Ibadah

Hari Sabat

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Sabtu, 18 Juni 2016

Bacaan Alkitab: Yoh 5:9-18, Ibrani 4:8-11

Kali ini, kita akan memfokuskan tentang hari Sabat. Ini adalah suatu point yang ditekankan oleh Yohanes ketika Yesus menyembuhkan orang yang sudah 38 tahun sakit, (Yoh 5:9) “Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan. Tetapi hari itu hari Sabat.” Ada sesuatu yang significant dan kita melihat selanjutnya bahwa ini menjadi suatu point of conflict antara Tuhan Yesus dengan orang-orang Farisi. Kalau saudara membaca Injil Sinoptik (Matius, Markus, Lukas), persoalan tentang Sabat adalah point yang sangat penting dan menjadi pemicu marahnya orang Yahudi yang kemudian berusaha untuk membunuh Yesus.

Kalau kita melihat Perjanjian Lama, maka kita ingat bahwa hari Sabat adalah salah satu perintah sangat penting yang Allah Bapa berikan melalui Musa, ditulis dengan tangan-Nya sendiri yang Musa bawa, yaitu hukum ke-4 yang berkata (Ul 5:12) “Ingat dan kuduskanlah hari Sabat”.

Dalam kitab Ibrani 4:8-11 dikatakan bahwa akan ada hari perhentian yang Tuhan sediakan bagi umat-Nya (Ibrani 4:11) “Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam (hari) perhentian itu.” Hari perhentian itu adalah God’s rest, God’s Sabath, hari perhentian yang ultimate, ketika kita akhirnya bertemu muka dengan Tuhan, dan kita mengalami rest yang sempurna di dalam Tuhan.  

Lalu apa kaitannya antara Sabat dalam Perjanjian Lama, Sabat dalam bagian Yohanes kali ini dan Sabat dalam ibadat kita setiap hari minggu. Ibadah hari minggu yang sebenarnya adalah hari pertama, dan bukan hari ketujuh. Hari Sabat (Lord’s day) adalah hari ketujuh, namun orang Kristen mulai perjanjian baru hampir seluruhnya berkumpul pada hari pertama. Ini akan mempengaruhi kita, bukan saja dengan mengerti Sabat, tetapi juga seluruh hidup kita.

Hari Sabat berbicara tentang 6 hari engkau bekerja dan satu hari engkau berhenti dari segala pekerjaanmu, berarti berkaitan dengan seluruh hari dalam satu minggu.

Pertama-tama kita akan lihat apa yang menjadi inti persoalan, apa yang menjadi sumber kemarahan orang-orang Yahudi.

Kalau kita mengerti dari sisi orang Yahudi,perintah Allah (Ul 5:12) “ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat” adalah hukum yang menjadi beban yang berat bagi bangsa Israel. Setiap perintah Tuhan itu sesungguhnya untuk kebaikan manusia.

Hukum Allah itu seperti rel kereta api di mana kereta api boleh berjalan di atasnya. Rel itu adalah untuk kebebasan kereta itu. Ketika di atas rel itu, kereta boleh lari dengan kecepatan yang penuh, bahkan sampai 400 km per jam seperti pada Bullet Train. Rel itu memberi kebebasan kepada kereta, sepanjang kereta itu ada di atas rel; rel itu justru menjaga dia. Itulah kemerdekaanmu, tetapi kalau engkau keluar dari rel itu, maka matilah engkau.

Itulah hukum Taurat, Tuhan memberikan hukum-hukum itu menjadi pimpinan, menjadi guidance, menjaga hidup manusia. Sehingga hidup manusia boleh berkenan kepada Tuhan, dan mengalami kemerdekaan yang sejati, yaitu ketika berada dalam hukum Taurat. Khususnya hukum yang ke 4 - kuduskanlah hari Sabat - itu Tuhan berikan untuk kebaikan umat-Nya juga. Tetapi oleh orang Yahudi dan orang Farisi, hukum itu berubah menjadi hukum yang sangat detil yang kemudian menjadi beban yang berat sekali bagi orang Yahudi untuk melakukannya.

Sebagai contoh hukum kuduskanlah hari Sabat adalah berbicara tentang rest/istirahat dari segala pekerjaan atau tidak boleh bekerja pada hari itu. Tetapi apa yang disebut tidak boleh bekerja? Misalnya membawa barang itu boleh atau tidak. Barang seperti apa yang tidak boleh dibawa? Apakah semua barang? Kalau saya membawa sapu tangan, apakah itu termasuk membawa barang?  Kalau saya cuci sapu tangan itu kemarin, dan hari ini hari sabat, apakah saya boleh melipat sapu tangan ini. Itu termasuk bekerja kalau saya melipat dan membawa sapu tangan itu ke dalam lemari. Tetapi kalau sapu tangan itu bagian dari asesori bajumu, dan kalau bajumu itu kamu lipat dan masukkan ke dalam lemari bersama sapu tangan itu, maka itu tidak termasuk bekerja.

Jadi detil-detil ini banyak yang aneh, tetapi mereka menganggap itu adalah refleksi ketaatan mereka kepada hari Sabat. Peraturan-peraturan ini mereka tulis dengan detil, dan menjadi beban berat bagi mereka. Tetapi mereka lakukan dengan serius dan taat. Orang-orang Farisi akan merasa aman ketika mereka mengikuti peraturan-peraturan yang secara literal ditulis dengan detil itu. Mereka berkata bahwa mereka sudah mengikuti perintah Allah, melakukan ini, tidak melakukan itu dst.

Problemnya adalah mereka merasa sudah hidup kudus di hadapan Tuhan karena melakukan apa yang diperintahkan, dan dengan demikian sudah selayaknya Tuhan memberkati mereka. Ini adalah apa yang ada di dalam pikiran orang Yahudi dan Farisi. Kalau kita mengingat cerita Injil mengenai orang Farisi dan pemungut cukai yang datang ke bait Allah. Orang Farisi itu mengangkat tangannya dan berkata (Luk 18:11-14) “Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku”. - menyatakan kebanggaannya -. Tetapi pemungut cukai itu tidak berani melihat ke atas, melainkan memukul-mukul dirinya dan berkata “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” Dia tidak menyatakan apapun yang dia kerjakan, tetapi dia hanya meminta belas kasihan Tuhan. Tuhan Yesus mengatakan pemungut cukai itu pulang sebagai orang yang dibenarkan Tuhan.

Ini seringkali menjadi contoh karakter Kristen yang pertama, yaitu orang yang miskin di hadapan Allah. Orang yang tidak berdaya, yang sadar dirinya tidak layak, yang bangkrut dan boleh datang kepada Tuhan karena belas kasihan-Nya, karena anugerah-Nya yang dia mohon kepada Tuhan. Orang ini pulang sebagai orang yang dibenarkan. (Luk 18:14)

Tetapi orang Farisi, yang secara detil mentaati peraturan itu, merasa diri hebat, layak dihadapan Tuhan, dan karena itu Tuhan harus memberkati mereka. Mereka mentaati peraturan itu sampai detil-detil yang paling kecil. Mereka menghina orang-orang yang tidak melakukan peraturan itu dengan detil.

Sehingga kita mengerti betapa mereka kaget dan shock ketika Yesus melakukan mukjijat pada hari Sabat. Bukan hanya itu, Tuhan Yesus juga mengatakan “Angkatlah tilammu dan berjalan-lah”. Mengangkat sapu tangan saja bekerja, tapi ini mengangkat tilam. Mereka marah dan berkata (Yoh 5:10) "Hari ini hari Sabat dan tidak boleh engkau memikul tilammu."”, maka jawab orang itu (Yoh 5;11) "Orang yang telah menyembuhkan aku, dia yang mengatakan kepadaku: Angkatlah tilammu dan berjalanlah.”.

Maka mereka marah sekali, karena ini akan membongkar suatu system yang sudah mereka dirikan beratus-ratus Tahun. Susah sekali mereka mentaati itu, mereka sudah berjuang supaya semua orang taat kepada perintah yang sudah dibuat ini. Apa yang Tuhan Yesus lakukan membongkar seluruh sistem mereka.  Karena itu mereka rapat membentuk FPY (Front Pembela Yahudi). Mereka memutuskan untuk menangkap Yesus, membunuh Dia, dan itulah yang mereka lakukan.

Apa yang dilakukan Tuhan Yesus di sini yang menimbulkan kemarahan orang Yahudi, sebenarnya Tuhan Yesus sedang membongkar kemunafikan orang Yahudi yang dengan mengikuti segala peraturan itu secara detil mereka menganggap diri sudah layak di hadapan Tuhan, sudah suci, dan Tuhan harus memberkati mereka.  

Hal ini menjadi perdebatan dalam tulisan Paulus yang bertempur dengan orang-orang yang seperti demikian. Paulus bukan terutama melawan ketaatan mereka kepada hukum Taurat, namun Paulus menyatakan, ketika mereka mentaati peraturan itu, spirit mereka adalah, mereka menggantungkan kelayakan mereka di hadapan Tuhan, melalui apa yang mereka lakukan. Paulus mengatakan “tidak”, kita dibenarkan semata-mata oleh iman di dalam Kristus, dan itu bukanlah hasil dari perbuatan apapun yang bisa engkau lakukan.

Tuhan Yesus membongkar kemunafikan mereka. Dengan mengikuti peraturan seperti itu, mereka sepertinya merasa aman, tetapi sebenarnya peraturan itu membuat mereka terlihat bagus diluar tetapi di dalamnya mereka membenci peraturan itu dan tidak mengasihi dan memuliakan Tuhan. Karena itu Tuhan Yesus mengatakan (Mat 23:27) “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.”.

Tuhan Yesus mau mengajarkan kepada orang Yahudi dan kepada kita sekarang, apa artinya hari Sabat. Bagaimana kita boleh mengerti dan melaksanakan hari Sabat sesuai dengan kehendak Tuhan.

Karena itu saya mengajak kita melihat apa sebenarnya hari Sabat itu, dan bagaimana kita boleh melaksanakannya dengan benar. Kita akan melihat dua bagian Alkitab dan kemudian mengkaitkannya dengan Ibrani 4:8-11.

-       Kel 20:8-11, yaitu tentang sepuluh hukum:

“Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.”

Point yang penting di sini adalah hari Sabat yang Tuhan perintahkan dikaitkan dengan bagaimana Tuhan menciptakan langit dan bumi. Engkau bekerja enam hari karena Tuhan sudah menciptakan segala sesuatu selama enam hari. Hari ketujuh Tuhan berhenti dari penciptaan dan Tuhan memberkati hari Sabat, karena itu engkau juga berhenti dari pekerjaanmu, dan mengkuduskan dan mengingat hari Sabat itu.  

-       Ul 5:12-15 mengatakan:

“Tetaplah ingat dan kuduskanlah hari Sabat, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu. Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau lembumu, atau keledaimu, atau hewanmu yang manapun, atau orang asing yang di tempat kediamanmu, supaya hambamu laki-laki dan hambamu perempuan berhenti seperti engkau juga. Sebab haruslah kauingat, bahwa engkaupun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau dibawa keluar dari sana oleh TUHAN, Allahmu dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung; itulah sebabnya TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau merayakan hari Sabat.”

Di sini kita melihat hari Sabat dikaitkan bukan dengan penciptaan tetapi dengan penebusan orang Israel dari Mesir.

Yang pertama, kita melihat hari Sabat adalah sebagai selesainya pekerjaanmu selama enam hari, dan hari ketujuh adalah perayaan dari segala yang kita telah kerjakan di dalam Kristus. Hari Sabat adalah untuk menikmati apa yang sudah Tuhan berikan pada hari-hari sebelumnya. Kita mengikuti pola apa yang Tuhan lakukan pada penciptaan.

Dalam pengertian ini, Sabat juga berbicara tentang enam-hari sebelumnya. Kalau kita melihat proses penciptaan (Kejadian 1), Tuhan juga bekerja selama enam-hari, Tuhan merencanakan, Tuhan membuat struktur. Tiga hari pertama, Dia mengatakan jadilah terang maka terang itu jadi, Dia memisahkan air yang di atas dan yang ada di bawah, Dia memisahkan daratan dan lautan. Tiga hari kemudian Tuhan mengisi struktur-struktur itu dengan bintang-bintang di langit, dengan burung-burung di udara, dengan binatang-binatang di air, dengan tumbuh-tumbuhan, dengan binatang-binatang di daratan. Setelah mengisi semua itu Tuhan mulai berjalan dan mengevaluasi. Dia melihat semuanya dan berkata “It is good”, sampai pada penciptaan yang terakhir “it is very good

Di dalam dunia ini, orang juga mengikuti pola. Di dalam pekerjaan yang kita lakukan sehari-hari, kita membuat rencana, kemudian membuat struktur/system tentang apa yang akan kita kerjakan, setelah itu kita mengisi dan menjalankan struktur itu. Setelah jalan strukturnya maka kita evaluasi. Setelah evaluasi, biasanya kembali lagi pada tahap yang pertama, dst. Di dalam dunia modern ini kita sudah kehilangan apa yang Tuhan lakukan: Tuhan tidak berhenti pada evaluasi. Setelah menyelesaikan penciptaan dan melihat semuanya sungguh amat baik, maka Tuhan berhenti pada hari ketujuh dan memberkati hari ketujuh itu. Ini menjadi suatu yang penting sekali dalam dunia ini.

Di dalam dunia modern, yang terburu-buru, mengejar target yang terus bergerak, dari satu tugas kepada tugas yang lain, ada yang lembur, ada yang bekerja sampai malam. Berjuang terus, yang memang baik, tetapi tanpa hari ketujuh, tanpa berhenti dari segala apa yang kita lakukan dan kemudian kita memuji dan beribadah kepada Tuhan pada hari yang ketujuh itu, maka kita akan lupa apa sebenarnya tujuan dari apa yang kita lakukan itu. Tanpa hari ketujuh, kita melupakan apa tujuan dari hidup kita, apa yang sebenarnya yang kita kejar, yang paling penting di dalam kehidupan kita. Tuhan memberi hari ketujuh, memberkati hari ketujuh, untuk mengikuti pola dari Tuhan, untuk secara sengaja kita mengkhususkan waktu dan tempat yang khusus, beribadat kepada Tuhan, dan memikirkan kembali mengapa kita melakukan perkerjaan selama enam hari sebelumnya. Tanpa mengerti apa yang menjadi tujuan kita bekerja, maka sesungguhnya kita mulai kehilangan arah, dan banyak kesulitan yang akan terjadi.

Seorang penulis Norman Wirzba [1], “The teaching of Sabath will redirect and transform all our existence, bringing it into more faithful alignment with God’s live dealing and live strengthening way. Help us to think about the the ultimate bearing of direction of human life. Sabath practice is the focus and culmination of a live that is daily and practically devoted to God”. Sabat akan mentransform hidup kita sesuai dengan cara Allah yang menguatkan hidup kita. Perintah Sabat menjadi sesuatu yang secara praktikal memuliakan Tuhan.    

John Calvin mengatakan “Worship is the primary activity of Sabath”. Karena di dalam Sabat itulah kita boleh menyembah Tuhan, memuliakan Dia dan jiwa kita boleh disegarkan. Kita boleh diingatkan akan tujuan hidup kita yang utama. Ini menjadi kekuatan dan keseimbangan yang Tuhan inginkan dalam hidup kita. Tanpa menjaga Sabat, kita membanting tulang, dan tahu-tahu kita sudah tua, sakit, mau mati, dan kita pikir untuk apa semua perjuangan kita itu.

Saya mengingat akan mama saya yang pernah mengalami kemiskinan, dan merasa dihina karena miskin. Maka mama berjuang untuk tidak mau miskin dan dihina lagi. Setiap hari bangun jam 2 pagi, tetapi saya sangat sedih karena mungkin sangat sedikit sekali hasil yang boleh mama nikmati. Setelah berjuang berpuluh-puluh tahun, mama kena kanker. Tentu menjadi penghiburan karena mama beriman kepada Tuhan. Tetapi dengan pengertiannya yang terbatas, mama tidak mengerti untuk apa perjuangan itu semua. Tentu keluarga menikmati hasil jerih payahnya, tetapi bagi mama sendiri, saya rasa sangat sedikit sekali beliau menikmati hasil usahanya.

Kita tidak boleh bekerja tanpa mengerti apa yang menjadi tujuan kita bekerja. Apakah pekerjaan kita memiliki arti yang kekal, yang memuliakan Tuhan dan menjadi berkat bagi orang-orang lain. Hari Sabat mengingatkan kita akan hal ini.

Hal yang kedua, kalau kita melihat Ul 5:12-15, Firman Tuhan mengkaitkan Sabat dengan eksodus. Bagaimana umat Israel dibebaskan dari perbudakan Mesir. Ini tentu adalah gambaran dari redemption.  Apa yang kita alami sekarang adalah puncak dan bayang-bayang dari apa yang dialami orang Israel. Engkau dilepaskan Mesir, yang melelahkan engkau, yang menghancurkan jiwamu, untuk menerima kelegaan dan istirahat yang sejati di dalam Tuhan. Inilah yang kita lakukan sekarang ini, mengingat Kristus yang membebaskan kita bukan dari perbudakan Mesir, melainkan dari perbudakan dosa. Tuhan Yesus mengatakan (Mat 11:28) “Marilah kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” “I will give you rest”.

Kita melihat kaitan antara Sabat, bukan hanya dengan penciptaan, tetapi juga dengan penebusan. Karena itulah kalau kita melihat Perjanjian Baru, Sabat yang dilakukan orang-orang Kristen di awal Perjanjian baru, mereka berkumpul bukan lagi pada hari yang ketujuh, tetapi pada hari yang pertama. Mengapa demikian?

Karena banyak peristiwa penting dalam perjanjian Baru terjadi pada hari pertama. Kristus dibangkitkan pada hari pertama, Tuhan Yesus menampakkan dirinya setelah bangkit pada hari pertama. Dia bertemu dengan murid-muridnya dalam perjalanan ke Emaus pada hari pertama. Setelah bangkit, Dia memecahkan roti bersama-sama murid-murid pada hari pertama. Roh Kudus dicurahkan juga pada hari pertama.

Ada sesuatu yang terjadi di dalam Perjanjian Baru. Kita tidak lagi bekerja selama enam hari dan rest pada hari yang ketujuh. Masih bekerja, masih rest, tetapi dibalik. Sebelum bekerja, setiap orang yang di dalam Kristus, sudah menerima kelegaan di dalam Kristus. Bukan dialami diakhir pekerjaan itu, tetapi kita mengalami itu di awal, semata-mata itu karena anugerah yang sudah kita terima di dalam Kristus. Maka setelah menerima anugerah itu, kita bekerjalah di dalam dunia ini.

Ini menjadi sesuatu yang indah, kita masih bekerja. Tetapi kita bekerja bukan untuk membangun harga diri, bukan untuk membangun rasa aman/sekuriti, bukan untuk mencari arti hidup. Ketiga hal ini dikejar oleh orang dunia, untuk membangun harga diri, harga diri ditentukan oleh pekerjaan. Mengumpulkan uang untuk sekuriti. Mencari arti hidup dalam pekerjaan. Tentu ini menjadi dorongan yang kuat agar orang menjadi produktif dan sukses. Tetapi kalau ketiga hal ini menjadi tujuan hidup kita, maka ultimately orang itu akan burn out secara fisik maupun secara emosi, mempertanyakan untuk apa itu semuanya.

Leisel Jones seorang perenang Olympic Australia, salah satu perenang yang paling hebat, yang memenangkan beberapa medali emas di Olympic. Dari kecil dilatih dengan keras untuk mendapatkan medali emas. Latihan menjadi perenang Olympic beratnya luar biasa. Setiap hari, jam 4-5 pagi, harus bangun berenang berjam-jam, sore hari berenang lagi berjam-jam, seminggu enam hari, untuk tujuan mencari harga diri, mencari arti hidup. Medali emas, itulah yang selalu ditanamkan, dan memang betul dia akhirnya mendapat medali emas.

Namun setelah mendapat medali emas, dia mulai depresi, bergumul dan hampir mau bunuh diri.  Setelah mengalami proses pemulihan, dia mengatakan “saya mulai sadar, if I’m nothing without the gold medal, I’m nothing with it.” [2] Karena harga diri manusia tidak bisa diberikan oleh apa yang kita kerjakan.

Ini kontras dengan olahragawan lain, seorang Kristen, yang bernama Eric Liddell, yang hidupnya diceritakan dalam film Chariots of Fire. Dia seorang sprinter 100m Olympic, suatu event Olympic yang sangat bergengsi. Pada satu Olympic, dia harus bertanding pada hari minggu. Saingannya, berkata “I have ten seconds to justifiy my existence.” Tetapi Eric Liddell karena tahu bahwa itu hari Minggu, dia tidak mau lari. Kita yang sudah dibenarkan di dalam Kristus, tidak ada satupun yang bisa menuduh kita. Medali emas, kesuksesan bukanlah arti hidup kita. Eric Liddle berlari for the audience of One, dia berlari karena sadar atas panggilan Tuhan dalam hidupnya. Bagi anak-anak Tuhan, bekerja bukan lagi untuk diri, tetapi menjadi ekspresi ucapan syukur kepada Tuhan. Ucapan syukur itu boleh diingatkan melalui Sabat.

Jati diri kita adalah orang Kristen, adalah hamba Tuhan, sebutan hamba Tuhan itu bukan pendeta saja. Tuhan menempatkan kita di dalam pekerjaan yang berbeda-beda untuk menjadi sarana untuk mengasihi orang lain seperti diri kita sendiri.

Masih ada satu hari perhentian terakhir. Kalau engkau tidak menikmati setiap hari minggu beribadah Tuhan, maka engkau tidak akan menikmati selama-lamanya in His rest eternally, di dalam langit dan bumi yang baru. Hari Sabat adalah persiapan bagi kita mencicipi untuk memasuki hari perhentian di langit dan bumi yang baru, memuliakan Dia, bersyukur tidak habis-habisnya. Mengenal Dia yang menjadi fokus dalam langit dan bumi yang baru.

Dalam langit dan bumi yang baru itu, saya percaya kita masih bekerja, namun tidak ada lagi semak duri, tidak ada lagi sakit penyakit, tidak ada lagi air mata, tidak ada kematian. Itulah hari perhentian yang kita harapkan. Tetapi sebelum hari itu tiba, sekarang kita masih bekerja, mengalami semak duri, mengalami kesulitan, kegagalan, gosip, backstabbing, dan kekecewaan. Baiklah kita yang di dalam Kristus, setiap minggu kita diingatkan akan redemption dan segala hal yang berharga yang Tuhan sudah sediakan. Di dalam dunia yang berdosa ini, di tengah kelelahan, kita disegarkan, memfokuskan kembali pada apa yang Tuhan inginkan.

Pada hari Sabat, berhenti dalam segala pekerjaan bukan berarti inactivity. Seperti Tuhan pada hari ketujuh Dia bekerja juga, dengan memberkati hari ketujuh. Memberkati juga bekerja juga. Demikian juga dengan kita, kita bekerja dengan memuliakan Tuhan pada hari Sabat, yang justru menyegarkan dan kekuatan bagi kita.

Pendeta Agus Marjanto pernah bagikan tentang hari Sabath. Dia mengatakan bahwa kata Sabat dalam bahasa Yahudi adalah SBT (karena tidak ada huruf hidup dalam bahasa Yahudi). Dari satu kata itu bisa timbul arti yang bermacam-macam, bisa dimengerti sebagai kasih, sebagai kedekatan antara satu orang dengan orang lain, kesukacitaan, ucapan syukur, dan begitu banyak aspek yang lain. Pendeta Agus menyatakan satu kesimpulan yang sangat indah: dari seluruh arti yang ada kalau boleh disimpulkan dalam satu perbuatan, itu seperti suatu relasi suami-istri, seperti suami yang sedang menyatakan kasihnya yang secara puncak di dalam hubungan suami istri.

Kristus, mempelai pria sudah mempersiapkan dengan segala sesuatu untuk menyatakan cinta kasihnya yang paling puncak kepada istrinya. Kalau kita tidak datang secara sungguh-sungguh dalam hari Sabat, bayangkan betapa besar kekecewaan, kesedihan dan kemarahan mempelai pria. Mungkin kita datang, tetapi interest kita ada pada hal yang lain, pada sale, pada gadget, mengobrol tentang dan hal-hal yang lain tetapi bukan tentang Kristus. Hari Sabat, hari pertama, the Lords Day, siapkan hati kita, hari yang khusus yang harus kita siapkan. Menjadi persiapan bagi kita untuk bekerja, untuk melayani, seperti seorang istri yang datang kepada suaminya yang sudah mempersiapkan segala sesuatu to celebrate His love, dalam persekutuan yang indah.

Biarlah setiap hari minggu, kita datang untuk menjadi suatu kesukaan, menjadi hari yang paling penting dalam seminggu, menjadi hari yang dinanti-nantikan, untuk disegarkan, dikuatkan dan boleh berkarya lagi di tengah-tengah dunia ini. Dalam satu siklus terus-menerus, kita bekerja dan rest, sampai kita bertemu muka-muka dengan Tuhan. Di hari perhentian yang terakhir nanti, kita akan mengalami puncak kesukacitaan, tidak ada lagi yang menghalangi, karena dosa sudah dikalahkan. Di hari Sabat yang terakhir dan terbesar itu kita boleh bertemu muka dengan muka dengan Sang mempelai pria.

[1] Norman Wirzba, “Living the Sabath (The Christian Practice of Everyday Life”.

[2] http://www.news.com.au/breaking-news/leisel-to-dawn-why-oh-why/news-story/1463a7687eaff80b97222ab8ede1abc7 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya