Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Bahaya Mengejar Mukjijat

Ibadah

Bahaya Mengejar Mukjijat

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 16 Juli 2017

Bacaan Alkitab: Yohanes 6:1–15,35,51,54–56

Bagian Alkitab kali ini menceritakan kisah tentang Yesus memberi makan 5,000 orang (laki-laki) yang kalau ditambah dengan anak dan istri mereka mungkin berjumlah 20,000 orang. Pada saat mereka mengikuti Yesus dan sudah menjelang malam, tidak ada makanan dan kemudian semua orang sudah lapar. Tidak cukup makanan untuk diberikan kepada mereka. Tuhan Yesus berkata,”Bagaimana kita harus memberi makan?” Ada seorang anak yang membawa makanan yang dia bawa untuk makan malamnya. Dia membawa makanannya, lima roti dan dua ikan kepada Tuhan Yesus melalui murid-Nya, Andreas.

Ada beberapa teolog liberal yang menjelaskan peristiwa ini dengan cara demikian. Mereka mengatakan jikalau anak kecil ini bisa membawa makanan, berarti pasti orang-orang lain juga membawa makanan sesungguhnya. Tetapi mereka tidak mau berbagi. Pada saat anak kecil ini membawa makanan kepada Tuhan Yesus untuk dibagikan kepada orang banyak, Tuhan Yesus mengangkat roti itu dan memberitahu bahwa anak kecil ini membagikan makanannya untuk dibagikan kepada kita semua. Maka orang-orang di situ, 5,000 orang laki-laki ditambah dengan istri-istrinya, menjadi malu sekali. Pada saat makanan itu dibagikan, setiap keluarga yang ada di situ mengeluarkan makanan yang mereka bawa. Mereka merasa malu karena anak kecil ini mau mengorbankan makan malamnya, tetapi kita semua yang membawa makanan tidak mau berbagi. Karena itulah ketika dikumpulkan sisa makanannya, bisa ada 12 bakul. Jada apa pelajarannya dari cerita ini? Pelajarannya adalah “jangan pelit”, saudara harus bisa berbagi. Ini betul-betul ada tafsiran seperti demikian.

Kalau saudara membaca dengan lebih teliti bagian ini, maka tafsiran yang seperti demikian ini tidak setia dengan teksnya. Teksnya menyimpulkan di ayat 14  setelah peristiwa ini terjadi: “Ketika orang-orang itu melihat mukjizat yang telah diadakan-Nya....” Tafsiran tadi, menyatakan bahwa perisiwa ini bukan mukjizat tetapi adalah Tuhan menegur akan kepelitan dan keegoisan mereka. Namun Yohanes dengan jelas mengatakan orang-orang itu sendiri sadar bahwa apa yang terjadi itu adalah mukjizat dan respon mereka adalah mengatakan bahwa Dia benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia. Selain tidak hanya setia kepada teksnya, tafsiran tadi juga kehilangan inti keseluruhan dari cerita ini yang akan dibahas lebih detail lagi selanjutnya pada Yoh 6. Seperti ayat-ayat yang kita baca tadi dari Yoh 6:22–71, Tuhan Yesus mau menekankan bahwa Akulah Roti Hidup yang telah turun dari Sorga, yang akan memuaskan kelaparan jiwa manusia yang terdalam. Inilah seluruh inti dari peristiwa ini.

Bukan hanya saja Tuhan Yesus mampu melakukan mukjizat, tetapi Dia sudah berkali-kali melakukan mukjizat. Kita tahu bahwa Dia mampu dan berkuasa melakukan mukjizat, tetapi intinya sekali lagi adalah membawa kita untuk mengenal siapakah Kristus sebenarnya. Yohanes memakai istilah tanda mukjizat, semeia, the miraculous sign (penjelasan NIV). Mujkizat yang dilakukan Yesus yang berfungsi sebagai tanda. Tanda yang tidak menuju kepada mukjijat sendiri, tetapi menuju kepada sesuatu yang lain. Tanda-tanda mukjizat yang dilakukan Yesus menuju kepada siapa diri-Nya, menuju kepada Kristus, kebesaran-Nya, kemuliaan-Nya, keagungan-Nya, kasih-Nya, kebenaran-Nya. Inilah yang Yohanes mau katakan kepada kita melalui tanda-tanda dan mukjizat yang Tuhan Yesus lakukan di dalam memberi makan 5,000 orang dengan lima roti dan dua ikan.

Selanjutnya Yoh 6 menceritakan Yesus yang mengatakan makan daging dan minum darah-Nya yang kemudian mengakibatkan banyak orang meninggalkan Yesus. Ini merupakan pengajaran yang kontroversial pada saat itu dan juga pada saat ini. Kita melihat ini sebagai kisah ini sebagai ilustrasi yang Tuhan berikan untuk mempersiapkan kita memasuki pengajaran yang lebih detail di dalam Yoh 6:22–71.

Mari kita lihat Yoh:1 dan 2:

1 Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang danau Galilea, yaitu danau Tiberias. 2 Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mukjizat-mukjizat (tanda-tanda) penyembuhan, yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit.

Saudara sekalian, pada saat kita membaca ayat kedua ini, seharusnya kita langsung waspada. Mengapa waspada? Karena kita sudah menemukan ayat yang mirip sekali di dalam ayat-ayat sebelumnya. Kita mengingat di dalam Yohanes 2:23 – Dan sementara Ia di Yerusalem selam hari raya Paskah, banyak orang percaya dalam nama-Nya. Mengapa mereka percaya? Seperti Yoh:6, mengapa orang-orang berbondong-bondong mengikuti Yesus, karena mereka telah melihat tanda-tanda yang telah diadakan-Nya. Yoh 2:24–25 -  Tetapi Yesus sendiri tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka, karena Ia mengenal mereka semua, dan karena tidak perlu seorang pun memberikan kesaksian kepada-Nya tentang manusia, sebab Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia.

Orang-orang percaya, tetapi Yesus tidak bersuka-cita karena Ia melihat hati mereka. Apa yang disebut percaya? Mengapa mereka mengikuti Kristus? Ada sesuatu yang salah di dalam hati mereka, yang Tuhan Yesus tahu dan  tidak perlu ada orang yang kasih tahu . Karena Dia melihat hati manusia yang paling dalam. Tuhan Yesus tidak tertipu dengan fenomena begitu banyak orang datang, 5,000 orang laki-laki, 20,000 orang termasuk istri-istri dan anak-anak berbondong-bondong mengikuti Dia. Apa yang salah di dalam hati mereka? Mari kita lompat kepada Yohanes 6:14– 5 – Ketika orang-orang itu melihat mukjizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata: “Dia ini adalah benar-benar Nabi yang akan datang ke dalam dunia.” Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri.

Orang-orang berbondong-bondong mengikuti Dia, tetapi Yesus meninggalkan mereka, menyingkir ke gunung seorang diri. Mengapa demikian? Karena mereka berkata Dia adalah Nabi yang akan datang ke dalam dunia dan mereka ingin membawa, menjadikan Nabi ini, orang yang sudah melakukan mukjizat ini, menjadikan Dia raja daripada hidup mereka. Apa yang salah di sini? Persoalannya apa? Kita perlu pikirkan Yesus sebagai Nabi, Yesus sebagai Raja di dalam maksud dan pikiran mereka.

Saya simpulkan sedikit mengapa Yesus menyingkirkan diri dan tidak mau bersama-sama dengan mereka. Bukankah Yesus adalah Nabi? Bukankah Yesus adalah Raja itu sendiri? Yang pertama, Yoh6:14 di sini adalah kesimpulan daripada orang-orang Yahudi pada waktu itu mengingat akan Ulangan 18:15 – Nabi Musa yang berkata: Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan. – Mereka sebenarnya menyadari dan mengaku ketika Tuhan Yesus melakukan mukjizat lima roti dan dua ikan itu, inilah nabi yang akan datang ke dalam dunia seperti yang Musa sudah beritakan dan nubuatkan. Kalau kita melihat di dalam seluruh pelayanan Tuhan Yesus, maka kita akan mengetahui bahwa Yesus memang adalah nabi yang akan datang itu, yang merupakan penggenapan daripada nubuat Musa.

Tetapi yang menjadi masalah adalah bahwa Yesus bukanlah nabi yang sesuai dengan pemikiran mereka. Mereka tidak mengerti bahwa Yesus adalah the true and better Moses, Musa yang sejati dan Musa yang sesungguhnya. Seluruh hidup Musa adalah bayang-bayang daripada Yesus Kristus. Kita lihat sedikit penjelasan ini di dalam Yoh 6:32–33 – Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia."  – Tuhan Yesus memang mau mengatakan di sini, pertama bukan Musa yang memberikan roti, tetapi Bapa di Surga. Kedua, pada waktu di padang gurun mereka diberikan manna melalui Musa, tetapi setelah engkau memakan manna itu, engkau akan lapar lagi. Setiap kali manna diberikan, engkau pasti akan lapar lagi. Sekarang Allah memberikan roti yang sejati dari Surga, roti yang memberikan hidup yang kekal ketika engkau percaya kepada-Nya dan engkau tidak akan lapar lagi. Yoh 6:34-36, Maka kata mereka kepada-Nya:”Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” Kata Yesus kepada mereka:”Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.

Saudara sekalian, kita melihat respon daripada orang Yahudi, Yoh 6:36 – Tetapi Aku telah berkata kepadamu: Sungguhpun kamu melihat Aku, kamu tidak percaya. Ini yang menjadi persoalannya. Mereka menganggap bahwa Yesus adalah Nabi itu dan Dia adalah penggenapan dari nubuatan Musa, tetapi mereka hanya pikir memikirkna makanan seperti Musa yang berikan di padang gurun. Kami juga memerlukan roti itu. Kami menginginkan roti itu, berikan kami roti itu senantiasa, namun hanya makanan badani yang mereka kejar. Dalam Yoh 6:26, Yesus menjawab mereka:”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.”

Ini yang menjadi persoalannya, mereka datang karena roti itu dan menjadi kenyang. Mereka datang bukan karena mau mengenal Tuhan. Ini bukan saja menjadi persoalan bagi orang Yahudi pada jaman itu, tetapi menjadi persoalan pada jaman sekarang juga. Di sini Tuhan Yesus mau mengajarkan kepada mereka pada waktu itu dan pada kita sekarang ini bahwa apa yang Kristus kerjakan dalam memberikan makan 5,000 orang dengan lima roti dan dua ikan adalah bahwa Dia mau menyatakan bahwa Akulah roti hidup itu dan supaya engkau boleh mengenal siapa Aku sesungguhnya. Supaya engkau datang kepada-Ku, Akulah roti hidup yang ketika engkau makan maka engkau tidak akan lapar lagi, ketika engkau minum, Akulah air hidup, maka engkau tidak akan haus lagi.

Saudara sekalian, Tuhan Yesus mau mengatakan Aku jauh lebih besar dari pada bayanganmu seperti Musa. Kamu hanya membandingkan Aku seperti Musa dan mengharapkan Aku seperti Musa memberikan engkau roti lagi, roti lagi, roti lagi setiap hari. Tidak. Aku adalah roti hidup itu, Akulah roti hidup itu. Datanglah kepada-Ku, makanlah daging-Ku, minumlah darah-Ku. Ketika Aku memecahkan roti dan membagikan lima roti dan dua ikan, roti itu berlipat ganda sehingga memuaskan 20,000 orang yang ada pada saat itu. Tuhan Yesus mau mengatakan bukan hanya Dia roti itu yang akan memuaskan jiwamu, tetapi Akulah yang memberikan roti seperti Allah memberikan roti melalui Musa.

Ada dua sisi yang Tuhan Yesus mau katakan, pertama Dialah roti itu dan juga mau mengatakan Aku juga sejajar dengan Allah. Aku adalah Allah itu sendiri. Karena itu datanglah dan percaya kepada-Ku. Tetapi mereka tidak mau. Mereka tidak percaya. Yang mereka lihat adalah mukjizat yang dilakukan Yesus dengan lima roti dan dua ikan dan mereka berpikir inilah Dia, orang yang diutus Allah. Inilah Dia, nabi Allah seperti Musa dan orang seperti inilah yang akan memimpin mereka untuk melawan Roma. Kalau Dia bisa melakukan mukjizat dan mempunyai kuasa yang besar, marilah kita menjadikan Dia raja. Kalau ada orang yang memimpin kita untuk melawan Roma, yang karena mereka hidup di dalam penjajahan Roma. Ini menjadi masalah.

Inilah yang menjadi kaitan Yoh6:14 dan 15, Mengapa ketika mereka melihat inilah nabi yang diutus Allah maka jadikan Raja. Ayat 15, Tuhan berkata engkau salah mengerti, salah mengerti apa yang Aku sedang nyatakan kepadamu. Tetapi pertanyaannya adalah bukankah Yesus sungguh-sungguh raja? Bukankah Dia raja? Mengapa Dia tidak mau dijadikan Raja? Sekali lagi mirip, Dia adalah raja tetapi Dia adalah raja bukan seperti apa yang mereka pikir. Dalam Yohanes 18:33 Pilatus berkata kepada Yesus: “Engkau inikah raja orang Yahudi?” Maka dalam Yoh 18 36 Tuhan Yesus menjawab: “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini, jika kerajaan-Ku dari dunia ini pasti hamba-hamba-Ku telah melawan supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi. Akan tetapi kerajaan-Ku bukan dari sini.” Dialah raja, King of Kings, tetapi bukanlah raja yang seperti kita pikir. Dia bukanlah raja yang datang dengan kekuatan militer, politik, pedang, kuda dan kereta kuda. Dialah bukanlah raja yang akan mengalahkan kekuatan Roma yang terbesar pada jaman itu. Tetapi Dia datang untuk mengalahkan kuasa yang jauh lebih besar daripada kuasa Roma. Dia adalah raja yang datang untuk mengalahkan dan memutuskan belenggu dosa, yang membelenggu bukan saja orang Yahudi, tetapi seluruh umat manusia di dalam dunia ini yang mencengkeram hati manusia. Dia adalah raja yang melalui kematian-Nya memecahkan kuasa dosa yang mencengkeram akan hidup manusia.

Saudara sekalian, Yesus melakukan ini dengan tubuh dan nyawa-Nya sendiri yang menjadi tebusan banyak orang. Karena itu Dia terus mengkaitkan akan roti ini dengan tubuh-Nya yang akan diserahkan,  dan dengan darah-Nya yang akan dicurahkan. Dia mau menyatakan supaya orang mengerti akan mukjizat ini sebagai tanda daripada tubuh-Nya yang akan diserahkan bagi kita sekalian. Tetapi orang-orang banyak itu tidak mengerti sama sekali apa yang Kristus sedang kerjakan di sini.

Pertanyaan kita pada saat merenungkan bagian ini: Mengapa salah? Apa yang salah selain daripada konsep mereka yang salah tentang Kristus. Pada saat mereka menghadapi kelaparan, apa yang salah menginginkan kenyang? Mengapa salah datang kepada Kristus dengan perut yang lapar dan menginginkan  roti supaya kenyang?  Apa yang salah datang kepada Kristus untuk menginginkan kesembuhan? Apa yang salah merindukan kasih daripada orang-orang disekitar kita? Kasih daripada seorang pria? Kasih daripada seorang wanita? Apa yang salah datang kepada Kristus untuk jaminan yang kita terima melalui keuangan yang Tuhan berikan kepada kita melalui pekerjaan kita kerjakan. Ini mirip sekali untuk segala kebutuhan-kebutuhan yang kita inginkan dalah hidup kita  dengan orang-orang ini yang datang kepada Kristus untuk mendapatkan roti supaya perut mereka dikenyangkan. Apa yang salah kita datang kepada Kristus seperti demikian? 

Jawabannya adalah bisa salah, bisa tidak. Bisa tidak salah untuk datang kepada Kristus. Banyak orang datang kepada Kristus di dalam segala pergumulan, kerumitan di dalam rumah tangga, anaknya yang kecanduan narkoba, berjudi habis-habisan, rumah tangga yang hancur, bercerai, bangkrut, dsb. Ada orang memberitakan injil, kita baru terbuka. Datang kepada Kristus pada saat dokter memvonis kena kanker stadium IV, sebelumnya tidak pernah karena lancar dalam hidupnya. Tidak membutuhkan Tuhan. Bisa tidak salah karena kerinduan untuk sembuh, kerinduan untuk kenyang, kerinduan untuk dikasihi, jaminan dalam hidup kita, itu adalah kebutuhan yang nyata. Kalau saudara sakit, pasti ingin sembuh. Di dalam tubuh ini, kita ada kebutuhan. Melalui kebutuhan itu tidak salah kita mau datang kepada Tuhan.

Tetapi bisa juga menjadi salah, kalau kebutuhan-kebutuhan itu menjadi tujuan akhir daripada kita mengikuti Kristus. Kebutuhan hidup itu menjadi tujuan akhir daripada alasan kita mengikuti Kristus. Saudara membaca cerita ini, betapa mudahnya cerita ini mendukung daripada prosperity gospel, health and wealth theology. Saudara melihat seperti Filipus di dalam cerita ini, yang Tuhan Yesus bertanya kepada dia (Yoh 6:5) dimanakah kita membeli roti supaya mereka ini dapat makan? Yoh 6:7, Filipus berkata roti seharga 200 dinar tidak akan cukup untuk mereka ini sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja. 200 dinar, 200 hari kerja, uang yang cukup besar. Lebih dari setengah tahun kerja, tiap hari kerja, kerja, kerja… bahkan kalau ada 200 dinar pun untuk membeli roti  dan masing –masing mendapatkan sepotong kecil saja tidak akan cukup.

Tuhan Yesus menyatakan masalahnya, Filipus bukannya memberikan solusi tetapi memberikan masalah lagi. Apa maksud Tuhan? Apa yang harus kita lakukan? Kalau ada uangpun tidak akan cukup. Jadi ini menggambarkan keadaan yang sungguh tidak ada harapan. Filipus hanya menyatakan tidak ada harapan. Tidak ada jalan keluar karena sudah sore dan tidak ada uang. Apapun tidak bisa dilakukan. Karena itu percaya kepada Yesus, karena itu serahkan dirimu kepada Yesus, maka Dia akan melipat-gandakan. Apa keadaanmu yang engkau hadapi sekarang? Engkau sakit, kekurangan, tidak dapat pekerjaan? Datanglah kepada Kristus. Serahkan, apa yang ada padamu meskipun sedikit, lima roti dan dua ikan, sedikit sekali, tidak ada artinya. Serahkanlah kepada Kristus, maka Dia akan melipat gandakan itu. Serahkan $ 1,000.00, Dia akan kasih $ 10,000.00. Engkau hanya mempunyai $ 100.00, serahkan itu kepada Kristus, maka Dia akan melipat gandakannya. Saudara lihat ini, betapa mudahnya cerita ini dipakai oleh health and wealth theology. Serahkan kepada Tuhan apa yang ada, maka Dia akan melipat gandakannya.

Saudara sekalian, ini adalah gambaran yang salah. Ini adalah injil yang palsu yang Paulus katakan di dalam kitab Galatia (lihat Gal 1:8-9) kalau aku, bahkan malaikat sekalipun memberitakan injil yang bukan aku beritakan, injil yang bukan memberitakan Kristus yang mati disalibkan. Maka terkutuklah dia, anatema. Kenapa saya katakan itu injil yang palsu? Karena ketika engkau berhenti sampai di situ, ketika engkau mengatakan serahkan kepada Kristus, maka persoalanmu akan selesai dan engkau akan mendapatkan segala yang engkau butuhkan, maka Kristus sebenarnya dipakai menjadi alat, sarana untuk memenuhi kebutuhanmu. Kebutuhan apa? Kebutuhan yang orang dunia ini cari. Semua orang dunia membutuhkan makanan, kesembuhan, pekerjaan, jaminan dan kasih. Ketika engkau datang kepada Kristus demi untuk kebutuhan-kebutuhan itu, maka ketika engkau mendapatkan kebutuhan itu sebenarnya engkau  hanya memakai Kristus. Engkau tidak lagi membutuhkan Kristus.

Injil seperti demikian tidak membawa engkau kepada Kristus tetapi justru memakai Kristus untuk mendapatkan apa yang kita mau, apa yang dunia mau. Inilah justru intinya apa yang mau Kristus nyatakan pada saat melakukan mukjizat ini. Kalau saudara melihat respon daripada orang-orang itu persis sama seperti orang-orang pada jaman ini. Ketika mendengar itu mereka dipuaskan, dikenyangkan, mereka akan datang, ini adalah nabi itu. Jadikan Dia raja, Dia akan memenuhi kebutuhanku. Ketika engkau datang kepada Yesus untuk mendapatkan apa yang dunia inginkan, engkau tidak akan bertemu dengan Yesus. Dia akan menyingkir. Dia akan pergi meninggalkan engkau. Seperti Dia menyingkir karena orang-orang ingin menjadikan Dia raja, supaya Dia bisa memenuhi apa yang mereka inginkan. Mengalahkan Roma dan mengenyangkan perut mereka, Tuhan akan menyingkir dan engkau tidak akan bertemu Kristus.

Bukan berarti salah kalau kita lapar dan ingin makan. Bukan berarti salah kalau kita ingin dikasihi, itu kebutuhan semua manusia. Bukan berarti salah kalau kita ingin jaminan. Allah sering kali bermurah hati, Dia tahu segala kebutuhan kita dan Dia sering kali memenuhi segala kebutuhan kita.  Banyak hal yang Tuhan sudah berikan. Tuhan memberikan pekerjaan, rumah tangga, orang yang dikasihi, orang yang mengasihi kita, dan Firman Tuhan. Tetapi, Allah ingin melalui kebutuhan-kebutuhan kita yang dipuaskan oleh Dia, mengajarkan bahwa kepuasan kita di dalam hal-hal ini membawa kita kepada Kristus. Membawa kita mengenal Dia adalah satu-satunya pribadi yang bisa memuaskan jiwa kita selamanya. Justru kebutuhan-kebutuhan kita menjadi alat, bukan menjadi tujuan. Menjadi sarana kita boleh mengenal Dia, satu-satunya pribadi yang boleh memenuhi, memuaskan jiwa kita selama-lamanya.  Saudara pernah makan dan merasa puas? Pasti.

Tuhan ingin mengajar kita melalui kepuasan makanan, melalui kasih yang kita alami dari orang-orang lain, melalui jaminan yang kita alami, bahwa Kristuslah roti yang sejati dari surga yang bukan hanya memuaskan perut kita yang sementara saja, tetapi juga memuaskan kelaparan jiwa kita yang paling dalam. Berkali-kali lipat, kepuasan yang bisa kita temukan di dalam Kristus. Nothing exist for the sake of itself. Roti yang kita nikmati itu adalah untuk kemuliaan-Nya. Karena segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia dan bagi Dia, bagi Dialah kemuliaan untuk selama-lamanya. Seluruh pengalaman hidup kita adalah untuk kemuliaan-Nya dan membawa kita kepada Kristus.

Saudara pernah mengalami jatuh cinta? Saudara harus mengalami itu. Jatuh cinta sejuta indahnya. Betapa sukacita pada saat jatuh cinta, selalu ingat terus akan wajahnya. Bergejolaknya hati dan memikirkannya terus sang kekasih. Biarlah saudara mengingat kasih Tuhan. Kasih Tuhan kepada kita, betapa Dia mengasihi kita. Kita adalah mempelai wanita yang Dia kasihi, sampai Dia mati dengan menyerahkan nyawa-Nya untuk kita. Kasih yang sempurna yang bisa kita temukan di dalam kasih-Nya. Kita menikah dan punya anak, kasih orang tua kepada anaknya. Kita sangat mengasihi anak kita dan menginginkan yang terbaik bagi anak kita, tetapi sekaligus mendisiplin anak kita. Ketika anak kami yang pertama yang masih berumur satu minggu masuk rumah sakit diinfus karena diare. Istri saya yang bertahan selama 13 jam melahirkan dia tidak meneteskan satu air matapun. Tetapi pada waktu melihat anak saya pertama itu diinfus, yang masih kecil sekali, istri saya tidak tahan melihatnya dan menangis karena kasihnya yang begitu besar kepadanya. Pasti setiap orang tua yang melihat anaknya sakit, menginginkan menggantikan posisinya daripada melihat anaknya yang masih kecil itu sengsara. Itulah kasih orang tua kepada anaknya sama seperti kasih Tuhan kepada kita. Ketika Allah melihat anak-Nya yang tunggal Yesus Kristus menderita di atas kayu salib bagi kita. Ketika Dia berseru kalau boleh cawan ini lalu daripadaku. Cawan penderitaan, cawan kematian yang Dia harus ambil. Setiap hidup yang kita alami, Tuhan ingin kita mengenal Dia.

Melalui mukjizat Tuhan Yesus memberikan makan 5,000 orang dengan lima roti dan dua ikan, Yohanes ingin menyatakan kepada kita melalui tanda-tanda ini untuk mengenal Dia, mengenal kasih-Nya, kebesaran-Nya, mengenal roti hidup itu yang memenuhi kebutuhan jiwa kita yang paling dalam. Dia menjadi tujuan bukan menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan kita yang orang dunia ini cari. Jaminan kita tidak kita temukan di dalam uang yang kita miliki, jaminan kita hanya di dalam Kristus yang sudah mati bagi kita dan menebus dosa kita. Dia menjadi pembela kita dan Roh Kudus yang berdoa syafaat bagi kita di dalam kesulitan dan penderitaan kita. Tidak ada apapun yang memisahkan kita terhadap kasih Allah di dalam Kristus.

Kita harus memfokuskan diri kepada Tuhan dan mengenal Dia sebagai roti yang memuaskan dahaga jiwa kita. Dia yang paling berharga dan mulia. Dia adalah segala-galanya di dalam hidup kita, segala keputusan Dia, kehendak Dia dan hormat dari Allah, itulah yang harus kita cari. Yang menyenangkan akan hati Tuhan, itulah yang kita kerjakan. Justru herannya adalah kalau engkau mencari Tuhan telebih dulu, mengerjakan itu dulu, maka segala kebutuhanmu akan diberikan. Tetapi kebutuhanmu tidak lagi menjadi yang utama. Hati kita bisa menipu. Tuhan melihat hati kita. Bukan berarti sepertinya kita mengasihi, memuliakan Tuhan supaya akhirnya tetap uang, roti, kasih daripada orang-orang. Tuhan melihat hati kita, kalau hati kita tidak beres, kalau yang utama bukan Tuhan, Kristus, engkau tidak akan menemukan Dia. Bukan hanya itu, tetapi segala hal yang engkau dapatkan di dalam dunia ini tidak akan memuaskan engkau.

Tetapi ketika kita menemukan Kristus, Kristus adalah kepuasan kita yang sejati. Justru kita di dalam hal-hal yang kecil, di dalam makan, keluarga, hubungan seks suami dan istri, mengasihi anak-anak kita, relasi pelayanan saudara seiman, kita menemukan kesukaan dan menghargai semuanya sebagai anugerah daripada Tuhan. Tanpa Kristus maka seluruhnya justru kita tidak akan menemukan kepuasan di dalam hal-hal yang sehari-hari itu. Coba saudara makan makanan yang paling disukai setiap hari, seminggu saja makan yang sama, pasti saudara akan merasa muak. Pertama kali saya pergi ke Queenstown, sungguh indah sekali pemandangannya. Pada saat kedua kali, rasa indahnya kurang 50 %. Ke sepuluh kali, ya biasa-biasa saja. Itulah sebabnya orang yang tinggal di Queenstown, biasa-biasa saja. Karena setiap hari melihat yang sama. Itulah hal-hal yang fisik. Tuhan ingin kita belajar untuk mengenal Dia, Dialah Tuhan satu-satunya pribadi yang bisa memuaskan jiwa kita untuk selama-lamanya.

Ini menjadi problem daripada prosperity gospel. Ada bahaya yang lain daripada prosperity gospel yaitu Tuhan tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan. Meskipun kita mendahulukan dan mengutamakan Dia, dan kita tetap ada kebutuhan-kebutuhan itu, tidak selalu Tuhan memberikan apa yang kita inginkan. Tuhan Yesus di sini tidak memberikan kepada mereka. Tuhan justru memberikan kepuasan perut mereka yang lapar, mau mengajar mereka percayalah kepada-Ku. Kenallah Aku yang memuaskan jiwamu yang paling dalam. Tetapi mereka tidak mau. Mereka terus minta roti, roti, roti, uang , apapun itu. Yohanes 6:66 – Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengiktu Dia. – Kalau engkau mencari Yesus untuk memenuhi kebutuhanmu, pada akhirnya engkau bukan hanya tidak akan menemukan Dia, engkau akan tidak lagi mengikuti Dia. Begitu banyak orang-orang yang ditipu oleh prosperity gospel. Mereka datang berbondong-bondong, tetapi ketika mereka tidak mendapatkan apa yang mereka cari atau pikir, apa yang mereka inginkan, tidak mendapatkan kesembuhan, dan Tuhan sering kali mengajarkan kalau mereka tidak mendapatkan itu adalah juga anugerah Tuhan, pada saat orang-orang datang kepada Kristus untuk mendapatkan uang tetapi malah bangkrut, mereka datang kepada Kristus datang ke gereja “percaya kepada Kristus” untuk berharap supaya ada kesembuhan atas anaknya tetapi anaknya mati, sering kali hal-hal ini terjadi. Kalau orang-orang prosperity gospel dengan pengertian yang salah, mereka akan kecewa dan meninggalkan Kristus, akan menghina dan memaki-maki para pendeta dan orang-orang yang memberitakan prosperity gospel.

Tetapi bagi kita yang mengenal Tuhan sebagai sumber sukucita kita, sumber akan kepuasan kita yang paling dalam, hanya di dalam Kristus. Pada saat Tuhan mengambil apa yang paling berharga bagi kita, mengambil anak kita, mengambil istri kita, mengambil suami kita, orang tua kita yang kita kasihi, apakah kita bisa berkata seperti Horatio Spatford. Horatio menulis lagu It Is Well With My Soul. Di tahun 1873 dia kehilangan 4 putrinya sekaligus. Sebenarnya dia punya anak lima, tetapi anaknya yang kelima waktu kecil sakit dan meninggal. Dia sekeluarga dari Amerika mau ke Eropa, berhubung ada masalah di bisnisnya dia bilang kepada istri dan anak-anaknya untuk pergi lebih dahulu. Dia akan menyusul dalam waktu beberapa hari setelah masalah bisnisnya selesai. Empat hari dalam perjalanan, kapal yang ditumpangi istri dan anak-anaknya tenggelam. Banyak orang mati dan beberapa yang selamat termasuk istrinya. Sampai di Eropa, istrinya mengirimkan telegram – saved alone. Artinya keempat anaknya mati. Hancurlah hatinya. Beberapa hari kemudian, dia naik kapal ke Eropa untuk bertemu dengan istrinya. Dalam 4 hari perjalanan, kapten kapal memberitahukan bahwa kapal yang membawa istri dan anak-anaknya tenggelam di situ. Di situlah dia menggubah lagu

 When peace like a river attendeth my way,

When sorrows like sea-billows roll,

Whatever my lot, Thou has taught me to know,

 It is well, it is well with my soul.

Tuhan sedang menguji kita, seperti Tuhan menguji Filipus (Yoh 6:5) Tuhan bertanya di manakah kita akan memberi roti, supaya mereka dapat makan. Hal itu dikatakan-Nya untuk menguji, lebih tepatnya to test, He asked this only to test him. For He already had in mind what He was going to do. Dia sudah tahu, Dia ada rencana, Dia adalah Allah yang berdaulat. Tetapi apapun yang kita hadapi hari ini, kesulitan, pergumulan, saya tidak tahu secara detail apa yang sedang engkau hadapi, Tuhan tahu. Saat ini Tuhan sedang menguji engkau, apa yang engkau lakukan, apa responmu? Ataukah mungkin di dalam kelancaran, ada rejeki, ada kebaikan yang terjadi, ada kesukaan di dalam hidupmu, di dalam keluargamu, juga Tuhan sedang menguji kamu.

Tuhan sedang menguji apakah Dia adalah sumber kepuasanmu yang sejati? Apakah Aku sumber yang akan memuaskan seluruh dahagamu selama-lamanya? Apakah engkau bisa berkata seperti Horatio Spatford bahwa, it is ok Lord, dalam kelancaran, kebaikan Engkau mengajar aku. It is well with my soul. Tetapi di dalam kesulitan, pergumulan, kedukaan yang dalam, seperti lautan yang menelan 4 putriku, Engkau mengajar aku berkata it is ok Lord.It is well with my soul. Biarlah saudara meresponi dan mengkoreksi, biarlah kita belajar mengatakan kepada Tuhan, Tuhan, Engkau adalah satu-satunya pribadi yang boleh memenuhi kebutuhan jiwaku, kelaparan dan dahaga, sehingga sekalipun dagingku habis lenyap, kebahagiaanku adalah Allah untuk selama-lamanya. Biarlah Tuhan berbelas kasihan, memampukan kita, membentuk kita dan menempatkan Kristus yang paling utama di dalam hidup kita.  

 

Ringkasan oleh Budiman Suddin | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya