Ibadah

Miracle Worker

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 21 Mei 2017

Bacaan Alkitab: Yohanes 4: 43-54

Ada beberapa bagian yang aneh di  Yohanes 4: 43-54 yang perlu dijelaskan. Ayat 43 memberi kita konteks sebelumnya  dimana Tuhan Yesus baru selesai melayani di Samaria. Dari perjalanan Yudea menuju Galilea ditengah-tengahnya ada daerah yang disebut sebagai daerah Samaria. Kemudian, Ia sampai disatu kota yang bernama Sikhar dan Kristus mulai melayani disitu. Disitulah seorang  perempuan Samaria bertobat, dan melalui pertobatan dari perempuan Samaria ini boleh dikatakan seluruh kota  datang kepada Kristus dan percaya (Yoh. 4:39). Mereka bertobat bukan hanya karena kesaksian dari perempuan Samaria ini, tapi mereka sendiri telah mendengar apa yang Yesus katakana (Yoh 4:42). Mereka mendenar akan firman Tuhan yang diberitakan oleh Kristus dan mereka percaya dan berkata bahwa Dialah benar-benar juruselamat dunia. Ayat yang ke 43 juga mengatakan bahwa Kristus tinggal di Samaria selama 2 hari lagi untuk menceritakan kepada mereka tentang kebenaran firman dan mengajar kepada mereka sehingga lebih banyak orang percaya kepada Dia.

Setelah satu pelayanan yang begitu sukses, Tuhan Yesus meninggalkan daerah Samaria itu dan pergi ke daerah Galilea. Kemudian, disitu dikatakan dia masuk ke Galilea. Kalau kita melihat peta, diantara Samaria dan Galilea ada satu kota yang namanya Nazaret. Kota Nazaret adalah kota dimana Tuhan Yesus bertumbuh. Di sebelah utara Nazaret ada kota yang bernama Kana, yang berjarak kira-kira 15 km dari Nazaret, yang dimana dikatakan Tuhan Yesus kembali lagi ke kota ini. Kira-kira di sebelah timur dari Kana (25 km) ada satu kota bernama Kapernaum. Disinilah asal pegawai istana yang datang ke kota  Kana yang meminta kepada Tuhan Yesus supaya anaknya disembuhkan. Jadi daerah Kana, Nazaret, dan Kapernaum adalah daerah dimana Tuhan Yesus bertumbuh, sehingga daerah-daerah ini boleh disebut kampung halaman Tuhan Yesus sendiri.

Hal aneh pertama dinyatakan di ayat ke 44, dimana Yohanes mengatakan alasan kenapa Ia pergi ke daerah Galilea: “sebab Yesus sendiri telah bersaksi, bahwa seorang nabi tidak dihormati di negerinya sendiri”. Ini adalah alasan yang mengherankan; alasan Yesus masuk ke daerah Galilea adalah karena Ia tahu bahwa Ia tidak akan dihormati di negeri-Nya sendiri. Ini mengherankan karena kita tentu akan datang ke tempat dimana kita diterima dan banyak orang yang senang akan kedatangan kita. Tetapi kalau kita mengerti akan rencana Tuhan, ini bukanlah sesuatu yang aneh tetapi ini adalah sesuatu yang ajaib. Karena sebenarnya mulai dari pasal yang pertama ayat yang ke 11 Yohanes sudah mengatakan bahwa Yesus datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya tidak menerima Dia. Kristus sengaja datang meskipun Ia tahu bahwa milik kepunyaan-Nya tidak menerima Dia. Dia memang datang untuk menyelamatkan umat-Nya, meskipun banyak dari mereka yang menolak dan akhirnya bahkan membunuh Dia.  Herannya ketika Kristus mati karena dibunuh oleh orang-orang yang menolak Dia, disitulah Ia menyelamatkan akan umat-Nya. Jadi inilah strategi Tuhan yang melampaui apa yang kita mengerti; Kristus sengaja datang ke Galilea mengetahui bahwa orang-orang tidak akan menerima Dia dan bahkan akan membunuhnya. Tetapi melalui kematian-Nya justru Ia menyelamatkan akan umat-Nya  dari dosa mereka.

Hal aneh yang kedua, adalah apa yang dikatakan di ayat yang ke 45 “setelah Ia tiba di Galilea, orang-orang Galilea pun menyambut Dia, karena mereka telah melihat segala sesuatu yang dikerjakan-Nya di Yerusalem pada pesta itu”. Kalau kita hanya melihat ayat ke 44, kita menanyangka bahwa Kristus akan ditolak dan diusir. Tetapi ayat 45 mengatakan kalau orang-orang Galilea menyambut Dia karena mereka telah melihat segala sesuatu yang telah dikerjakan-Nya. Kita bisa mulai mengerti keanehan ini dari kata “menyambut” yang dipakai disini; kata “menyambut” disini tidak selalu menyatakan apa yang sebenarnya ada didalam hati mereka. Lagipula Lembaga Alkitab Indonesia dengan jelas mengatakan disini bahwa “mereka menyambut Dia karena mereka telah melihat segala sesuatu yang dikerjakan-Nya di Yerusalem pada pesta itu”. Pesta itu disini menunjuk kepada peristiwa Paskah; yang dimana diceritakan di pasal 2 ayat 23 sampai 25: “dan sementara Ia di Yerusalem selama hari raya Paskah, banyak orang percaya dalam nama-Nya, karena mereka telah melihat tanda-tanda yang diadakan-Nya.

Tetapi Yesus sendiri tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka, karena Ia mengenal mereka semua, dan tidak perlu seorang pun memberi kesaksian kepada-Nya tentang  manusia, sebab Ia tahu apa yang ada didalam hati manusia.”. Disini dikatakan mereka percaya, mereka menyambut Tuhan Yesus tetapi Yesus tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka, karena Ia tahu apa yang ada didalam hati manusia. Artinya, mereka percaya dan menyambut Tuhan Yesus hanya sebagai pembuat mujizat. Dengan kata lain mereka tidak percaya kepada Yesus Kristus sebagaimana Dia adanya; sebagai Mesias, sebagai Juruselamat yang akan mati menebus mereka, sebagai Tuhan yang datang ke dalam dunia untuk mengampuni manusia daripada dosa-dosa mereka. Mereka hanya percaya dan menyambut karena Yesus melakukan mujizat-mujizat. Ini adalah sesuatu yang Tuhan Yesus tidak suka . Tuhan Yesus tidak berkenan ketika orang-orang hanya menerima dan mengenal Dia sebagai miracle worker. Memang Kristus bisa membuat mujizat, tetapi ketika orang hanya mengenal, menyambut, dan percaya kepada Kristus sebagai miracle worker saja, maka itu adalah hal yang tidak berkanan kepada Tuhan. Mengapa? Karena ada kebahayaan yang besar kalau orang hanya mengenal Yesus sebagai miracle worker dan tidak mengenal Dia sebagai Tuhan yang berkuasa dan Juruselamat yang datang untuk menyelamatkan manusia dari dosa mereka.

Kira-kira 12-23 tahun yang lalu ada seorang dari gereja di Singapura yang membagikan satu cerita kepada saya, dimana ada satu tim pelayanan penginjilan di rumah sakit bertemu dengan seorang non-Kristen yang suaminya sakit parah. Sebelum tim pelayanan ini datang kepada mereka, mereka dikunjungi oleh orang dari gereja terentu yang menekankan “percaya kepada Kristus, maka kamu akan sembuh”. Kemudian orang ini memberi Alkitab kepada pasangan ini. Didalam keadaan yang demikian, siapa orang yang tidak mau percaya kepada Kristus? Siapa orang yang tidak mau suaminya sembuh dari sakit yang begitu parah? Maka pasangan ini mau percaya kepada Kristus dan berdoa minta kesembuhan. Kemudian, mereka berdoa dan beriman sungguh-sungguh kepada Tuhan. Pada hari itu suami orang ini baru di scan tubuhnya, tetapi hasilnya baru keluar keesokan harinya.

Keesokan harinya, hasil scan tersebut megatakan kanker suami orang ini sudah menyebar kemana-mana dan mereka disuruh buru-buru pulang karena tidak ada lagi obatnya yang bisa menyembuhkan. Kalau saudara didalam keadaan seperti itu saudara mulai mengerti betapa bahanyanya  kalau percaya Yesus hanya sebagai miracle worker. Ibu ini kemudian marah luar biasa; dia lempar Alkitab itu dan mengatakan kalimat-kalimat yang memaki Tuhan Yesus. Cerita ini menunjukan bahwa kita bisa percaya kalau Yesus mampu melakukan segala mujizat dan tidak memuliakan Tuhan.

Inilah yang Yohanes mau tekankan, yaitu bahwa mereka percaya Tuhan Yesus hanya sebagai miracle worker. Setelah Yesus tiba di Galilea orang-orang menyambut Dia karena mereka melihat segala sesuatu yang dikerjakan-Nya. Yohanes pasal 2 mengatakan segala mujizat yang dilakukan-Nya. Hal ini kemudian ditegaskan didalam peristiwa selanjutnya ketika Yesus berada di Kana (ayat 46). Yohanes menegaskan hal ini dengan mengatakan “dimana Ia  membuat air menjadi anggur” . Mujizat Tuhan Yesuslah yang menyebabkan mereka menyambut Tuhan Yesus tetapi sesungguhnya  mereka tidak berkenan kepada Tuhan.

Selanjutnya, Yohanes mulai menceritakan bahwa ada satu pegawai istana yang anaknya sakit datang kepada Tuhan Yesus dan meminta Yesus untuk datang ke rumahnya dan menyembuhkan anaknya. Kemudian di ayat 48 Tuhan Yesus mengatakan “Jika kalian tidak melihat tanda dan mujizat, kalian tidak akan percaya.”. Ini adalah satu kritikan dan penghakiman yang Tuhan Yesus katakana baik kepada pegawai istana ini maupun kepada orang-orang Galilea yang hadir pada saat itu. Jadi disini kita boleh mengerti bahwa mereka menyambut Yesus bukan karena Dia adalah Juruselamat dunia, seperti yang dilakukan oleh orang-orang di Samaria. Mereka hanya percaya Yesus sebagai pembuat mujizat dan ini tidaklah memuliakan Tuhan. Tuhan tidak berkenan kalau engkau memasukan Tuhan didalam kotak  pengertian anda yang salah dengan mengatakan bahwa Dia hanyalah miracle worker; memang betul Dia adalah miracle worker tetapi, Ia jauh lebih besar daripada itu. Adalah hal yang berbahaya bagi iman kita jika kita hanya memegang bahwa Yesus sebagai miracle worker saja, terutama ketika Ia tidak melakukan mujizat seperti yang kita inginkan. Jika hal ini terjadi kita akan menjadi kecewa dan tidak lagi percaya kepada Kristus karena kita hanya mengignikan mujizat-Nya, dan tidak menginginkan Dia pribadi Yesus yang jauh lebih besar daripada segala mujizat yang Ia lakukan.

Kristus adalah Tuhan, juruselamat, yang mati menebus dosa kita. Dia adalah Mesias, anak Allah yang tunggal yang datang kedalam dunia, yang berkuasa atas segala sesuatu, yang perkataan-Nya penuh kuasa. Kalau engkau tidak mengerti Yesus sebagimana Dia adanya; Dia yang terindah, termulia, dan satu Pribadi yang engkau harus tunduk meskipun ada hal-hal yang kita tidak mengerti tentang Dia. Adalah yang berkenan kepada Yesus ketika kita taat kepada Yesus; kita tetap mengasihi Dia dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap kekuatan. Inilah yang Tuhan inginkan.

Bagaimana dengan iman pegawai istana ini?  Apakah Ia termasuk orang-orang yang hanya menginginkan mujizat? Kalau kita membaca ayat 48, Tuhan Yesus berkata kepada pegawai istana ini dan juga kepada semua orang “Jikalau kalian tidak melihat tanda dan mujizat, kalian tidak akan percaya.” Selain sebagai kritik, perkataan ini juga adalah ujian bagi pegawai istana ini apakah ia sungguh-sungguh percaya kepada Yesus bukan hanya sebagai miracle worker, tetapi sungguh-sunggguh beriman tetnatng perkataan Tuhan Yesus; percaya dengan sungguh-sungguh segala firman yang keluar dari mulut Kristus seperti orang-orang di Samaria. Ini  mirip dengan ujian yang Kristus berikan kepada perempuan Sirofenisia di Markus pasal ke 7. Perempuan ini adalah seorang perempuan  non-Yahudi yang meminta kepada Tuhan Yesus untuk menyembuhkan anaknya yang sakit . Kemudian setelah wanita ini meminta Tuhan Yesus berkata: “ tidak baik untuk memberikan roti yang seharusnya untuk anak-anak (orang Israel) kepada anjing”. Kata anjing disini menunjuk kepada anjing peliharaan kecil didalam rumah dan didalam konteks ini bukan menyatakan penghinaan tetapi untuk menunjukan status perempuan ini yang lebih rendah dari orang Israel. Tetapi kemudian perempuan ini berkata: “benar tuan, roti itu untuk anak-anak. Tetapi anjing-anjing pun makan dari remah-remah yang jatuh  dari meja tuannya.”. Inilah perkataan yang menunjukan iman dari perempuan Sirofenisia ini. Kemudian Kristus berkata: “karena engkau memiliki iman seperti demikian, pulanglah dan anakmu sembuh.”. 

Inilah juga ujian yang Kristus berikan kepada pegawai istana ini. Tetapi, pegawai istana itu tidak meresponi perkataan Tuhan Yesus. Malahan ia berkata: “tuan, come down before my child die” . Yohanes tidak menuliskan apa yang ada didalam hati pegawai istana ini, tetapi perkataan ini menunjukan bahwa pegawai istana ini hanya ingin Yesus menyembuhkan anaknya. Herannya, Tuhan Yesus tidak datang. Tuhan Yesus malah berkata: “pergilah, anakmu hidup.” Pegawai istana ini ingin Tuhan Yesus datang menumpang tangan kepada anaknya yang sakit itu; mungkin ia sudah mendengar tentang kuasa Tuhan Yesus. Namun, Yohanes mencatat disini “orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus dan pergi.”. Disini kita bisa melihat bahwa ia lulus dari ujian ini; dia belum melihat anaknya disembuhkan tetapi pegawai ini percaya akan perkataan Tuhan Yesus yang dikatakan kepadanya, lalu ia pergi. Hal ini dikonfirmasi di ayat 51, ketika pegawai ini masih dalam perjalanan dan hambanya datang memberi kabar bahwa anaknya hidup. Pegawai istana inipun bertanya kepada hambanya: “ pukul berapa anak itu mulai sembuh?”. Hamba itu kemudian menjawab: “kemarin siang, pukul satu demamnya hilang.” (ini berarti kemungkinan ia menginap ditengah jalan dalam perjalanan dari Kana ke Kapernaum dan besoknya ia melanjutkan perjalanan). Maka teringatlah pegawai itu bahwa pada saat itulah Yesus berkata kepadanya bahwa “anakmu hidup”. Kemudian pegawai istana inipun “percaya beserta seluruh keluarganya.”.

Apa yang Yohanes, penulis yang diinspirasikan Roh Kudus, ingin ajarkan melalui bagian ini? Kita bisa melihat bahwa Yohanes menyatakan kebesaran dan kemuliaan Kristus. Tetapi didalam konteks ini secara khusus, Yohanes menyatakan kemuliaan Kristus dalam konteks ketidakpercayaan orang-orang yang berasal dari daerah yang sama dengan Yesus.  Maka disini kita boleh renungkan bahwa ada sesuatu tentang berasal dari daerah yang sama dengan Yesus; yang membuat orang-orang Galilea tidak percaya kepada Yesus sebagaimana Dia adanya. Ada dua alasan yang bisa kita renungkan bersama mengapa orang Galilea tidak percaya kepada Yesus sebagaimana Dia adanya. 

Pertama, satu kebanggaan karena mengenal orang yang terkenal. (by implication, satu kebanggaan karena kita termasuk dalam gerakan yang dipimpin oleh orang yang terkenal) Ini bisa menjadi satu hal yang berbahaya. Kita bisa melihat Yohanes 7:3-5, dimana bagian ini berbicara tentang saudara kandung dari Tuhan Yesus (yang lahir secara natural dari persetubuhan antara Maria dan Yusuf). Ayat 3 mengatakan: “maka kata saudara-saudara Yesus kepada-Nya: “Berangkatlah dari sini dan pergi ke Yudea, supaya murid-murid-Mu juga melihat perbuatan-perbuatan yang engkau lakukan. Sebab tidak seorangpun berbuat sesuatu di tempat yang tersembunyi, jika ia mau diakui di muka umum. Jikalau Engkau berbuat hal-hal yang demikian, tampakkanlah diri-Mu kepada dunia.”. Perbuatan-perbuatan disini tentu menunjuk kepada mujizat dan perbuatan hebat yang Yesus lakukan. Kemudian Yohanes lalu memberikan penjelasan di ayat yang kelima mengapa saudara-saudara Yesus mengatakan hal tersebut: “sebab saudara-saudaranya sendiripun tidak percaya kepada-Nya”. Mereka tidak percaya kepada Yesus sebagaimana Dia adanya; sebagai juruselamat dan Tuhan mereka. Mereka hanya percaya bahwa Yesus hanyalah miracle worker, dan ketika Dia melakukan itu  merekapun juga mereasa bangga sebagai saudara dari Yesus sang miracle worker. Semakin Yesus terkenal, semakin mereka bangga dan merasa hebat. Kesombongan pun muncul dari diri mereka dan mereka memakai ketenaran Yesus untuk meninggikan diri mereka. Ketika hal ini terjadi, mereka tidak merasa memerlukan anugerah dan belas kasihan daripada Yesus.

Kita bisa jatuh ke dalam hal yang sama didalam gereja ini; kita mengenal pak Tong, seorang hamba Tuhan yang besar. Kita adalah orang-orang yang termasuk didalam gerakan Reformed Injili. Kita adalah orang-orang yang menyanyikan musik-musik yang agung; musik-musik yang hampir tidak ada gereja yang menyanyikannya. Kalau kita merasa hal ini, kita bisa menghina orang-orang yang tidak megerti dengan apa yang kita kerjakan. Kita merasa bangga bisa menyanyikan lagu-lagu itu. Kita juga bisa bangga karena menjadi anggota GRII yang tegas dalam memberitakan Firman Tuhan. Kita menjadi bangga dengan hal-hal yang bersifat luar; mengenal pak Tong dan berbagian dalam gerakahan yang Tuhan berkati. Bangga bergereja dalam gereja yang mempunyai gedung yang terbesar di Jakarta yang didirikan dengan tidak memakai hutang sama sekali. Kita menjadi bangga dengan hal-hal yang bersifat luar ini dan hal ini menghalangi kita untuk mengenal Kristus yang penuh dengan belas kasihan dan penuh dengan anugerah. Kita lupa bahwa semua yang kita terima semata-mata hanya karena anugerah Tuhan. Hal ini bisa masuk kedalam hati kita dengan tidak kita sadari. Tentu hal-hal ini pada sendirinya adalah hal yang baik, namun ketika kita membanggakan itu menjadi kehebatan kita, kita tidak lagi sadar kalau semua itu karena anugerah Tuhan. Kita tidak mengenal Kristus sebagaimana Ia adanya, dan bahwa semua hal itu karena anugerah-Nya dan kebaikan-Nya kepada kita.

Kebahayaan yang kedua, adalah hampir sisi ekstrim yang lainnya; kalau yang pertama adalah kita percaya akan kuasa-Nya akan melakukan mujizat tetapi kita gagal untuk mengerti bahwa semuanya itu karena anugerah-Nya dan belas kasihan-Nya, kebahayaan yang kedua adalah kita gagal mengenal Kristus sebagai Tuhan yang berkuasa , berdaulat, dan adalah Allah sendiri yang dimana kita tidak mungkin mengenal seluruhnya. Kebahayaan yang kedua disebut “over-familiarity with Jesus”. Mungkin orang-orang yang berasal dari daerah yang sama dengan Yesus berkata didalam hati mereka “Dia berasal dari  kampung yang sama dengan ku dan aku tahu waktu Ia bayi; bagaimana lucunya, bagaimana tumbuhnya, mereka yang berasal dari kita itu tahu bagaimana Yesus bertumbuh, mengetahui siapa ayah dan ibunya”. Ini menimbulkan kesulitan untuk orang-orang ini mengerti bagaimana Yesus mengatakan diri-Nya sebagai Mesias dan Tuhan.  Over-familiarity membawa orang-orang pada jaman itu sulit sekali menerima Yesus sebagaimana Dia adanya. Meski tidak ada dari kita yang berasal dari kota yang sama dengan Yesus dan tumbuh bersama-sama dengan Yesus, tetapi bahaya over-familiarity ini juga ada didalam diri setiap kita. Misalnya ketika kita menganggap diri sudah begitu mengenal Alkitab; kita bisa merasa over-familiar dengan Alkitab. Kta sudah menganggap diri tahu kekristenan itu apa karena kita mungkin sudah berpuluh-puluh tahun mengenal Yesus. Sehingga, ketika kita membaca Alkitab maupun ketika kita mendengar khotbah tidak ada apapun yang menggerakan hati kita.  Kita tidak lagi mengangkap dan mengerti apa yang Tuhan Yesus ingin nyatakan kepada kita. Kita merasa tidak ada apaun yang kita baca dari firman-Nya yang mengagetkan dan menggentarkan hati kita. Hal ini dinyatakan ketika kita ngantuk-ngantuk waktu membaca Alkitab. Tetapi sesungguhnya kita tidak pernah habis mengenal Yesus. Jangan kita menaruh Kristus dikotak kita seperti kucing peliharaan yang dapat kita kontrol; menjadi “domesticated God”, Alah yang menjadi peliharaan kita. Sehingga, tidak ada lagi yang membuat kita datang dan berlutut kepada Tuhan minta belas kasihan, tidak ada lagi kesadaran tanpa Kristus aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Didalam satu bagian dalam buku Narnia yang ditulis oleh C.S. Lewis, salah satu tokoh dari buku itu bernama Susan berkata: “oh saya pikir Aslan itu seorang manusia; ternyata ia seorang singa. Is he quite safe?” tanya Susan, “saya rada takut kalau ketemu singa.”. Mr. Beaver mengatakan satu kalimat: “Safe? Who said anything about safe? Of course he isn’t safe, but he is good; he is the king, I tell you.”. Tuhan ingin kita mengenal Kristus sang Singa dari Yehuda ini sebagai Tuhan dan Raja. Kita datang kepada Dia, mengenal Dia, kita tidak pernah bisa mengontrol Dia, Dia dalah Tuhan, Allah yang berdaulat dan Dia ingin goncang kita terus. Dia ingin kita mengenal Dia, mengenal kelimpahan-Nya, kemuliaan-Nya, kebaikan-Nya, kuasa-Nya, kedaulatan-Nya, dan terus ada hal-hal yang tidak bisa kita tebak. Kita harus datang kepada Dia, meskipun kita tahu Dia tidak bisa kita control, karena Dia adalah Tuhan. Tetapi Dia adalah Tuhan yang baik. Tuhan yang baik dan berdaulat yang bekerja didalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia. Inilah yang Yohanes ingin katakan dari peristiwa penyembuhan dari anak pegawai istana ini. Dia ingin kita mengenal dan tidak terjebak dalam kedua kesalahan diatas; kesalahan dimana kita bangga dan menyombongkan diri karena kita mengenal orang yang terkenal dan kesalahan didalam over-familiarity with Jesus.

Yohanes ingin menyatakan dua hal untuk menjawab kedua kesalahan ini. Pertama, Yesus adalah Tuhan yang Maha Kuasa. Yesus yang menyembuhkan anak yang hampir mati hanya dengan satu kalimat “pergilah, anakmu hidup”; sesuatu langsung terjadi  kepada anak itu yang berada 25km dari Yesus (Kapernaum 25 km dari Kana) ketika Yesus mengatakan kalimat ini. Hal inipun tidak menjadi masalah dan tidak menghalangi kuasa Yesus. Yohanes ingin menekankan bahwa kuasa Kristus langsung terjadi kepada anak pegawai ini dengan mengatakan di ayat ke 53 bahwa anak pegawai itu sembuh tepat pada saat Yesus berkata  kepadanya: “Anakmu hidup.”. Apakah kita sungguh-sungguh percaya bahwa Yesus adalah Tuhan yang Maha Kuasa seperti demikian? Percaya Yesus sebagai Allah yang Maha Kuasa bukan berarti bahwa setiap doa dan permintaan untuk kesembuhan yang kita minta pasti Tuhan kabulkan. Tetapi ini berarti kalau Tuhan ingin menyembuhkan, Dia pasti mampu menyembuhkan. Apakah kita percaya kalau Yesus adalah Tuhan yang begitu besar yang berdaulat atas hidup kita sehingga kita boleh datang kapanpun, dimanapun, dalam keadaan apapun yang kita hadapi didalam dunia ini.

Kedua, Yohanes ingin menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan yang penuh anugerah dan belas kasihan. Kita bisa melihat hal ini di ayat ke 48 dimana Yesus berkata jika orang-orang ini tidak melihat tanda dan mujizat orang-orang ini tidak akan percaya. Ini adalah teguran keras yang diberikan kepada Tuhan Yesus; Tuhan Yesus marah kepada orang-orang Galilea yang hanya mencari mujizat, yang tidak mengenal dan percaya kepada-Nya sebagaimana Dia adanya. Tetapi didalam kemarahan-Nya, Dia menyembuhkan. Kalau kita marah, kita pasti tidak akan memberi apa-apa kepada orang yang kepadanya kita sedang marah yang meminta kepada kita. Tetapi waktu Tuhan Yesus marah, Dia memberikan anugerah-Nya  pada saat itu. Jadi kesembuhan yang Tuahan Yesus beri adalah semata-mata anugerah Tuhan. Lebih lagi, Yesus tidak mengenal orang ini. Ketika pegawai istana ini datang, dia tidak mengatakan apapun tentang diri Yesus dan tidak menyatakan apapun tentang kuasa-Nya. Pegawai ini hanya minta supaya Tuhan Yesus datang dan menyembuhkan anaknya. Maka disini Tuhan Yesus menyembuhkan anak orang yang Ia tidak kenal sama sekali. Artinya adalah ketika Tuhan Yesus menyembuhkan anak ini, penyembuhan ini semata-mata  adalah anugerah dan belas kasihan-Nya kepada pegawai ini. Tidak ada perbuatan baik apapun yang dilakukan oleh pegawai ini. Tuhan Yesus menyatakan anugerah-Nya dan pegawai istana ini meresponi aungerah ini dengan mempercayai perkataan Yesus (Yohanes 4:53).

Biarlah kita sekali lagi kagum akan Tuhan. Biarlah kita sekali lagi mengenal siapakah Yesus ini, dan mengikis dan membuang segala hal yang menghalangi kita  untuk percaya dan mengenal Yesus sebagaimana Ia adanya. Biarlah kita megenal bahwa Ia adalah Tuhan yang penuh anugerah dan belas kasihan kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya. Yesus adalah Tuhan yang penuh kuasa dan berdaulat yang perkataanya bisa megubah segalanya. Biarlah kita datang mengenal Dia dan mau membaca firman-Nya karena Dia tidak habis untuk kita kenal, sehingga ini menggairahkan kembali kerohanian kita. Biarlah kita taat melakukan apa yang Tuhan kehendaki; dan waktu kita taat kita makin mengerti jalan Tuhan yang masih begitu banyak hal yang kita tidak pahami. Kemudian, kita akan mengalami pertolongan, anugerah, pembentukan, dan penyertaan-Nya didalam hidup kita. Ada begitu banyak hal yang Tuhan sediakan bagi kita yang kita tidak pernah tahu ketika kita tidak mentaati dan merenungkan firman; ketika kita tidak mengambil resiko kehilangan nyawa karena Kristus, menyangkal diri, memikul salib, mengikut Kristus. Ketika kita melakukan hal ini, Dia akan menyatakan anugerah-Nya dan kuasa-Nya kepada kita.

 

Ringkasan oleh David Hartana | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya