Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Percaya adalah Tuhan Menjadi Pusat

Ibadah

Percaya adalah Tuhan Menjadi Pusat

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 9 Juli 2017

Bacaan Alkitab: Yoh 5:37-47

Saya akan memulai dengan suatu pertanyaan “apa perbedaan jempol yang sakit dengan jempol yang sehat?” Yang satu sakit yang satu sehat? Bukan. Jempol yang sakit adalah jempol yang menarik perhatian bagi dirinya sendiri, sedangkan jempol yang sehat itu tidak menarik perhatian bagi dirinya sendiri. Jika jempol saudara sehat, saudara tidak merasakan hal itu, bahkan tidak memikirkan bahwa jempol saudara itu ada. Tetapi jika jempol saudara sakit, maka saudara terus memikirkan jempol saudara, sebentar-bentar diberi obat dlsb. Setelah sembuh, mulai terasa enak. Artinya ketika seseorang tidak menarik perhatian kepada dirinya sendiri maka sesungguhnya orang itu adalah orang yang sehat. Jempol yang sehat berfungsi saja sebagai jempol.

Sebelumnya kita belajar dari kisah Maria mengurapi Yesus. Maria adalah seorang yang sehat yang tidak memperhatikan dirinya sendiri. Dia memperhatikan Kristus, memfokuskan diri kepada Kristus, sehingga dia melakukan suatu tindakan yang indah, yang mengagetkan bahkan bagi murid-murid-Nya.

Kali ini kita akan membahas sesuatu yang berlawanan dengan Maria. Kita akan membahas suatu karakter yang berfokus kepada diri sendiri sehingga diri tersebut bisa dikatakan yang sakit. Bukan hanya sakit secara psikologis, tetapi terlebih lagi sakit secara rohani. Hidup yang berfokus kepada diri sendiri itu tidak mungkin percaya kepada Kristus sebagaimana Dia adanya.

Kalau kita melihat konteks bacaan kali ini, dalam Yoh 5:18, orang Yahudi berusaha membunuh Kristus, bukan hanya Dia meniadakan hari Sabat, tetapi juga Dia menyebut Allah sebagai Bapa-Nya sendiri, dan dengan demikian Dia menyamakan diri-Nya dengan Allah. Mulai Yoh 5:19 - Yoh 5:47, Yesus menjawab orang-orang Yahudi yang tidak percaya kepada-Nya; mereka bahkan ingin membunuh-Nya. Jawaban Yesus dalam Yoh 5:37-47 menyatakan enam dakwaan Kristus terhadap orang Yahudi yang membongkar ketidakpercayaan mereka kepada Kristus.

Biarlah dakwaan ini juga memperingatkan kita sebagai suatu persoalan saudara dan saya. Banyak hal yang membuat saya sungguh-sungguh berpikir dalam mengkoreksi diri di hadapan Tuhan, untuk mengerti apa yang sudah Tuhan katakan kepada hidup saya sendiri.

Dalam Yoh 5:30 Tuhan Yesus berkata “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku.” Penekanan di sini adalah bahwa Yesus tidak menuruti kehendak-Nya sendiri, melainkan kehendak Bapa-Nya. Segala hal yang Dia katakan tidak berasal dari diri-Nya sendiri. Bahkan tidak berfokus pada diri-Nya sendiri, namun dalam rangka melakukan pekerjaan Bapa-Nya yang mengutus Dia.

Selanjutnya dalam Yoh 5:31-36 Yesus menjelaskan apa yang Dia katakan tentang diri-Nya sendiri itu bukan berasal dari diri-Nya sendiri, melainkan berdasar dua kesaksian yang penting yang orang Yahudi akui. Yohanes Pembaptis adalah seorang nabi yang lumayan dihormati oleh orang Yahudi. Yohanes Pembaptis memberi kesaksian bahwa apa yang Yesus katakan itu benar, mengapa engkau tidak percaya kepada Dia.

Saksi lain yang jauh lebih penting, yaitu Allah sendiri. Melalui segala karya dan mukjijat yang dilakukan oleh Yesus, maka Allah menyatakan bahwa apa yang Yesus katakan itu benar, maka seharusnya engkau percaya kepada-Nya. Jika Allah sendiri yang menyatakan dan menjadi saksi bahwa Yesuslah Anak Allah, bahwa segala yang dikerjakan-Nya adalah benar, maka mengapa engkau tidak percaya. Ini adalah konteks dari dakwaan Yesus kepada orang-orang Yahudi.

Selanjutnya dalam Yoh 5:37-47, Tuhan Yesus memberi 6 dakwaan dari orang Yahudi. Waktu kita merenungkan dakwaan ini, kita juga boleh mengkoreksi diri, karena dakwaan ini berlaku juga bagi kita juga. Yohanes mencatat bagian ini untuk kita, supaya kita percaya, mengenal Dia dan dengan iman kita boleh beroleh hidup. Kita mau mengerti lebih lagi apa artinya percaya yang Tuhan Yesus maksudkan. Percaya yang menempatkan Yesus sebagai yang paling utama, menjadi pusat hati dan kehidupan kita.

Kita akan melihat enam dakwaan ini secara detil kemudian menyimpulkannya.

1) Engkau tidak mengerti firman Tuhan, karena engkau tidak percaya kepada-Ku

Yoh 5:37-38 mengatakan “Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku. Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nyapun tidak pernah kamu lihat,dan firman-Nya tidak menetap di dalam dirimu, sebab kamu tidak percaya kepada Dia yang diutus-Nya.”. Yesus mendakwa orang Yahudi bahwa engkau tidak mendengarkan Allah, tidak pernah mengerti firman Tuhan, karena engkau tidak percaya kepada-Ku.

2) Firman menunjuk kepada-Ku tetapi engaku tidak mau datang kepada-Ku

Yoh 5:39-40 mengatakan “Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.” Yesus mendakwa engkau menyelidiki Perjanjian Lama, semua Perjanjian Lama itu menunjuk kepada Yesus, tetapi mereka tidak mau datang kepada Yesus.

3) Engkau tidak mengasihi Allah

Yoh 5:41-42 mengatakan “Aku tidak memerlukan hormat dari manusia. Tetapi tentang kamu, memang Aku tahu bahwa di dalam hatimu kamu tidak mempunyai kasih akan Allah.” Yesus mau mengatakan bahwa engkau tidak menghormati Aku karena engkau tidak mengasihi Allah.

4) Engkau tidak menerima Aku, karena Aku datang dalam nama Bapa-Ku

Yoh 5:43 “Aku datang dalam nama Bapa-Ku dan kamu tidak menerima Aku; jikalau orang lain datang atas namanya sendiri, kamu akan menerima dia.” Tuhan Yesus mendakwa bahwa mereka tidak menerima Yesus, justru karena Yesus datang dalam nama Bapa. Engkau menginginkan mesias yang lain, yang datang dalam namanya sendiri. Aku tidak mewakili Diri-Ku sendiri, namun datang dalam nama Bapa-Ku, karenanya engkau tidak mau percaya kepada-Ku.

5) Engkau mencari hormat seorang dari yang lain.

Yoh 5:44 mengatakan “Bagaimanakah kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain dan yang tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa?” Ini adalah pertanyaan retoris – bagaimana kamu dapat percaya – artinya kamu tidak dapat percaya. Mengapa kamu tidak dapat percaya? Karena engkau mencari hormat seorang dari yang lain dan tidak mencari hormat daripada Allah.

6) Engkau sesungguhnya tidak percaya kepada Musa

Yoh 5:45-47 mengatakan “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku akan mendakwa kamu di hadapan Bapa; yang mendakwa kamu adalah Musa, yaitu Musa, yang kepadanya kamu menaruh pengharapanmu. Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepada-Ku, sebab ia telah menulis tentang Aku. Tetapi jikalau kamu tidak percaya akan apa yang ditulisnya, bagaimanakah kamu akan percaya akan apa yang Kukatakan?"” Yesus mengatakan engkau mengagung-agungkan Musa, nabi yang terbesar bagi orang Yahudi. Engkau mengatakan percaya kepada Musa, namun sesungguhnya tidak. Engkau tidak percaya kepada Musa, karena tulisan Musa seluruhnya berbicara tentang Aku. Itu fakta bahwa engkau tidak percaya kepada-Ku adalah karena engkau sesungguhnya juga tidak percaya kepada Musa.

Yohanes menulis kitabnya dengan tujuan supaya kita percaya bahwa Yesus adalah Kristus, Yesus adalah Mesias, adalah Anak Allah. Dengan iman itu, kita memperoleh hidup di dalam nama-Nya. Disini, Tuhan Yesus berhadapan dengan orang Yahudi yang tidak percaya dan kemudian Dia membongkar mengapa mereka tidak percaya. Jawaban Tuhan Yesus berlaku bukan hanya bagi orang Yahudi, namun juga bagi semua orang yang tidak percaya, termasuk saudara dan saya.

Mengapa saya katakan termasuk saudara dan saya? Apa artinya percaya kepada Kristus? Apakah betul kita percaya kepada Tuhan Yesus sebagaimana apa yang Dia katakan, sebagaimana Diri-Nya, sebagaimana seluruh kelimpahan pada Diri-Nya? Ini bukan masalah orang Yahudi saja, tetapi ini adalah masalah bagi setiap orang berdosa.

Mengapa orang-orang tidak percaya kepada Kristus. Jawaban mendasar yang Yesus berikan dalam dakwaan ini ada dalam Yoh 5:40 “namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu”. Mereka tidak percaya karena mereka tidak mau percaya kepada Kristus. Apa yang kita inginkan itu akan mengarahkan seluruh hati dan perbuatan kita.

Saya berikan suatu contoh yang sederhana, suatu kali anak-anak saya ingin mengajak teman-temannya sleep-over. Tetapi saya dan istri saya sedang sibuk sekali. Akhirnya istri saya berkata, kamu boleh mengajak teman-teman-mu sleep over tetapi harus membantu mama dulu untuk mencuci piring, mencuci baju, dlsb. Langsung mereka jalan, cepat mengerjakan, supaya apa yang mereka inginkan itu terlaksana; padahal biasanya mereka tidak demikian.

Bukankah itu seperti saudara dan saya? Anggota-anggota DPR yang ingin presiden Jokowi turun, maka mereka tidak perduli apa yang Jokowi sudah capai. Mereka tidak mau melihat banyak hasil dari pemerintahan Jokowi, pokoknya menjelekkan. Kalau sudah ada keinginan maka matanya-pun menjadi buta.

Ravi Zakharias pernah mengatakan bahwa banyak ateis yang berdebat dengan dia, mereka tidak percaya kepada Tuhan, bukan karena tidak ada cukup bukti, bukan tidak masuk akal. Tetapi mereka tidak percaya kepada Tuhan karena mereka tidak mau percaya. Berdebat begitu lama, setelah ada argumen-argumen yang sangat kuat, ketika sudah terpojok, mereka mengatakan pokoknya aku tidak mau percaya.

Mengapa mereka tidak mau percaya, karena mereka sadar, kalau mereka percaya seperti yang dinyatakan oleh Alkitab, mereka tahu hidup mereka tidak bisa seperti apa yang mereka lakukan sekarang. Kalau mereka percaya kepada Kristus mereka harus berubah, dan ini yang mereka tidak mau. Ravi Zakarias menyimpulkan mereka tidak mau percaya karena mereka tidak mau berubah. Ini menjadi salah satu dasar apologetika Kristen.

Yoh 5:43 mengatakan “Aku datang dalam nama Bapa-Ku dan kamu tidak menerima Aku; jikalau orang lain datang atas namanya sendiri, kamu akan menerima dia.” Kristus datang dalam nama Bapa, dalam keadaan-Nya sebagai manusia, Dia taat merendahkan Diri-Nya sampai mati di kayu salib. Dia tidak menganggap kesetaraannya dengan Allah menjadi milik yang harus dipertahankan, melainkan mengosongkan Diri-Nya menjadi manusia, terus taat sampai mati di kayu salib (lihat Filipi 2:6-8). Hati Bapa hancur, namun Bapa senang karena apa yang dikerjakan Kristus menyatakan bahwa Bapa adalah segala-galanya, Kristus ingin mentaati dan memuliakan Bapa-Nya di surga. Dalam hal ini, orang Yahudi tidak mau percaya, karena mereka tidak mau seperti Kristus. Kalau ada orang yang datang atas namanya sendiri, justru mereka akan menerima dia. Karena orang itu pasti akan menyatakan kemuliaan dirinya sendiri, dan itulah merefleksikan apa yang mereka inginkan.

Yoh 5:44 mengatakan “Bagaimanakah kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain dan yang tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa?” Yesus mau mengatakan bahwa kamu mau menjadi pusat hidupmu sendiri. Engkau tidak mau menjadikan Kristus pusat daripada hidupmu. Sepanjang engkau menjadi pusat dan ingin dimuliakan, engkau ingin orang-orang menyukai kamu, maka engkau tidak mungkin percaya kepada-Ku.

Sekali lagi ini adalah masalah saudara dan saya. Apakah betul apa yang saya kerjakan dan kotbahkan seluruhnya berpusat kepada Kristus, dan ingin Tuhan dimuliakan. Atau sesungguhnya hal itu tidak terlalu penting, sepanjang orang-orang senang mendengarkan apa yang saya kotbahkan, menghormati saya, dan berterima kasih kepada saya? Apakah saya perduli apakah orang mengasihi Tuhan di dalam hidup mereka?.

Banyak persoalan dikehidupan kita di mana kita ingin menjadi pusat dan bukan Kristus yang menjadi pusat. Kristus datang untuk melepaskan kita dari belenggu keinginan akan pujian dan hormat dari manusia. Saudara ingin dipuji, dan dihargai, ini adalah belenggu dan saudara tidak perduli apakah Allah mengasihi saudara, apakah saudara meninggikan Allah.

Timothy Keller dalam buku yang berjudul “The Freedom of Self Forgetfulness”, dia mengatakan waktu kita melupakan diri kita, dan Kristus menjadi pusat, kita justru akan menerima kebebasan yang sejati. Dia menceritakan banyak pemuda menjadi depresi luar biasa, tertekan, karena tekanan dari orang tua atau lingkungan. Ketika hidup mereka selalu ingin memenuhi keinginan orang tua mereka, mereka menjadi susah dan depresi. Ketika orang-orang seperti ini pergi ke psikolog, mereka akan mendapat jawaban kalau begitu kamu jangan perduli kepada orang lain. Kepada orang-tua mereka, maka nasihatnya adalah kamu tidak boleh memaksa anak seperti itu. Anak itu mulai senang, dan berkata mulai sekarang aku bebas, I don’t care what you think. Sekarang aku dapat melakukan apa yang aku inginkan. Maka Timothy Keller mengatakan engkau lepas dari satu penjara ke penjara yang lain. Ketika “aku” menjadi pusat, sebenarnya ini adalah bentuk “penjara” yang sama tapi berbeda saja, engkau tetap menjadi terkungkung, bahkan bisa menjadi lebih rusak daripada sebelumnya. Timothy Keller membahas dari contoh rasul Paulus, yang mengatakan “I don’t care what you think” (lihat 1 Kor 4:14), itu betul. Tetapi engkau harus masuk langkah yang kedua yaitu “I don’t care what I think.” Ketika engkau menjadi pusat, sebenarnya engkau bingung apa yang engkau inginkan, dan keinginanmu akan menghancurkan hidupmu. Engkau harus meninggalkan dirimu, self forgetfulness, dan masuk ke langkah yang ketiga “I only care what God thinks”. Aku hanya perduli apa yang Kristus pikir. Ketika engkau mengerti akan hal ini maka itu adalah kebebasanmu. Itu seperti jempol yang sehat, tidak lagi memperhatikan dirinya sendiri. Dia hanya memikirkan bagaimana boleh menyenangkan Tuhan.

Percaya artinya Tuhan menjadi pusat. Ketika kita percaya kepada Kristus, Dia harus menjadi pusat. Kristus tidak akan pernah hadir di dalam hidup kita hanya untuk menjadi sampingan. Ketika Dia hadir, Dia harus menempati pusat hidupmu. Kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan (1 Petrus 3:15). Francis Xavier mengatakan “If Christ is not the Lord of all, He is not the Lord at all”. Kristus harus menjadi pusat dalam seluruh hidupmu, kalau tidak, engkau tidak pernah sungguh-sungguh percaya Dia sebagai Tuhan. Seluruh hidup kita adalah milik Kristus, bahkan kita tidak akan bisa bernafas, tidak bisa berbuat apapun, jika diluar Kristus , karena diluar Kristus Yesus Tuhan engkau tidak bisa berbuat apa-apa.

Bagi saya ini juga menjadi teguran. Harap kita menempatkan Kristus menjadi pusat dalam kehidupan kita, dan ini adalah kebebasan yang sejati.

Mengapa menginginkan hormat dari manusia dan bukan dari Allah itu sangat bertentangan dengan iman? Tuhan Yesus berkata, engkau tidak mungkin percaya kepada-Ku kalau engkau mencari hormat dari manusia. Ada dua jawaban untuk hal ini.

1)    Iman yang sejati dalam Kristus memberikan seluruh hormat dan kemuliaan kepada Allah dan tidak ada sedikitpun bagi kita. Kita memang ingin dihormati, tidak ingin dihina, dan ini adalah wajar, tetapi kita sedang berbicara tentang suatu yang lebih dari itu. Saya tidak bisa hidup tanpa saya dihormati, hidup saya akan hancur dan kacau kalau orang tidak menghormati saya. Kalau itu menjadi kerinduan yang paling dalam, itu adalah sangat bertentangan kepada iman. Karena iman sejati di dalam hati di dalam Kristus memberikan seluruh hormat dan kemuliaan kepada Allah dan tidak ada sedikitpun bagi manusia.

Dalam kotbah di bukit, Tuhan Yesus mengatakan “karakter” pertama yang harus ada dari orang Kristen yang sejati, baru kemudian karakter lainnya bisa muncul yaitu adalah miskin di hadapan Allah. “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah” (lihat Matius 5:3). Miskin artinya engkau tidak bisa hidup tanpa belas kasihan dari pada orang lain. Miskin di hadapan Allah artinya tanpa Tuhan aku akan mati. Kesadaran di hadapan inilah adalah iman sejati yang Tuhan inginkan.

Seperti Yesaya ketika berhadapan dengan Tuhan yang sejati dia berkata:  “Celakalah aku, seperti orang yang dilempar di hadapan neraka, di hadapan Tuhan yang kudus, karena aku berdosa. Aku hanya bisa kembali diselamatkan karena belas kasihan Tuhan semata-mata”. Iman yang sejati mengembalikan seluruh hormat bagi Allah.

Yeremia 9:23 memberikan ada tiga musuh Allah .

Beginilah Firman Tuhan: “Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya””.

Tiga musuh itu adalah :

- bijaksana atau kepandaian;

- kekuatan atau power, kehebatan, kekuasaan, dan juga

- kekayaan, harta yang engkau miliki.

Kalau engkau membanggakan akan ketiga hal ini, maka engkau tidak mungkin miskin di hadapan Allah. Kerinduan hati yang dalam yang mencari hormat dari manusia, itu bertentangan dengan iman yang sejati.

2) Iman sejati adalah iman yang menyadari dan mau datang kepada Kristus sebagai satu-satunya yang bisa memuaskan jiwa kita yang terdalam. Iman yang sejati adalah seperti (lihat Matius 13:44) seorang yang menemukan harta yang berharga dalam tanah, tetapi karena itu dia kemudian menutup lagi harta itu, dan dia pulang dengan sukacita. Dia menjual seluruh hartanya yang lain, tapi mendapatkan tanah itu dan harta di dalamnya. Itulah kesukacitaan yang terbesar, yaitu kalau saudara menemukan Kristus sebagai satusatunya sukacitamu yang paling besar. Iman yang sejati adalah menyadari hal itu, dan datang kepada Kristus sebagai satu-satunya yang memuaskan jiwa kita.

Apakah saudara datang kepada Kristus? Kristus sungguh-sungguh memuaskan jiwa kita yang paling dalam? Yoh 6:35, Yesus mengatakan suatu kalimat “Akulah roti hidup; barang siapa datang kepada-Ku ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku ia tidak akan haus lagi.” Lapar dan haus kita adalah kebutuhan kita yang palling dasar, tanpanya kita tidak bisa hidup. Ketika kita datang kepada Kristus, artinya kita datang menerima Kristus yang memuaskan dahaga jiwa kita yang paling dalam. Dialah air hidup yang memuaskan dahaga kita yang paling dalam. Dia adalah roti hidup yang memberikan kepuasan yang paling dalam. Dia adalah air hidup dan roti hidup bagi kita.

Ketika kita datang kepada Kristus dengan cara seperti ini, maka itu akan mematikan kecanduan orang untuk mencari hormat dari manusia. Hormat dari manusia adalah belenggu yang mencengkram jiwa kita. Ketika kita datang dan menemukan kepuasan kita yang sejati di dalam Kristus, mengenal Dia sebagai yang paling berharga, maka ada suka-cita yang berlimpah-limpah dan nikmat senantiasa. Belenggu akan pujian orang dipatahkan. Kita bebas mengikut Tuhan, sungguh-sungguh memuliakan Tuhan di dalam seluruh hidup kita.

Paulus mengatakan (lihat Filipi 3) “segala sesuatu kuanggap sampah karena pengenalan ku akan Kristus itu jauh lebih mulia”. Itulah yang aku inginkan, mengenal Dia, mengenal persekutuan dengan Dia, mengenal penderitaan-Nya. Aku ingin mengenal dia karena pengenalan itu jauh lebih berharga, yang paling memuaskan jiwaku. Kalau aku disuruh untuk memilih untuk tinggal didunia atau pergi bersama-sama Kristus, akau akan memilih pergi ke Kristus. Karena bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan (lihat Filipi 1:21).

Kalau kita menyadari bahwa Kristus yang memuaskan dahaga jiwa kita yang paling dalam, maka kita baru bisa mengatakan mati adalah keuntungan. Kalau tidak, kematian adalah kerugian besar, meninggalkan seluruh harta yang kita miliki, meninggalkan orang-orang yang mengasihi kita, dan yang kita kasihi. Paulus mengatakan semuanya itu adalah sampah dibandingkan dengan Kristus yang lebih mulia dari segala sesuatu, aku memliih pergi, dan mati adalah keuntungan.

Biarlah kita memiliki hati seperti demikian, karena Tuhan menginginkan kita untuk percaya kepada Kristus tanpa halangan; dan halangan yang utama adalah keinginan untuk mengejar hormat dari manusia. Kita datang kepada Kristus mencari air hidup yang memuaskan dahaga jiwa kita. Tuhan Yesus akan senang kita datang kepada-Nya dengan cara demikian.

John Piper mengatakan “God is most glorified in me, when I am most satisfied in Him.” Tuhan paling dimuliakan di dalam diri kita ketika kita dipuaskan di dalam Dia, bukan didalam harta, bukan didalam seks, bukan didalam pujian dan hormat orang. Tuhan ingin kita mengalami itu untuk membebaskan jiwa kita. Kita akan mengalami kenikmatan sejati yang Kristus berikan kepada setiap orang yang datang kepada-Nya.

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya