Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Merdeka dari Perbudakan Dosa

Ibadah

Merdeka dari Perbudakan Dosa

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 3 Desember 2017

Bacaan Alkitab: Yoh 8:31-36, Kolose 2:13-15

Kita sudah berbicara tentang perkataan yang penting dari Tuhan Yesus yang dipakai oleh lebih dari 22 Universitas/College di seluruh dunia, yaitu “veritas vos liberabit” (kebenaran itu akan memerdekakan kamu). Ravi Zacharias berkata bahwa paling sedikit ia sudah berkhotbah di tiga universitas yang memakai motto ini. Ketika ia mengunjugi universitas-universitas tersebut ia bertanya kepada mahasiswa-mahasiswa disana apa arti dari motto universitas mereka. Banyak mahasiswa yang tahu apa artinya. Lalu kemudian Ravi mengatakan kalimat selanjutnya: “Saudara tahu darimana kalimat itu diambil?”. Maka mulai banyak dari mereka yang tidak tahu, meski ada sebagian mahasiswa yang masih bisa menjawab. Kemudian ia bertanya lagi kepada orang-rang yang bisa menjawab ini: “Kamu tahu perkataan yang dikatakan Tuhan Yesus ini tidak lengkap, apakah kamu tahu kalimat sebelum kalimat ini?”. Maka tidak ada satupun yang bisa menjawabnya. Kalimat sebelum kalimat ini adalah “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yohanes 8:31-32). Ravi Zacharias kemudian mengatakan banyak orang ingin kebenaran yang akan memerdekakan; banyak orang ingin hasil dari kebenaran yaitu merdeka dan sungguh-sungguh merdeka. Tapi bahkan mereka tidak tahu dari mana kemerdekaan itu. Banyak orang menginginkan hasil daripada kebenaran. Tetapi mereka tidak tahu sumber dari kebenaran.

Biarlah kita bukan orang yang hanya menginginkan hasil daripada kebenaran itu. Tetapi kita mengetahui dan menginginkan sumber dari kebenaran itu yang memerdekakan kita. Seperti yang Tuhan Yesus katakan dalam Yoh 8:36: “Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.”, kemerdekaan itu berasal dari Kristus sendiri. Ayat sebelumnya mengatakan jikalau engkau tinggal didalam firman-Ku maka kamu akan merdeka. Maka kemerdekaan sejati adalah ketika kita sungguh-sungguh mengenal dan percaya kepada Kristus dan hidup didalam  firman Kristus. Diluar Kristus dan kebenraran firman-Nya, tidak ada kemerdekaan yang sejati. Biarlah kita percaya bahwa ketika kita percaya kepada Kristus, kita benar-benar menerima kemerdekaan yang sejati.

Kita akan menggali prinsip ini dengan lebih dalam dengan merenungkan bagaimana kemerdekaan yang Anak berikan itu berdampak didalam tiga relasi didalam hidup kita. Pertama, bagaimana kemerdekaan itu memberi dampak pada relasi kita dengan Tuhan. Kedua, bagaimana kemerdekaan itu memberi dampak pada relasi kita dengan sesama manusia. Ketiga, bagaimana kemerdekaan itu memberi dampak pada relasi kita dengan diri kita sendiri.

Hal pertama yang kita mau renungkan adalah bagaimana kemerdekaan yang Kristus berikan berdampak kepada relasi kita dengan Allah. Kita semua dulu adalah budak dari dosa. Dosa menyatakan kuasanya dalam memperbudak kita dengan menguasai hati kita dan akhirnya akan membawa kita kepada maut. Tidak ada orang yang bisa lepas dari kematian dimana hal ini menyatakan kuasa dosa sampai hari ini. Terlebih lagi dosa menguasai hati dari setiap manusia.  Yeremia mengatakan “betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?” (Yeremia 17:9). Untuk mengilustrasikan hal ini, pikirkanlah seorang yang paling licik yang paling kita benci. Maka ketika saudara memikirkan tentang orang itu, saudara mengerti bahwa hati kita lebih licik daripada orang itu. Betapa liciknya hati yang diperbudak dan dikuasai oleh dosa, lebih licik dari segala sesuatu. Rasul Paulus banyak berbicara tentang manusia lama, yang adalah manusia di dalam totalitasnya dikuasai oleh dosa.  Dosa menguasai kita sampai keseluruhannya dengan memakai berbagai cara.  Bahkan dosa memakai hukum Allah yang suci itu untuk memperbudak manusia. Paulus mengatakan dalam kitab Roma bahwa ia tidak tahu apa itu mengingini sampai hukum Allah mengatakan “jangan mengingini” (Roma 7:7). Ketika firman Tuhan yang suci dan benar ini datang kepada orang yang berdosa, justru malah memunculkan rupa-rupa keinginan didalam diri.

Pendeta Stephen Tong pernah memberi ilustrasi akan seorang ayah yang sangat menjaga akan anaknya. Setiap kali suat kabar datang ke rumah setiap hari, sang ayah selalu membaca terlebih dahulu surat kabar itu. Ayah ini tahu bahwa surat kabar itu banyak berita-berita yang mengerikan. Ada pembunuhan, perampokan,  pemerkosaan, ada pendeta yang memperkosa akan anak-anak. Maka ketika ia melihat berita berita yang seperti itu, dia mulai khawatir kalau anaknya membaca berita-berita yang negatif ini. Maka ayah ini memotong berita-berita yang negatif ini dari surat kabar tersebut. Sehingga ketika anaknya bangun untuk membaca surat kabar, dia melihat bahwa surat kabar itu memiliki banyak lubang. Ayah ini berpikir kalau dia membuang hal-hal yang negatif, hal ini akan menjadikan anaknya menjadi lebih baik dan tidak terstimulir untuk melakukan hal yang negatif. Tapi saudara tahu apa yang terjadi? Ketika saudara menempatkan diri sebagai anak itu, apa yang timbul dalam hatimu? Saudara tentu ingin tahu apa bagian yang lubang itu. Sama halnya anak itupun tidak tertarik dengan berita positif yang ada disitu. Dia ingin mengetahui apa yang tidak boleh ia baca itu. Maka ia pergi ke tempat tetangganya untuk melihat koran tentangganya, dan hanya melihat bagian yang hilang tersebut.

Saudara-saudara itulah hati manusia. Dosa menguasai hati kita, ketika firman yang baik itu datang kepada kita malah memunculkan keinginan melawan kehendak Tuhan itu. Oleh sebab itu persoalan perbudakan dosa tidak bisa dibebaskan dengan hukum Taurat, bahkan dengan perintah-perintah yang baik yang datang kepada kita. Hukum Taurat adalah hukum yang baik. Tetapi ketika hukum Tuhan yang baik itu datang kepadaku, Paulus katakan, justru dosa menjadi hidup dan saya menjadi mati. Karena didalam hatiku ada hati yang ingin memberontak kepada Tuhan, yaitu hati yang dikuasai dan diperbudak oleh dosa.

Ujung dari hal ini adalah dihasilkannya kematian. Kematian adalah upah atau gaji yang dengan setia dibayar oleh dosa kepada kita. Kematian adalah gaji yang dibayar atas pelayanan yang dilakukan oleh kita terhadap dosa. Dengan kata lain upah dosa adalah mati. Seperti pada waktu kita bekerja setiap hari, setiap akhir minggu atau dua minggu atau akhir bulan kita akan pasti mendapatkan gaji. Kerja akan mendapatkan upahnya yaitu gaji. Demikian juga ketika kita berdosa upahnya itu pasti akan diberikan. Ketika manusia mati secara fisik, kita melihat fisik itu menjadi hancur. Ini adalah pembalikan dari penciptaan Tuhan yang mengubah dari debu menjadi manusia karena ketika mati tubuh akan hancur kembali menjadi debu. Ketika manusia mati, Tuhan mengingatkan bahwa upah dosa adalah maut dan berarti kita dikuasai dosa.  Meski pertama kali kematian itu adalah kematian secara rohani, yaitu terpisah dari Allah. Kemudian akan nyata melalui kematian kita secara fisik. Kalau tidak ada anugerah Tuhan sebelum kita mengalami kematian secara fisik (dimana itu dinyatakan ketika kita tidak mengenal dan tidak percaya kepada Tuhan), kita akan mengalami kematian yang ketiga yaitu eternal death; kematian selama-lamanya terpisah dari Tuhan. Itu artinya kematian, yaitu terpisah dari Allah sang Sumber Hidup itu.

Di dalam Kolose 2:13-15, dosa menyatakan kuasanya dalam memperbudak manusia dengan cara lain. Paulus ingin mengatakan khususnya dalam ayat 14  bahwa dosa memperbudak kita dengan mendakwa kita dengan surat hutang. Dosa itu seperti membawa surat hutang berdasarkan perintah dan hukum Taurat itu sendiri dan mengatakan: “Engkau sudah berhutang, engkau sudah bersalah kepada Allah bukan? Kamu sudah melanggar hukum Taurat bukan?”. Seakan-akan sambil mengibas-kibaskan surat hutang itu dosa berkata: “Lihat! kau sudah berdosa bukan? Dan Alkitab mengatakan bahwa upah dosa adalah maut!”. Surat hutang itu kemudian ditamparkan dimuka kita dan diberikan kepada kita. Hal ini menggambarkan ketika kita berhadapan dengan perintah Tuhan yang suci, tidak ada jalan lain selain maut karena hukuman dosa adalah maut. Terlebih lagi tidak ada diantara kita yang tidak berdosa karena tidak ada diantara kita yang tidak pernah melanggar hukum Taurat. 

Namun Kolose mengatakan kepada kita bahwa Kristus mengambil surat hutang itu dan memakukannya di atas kayu salib. Inilah yang dikerjakan Kristus dalam Kolose pasal 2 ini. Paulus ingin mengatakan: “Lihatlah Anak Tunggal Allah yang dipakukan diatas kayu salib. Ketika engkau beriman kepada Dia, maka hutang itu sudah dibayar lunas diatas kayu salib”. Barangsiapa di dalam Kristus, engkau benar-benar merdeka tanpa berbuat apapun karena semua sudah dikerjakan Kristus di atas kayu salib. Tuhan Yesus mengatakan ketika Anak itu membebaskan kamu, maka kamupun benar-benar bebas. Mungkin beberapa dari kita tidak sungguh-sungguh mengerti dan mengalami kebebasan yang dikatakan oleh Kristus ini.  Apa artinya benar-benar merdeka? Kalau malam hari ini kamu mati, kamu akan kemana? Cukup banyak orang yang mulai bingung menjawab pertanyaan ini. Pada umumnya mereka akan menjawab: “Ya seharusnya ke surga sih”. Namun mengapa ada ketidakyakinan ini? Maka cukup banyak orang yang menjawab “Karena masih banyak dosa saya.”. Jabawan ini adalah jawaban banyak dari saudara. Karena waktu kita melihat hidup kita, kita melihat masih banyak dosa, ketidaksempurnaan yang kita lakukan didalam dunia ini.

Tetapi ini artinya kita tidak sungguh-sungguh mengerti bahwa kita dibenarkan itu adalah hanya karena anugerah, hanya melalui iman, dan hanya didalam Kristus. Artinya kita dibenarkan semata-mata karena anugerah yang Tuhan berikan kepada kita, didalam Kristus yang sudah memakukan surat hutang itu bagi kita dan kita menerimanya hanya dengan iman. Iman ini bukanlah perbuatan, tetapi tangan kosong yang terulur yang berkata “Berbelas kasihanlah Tuhan kepadaku, karena aku adalah orang yang berdosa”.  Maka tidak ada bagian kita sedikitpun, jasa kita sedikitpun, perbuatan baik sedikitpun, yang kita lakukan supaya kita boleh dibenarkan.

Paulus mengatakan Kristus mati bagi kita ketika kita masih berdosa. Roma pasal 5 mengatakan mungkin ada orang yang mau mati bagi orang baik, karena orang baik itu berarti orang itu baik bagi saya. Tetapi Paulus mengatakan tidak banyak orang yang mau mati bagi orang yang benar. Karena yang benar itu belum tentu saya rasa baik. Tetapi Paulus mengatakan bahwa kita bukan hanya tidak baik tetapi juga tidak benar. Kita adalah orang berdosa yang adalah musuh daripada Allah. Kristus mati bagi orang berdosa sepertimu yang adalah musuh daripada Dia. Tidak ada apapun bagian kita ketika kita dibenarkan oleh Kristus. Tidak ada yang bisa kita lakukan supaya Allah lebih mengasihi kita. Pikirkan kalimat ini.

Karena Allah sudah mengasihi kita ketika kita masih berdosa. Karena Allah sudah mengirimkan Anak-Nya yang tunggal untuk mati bagi kita ketika masih menjadi musuh daripada Allah. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih Allah yang menyerahkan nyawanya bagi manusia berdosa. Tidak ada perbuatan baik kita sedikitpun yang menjadikan kita lebih layak dihadapan Tuhan. Diatas kayu salib Allah sudah menyatakan betapa dalamnya, tingginya, lebarnya, luasnya kasih Allah kepada kita. Ini pekerjaan Tuhan semata-mata, ini karya Kristus semata-mata diatas kayu salib bagi kita. Kita hanya menerima pekerjaan Tuhan, dan menerima  dengan tangan yang hampa. Kita hanya berseru kepada Tuhan: “Have mercy on me o Lord. For I am a sinner.”. Orang yang demikian adalah orang yang dibenarkan Tuhan. Harap kebenaran itu tertanam didalam hati kita, bahwa Tuhan sudah mengasihi kita sampai puncak ketika kita masih berdosa.

Kebenaran ini akan memerdekakan kita seluas-luasnya dan sebebas-bebasnya. Bahkan Dia yang sudah mati bagi kita terus akan menjadi pembela kita. Sehingga ketika setan mengingatkan dan menuduh kita akan dosa kita, biarlah kita ingat bahwa Kristus bukan hanya sudah mati bagi kita, tetapi Dia menjadi pembela kita yang berdoa bagi kita dan berkata: “Aku sudah membayar hutang dengan lunas, dan mereka yang sudah beriman dan dipersatukan dengan-Ku maka mereka sudah bebas betul-betul bebas.”. Tentu ini memberi kita pengaruh yang besar didalam hidup kita dalam dunia ini.

Kemudian kita bisa mengerti kebenaran ini dari sisi yang lain. Karena arti dari benar-benar merdeka itu adalah kita sekarang menjadi budak Kristus. Ini bukan trik daripada Allah, tetapi inilah arti benar-benar merdeka. Karena ketika Tuhan membebaskan kita dari perbudakan dosa sehingga bahkan kematian pun tidak bisa memisahkan kita dari kasih Allah, kita tidak menjadi otonomi. Karena ketika kita menjadi otonomi, kita akan menjadi budak daripada diri kita sendiri. Ketika Tuhan membebaskan kita, kita tidak menjadi hukum bagi diri kita sendiri tetapi kita menjadi budak daripada Kristus. Roma 1:1 Paulus mengatakan “Dari Paulus budak Yesus Kristus.”. Paulus sangat mengerti jati dirinya sebagai budak daripada Kristus. Ia menyadari ketika ia menjadi budak Kristus, inilah satu-satunya perbudakan yang membebaskan dia dengan sungguh-sungguh. Christ is the only one in the universe who can control us without destroying us. Only under the mastery of Christ love, does the slave attain true liberty. Biarlah kita juga mengerti kebenaran ini dari aspek ini.

Sekali lagi ketika kita menjadi budak Kristus, ini bukanlah trik Tuhan yang seolah-olah memberikan kita kemerdekaan tetapi sebenarnya kita tetap menjadi budak. Tidak, karena ketika kita menjadi budak Kristus itulah kita betul-betul merdeka. Diluar perbudakan kepada Kristus maka kita akan menjadi budak orang lain, maupun kita akan menjadi budak bagi diri kita sendiri. Tetapi ketika kita menyadari kalau kita adalah budak daripada Kristus dan menyadari bahwa Dia menebus kita karena kasih-Nya mati bagi kita, kasih Tuhan itu menggerakan dan membebaskan kita. Sehingga kita boleh mentaati hukum Taurat justru karena kita telah dibebaskan dari hukum Taurat.

Hukum Taurat yang diberikan dilepas dari kematian Kristus adalah hanya akan memperbudak kita. Meskipun hukum Taurat itu benar karena itu adalah refleksi dari karakter Allah itu sendiri, tetapi kalau hukum-hukum itu datang kepada kita dilepaskan daripada karya Kristus maka hukum itu datang memperbudak kita menuduh kita “Engkau bersalah dan harus dihukum mati.”. Namun justru Kristus datang membebaskan kita dari kutuk hukum Taurat itu dengan mengalami kutuk itu didalam diri-Nya sendiri. Ketika kita dibebaskan dari kutuk itu, kita justru menjadi orang yang betul-betul merdeka untuk mentaati huum Taurat.

Salah satu kisah yang mengilustrasikan hal ini adalah kisah seorang budak yang diperlakukan dengan kejam oleh tuannya dan disiksa setengah mati sehingga menyebabkannya menjadi begitu kurus, sakit dan begitu lemah. Kemudian karena dia sudah hampir mati, dia ditinggalkan oleh tuannya yang kejam itu dipinggir jalan. Namun kemudian ada seorang tuan yang lain yang berjalan di pinggir jalan itu. Dia melihat budak itu sudah hampir mati dan membawa pulang budak itu, mengobatinya, memberi makanan yang baik, dan memberikan dia istirahat yang baik. Setelah berhari-hari berminggu-minggu budak itu mulai pulih. Penyakitnya mulai sembuh dan dia mulai menjadi kuat. Setelah dua bulan, dia menjadi kuat sekali dan kemudian dipanggil oleh tuannya. Budak ini berpikir ia dipanggil tuannya untuk membayar hutangnya kepada tuan tersebut dan berfikir: “Dengan segala kebaikannya sekarang waktunya saya bekerja membanting tulang untuk tuanku”. Tetapi ternyata tidak, tuannya malah berkata: “Semua yang kau perlukan untuk hidup aku sudah siapkan, maka sekarang kamu boleh pergi tinggalkan rumah ini dan pergi sesuai dengan keinginanmu.”. Maka dia kaget sekali dan sekaligus senang sekali. “Sekarang justru waktunya aku bebas, aku benar-benar bebas. Semua kesehatan dan kekuatanku sudah kembali dan bahkan ia memberikan segala sesuatunya untuk hidup didalam beberapa bulan kedepan. ”, pikir budak ini. Budak inipun berterimakasih kepada tuan ini dan pergi keluar. Sambil berjalan keluar ia bernyanyi “Sekarang aku sudah bebas, sekarang aku sudah bebas!”. Tetapi waktu ditengah-tengah jalan, dia mulai sadar dan berpikir:  “Kemana aku harus pergi?”. Maka ia sadar bahwa tidak ada tuan yang memperlakukannya seperti ini, bahwa ia sudah pergi kepada satu tuan kepada tuan yang lain dan terus diperlakukan dengan semena-mena. Ia tidak pernah menemukan tuan yang begitu mengasihi dan bahkan membebaskan untuk melakukan apa yang ia inginkan. Maka ia sadar akan hal yang harus ia lakukan. Ia kembali kepada tuan itu, tersungkur didepan kakinya, dan mengatakan: “Aku akan menyerahkan seluruh hidupku bagimu karena engkau sudah mengasihi aku demikian rupa. Sekarang aku akan mentaati engkau karena aku tahu engkau adalah tuan yang baik bagiku”.

Demikian juga kasih Kristus meguasai hati kita sehingga kita mentaati segala perintah-perintah Tuhan yang baik. Tetapi persoalannya adalah hati kita yang tidak percaya itu semua adalah bagi kebaikan kita.  Oleh sebab itu baiklah kita melihat kepada salib dan mengerti bahwa Tuhan itu baik. Sehingga, kita boleh mentaati firman-Nya karena kasih Tuhan yang ada didalam hati kita. Kasih Kristus yang ada didalam hati kita mendorong kita untuk mentaati hukumnya yang adalah baik itu.

Kebenaran inipun akan membawa dampak bagi relasi kita dengan orang lain. Satu contohnya bisa kita lihat dari kehidupan Paulus. Bagaimana relasi dia dengan orang lain dalam relasi perbudakan ini secara dramatis itu diceritakan didalam kitab Galatia, yaitu ketika Paulus menegur akan Petrus yang adalah rasul paling senior. Waktu itu Paulus berkumpul dengan orang-orang tak bersunat atau bukan Yahudi. Tetapi ketika Yakobus, salah satu pilar dari orang Yahudi sang rasul itu, dan orang-orang rasul dari Yerusalem datang ke Anthiokia, Petrus meninggalkan persekutuan dengan orang-orang non Yahudi itu. Karena Petrus bersekutu dengan orang-orang yang tak bersunat, dia merasa kalau dia akan dipandang secara negatif oleh rasul-rasul di Yerusalem itu. Maka Paulus menegur Petrus muka dengan muka karena bagaimana Petrus memberitakan injil kebebasan sedangkan Petrus sendiri belum bebas dari perbudakan pandangan orang lain kepadanya.

Petrus masih ada sisa-sisa fear of man didalam dirinya. Kita tahu ketika Petrus menyangkal Tuhan Yesus tiga kali karena dia takut pandangan orang terhadap dirinya. Tentu ini juga adalah pergumulan dari kita semua. James Doughson mengatakan 90% konsep diri kita itu dibangun dari apa yang orang lain pikir tentang diri kita. Tetapi bagi Paulus yang sudah mengerti akan kebebasan sejati didalam Kristus dan menyadari bahwa Kristus adalah satu-satunya tuan didalam hidup dia, tidak ada siapapun yang bisa memperbudaknya karena slavery to Christ leave no room for the slavery of man. Inilah kebebasan kita yang betul-betul bebas. Kita tidak diperbudak oleh pandangan orang lain suami, isteri, bahkan anak-anak kita.

Tentu ada orang bisa menafsirkan secara berbeda teguran Paulus kepada Petrus. Bahwa Paulus sedang menyatakan ego-nya dihadapa jemaat Galatia dan juga kepada Petrus. Ada orang yang menafsirkan bahwa Paulus ingin mengatakan “Lihat, Petrus rasul paling besar pun aku berani tegur muka dengan muka” ketika ia menegur Petrus. Tentu ini penafsiran yang salah sama sekali. Karena bagi Paulus apa yang dikatakan oleh Kristus tuannya itu, jauh lebih penting dari segala pendapat orang. Jauh lebih penting bahkan dari pandangan dirinya sendiri. Dalam hal ini Tim Keller memberi komentar kepada Paulus: “I don’t care what others think, I don’t care what I think, I only care what Chtist thinks of me.”. Tentu orang banyak jatuh dalam perbudakan diri. Mungkin kita tidak takut terhadap siapapun tetapi sebenarnya kita jatuh dalam perbudakan diri. Ketika diri kita memperbudak diri kita disatu sisi diri kita menjadi tuan, tapi disisi lain diri kita menjadi budak. Kalau kita hanya berpikir bahwa yang paling penting adalah apa yang aku pikirkan, maka sesungguhnya pasti kita dipengaruhi oleh dunia ini dan ujungnya kita akan memuliakan diri dan bukan Tuhan. Orang seperti ini adalah orang yang dikuasai oleh dosa.

Seorang penulis mengatakan “Man is always a servant, never more so than when he thinks he is a master.”. Beberapa bulan terakhir ini kita mendengar berbagai macam skandal seks dimana-mana. Orang-orang terkenal di Holywood dan dimana-mana terbongkar skandal seks-nya; orang-orang yang begitu berpengaruh dan orang-orang kaya, orang-orang yang merasa ia tidak diperbudak dan takut terhadap siapapun. Tetapi akhirnya orang-orang seperti demikian diperbudak oleh dirinya sendiri dan ujungnya adalah self-destruction.

Hanya Kristus yang bisa membebaskan kita dari perbudakan diri kita sendiri. Hanya Kristus yang bisa membebaskan kita dari perbudakan orang lain. Hanya Kristus yang bisa membebaskan kita dari perbudakan dosa. Bahkan hanya Kristus yang membebaskan kita dari perbudakan kematian. Ada satu lagu yang mengatakan ketika aku betul-betul merdeka adalah ketika aku dibebaskan oleh Kristus dan aku menjadi budak Kristus. Lagu ini mengatakan

Make me a captive Lord, that then I shall be free. Force me to render up my sword then I shall conquer be. I sink in life’s alarm when by myself I stand. Imprison me within Thine arms and strong shall be my hand. My heart cannot freely move, till Thou hast wrought its chain. Enslave it with Thy matchless love, and deathless it’s shall reign”.

Ketika kita betul-betul bebas, maka sebenarnya baru kita bisa bebas untuk mengasihi orang lain; only by being freed from them, could he be free for them. Sekali lagi, contoh dari Paulus mengatakan demikian: “Sungguhpun aku bebas dari semua orang, aku menjadikan diriku budak dari semua orang supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang” (1 Korintus 9:19). Hal yang sangat paradoks hidup Kristen itu. Khususnya didalam relasi kita dengan orang lain. Justru ketika kita bebas tidak perbudak oleh keinginan orang lain, kita justru bebas untuk mengasihi mereka. Terlebih lagi Paulus mengatakan “aku menjadikan diriku budak bagi semua orang”.  Biasanya budak tidak pernah secara sukarela dan bebas menjadi budak. Tetapi Paulus menyadari bahwa ia bebas dari semua orang, tetapi ia dengan sukarela dan sengaja menjadikan dirinya budak dari semua orang. Itulah artinya sungguh-sungguh bebas, merdeka didalam Kristus yang sudah memerdekakan kita. Yaitu kita boleh bebas, bebas mengasihi orang-orang di sekeliling kita.

Biarlah di dalam masa-masa natal ini, kita yang sudah mengalami kemerdekaan sejati didalam Kristus tidak lagi menjadi budak bagi siapapun di dunia ini. Biarlah kita mengikuti teladan Paulus yang menjadikan diri kita budak bagi semua orang supaya kita boleh memenangkan sebanyak mungkin orang kepada Kristus. Didalam hari-hari natal biarlah kita mengingat, mendoakan orang-orang disekeliling kita. Keluarga dan tetangga kita masih banyak yang belum percaya kepada Tuhan. Biarlah kasih Kristus menguasai hati kita sehingga kita boleh mengasihi mereka. Ada kesempatan untuk memberitakan injil kepada mereka, ada kesempatan untuk membawa mereka ke gereja untuk mendengar firman. Maka bawalah mereka ke gereja memberitakan firman Tuhan yang sejati, sehingga mereka boleh mengenal Tuhan dan mengalami kemerdekaan yang sejati.

                                                                               

Ringkasan oleh David Hartana | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya