Ibadah

Yesus = Allah

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 4 Juni 2017

Bacaan Alkitab: Yoh 5:9-24

Seorang tokoh yang penting dalam sejarah Inggris, William Wilberforce. Dia anggota parlemen Inggris, yang bertobat dalam tahun1785. Pertobatan itu mengubah seluruh hidupnya. Dia terkenal sebagai orang yang memperjuangkan the abolition of slavery trade act. Setelah memperjuangkan hal itu selama 20 tahun, akhirnya pada 1833, undang-undang penghapusan perbudakan itu disetujui parlement. Namun 3 hari kemudian dia mati. Sampai akhir hidupnya, dia berjuang untuk menghapuskan perbudakkan. Dari situlah hilanglah diskriminasi terhadap budak-budak, dan mereka tidak lagi dianggap sebagai budak.

Banyak orang yang menganggap bahwa orang Kristen itu diskriminatif. Namun sesungguhnya mereka tidak mengerti perjuangan orang-orang Kristen yang berjuang untuk menghapuskan diskriminasi di dunia ini. Orang yang mendirikan rumah sakit yang pertama adalah orang Kristen. Orang yang mengerti akan belas kasihan Kristus, dan menyatakan cinta kasih itu kepada orang-orang yang sakit. Banyak orang atheis yang masuk ke rumah sakit itu, dan kemudian mereka disembuhkan tanpa mengerti bahwa sebenarnya kesembuhan mereka itu berhutang kepada Kristus.

Saudara sekalian, hal-hal seperti ini kita saksikan juga dalam pembahasan sebelumnya. Orang lumpuh disembuhkan namun dia tidak tahu siapa yang menyembuhkannya. Kristus tidak berhenti kepada penyembuhan fisik orang itu, kemudian Dia berkata kepada orang itu, (Yoh 5:14) “jangan engkau berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi hal yang lebih buruk”.

Kita melihat di sini bahwa keselamatan jiwa seseorang bagi Yesus adalah lebih penting dari pada kesembuhan fisiknya. Ini justru adalah kasih yang sejati dari Kristus kepada manusia. Biarlah engkau boleh mengenal Aku, mengenal diri-Nya, mengenal akan belas-kasihan-Nya, mengenal akan kuasa-Nya, akan Dia yang mengetahui segala sesuatu tentang hidup kita. Yesus mengetahui bahwa orang itu sudah 38 tahun berbaring lumpuh, dan Tuhan berbelas kasihan mengerti tentang keadaannya.

Yohanes merujuk mukjijat-mukjijat yang dilakukan Yesus sebagai “tanda”. Kalau kita melihat apa arti tanda dalam tulisan Yohanes maka tanda itu adalah yang menunjuk kepada sesuatu yang lain. Tuhan Yesus ketika melakukan mukjijat, bukan untuk memperlihatkan kuasa-Nya, tetapi supaya orang mengetahui siapakah diri-Nya sesungguhnya, untuk menyatakan siapakah Kristus, melalui apa yang Dia kerjakan.

Demikian juga hidup kita ketika kita mengalami segala kebaikan Tuhan di dalam hidup kita, apakah itu pekerjaan, keluarga, studi dlsb. sesungguhnya itu semua bukan demi kebaikan fisik itu sendiri. Tetapi itu untuk membawa kita untuk makin mengenal Dia yang sesungguhnya, untuk mengenal kuasa-Nya, untuk mengenal Tuhan yang memimpin dan mengerti segala pergumulan yang kita hadapi.

Jikalau kita mengalami kebaikan fisik, tetapi tidak makin mengenal Dia, maka sesungguhnya kita miss the point apa yang Tuhan ingin nyatakan di dalam kehidupan kita. Ada seorang pemudi yang mensharingkan tantangan dalam kehidupannya, ada kegagalan yang membuat dia bergumul dan kecewa kepada Tuhan. Tetapi Tuhan membukakan hatinya untuk datang kepada Firman dan membuatnya mengerti apa yang sedang Tuhan kerjakan didalam kehidupannya; dan dia makin mengenal Tuhan. Ini selalu menjadi keinginan Tuhan. Apapun yang kita hadapi dalam hidup kita, seluruhnya bertujuan supaya kita makin mengenal Yesus. Supaya kita makin kagum dan bersandar kepada Dia, makin taat sebagai anak-anak Tuhan.

Dalam sharing Christoper Yuan seorang gay dan pecandu narkoba yang akhirnya bertobat dan menjadi hamba Tuhan. Sebelum dia bertobat ibunya berdoa agar Tuhan dengan segala cara untuk membuat anaknya bertobat dan mengikut Kristus. Tuhan bekerja, dan seringkali yang menggoncangkan adalah hal-hal fisik yang kita lihat, entah itu kebangkrutan, penyakit atau apa saja yang membuat kita menderita. Bagi Christopher Yuan itu adalah saat polisi datang menggerebek rumahnya dan menemukan berton-ton marijuana. Waktu mendengar anaknya dijebloskan ke dalam penjara, bagi ibu Christoper Yuan, itu adalah ucapan syukur yang pertama, karena  anaknya sekarang ada di tempat yang aman, jauh dari teman-temannya yang brengsek. Dari dalam penjara itulah  Tuhan mulai membentuk dia. Kemudian Christoper Yuan diberitahu bahwa dia terjangkit HIV, itu juga menggoncangkan dia, namun sekali lagi peristiwa itulah yang boleh membawa dia untuk makin mengenal Tuhan.

Itulah yang terus Tuhan ingin kerjakan dalam hidup kita.Biarlah kita tidak berhenti untuk buru-buru mencoba menyelesaikan suatu masalah, tetapi biarlah kita sadar bahwa masalah itu menggoncang hidup kita, dan datang kepada Tuhan, bergumul tentang apa yang Tuhan sedang kerjakan dalam hidup kita, tentang apa yang Tuhan ingin kita kenali tentang diri-Nya. Itu adalah tujuan Tuhan waktu Dia mengijinkan segala masalah itu terjadi dalam hidup kita.

Ini memberi implikasi, bagaimana kita memperhatikan orang-orang yang sakit, atau yang mengalami segala kesulitan yang lain. Biarlah kita boleh menolong dan berbelas kasihan kepada mereka didalam immediate needs, kebutuhan yang mereka rasakan saat itu. Tetapi kita tidak boleh berhenti sampai di situ.

Kalau berhenti sampai di situ, kalau kita penuhi kebutuhan mereka saja, maka kita sesungguhnya belum mengasihi orang itu. Hendaklah kita mengerti bahwa segala kesulitan itu sebenarnya adalah sarana untuk mereka boleh datang kepada Tuhan. Karena kasih yang sejati terjadi pada waktu orang itu datang kepada Tuhan. Kita perlu memberitakan Injil kepada mereka, supaya mereka boleh mengenal Tuhan.

Alkitab secara prinsip mengajar seperti demikian. Kebutuhan yang kita alami seringkali menjadi sarana bagi kita untuk mengenal Tuhan. Tuhanlah tujuan, dan segala kesulitan dan pergumulan itu adalah sarana. The chief-end of man is to glorify Him and enjoy Him forever.

Namun di dalam ajaran-ajaran tertentu, termasuk dalam Gereja-Gereja tertentu, hal di atas justru terbalik.  Tuhan justru menjadi sarana bagi kebutuhan saya. Saya berseru kepada Tuhan di dalam kesulitan saya, supaya masalah saya diselesaikan, penyakit saya disembuhkan. Setelah masalah itu selesai, penyakit sudah sembuh, nah goal nya sudah selesai, saya tidak usah mengenal Tuhan lagi. Persoalan yang kita hadapi adalah sarana untuk kita boleh mengenal Dia.

Tuhan menginginkan I and Thou relationship, supaya kita makin kagum, makin taat, makin bersuka di dalam Dia.

Dalam bacaan ini, khususnya Yoh 5:19-24, terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia memberi judul “Kesaksian Yesus tentang Diri-Nya”. Yohanes mencatat bagian ini supaya kita lebih mengenal lagi siapakah Kristus, dan pengenalan itu boleh mengubah seluruh hidup kita.  

Sebelumnya dalam Yoh 5:16 Tuhan Yesus menyembuhkan orang lumpuh pada hari sabat. Orang-orang Yahudi berusaha menganiaya Yesus karena Dia melakukan hal itu pada hari sabat. Yesus menjawab dalam Yoh 5:17  “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.”. Hasilnya adalah Yoh 5:18, “Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah.“

Yang menjadi fokus persoalan di sini yang kemudian dijelaskan dalam Yoh 19-24, adalah sesungguhnya memang Yesus menyamakan diri-Nya dengan Allah.

Mendengar hal ini orang Yahudi berkesimpulan bahwa Dia menghujat Allah.

Kalau Dia hanya manusia saja dan bukan Allah, dan Dia menyamakan diri-Nya dengan Allah maka ini adalah blasphemy, dan hukumannya adalah dirajam sampai mati.

Bagaimana Yesus menyamakan diri-Nya dengan Allah? Di dalam Mrk 2:28, juga di dalam konteks hari Sabat juga, Tuhan Yesus menyatakan “Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.” Markus menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan atas perintah yang Allah berikan, melalui Musa di dalam 10 perintah Allah; bahwa Dia mau menyatakan diri-Nya yang berotoritas atas hari Sabat.

Namun Yohanes mau menyatakan hal yang lain, dia mau menegaskan adanya relasi yang begitu dekat, intimate, antara Yesus dengan Bapa. “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.” Bagaimana orang Yahudi tidak menangkap Yesus yang menyamakan diri-Nya dengan Allah? Karena kalimat yang Yesus katakan adalah “My Father”, dia tidak mengatakan Bapa kami, namun Bapa-Ku.

Orang Yahudi mendengar kalimat itu dan menyimpulkan dalam Yoh 5:18 bahwa Yesus menyatakan diri-Nya dengan Allah. Konklusi ini adalah konklusi yang tepat, karena Yesus sendiri tidak menolak akan hal ini. Maka Yesus kemudian menjelaskannya dalam Yoh 5:19-24, dengan lebih keras lagi. Bahwa sesungguhnya antara Yesus dengan Allah adalah antara Anak dengan Bapa di sorga, suatu relasi yang tidak bisa dipisahkan, yang menyatakan bahwa Yesus itu adalah Allah itu sendiri.

Bahkan Tuhan Yesus bukan menyatakan bahwa Allah adalah Bapa semua orang Yahudi, karena kalau demikian orang Yahudi tidak mencemooh-Nya, karena mereka menganggap mereka sebagai anak-anak Allah. Ketika Yesus mengatakan “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang”, Dia menyatakan dalam pengertian yang khusus, yaitu Bapa sebagai His-own Father.

Ini ditekankan dalam Yoh 5:18 “bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri” Even calling God as His own Father. Dari sinilah orang Yahudi paham sekali sebab sering kali Yesus menyatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri, menyatakan bahwa Dia sejajar dengan Bapa, maka artinya kalau Yesus adalah manusia biasa maka Dia patut dihukum mati, dituduh sebagai seorang yang menghujat Allah, dan itulah yang akan kemudian terjadi.

Yesus ingin kita mengenal Dia melalui apa yang Dia katakan dalam Yoh 5:19-24. J.C Ryle memberikan komentar tentang bagian ini “Nowhere in the Gospels do we find our Lord making such a formal, systematic, orderly, regular statement of His own unity with the Father, His divine commission and authority, and the proofs of His Messiahship, as we find in this discourse”. J.C. Ryle menyatakan bahwa bagian ini adalah sangat penting di dalam Injil, karena menyatakan secara formal, sistematik, akan kesatuan/unity antara Yesus dengan Bapa, utusan ilahi, otoritas, bukti bahwa Dia adalah Mesias itu.

Yoh 5:19 Yesus mengatakan “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.” Ketika Yesus mengatakan “sesungguhnya”, maka kalimat selanjutnya adalah kalimat yang penting.

Dari perkataan Tuhan Yesus dalam Yoh 5:19 ini,, kita akan pikirkan 2 hal:

1)    Yesus hanya melakukan apa yang Bapa kerjakan. Ini menyatakan bukti hubungan yang sangat kuat antara Yesus dengan Bapa-Nya. Yesus mengatakan bahwa semua tindakan-Nya sesuai dengan kehendak Bapa. Yesus juga mengatakan bahwa Dia tidak bisa melakukan apa-apa terlepas daripada Bapa. I can’t do nothing by myself. Maka dari itu Dia mengatakan apapun yang dilakukan oleh Bapa, itu juga yang dilakukan oleh Anak. Segala hal yang Yesus lakukan adalah sesuai dengan apa yang Bapa lakukan. Ini menyatakan kesatuan Yesus dengan Bapa.

2)    Sisi sebaliknya, Yoh 5:22 menyatakan “Bapa tidak menghakimi siapapun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak”. Ini seperti kebalikan dari Yoh 5:19 (Anak hanya melakukan apa yang Bapa lakukan), Yoh 5:22 menyatakan Bapa hanya menghakimi apa yang Anak hakimi. Ini sangat mengagetkan orang Yahudi, yang percaya bahwa Allah adalah hakim, karena mereka sadar bahwa semua orang akan berdiri di hadapan Allah hakim yang agung itu. Tetapi Yoh 5:22, justru mengatakan Allah tidak menghakimi siapapun, melainkan menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak. Sekali lagi ini menyatakan betapa dekatnya Anak dengan Bapa.

Didalam Kis 17:31 “Karena Ia (Allah) telah menetapkan suatu hari akan … Yesus Kristus dari antara orang mati”. Ini menyatakan Allah akan menghakimi dunia, tetapi Allah tidak akan melakukannya dengan diri-Nya sendiri, tetapi selalu melalui Anak. Artinya bagaimana orang memperlakukan Anak, demikian jugalah orang itu akan dihakimi.

Di dalam Yoh 5:23 ditegaskan “supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia.”. Kita boleh melihat bahwa Allah tidak menghakimi siapapun kecuali melalui Anak. Perlakuan orang terhadap Anak akan menjadi penghakiman mereka. Perlakuan orang kepada Anak itu adalah perlakuan orang itu terhadap Allah. Kalau mereka menghormati Anak maka mereka menghormati Bapa. Kalau mereka tidak menghormati Anak, maka mereka juga tidak menghormati Bapa yang mengutus Dia. Sekali lagi ini menyatakan relasi Yesus yang begitu dekat dengan Bapa-Nya.

Implikasinya adalah kalau kita ingin mengetahui apakah seseorang itu sungguh-sungguh menyembah Allah, ukurannya adalah bagaimana mereka memperlakukan Yesus. Apakah mereka menghormati dan mentaati-Nya, ataukah mereka tidak menghormati dan tidak mentaati-Nya. Apapun klaim mereka, apapun agama mereka, yang menyatakan bahwa mereka menyembah kepada Allah, kalau mereka tidak mendengar perkataan Kristus, maka sesungguhnya mereka tidak menyembah Allah yang sejati.

Inilah yang menjadi ukuran dari siapapun yang ada di dunia ini. Apakah mereka menghormati Yesus sebagaimana Dia adanya: sebagai anak Allah, sebagai Mesias, sebagai Juruselamat, sebagai Tuhan alam semesta, sebagai hakim seluruh umat manusia. Kalau mereka menghormati Yesus seperti demikian, maka sebenarnya mereka menghormati dan menyembah Allah. Kristus menjadi di depan, Kristus yang menyatakan diri-Nya kepada manusia di dalam sejarah, menjadi ukuran bagaimana kita menyembah Allah. Ketika kita menyembah Kristus, maka sesungguhnya kita menyembah Allah. Ketika kita percaya kepada Kristus, maka kita percaya kepada Allah.

Yoh 5:24 mengatakan “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.” Sekali lagi kalimat ini dimulai dengan kata “Sesungguhnya”. Mendengar perkataan Yesus dan percaya kepada Bapa adalah dua hal yang menyatakan kesatuan Yesus dengan Bapa. Engkau tidak mungkin mendengar perkataan Yesus seluruhnya namun tidak percaya kepada Bapa, sekaligus engkau tidak mungkin percaya kepada Bapa kalau tidak mendengar perkataan Yesus. Ini adalah kesatuan Anak dari pada Bapa yang tidak bisa dipisahkan.

Yoh 5:24 menegaskan ketika kita mendengar perkataan Kristus dan percaya kepada Bapa maka ada dua hal yang terjadi di dalam hidup kita:

1)    Bukan hanya kita akan mendapat hidup yang kekal, tetapi kita sudah mendapat hidup yang kekal. Sekarang juga hidup yang kekal itu sudah terjadi.

2)    Bukan hanya kita tidak akan dihukum, tetapi kita sudah melewati hukuman, sebab kita sudah pindah dari alam maut ke dalam hidup.

Kapan sebenarnya kita telah melewati hukuman, pindah dari maut ke dalam hidup? Yaitu ketika Kristus menanggung hukuman kita di atas kayu salib. Melalui iman kita, dengan mendengar perkataan Yesus dan percaya kepada Bapa, Roh Kudus ada di dalam hidup kita, mempersatukan kita dengan Kristus. Kematian Kristus adalah juga kematian bagi dosa-dosa kita, kebangkitan Kristus juga adalah kebangkitan kita.

Dalam 2 Kor 5:14 Paulus mengatakan “jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati.” Artinya adalah semua orang yang beriman kepada Kristus, yang percaya kepada Kristus, dipersatukan dengan Kristus, maka kita juga turut mati bersama-sama dengan Kristus di atas kayu salib.

Paulus mengatakan dalam Gal 2:19 “Aku telah disalibkan dengan Kristus”; aku sudah mati bersama-sama dengan Kristus, manusia lamaku sudah disalibkan dan mati bersama-sama dengan Kristus di atas kayu salib. Ketika hukuman Allah dinyatakan di atas kayu salib melalui Kristus, maka semua orang yang percaya kepada Kristus sudah dihukum juga. Paulus melanjutkan (Gal 2:20) “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.“

Di sini sekali lagi dinyatakan bahwa melalui iman yang mempersatukan kita dengan Kristus, kita menerima hukuman itu, ketika Kristus dihukum di atas kayu salib. 1 Yoh 1:9 mengatakan “Jika kita mengaku dosa kita , maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Ketika kita mengaku dosa kita, bukankah Allah seharusnya menghukum kita?  Ternyata tidak, karena kalau kita mengaku dosa kita, dan percaya di dalam Kristus, hukuman sudah dijatuhkan kepada Kristus. Kalau Allah tidak mengampuni dosa kita, maka Allah adalah justru tidak adil, karena bagi kita yang sudah dipersatukan di dalam Kristus, waktu Kristus dihukum, kita juga sudah dihukum bersama sama dengan Kristus. Maka Allah tidak akan lagi menjatuhkan hukuman kepada kita; kita tidak lagi dihukum dan sudah berpindah dari alam maut ke dalam hidup.

Ketika kita mendengarkan perkataan Yesus dan boleh percaya kepada Bapa, dipersatukan dengan Kristus, itu adalah semata-mata pekerjaan Roh Kudus. Ketika Roh Kudus melahirbarukan kita, Roh Kudus memberikan hidup yang baru, hidup di dalam Kristus.

Ketika Roh Kudus datang di hari Pentakosta dan memenuhi mereka yang datang maka mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain (lihat Kis 2). Orang-orang yang mendengarkan mereka kaget, bagaimana mereka bisa berbicara dalam bahasa-bahasa negeri asal orang-orang itu. Namun orang-orang Yahudi yang tidak percaya, mengolok-olok mereka sebagai orang yang lagi mabuk. Tetapi Petrus berdiri dan menjawab bahwa hari masih pukul sembilan, kami tidak lagi mabuk, apa yang terjadi pada hari itu adalah penggenapan dari Firman Tuhan yang sudah disampaikan terdahulu. Para rasul berkotbah panjang, yang seluruhnya mengenai Kristus, yang sudah melayani, mati, dan bangkit dari mati menebus dosa manusia.

Pada hari Pentakosta, hari turunnya Roh Kudus, Petrus tidak berkotbah tentang Roh Kudus, Petrus berkotbah tentang Kristus, tentang apa yang Kristus ajarkan dan Kristus lakukan. Karena memang Roh Kudus datang untuk membawa kita kepada Kristus.

Orang-orang yang mendengar menjadi tertusuk hatinya ketika mendengarkan Petrus tentang Kristus, dan bertanya apa yang bisa aku lakukan. Maka Petrus mengatakan bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis. Hal itu bukanlah karena kehebatan Petrus berkotbah, tetapi semata-mata adalah karena pekerjaan Roh Kudus. Mereka sadar akan dosa mereka, bertobat, dan percaya kepada Kristus. Seluruhnya adalah karena Roh Kudus yang bekerja di dalam hati mereka.

Ini adalah keindahan karya Allah Tri-Tunggal. Roh Kudus menguasai hati dan hidup manusia. Roh Kudus tidak memberitakan kehebatan Diri-Nya sendiri, namun ketika Roh Kudus bekerja, justru Roh Kudus menyatakan Kristus. Roh Kudus membuat kita mendengar perkataan Kristus, dan membuat kita percaya kepada Kristus. Roh Kudus melahirbarukan dan mempersatukan kita dengan Kristus. Sehingga kita boleh percaya dan dilepaskan dari perbudakan dosa. Tidak lagi turut dihukum tetapi pindah dari alam maut ke dalam hidup. Kita bisa meninggikan Kristus, hanya karena Roh Kudus bekerja di dalam hidup kita.

Yoh 5:24 menyatakan dengarlah perkataan Yesus, percayalah kepada Bapa yang mengutus Yesus maka engkau tidak turut dihukum. Ini bukan hanya suatu fakta kebenaran, namun juga suatu yang harus kita syukuri dan hidupi. Hidup yang kekal itu sudah dimulai sekarang. Kita yang sudah mengalami hidup yang kekal itu, dan yang sudah bebas dari hukuman, baiklah kita menghidupinya. Hidup yang tidak akan mati lagi, karena tidak ada apapun yang terjadi di dalam hidup kita yang bisa meniadakan pekerjaan Tuhan. Di dalam segala tantangan apapun yang kita hadapi, marilah kita menghadapinya dengan suatu keyakinan, dengan suatu kepastian, bahwa kita sudah dilepaskan dari maut, dan hidup kekal itu sudah ada pada kita. Roh Kudus memimpin dan menyertai kita selama-lamanya.

Seringkali di dalam hidup kita, keputusan yang kita ambil sama dengan dunia ini. Menginginkan pekerjaan yang bagus, gaji yang baik, pasangan yang baik, menikmati hidup, tidak banyak kesulitan dll. Namun kita mulai lupa bahwa semuanya itu bukanlah yang utama. Kita sedikit demi sedikit mulai bergeser sampai suatu saat kita bertanya mengapa kita melakukan semua ini?

Baiklah kita diingatkan sekali lagi bahwa jati diri kita yang utama, bahwa kita sudah memiliki hidup yang kekal, pindah dari alam maut ke dalam hidup. Di dalam seluruh hidup kita, dalam segala tantangan dalam hidup sehari hari, biarlah kita sadar bahwa Tuhan sudah memberikan hidup yang baru, kita sudah berpindah dari alam maut ke dalam hidup, baiklah kita menjalani hidup yang berkemenangan. Kristus harus menjadi pusat hidup kita , karena hidupku bukanlah aku lagi melainkan Kristus yang hidup di dalamku.

 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya