Ibadah

Air Hidup (3)

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 7 Mei 2017

Bacaan Alkitab: Yoh 4:27-42

Cara Yohanes menceritakan bagian ini sangat menarik. Cerita tentang perempuan Samaria dan respons orang-orang Samaria tentang cerita itu, ditulis dua kali, di awal (ayat 28-30) dan di akhir (ayat 39-42) bagian ini. Tetapi di tengah-tengah bagian ini ada percakapan Yesus dengan murid-murid-Nya, yang menyatakan apa yang terjadi secara lebih dalam di antara perempuan Samaria dan orang-orang di kota itu.

Kita akan pertama-tama merenungkan apa yang terjadi dengan perempuan Samaria dengan orang-orang di kotanya.

Dalam Yoh 4:25-26 perempuan itu mengatakan “Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami." Kata Yesus kepadanya: "Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau."” Kita bisa membayangkan response perempuan itu, dia tercengang, karena Mesias yang dinanti-nantikan itu berdiri di depan dia. Maka dia lari meninggalkan tempayannya kembali ke kota dan menceritakan kepada orang-orang di kotanya, dan berkata (Yoh 4:29) "Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?"

Ada sesuatu yang dahsyat dalam hidup perempuan Samaria ini. Tuhan membuka hatinya dan dia mulai sadar bahwa Dia-lah Kristus itu. Ini menggerakkan hatinya begitu dalam, sehingga dia yang tadinya menghindari orang-orang yang mengetahui hidupnya yang tidak beres, malah sekarang dia menjumpai orang-orang itu dan berteriak “Mari lihatlah…” dan mengajak orang-orang datang kepada Kristus.

Saya mengajak kita melihat satu hal yang menarik dalam Yoh 4:27 “Pada waktu itu datanglah murid-murid-Nya dan mereka heran, bahwa Ia sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan.” Meskipun bukan hal yang utama, tetapi Yohanes mencatat bahwa murid-murid-Nya heran. Khususnya pada jaman itu, perempuan itu dianggap sebagai second-class. Apalagi seorang rabi (Yoh 4:31 – mereka memanggil Yesus “Rabi”), rabi tidak berbicara dengan perempuan, apalagi dengan perempuan yang immoral. Perempuan dianggap lebih rendah dan diperlakukan semena-mena. Bukan hanya pada jaman itu saja, tetapi juga dalam budaya dan agama-agama di mana Kristus tidak dikenal. Seperti dalam film “The Story of Soraya M”, di mana seorang suami membuat tipu muslihat untuk menceraikan istrinya, menuduh istrinya berzinah. Istrinya kemudian dikubur setengah badan dan dilempari batu sampai mati. Di India waktu William Carey melayani di sana, ada adat yang mengharuskan istri dibakar bersama-sama dengan jenazah suaminya.

Ketika orang-orang percaya kepada Kristus, dan menerapkan ajaran Alkitab, maka wanita diperlakukan dengan begitu terhormat, sebagai the image of God. Ini adalah salah satu dampak daripada Injil, yang bukan hanya menyelamatkan manusia, tetapi juga mengembalikan manusia kepada maksud dan tujuan Allah yang semula, khususnya bagi para wanita.

Namun ada orang yang tidak setuju dengan Alkitab yang mengatakan sepertinya ada diskriminasi. Seperti dalam Efesus (5:22) “Istri tunduklah kepada suamimu, seperti kepada Tuhan di dalam segala sesuatu”. Tetapi orang-orang yang tidak menyukai hal ini, adalah sebab mereka tidak mengerti apa yang Alkitab sedang katakan. Karena selanjutnya kita akan tahu ketika suami yang dikatakan sebagai kepala dari pada istrinya, artinya dia harus mengasihi istrinya seperti Kristus mengasihi jemaat, dan rela mati bagi jemaat, mengasihi jemaat dalam segala-galanya.

Kalau para wanita mengerti apa artinya hal ini, maka saya rasa tidak ada wanita yang tidak setuju kalau suaminya seperti kepala, seperti Kristus mengasihi jemaatnya, maka wanita akan tunduk kepada suami yang seperti demikian. Hal ini adalah gambaran yang indah dalam Alkitab. Suami dan istri, pria dan wanita equal di hadapan Tuhan, sama-sama memiliki dignity, sama-sama image-of-God, tetapi tidak sama fungsinya, bukan sama di dalam ordonya. Seperti kaitan Kristus dalam jemaatnya, sehingga di dalam keluarga, anak-anak boleh melihat kemuliaan dari pada Kristus, keagungan dari pada Gereja. Mereka boleh melihat Kristus yang melayani akan umat-Nya, dan juga Gereja sebagai sebagai umat Tuhan yang tunduk kepada Kristus. Anak-anak boleh melihat keagungan Kristus dan Gereja, dalam hidup ayah dan ibu mereka.

Melalui bagian Alkitab ini, kita juga bisa melihat bagaimana Yesus memanggil seorang perempuan Samaria. Seorang yang bukan saja perempuan, tetapi juga yang immoral, yang dianggap sampah oleh masyarakat, tetapi justru Yesus memanggil dia, menyelamatkan dia. Bahkan Yesus memakai dia sebagai alat di tangan Tuhan untuk menyatakan kemuliaan Tuhan, membawa orang-orang Samaria kembali kepada Tuhan.

Seorang penulis mengatakan bahwa raja-raja di dunia ini memakai orang-orang yang paling hebat untuk membangun kerajaannya. Maka Raja di atas segala raja memakai broken people, orang-orang yang dianggap remeh oleh dunia ini, untuk membangun kerajaan-Nya yang kekal. Oleh karena itu, jangan kita menghina diri kita. Kita mungkin melihat betapa besarnya dosa kita, dan di dalam kelemahan dan pergumulan, merasa diri tidak layak. Namun kita bisa melihat Yesus mengangkat dan mengubah hidup perempuan Samaria, maka tidak ada yang tidak memiliki pengharapan. Bagi setiap kita, bagi orang lain, betapa sulitnya orang itu untuk percaya kepada Tuhan, betapa rusaknya dia, tapi kita tetap perlu memberitakan Injil kepada dia. Karena Tuhan seringkali memakai the unlikely instrument, orang-orang yang kita tidak pernah pikir bisa dipakai oleh Tuhan, namun kemudian Tuhan pakai menjadi alat-Nya di tangan Tuhan.

Kita melihat Yoh 4:39 bagaimana response dari pada orang-orang yang mendengar ajakan perempuan Samaria ini. Mereka datang dari kota kepada Kristus dan mendengar apa yang Tuhan Yesus katakan. (Yoh 4:39) “Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi: "Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat." (Yoh 4:40-42 “Ketika orang-orang Samaria itu sampai kepada Yesus, mereka meminta kepada-Nya, supaya Ia tinggal pada mereka; dan Iapun tinggal di situ dua hari lamanya. Dan lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya karena perkataan-Nya, dan mereka berkata kepada perempuan itu: "Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia."”

Hal yang paling penting yang dapat kita lihat di sini adalah adanya double witnesses. Mereka mendengar perkataan kesaksian perempuan itu (ayat 39), dan mereka mendengar perkataan Tuhan Yesus sendiri (ayat 42). Mereka menjadi percaya bahwa Dialah Juruselamat dunia, untuk menyelamatkan manusia dari dosa mereka. Ini adalah pekerjaan Kristus, Dia adalah aktor utama dalam peristiwa yang menakjubkan ini. Kristus membangkitkan seorang yang mati secara rohani, yaitu perempuan Samaria ini, dan kemudian membangkitkan secara rohani satu kota, yaitu kota Sikhar di Samaria ini. Kristus melakukannya melalui the unlikely instrument, yaitu perempuan Samaria ini.

Inilah pola Tuhan, ketika Tuhan mengerjakan keselamatan-Nya, Dia menggerakkan orang-orang untuk percaya kepada-Nya, dan kemudian orang-orang yang sudah percaya ini, diutus untuk pergi memberitakan Injil. Ini menjadi dorongan bagi kita untuk memberitakan Injil bagi orang-orang di sekeliling kita, kepada segala bangsa, kepada segala agama, kepada tempat-tempat di mana Injil belum diberitakan. Kalau kita sudah mengalami anugerah-Nya, maka sesungguhnya Tuhan ingin memakai kita, meskipun Dia bisa memakai cara-cara yang lain. Kita boleh memberitakan Injil, tidak pernah menyerah dalam segala tantangan yang kita hadapi. Dalam kesempatan yang ada kita boleh memberitakan Injil kepada orang-tua kita, kepada saudara-saudara kita. Kalau Tuhan bisa memakai perempuan Samaria ini, maka Tuhan pasti juga bisa memakai kita, ketika kita boleh menyerahkan diri ke dalam tangan Tuhan.

Belakangan ini, kita diingatkan pentingnya memberitakan Injil kepada orang-orang Kristen di sekitar kita. Di dalam rapat Sinode, pak Tong mengingatkan kita harus mendoakan dan memberitakan Injil kepada mereka. Pak Tong mengatakan kalau sejarah Indonesia dari Hindu, kemudian menjadi Budha, kemudian menjadi Islam, kemudian dari Islam, Injil masuk, tetapi tidak pernah menjadi mayoritas Kristen. Islam menjadi kekuatan yang sangat besar sekali, dan kita menjadi sangat concern.

Ketika kita mendengar hal ini, mungkin menakutkan kita. Tetapi di sisi yang lain, biarlah kita sebagai anak-anak Tuhan harus memberitakan Injil kepada orang-orang Islam. Ada hamba Tuhan GRII yang berkata satu-satunya jalan membawa orang-orang ini tidak menjadi ekstrim adalah memberitakan Injil kepada mereka. Kita perlu membawa mereka kembali kepada Tuhan.

Banyak orang-orang Islam Indonesia yang datang ke Australia, rekan-rekan sebangsa kita, ini menjadi kesempatan bagi mereka untuk mendengarkan Injil.  Orang yang paling efektif memberitakan Injil adalah orang yang dari tidak percaya menjadi percaya. Karena teman-temannya pasti bukan Kristen, sehingga dia boleh memberi kesaksian. Kita bukan melakukan Kristenisasi, tetapi kita membagikan Injil, membagikan kasih Tuhan. Kita bukan mengintimidasi tetapi justru mengasihi mereka. Kita harus terus berdoa untuk menemukan bagaimana caranya dan mendapatkan kesempatan untuk memberitakan Injil kepada mereka.

Di negara yang netral seperti di Australia, tidak ada ancaman sama sekali untuk memberitakan Injil. Tidak seperti saudara-saudara kita di Indonesia, banyak orang Islam mulai masuk ke daerah-daerah Kristen, dan terjadi banyak pertentangan. Kita membagikan Injil bukan untuk mendatangkan pertentangan, tetapi untuk memberitakan bahwa Yesus datang untuk menyelamatkan dunia. Kita juga memikirkan bagaimana caranya untuk ikut KKR regional di Indonesia. Tetapi yang ada di depan mata kita, di Australia, kita boleh membagikan Injil Tuhan. Kalau ada yang mau percaya, itu menjadi berkat yang besar, bukan hanya bagi hidup orang itu, tetapi juga bagi lingkungan di mana orang itu tinggal.

Kalau kita berbicara tentang misi, maka saya rasa Indonesia adalah ladang yang paling besar, yang sudah menguning. Mari kita bangun dan mengerjakan, sungguh-sungguh berdoa supaya Tuhan membukakan mata kita, kesempatan dan memberi kekuatan kepada kita untuk memberitakan Injil kepada saudara-saudara kita.

Inilah apa yang terjadi dalam perempuan Samaria, dan orang-orang Samaria. Seperti yang diceritakan dalam Yoh 4:31-38, yang menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada perempuan Samaria dan orang-orang dikotanya.

Yoh 4:31-33:  Sementara itu murid-murid-Nya mengajak Dia, katanya: "Rabi, makanlah." Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal." Maka murid-murid itu berkata seorang kepada yang lain: "Adakah orang yang telah membawa sesuatu kepada-Nya untuk dimakan?"

Di sini kita melihat para murid tidak mengerti apa yang Yesus katakan.

Agustinus pernah mengatakan, jangan heran perempuan Samaria itu tidak mengerti apa yang Yesus katakan, ternyata murid-pun tidak mengerti. Yesus Kristus kemudian menjelaskan: Yoh 4:34:  "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.

Aplikasi dalam hidup kita adalah kita sungguh-sungguh memerlukan pertolongan Tuhan untuk membangkitkan jiwa kita yang mati seperti perempuan Samaria itu. Pertolongan bagi kita, orang-orang yang sudah percaya, seperti juga para-murid, tetapi merekapun perlu anugerah Tuhan untuk membuka mata hati mereka, supaya mereka sungguh-sungguh mengerti apa yang Yesus katakan. Bagi kita yang sudah terbiasa di Gereja, apakah ada hati yang sungguh-sungguh untuk ingin (zealousness), mendengarkan dan merenungkan setiap kata di dalam Injil.

Meskipun tidak mudah mengerti perkataan Yesus, tetapi biarlah kita sungguh-sungguh membaca, menyelidiki, mencoba mengerti apa yang Firman Tuhan katakan.

Yesus mengatakan bahwa orang hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah. Ini berarti Firman itu adalah hidupmu. Yesus mengingatkan juga ini dalam Yoh 4:34 “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” Kita menyadari bahwa Firman Tuhan adalah makanan yang menopang kehidupan kita. Firman adalah kebutuhan pokok hidup kita, tanpa itu kita akan mati. Firman itu yang menolong kita berkarya, bekerja, dan melakukan segala sesuatu. Tentu kita memerlukan roti, tetapi kita memerlukan Firman secara lebih lagi.

Roh Kudus memberikan hidup yang baru melalui Firman yang diberitakan oleh Kristus. Seperti orang-orang di kota Samaria itu, mereka berkata kepada perempuan Samaria itu: (Yoh 4:42) “Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia.”

Inilah yang terjadi: melalui pemberitaan Firman, Roh Kudus bekerja dan memberikan hidup. Hidup yang sinkron, yang taat dan yang sesuai dengan Sang Pemberi hidup itu.

Kristus adalah Firman itu sendiri, Dia tidak perlu ditopang oleh Firman seperti kita. Dia tidak perlu ditopang oleh roti, karena Dia adalah roti hidup itu sendiri.

Tetapi Yesus juga mengatakan (Yoh 4:34) “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.”. Artinya adalah Dia yang adalah roti hidup itu sendiri, makanan Dia adalah memancarkan hidup yang taat melakukan kehendak Bapa yang mengutus Dia. Inilah makanan Kristus, kebutuhan Dia yang mendasar, yang tidak dapat ditunda lagi, yang merupakan tujuan Dia datang.

Ini dijelaskan kembali di dalam Yoh 4:35-36 “Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai. Sekarang juga penuai telah menerima upahnya dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita.”

Kata “sekarang juga” menunjukkan melalui kedatangan Kristus, tidak perlu lagi menunggu (empat bulan). Dengan ini, Dia seolah-olah berkata apa yang sebenarnya terjadi adalah Dia sudah menabur, dan tidak lama kemudian Dia menuai. Karena Kristus sudah datang, maka engkau boleh menabur dan sekaligus engkau boleh menuai. Tuhan Yesus mengajak murid-murid-Nya dan kita yang percaya untuk ikut di dalam menabur dan menuai.

Itulah yang dikatakan dalam Yoh 4:37-38 “Sebab dalam hal ini benarlah peribahasa: Yang seorang menabur dan yang lain menuai. Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan; orang-orang lain berusaha dan kamu datang memetik hasil usaha mereka." Biasanya menabur itu dianggap sebagai pekerjaan yang melelahkan, yang berat, dan tidak melihat hasilnya. Tetapi Yesus mengatakan bahwa menabur dan menuai bisa menjadi satu ketika Dia sudah datang. Menuai itu diidentifikasikan dengan pekerjaan yang penuh suka cita, yang menerima hasilnya.

Dengan ilustrasi seperti ini, walaupun kita yang memberitakan Injil, namun ketika kita melihat orang-orang itu datang kepada Tuhan, kita adalah orang-orang yang menuai hasil pekerjaan orang lain. Hampir pasti, ketika orang boleh percaya kepada Tuhan adalah karena sudah ada penabur-penabur sebelumnya.

Tuhan Yesus mau mengatakan bahwa penabur yang utama adalah Kristus sendiri, karena Dia telah menyelesaikan pekerjaan yang diberikan Bapa kepada-Nya. Apa pekerjaan yang Bapa berikan itu? Dia mati di atas kayu salib, memberikan hidup kekal melalui kematian dan kebangkitan-Nya.

Dalam Yoh 17:4, Yesus mengatakan “Aku datang untuk memuliakan Engkau, ya Bapa, dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku, untuk Aku melakukannya.”

Kristus sudah mengerjakan itu, sebagai penabur, dengan sempurna, sehingga kita boleh memberitakan kabar baik itu. Waktu kita boleh melihat orang-orang boleh percaya, ada suka-cita di dalam hidup kita.

Ada orang-orang yang bertobat, yang menyelidiki agama-agama, dan kemudian menyadari bahwa hanya di dalam Kristus ada kasih yang sejati. Dalam agama-agama lain, dorongan yang utama adalah fear, takut kepada neraka, takut tidak diselamatkan. Tetapi Kristus datang bukan memberitakan takut tetapi kasih yang dinyatakan di atas kayu Salib. Murka Allah diserap oleh Kristus di atas kayu Salib.

Tuhan Yesus mengatakan, sekarang waktunya, menuai dan menabur tidak perlu lagi menunggu empat bulan. Ketika engkau menabur, mungkin pada saat yang sama engkau bisa menuai. Meskipun waktu kita memberitakan Injil, kita tidak tahu bagaimana orang itu bisa meresponi, mungkin kita ditolak; tetapi setiap benih Firman yang diberitakan, Tuhan akan bekerja di dalam hati orang itu, di dalam waktu-Nya yang kita tidak ketahui.

Namun, bisa juga orang sebelumnya sudah mendengarkan Injil, sudah ada temannya yang mendoakan dia, dan dia bisa percaya ketika kita memberitakan Injil kepadanya. Kalau kita melihat KKR-KKR, kita akan menyadari bahwa penabur dan penuai sama-sama bersuka-cita. Mungkin tidak lama setelah menabur, kita boleh melihat tuaian-tuaian, orang-orang yang menjadi percaya kepada Tuhan.

Orang-orang yang mengerjakan KKR, mereka bekerja keras, mempersiapkan segala sesuatu dengan berat. Mengurus ijin ke kepolisian dlsb, yang tidak mudah dan memerlukan proses yang panjang. Tetapi ketika melihat orang-orang boleh menangis dan menerima Kristus, semua jerih payah yang berat itu hilang seketika, karena suka cita yang besar ketika kita melihat orang-orang boleh percaya kepada Tuhan.

Tuhan Yesus mengutus kita untuk menuai, orang lain yang sudah menabur, dan kita datang untuk memetik hasilnya. Penabur yang terutama adalah Kristus di atas kayu salib. Di atas kayu salib, Dia menabur benih kehidupan, Dia memberikan pengharapan, sehingga setiap orang yang percaya boleh mendapatkan hidup yang kekal.

Biarlah kita menjadi saksi Tuhan, memberitakan Injil kepada saudara-saudara kita, teman-teman kita, kepada orang-orang yang belum mengenal Injil. Kita boleh bergaul dengan mereka, dan memberikan kesaksian Injil kepada mereka. Banyak orang-orang Cina, yang bahkan mereka tidak tahu apa itu Tuhan. Mereka yang hidup di negara komunis, yang bahkan menghapuskan kata “Tuhan” dalam kamus bahasa mereka. Kita juga tidak boleh melupakan saudara-saudara kita yang sebangsa, yang beragama Islam. Kita perlu memberitakan Injil kepada mereka.

Kristus-lah penabur itu, yang sudah mengerjakannya dengan sempurna. Kita tinggal membagikan apa yang Tuhan sudah kerjakan, sehingga orang boleh mendengar dan percaya bahwa Yesus-lah Juruselamat dunia. 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya