaan kita adalah Tuhan yang beranugerah kepada kita. Biarlah kita mengenali ketiga hal ini dalam hidup kita.

 

Ringkasan oleh Adrian Gandanegara | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya