Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Apakah Kamu tidak Mau Pergi Juga?

Ibadah

Apakah Kamu tidak Mau Pergi Juga?

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 27 Agustus 2017

Bacaan Alkitab: Yoh 6:63-69

Pembacaan Alkitab kali ini kita akan memfokuskan pada Yoh 6:68 – 69 yaitu perkataan Petrus sebagai respons kepada pertanyaan Tuhan Yesus (Yoh 6:67) "Apakah kamu tidak mau pergi juga?"

Dalam pembahasan Yohanes 6 secara keseluruhan, menuju akhir Yohanes 6, kita melihat semakin banyak orang orang yang tersandung dan mulai meninggalkan Kristus. Banyak dari murid-murid yang mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.

Di bagian awal pasal 6 ini ketika Tuhan Yesus memberi makan dengan 5 roti dan 2 ikan, banyak orang mengikuti Yesus. Tetapi semakin jelas Yesus menyatakan siapa diri-Nya khususnya waktu Dia mengatakan bahwa Dia adalah roti hidup yang turun dari sorga. Yesus juga makin menjelaskan apa artinya mengikuti Dia yaitu harus makan roti ini, dengan kata lain harus “…makan dagingKu dan minum darahKu”. Di sini Tuhan Yesus mau menyatakan suatu persekutuan yang sangat intim: “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam Dia”. Ini menjadi kekagetan dari orang-orang Yahudi pada waktu itu, sehingga banyak yang tersandung karena susah sekali menerima bahasa dan pengertian yang Tuhan Yesus nyatakan ini. Sebaliknya mereka mengharapkan Yesus menjadi raja dan memberi mereka makan terus, memimpin mereka melakukan revolusi dan mengalahkan Roma.

Tetapi di tengah penolakan yang begitu besar, maka paling sedikit ada 11 murid yang menyatakan iman yang sejati. Hal ini dinyatakan melalui pengakuan Petrus dalam Yoh 6:68-69. Kita akan merenungkan iman yang sejati ini: apa ciri-cirinya dan apa yang dikatakan oleh Petrus yang memberikan kepada kita pengertian yang dalam dan limpah tentang apa artinya mengikut Kristus dan apa artinya iman yang sejati.

Di dalam Yoh 6:68-69 Petrus mewakili 11 murid dalam memberikan respons dari pertanyaan Tuhan Yesus kepada mereka: “ Apakah kamu tidak mau pergi juga?”  Jawab Simon Petrus kepadanya: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? PerkataanMu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah”.

Menarik sekali perkataan dari Petrus ini; dia menjawab pertanyaan Tuhan Yesus tetapi menjawabnya dengan pertanyaan lagi. Sepertinya Petrus sudah memikirkan pertanyaan Tuhan Yesus dan mau menyatakan bahwa mereka sudah memikirkan, merenungkan dan menggumuli apa alternatif dari mengikut Yesus. Kalau mereka tidak mengikut Yesus, ke mana mereka akan pergi? Kalau tidak mengkut Yesus, kepada siapakah mereka akan pergi?

Perkataan Petrus ini mewakili banyak orang di dalam dunia ini. Mungkin di antara kita ada yang pernah menggumuli, sedang menghadapi, atau akan menghadapi pertanyaan seperti ini dalam perjalanan hidup kita: “Kalau saya tidak mengikut Engkau, tidak percaya kepadaMu: kepada siapa saya akan pergi? akan mengikut siapa?  saya akan percaya kepada siapa? saya akan pergi ke mana? apa alternatifnya daripada mengikut Kristus?”  Pertanyaan ini adalah sesuatu yang tidak salah bagi diri kita sendiri, tetapi akan menjadi salah ketika kita memilih alternatif lain di luar Kristus tanpa menguji dengan sungguh-sungguh dan hanya mengikuti keinginan hati kita yang telah tercemar dengan dosa. 

Salah satu buku yang baik kalau kita mau menguji akan hal ini adalah buku yang ditulis oleh Tim Keller “Counterfeit Gods” – when the empty promises of love, money and power let you down.

Petrus menjawab pertanyaan Tuhan Yesus dengan “Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal;” – dengan kata lain Petrus mengakui dan menyadari perkataan Tuhan Yesus dalam ayat 63 “Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup”. Petrus mengakui dan menyadari tanpa perkataan Tuhan, tanpa diri Kristus itu sendiri, tanpa Roh Kudus yang memberi kehidupan kepada dia maka dia tidak dapat berbuat apa-apa, maka dia akan mati, binasa.    

Di sini kita boleh melihat iman sejati selalu dimulai dengan penghancuran ego seseorang. Seperti salah satu kutipan dari vikaris Leonard Sidharta: “Without realising deeply that we are nothing and our hearts or lives are fundamentally empty, we cannot know God properly and fully.” Itulah sebabnya banyak orang baru sungguh-sungguh mengenal Tuhan ketika dia mengalami krisis, kegagalan, sakit yang berat, sudah hampir mati, tidak ada jalan keluar lagi. Sampai kita menyadari di luar Kristus kita tidak dapat berbuat apa-apa, kita tidak mungkin datang kepada Dia. Dalam Yohanes 15: 4a, 5b Tuhan Yesus mengatakan “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu … sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”

Dengan kata lain pengalaman krisis, gagal, bangkrut, sakit, dikecewakan orang itu sesungguhnya membuat kita sadar bahwa kita tidak lagi bisa bergantung kepada teman, pasangan kita, uang yang kita miliki, kesehatan kita sendiri, segala teknologi yang ada di dalam dunia ini, apapun di dalam dunia ini. Kita baru sadar bahwa kita sungguh memerlukan Tuhan. Seringkali ini adalah cara Tuhan menyatakan diri-Nya sebagai sungguh-sungguh makanan dan sungguh-sungguh minuman.

Panggilan Kristus supaya kita tinggal di dalam Dia dan Dia di dalam kita adalah panggilan untuk kita berbagian di dalam inner life daripada Allah Tritunggal.  Ini adalah panggilan yang mulia, yang indah, melampaui segala apa yang dapat kita pikirkan. Bagaimana caranya? Adalah dengan Kristus menjadi teladan, contoh, pusat dari seluruh apa yang kita kerjakan. Seperti Kristus telah mengosongkan diri-Nya karena ketaatan-Nya kepada Bapa dan menyerahkan seluruh hidupNya kepada Bapa sampai mati di atas kayu salib, demikianlah kita harus mengosongkan diri dari segala yang paling penting dalam hidup kita dan bahkan kita harus rela kehilangan nyawa karena Kristus. “Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.”(Matius 10:39). Kita dipanggil Tuhan untuk menyangkal diri, mengosongkan diri dari segala keinginan di luar Kristus: keinginan akan uang, seks, kuasa, nafsu, my own comfort, bermalas-malasan. Tanpa kita menyangkal diri, mengosongkan diri dari segala keinginan-keinginan ini kita tidak mungkin menjadi murid Kristus yang Tuhan inginkan.

Ini adalah hal yang tidak mudah. Namun biarlah ini menjadi doa kita. Meskipun ini tidak mudah dan perlu banyak pergumulan tetapi ingatlah bahwa penyangkalan diri kita adalah untuk kebaikan kita. Kita menyangkal diri supaya boleh berbagian di dalam kehidupan Allah TriTunggal. Kita harus mengosongkan diri, menyadari di luar Tuhan kita tidak bisa berbuat apa-apa, mati, kosong. Kita memerlukan Tuhan.

Seorang penulis mengatakan bahwa kita baru sadar bahwa Tuhan itu adalah satu-satunya yang kita perlukan ketika Tuhan adalah satu-satunya yang kita miliki. Ketika kita tidak memiliki apapun di dalam dunia ini: tidak memiliki uang, comfort, anak, istri, suami, pekerjaan, kesehatan, seringkali dalam keadaan seperti ini kita baru sadar bahwa kita membutuhkan Tuhan dan sesungguhnya Tuhan lah satu-satunya yang kita perlukan. Yang lain tidak ada asalkan kita memiliki Tuhan, kita di dalam Tuhan, mengenal Dia, dan Dia di dalam kita, maka ini adalah kesukaan terbesar dalam hidup manusia.

Perkataan Tuhan Yesus dalam Yohanes 6:67 itu juga adalah perkataan Tuhan Yesus kepada kita, tantangan Tuhan Yesus kepada kita: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Yang lain sudah pergi, meninggalkan Aku, yang lain mencari kesukaan di luar Aku, mereka pergi dan mereka tidak akan pernah menemukan kepuasan, sukacita yang sepenuhnya, sesungguhnya yang Tuhan inginkan bagi hidup manusia. Biarlah kita bisa menjawab seperti Petrus dengan berkata dari sedalam hati kita “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? PerkataanMu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah”.  

 

Ringkasan oleh Adrian Gandanegara | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya