Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > You Have Done a Beautiful Thing to Me

Ibadah

You Have Done a Beautiful Thing to Me

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 2 Juli 2017

Bacaan Alkitab: Matius 26:1:16

Bacaan Alkitab kali ini adalah permulaan penderitaan Yesus Kristus.

Ada seorang penulis yang menggambarkan Matius dari pasal 2 sampai pasal 28 adalah seperti perjalanan naik gunung. Salah satu cita-cita saya yang belum tercapai adalah saya ingin naik gunung. Sebenarnya sangat menarik untuk naik gunung, perjalanan yang susah dan berat, namun menjadi berkat yang besar sekali. Semakin tinggi kita mendaki, kadar oksigen semakin tipis, nafas semakin susah. Seringkali kita tidak bisa melihat puncak gunung itu karena tertutup awan, namun ini bukan berarti bahwa puncaknya tidak ada. Alangkah bodohnya kalau seorang berkata puncaknya tidak ada, hanya karena dia tidak bisa melihat puncak itu. Begitu sampai di puncak gunung itu maka semua perjuangan itu worth it; kita bisa melihat keindahan dan keagungan puncak gunung.

Inilah yang digambarkan dalam Matius 26 sampai 28, kematian Kristus adalah perjalanan yang sulit, sampai pada puncak Golgota. Di puncak kematian-Nya Kristus meneriakkan kalimat “My God, My God, why hast Thou forsaken Me” (Mat 27:46), kalimat yang begitu mengerikan sekaligus begitu indah.

Bagian ini di gambarkan juga dalam bagian permulaan dari the Matthew passion. Matthew Passion, suatu oratorio terkenal yang ditulis oleh J.S. Bach, menceritakan seminggu terakhir sebelum Kristus disalibkan. Lagu pertama dalam Matthew Passion, dimulai dengan nyanyian teriakan penderitaan (wailing) Kristus yang akan mati.

Kali ini kita akan memfokuskan akan cerita Maria yang mengurapi Yesus. Kita akan melihat konteks cerita ini supaya kita bisa melihat keagungan apa yang dilakukan oleh Maria.

Setelah selesai mengajar, Yesus berkata bahwa dua hari lagi maka Dia akan diserahkan dan mati. Ini adalah kali keempat Dia berkata demikian. Dia akan mengalami puncak penderitaan, mati di kayu salib, namun untuk itulah Dia datang ke dunia ini. 

Matius memulai dengan (Mat 26:1) “Setelah Yesus selesai dengan segala pengajaran-Nya itu” untuk masuk ke bagian yang baru. Kalau kita melihat selanjutnya dalam Matius pasal 27 sampai 28, maka kita melihat Yesus sedikit sekali berbicara, tetapi Dia taat, sampai mati di Salib. Mukjijat-mukjijat yang Dia lakukan sudah selesai, dan sekarang Dia sedang melakukan puncak perintah dari Bapa-Nya; Dia taat sebagai seorang anak yang mau melaksanakan kehendak Bapa-Nya.

Kita melihat Mat 26:3-5 “Pada waktu itu berkumpullah imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi di istana Imam Besar yang bernama Kayafas”.

Di dalam Yoh 11, sebelum diurapi oleh Maria, kita tahu bahwa Yesus baru membangkitkan Lazarus, dan ini menjadi salah satu puncak orang-orang Yahudi dan imam-imam kepala. Mereka membuat FPY (Front Pembela Yahudi) dan berkumpul merencanakan untuk menangkap dan membunuh Yesus. Karena Dia sudah membuat kekacauan yang besar, membongkar segala kesalahan mereka; pengaruh-Nya semakin besar, dan otoritas pemimpin Yahudi sangat terancam.

Kayafas adalah seorang imam besar yang sangat berpengaruh, yang terpanjang dalam sejarah Yahudi, dari tahun 18 sampai 36 (kira-kira 18 tahun). Setelah Kayafas, selama 30 tahun, terjadi pergantian 28 kali (atau kira-kira setiap tahun ganti). Kayafas seorang pemimpin agama yang sangat lihai. Dengan tipu muslihat, dengan stealth Kayafas merencanakan untuk menangkap Yesus. Namun mereka takut karena dua hari lagi mereka akan merayakan Paskah. Orang-orang sudah datang ke Yerusalem untuk merayakan Paskah. Kalau mereka menangkap seorang yang sangat popular, maka mungkin terjadi keributan yang besar. Mereka mengatakan tidak mungkin menangkap Yesus saat perayaan, karena mungkin akan ribut, tetapi tidak bisa juga setelah perayaan, karena semua sudah pulang termasuk Kristus. Karena itu mereka harus menangkap Kristus secepat mungkin  sebelum Paskah. Mereka tidak tahu bagaimana caranya dan dalam situasi ini Yudas menjadi solusi bagi mereka.

Kalau kita membaca Mat 16:14 “Kemudian pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala. Ia berkata: "Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?" Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya. Dan mulai saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.” Inilah jawaban bagi mereka.

Di tengah kebusukan dan kerusakan pemimpin agama, Yudas menjual Yesus kepada mereka seharga 30 uang perak, atau sekitar 120 dinar.

Matius mencatat suatu yang indah ketika Maria mengurapi Yesus dengan minyak wangi seharga 300 dinar dengan sekejap saja.

Bagi Yudas 120 dinar itu cukup untuk mengkhianati Yesus. Kita melihat keindahan yang dikerjakan Maria, yang juga saudara Marta dan Lazarus, waktu dia mengurapi Yesus.

Kita bisa belajar dari Maria. Ketika respons kita merefleksikan betapa berharganya Kristus, maka itu adalah sesuatu yang indah di mata Kristus. Kristus mengatakan dalam terjemahan Inggris (NIV Matthew 26:10) “she has done a beautiful thing to Me”. Biarlah suatu hari Tuhan bisa mengatakan kepada kita “you have done a beautiful thing to Me”.

Ada tiga alasan Tuhan mengatakan tindakan Maria ini sebagai suatu yang indah.

  1. “Aku tidak akan selalu bersama dengan kamu” (Mat 26:10).

Sebentar lagi Yesus akan disalibkan, tinggal beberapa hari lagi Yesus hidup secara jasmani. Maria sangat menghargai waktu yang masih ada bersama-sama dengan Kristus. Karena itu dia memberikan sesuatu yang berharga.

Maria mengerti apa yang Yesus katakan, karena Dia sudah berkali-kali mengatakan “Aku akan disalibkan”. Maria sudah mendengar perkataan Kristus, pekerjaan Tuhan dalam hidup dia dan hidup keluarga, menyaksikan Kristus membangkitkan saudaranya Lazarus. Dia mengurapi kepala dan juga kaki Yesus dengan minyak seharga 300 dinar atau setara dengan upah 300 hari kerja (1 dinar adalah kira-kira upah kerja 1 hari). Hati Maria penuh dengan kasih, dan kasihnya itu melimpah keluar dengan tindakan yang extravagant.

Maria mengerti kasih Tuhan, dia mengalami anugerah Tuhan, karena itu dia melakukan sesuatu yang menggerakkan hatinya. Dia tidak lagi memperhitungkan untung rugi, dan dia ingin memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Saudara pernah mengasihi seseorang dengan sungguh-sungguh, saudara pernah jatuh-cinta. Kasih yang besar tidak memperhitungkan untung-rugi, dan dapat membuat kita melakukan suatu tindakan yang extravagant, seperti yang Maria lakukan.

Pada saat itu, Maria belum melihat dan mengerti mengapa Kristus mati, seorang Anak Allah yang mati sebagai seorang kriminal di atas kayu salib. Bagi kita yang sudah melihat bagaimana Kristus mati, seharusnya kita lebih mengerti daripada Maria. Sehingga kita bisa menyatakan kasih kita kepada Kristus, karena Dia sudah mengasihi kita dengan kasih yang begitu besar.

Matius menyatakan Maria mengurapi kepala Yesus, seolah-olah untuk menyatakan bahwa Dia adalah Mesias, yang berarti yang diurapi. Tetapi Yohanes (lihat Yoh 11) juga menekankan bahwa Maria mengurapi kaki Yesus juga. Waktu mengurapi kaki, Maria mengelap kaki Yesus dengan rambutnya. Saya yakin Maria ini adalah seorang yang karakternya sangat-sangat indah, yang tidak banyak bicara, tetapi seringkali Yesus memuji dia. Waktu Yesus datang ke rumah Maria dan Marta saudaranya (lihat Luk 10:38-42), maka Marta sibuk melayani di dapur, sedangkan Maria duduk mendengarkan Yesus. Tuhan Yesus justru menegur Marta, karena dia sibuk dalam banyak hal, tetapi melupakan satu hal yang sangat penting, dan yang paling berharga, yaitu mendengarkan perkataan Tuhan.

Maria mendengar perkataan Yesus, sehingga dia mengerti apa yang akan Yesus alami. Bahkan murid-murid-Nya sendiri tidak mengerti bahwa ini adalah waktu-waktu terakhir Yesus bersama-sama dengan mereka. Murid-murid bahkan gusar ketika Maria memecahkan perfume 300 dinar untuk mengurapi Yesus. Yudas menjadi yang paling marah karena dia adalah orang yang dikuasai oleh uang. Murid-murid tidak mengerti apa yang dikerjakan oleh Kristus, namun Maria mengerti.

Rambut adalah mahkota seorang wanita bukan, tetapi Maria menggunakannya untuk mengelap kaki Yesus, yang paling rendah daripada Kristus. Seolah-olah Maria ingin mengatakan bahwa yang paling rendah daripada Kristus adalah lebih mulia daripada dirinya.  Ini adalah kasih yang begitu indah, yang menjadi contoh bagi orang sepanjang jaman, dan juga bagi kita saat ini.

Ketika kita menerima roti dan anggur, kita sekali lagi diingatkan akan Yesus yang diserahkan bagi kita. Biarlah kita boleh belajar seperti Maria, dan meresponi akan kasih Tuhan sesuai dengan betapa berharganya diri Kristus itu. Sehingga Kristus sendiri bisa melihat, sehingga orang dunia juga bisa melihat apakah pengenalan kita akan Kristus sesuai dengan berharga dan mulianya Kristus itu.

 

2. Karena orang-orang miskin selalu ada pada mereka (Mat 26:10-11).

Ini bukanlah suatu alasan bagi kita untuk tidak menolong orang miskin, karena kita melihat bahwa Kristus sangat memperhatikan orang miskin. Tetapi ayat ini menekankan bahwa selalu ada kesempatan untuk memperhatikan orang miskin. Yudas khususnya adalah orang yang paling marah akan pemborosan ini.

Seolah-olah Yesus ingin mengatakan kepada Yudas bahwa setelah Aku mati, maka engkau masih mempunyai waktu, engkau bisa menggunakan seluruh sisa hidupmu bersama-sama dengan orang-miskin, mengasihi mereka, seperti Aku sudah mengasihi mereka juga. Tuhan tahu bahwa kemarahan Yudas itu bukanlah karena dia peduli kepada orang miskin, tetapi karena Yudas adalah seorang pencuri, seorang bendahara yang sebenarnya dipercaya, tetapi sering mencuri uang yang dipercayakan kepadanya. Tuhan ingin mengatakan bahwa Yudas gusar akan tindakan Maria, karena Yudas mengasihi uang lebih daripada Yesus. Ini adalah suatu peringatan karena bukan hanya Yudas yang gusar, tetapi juga semua murid-murid.

Setelah peristiwa ini, Yudas menjual Yesus dengan 120 dinar atau sekitar 120 hari kerja, itulah harga Kristus menurut Yudas. Paulus mengatakan kepada Timotius (1 Tim 6:10) “Karena akar segala kejahatan adalah cinta akan uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” Apa yang dikerjakan Maria adalah sesuatu yang indah karena menekankan bahwa hanya orang-orang yang tidak mengenal Kristus dan cinta akan uang yang menganggap ini adalah suatu pemborosan. Cinta akan uang akan membuat kita buta, dan tidak dapat melihat betapa berharganya Kristus. Karena kita buta, bukan hanya kita tidak bisa melihat keindahan yang dilakukan Kristus, tetapi juga kita membunuh diri kita sendiri. Seharusnya kita memberikan seluruh hidup kita, supaya kita layak bagi Dia. Yudas mendengar dan menyaksikan perkataan dan mukjijat Kristus. Tetapi semuanya itu tidak menggerakkan hatinya, karena hatinya penuh akan cinta akan uang. Itu adalah yang paling mulia bagi Yudas, sehingga seluruh hidupnya mengejar uang.

Alktab mengatakan bahwa ini bukan hanya tidak berkenan kepada Tuhan, tetapi juga adalah bunuh diri, dan itulah yang terpadi pada diri Yudas. Yudas akhirnya bunuh diri karena kejahatan yang dilakukannya.

Orang-orang yang mencintai uang tidak mungkin mengerti apa yang dilakukan Maria adalah suatu yang indah. Biarlah kita meninggalkan salah satu dosa yang sangat besar dalam diri manusia: cinta akan uang, atau apapun yang lebih kita utamakan dibandingkan dengan Kristus. Yesus mengatakan (Mat 6:24) engkau tidak bisa menyembah kepada Allah dan kepada mammon; engkau akan membenci yang satu dan mencintai yang lain; engkau harus memilih salah satu. Apa yang menjadi pusat di dalam hatimu. Biarlah respon kita kepada Kristus, adalah respons yang didasari pengertian bahwa Kristus jauh lebih berharga daripada apapun yang kita miliki. Kristus layak mendapatkan devosi kita, kasih kita, komitment kita lebih daripada segala satu.

Seperti dalam lagu Fairest Lord Jesus, Kristus lebih indah dari gunung, dari danau, dari hal-hal yang begitu indah di dunia ini. Kita semua senang melihat hal yang indah, tetapi biarlah kita diingatkan bahwa Kristus jauh lebih indah daripada semuanya itu. Jauh lebih indah daripada segala harta kita, daripada istri/suami kita, daripada anak-anak kita. Karena kalau engkau tidak membenci istri/suami-mu, anak-anakmu atau segala sesuatu di dunia ini, engkau tidak layak bagi Kristus. Yesus menginginkan kita untuk memuliakan dia dengan segenap hati, karena Dia adalah yang terindah. Dia adalah hidup itu sendiri, Akulah jalan kebenaran dan hidup itu. Itulah kehidupan yang sejati. Kesukaan yang besar dan hidup yang berlimpah-limpah ketika kita menempatkan Kristus sebagai yang paling utama.

1 Petrus 3:15 mengatakan “Kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan”. Biarlah Kristus menjadi pusat hidup kita dan Dia boleh dikuduskan sebagai Tuhan di dalam hati kita yang paling dalam. Biarlah ini terpancar di dalam segala perkataan kita, perbuatan kita dan perasaan kita. Dia boleh menjadi yang terutama di dalam hidup kita.

Kristus berkata kepada Yudas orang miskin selalu ada bersama dengan engkau. Tetapi engkau marah dengan apa yang dilakukan Maria, karena engkau tidak mengasihi Aku, engkau lebih mencintai uang daripada mencintai-Ku.

 

3. Apa yang dilakukan Maria adalah persiapan bagi penguburan Kristus.

Mat 26:12 mengatakan “Sebab dengan mencurahkan minyak itu ke tubuh-Ku, ia membuat suatu persiapan untuk penguburan-Ku.”

Kita tidak tahu seberapa detil Maria mengerti bagaimana Kristus akan mati, tetapi Maria mengerti bahwa Yesus akan mati sebentar lagi, karena berkali-kali Yesus sudah mengatakan kepada mereka. Pasti Maria pernah mendengar perkataan Yesus dan dia menangkap dan percaya bahwa Yesus sebentar lagi akan mati. Ini adalah suatu pengertian Maria yang sangat besar, khususnya di antara para murid yang besar yang bergumul, yang masih berdebat, berkompetisi satu sama lain dengan mengatakan siapa daripada mereka yang paling besar. “Boleh aku duduk di sebelah kanan-Mu?” kata para murid (lihat Mat 20:21). Tetapi Maria sekali lagi mengerti apa yang harus dia kerjakan, bahwa Kristus akan mati, dan dia melakukan persiapan bagi kematian-Nya.

Kemungkinan besar apa yang dikerjakan Maria ini menunjuk kepada Kristus yang akan mati sebagai seorang kriminal. Belum mati namun sudah dipersiapkan penguburannya. Biasanya pengurapan itu dilakukan pada orang mati yang mau dimasukkan ke dalam kuburan. Tetapi sebelum mati Yesus sudah diurapi terlebih dahulu. Apa maksudnya di sini? Yesus ingin mengatkan bahwa kematiannya adalah sebagai seorang kriminal, tidak ada waktu lagi. Dia akan mati hari jumat, harus buru-buru diturunkan dari salib dan harus dimasukkan ke dalam kuburan, karena hari Sabat sudah menjelang. Kematian Kristus mengagetkan karena hanya beberapa jam saja Dia sudah mati. Tidak ada waktu lagi untuk mengurapi tubuh-Nya.

Inilah yang dilakukan Maria, sebelum Kristus mati, dia mengurapi-Nya sebagai persiapan bagi penguburan-Nya. Kematian Kristus adalah kematian sebagai seorang yang dikutuk Allah, sebagai seorang criminal, sebagai pemberontak bagi orang Romawi. Paulus mengatakan dalam 1 Kor 1:23, bahwa kematian Kristus adalah batu sandungan bagi orang Yahudi dan kebodohan bagi orang Yunani. Kematian Kristus adalah kematian yang begitu lebih, dan begitu lemah.Orang-orang mengejek-Nya, turunlah dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Mu. Bagaimana Engkau dapat menyelamatkan orang lain, kalau Engkau tidak bisa menyelamatkan Diri-Mu sendiri. Engkau adalah orang yang dikutuk Allah, sebagai kriminal, begitu remeh, mati di atas kayu salib.

Banyak orang tidak mengerti, tetapi Maria mengerti, bahkan sebelum Kristus mati. Mungkin Maria tidak mengerti seluruh implikasi kematian Kristus. Tetapi Kristus mengerti sekali, dalam seluruh perjalanan-Nya menuju ke Golgota, Dia selalu full-in-control. Dia menuju ke sana karena taat, Aku datang untuk memuliakan Engkau Bapa dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya. Ini adalah pekerjaan puncak bagi Yesus. Dia datang untuk mati di kayu salib, menebus dosa saudara dan saya. Dua hari lagi Paskah akan dirayakan, dan Paskah Yahudi waktu itu adalah hari pembebasan mereka dari penjajahan Mesir. Mesir dikalahkan dengan tanda yang begitu dahsyat, dengan kematian anak sulung di seluruh Mesir, termasuk anak sulung Firaun. Kristus mati persis di waktu domba Paskah yahudi di sembelih, yaitu sekitar jam 3 sore. Kristus mati sebagai anak domba yang disembelih, bukan hanya membebaskan orang Israel daripada Mesir, tetapi membebaskan semua orang yang beriman kepada-Nya daripada kuasa dosa.

Maria melakukan itu untuk mempersiapkan kematian Kristus, dan Kristus mengatakan bahwa itu adalah sesuatu yang sangat indah.

Ketika saya masih kuliah di sekolah teologi STRII Warung Buncit. Ada teman saya, pendeta Yusak Wijaya, membuat drama, yang dimainkan oleh para mahasiswa. Kita mementaskan drama tersebut di berbagai kota di Indonesia. Drama ini diberi nama drama Getsemani, karena dimulai di taman Getsemani, di mana Yesus berdoa, dan diteruskan sampai Yesus mati dan bangkit daripada kematian. Ini menjadi suatu yang sangat indah. Pak Tong setiap kali melihat drama ini, beliau tergerak hatinya dan menangis. Ada satu hal yang berkesan dalam drama itu. Saya sendiri adalah salah satu pemain dalam drama itu, menjadi salah satu imam, pengikut Kayafas. Dalam salah satu rehearsal, dalam scene perjalanan ke Golgota, di mana semua mentertawakan, mencambuk dlsb, ada improvisasi. Waktu Yesus terjatuh, dan Dia mau berdiri lagi, maka saya diberi tugas untuk menginjak Dia, sambil mentertawakan Dia. Maka kita latihan dan mempersiapkan drama itu. Tetapi saat drama itu dipentaskan, waktu saya mau injak teman saya yang memerankan Kristus, tiba-tiba saya tidak tahan, ada suatu kesadaran. Di tengah-tengah peristiwa itu, saya benar-benar tidak tahan, menyadari bahwa Dialah Juruselamat yang taat yang setia sampai mati kepada BapaNya, bagaimana saya bisa menginjak dan mentertawakan Dia. Dia sudah menanggung segala hukuman yang seharusnya saya terima. Saya menyadari kasih Tuhan kepada saya, sampai Dia mati dengan cara yang begitu hina.

Ketika kita memperingati kematian Kristus, biarlah itu membuat kita tidak lagi mencintai segala sesuatu yang ada di dunia ini. Biarlah kita mengenal Yesus sebagai Tuhan, menempatkan Dia sebagai yang paling utama. Biarlah segala sesuatu di dalam dunia ini menjadi suram oleh karena sinar kemuliaan-Nya.

Maria mengerti bahwa Yesus yang paling mulia, karena itu Maria melakukan suatu yang extravagant. Biarlah hidup kita seperti itu. Kita harus mengerti arti pengorbanan Yesus, bahwa seluruh hidup kita adalah Dia yang sediakan. Bukan hanya Dia menciptakan kita dari tidak ada menjadi ada, tetapi Dia juga menebus kita, yang sudah terjual oleh dosa. Kita diciptakan ulang (re-creation), diberi hidup yang baru, menjadi manusia baru. Biarlah Kristus menjadi pusat di dalam manusia yang baru itu, seperti yang Paulus katakan (Gal 2:20), Kristus yang hidup di dalam aku. Biarlah kita menempatkan Dia sebagai yang paling utama, karena kalau tidak kita sedang menghancurkan diri kita sendiri. Sebab ini adalah kontradiksi dengan apa yang Tuhan kerjakan, karena hidup kita sendiri adalah di dalam Kristus, dipersatukan dengan Dia. Ketika kita mengutamakan Kristus, seluruh hidup kita menjadi persembahan yang indah di hadapan Tuhan, menyatakan kasih-Nya yang besar di dalam hidup kita. Orang lain akan melihat hal ini, dan bukan hanya itu Tuhan sendiri akan melihat hidup kita.

Biarlah hidup kita yang hanya sebentar saja di dalam dunia ini, di dalam segala sesuatu yang kita kerjakan, di dalam pikiran kita, di dalam memakai uang, kita mengerti apa yang paling penting di dalam hidup kita, menempatkan Kristus sebagai yang paling berharga. Marilah kita berdoa, memohon Tuhan untuk memberikan hati yang mengasihi Tuhan, karena Engkau yang terlebih dahulu mengasihi kita.

 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya