Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Siapakah Yesus Kristus menurut kesaksian-Nya sendiri

Ibadah

Siapakah Yesus Kristus menurut kesaksian-Nya sendiri

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 25 Juni 2017

Bacaan Alkitab: Yoh 5:24-29

Kali ini kita akan mengenal lebih jauh siapa itu Yesus. Karena ini adalah juga tujuan dari Yohanes menuliskan Injil. Dalam Yoh 20:31, Yohanes mengatakan  “Tetapi semua yang tercantum disini telah dicatat supaya kamu percaya bahwa Yesus-lah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup di dalam nama-Nya”.  Tujuan segala perkataan Yesus adalah supaya kita boleh mengenal Dia, percaya kepada-Nya dan melalui iman, boleh menerima hidup yang kekal. Hidup kekal yang bukan hanya nanti kita alami, tetapi juga hidup yang sekarang ini sudah kita cicipi. Hidup yang kekal itu sudah dimulai sekarang ini, melalui iman kepada Tuhan kita boleh mengalami pimpinan Tuhan, penyertaan-Nya, pertolongan-Nya di dalam hidup kita. Tetapi memang itu belum selesai pekerjaan itu, sampai kita bertemu muka-dengan-muka dengan Tuhan.

Baiklah kita mengenal Yesus sebagai Tuhan yang hidup, bukan cuma Tuhan yang kita mengerti secara rasio, tetapi Tuhan yang sungguh-sungguh hadir di dalam hidup kita. 

Sebelum masuk sekolah Teologi, saya sering bertanya kepada sendiri “Apakah arti menjadi orang Kristen di tengah-tengah dunia ini.” Saya mengerti salah satu inti orang Kristen adalah kita mengenal Yesus Kristus. Yesus menjadi manusia hidup di dalam dunia ini, sama seperti saudara dan saya. Yesus juga mengalami segala macam kesulitan, cobaan, pertentangan, penderitaan dlsb. Dia juga pernah hidup berjalan di tengah-tengah dunia ini. Karena itu ketika kita mengenal Yesus Kristus dan bagaimana hidup-Nya, maka kita juga bisa belajar dari-Nya.

Bacaan Alkitab kali ini kita akan menyatakan siapakah Yesus Kristus menurut kesaksian-Nya sendiri.

Dia adalah Yesus yang akan membangkitkan semua orang mati

Dalam Yoh 5:25, Yesus dengan perkataan-Nya sendiri mengatakan  “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup.”  Dari ayat ini kita mendapat kesan bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Allah dan mereka akan hidup. Tetapi apakah ini hanya untuk orang percaya saja, atau untuk semua orang. Kalau kita membaca selanjutnya dalam Yoh 5:28-29, ini bukan hanya berlaku bagi orang percaya saja tetapi semua orang: “Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum.”

Orang yang berbuat benar akan dibangkitkan untuk mendapat hidup yang kekal namun sebagian lainnya akan dibangkitkan untuk dihukum.

Ini berbeda dengan pandangan Teologi, atau juga pandangan Ateis, yang mengatakan bahwa sesudah mati itu tidak ada apa-apa lagi, selesai. Namun Alkitab menegaskan bahwa semua orang, baik mereka yang percaya kepada Tuhan ataupun yang tidak percaya, baik yang berbuat baik, atau yang berbuat jahat, akan dibangkitkan. Semua orang akan dibangkitkan untuk mempertanggungjawabkan hidupnya di hadapan Tuhan, di hadapan Hakim yang adil yaitu Yesus Kristus.

Dalam Kis 24:15, Paulus mengatakan “akan ada kebangkitan semua orang mati baik orang-orang benar maupun orang-orang tidak benar”. Biarlah kebenaran ini kita hayati bahwa semua orang, setiap orang di dalam dunia ini akan dibangkitkan dan semuanya akan berhadapan dengan Hakim yang adil itu. Milyaran orang di Cina akan dibangkitkan, ratusan juta orang di Indonesia akan dibangkitkan. Orang di kota-kota besar, ataupun di pedalaman yang paling terpencil yang belum terjamah Injilpun semua akan dibangkitkan. Martin Luther, yang memulai Reformasi 500 tahun yang lalu akan dibangkitkan, Sadam Hussein akan dibangkitkan. Hamba-hamba Tuhan akan dibangkitkan. Pemimpin-pemimpin agama, Muhamad akan dibangkitkan, Budha akan dibangkitkan. Setiap orang akan dibangkitkan dan semuanya akan mempertanggung jawabkan perbuatannya di hadapan Yesus Kristus, yang adalah Hakim yang adil itu.

Yesus akan membangkitkan orang mati dengan suara-Nya yang penuh kuasa

Sekali lagi Yoh 5:25 mengatakan “orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup.” Dalam 1 Tes 4:16 ada satu kalimat yang mengingatkan kita: “Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi maka Tuhan sendiri akan turun dari surga dan mereka yang mati di dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit..” Dalam terjemahan Inggris “For the Lord Himself will come down from Heaven with a loud command”, dengan suara yang keras. Terjemahan Indonesia menyatakan seperti penghulu malaikat berseru, tetapi sesungguhnya itu adalah suara Kristus yang bersuara dengan nyaring.

Ibrani 1:3 mengatakan “Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan.” Yesus itu adalah penopang (sustainer) dari segala yang ada. Firman-Nya menopang segala sesuatu yang ada, tanpa Firman-Nya maka segala sesuatu tidak akan ada dan akan hancur. Ketika Yesus berfirman maka sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Ketika Yesus berkata (lihat Yoh 4:46-53) kepada pegawai istana yang anaknya sakit, “Pergilah maka anakmu sembuh”. Yohanes menyatakan kepada kita bahwa persis pada saat Yesus mengatakan hal itu, pada saat yang sama, perkataan Tuhan langsung melaksanakan apa yang Tuhan perintahkan, dan anak itu sembuh saat itu juga.

Pada akhir jaman, ketika Yesus berkata memanggil orang-orang yang sudah mati, yang tubuhnya sudah hancur menjadi debu, “bangkitlah”, maka semua orang akan bangkit. Debu akan kembali bersatu dan menjadi manusia-manusia yang bangkit.

Hal ini harus menyadarkan kita betapa dahsyatnya kuasa Yesus Kristus, karena perkataan-Nya langsung menjadikan apa yang dikatakan-Nya.

Sebenarnya perkataan kita juga bisa menciptakan sesuatu. Ketika kita berkata anak-mu cantik sekali seperti mama-nya, maka mama-nya akan senang. Kita menciptakan kesenangan bagi mamanya. Atau ketika kita berkata “jelek sekali potongan rambutmu”, maka kita menciptakan kemarahan orang itu. Satu cerita anak-anak yang menarik berjudul “The Prince who wrote “a” letter”. Di situ diceritakan ada seorang raja yang bertanya kepada little prince Paul, pada hari pertamanya di sekolah: kamu hari ini belajar apa di sekolah. Paul menjawab I had to write a letter. Maka Raja bicara ke Ratu, mungkin Paul menulis surat kepada little prince Peter di kerajaan tetangga. Ratu kemudian berbicara ke Ibunya, mungkin Paul sedang menulis suratnya kepada Peter bahwa dia pernah bertengkar dengan Peter. Tukang masaknya mendengar apa yang mereka katakan dan dia cerita lagi kepada pembantu lainnya. Cerita itu kemudian berkembang sampai akhirnya kerajaan tetangga mendengar bahwa little prince menulis surat yang mengajak untuk berperang. Bersiaplah mereka untuk berperang, namun mereka mulai bingung mengapa bisa sampai sedemikian? Akhirnya raja bertanya sekali lagi kepada little prince Paul, surat apa yang kamu tulis? Paul dengan enaknya mengatakan I had to write a letter “A”.

Demikian juga dalam hidup kita, satu perkataan bisa berkembang menjadi gosip yang menimbulkan pertengkaran. Perkataan kita juga bisa menghibur. Yakobus mengatakan hati-hatilah perkataanmu itu seperti api, bisa membakar satu hutan, lidah seperti kemudi daripada kapal, kecil namun bisa mengarahkan kapal yang besar ke tempat tujuan.

Namun perkataan manusia adalah sangat berbeda dari perkataan Kristus. Perkataan Kristus selalu menyatakan realita sesungguhnya, yang pasti mengerjakan apa yang dikatakan. Perkataan manusia bisa dimengerti bermacam-macam.Ada orang mengatakan perkataanmu itu kosong, hanya bohong saja, atau perkataanmu itu omong besar, yang lebih besar dari realita sesungguhnya.

Namun dari perkataan Tuhan, jadilah terang maka terang itu jadi, jadilah bintang-bintang di langit, maka bintang-bintang itu jadi.  Maka di dalam akhir jaman juga, Dia akan berkata dengan suara yang keras, memanggil semua orang mati yang sudah hancur menjadi debu. Ketika Tuhan berkata maka semuanya akan bangkit berdiri di hadapan Tuhan pencipta langit dan bumi.

Hari kebangkitan itu sebenarnya sudah tiba sekarang

Sekali lagi Yoh 5:25 “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya saatnya akan tiba dan sudah tiba, …”. “Sudah tiba” atau dalam terjemahan Inggris as now come, berarti sekarang. Bukan hanya kebangkitan itu akan terjadi nanti (seperti yang dinyatakan dalam Yoh5:28-29), tetapi hari kebangkitan itu, hari di mana kita mendapatkan hidup yang kekal sudah dimulai sekarang bagi orang yang mendengar suara Tuhan dan percaya kepada-Nya. Setiap kita yang melihat apa yang sudah dikerjakan Tuhan, khususnya melalui perkataan-Nya, mencicipi the glorious age to come. Kristus yang menyembuhkan sekarang itu adalah Kristus yang akan menyembuhkan nanti, sehingga tidak ada lagi orang yang sakit. Kristus yang mengusir setan sekarang di dalam pelayanan-Nya dalam Perjanjian Baru, adalah Kristus yang mengusir setan di jaman akhir, sehingga tidak ada lagi setan yang mengganggu dan mencobai manusia.  Kristus yang membangkitkan orang mati dalam Perjanjian Baru adalah foretaste bagi kita untuk mencicipi tidak-adanya lagi kematian ketika kita kita bertemu muka dengan muka dengan Kristus.

Hari kebangkitan itu sudah tiba dalam bentuknya yang tidak sempurna namun real dalam hidup kita sebagai anak-anak Tuhan. Kita bisa melihat contohnya dalam Yoh 11:23-26 yaitu kisah Yesus membangkitkan Lazarus, Yesus sengaja menunggu empat hari, karena orang Yahudi percaya bahwa setelah tiga hari maka orang betul-betul sudah mati. Kata Yesus kepada Marta, saudaramu akan bangkit, jawab Marta kepada-Nya aku tahu bahwa dia akan bangkit pada waktu orang bangkit pada akhir jaman. Apa yang Marta percaya itu betul, tetapi dia hanya percaya separuh, yaitu akan ada kebangkitan pada akhir jaman. Tetapi Yesus mengajarkan kepada Marta dan Maria (Yoh 4:25-26) “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?".  

Dengan ini Yesus menyatakan kebangkitan itu bukan hanya nanti, tetapi bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya, hidup yang baru itu sudah Tuhan berikan sehingga hidup yang baru itu akan terus berlangsung, bahkan kematian secara fisik itu hanya menjadi pintu untuk masuk ke dalam kekekalan yang sudah Tuhan berikan. 

Karena itu kalau kita selanjutnya melihat Yoh 11:39-41, Yesus berkata “Angkatlah batu itu”. Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: "Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku.” Di sini kita melihat contoh, sebelum membangkitkan Lazarus, Yesus pertama-tama mengucap syukur kepada Bapa. Ini menjadi kerangka bagi hidup kita sebelum kita mengerjakan sesuatu di dalam hidup ini maka kita di hari pertama di dalam setiap minggu kita datang untuk memuji Tuhan dan bersyukur atas segala anugerah-Nya. Memasuki minggu yang baru bukan sebagai sarana kita untuk diselamatkan atau sebagai pahala di hadapan Tuhan tetapi karena Tuhan terlebih dahulu mengasihi kita.    

Selanjutnya dalam Yoh 11:43 berserulah Yesus dengan suara keras “Lazarus, marilah keluar”. Perkataan itu langsung menghidupkan Lazarus yang sudah mati, dan keluarlah Lazarus dari kubur. Kita boleh belajar melalui kebangkitan Lazarus sebagai foretaste bagi kita untuk mencicipi akan yang Yesus kerjakan nanti. Kita yang sudah percaya kepada Tuhan sudah mengalami kebangkitan itu. Hidup yang kekal itu sudah dimulai di dunia ini.

Paulus dalam Galatia (Gal 2:19-20) mengatakan “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku”. Artinya dalam hidup yang baru yang sudah kita terima, Kristus hidup didalamku, aku didalam Kristus, hidup yang baru itu sudah dimulai, sudah diberikan kepada kita. Baiklah kita menyadari hal ini supaya kita bisa hidup dengan sungguh-sungguh memuliakan Tuhan.

Kuasa Kebangkitan Yesus berasal dari diri-Nya sendiri

Dalam Yoh 5:26 “Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri.” Penekanannya bukan kebergantungan Anak kepada Bapa tetapi pada kata “sama”. Bukannya Bapa sebagai sumber dan Anak sebagai saluran, bukan Bapa seperti hulu dan Anak seperti hilir yang mengalirkan hidup kepada manusia. Tetapi kita bisa melihat siapakah Yesus Kristus itu. Ketika Yesus membangkitkan orang mati, kuasa-Nya itu bukan berasal dari Bapa yang Dia salurkan, tetapi kuasa-Nya itu berasal dari diri-Nya sendiri. Yesus adalah kebangkitan dan hidup itu sendiri. Hidup berasal dari Anak, Anak bukan hanya membagikan hidup, Anak tidak menyalurkan hidup, Anak itu hidup itu sendiri. Biarlah kita makin sadar betapa besar dan mulianya Yesus Kristus itu.

Kristus adalah Anak Allah harus menjadi Anak Manusia supaya bisa menghakimi Manusia.

Yoh 5:27 mencatat “Dan Ia telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia.” Istilah anak manusia itu bisa menunjuk kepada seorang yang sangat mulia bahkan ilahi seperti digambarkan dalam Daniel 7. Istilah anak manusia adalah sebutan favorit Yesus bagi diri-Nya sendiri. Istilah ini bukan hanya menunjukkan bahwa diri-Nya adalah manusia, tetapi juga menunjukkan seorang tokoh dalam penglihatan Daniel; yang penuh keagungan dan kuasa, bahkan bersifat ilahi. Maksud Yohanes menuliskan bagian ini adalah untuk menyatakan bahwa Yesus memang sejajar dengan Allah. Seperti Allah, Yesus memiliki divine prerogative, satu-satunya yang memiliki kuasa yang berhak menghakimi semua umat manusia.

Penekanan dalam Yoh 5:27 adalah bahwa Yesus Kristus yang akan menjadi Hakim bagi semua manusia, adalah seorang manusia juga. Seorang manusia yang lemah, yang dicobai, dan yang mati seperti anak domba yang disembelih. Dia pernah mengalami kesulitan, pencobaan seperti saudara dan saya, bahkan Dia dianiaya sampai mati seperti manusia yang akhirnya akan mati. Ibrani mengatakan bahwa kita memiliki seorang Imam yang agung yang mengerti akan segala kelemahan dan pergumulan kita. Dia memiliki segala aspek manusia tetapi Dia tidak berdosa.

Dia mengerti sekali segala pencobaan dan kesulitan sebagai manusia, sehingga Dia berhak menjadi hakim bagi manusia. Ketika kita nanti bertemu muka dengan muka dengan Tuhan Yesus, maka Dia akan berkata “Aku juga pernah seperti engkau, mengalami kesulitan, penderitaan seperti engkau, pernah dianiaya, mengalami segala kesulitan yang lebih besar daripada yang engkau alami, tetapi Aku tetap setia pada panggilan Bapa kepada-Ku.” Karena itu Dia berhak untuk menghakimi kita, yang sering tidak setia terhadap apa yang Tuhan perintahkan kepada kita.

Dalam Wahyu 5, yang ditulis oleh penulis yang sama, Yohanes melihat gulungan kitab kehidupan yang tertutup dengan meterai yang tidak ada orang yang bisa membukanya. Maka Yohanes menangis karena tidak tahu siapa yang akan diselamatkan. Kemudian Yohanes mendengar suara dari Surga yang mengatakan, jangan menangis, karena ada seorang singa dari Yehuda yang berhak membuka kitab itu. Ketika Yohanes menengok, dia tidak melihat singa, melainkan Anak Domba yang tersembelih, yang layak membuka gulungan kitab itu. Maka seluruh malaikat memuji akan Anak Domba ini, bahwa Dia layak membuka kitab itu karena Dia telah disembelih.

Kalau Yesus itu hanya Allah saja, maka Dia tidak mungkin mati. Dia harus datang sebagai manusia untuk menderita dan mati. Justru karena Dia disembelih, Anak Domba yang disembelih itu, maka Dia berhak menghakimi kita, saudara dan saya.

Yesus akan menghakimi berdasarkan perbuatan kita

Yoh 5:28-29 mengatakan “Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum.” Alkitab secara konsisten mengajarkan bahwa penghakiman Tuhan selalu atas dasar perbuatan kita.

Dalam Mat 25, Yesus berkata “Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.” Orang-orang yang dibenarkan mengatakan “bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?”  Tuhan Yesus mengatakan “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”

Sebaliknya kepada orang-orang yang dihukum Yesus mengatakan “Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku.” Mereka mejawab dengan mengatakan kalimat yang sama “bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau?” Tuhan Yesus mengatakan “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.”

Alkitab menegaskan di dalam bagian-bagian yang lain bahwa penghakiman selalu berdasarkan perbuatan. Namun bukan berarti keselamatan itu berdasarkan perbuatan kita. Kita harus membedakan kedua hal ini. Keselamatan adalah semata-mata anugerah Tuhan di dalam Kristus yang kita terima melalui iman. Kita justified by grace alone, thru faith alone, in Christ alone. Sehingga seperti di dalam Yoh 3:16, barangsiapa yang percaya kepada Tuhan saja, maka dia tidak akan binasa, namun memperoleh hidup yang kekal.

Bagaimana mengkaitkan kedua hal ini? Saya mengkaitkannya dalam kisah pokok anggur (lihat Yoh 15). Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya, tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam engkau, karena di luar Aku, engkau tidak dapat berbuat apa-apa. Engkau tidak mampu melakukan perbuatan baik apa-pun kalau engkau di luar Aku. Keselamatan semata-mata karena anugerah Tuhan, yang menggerakkan manusia untuk percaya dan dicangkokkan ke dalam pokok anggur itu. Di dalam pokok anggur itu engkau pasti akan berbuah. Tidak mungkin ada orang yang mengatakan Kristus di dalam aku, tetapi tidak menghasilkan buah perbuatan baik.

Kalau engkau tidak menyatakan hidup yang berbuah artinya engkau tidak pernah ada di dalam Kristus. Berbuat baik adalah menjadi bukti bahwa engkau ada di dalam Kristus. Tanpa perbuatan baik, maka engkau tidak pernah di dalam Tuhan dan engkau akan dihakimi berdasarkan itu, dan dibangkitkan untuk dihukum karena engkau berbuat jahat.

Efesus 2:5 mengatakan “It is by Grace, you have been saved”. Hanya karena anugerah engkau diselamatkan. Tetapi selanjutnya ayat Ef 2:10 mengatakan “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” Setiap kita yang didalam Kristus, pasti harus menyatakan perbuatan baik.

Perbuatan baik itu perbuatan seperti apa? Perbuatan baik yang bukan seperti tempelan, tetapi perbuatan yang harus muncul dari kesadaran bahwa kita di dalam Kristus. Manusia lamaku sudah mati di atas kayu salib, dan hidupku yang sekarang ini adalah hidup di dalam Kristus. Kesadaran ini harus menghasilkan perbuatan baik, yang boleh dilihat orang-lain, yang berdasarkan pengenalanku akan Tuhan.

Satu hari nanti kita akan dibangkitkan dengan suara Tuhan yang penuh kuasa. Dia mengetahui semua yang telah kita kerjakan dan Dia akan melihat, menghakimi berdasarkan apa yang kita lakukan. Bukan berarti hidup kita sempurna, tetapi Dia ingin melihat buah yang real, yang nyata dalam hidup kita. Dia ingin melihat apakah Dia adalah yang paling utama di dalam hidup kita. Memang masih banyak dosa dalam hidup kita, tetapi Dia tahu bahwa dalam hati kita yang paling dalam, bahwa perbuatan baik yang kita lakukan itu adalah hasil dari pada pengenalan kita akan Tuhan, dari pada hidup baru yang sudah Tuhan berikan bagi kita.

Dalam suatu diskusi persekutuan pemuda mengenai panggilan hidup, salah satu point yang penting adalah pekerjaan yang kita lakukan ini harus memiliki tujuan utama. Kalau tujuan utama hanya untuk jati diri, untuk mendapatkan uang, untuk hidup yang layak, menikmati dunia itu, untuk mencukupi segala kebutuhan, kalau kita berhenti sampai disitu, maka sesungguhnya kita tidak perlu Tuhan di dunia ini. Orang dunia ini bekerja dengan giat namun ujungnya adalah untuk diri sendiri, menghasilkan generasi yang self-centered. Tentu tujuan-tujuan itu tidak salah, tetapi kalau kita berhenti sampai di situ, dan mengutamakan tujuan itu, maka kita tidak memerlukan Tuhan.  

Petrus mengatakan (1 Ptr 3:15) “Kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan”. Hati adalah sumber daripada hidup, dan Kristus harus menjadi pusat dari segala apa yang aku kerjakan. Pekerjaan kita harus berkaitan dengan kehendak-Nya yang dinyatakan di dalam Firman-Nya. Sehingga kita boleh mempertanggung jawabkan apa yang kita kerjakan di hadapan Tuhan.

Apa yang kita kerjakan, besar ataupun kecil, dapat memberikan dampak bagi orang-orang lain. Perbuatan baik apapun, memberi makan kepada orang yang kelaparan, kalau itu berasal dari pengenalan akan Tuhan, maka Tuhan akan memperhitungkan itu. Maka pada saat kita dibangkitkan lagi, menghadap Hakim yang agung itu, kita akan diberi hidup kekal karena perbuatan yang kita lakukan berdasarkan anugerah-Nya. Biarlah anugerah-Nya terpancar di dalam hidup real yang memuliakan Tuhan dan kebaikan bagi umat manusia. Biarlah engkau bekerja dengan memuliakan Tuhan, sebagai ekspresi dari kasihmu kepada-Ku, karena Aku telah mengasihimu terlebih dahulu. Juga biarlah pekerjaanmu menjadi ekspresi kasihmu kepada sesama, seperti kasihmu terhadap dirimu sendiri. Biarlah hidup kita menjadi berkat bagi orang lain. 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya