Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Bekerjalah bukan untuk Makanan yang akan Binasa

Ibadah

Bekerjalah bukan untuk Makanan yang akan Binasa

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 23 Juli 2017

Bacaan Alkitab: Yoh 6:16-29

Bagian ini melanjutkan kisah Tuhan Yesus memberi makan  5 roti dan 2 ikan  kepada 5000 orang laki-laki  (jika dihitung dengan perempuan dan anak-anak mungkin sampai 20,000). Hal yang menarik di ayat 16-21 adalah penempatan peristiwa Yesus berjalan diatas air yang disisipkan ditengah-tengah peristiwa Tuhan Yesus memberi makan 5000 orang dan pengajaran yang menyatakan bahwa Kristus adalah roti hidup yang akan memuaskan kelaparan jiwa manusia. Yohanes tidak memberikan penjelasan yang lebih lanjut tentang peristiwa Yesus berjalan diatas air ini. Lebih lagi, peristiwa ini hanya diketahui oleh murid-murid Tuhan Yesus. Oleh sebab itu, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa peristiwa ini hanya ditujukan kepada murid-muridnya; Tuhan Yesus mau mengajarkan sesuatu melalui mujizat ini khusus kepada murid-muridNya dan bagi kita semua yang termasuk murid-Nya juga.

Lalu apa yang mau Tuhan Yesus ajarkan melalui peristiwa ini? Kita bisa melihat di ayat 12 dan 13 dimana Kristus menyuruh murid-murid-Nya untuk  mengumpulkan sisa makanan dan terkumpulah 12 bakul penuh dengan potongan-potongan roti. Apa signifikansi 12 bakul?  Ini bukanlah satu kebetulan ada 12 murid yang mengumpulkan bakul itu dan sehingga 1 orang mendapat 1 bakul penuh. Signifikansi ini ditunjukan juga di ayat 67, dimana Kristus menyebut murid-murid ini “the Twelve”.  Jadi, Tuhan Yesus mau menyatakan sesuatu yang penting disini bagi murid-murid-Nya dan juga kita yang termasuk  murid-muridNya. Kristus mau menyatakan bahwa jika kita melayani Kristus, memberikan diri dan waktu untuk melayani Kristus, maka Kristus tidak akan melupakan kita. Jika kita memperhatikan kebutuhan anak-anak Kristus, maka Kristus  pasti akan memperhatikan kebutuhan kita dan anak-anak kita; ketika kita bekerja dan menyelesaikan pelayanan kita kepada Kristus, maka akan ada sisa 1 bakul penuh bagi kita. Kristus juga mau mengatakan bahwa Ia akan menjadi Roti yang akan memuaskan jiwa kita kalau kita berjuang membawa orang kepada Kristus, yang adalah Pribadi yang akan memuaskan jiwa mereka. Semakin kita memberikan hidup bagi orang lain, semakin Kristus menjadi hidup bagi kita. Semakin kita berduka cita akan dosa orang lain, dam membawa orang datang kepada Kristus, maka kita akan semakin mengalami penghiburan dari Kristus; berbahagialah orang yang berduka cita, karena mereka akan dihibur.

Hal ini juga adalah hal yang mau diajarkan Tuhan Yesus melalui mujizat dimana Ia berjalan diatas air. Ayat 17-18 menyatakan bahwa murid-murid berada bukan didalam bahaya kelaparan tetapi  mereka terjebak dilaut sehingga tidak bisa sampai daratan. Murid-murid ini adalah nelayan-nelayan yang berpengalaman, tetapi mereka mengalami kesulitan besar karena angin yang kencang dan laut yang bergelora. Disini kita bisa membayangkan betapa murid-murid rindu akan daratan. Maka kita pun bisa mengerti bahwa ini adalah bahaya yang lebih mengerikan daripada tidak ada roti, karena mereka bisa segera mati kalau tidak ada pertolongan. Kemudian Yohanes mencatat di ayat 19 bahwa tiba-tiba Yesus hadir berjalan diatas laut, lalu mereka membawa-Nya ke perahu dan seketika itu juga perahu itu  sampai ke daratan yang mereka tuju. Jadi penekanannya disini bukan pada kuasa Yesus dalam meredakan badai, karena di injil Yohanes tidak diceritakan bahwa Tuhan Yesus meredakan badai dan juga bukan pada peristiwa Petrus yang berjalan diatas air yang dicatat di injil Matius. Tetapi bagian ini mau menekankan akan kehadiran Tuhan ditenga-tengah kesulitan mereka dan tiba-tiba sampailah mereka ditempat tujuan. Kristus mau mengatakan kepada murid-murid-Nya  bahwa apapun yang kita hadapi, khususnya ketika kita mengerjakan pekerjaan Tuhan dan sungguh-sungguh merasa kita tidak mampu untuk mengerjakan pekerjaan tersebut,  maa Tuhan mau mengatakan bahwa Ia akan hadir disitu, memampukan kita, dan memimpin hidup kita  sampai kepada tujuan. Biarlah ini menjadi kekuatan dan penghiburan bagi kita didalam kita hidup mengikut Tuhan dan mengerjakan kehendak Tuhan.

Musa berkata pada Mazmur pasal 90 bahwa Tuhanlah tempat perteduhannya turun-temurun (ayat 1). Kalau kita mengerti hidup Musa, maka kita tahu bahwa seumur hidupnya Musa tidak pernah sampai ke Tanah Perjanjian, dan ia dari kecil diangkat  oleh putri Firaun dan sehingga selama 40 tahun ia menjadi pangeran di Mesir. Kemudian, ia lari ke tempat orang asing dan disana ia selama 40 tahun menjaga kambing dan domba. Kemudian waktu Ia umur 80 tahun Tuhan memanggil dia untuk memimpin bangsa Israel untuk masuk ke Tanah Perjanjian yang adalah rumah (tempat perteduhan) dimana Musa bisa tinggal bersama-sama dengan bangsanya selama 40 tahun terakhir hidupnya. Namun sampai mati ia tidak masuk ke Tanah Perjanjian. Kalau kita melihat kitab Ulangan, kita tahu bahwa Tuhan menunjukan tanah perjanjian itu kepada Musa tetapi Musa sendiri tidak akan masuk ke tanah itu dan kemudian matilah Musa. Tetapi Musa berkata di Mazmur 90 bahwa bentuk Tanah Perjanjian bukanlah tanah, tetapi satu Pribadi yaitu Tuhan sendiri. Kristus juga mau mengatakan bahwa ketika kita melayani didalam pekerjaanNya, maka Kristus akan menjadi tempat perteduhan kita. Kristus akan menjadi roti yang senantiasa memuaskan akan jiwa kita yang paling dalam. Tuhan akan memimpin memberkati, dan menyertai akan umat-Nya.

C.S, Lewis pernah mengatakan hal yang mrip ketika ia mengakatkan  “Bayangkan dirimu seperti sebuah rumah, dan kau sadar bahwa banyak kerusakan yang ada pada dirimu. Maka kau mengundang Tuhan  masuk kedalam dirimu dan membereskan kerusakan yang ada. Maka kita menjadi senang sekali karena Tuhan memberikan hal-hal yang kita perlukan dimana Ia memperbaiki kerusakan-kerusakan yang ada. Tetapi Tuhan tidak berhenti sampai disitu, Tuhan mulai merombak dirimu dan engkau mulai bingung akan tindakan yang Tuhan lakukan ini. Maka Tuhan berkata kepada kepadamu: “Engkau menginginkan dirimu sebagai rumah kecil yang sederhana, tetapi Aku membuat istana bagi-Ku dan Aku berencana akan tinggal ditempat itu.”. Kalau kita mengerti hal ini bersamaan dengan perkataan Musa diatas, maka Tuhan juga akan berkata “Sesungguhnya, Akulah Istana-mu itu; engkau akan tinggal di dalam Aku dan Aku didalam engkau.”. Mungkin kehidupan kita sekarang seperti rumah yang sedang dibongkar dan kita tidak mengerti akan apa yang Tuhan sedang kerjakan didalam hidup kita. Tetapi firman Tuhan ini mengingatkan kita yang termasuk murid-murid-Nya, yaitu orang yang berjalan didalam kehendak-Nya dan melakukan apa yang  menjadi kehendak-Nya, bahwa Tuhan akan menyertai dan memimpin murid-murid-Nya. Bahkan, Tuhan bukan hanya memberi makanan yang diperlukan, tetapi Tuhan akan menjadi makanan yang akan memuaskan jiwa kita selama-lamanya.

Inilah yang Tuhan Yesus mau katakan kepada para murid dan ketika Ia berjalan diatas air dan memberi makan 5000 orang, dimana setiap murid mendapa sisa roti 1 bakul penuh. Tetapi hal ini bukan berarti pertolongan dan penyertaan Tuhan itu berarti hidup kita akan mudah dan nyaman. Justru ketika pertolongan dan penyertaan Tuhan nyata, kita seringkali mengalami segala kesulitan, pergumulan, dan tantangan yang besar ketika kita mengikut Tuhan. Karena sesungguhnya firman Tuhan berkata kepada kita barangsiapa mau hidup suci dan saleh dihadapan Tuhan, maka pasti akan mengalami aniaya. Panggilan Kristus kepada kita juga menyatakan bahwa barangsiapa yang mengikut-Nya harus menyakal diri dan memikul salib. Maka, kalau kita mengikut Kristus pasti akan mengalami kesulitan, pergumulan, dan aniaya.

Tuhan Yesus mau mengingatkan kita disini bahwa Tuhan peduli akan kebutuhan dan kesulitan yang kita hadapi kita sekarang, dan seringkali Ia memberi pertolongan kepada kita didalam menghadapi kesulitan-kesulitan ini. Tetapi Tuhan tidak berhenti sampai disitu, tetapi  Ia jauh lebih peduli terhadap hidup kekal kita. Melalui kesulitan Tuhan membentuk kita sehingga kita makin mengenal Dia dan menyadari kalau Tuhan adalah sumber kekuatan dan sukacita kita yang sejati. Dengan kata lain Tuhan Yesus mau mengatakan bahwa kita lebih membutuhkan Roti Hidup, yang adalah diri-Nya sendiri, daripada roti yang kita sadar kita butuhkan sekarang.

Dalam Roma 8: 35 Palulus mengatakan “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis:”Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya ,aut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-omba sembelihan.””. Paulus mengatakan hal ini karena dia sendiri mengalami itu semua. Didalam kehidupan dan pelayanan Paulus meski ia sadar akan banyaknya pertolongan Tuhan, tetapi juga ia sadar bahwa mengikut Tuhan itu banyak kesulitan, pergumulan, dan tantangan. Namun dalam semuanya itu, dia mengatakan bahwa kita lebih dari orang-orang yang menang oleh Dia yang telah mengasihi kita (ayat 37) dan “…baik maut, maupn hidup, baik malaikat-malaikat, maupu pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (ayat 38-39).

Tuhan mau mengajar dan mengingatkan kita bahwa Ia adalah Tuhan yang baik dan peduli terhadap kebutuhan fisik kita; tetapi Ia jauh lebih peduli akan kita mengenal Dia, akan hidup kita diubahkan, dan sungguh-sungguh menyadari bahwa tidak ada apapun  yang bisa memisahkan kita dari kasih Kristus. Inilah yang paling utama yang kita harus ingat. Biarlah kita boleh menyadari hal yang paling utama dan kita juga tidak melupakan hal-hal yang lain yang sebenarnya  Tuhan berikan kepada kita. Kita harus fokus kepada hal-hal yang utama seperti dinyatakan di ayat 27 “bekerjalah bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal.”. Ketika fokus kita salah, maka kita akan melihat segala sesuatu dengan kacau; ketika fokus kita tepat maka hal-hal yang lain didalam hidup kita kita akan mengerti dengan tepat.

Kalau kita melihat konteks ayat 22-26, kita bisa melihat Tuhan Yesus dengan tajam membongkar hati mereka yang mencari Dia. Yesus menyatakan bahwa mereka yang mencari Dia salah mengerti akan signifikansi mujizat yang Ia lakukan sebelumnya yatiu memberi makan 5000 orang laki-laki; bahwa mereka hanya memperhatikan tentang roti dan ikan yang mengenyangkan perut mereka. Mereka hanya melihat apa yang Yesus kerjakan tetapi tidak melihat siapa diri Yesus, yaitu sang Roti Hidup yang dapat memuaskan kelaparan jiwa mereka yang paling dalam. Karena hal ini, Tuhan Yesus memberi perintah dan pengajaran kepada mereka untuk bekerja bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal. Tentu hal ini bukan berarti kita tidak usah bekerja untuk mencari uang yang kita bisa gunakan untuk membeli makanan, karena seluruh Alkitab mengajarkan kalau pekerjaan yang kita lakukan itu penting dimata Tuhan. Bahkan Paulus mengatakan kalau orang tidak bekerja,orang tersebut tidak usah makan.

Terlebih lagi ketika Martin Luther menjelaskan tentang bagian dari doa Bapa Kami: “berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya”, ia menjelaskan bahwa kita juga berdoa untuk semua orang-orang yang berperan untuk memungkinkan makanan itu ada diatas meja kita, karena Tuhan memakai orang-orang ini untuk memberi kita makanan. Artinya, Tuhan menghargai setiap pekerjaan. Namun, hal ini juga berarti fokus dan motivasi pekerjaan kita bukanlah kepada hal yang sementara yang dapat binasa, tetapi pada hal-hal yang kekal. Jadi hal yang utama kita kerjakan terlebih dahulu, maka Tuhan akan memimpin kepada kita hal-hal yang kita butuhkan di dalam dunia ini. Banyak orang di dunia ini mengejar untuk hal-hal yang dapat binasa dan lupa akan hal-hal yang kekal, hal yang dapat kita bawa setelah kita mati, hal yang Tuhan inginkan kita berfokus kepadanya yaitu melakukan kehendak-Nya.

Apa makanan yang bisa bertahan sampai kepada hidup yang kekal? Tuhan Yesus berkata di ayat 29 ““Inilah pekerjaan yang dikehendaki Alah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.””. Inilah pekerjaan yang menghasilkan makanan yang bertahan sampai kekekalan, yaitu ketika kita sungguh-sungguh percaya kepada Yesus sehingga kita mengutamakan Dia diatas segala hal, dan memuliakan Dia dalam setiap hal yang kita kerjakan. Kemudian, ketika kita percaya kepada Krisus kita boleh bekerja dengan cara yang berbeda dengan orang-orang lain yang bekerja didalam dunia ini, karena kita sudah mendapatkan hal yang paling penting yang orang lain kejar seperti rasa aman, harga diri, dan kepuasan didalam hidupnya. Bagi orang yang percaya kepada Kristus, hal-hal ini sudah Tuhan berikan kepada kita.

Orang percaya mendapat rasa aman karena tidak ada sesuatu yang dapat memisahkan dia dengan kasih Kristus. Harga diri orang percaya terletak pada identitasnya sebagai anak-anak Allah yang sudah dibenarkan. Kepuasan orang percaya didapat ketika mereka hidup memuliakan Tuhan dan menikmati Tuhan selamanya karena itulah tujuan hidup mereka. Sehingga, orang yang percaya kepada Kristus tidak lagi bekerja untuk membuktikan siapa dirinya, mengumpulkan uang sebagai dasar rasa aman mereka. Tetapi mereka bekerja dengan mengetahui bahwa tidak ada yang bisa memisahkan mereka dari kasih Kristus. Menyadari bahwa Krsitus adalah roti hidup yang telah dan senantiasa memuaskan jiwa mereka. Bekerja dengan kesadaran bahwa dihadapan Tuhan ada sukacita yang melimpah-limpah dan ditangan kanan-Nya ada nikmat senantiasa (Mazmur 16:11).

Orang yang mencari kenikmatan diluar Kristus seperti dalam pornografi, tidak pernah mengerti bahwa kenikmatan yang ditawarkan oleh Kristus adalah kenikmatan yang penuh dan yang bertahan sampai kekekalan. Orang seperti ini adalah seperti anak yang bermain dalam lumpur yang kotor yang tidak mau diajak bermain di pantai putih yang bersih. Menyadari akan sukacita yang ditawarkan Kristus, kita akan bekerja dengan lebih sunggu-sungguh, dengan ucapan syukur, dan dengan kedamaian; karena tidak ada beban karena mencari keamanan, kepuasan, dan harga diri didalam pekerjaan. Jadi, salah satu implikasi orang yang menerima Kristus adalah ia akan memberikan yang terbaik didalam pekerjaannya sebagai ekspresi kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama, karena Tuhan sudah terlebih dahulu mengasihi mereka.

Pada tanggal 24 Februari 1989, United Airline flight 811 berangkat dari Honolulu ke New Zealand. Di tengah ketinggian 20,000 kaki, salah satu pintu kargo copot  dan 9 orang langsung tersedot keluar . Terlebih lagi, ada beberapa komlikasi lain seperti mesin yang mati yang menyebabkan pesawat harus mendarat darurat. Maka sang kapten dengan sebaik mungkin melakukan apa yang ia bisa lakukan untuk mendarat . Peawat tersebut lalu berhasil mendarat secara sukses. Seteah beberapa waktu kapten ini diwawancara tentang bagaimana ia berhasil mendaratkan pesawat itu. Kemudian sang kapten menjawab “saya berdoa sebentar untuk semua penumpang dan saya melakukan yang terbaik untuk mendaratkan akan pesawat itu.”. Salah satu hal yang bisa kita kerjakan sebagai anak-anak Tuhan supaya kita bisa menjadi berkat didalam pekerjaan kita adalah kita mengerjakan yang terbaik  seturut dengan segala kemampuan dan kesempatan yang Tuhan berikan. Inilah salah satu bentuk ekspresi kita mengenal Tuhan.

Inilah yang Tuhan inginkan ketika Tuhan berkata “bekerjalah bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal.”. Ketika kita mengenal Tuhan dan menerima makana yang bertahan sampai hidup kekal itu dari Tuhan, kita bisa berkarya sebagai ekspresi syukur dan kasih kita kepada Tuhan dan berkarya sebagai ekspresi kasih kepada orang-orang disekeliling kita. Dengan demikian, Tuhan boleh dipermuliakan dan kemudian kita semakin melihat pimpinan Tuhan dan augerah-Nya sehingga kita makin mengenal Dia.

Biarlah firman Tuhan ini mengingatkan, mendorong kita untuk menempatkan yang utama sebagai hal yang utama yaitu  percaya dan mengenal pribadi Kristus, sungguh-sungguh beriman kepada-Nya, dan mengerjakan pekerjaan Tuhan.  Sekaligus kita mengingat bahwa melalui semuanya ini, Tuhan memelihara dan memimpin kita ditengah segala kesulitan dan pergumulan yang kita hadapi ketika kita melakukan segala sesuatu yang menyenangkan Tuhan. Juga biarlah kita mengerti bahwa ketika kita memngutamaka hal yang utama, hal-hal yang lain akan Tuhan pelihara. Tuhan ingin kita makin mengenal diri-Nya, makin mengenal anugerah dan kasih-Nya, makin mengalami pertolongan dan kehadiran-Nya melalui segala hal yang kita kerjakan.

Ringkasan oleh David Hartana | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya