Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Kebutaan Rohani

Ibadah

Kebutaan Rohani

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 28 Januari 2018

Bacaan Alkitab: Yoh 9:30-36

Kita telah membahas sebelumnya Yoh 9:1-5 di mana Yesus melihat seorang pengemis yang buta sejak lahir. Murid-murid-Nya bertanya penyebab dari kebutaannya, siapakah yang berdosa orang ini atau orang tuanya. Tetapi Yesus menjawab bukan tentang penyebab dia lahir buta, tetapi Yesus menyatakan tentang tujuan mengapa dia lahir buta: (Yoh 9:3) “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia”

Jawaban Tuhan Yesus memberi implikasi yang besar sekali di dalam hidup kita. Kita diingatkan bahwa penyebab segala penderitaan anak-anak Tuhan, bukanlah hal yang paling penting yang harus kita jawab. Meskipun kita mengalami kesulitan karena dosa dan kesalahan kita sendiri, seperti kalau kita berjudi maka kita banyak hutang dlsb; tetapi hal itu bukan hal yang utama yang harus kita tanyakan di dalam hidup kita. Kalau ada kesalahan memang kita harus bertobat, tetapi banyak pergumulan di dalam hidup kita yang kadang-kadang tidak ada hubungannya dengan dosa di dalam hidup kita. Ada kesulitan, kesakitan bahkan kematian yang tidak ada kaitannya dengan dosa kita secara pribadi. Sehingga hal yang paling utama di dalam kesulitan dan penderitaan ini, adalah kita bertanya apa rencana dan tujuan Allah di dalam hal ini. Jadi jangan bertanya mengapa hal ini terjadi padaku, apakah salah dan dosaku sehingga ini menimpaku, tetapi kita boleh bertanya apa rencana Tuhan, apa yang Tuhan inginkan melalui peristiwa ini.

Ada begitu banyak contoh dari hidup anak-anak Tuhan untuk boleh mengerti pertanyaan ini. Seringkali kita bertanya mengapa saya mengalami segala penderitaan ini, seringkali tidak ada jawaban di dalam hidup kita. Tetapi ketika kita bertanya dan berseru kepada Tuhan --Tuhan yang berdaulat yang mengijinkan segala sesuatu kesulitan terjadi dalam hidup kita -- mengapa hal-hal itu terjadi, maka ini menjadi suatu langkah yang membangun hidup kita, apapun kesalahan kita, kita bertobat, kita ikut Tuhan dan mengerti apa yang Tuhan sedang kerjakan di dalam hidup kita.

Salah satu contoh yang paling indah, adalah apa yang terjadi terhadap Yusuf. Dia dijual oleh saudara-saudaranya bahkan hampir dibunuh oleh mereka. Akhirnya dia dijual ke Potifar dan kemudian menjadi budak di sana. Ketika dia melakukan segala sesuatu dengan benar, maka dia dituduh akan memperkosa istri Potifar, sehingga di masukkan ke dalam penjara dalam waktu yang lama. Di dalam penjara, dia bergumul dan mencoba mengerti apa yang sedang Tuhan kerjakan di dalam hidup dia. Maka melalui proses yang panjang, dia mulai mengerti tangan Tuhan yang memimpinnya. Maka dia berkata kepada saudara-saudaranya yang ketakutan, ketika mengetahui bahwa Yusuf sekarang menjadi perdana menteri di Mesir. Yusuf mengatakan kepada mereka “Engkau memang merancangkan kejahatan kepadaku, tetapi Allah merangcangkannya untuk kebaikan yaitu untuk menyelamatkan satu bangsa, dengan mengutus aku ke Mesir dengan cara demikian.”

Tuhan Yesus mengatakan di dalam Yoh 9:3, bahwa kebutaan orang ini bukan salah dia atau orang tuanya, melainkan pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. Biarlah kita juga boleh bertanya, Tuhan pekerjaan apa yang sedang Engkau nyatakan dan inginkan untuk aku mengerti supaya aku hidup di dalamnya, melalui peristiwa-peristiwa ini.

Dalam Yoh 9:6-7 ada satu hal yang menarik di sini, ketika Yesus menyembuhkan orang yang buta sejak lahir ini, Dia tidak mengatakan sembuhlah engkau, Dia bahkan bisa membangkitkan Lazarus dengan perkataan-Nya saja. Tetapi, Dia meludah ke tanah, mengaduknya, dan mengoleskannya ke mata orang itu. Yesus kemudian menyuruh orang itu membasuh dirinya ke kolam Siloam yang berarti “diutus”, dan kemudian baru orang itu sembuh.

Mengapa Yesus harus memakai tanah, ludah dan kolam untuk menyembuhkan orang ini? Ada dua alasan penting di sini:

  1. Karena Tuhan biasanya memakai sarana di dalam melakukan karya-Nya. Amsal 21:31 mengatakan “Kuda diperlengkapi untuk hari peperangan, tetapi kemenangan ada di tangan Tuhan.” Kuda dipersiapkan untuk berperang, dan ketika ada peperangan, Tuhan memakai kuda itu untuk memenangkan peperangan, tetapi kemenangan ada di tangan Tuhan. Tuhan bisa memenangkan perang dengan tangan-Nya yang penuh kuasa. Tuhan sebenarnya tidak memerlukan kuda sama sekali, tetapi Dia memakai kuda. Dengan demikian kita melihat Tuhan tidak mengabaikan dunia fisik yang Dia ciptakan, Dia memakai ciptaan-Nya untuk melakukan kehendak-Nya. Dia menggunakan makanan untuk menopang hidup kita. Dia memakai hubungan seks suami-dan istri untuk melahirkan anak-anak. Dia menggunakan keahlian dokter untuk menyembuhkan orang. Seringkali Tuhan memakai sarana untuk melakukan kehendak-Nya.

Kadang-kadang ada orang yang begitu ektrim dan tidak memperdulikan sarana-sarana itu, mereka mengatakan Tuhan adalah tabib yang ajaib dan Dia bisa menyembuhkan segala penyakit saya. Saya tidak perlu dokter, tidak perlu kemoterapi, tidak perlu operasi, atau apapun, kalau Tuhan mau menyembuhkan saya, maka Dia bisa.

Tetapi di sisi lain, kita bisa jatuh ke dalam kebahayaan yang lain. Yaitu kalau kita melihat kuda maka kita bergantung kepada kuda dan bukan kepada Tuhan. Kita terus bergantung kepada sarana-sarana yang ada di sekitar kita. Biarlah kita sadar bahwa kemenangan itu hanya ada di tangan Tuhan.

Kalau engkau tidak bersandar kepada rencana-Nya maka percuma segala yang engkau kerjakan dengan perjuanganmu dan usahamu. Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah maka sia-sialah orang yang membangunnya, jikalau bukan Tuhan yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga (Mazmur 127:1). Kita menyaksikan itu dalam KKR regional, kita perlu berjuang untuk mempersiapkan segala sesuatu. Mereka pergi ke daerah-daerah dengan memakai biaya sendiri. Ada orang-orang yang mempersiapkan segala sesuatunya. Tanpa hal itu semua akan berantakan. Bahkan tanpa kita pergi ke situ bagaimana mungkin kita bisa memberitakan Injil di situ. Tuhan memakai sarana-sarana itu, tetapi pelayanan kita tidak bergantung kepada sarana-sarana itu. Bagaimana kita boleh menjadi berkat, dan orang bisa menerima Firman, itu semata-mata adalah bergantung kepada anugerah Tuhan. Karena semua hal yang sudah korbankan, sudah lakukan, kalau Tuhan tidak bekerja dan tidak memberkati, maka seluruhnya adalah sia-sia.

Dalam suatu KKR regional, sebelum KKR umum yang akan saya pimpin pada malam hari. Saya sudah siapkan bahan yang akan saya kotbahkan. Tetapi saya terus terbuka akan pimpinan Tuhan, karena daerah itu baru bagi saya dan saya mohon bijaksana Tuhan. Sebelum kotbah, saya mengajarkan satu lagu “Bangkit Bagi Kristus”. Waktu saya mengajarkan lagu itu saya tiba-tiba sadar, justru melalui lagu itu, inilah tema yang harus saya kotbahkan. Jadi saya putuskan tema kotbah saya, waktu saya pimpin lagu itu. Namun, KKR itu justru menjadi suatu event yang powerful. Kita bersyukur kepada Tuhan atas pertolonganya dalam hidup kita. Biarlah kita sadar bahwa kita perlu mempersiapkan dan berjuang dalam segala sesuatu, karena seringkali Tuhan memang memakai sarana untuk mengerjakan kehendak-Nya. Tetapi biarlah kita tidak bergantung kepada sarana-sarana itu, tetapi bergantung kepada Tuhan.

  1. Alasan yang kedua, dan yang sangat penting sebagai konteks dalam cerita ini adalah Tuhan Yesus mau menyatakan siapakah Diri-Nya yang sesungguhnya. Secara sengaja Yesus memakai tanah, mengaduknya dan mengoleskannya ke mata orang itu. Hal ini kontroversial, karena ini hal yang sangat krusial, yang pada akhirnya menjadi alasan utama banyak orang yang menolak dan menghujat akan siapakah Yesus itu. Tetapi orang buta yang disembuhkan itu akhirnya berlutut dan mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan. Dalam Yoh 9:13-14, peristiwa mengaduk tanah itu dikaitkan dengan hari Sabat, dan menjadi persoalan bagi orang-orang Yahudi. Orang Yahudi dan farisi sudah membuat peraturan-peraturan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan pada hari Sabat. Salah satu yang dilarang adalah membuat adonan kue pada hari Sabat. Kata dipakai untuk tanah (mud) adalah kata yang sama yang dipakai untuk adonan. Jadi mereka sangat ingin tahu apa yang Yesus lakukan dalam menyembuhkan orang ini. Karena itu Yesus sengaja memakai tanah seperti mengaduk adonan dan menyembuhkan orang itu dengan cara demikian.

Yesus Tuhan melakukan itu untuk menyatakan bahwa Dia adalah Tuhan atas hari Sabat. Dia ingin mengembalikan apa maksud sesungguhnya dari hari Sabat, yaitu Sabat diberikan Tuhan untuk kebaikan manusia, untuk kesehatan, untuk pemulihan, untuk istirahat manusia. Sabat bukan hanya menunjuk kepada rest seperti Tuhan yang beristirahat setelah berkarya selama enam hari dalam cerita penciptaan, tetapi khususnya dalam Ulangan 5, sabat juga menunjukkan keselamatan yang Israel terima adalah bukan pekerjaan Israel tetapi adalah rest in God. Karena itu Allah yang berinkarnasi yatiu Yesus Kristus, menyembuhkan, memulihkan orang buta itu pada hari Sabat, dan juga mengangkat beban yang berat yang harus dipikul dia dan orang tuanya.

Banyak orang Kristen yang tidak mengindahkan hari sabat, yang bagi kita adalah hari Minggu. Melupakan hari Sabat akan mendatangkan kehancuran bagi hidup kita. Tuhan menyembuhkan orang itu untuk mengembalikan arti Sabat, yaitu untuk kebaikanmu, keselamatan, kesegaran dan pemulihan dirimu. Terlebih lagi Tuhan mau menyatakan siapa diri-Nya melalui kesembuhan pada hari Sabat ini. Kemuliaan Kristus yang adalah Tuhan atas hari Sabat, dinyatakan dalam teks ini.

Kita akan melihat dalam lima percakapan yang menyatakan siapakah Kristus dan kemuliaan-Nya. Melalui kelima percakapan ini kita akan melihat bahwa orang yang buta itu semakin hari semakin jelas melihat siapakah Kristus itu. Kita juga melihat bahwa orang farisi semakin hari semakin buta dan tidak mengenal siapakah Kristus itu.

1)    Yoh 9:8-12 Percakapan antara pengemis dengan tetangga-tetangganya “Bukankah ini orang yang selalu mengemis” dan pengemis itu mengatakan “Akulah itu”, aku yang tadinya buta sekarang melihat. Lalu mereka bertanya bagaimana kamu bisa melihat sekarang. Dalam Yoh 9:11 orang itu menjawab orang yang disebut Yesus itu mengaduk tanah mengoleskannya pada mataku dan berkata kepadaku pergilah ke Siloam basuhlah dirimu dan aku pergi dan setelah aku membasuh diriku aku dapat melihat. Pengemis itu mengetahui nama dari Yesus, meskipun dia tahu namanya, dia hanya menyebutkan “orang itu yanga disebut Yesus”. Pengemis itu hanya mengetahui “orang-itu” yaitu Yesus.

2)    Percakapan antara pengemis itu dengan orang farisi, dengan persoalann yang sama yaitu bagaimana kamu bisa melihat sekarang. Yoh 9:17 mengatakan Apakah katamu tentang Dia karena Dia telah memelekkan matamu? Maka sesuatu terjadi di dalam orang buta itu. Dia makin mengenal siapakah Kristus. Kalau sebelumnya dia hanya mengatakan “orang-itu” tetapi sekarang dia mengatakan Ia adalah seorang nabi. Nabi artinya adalah seorang yang diutus oleh Allah. Dia makin mengerti, Dia pasti diutus oleh Allah.

3)    Yoh 9:18-23 menceritakan percakapan antara orang farisi dengan orang tua daripada orang buta itu. Kita bisa mengerti ketakutan orang-tuanya, karena orang-orang Yahudi telah sepakat bahwa siapa yang mengaku Yesus adalah mesias akan dikucilkan. Karena itu orang tuanya menjawab kami tidak tahu bagaimana dia bisa sembuh, tanyakan kepada dia saja, karena dia sudah dewasa. Orang-tuanya mirip seperti Nikodemus yang datang pada waktu malam supaya tidak diketahui orang. Namun ini bukan untuk menghakimi orang-tuanya, tetapi untuk menekankan keberanian daripada orang buta itu yang menekankan dengan terus terang siapakah Yesus itu.

4)    Dalam Yoh 9:24-34, keberanian pengemis ini dinyatakan dengan begitu jelas, dia menyatakan dengan begitu lantang bahkan sepertinya mengejek orang-orang farisi ini. Saudara harus mengerti bahwa dia adalah seorang pengemis yang buta dari lahirnya, yang begitu dihina banyak orang. Dia berdiri di hadapan pemimpin agama yang paling dihormati, yang memiliki gelar akademis secara agama. Mungkin seperti seorang lulusan SD bertemu dengan seorang PhD. Pengemis itu seperti menelanjangi kebutaan orang-orang farisi. Yoh 9:27 jawaban pengemis itu ketika di tanya apa yang diperbuat Yesus untuk memelekkan matanya: “Telahkan kukatakan kepadamu dan kamu tidak mendengarkannya, mengapa kamu hendak mendengarkannya lagi, barangkali kamu hendak menjadi murid-Nya juga?” Dia seperti mengejek orang farisi yang sudah dijelaskan, dijelaskan lagi, dan tidak mau mendengar.

Kemudian dalam Yoh 9:30-34, dia seakan-akan mengajarkan, “mengkotbahkan”, kepada orang farisi, orang yang paling tahu Alkitab/perjanjian lama, mengenai kebenaran yang mereka tidak bisa tolak. “Aneh juga kalau kamu tidak tahu bagaimana Dia datang, sedangkan Dia telah memelekkan mataku. Kita tahu bahwa Allah tidak mendengarkan orang-orang berdosa, melainkan orang-orang yang saleh, dan yang melakukan kehendak-Nya. Dari dahulu sampai sekarang tidak pernah terdengar bahwa ada orang yang memelekkan mata orang yang lahir buta. Jikalau orang itu tidak datang dari Allah maka Dia tidak dapat berbuat apa-apa.” Kebenaran yang dibongkarkan dan yang orang farisi tidak bisa tolak sama-sekali. Kecuali mereka menyatakan kehebatan dan kuasa mereka, dengan mengusir pengemis itu.

Percakapan ini menyatakan bahwa pengemis itu semakin jelas mengerti siapakah Kristus. Tetapi orang farisi itu semakin gelap dan semakin buta.

5)    Yoh 9:35-38 Yesus mendengar bahwa pengemis itu telah diusir keluar, dan Dia bertemu dengan pengemis itu dan berkata “Percayakah engkau akan Anak Manusia?” Dalam terjemahan Inggris pada kata “bertemu” lebih jelas akan point yang penting ini: bahwa Yesus sengaja mencari dia dan bertemu dengan dia “having found him”. Yesus bukan sedang berjalan-jalan dan secara tidak sengaja bertemu dengan pengemis ini. Yesus mengetahui bahwa dia sudah diusir dan Yesus mencari dan bertemu dengan dia. Tuhan tidak hanya perduli dengan menyembuhkan sakit fisik pengemis ini, tetapi jauh lebih dalam Tuhan ingin pengemis ini mengenal dengan jauh lebih dalam siapakah Yesus yang sesungguhnya. Jawab pengemis itu “Siapakah Dia Tuhan supaya aku percaya kepada-Nya” Tuhan Yesus menjawabnya “Engkau bukan saja melihat Dia, tetapi Dia yang sedang berkata-kata dengan engkau, Dia-lah itu” Kata pengemis “Aku percaya Tuhan lalu dia sujut menyembah-Nya”.

Inilah akhir dari cerita pengemis ini. Ini adalah tujuan dari cerita ini, yaitu supaya manusia sadar siapakah Yesus itu. Supaya manusia menyadari, mengaku dan sujud menyembah bahwa Dia adalah Tuhan dan Raja dan juruselamat manusia:”. Dia adalah Allah yang berinkarnasi dan satu-satunya juruselamat yang patut kita sembah dan kita puji.

Inilah tujuan cerita ini yaitu supaya manusia memuliakan Kristus dan menemukan sukacita yang berlimpah-limpah di dalam Dia. Bukan hanya suka cita bahwa Yesus sudah menyembuhkan matanya, tetapi terlebih lagi Tuhan sudah memelekkan mata hatinya yang buta.

Perkataan pengemis itu menjadi terkenal sekali melalui lagu Amazing Grace yang ditulis oleh John Newton “I was blind but now I see”. Tentu John Newton bukan mengacu kepada matanya yang buta, karena dia secara fisik tidak buta matanya, tetapi dia berbicara tentang mata hatinya yang dulu buta, namun sekarang melihat dan mengenal siapakan Kristus.  Itulah yang Tuhan inginkan dan mau nyatakan kepada kita saat ini. Kemuliaan

Allah yang paling puncak boleh kita kenal melalui penderitaan-Nya, kematian-Nya dan kebangkitan-Nya. Tentu cerita ini ditulis di dalam terang saat Kristus sudah mati dan sudah bangkit dari kematian. Kalau kita bertanya seperti murid-murid kepada Tuhan “Siapakah yang berbuat dosa sehingga Yesus sedemikian menderita di kayu salib?” Maka jawabannya adalah bukan karena dosa Dia. Tetapi karena dosa saudara dan saya. Seperti di dalam lagu:

Upon the cross extended, See, world, thy Lord suspended,

Thy Savior yields His breath. The Prince of Life from heaven

Himself hath freely given To shame and blows and bitter death.

 

I caused Thy grief and sighing By evils multiplying

As countless as the sands. caused the woes unnumbered

With which Thy soul is cumbered, Thy sorrows raised by wicked hands.

 

Karena dosa kita maka Dia menderita mati di kayu salib. Ini adalah penyebab penderitaan Kristus, tetapi ini sekali lagi bukan jawaban yang ultimate. Seperti Tuhan Yesus katakan bukan engkau mencari penyebabnya, tetapi itu semua terjadi supaya pekerjaan Allah dinyatakan dalam dia (Yoh 9:3).

Waktu kita menerima perjamuan kudus, biarlah kita bukan hanya menyadari akan dosa-dosa kita yang dihapus dan ditanggung Yesus di atas kayu salib, tetapi kita boleh juga melihat pekerjaan-Nya yang dinyatakan di atas kayu salib. Kita boleh menyaksikan kemuliaan-Nya yang dinyatakan di atas kayu salib, mengerti akan murka Allah yang dahsyat terhadap dosa. Ketika melihat Yesus yang dipaku di atas kayu salib kita boleh menyadari murka Allah yang besar terhadap dosa. Sekaligus kita boleh mengerti kasih-Nya yang begitu besar kepada saudara dan saya. Kita menyadari kematian-Nya yang mematikan kematian. Kuasa yang terbesar yang mencekam manusia yaitu kematian dan semua orang akan mati, tetapi melalui

Kristus mematikan kematian melalui kematian-Nya. Melalui kematian-Nya itu saja kita boleh memperoleh hidup baru melalui Roh Kudus. Ketika kita mendengar Injil Kristus dan Roh Kudus bekerja di dalam hati kita, dan mempersatukan kita dengan Kristus, maka kita sadar bahwa manusia kita sudah mati bersama-sama dengan Kristus. Sehingga aku hidup bukan aku sendiri yang hidup melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.

 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya