Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Iman yang Sejati

Ibadah

Iman yang Sejati

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 3 September 2017

Bacaan Alkitab: Yoh 7:1-24

Saudara tentu sudah pernah mendengar perumpamaan anak yang hilang (Lukas 15). Dalam perumpamaan itu, salah satu yang menarik adalah sang bapa sebenarnya kehilangan dua anaknya, sehingga banyak penafsir yang mengatakan bahwa judul kisah ini adalah prodigal sons (jamak). Walaupun hanya anak yang bungsu yang meninggalkan rumah, namun sesungguhnya anak yang sulung hilang juga. Respons mereka sangat berbeda: anak yang bungsu meminta bagiannya dan pergi meninggalkan ayahnya; anak yang sulung tetap tinggal di rumah, namun dia juga tidak mengerti akan isi hati ayahnya. Kedua anak itu tidak percaya bahwa ayahnya memiliki rencana yang terbaik bagi mereka. Dan walaupun respons luarnya berbeda, tetapi isi hati mereka adalah pada dasarnya sama.

Pada bacaan alkitab kali ini juga mencatat dua kelompok yang berbeda, yang memberikan respons yang berbeda satu sama yang lain, khususnya respons mereka terhadap Yesus. Namun kedua respons yang berbeda ini keluar dari sumber yang sama, yaitu dari hati yang tidak percaya kepada Yesus Kristus.

Kelompok yang pertama adalah orang-orang Yahudi yang dikatakan pada Yoh 7:1 “Sesudah itu Yesus berjalan keliling Galilea, sebab Ia tidak mau tetap tinggal di Yudea”. Juga Yoh 7:19 Yesus mengatakan “Bukankah Musa yang telah memberikan hukum Taurat kepadamu? Namun tidak seorangpun di antara kamu yang melakukan hukum Taurat itu. Mengapa kamu berusaha membunuh Aku?"  Mereka adalah orang-orang Yahudi yang berusaha membunuh Kristus. Jelas kita mengerti bahwa mereka tidak percaya kepada Kristus. Mereka tidak suka, merasa terancam dan mau membunuh Kristus.

Tetapi kita melihat kelompok kedua yang justru sangat mengagetkan kita. Kelompok kedua ini yaitu saudara-saudara Kristus sendiri. Dikatakan dalam Yoh 7:5 mereka tidak percaya akan Yesus “Sebab saudara-saudara-Nya sendiripun tidak percaya kepada-Nya.” Yang lebih mengagetkan lagi adalah bagaimana ketidakpercayaan mereka diekspresikan dalam perkataan mereka.

Sebelum kita masuk kita melihat konteks percakapan Yesus dengan saudara-saudaranya. Konteks yang dinyatakan dalam Yoh 7:2-3 adalah hari raya pondok daun. Kalau saudara lihat dari terjemahan inggris hari raya ini dinamakan “the feast tabernacle”. Apa hubungannya tabernacle dengan pondok daun. Tabernacle itu terjemahannya adalah “Kemah suci”. Di dalam perayaan itu mereka membuat kemah-kemah atau pondok-pondok yang terbuat dari daun, karena itu disebut hari raya pondok daun dalam terjemahan Indonesia. Hari itu adalah hari thanks-giving kepada Tuhan akan panen, dan juga thanksgiving atas penyertaan Allah di dalam kemah suci sepanjang mereka di padang belantara.

Ini adalah cara Yohanes, dalam konteks ini, untuk menyatakan kehadiran Allah dulu memang di kemah suci, dan kemudian kehadiran Allah juga nyata dalam bait-Nya yang menggantikan kemah suci. Tetapi kehadiran Allah itu sekarang hadir, bukan di kemah suci atau bait Allah, namun di dalam satu pribadi yaitu Yesus Kristus itu sendiri. Yesus Kristus menyatakan kemuliaan Allah dalam diri-Nya, kehidupan-Nya, dan perkataan-Nya. Ini adalah tujuan Injil Yohanes dicatat, yaitu supaya kita beriman kepada Kristus.

Yoh 20:31 mengatakan “tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.” Jadi seluruh Injil Yohanes dicatat supaya kita percaya kepada Yesus yang adalah Mesias.

Percaya juga berarti beriman, dan dengan iman ,kita memperoleh hidup di dalam Nama-Nya. Hal ini juga bukan hanya bagi orang yang belum percaya, karena kita mengerti iman yang sejati itu bukan hanya percaya satu kali kepada Kristus, tetapi terus menerus, berdiri teguh dan memegang iman itu selama hidup kita.

1 Kor 15:1-2 mengatakan “Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri. Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu--kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya.” Ketika kita memikirkan bagian ini kita boleh percaya dengan teguh dalam iman orang yang sudah percaya.

Khususnya dalam bagian ini kita akan belajar iman yang sejati melalui saudara-saudara Yesus yang tidak percaya kepada Kristus.

Mengapa saudara-saudara Yesus dikatakan sebagai tidak percaya?

Yoh 7:5 mengatakan “Sebab saudara-saudara-Nya sendiripun tidak percaya kepada-Nya.”. Mereka adalah saudara-saudara kandung Yesus. Kita mengetahui karena setelah Yesus lahir, kemudian Maria dan Yusuf hidup seperti suami-istri biasa, dan mereka melahirkan anak-anak yang lain secara natural.

Dalam Matius 13:55 dikatakan ada empat orang saudara-saudara Yesus, yaitu Yakobus, Yusuf, Simon, dan Yudas. Yudas ini bukan Yudas Iskariot, namun Yudas saudara Yesus, yang menulis kitab Yudas. Yakobus adalah yang menulis kitab Yakobus. Saudara-saudara Yesus kemudian menjadi orang-orang yang penting di dalam Gereja. Yohanes sengaja mencatat bahwa saudara-saudara Yesus yang nantinya menjadi orang-penting dalam Gereja, sesungguhnya pada waktu itu adalah orang-orang yang tidak percaya. Yohanes ingin mengagetkan kita. Ini adalah Yakobus yang nantinya menjadi salah satu pilar Gereja Yerusalem, tetapi pada saat itupun dia tidak percaya kepada Kristus. Apalagi ketika mereka mengekspresikan bagaimana ketidakpercayaan mereka.

Yoh 7:3-4 mereka mengatakan “Berangkatlah dari sini dan pergi ke Yudea, supaya murid-murid-Mu juga melihat perbuatan-perbuatan yang Engkau lakukan. Sebab tidak seorangpun berbuat sesuatu di tempat tersembunyi, jika ia mau diakui di muka umum. Jikalau Engkau berbuat hal-hal yang demikian, tampakkanlah diri-Mu kepada dunia.”

Kalau bagian ini mengatakan mereka menyebut mukjijat Kristus hanya sebagai suatu trick saja, dan kemudian dikatakan “Sebab saudara-saudara-Nya sendiri tidak percaya kepada-Nya”, maka ini menjadi make sense.

Tetapi dalam Yoh 7:3-4, mereka percaya kepada Kristus dapat melakukan mukjijat, tetapi Yoh 7:5 mengatakan “Saudara-saudara-Nya pun tidak percaya kepada-Nya.” Perkataan Yoh 7:5 itu menunjukkan mereka tidak percaya kepada-Nya.

Ini adalah suatu yang menarik yang dipakai oleh Yohanes. Yohanes menggunakan cara ini untuk mengagetkan kita. Saudara-saudara-Nya mengatakan hal itu (Yoh 7:3-4) justru karena mereka tidak percaya.

Mengagetkan itu adalah salah satu cara yang penting untuk mengajarkan kita. Ketika kita mempelajari Alkitab, banyak hal yang mengagetkan kita.

Dalam suatu persekutuan muda-mudi, kita sedang belajar relationship di dalam konteks orang muda mencari pasangan “the perfect fit” di dalam hidup mereka. Pemuda-pemudi terus struggle untuk mencari pasangan hidup. Ada seorang penulis yang mengatakan suatu yang mengagetkan, kamu tidak perlu mencari the perfect fit karena ”You always marry a wrong person”. Waktu saya pertama kali mendengar kalimat itu saya kaget. Kamu pasti menikah dengan orang yang salah. Apa maksudnya? Bukankah kita mencari pasangan yang terbaik. Tetapi waktu saya memikirkan kalimat ini, ternyata ada benarnya juga. Apakah ini berarti kita harus cari orang yang lain, orang yang lain itupun adalah juga orang yang salah.

 Apa maksudnya You always marry a wrong person? Karena di dalam pernikahan, pasti banyak pergumulan, ada air mata, ada sakit hati, ada frustasi. Karena suami-istri adalah orang yang paling tahu akan kelemahan kita. Kedua pihak yang lemah ini pasti suatu saat akan bergesekan, bergesekan di tempat yang paling sensitive, dan di saat-saat demikian salah satu pihak pasti pernah merasa bahwa aku sudah menikahi orang yang salah. Ini adalah pengalaman semua orang yang sudah menikah.

Kemudian seorang pemuda perkata, wah bapak discourage kita. Tidak, justru ini adalah untuk mengencourage kita. Karena konteksnya adalah mencari the perfect fit.

Kalimat itu mengingatkan kita betapapun kita cari, you will always marry the wrong person, jadi kita terima saja salah satu teman dalam Gereja ini. Bukan maksudnya kita pilih yang sembarangan. Pasti kita sudah tertarik pada orang tertentu, yang cocok bicaranya. Tetapi jangan mencoba pasangan yang sempurna, karena kita akan menikahi orang yang salah. Ya, saya telah menikahi orang yang salah, tetapi kalau saudara tanya istri saya maka mungkin istri saya menjawab dia lebih salah lagi memilih suami.

Di dalam Tuhan, kita akan bergumul, meskipun kita tidak mau pasangan kita, namun itu adalah apa yang terbaik, yang sudah Tuhan sediakan bagi kita.

Kita dipaksa berubah, perubahan terjadi dalam pernikahan, karena itu saya katakan pernikahan bukan untuk orang yang pengecut. Karena itu pilihlah saja, karena anyway, you will always marry a wrong person.

Ini adalah kalimat yang mengagetkan. Ini juga cara yang sama yang Yohanes pakai untuk mengagetkan kita. Bagaimana saudara-saudara Yesus bisa mengatakan kalau Engkau bisa melakukan mukjijat, lakukan juga, jangan hanya di kota kecil, tetapi perlihatkan kepada dunia. Tetapi Yohanes mengatakan bahwa saudara-saudara-Nya tidak percaya kepada-Nya.

Apa maksudnya? Mengapa perkataan saudara-saudara Yesus menyatakan ketidakpercayaan mereka?.

Kita akan merenungkan empat petunjuk yang menyatakan natur ketidak percayaan saudara-saudara Yesus Kristus.

Semoga melalui empat petunjuk ini kita menguji diri kita, supaya kita bisa masuk kedalam hitungan orang-orang yang sungguh-sungguh percaya.

1)    Yesus pergi secara diam-diam (Yoh 7:8-10) “Pergilah kamu ke pesta itu. Aku belum pergi ke situ, karena waktu-Ku belum genap." Demikianlah kata-Nya kepada mereka, dan Iapun tinggal di Galilea. Tetapi sesudah saudara-saudara Yesus berangkat ke pesta itu, Iapun pergi juga ke situ, tidak terang-terangan tetapi diam-diam.”

Apa artinya Yesus mengatakan Aku tidak pergi kesitu? Artinya adalah Yesus tidak akan pergi dengan cara yang sesuai dengan kehendak mereka. Engkau ingin Aku menyatakan diri kepada dunia, tidak, Aku akan pergi, namun Aku akan pergi diam-diam. Tuhan Yesus mengatakan Aku akan ke sana bukan untuk menyatakan kebesaran-Ku, karena ultimately, Yesus datang ke Yerusalem untuk ditangkap dan mati di kayu salib. Engkau tidak percaya akan Aku yang seperti itu. Mereka tidak percaya Yesus yang akan ditangkap, disalib dan mati di atas kayu salib.

2)    Yesus menyatakan diri dengan pengajaran-Nya dan bukan dengan mukjijat (Yoh 7:14) “Waktu pesta itu sedang berlangsung, Yesus masuk ke Bait Allah lalu mengajar di situ.” Memang Yesus akhirnya menyatakan Diri kepada banyak orang. Dia datang ke bait Allah, bukan untuk membuat mukjijat, tetapi untuk menyatakan pengajaran, dan pengajaran-Nya menekankan hormat hanya bagi Allah dan bukan bagi diri-Nya.

Khususnya dalam Yoh 7:18 Yesus mengatakan “Barangsiapa berkata-kata dari dirinya sendiri, ia mencari hormat bagi dirinya sendiri, tetapi barangsiapa mencari hormat bagi Dia yang mengutusnya, ia benar dan tidak ada ketidakbenaran padanya.” Dia mengajarkan bahwa justru orang yang benar adalah orang yang menyatakan hormat hanya bagi Allah dan bukan bagi dirinya sendiri. Justru orang yang tidak benar adalah orang yang mencari hormat bagi dirinya sendiri.

Kita jangan dibingungkan akan bagian lain dimana Yesus berbicara tentang kemuliaan-Nya. Misalnya Yoh 17:24 Yesus mengatakan “Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.” Ada bagian-bagian Alktab tertentu, dimana Yesus mengarahkan kepada kemuliaan-Nya. Mengapa demikian? Karena Yesus adalah satu pribadi yang lain daripada yang lain. Yesus selain manusia yang sejati tetapi Dia adalah Allah sejati. Sehingga ada waktu-waktu tertentu Yesus menyatakan bahwa Dia adalah Allah itu sendiri.

Tetapi Alkitab menegaskan (Filipi 2:6-8) bahwa meskipun Dia adalah Allah, Dia tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan, tetapi mengosongkan diri-Nya menjadi sama dengan manusia dan menjadi hamba, dan taat sampai mati di kayu salib. Kalau Kristus saja yang menganggap bahwa kesetaraan-Nya adalah sesuatu yang perlu dipertahankan, apalagi saudara dan saya yang hanya manusia biasa saja.

Pernyataan Yesus yang mengatakan bahwa kita mencari hormat hanya bagi Allah, menjadi peringatan bagi saudara dan saya.

JC Ryle, seorang teolog yang penting, mengatakan “Self exalting spirit in ministers of religion, is entirely opposed to the mind of Christ”.

Kristus sendiri mengatakan Aku hanya mencari hormat bagi Allah yang mengutusnya, dengan demikian Dia benar dan tidak ada ketidakbenaran pada-Nya. Barang siapa berkata-kata dari diri-Nya sendiri, dia mencari hormat bagi dirinya sendiri. Ini adalah petunjuk yang kedua - Kristus mengajarkan engkau harus mencari hormat hanya bagi Allah.

Saudara-saudara-Nya tidak percaya akan Yesus yang seperti demikian. Mereka ingin agar Yesus menyatakan kebesaran-Nya kepada dunia. Tetapi orang yang benar, orang yang diutus Allah, adalah orang yang tidak mencari kemuliaan bagi dirinya sendiri, namun dia akan melakukan seluruh hidupnya untuk kemuliaan Allah saja. Engkau tidak percaya akan Aku yang seperti demikian.

Ini adalah salah satu tanda yang penting dari iman yang sejati.

JC Ryle mengatakan “It is one mark of a man being a true servant of God and really commissioned by our Father in Heaven, that he ever seek his Master glory more than his own glory. ” Ini adalah ciri daripada hamba Tuhan dan ciri daripada iman yang sejati. Saudara-saudara-Nya tidak percaya akan hal ini. Ini adalah hal yang penting dalam hidup kita. Di dalam seluruh aspek hidup kita, kita harus bertanya siapakah yang menjadi tuan yang kemuliaannya kita nyatakan. Di dalam segala aspek hidupku, kemuliaan siapakah yang aku nyatakan, diriku-kah atau Tuhan-kah.

Sebagai orang tua kita juga harus sadar akan ketidakmampuan kita sebagai orang tua untuk mendidik anak-anak supaya mereka takut akan Tuhan. Justru kesadaran siapa yang mengontrol anak-anak kita, apakah itu keinginan kita sendiri, cara kita sendiri, apa itu tujuan kita sendiri dan kebanggaan kita sendiri. Sehingga anak-anak itu menjadi kebanggaan kita, ataukah anak-anak itu menjadi kebanggaan Allah. Yang harus kita kerjakan adalah tujuan Allah. Keinginan dan cara kita haruslah cara yang sesuai dengan firman Tuhan.

Siapa yang menjadi pusat dan yang mengontrol pendidikan anak-anak kita. Apakah itu diriku ataukah Tuhan dan firman-Nya yang menjadi pusat. Salah satu panggilan orang tua adalah mengajar anak-anak untuk memiliki hati yang mengasihi Tuhan dengan segenap hati.

Ataukah kita memikirkan untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anak, dengan les-les yang terbaik, memberikan fasilitas yang terbaik. Tetapi kita jarang sekali mengajar mereka untuk mengasihi Tuhan dengan segala kekuatan mereka. Kita harus menyadari ini adalah tujuan Tuhan memberikan anak-anak bagi kita, maka kita akan sadar bahwa kita tidak mampu melakukannya. Kita tidak akan mampu membentuk mereka untuk mengasihi Tuhan. Hanya Tuhan-lah yang bisa memberikan hati yang mengasihi Dia, yang memberikan hati yang takut akan Dia.

Siapa yang mengatur hidupmu, atas dasar apa engkau mengambil keputusan-keputusan penting di dalam hidupmu. Apakah hanya berdasarkan keinginanmu saja, berdasarkan suka-atau tidak suka saja. Apakah engkau menggumuli dan berdoa apa yang menjadi keinginan-Mu di dalam hidupku.

Saudara-saudara Tuhan Yesus memikirkan diri mereka sendiri. Mereka berkata kalau Engkau melakukan mukjijat ini jangan hanya di kota kecil tetapi nyatakanlah ke seluruh dunia. Tuhan Yesus mengatakan tidak, engkau tidak mengerti akan apa artinya menjadi pengikut-Ku. Bukan rencanamu sendiri tetapi biarlah kemuliaan Tuhan yang dinyatakan dalam hidupmu.

3)    Yesus mengatakan dunia membenci Aku tetapi dunia tidak membenci saudara-saudara-Nya. Yoh 7:7 mengatakan “Dunia tidak dapat membenci kamu, tetapi ia membenci Aku, sebab Aku bersaksi tentang dia, bahwa pekerjaan-pekerjaannya jahat.” Dalam bagian yang lain (Yoh 15:18) Yesus mengatakan jika dunia membenci aku, maka dunia pasti membenci kamu karena engkau adalah murid-murid-Ku. Jangan engkau heran jika dunia membenci engkau karena dunia telah terlebih dulu membenci-Ku. Justru celakalah kamu jika semua orang memuji kamu (Luk 6:26).

Iman yang sejati adalah ketika kita taat kepada Tuhan justru kita akan bertentangan dengan dunia ini. Vikaris Leonard mengatakan bahwa hidup seorang Kristen adalah hidup yang sungsang. Analogi yang dia pakai adalah sungsang yaitu kondisi bayi yang mau keluar tetapi kepalanya masih di atas. Maka dokter atau bidan biasanya berusaha memutar bayi itu supaya kepalanya ke bawah. Ini adalah analogi yang menarik karena seharusnya kepala bayi yang mau lahir memang harus kebawah – padahal kita pikir kepala harus di atas.

Seperti itulah hidup orang Kristen. Hidup orang Kristen bertentangan dengan dunia ini. Dalam kotbah dibukit Yesus berkata berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah. Dunia mengatakan berbahagialah orang yang kaya. Berbahagialah orang yang berduka cita, dunia mengatakan berbahagialah orang yang bersuka cita. Saudara sekalian, Alkitab begitu banyak mengajarkan hal-hal yang bertentangan dengan apa yang dunia ajarkan. Dunia mengajarkan kejarlah segala sesuatu untuk dirimu sendiri. Yesus menyatakan jika engkau melakukan itu justru engkau akan kehilangan nyawamu. Jika engkau kehilangan nyawamu karena Aku, justru engkau akan mendapatkannya (Luk 9:24).

Seluruh pengajaran Yesus mengatakan hidup Kristen adalah hidup yang sungsang. Kotbah di bukit (Matius 5:3-12) berbicara tentang karakter hidup Kristen, dan selurunya adalah pengajaran yang sungsang. Tanpa menyadari kemiskinanmu, engkau tidak akan pernah mengerti seluruh bagian lain daripada kotbah di bukit. Yesus mengatakan dunia membenci Aku karena apa yang Aku katakan.Kita tentu dibenci bukan karena dosa dan kebodohan kita, tetapi karena hidup kita yang mentaati firman Tuhan.

Di Australia ada survey tentang apakah akan memasukkan same-sex couple dalam definisi pernikahan. Kalau saudara menyatakan saudara tidak setuju dengan hal ini di facebook saudara, maka saya jamin saudara akan diserang. Salah satu argument mereka adalah mengapa engkau melarang dua orang yang saling mengasihi untuk menikah? Bukankah kasih adalah hukum tertinggi dalam Alkitab; bukankah engkau melanggar alkitab itu sendiri. Ini adalah suatu argument yang sangat berbahaya dan sangat salah.

Memang benar Alkitab mengatakan bahwa kasih adalah hukum yang tertinggi dan bahkan Allah itu kasih. CS Lewis mengatakan kalimat yang penting, ketika Alkitab mengatakan Allah itu kasih, maka kamu tidak boleh membalikkan bahwa kasih itu adalah Allah. Ketika kita mengatakan Allah itu kasih, maka kasih itu dimengerti dari siapa Allah itu, apa karakter-Nya. Kasih itu tidak bisa dipisahkan dari kebenaran dan kesucian Allah. Ketika engkau membalikkan dan berkata kasih itu adalah Allah. Maka pengertian kasih yang sudah kacau itu yang engkau gunakan untuk mendefinisikan Allah. CS Lewis mengatakan suatu hal yang penting, “Love begins to be a demon, the moment it begins to be a god.”

Ketika kita mengatakan Love is God maka siapa yang mendefinisikan kasih? Maka atas nama kasih, orang menjadi salah luar-biasa. Atas nama kasih orang tua akan memaksa anak-anaknya. Atas nama kasih mereka memberikan yang paling mahal bagi anak-anaknya, dan memaksa anak-anaknya menjadi yang terbaik. Tetapi mereka tidak mengerti apa yang menjadi rencana Tuhan bagi anaknya. Anak-anak menjadi stress, marah dan menjadi rusak.

Kasih sudah menjadi kacau luar-biasa. Kita tidak boleh mengatakan Love is God, kita harus mengatakan God is Love. Karena kasih harus kita definisikan sesuai dengan karakter Allah. Kasih yang berkorban, yang menyerahkan Anak-Nya yang tunggal bagi kita, supaya Gereja-Nya menjadi kudus dan tidak bercacat di hadapan-Nya. Itu adalah kasih yang harus kita mengerti sesuai dengan karakter Allah.

Ketika kita mengatakan hal yang demikian maka ini akan bertentangan dengan dunia. Itu adalah panggilan Tuhan bagi kita dan ciri dari iman yang sejati. Celakalah kamu jika semua orang memuji kamu. Kita harus hidup dan dalam kebenaran, dan kita akan tahu bahwa dunia membenci kita. Para rasul terus menghidupi kebenaran ini, karena itu mereka ditangkap dan dipenjara. Kisah para rasul mengatakan mereka bersuka cita karena mereka dianiaya. Bukan bersuka-cita karena aniayanya, tetapi mereka dianiaya karena Kristus. Karena dunia membenci mereka, itu menegaskan bahwa mereka memiliki iman yang sejati. Demikian juga nabi-nabi di Perjanjian Lama dianiaya. Para rasul bersuka cita karena mereka tahu bahwa mereka masuk ke dalam hitungan umat Tuhan yang sejati.

4)    Tuhan Yesus berbicara secara eksplisit dalam Yoh 5:43-44 “Aku datang dalam nama Bapa-Ku dan kamu tidak menerima Aku; jikalau orang lain datang atas namanya sendiri, kamu akan menerima dia. Bagaimanakah kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain dan yang tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa?” Secara eksplisit Yesus mengatakan kalau kamu mencari hormat bagi dirimu sendiri yang datangnya dari manusia, maka engkau tidak mungkin mendapatkan iman yang sejati. Karena iman yang sejati dimulai dengan kesadaran diri yang bangkrut, yang kosong dan tak berdaya. Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah. Ini adalah karakter pertama yang harus engkau sadari. Tanpa engkau menyadari bahwa engkau adalah orang yang bangkrut di hadapan Allah, maka engkau tidak mungkin memiliki karakter-karakter selanjutnya. Iman yang sejati dimulai dengan kesadaran kita tidak bisa berbuat apa-apa di luar Kristus. Kemudian kita datang kepada Kristus sebagai satu-satunya pribadi yang bisa mengisi kekosongan jiwa kita. Sebagai satu-satunya pribadi yang bisa memuaskan dahaga dan lapar jiwa kita yang paling dalam.

Seperti pemungut cukai yang berdoa di bait Allah (Luk 18:10-14): dia tidak berani melihat ke atas, dia memukul dirinya dan berkata “berbelas kasihanlah kepadaku ya Tuhan karena aku adalah orang berdosa”. Yesus mengatakan orang itu keluar dari bait Allah sebagai orang yang dibenarkan. Berbeda dengan orang Farisi yang berdoa menyatakan kebesarannya, untuk dilihat orang, untuk mencari kemuliaan dari orang. Mereka berkata “Aku bersyukur ya Bapa karena aku berpuasa dua kali seminggu, dan memberi perpuluhan, dan tidak seperti orang-orang jahat ini, tidak seperti pemungut cukai ini” Mereka berdoa di jalan-jalan untuk mendapat hormat dari orang lain. Mencari hormat dari orang lain, berarti mereka menganggap dirinya layak dihormati. Kalau engkau menjadi pusat di dalam hidupmu, maka Kristus tidak bisa menjadi pusat hidupmu. Tetapi kalau Kristus menjadi pusat hidupmu maka engkau harus sadar dirimu kosong tidak bisa berbuat apa-apa tanpa Kristus. Inilah yang ingin Tuhan Yesus ajarkan bagi kita sekalian.

Saudara-saudara Kristus mencari hormat dengan apa yang mereka katakan “nyatakan diri-Mu kepada dunia”, karena dengan demikian mereka bisa berbagian juga dalam kemuliaan Yesus. Tetapi Yesus mengatakan tidak, Aku justru datang untuk menyatakan kemuliaan Allah dan bukan kemuliaan Dia sendiri. Karena kesombongan diri adalah menolak anugerah Tuhan dan mencari pujian dari manusia. Tetapi iman yang sejati adalah justru menyadari diri yang bangkrut, datang kepada Tuhan, menerima anugerah-Nya yang besar. Menyadari Kristuslah satu-satunya yang besar dan Allah-lah yang harus dimuliakan dalam hidup kita. Semoga kita boleh sungguh-sungguh menyadari akan iman yang sejati yang Tuhan inginkan di dalam hidup kita dan kita tidak terjebak seperti saudara-saudara Yesus.

Kita tahu selanjutnya Yakobus menjadi orang yang percaya, berubah 180 derajat. Dia memulai suratnya dalam kitab Yakobos “Salam dari Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus, kepada kedua belas suku di perantauan.“ Yakobus menyadari bahwa dia adalah hamba dari Allah, hamba dari Yesus Kristus. Dia tidak lagi menjadi pusat tetapi Kristus Tuhan yang menjadi pusat hidupnya. Tuhan-lah yang sudah menebusku dan menjadikanku hamba-Nya.

Saudara sekalian itulah iman sejati yang Tuhan inginkan bagi kita. Biarlah kita sungguh-sungguh menyadari hal ini, tidak menjadikan diri kita sendiri menjadi pusat, tetapi Allah dan Yesus yang menjadi pusat.  Seluruh hidup kita boleh menyenangkan Tuhan, melalui ketaatan akan firman-Nya. Sungguh Firman-Nya menjadi pusat dari seluruh hidup kita. Demikianlah kita menyatakan bahwa kita memiliki iman yang sejati.

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya