Ibadah

Sola Scriptura

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 1 Oktober 2017

Bacaan Alkitab: Yoh 7:53-8:11

Bacaan Alkitab kali ini sangat unik karena bagian ini sebenarnya tidak ada di dalam naskah aslinya. Kalau kita perhatikan Alktab terjemahan NIV atau ESV menaruh bagian ini di dalam kurung, bahkan ada terjemahan lain yang menaruh bagian ini hanya di footnote. Kalau saudara membaca di dalam terjemahan LAI, saudara tidak mengetahui apa yang terjadi di situ, dan menganggap bahwa bagian ini sama saja dengan bagian-bagian yang lain. Saya percaya saudara sudah pernah membaca bagian ini namun mungkin belum pernah mengetahui keunikan bagian ini.

Pembahasan kali ini saya kaitkan dengan Sola Scriptura. Khususnya dengan keunikan bagian ini, dan juga aplikasinya di dalam hidup kita. Kisah ini memang tidak ada di dalam naskah aslinya, namun ditambahkan sekitar abad ke lima atau ke enam. Mengapa bisa ditambahkan? Kalau ditambahkan lalu bagaimana dengan otoritas Alkitab. Hal ini mengarahkan kita untuk mengerti apa itu artinya Sola Scriptura.

Pendapat ahli-ahli Perjanjian Baru seperti DA Carson, Leon Morris, Andreas Kostenbergen, dll yang merupakan ahli-ahli yang terbaik dalam Perjanjian Baru , menyatakan bahwa bagian ini adalah yang ditambahkan ke dalam Alkitab.

DA Carson mengatakan seperti ini: mesti ada usaha keras untuk membuktikan bahwa narasi ini adalah orisinal, bahwa bagian ini adalah bagian dari Injil Yohanes, tetapi bukti-bukti yang ada tidak mendukung hal itu. Karena itu banyak terjemahan Alkitab dengan tepat menaruhnya di dalam kurung, atau menaruhnya di footnote.

Bagaimana kita mengetahui bahwa bagian ini adalah tambahan? Saya akan membahas sedikit mengenai the science of textual criticism, dan kemudian mengkaitkannya dengan Sola Scriptura.

Mengapa bagian ini dikatakan sebagai tambahan? Karena kisah ini tidak ada di dalam manuskrip-manuskrip Alkitab sebelum abad ke lima. ESV memberikan suatu footnote yang mengatakan the earliest manuscript did not include this part. Bagaimana ahli-ahli itu tahu bahwa sebelum abad ke lima, bagian ini tidak ada di dalam manuskrip?

Perjanjian Baru yang kita miliki sekarang, pertama-tama ditulis dalam bahasa Yunani. Alkitab perjanjian baru pertama kali dicetak pada tahun 1516, yang dekat sekali dengan peristiwa reformasi, waktu Martin Luther memakukan 95 tesisnya di pintu Gereja Wittenberg pada tahun 1517. Cetakan pertama kali dilakukan oleh Erasmus pada 1516, karena mesin cetak baru ditemukan kira-kira 100 tahun sebelumnya oleh Guttenberg.

Sebelum dicetak secara massal, Alkitab disalin melalui tulisan tangan. Disalin oleh berbagai macam orang, dengan berbagai macam cara, sampai tersebar ke mana-mana. Injil Yohanes yang ditulis oleh tangan Yohanes sendiri sampai sekarang tidak ditemukan. Namun dalam hal ini kita bisa melihat providensia Roh-Kudus. Saudara dapat membayangkan kalau tulisan tangan Yohanes itu ada sampai sekarang, mungkin seluruh orang akan berbondong-bondong melihatnya, dan mungkin akan membuat tulisan tangan itu menjadi berhala.

Jadi yang ada adalah salinan-salinan dari tulisan tangan Yohanes itu.  Sebagai contoh ada salinan uncial, yang ditulis dengan huruf kapital Yunani, ada salinan minuscule, yang ditulis dengan huruf kecil Yunani. Ada sebagian kecil salinan yang ditulis di atas papyrus, yang terbuat dari pohon. Ada juga salinan dalam bentuk lectionary, yang ditulis untuk public worship. Jadi paling sedikit ada empat bentuk daripada salinan Alkitab, ada 322 uncial teks, 2907 minuscule teks, 2445 lectionary, 127 papyrus. Seluruhnya ada 5801 salinan Alkitab. Seluruhnya ditulis dengan tangan, dan tersebar di berbagai perpustakaan di seluruh dunia.

Ini adalah sesuatu yang mengherankan dan juga mengagumkan. Tidak ada buku sejarah kuno yang memiliki salinan begitu banyak. Buku lainnya disalin paling banyak 20 salinan. Perjanjian Baru disalin 5801 kali.

Banyaknya salinan ini memunculkan masalah tetapi sekaligus memberi jawaban dari masalah itu sendiri. Masalahnya adalah salinan-salinan itu tidak semuanya sama persis, ada perbedaan-perbedaan di tempat yang berbeda-beda. Kalau tulisan saya disalin 100 orang, pasti banyak yang berbeda. Tetapi dengan banyaknya salinan itu memberikan suatu solusi. Waktu ahli-ahli itu membandingkan salinan yang begitu banyak, mereka bisa menentukan dengan cukup akurat yang mana yang orisinal.

Meskipun banyak variasi dari salinan-salinan itu, tetapi salinan-salinan itu mengkoreksi satu sama lain. Karena hampir tidak mungkin semua salinan itu membuat kesalahan di tempat yang sama. Kalau 100 orang menyalin tulisan saya, maka hampir tidak mungkin ke 100 orang itu salah menyalin di bagian yang sama. Ini adalah the science of textual criticism.

Saudara dapat membayangkan waktu ahli-ahli ini menyelidiki manuskrip-manuskrip Alkitab, mereka menemukan bagian yang aneh. Mereka membandingkan satu salinan dengan salinan yang lain dan bisa mengetahui yang mana yang merupakan tulisan aslinya. Jadi kita bisa mengatakan dengan keakuratan yang sangat tinggi, bahwa Alkitab Perjanjian Baru yang kita baca sekarang adalah sesuai dengan naskah aslinya, sesuai dengan apa yang ditulis oleh para Rasul yang diinspirasi oleh Roh Kudus. Sehingga kita bisa mengatakan Alkitab ini adalah Firman Allah itu sendiri.

Namun tetap ada bagian-bagian yang menjadi perdebatan para ahli. Maka kalau saudara melihat bagian-bagian itu, maka jumlah bagian-bagian itu adalah sangat kecil dibandingkan dengan keseluruhan Perjanjian Baru. Yang lebih penting lagi, adalah perbedaan-perbedaan itu tidak mengubah doktrin-doktrin yang ada di dalam Alkitab. Termasuk kisah yang kita baca kali ini. Kalau kisah ini dikeluarkan dari Alkitab, maka Alkitab tidak akan kekurangan sesuatupun, tidak akan ada doktrin yang hilang.

Kisah bagian ini tidak ada di dalam naskah aslinya. Namun meskipun kisah ini bukan bagian naskah asli Injil Yohanes, para ahli Perjanjian Baru mengatakan bahwa kemungkinan besar kisah ini adalah sungguh-sungguh terjadi, namun tidak ada di dalam naskah Yohanes. Kisah ini tersebar di bagian-bagian lain, dari pembicaraan para-rasul kepada orang-orang Kristen yang lain. Ada bukti-bukti yang menyatakan bahwa bagian ini sering diceritakan di dalam Gereja mula-mula. Detil dari kisah ini dengan jelas menyatakan kebenaran sejarah. Seluruh prinsip pengajaran bagian ini konsisten dengan bagian Alkitab yang lain. Kisah ini ada di dalam hidup orang-orang Kristen jaman itu, tetapi tidak ada di dalam naskah asli Yohanes. Kemungkinan besar bapa-bapa Gereja menganggap cerita ini adalah sangat indah, sehingga mereka memasukkan kisah ini di dalam naskah Injil Yohanes. Tetapi ada orang-orang lain yang memasukkannya di naskah yang lain, seperti menaruhnya di Injil Lukas.   

Salah seorang ahli Perjanjian Baru menyatakan “Throughout the history of the Church, it has been held that whoever wrote it, this little story is authentic, it is true, it speaks to our conditions, it is thus worth of our studying, though as not as authentic part of John’s writings.”  

Saya akan membahas kisah ini, tetapi kisah ini tidak boleh menempatkan dalam otoritas yang sama dengan bagian-bagian yang lain. Kita akan melihat bagian-bagian daripada kisah yang sangat indah ini dan mengujinya dengan bagian Firman Tuhan yang lain.

Waktu kita berbicara mengenai sola scriptura, kita berbicara tentang Alkitab secara keseluruhan. Melalui proses textual criticism kita dapat menentukan dengan keakuratan yang tinggi, naskah aslinya seperti apa. Kita juga bisa mengetahui bagian-bagian yang tidak ada di dalam naskah asli.

Kita akan merenungkan kisah ini, karena kisah ini juga adalah sesuatu yang betul-betul terjadi. Tetapi otoritas kita bukan berdasarkan apa yang betul-betul terjadi, namun otoritas kita berdasarkan kanonisasi yang Allah berikan melalui pimpinan Roh Kudus. Kisah ini bukan dasar otoritas kita, tetapi dapat menjadi echo atau penunjuk bagi Alkitab itu sendiri.

Ada tiga point penting dalam kisah ini yang menjadi echo dalam bagian Alkitab lainnya.

1)    Kengerian dari dosa

Yang saya maksud di sini adalah bukan dosa dari perempuan ini, tetapi kengerian dosa orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Mereka menangkap perempuan yang berzinah ini. Mereka mengatakan (Yoh 8:4) "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.” Saudara bisa melihat di sini kemunafikan mereka. Tuhan begitu marah kepada mereka dan terus menyerang mereka di bagian-bagian Alkitab lainnya. Sebenarnya kita melihat perempuan ini berzinah dengan siapa. Karena Ulangan 22:22 mengatakan “Apabila seseorang kedapatan tidur dengan seorang perempuan yang bersuami, maka haruslah keduanya dibunuh mati: laki-laki yang telah tidur dengan perempuan itu dan perempuan itu juga.” Orang berzinah tidak mungkin sendiri, pasti ada pasangannya. Seharusnya kedua-duanya harus mati.

Jadi ada sesuatu yang tidak beres dengan peristiwa ini. Kita tidak mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi. Ada tipu daya dari orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Kemungkinan besar perempuan ini dijebak, laki-lakinya dibiarkan pergi. Mereka tidak memiliki masalah dengan perempuan ini, namun mereka memakai perempuan ini untuk menjebak Yesus.

CS Lewis mengatakan kalau engkau pikir dosa kedagingan itu yang paling mengerikan, maka engkau salah. Dosa berzinah, berjudi itu jelas salah, tetapi dosa-dosa yang paling mengerikan selalu bersifat rohani. Ini adalah kalimat yang sangat penting untuk kita dengar. Kebanyakan orang dari kita tidak ada yang berjinah, atau mabuk-mabukkan, atau berjudi, atau melakukan dosa-dosa yang sangat jelas yang bersifat kedagingan. Tetapi kita sangat rentan terhadap dosa-dosa yang tidak kelihatan. Tidak salah untuk menekankan dosa-dosa kedagingan, tetapi terlebih penting untuk menekankan dosa-dosa spiritual.

Kesaksian Gereja di dunia ini harus menekankan hal ini. Sungguh aneh jika ada gereja yang menaruh banner “vote Yes” buat same-sex marriage. Gereja-gereja itu sudah kacau luar biasa, mereka tidak mengetahui lagi mana yang penting atau yang tidak terlalu penting. Mereka tidak mengetahui apa yang seharusnya menjadi perjuangan Gereja.

Kita juga harus berhati-hati untuk tidak didikte dengan apa yang terjadi di dunia ini. Apa yang kita perjuangkan biarlah sesuai dengan prinsip kebenaran Firman. Tuhan Yesus berkali-kali menyatakan dosa yang sangat mengerikan adalah dosa kemunafikan. Salah satu akar dari dosa adalah kesombongan, salah satu akar dari segala dosa adalah ketidakpercayaan (unbelieve). Gereja-gereja yang sesat tidak pernah menghancurkan dosa-dosa ini namun sibuk dengan apa yang dunia perbuat.

CS Lewis menyatakan bahwa dosa-dosa yang mengerikan adalah bersifat spiritual, seperti dosa yang menganggap diri lebih suci daripada yang lain, lebih penting daripada yang lain, menganggap orang lain berdosa. CS Lewis mengatakan orang yang datang ke Gereja dan menganggap diri lebih suci daripada yang lain, yang hatinya dingin, datang memuji Tuhan dengan mulutnya, orang itu lebih dekat ke neraka daripada seorang pelacur. Ini menjadi peringatan bagi kita semua.

Waktu Tuhan Yesus berbicara dengan perempuan Samaria yang memiliki lima suami (lihat Yoh 4), Dia membongkar dosanya, tetapi tidak berkata sedemikian kerasnya seperti kepada orang-orang Farisi.

Dalam Matius 23, Yesus mengatakan berkali-kali mengutuk orang Farisi. Teguran Yesus yang paling keras adalah kepada orang yang munafik, yang sombong yang menganggap diri lebih suci daripada yang lain.

Kita bisa melihat kengerian dosa ini, dan dosa-dosa seperti ini bisa menjadi kesulitan kita. CS Lewis mengatakan kadang-kadang aku menyerahkan seluruh hari kepada Tuhan, tetapi sebelum aku selesai bercukur, hari itu tiba-tiba berubah, karena hari ini adalah milikku dan aku akan melakukan apa yang aku inginkan. Merencanakan sesuai rencanaku, berjuang dengan kekuatanku, kalau Tuhan menolongku hari ini maka aku akan memberikan persembahan kepada Dia, berdasarkan uang yang aku dapat hari ini dari usahaku. Inilah kesombongan dalam hati orang yang percaya. Kita seolah-olah ingin membalas Tuhan dengan uangku sendiri, dan kita lupa dengan Sola Gracia, lupa kalau aku ada sebagaimana aku ada itu adalah karena anugerah Tuhan.

Paulus mengatakan (lihat 1 Kor 15:10) “Tetapi anugerah Tuhan itu tidak sia-sia dalam diriku, melainkan aku bekerja lebih giat daripada semua rasul.” Dalam kalimat ini seolah olah Paulus sombong luar biasa, tetapi Paulus ingin memberikan pengertian yang tepat, bukan aku tetapi anugerah Tuhan yang bekerja di dalam diriku. Paulus sangat mengerti Sola Gracia, tetapi orang-orang Farisi dan ahli Taurat justru ingin menjebak Yesus dengan tipu daya.

2)    Kristus berkuasa atas segala dosa.

Kristus berkuasa atas segala bentuk dosa, termasuk kelicikan dan kejahatan orang Farisi. Peristiwa ini adalah jebakan batman dari orang Farisi. Mereka ingin menjebak Yesus supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Mereka berkata perempuan ini kedapatan berjinah, Musa memerintahkan melempari perempuan yang sedemikian sampai mati. Apa yang Yesus bisa jawab dengan perkataan mereka. Tuhan Yesus terkenal dengan pelayanan-Nya yang penuh dengan belas kasihan. Dia mengatakan (Mat 11:28) “Marilah kepada-Ku , semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”. Jika Yesus berkata lempari dia dengan batu, sesuai perintah Musa. Maka orang-orang akan mengejek Yesus dengan berkata “Marilah kepada-Ku dan Aku akan melempari kamu dengan batu.” Tetapi kalau Tuhan Yesus berkata “Tidak boleh kamu harus melepaskan dia.” Maka mereka akan mengatakan “kami mendapat bukit bahwa kamu telah melanggar hukum Musa, Engkau tidak menghargai Perjanjian Lama, dan Engkau adalah nabi yang palsu.” – sehingga seolah-olah tidak ada jalan keluar.

Hal ini sering terjadi di dalam bagian Alkitab yang lain. Ketika orang Farisi datang kepada Yesus dan bertanya (lihat Mat 22:17-22) “Apakah kami boleh memberi pajak kepada Kaisar.” Jebakan yang sama terjadi di sini. Setiap kali Yesus diberi jebakan batman orang Farisi, Dia menyatakan Dia berkuasa atas segala bentuk dosa. Atas jebakan ini, Yesus membungkuk dan menulis dengan jari di tanah. Banyak spekulasi tentang apa yang Yesus tuliskan. Ada yang mengatakan, mungkin Yesus menulis Ulangan 22:22 yang mengatakan kedua pihak yang berzinah harus mati. Mungkin Yesus menulis bagian awal dari apa yang akan dia katakan, karena biasanya ahli hukum melakukan itu, menulis apa yang akan dia katakan. Kita tidak tahu apa yang Yesus tuliskan.

Ketika orang-orang terus-menerus bertanya kepada-Nya, maka Dia-pun bangkit berdiri dan berkata “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Tuhan Yesus membongkar kemunafikan mereka. Perkataan Tuhan Yesus menyatakan Dialah yang berkuasa mengetahui isi hati manusia, berkuasa atas seluruh rencana manusia. Saudara bisa membayangkan orang Farisi datang membawa perempuan ini dengan segala macam skema yang mereka pikirkan. Mereka berpikir sekarang Engkau tidak memiliki jalan keluar.

Dengan satu kalimat Tuhan Yesus menghancurkan semuanya. Perkataan Tuhan Yesus menusuk hati mereka. Kristus sama sekali tidak kompromi dengan hukum Taurat. Dia tidak meniadakan hukum Taurat yang menyatakan boleh menghukum dengan keras orang yang berzinah. Tetapi Dia mengembalikan hukum Taurat itu sesuai dengan maksud aslinya.

Seluruh hukum Taurat itu digenapi dengan satu kata yaitu kasih (lihat Mat 22:36-40): kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan jiwamu, kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri. Seluruh hukum Taurat disimpulkan dengan dua hukum ini. Tetapi di dalam peristiwa ini, mereka tidak menunjukkan kasih, mereka menjadi orang-orang yang kejam yang menghancurkan orang lain, dan hidup mereka penuh dengan kemunafikan.

Di antara Law and Grace, kalau kita menekankan hukum tanpa anugerah Tuhan, kita akan jatuh kepada legalism, dan kepada kemunafikan. Saya mengambil satu contoh, misalnya Ahok menjadi presiden, maka sebagai presiden dia bisa memerintahkan semua orang Indonesia harus pergi ke Gereja, baguskah itu? Bukankan Gereja mengajarkan kasih? Tetapi kalau dia menerapkan hukum seperti itu, apa yang akan terjadi? Orang-orang pasti ada yang tidak setuju, tetapi dengan ancaman, orang akan takut. Maka apa yang akan terjadi, mereka akan datang ke Gereja, tetapi hati mereka tidak. Mereka akan ke Gereja menyembah Tuhan secara luarnya saja, tetapi hati mereka jauh dari Tuhan.

Itulah yang terjadi pada orang Faris dan ahli Taurat. Mereka menerapkan hukum Taurat dengan kaku, dengan kejam, legalistic atas hukum Taurat, tetapi mereka kehilangan spirit utama dari hukum Taurat yaitu kasih dan anugerah Tuhan. Dengan perkataan Yesus yang mengembalikan spirit dari hukum Taurat, yaitu kasih, maka itu menusuk hati mereka yang paling dalam. Satu persatu dari mereka pergi, mulai dari yang paling tua.

3)    Anugerah dan keadilan Kristus.

Ketika semua sudah pergi dan perempuan itu masih ada di sana, maka Yesus bertanya (Yoh 8:10-11) "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." Saudara perlu membayangkan perempuan itu diseret oleh ahli-ahli Taurat, dengan rambut yang beruraian dan pakaian kotor, dia berpikir matilah aku, ini hari terakhirku, sebentar lagi aku akan mati dirajam dengan batu. Perempuan itu berlutut dan tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia tinggal menunggu untuk dirajam dengan batu. Namun orang-orang mulai pergi satu per satu, dan Tuhan Yesus berkata “Akupun tidak menghukum engkau”.

Saudara bisa bayangkan ini adalah suatu cerita yang menggugah hati. Tetapi saudara jangan salah mengerti tentang apa yang Yesus katakan. Tuhan Yesus tidak berkata “pergilah, Aku tidak menghukum engkau, karena perbuatan zinahmu itu doesn’t matter, atau pergilah, dan teruskanlah hidupmu seperti ini.” Namun Tuhan Yesus mengatakan “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi.”

Saudara bisa melihat anugerah dan keadilan-Nya. Keduanya kita perlukan. Kita memerlukan anugerah Tuhan pertama-tama, tetapi kita juga sadar bahwa anugerah Tuhan yang kita terima itu di dalam Kristus, karena Kristus sudah menanggung keadilan akan murka Allah. Tuhan tidak pernah berkompromi dengan dosa.

Tuhan menuntut kesucian dari kita, supaya kita boleh mengasihi Dia dengan seluruh hati, jiwa, dan kekuatan kita. Tetapi kita sadar bahwa kita tidak bisa mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan kita. Karena itu kita memerlukan anugerah Tuhan. Ketika anugerah-Nya diberikan kepada seseorang, dan orang itu mengerti akan anugerah itu, maka dia tidak mungkin hidup seperti dahulu lagi. Ketika dia sadar akan anugerah-Nya itu dia terima karena keadilan Allah dinyatakan dengan Anak-Nya yang mati di atas kayu salib demi dia, maka dia tidak mungkin hidup bermain-main dengan dosa.

Marilah kita hidup dalam kebenaran, keadilan dan kesucian Tuhan. Inilah kebenaran yang terus menerus dinyatakan dalam Alkitab. Biarlah kita sangat menghargai Sola Scriptura, sekaligus kita mengerti arti cerita firman Tuhan dalam bagian ini.

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya