Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > God's Greatest Gift (Jumat Agung 2018)

Ibadah

God's Greatest Gift (Jumat Agung 2018)

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Jumat, 30 Maret 2018

Bacaan Alkitab: 1 Petrus 3:18; 2 Kor 4:3-6

Saya percaya di hari Jumat Agung ini, banyak di antara saudara yang berpuasa. Berpuasa adalah suatu disiplin rohani Kristen yang baik, karena waktu kita berpuasa kita akan merasakan rasa lapar. Saya akan menanyakan suatu pertanyaan: “Mengapa kita bisa lapar?” Jawabannya sederhana, karena Tuhan menciptakan tubuh kita seperti itu. Tuhan sebenarnya bisa menciptakan tubuh yang tidak perlu makan. Tubuh kita yang membutuhkan makanan dan minuman adalah rencana Tuhan. Mengapa Tuhan menciptakan tubuh yang memerlukan makanan? Saudara sekalian, Tuhan menciptakan untuk kemuliaan-Nya, termasuk fakta bahwa tubuh kita memerlukan makanan dan minuman adalah untuk kemuliaan-Nya. Jadi kita bisa memuliakan Tuhan dengan makanan dan minuman melalui dua cara:

  1. Kita memuliakan Tuhan dengan bersyukur dan bersuka cita untuk kebaikan-Nya. Waktu berbuka puasa kita bersyukur karena Tuhan yang memberikan makanan kepada kita. Ketika kita menjadi puas, dan tubuh kita dipuaskan, Tuhan ingin supaya kita makin mengerti perkataan Yesus (Yoh 6:35) “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” Tanpa kita makan dan menjadi puas kita tidak akan mengerti perkataan Yesus bahwa Dia adalah roti hidup dan air hidup. Roti dan air hidup itu menunjukkan kepada makanan yang sesungguhnya yaitu Kristus itu sendiri.
  2. Ketika kita tidak makan, kita sadar bahwa kita membutuhkan makanan yang sesungguhnya yang lebih daripada makanan yang biasa kita makan sehari-hari. Lapar dan haus secara fisik membawa kita menyadari akan kelaparan dan kehausan jiwa yang jauh lebih dalam. Harap waktu berpuasa, kita boleh mengerti atas kebenaran ini. Tanpa makanan dan minum saja kita sudah begitu lemah, apalagi jiwa kita yang tidak dipuaskan dengan air hidup dan roti hidup yaitu Kristus sendiri.

Kita merenungkan meskipun banyak anugerah yang mengalir dari salib Kristus, ada anugerah Allah yang terbesar, kebaikan Allah yang terbesar dan final. Meskipun justification, pengampunan, rekonsiliasi yang Tuhan telah kerjakan semuanya adalah baik bagi kita, hal itu adalah anugerah-anugerah yang besar sekali bagi kita, tetapi ada anugerah yang terbesar, yang paling puncak dan final yang adalah Kristus sendiri yang diberikan kepada kita.

Roma 8:32 mengatakan “Ia (Allah) yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” Di sini Paulus mau mengatakan, anugerah yang terbesar adalah Anak Allah, dan dari situ anugerah-anugerah yang lain boleh mengalir di dalam hidup kita.

Yang menjadi masalah adalah, kita mengutamakan anugerah-anugerah yang lain dan tidak mengutamakan Yesus Kristus itu sendiri. Pertanyaan krusial yang mau saya tanyakan adalah “Apakah saudara ingin ke surga di mana tidak ada sakit, kematian, bertemu dengan seluruh keluarga, teman-teman, suami/istri yang saudara kasihi; menikmati makanan yang paling enak, dan segala aktivitas yang saudara senangi, di tengah-tengah pemandangan yang tidak pernah saudara lihat; tidak ada lagi bencana alam, perang atau hal yang buruk lain? Apakah saudara ingin ke surga menikmati segala sesuatu yang baik itu tetapi tidak ada Kristus di sana?”  Saya berharap saudara menjawab “tidak, saya tidak mau pergi ke tempat yang demikian.”

Saudara mungkin ragu akan jawaban ini, dan berpikir segala kenikmatan ini memberi pengaruh yang besar ke dalam tujuan saudara ke surga. Tetapi sampai saudara menyadari bahwa anugerah yang terbesar adalah Kristus itu sendiri, segala anugerah yang lain tidak akan mungkin dimengerti dan dinikmati dengan benar. Dalam 1 Petrus 3:18, Petrus mengatakan “Sebab juga Kristus telah mati untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah.” Kristus adalah the Greatest Gift yang Allah berikan kepada kita. Justification, pembenaran, penebusan, rekonsiliasi, penebusan sebenarnya adalah tidak akan berarti kalau itu tidak membawa kita kepada Allah. Semuanya adalah pancaran yang indah dari berlian, tetapi kita jangan lupa hadiah yang terbesar itu adalah berlian itu sendiri.

Saya akan memberikan satu ilustrasi, anggaplah suatu hari istri saya menaruh cucian berantakan di lantai ke mana-mana. Kemudian saya hampir terjatuh terpeleset dan karenanya saya marah sekali. Dalam kemarahan saya mengatakan kata-kata yang kasar yang tidak seharusnya saya katakan. Kalimat itu melukai dia, dan langsung terjadi ketegangan. Saya tahu bahwa saya salah, walaupun dia juga ada salahnya. Tetapi tidak seharusnya saya mengatakan kata-kata yang kasar dan melukai dia. Di dalam ketegangan itu saya pikir saya perlu meminta maaf. Maka pertanyaannya adalah mengapa saya perlu meminta maaf? Ada banyak alasan: supaya malam ini saya bisa makan kesukaan saya, atau supaya malam ini saya tidak tidur di sofa, atau supaya saya bisa konsentrasi dalam bekerja. Hal-hal itu mungkin akan terjadi kalau saya minta maaf. Namun alasan-alasan ini adalah self-centered, dan saya hanya memanfaatkan dia untuk keuntungan saya. Satu-satunya motivasi yang menghargai dia sebagaimana seharusnya, adalah supaya relasi saya dengan dia dipulihkan, saya ingin kembali mengalami keindahan relasi bersama dengan dia. Dia adalah satu-satunya alasan mengapa saya harus dimaafkan.

Seperti inilah tujuan Kristus mati untuk menebus dosa kita, yaitu membawa kita kepada Allah. Justifikasi, pengampunan dosa adalah sesuatu yang indah yang harus kita hargai, tetapi untuk tujuan apakah hal-hal ini? Mengapa kita ingin diampuni dosanya? Mungkin kita tidak mau dimasukkan ke dalam neraka, mungkin kita ingin hidup yang kekal. Namun kalau kita tidak masuk ke neraka dan hidup selama-lamanya dan di situ tidak ada Allah, maka seluruh alasan kita menjadi salah.

Yang Petrus katakan dalam 1 Petrus 3:18 adalah tujuan akhir Kristus yaitu Kristus mati untuk membawa kita kepada Dia. Apa yang kita temukan ketika kita ada di hadapan Allah? Mazmur 16:11 mengatakan di hadapan Allah ada suka cita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Nya ada nikmat senantiasa. Ketika kita datang kepada Allah, memuliakan Dia, kita sendiri mendapatkan kesukaan yang berlimpah-limpah. Waktu saya memikirkan tentang ayat ini “di tangan kanan Allah ada nikmat senantiasa”, maka saya sadar akan satu hal, siapa yang ada di tangan kanan Allah? Di dalam pengakuan iman rasuli, kita tahu bahwa yang naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Allah adalah Yesus Kristus. Maka di hadapan Allah ada suka-cita berlimpah-limpah itu artinya Kristus itulah suka-cita itu. Kristus adalah kenikmatan kita selamanya. Agustinus mengatakan Engkau telah menciptakan kami untuk diri-Mu, ya Tuhan; hati kami terus gelisah sampai kami menemukan rests di dalam Engkau.

Namun hal ini tidak akan terjadi, sampai hati kita yang gelap diterangi oleh Allah, sehingga kita bisa melihat cahaya kemuliaan Allah di dalam wajah Kristus.

Karena itu kita kembali kepada 2 Kor 4:6 “Sebab Allah yang telah berfirman: “Dari dalam gelap akan terbit terang!”, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.

Sebelumnya dari 2 Kor 4:3-6, Paulus sedang berbicara tentang Injil, dan di 2 Kor 4:6 Paulus mensejajarkan Injil itu dengan penciptaan. Di dalam penciptaan, bumi belum berbentuk dan gelap gulita, dan kemudian berfirmanlah Allah (Kej 1:3), “Let there be light” dan terang itu muncul. Di dalam perjanjian baru, Allah melakukan penciptaan yang baru yaitu Dia bekerja di dalam hati manusia yang gelap gulita. Gelap karena dosa, karena hatinya dibutakan oleh dosa. Tuhan berkarya di dalam hati manusia, seperti di dalam perjanjian lama, Tuhan berkata “Let there be light”. Maka hati manusia menjadi terang dan manusia bisa melihat cahaya kemuliaan Allah.

Bagaimana Allah melakukannya? Allah melakukan itu melalui Injil kemuliaan Kristus yang diberitakan sepanjang jaman. Melalui Injil yang diberitakan oleh para misionaris, pendeta, hamba-hamba Tuhan, sepanjang jaman Tuhan bekerja menciptakan terang di dalam hati manusia yang gelap. Ketika firman diberitakan, Allah bekerja di dalam hati manusia, dan mencelikkan hatinya, membawa terang ke dalam hidup manusia.

Setan tidak suka hal itu terjadi. 2 Kor 4:3 mengatakan “Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa”. Orang yang akan binasa adalah mereka yang telah dibutakan oleh illah jaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya kemuliaan Kristus yang adalah gambaran Allah. Setan tidak suka manusia melihat cahaya kemuliaan Kristus yang ada di dalam Injil-Nya. Maka setan berusaha dengan segala cara supaya manusia tidak melihat cahaya kemuliaan Kristus. Setan memenjarakan para missionaris, dia membunuh hamba-hamba Tuhan, dia membuat pendeta mengabarkan berita yang salah. Setan terus menghalangi manusia datang untuk melihat cahaya kemuliaan Kristus. Setan terus bekerja sampai sekarang. Saya berkata di dalam nama Kristus, jangan biarkan diri saudara dikuasai setan. Mintalah pertolongan dan belas kasihan Tuhan untuk melihat cahaya kemuliaan Kristus.

Ada tiga hal yang Injil katakan tentang cahaya kemuliaan Kristus:

  1. Kemuliaan Kristus adalah kemuliaan suatu pribadi, bukan suatu kemuliaan yang bersifat impersonal seperti kemuliaan gunung, kemuliaan matahari, galaksi atau ciptaan yang lain. Betapa mengagumkannya ciptaan Tuhan, namun itu tidak bisa dibandingkan dengan Injil Kristus, yang adalah kemuliaan Tuhan ,Sang Pencipta segala sesuatu. Yang dinyatakan di dalam Injil adalah kemuliaan Kristus yang adalah cahaya kemuliaan Allah, dan gambar Allah yang menopang segala sesuatu dengan firman-Nya. Ini adalah kemuliaan Allah sendiri yang dinyatakan di dalam Injil. Kalau saudara melihat dalam 2 Kor 4:4, Injil menyatakan kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah. Kristus adalah juga gambar Allah, sehingga kemuliaan Kristus juga adalah kemuliaan Allah. Yoh 4:6 juga mengatakan “supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus”. Ini adalah kemuliaan Allah, tetapi kemuliaan Allah itu nampak di dalam wajah Kristus. Berarti kemuliaan Allah juga adalah kemuliaan Kristus, yang menciptakan dan menopang segala sesuatu.

Sampai kita mengerti bahwa apa yang dinyatakan oleh Injil adalah kemuliaan Allah yang menciptakan segala sesuatu, maka kita tidak akan menghargai kematian Yesus di atas kayu salib. Yesus Kristus adalah pribadi yang menciptakan segala sesuatu dengan firman-Nya. Kemuliaan Kristus jauh lebih besar dari segala sesuatu dalam dunia ini. Kemuliaan gunung, matahari dan ciptaan lainnya dibandingkan dengan kemuliaan Kristus adalah seperti satu tetes di bandingkan dengan satu lautan. Yang dinyatakan di dalam Injil adalah kemuliaan Allah itu sendiri. Kemuliaan yang ketika Yesaya menyaksikan itu maka hancurlah dia. Ketika Yesaya memandang kemuliaan Allah dan seraphim menyanyi (Yes 6:3) “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya”, maka Yesaya berkata (lihat Yes 6:5) “celakalah aku! Aku binasa!”, seperti telur yang dipecahkan di atas tanah. Yesaya adalah orang yang sangat dihormati waktu itu, tetapi di hadapan Allah, hancurlah dia. Inilah kemuliaan Allah yang dinyatakan di dalam Injil. 

  1. Kemuliaan ini adalah kemuliaan Allah yang dinyatakan di dalam Kristus. Kristus dalam seluruh hidupnya di dunia ini, menyatakan kemuliaan Allah. Melalui perkataan, hikmat, mukjijat-Nya, Kristus menyatakan bahwa Diri-Nya adalah Allah itu sendiri. Ketika Pilatus mengatakan hidup-Mu di tangan-Mu, aku berhak membebaskan atau menghukum Engkau. Ketika Yesus kelihatan begitu kecil, ketika murid-murid-Nya meninggalkan Dia, Pilatus sepertinya berkuasa di hadapan-Nya. Kepada Pilatus, Yesus mengatakan (lihat Yoh 19:11) “Kalau kuasamu tidak diberikan dari atas, maka kamu tidak bisa berbuat apa-apa terhadap-Ku.” Yesus mengatakan (lihat Yoh 10:17-18) “tidak seorangpun dapat mengambil nyawa-Ku, Aku berhak memberikannya dan mengambilnya kembali” Seluruh pekerjaan dan perkataan Kristus menyatakan kemuliaan Allah di dalam hidup-Nya. Ketika murid-murid ketakutan di atas perahu yang terkena badai, dan Yesus tertidur dengan nyenyak; lihat (lihat Luk 8:22-25). Murid-murid-Nya membangunkan-Nya, maka Tuhan Yesus bangun dan berkata “Tenanglah” dan badai pun tenang. Alkitab mengatakan suatu yang menarik, ketika melihat otoritas kuasa Kristus, maka murid-murid-Nya menjadi sangat ketakutan. Ketakutan yang jauh lebih besar daripada ketakutan mereka menghadapi badai. Ketakutan ketika melihat kemuliaan Allah dinyatakan di hadapan mereka. Tetapi puncak dari pada kemuliaan Allah, yang dinyatakan dalam Kristus, terjadi dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Kematian Kristus seperti langit yang tebal yang menutup seluruh langit, tetapi di ufuk barat, matahari memancarkan sinar keindahan yang tiada tara. Ketika matahari itu muncul di minggu Paskah, itu seperti memancarkan spektrum cahaya yang bersinar dengan kekuatan yang penuh. Kemuliaan Allah yang dipancarkan di atas kayu salib begitu indah dan mengagumkan. Kemuliaan Allah dinyatakan dalam teriakan Anak-Nya yang tunggal (Mat 27:46) “My God, My God, why hast Thou forsaken me.” Ini adalah Anak-Nya yang tunggal, yang terkasih, yang sempurna, yang suci seluruh hidup-Nya. Anak Allah yang bersatu dengan Bapa yang tidak mungkin dipisahkan dengan apapun juga. Ini adalah Anak Allah yang dari kekekalan sampai kekekalan bersama-sama dengan Allah dengan persekutuan yang sempurna. Tetapi dalam satu momen itu, Anak Allah itu harus berteriak “My God, My God, why has Thou forsaken Me.” Kematian Kristus di atas kayu salib menyatakan murka Allah yang begitu mengerikan terhadap dosa. Kematian Kristus di atas kayu salib menyatakan kesucian Allah yang tidak dapat dipermainkan. Murka Allah dinyatakan di atas kayu salib, tetapi sekaligus kasih Allah yang begitu agung dinyatakan di atas kayu salib. Kasih itu dinyatakan melalui perkataan Yesus “Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Ini adalah kemuliaan satu pribadi, yaitu pribadi Allah sendiri, yang dinyatakan di dalam Yesus Kristus.
  2. Kemuliaan Kristus diberitakan sebagai Injil kepada kita. 

2 Kor 4:3-5 “Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa, yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh illah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah. Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambaMu karena kehendak Yesus. Sebab Allah yang telah berfirman: "Dari dalam gelap akan terbit terang!", Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.”.

Injil atau Euangelion mempunyai arti “kabar baik”. Kabar baik seringkali dipakai oleh raja-raja pada waktu itu. Ketika raja berhasil mengalahkan musuhnya, maka ada orang yang membawa kabar baik: “Dengar, dengarlah raja telah mengalahkan musuh. Injil Kristus adalah kabar baik tentang kemenangan Sang Raja, melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Kristus sudah mengalahkan musuh yang terbesar, yang mencengkram hidup setiap manusia di dalam dunia ini. Ketika kita mendengar berita itu dan percaya kepada-Nya, kita akan mengalami kebebasan yang sejati. Kita akan dibawa kepada Raja itu untuk hidup selama-lamanya, dalam sukacita berlimpah-limpah dan nikmat selamanya.

Saya akan memberikan satu contoh, dalam perang antara Sekutu dan Jepang. Bayangkan ada sekelompok tentara Sekutu yang tertangkap, dipenjara, dan disiksa oleh Jepang. Setiap hari ada orang yang mati di penjara. Tetapi satu hari ada berita radio yang bisa mereka dengar, dan berita itu adalah tentang kemenangan Sekutu atas Jepang, Jepang sudah menyatakan kalah. Namun tentara-tentara Jepang belum mendengar berita itu, mereka kaget sekali karena ada perubahan yang besar di dalam penjara. Semuanya sama saja, makanan para tahanan sangat kurang, dan mereka sangat kotor dan banyak yang sakit. Tetapi berita itu mengubah seluruh hidup mereka. Maka mereka mulai bersuka cita, dan bernyanyi.

Seperti itulah dampak kabar baik yang kita dengar. Tentang Injil, kabar baik, Kristus sudah baik dan bangkit, menyatakan kemuliaan Allah, melalui kemenangan-Nya atas setan, maut dan neraka. Dia pasti datang kembali untuk menyatakan kemuliaan-Nya atas segala ciptaan, sehingga seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya. Ketika kita mendengar berita ini, biarlah kita sungguh-sungguh datang dan percaya. Bukan hanya secara rasio saja, tetapi juga memandang cahaya Injil kemuliaan Kristus, dan kemudian datang mengalami terang itu di dalam hati kita yang paling dalam.

Inilah God’s greatest gift: Dia memberikan sendiri di dalam Anak-Nya, dan di dalam Anak-Nya, kemuliaan Allah yang dinyatakan kepada kita. Manusia yang buta tidak akan mungkin melihat kemuliaan itu, karena itu Allah bekerja mencelikkan mata rohani kita yang buta, sehingga kita boleh melihat cahaya kemuliaan Allah pada salib Kristus, yang menggerakkan kita untuk datang dan percaya kepada Kristus, menemukan sukacita yang berlimpah-limpah di dalam Kristus. Inilah alasan Kristus datang ke dalam dunia. Untuk menyatakan kemuliaan-Nya, dan supaya kita boleh datang kepada-Nya, mengalami kesukaan yang berlimpah-limpah hanya di dalam Dia.

Inilah yang ditangkap dalam Westminster Shorter Cathechism, sekelompok theologian yang menyatakannya dalam kesimpulan mereka yang pertama: What is the chief end of men: to glorify God and to enjoy Him forever. Mereka tidak mengatakan chief ends of men, mereka tidak menyatakan ada banyak tujuan, tetapi ada satu tujuan utama yaitu ketika dijawab ada dua bagian: yaitu memuliakan Allah dan menikmati Dia selamanya. Para teolog itu menangkap betul apa yang Paulus katakan, yaitu ketika kita memuliakan Allah, kita akan menemukan kesukaan di dalam Dia.

Ketika kita sungguh-sungguh melihat cahaya Injil kemuliaan Allah itu, kemuliaan Allah dinyatakan kepada kita, maka kita tidak hanya memandang, tetapi kita betul betul menghargai Kristus sebagai sumber suka-cita kita selama-lamanya. Kita bukan saja bersyukur karena Yesus sudah menebus dosa kita, membebaskan kita dari hukuman Allah, tetapi terlebih lagi kita bersyukur karena kita dibawa kepada Dia, dan dapat memandang kemuliaan-Nya. Kita memuliakan Dia dan menimati Dia bukan sebagai dua tujuan tetapi sebagai satu tujuan.

Biarlah kita boleh datang dan mengenal Kristus di dalam salib-Nya. Ketika kita menemukan salib-Nya, biarlah kita boleh memandang cahaya kemuliaan Allah pada wajah Kristus. Biarlah hati kita tertarik kepada Kristus dan sungguh-sungguh memuliakan Dia. Ketika kita menempatkan Dia di tempat yang paling utama, kita juga menempatkan Dia sebagai sumber suka cita kita yang paling utama. Kesukaan kita di dalam hal-hal yang lain adalah derivatif daripada kesukaan kita di dalam Kristus. Biarlah kita sekali lagi bersyukur atas anugerah-Nya, terutama anugerah-Nya yang terbesar yaitu Dia memberikan Diri-Nya sendiri kepada kita. Biarlah kita menjadi percaya dan menikmati Dia selamanya.

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya