Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > The Suffering Savior (Jumat Agung 2017)

Ibadah

The Suffering Savior (Jumat Agung 2017)

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Jumat, 14 April 2017

Bacaan Alkitab: Wahyu 5:1-10, Wahyu 7:13-17

Kali ini kita akan merenungkan tentang the Suffering Saviour, suatu tema yang tidak pernah akan habis-habisnya dibahas. Semakin kita memikirkan hal ini, kita akan semakin kagum dan tercengang akan karya Kristus. Kita akan membahas penderitaan Kristus dalam konteks penderitaan kita. 
Tidak ada seorangpun diantara kita yang tidak pernah menderita, kecuali mungkin anak-anak yang masih kecil, walaupun mereka juga sesekali harus mengalami kesusahan juga. D.A. Carson dalam satu bukunya “How Long oh Lord”, suatu buku tentang refleksi akan penderitaan dan kejahatan. Dalam preface edisi kedua buku itu, dia mengatakan dari sekian banyak buku yang saya tulis, buku ini mendapat paling banyak response, dan yang paling banyak menggerakkan hati pembaca. D.A. Carson adalah seorang penulis buku Kristen yang sangat produktif, dan tulisan-tulisannya menjadi berkat yang besar bagi hamba-hamba Tuhan dan juga orang-orang Kristen. Orang-orang meresponse buku How Long oh Lord ini karena ada realitas yang tidak bisa dihindari. Jika hidup kita cukup lama maka kita pasti pernah menderita. 
Kita akan merenungkan penderitaan Kristus di dalam konteks penderitaan kita khususnya sebagai anak-anak Tuhan. Ketika kita menderita maka kita mengalami banyak pergumulan. Pergumulan bisa bersifat filosofis, seperti bertanya mengapa ada penderitaan, dari mana datangnya penderitaan itu. Tetapi ketika orang bergumul, dia bisa menggumulinya secara teologis, seperti bertanya mengapa Tuhan mengijinkan adanya penderitaan. Di mana Tuhan ketika aku menderita, How Long oh Lord I have to suffer, seperti di dalam buku D.A Carson ini. Tetapi penderitaan juga bisa menghasilkan pergumulan yang bersifat eksistensial, dalam bentuk munculnya kemarahan, kekecewaan, kesedihan dan kesadaran bahwa hidup ini begitu menakutkan. 
Ada banyak response yang bisa orang lakukan ketika mengalami pergumulan. Kali ini kita akan merenungkan tentang salib Kristus dan juruselamat kita yang menderita. Saya percaya, dengan mengerti penderitaan Kristus, mengerti tentang apa yang dialami Kristus di atas kayu salib, kita mendapatkan solusi yang paling penting bagi pergumulan manusia di dalam penderitaan mereka.
Kita merenungkan tiga hal penting tentang penderitaan Kristus:
1. Penderitaan Kristus adalah penderitaan Tuhan yang berdaulat. 
Kristus mengalami penderitaan sebagai Tuhan yang berdaulat. Ini adalah dua kebenaran yang harus kita pegang, yang dinyatakan dalam Alkitab. Di satu sisi, Yesus adalah sungguh-sungguh menderita di atas kayu salib, di sisi lain Dia menderita sebagai seorang yang berdaulat yang tidak pernah menjadi korban ketika Dia menderita. Dalam Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes, sepanjang kesulitan yang Dia hadapi, Dia selalu mengontrol apa yang terjadi. Ini adalah dua hal yang sangat sulit kita terima. 
Ada orang yang berpegang pada doktrin impassibility of God, yang artinya Allah tidak mungkin menderita, karena Dia adalah Allah yang berdaulat. Karena Dia melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya. Segala sesuatu ada di dalam kuasa-Nya. Ayub di dalam pergumulannya berkata kepada Tuhan: aku tahu engkau bisa melakukan apa saja, tidak ada rencana-Mu yang gagal, maka tidak ada suatu apapun yang bisa melukai dia. Efesus 1:11 mengatakan Allah bekerja dalam segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya. Dia melakukannya dengan kesenangan-Nya sendiri. Dia tidak pernah menjadi korban, karena itu tidak ada suatu apapun yang bisa membuat kita menderita. 
Tetapi Alkitab juga menceritakan hal yang berbeda. Ada ayat yang dengan jelas menyatakan bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang turut menderita. Khususnya ketika melihat dosa manusia, Allah turut berduka melihat dosa itu. Yer 31:20 mengatakan “Anak kesayangankah gerangan Efraim (maksudnya Israel) bagi-Ku atau anak kesukaan? Sebab setiap kali Aku menghardik dia, tak putus-putusnya Aku terkenang kepadanya; sebab itu hati-Ku terharu terhadap dia; tak dapat tidak Aku akan menyayanginya, demikianlah firman TUHAN. “. Perkataan Perjanjian Lama ini mirip dengan perkataan Kristus dalam Perjanjian Baru. Ketika Yesus melihat Yerusalem yang melakukan segala kejahatan, yang telah membunuh nabi-nabi sebelumnya (Mat 23:37), Dia mengatakan
“"Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu. Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.” 
Banyak ayat-ayat lain yang menggambarkan Allah yang sungguh-sungguh menderita karena dosa-dosa manusia. 
Ada orang yang meresponi doktrin the impassibility of God, dengan jatuh kepada ekstrim yang lain. Mereka menyatakan Allah simpati dan mengerti penderitaan manusia, namun mereka melupakan bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu. Sehingga mereka mengatakan bahwa Allah juga rentan dan tidak mengerti apa yang harus dilakukan. Allah yang juga mengalami proses bertumbuh dan bergaul dengan manusia yang menderita. Kelompok orang ini menggambarkan Allah sebagai teman yang baik, yang mengasihi kita, yang mengerti segala pergumulan kita, yang turut menangis ketika kita menangis, yang turut menderita ketika kita menderita. Tetapi sekaligus Dia tidak tahu apa solusinya. Bukankah teman-teman kita juga seperti itu. Kita empati kepada mereka yang menderita, tetapi kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan, kemana arah penderitaan mereka. 
Tetapi Alkitab mengajarkan, ketika kita melihat salib Kristus, maka kita akan melihat Tuhan yang berdaulat sekaligus Tuhan yang menderita bagi kita. Kristus adalah Allah yang berdaulat, Dia adalah sang Firman yang menjadi manusia, yang dari semula sudah ada. Dia adalah Firman yang adalah Allah itu sendiri, yang dinyatakan dalam perbuatan dan perkataan-Nya. Dia mengetahui setiap hati daripada manusia. Tidak ada peristiwa dalam hidup-Nya yang mengagetkan Dia. Bahkan ketika Dia dikhianati oleh Yudas, Dia mengetahui persis apa yang akan terjadi. Dia mengatakan Yudas, lakukanlah apa yang sudah rencanakan dalam hatimu. Berkali-kali penulis Injil menyatakan bahwa Dia mengetahui sekaranglah waktunya Anak Manusia akan dikhianati, akan ditangkap, akan dianiaya, akan mati dan akan bangkit pada hari ketiga. Tetapi sekaligus kita melihat bahwa Yesus adalah Tuhan yang menderita. Ibrani 5:7 menyatakan sepanjang hidup-Nya Dia mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan. 
Kristus mengerti apa artinya disalah-mengerti oleh sahabat-sahabat-Nya. Apa artinya ditolak oleh keluarga dan kampung halaman-Nya. Dia dicobai dan diserang oleh Iblis. Dia mengerti apa artinya dihina dan diolok-olok, apa artinya diludahi dan dihajar. D.A. Carson mengatakan Allah yang kita percaya adalah Allah yang mengerti apa itu penderitaan, bukan hanya Dia mengerti segala sesuatu secara kognitif tetapi juga Dia mengerti dengan mengalami penderitaan itu sendiri. 
Pengertian dan kesadaran akan hal ini memberi penghiburan dan kekuatan yang besar, karena Kristus yang berdaulat dan berkuasa itu dengan rela mengalami penderitaan. Dia mengerti apa artinya Dia menderita. Ini membuat kita juga sadar bahwa segala penderitaan yang kita alami ada di dalam tangan Allah yang berdaulat. Dia berkuasa, mengontrol, dan mengarahkan seluruh penderitaan yang kita alami. Meskipun ada hal-hal yang kita tidak mengerti, tetapi kita boleh percaya bahwa Tuhan mengerti maksud dan arti mengapa penderitaan itu diijinkan di dalam hidup kita. 
Suatu contoh adalah tentang seorang teolog bernama BB Warfield. Dia menulis buku yang terkenal “The Inspiration and Authority of the Bible”, yang berpengaruh besar pada orang-orang sejamannya. Dia juga menjadi professor teologi di Princeton Seminary selama berpuluh-puluh tahun. Banyak orang mengenal bukunya, tetapi jarang yang mengerti apa yang dia alami. Ketika dia menikah pada umur yang cukup muda, dan ketika pergi honeymoon ke Jerman. Namun waktu di Jerman, mereka terjebak badai, dan istrinya tersambar petir, dan menjadi lumpuh total. Dengan berat hati dia membawa istrinya pulang ke Amerika, dan merawatnya selama 39 tahun. Dia merawat istrinya sampai istrinya mati. BB Warfield mengatakan satu kalimat: Roma 8:28 mengajarkan dua hal: Allah adalah Allah yang berdaulat dalam segala sesuatu, Dia bekerja dalam segala sesuatu yang terjadi; dan hal yang kedua: Dia adalah Allah yang baik, yang mengerjakan segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi Dia. Kalau Allah itu berdaulat dan Allah itu baik, maka tidak ada apapun yang terjadi kepada anak-anak-Nya, kecuali kebaikan saja. 
Ada macam-macam penderitaan yang kita alami, tentu ada hal-hal yang kita tidak mengerti. Ada sakit, bangkrut, kesepian, ada kelemahan-kelemahan diri yang kita alami. Tetapi ingatlah ketika kita memandang salib Kristus, kita boleh mengingat Kristus yang berdaulat atas segala sesuatu. Tetapi Dia juga sekaligus Tuhan yang menderita bagi saudara dan saya. Meskipun kita tidak mendapat jawaban seluruhnya dalam dunia ini, tetapi bolehlah kita percaya bahwa Dia adalah Allah yang berdaulat, sekaligus Allah yang baik bagi kita. 
Suatu kali Tim Keller bicara pada anak laki-lakinya yang berumur 8 tahun, untuk melakukan sesuatu. Anaknya menjawab aku akan menturuti jika papa mengatakan mengapa aku harus melakukan itu. Tim Keller menjawab kalau saya menjelaskan alasannya, maka itu bukan obedience, melainkan agreement. Kalau saya menjelaskan juga alasannya, maka ada banyak hal yang belum kamu mengerti, karena itu lebih baik kamu taat pada apa yang saya perintahkan. Karena aku adalah ayahmu dan kamu adalah anakku. 
Kita mengerti, kepada anak-anak, kadang-kadang kita tidak bisa menjelaskan seluruhnya. Ada hal-hal yang mereka harus taati, meskipun mereka belum mengerti sepenuhnya. Apalagi kepada Tuhan yang berdaulat atas segala sesuatu, tentu ada banyak hal yang kita mengerti daripada rencana Allah. Seperti jauhnya langit dari bumi, demikianlah jauhnya pikiran-Ku daripada pikiranmu. 
Ketika memandang salib Kristus, biarlah kita memiliki hati yang taat, medapat assurance, bahwa Dia berdaulat, sekaligus Dia adalah Allah yang menderita, mengasihi kita. 
2. Penderitaan Kristus adalah Penderitaan Anak Tunggal Allah
Penderitaan Kristus tidak mungkin kita mengerti sepenuhnya, karena Allah Bapa dan Allah Anak adalah satu kesatuan. Tidak ada yang bisa memisahkannya, tetapi kita bisa mengerti bahwa penderitaan yang paling dalam adalah penderitaan karena kehilangan kasih. Kalau kita mendengar orang yang mengalami bencana, yang rumahnya hancur, hartanya habis, kita seringkali mendengar mereka berkata: paling sedikit kami masih memiliki keluarga kami; mereka masih memiliki orang yang mereka kasihi. Tetapi jika yang dikasihi itu hilang maka itu adalah salah satu penderitaan yang paling dalam yang dialami manusia.  Kita sering mendengar ketika sepasang suami-istri yang saling mengasihi, dan salah satunya meninggal, maka tidak lama kemudian pasangan lainnya akan meninggal juga, karena seperti kehilangan arti hidup. 
Ketika kita memandang salib Kristus, kita melihat adanya kehilangan kasih yang sempurna. Karena Bapa dan Anak adalah satu dan tidak ada yang bisa memisahkannya, maka kita melihat betapa dalamnya penderitaan Bapa di surga. Ini adalah penderitaan Anak Tunggal Allah, ketika Yesus di taman Getsemani, bergumul, berkeringat seperti cucuran darah, dan Dia berkata Bapa kalau boleh cawan ini berlalu daripada-Ku, tetapi bukan kehendak-Ku melainkan kehendak-Mu yang jadi. Kalau kita mengerti kesatuan Kristus dengan Bapa, maka kita mengerti pada saat Kristus bergumul, Bapa-pun turut bergumul. Cawan yang akan Yesus alami, bukanlah penderitaan fisik yang tentu amat mengerikan juga. Orang mati di kayu salib bukan karena darah yang keluar atau kesakitan, mereka beberapa hari baru mati, mereka mati karena tidak bisa lagi bernafas. Setiap kali mereka bernafas, mereka kesakitan karena mendorong kakinya yang terpaku itu kebawah. Berkali-kali, berjam-jam mereka melakukan itu, sampai tidak ada lagi kekuatan untuk menekan kakinya ke bawah. Itu adalah penderitaan yang sangat mengerikan. 
Tetapi bagi Kristus bukan itu yang mengerikan, bagi Dia yang paling mengerikan adalah Dia harus menanggung dosa manusia dan terpisah daripada Allah Bapa yang hatinya bersatu dengan Allah Anak. Karena itu di atas kayu salib, Yesus berkata (Mat 27:46) “My God, My God, why have Thou forsaken me.” Di situ bukan hanya seorang Anak yang sedih ditinggalkan oleh Bapa-Nya, tetapi Bapa-Nya pun bergumul, karena Anak-Nya yang suci itu, yang selalu taat kepada Bapa-Nya, sekarang harus menanggung murka Allah. Saya bisa mengerti kalau ada orang yang berkata, mungkin Bapa lebih menderita daripada Anak. 
Kita bisa mengerti kasih Bapa kepada Anak, dan ini adalah Anak Tunggal-Nya yang harus mati di atas kayu salib. Seorang teolog mengatakan, Dia tanpa penghiburan daripada Bapa, Dia tidak mengalami perasaan bahwa Allah mengasihi Dia, Dia tidak merasakan bahwa Allah mendukung Dia, Allah yang tadinya adalah matahari bagi Dia, sekarang menjadi kegelapan. Kegelapan terjadi dari jam 12 sampai jam 3 siang, menunjukkan bahwa bahkan alam semesta berduka. Ini semua Yesus lakukan untuk menebus saudara dan saya. 
Paulus mengatakan satu kalimat (Roma 8:32) “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?”
Ketika kita memandang salib Kristus, melihat Anak Tunggal Allah dipaku di atas kayu salib, maka kita menyadari bahwa penderitaan yang kita alami adalah di bawah kasih sayang dan anugerah Tuhan dalam hidup kita. Allah mengasihi kita sedemikian rupa, Allah tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri. Ini adalah argumentasi the Greater for the Lesser; Allah yang tidak menyayangkan Anak-Tunggal-Nya, bagaimana mungkin Allah tidak mengaruniakan pertolongan-Nya, pimpinan-Nya kepada kita yang mengalami penderitaan pada hari ini. Pandanglah salib Kristus, untuk mengerti kasih Allah yang lebih besar.
3. Penderitaan Kristus adalah Penderitaan yang mengalahkan Kejahatan dan menghapus segala Penderitaan
Wahyu 6:9-10 “Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang kelima, aku melihat di bawah mezbah jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh oleh karena firman Allah dan oleh karena kesaksian yang mereka miliki. Dan mereka berseru dengan suara nyaring, katanya: "Berapa lamakah lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar, Engkau tidak menghakimi dan tidak membalaskan darah kami kepada mereka yang diam di bumi?"” Ini adalah teriakan orang-orang yang mengalami ketidakadilan di dalam hidup mereka, khususnya anak-anak Tuhan yang berkenan kepada Tuhan, tetapi kemudian dianiaya, bahkan disembelih karena iman mereka. Mereka berteriak sampai berapa lama lagi Engkau membalaskan kejahatan mereka. Maka kitab Wahyu mengajarkan bukan hanya nanti saat kedatangan Yesus kedua-kali, judgement dinyatakan kepada mereka. 
Kalau tidak ada pengadilan daripada Allah yang adil maka seluruh kejahatan ini adalah tidak masuk akal. Orang-orang yang melakukan kejahatan ini, jika waktu mereka mati dan selesai, maka tidak ada keadilan disitu. Tetapi akan ada pengadilan yang akan Tuhan nyatakan bagi orang-orang yang melakukan kejahatan ini. Dalam kedatangan Yesus yang kedua kali, bukan hanya judgement, tetapi juga ada pemulihan daripada segala sesuatu. Hal ini dinyatakan dalam Wahyu 5. Yohanes melihat Allah duduk di atas takhta dengan sebuah gulungan kitab. Hampir semua penafsir mengatakan bahwa gulungan kitab ini menyatakan arti dan tujuan daripada sejarah. 
Ini adalah the Great Plan of God of all time, ini jawaban dari penderitaan yang dihadapi anak-anak Tuhan. Tetapi Yohanes melihat tidak ada seorangpun baik di surga maupun di bumi yang dapat membuka gulungan kitab, maka menangislah Yohanes dengan amat sedihnya, karena tidak ada jawaban bagi segala pergumulan anak-anak Tuhan. Tetapi ada seorang-tua-tua yang berkata kepada Yohanes, jangan engkau menangis, sesungguhnya Singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang sehingga dapat membuka gulungan kitab itu dan ketujuh meterainya. Maka Yohanes menengok dan dia melihat, dia tidak melihat singa, dia melihat anak domba yang telah disembelih. 
Wahyu 5:6 mengatakan “Maka aku melihat di tengah-tengah takhta dan keempat makhluk itu dan di tengah-tengah tua-tua itu berdiri seekor Anak Domba seperti telah disembelih, bertanduk tujuh dan bermata tujuh: itulah ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi.” Kemudian Wahyu 5:9 menyatakan “Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa.”
Yesus Kristus layak membuka gulungan kitab itu karena Dia telah disembelih bagi kita, sehingga boleh dibukalah the Great Plan of God of all time, sehingga kita boleh mengerti bahwa bukan hanya ada penghakiman pada akhir jaman, tetapi juga segala sesuatu akan dipulihkan sebagaimana rencana Tuhan yang semula.
Di dalam dunia ini, kalau seorang melakukan kejahatan maka dia bisa dihukum, tetapi kejahatannya tidak bisa di undo. Kalau dia membunuh anak kita, maka dia bisa dihukum seumur hidup. Tetapi seberapa lamapun dia dipenjara, anak kita tidak bisa kembali lagi. Tetapi di dalam kematian Kristus, Dia bisa menyatakan bukan hanya ada judgement, tetapi ada pemulihan daripada segala sesuatu. 
Itulah sebabnya kalau kita membaca kitab Ayub, di akhir dari kitab ini, Ayub dipulihkan. Seluruh apa yang tadinya Ayub miliki dan kemudian hilang, Tuhan gantikan lagi dua kali lipat (lihat Ayub 42). Tetapi ada satu yang Tuhan tidak berikan dua kali lipat yaitu anak-anaknya. Dia dulu memiliki sepuluh anak, dan Tuhan memberikan sepuluh anak lagi. Mengapa tidak dua kali, karena sepuluh anak yang pertama sudah di surga, sehingga dia menerima dua kali lipat. 
Ketika kita melihat salib Kristus, maka kita bersyukur karena di atas salib itulah kejahatan dikalahkan. Hai maut di mana sengatmu, maut tidak bisa menjawab, karena maut sudah dikalahkan. Bukan hanya mengalahkan kejahatan, kematian Kristus juga menghapus segala penderitaan kita, mengembalikan kita kepada maksud dan tujuan Allah yang semula. 
Itulah penghiburan yang dinyatakan dalam Wahyu 7:16-17 “Mereka tidak akan menderita lapar dan dahaga lagi, dan matahari atau panas terik tidak akan menimpa mereka lagi. Sebab Anak Domba yang di tengah-tengah takhta itu, akan menggembalakan mereka dan akan menuntun mereka ke mata air kehidupan. Dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka.”
Waktu kita percaya kepada-Nya, Kita dipanggil untuk mentaati dan hidup melakukan kehendak-Nya. Tuhan Yesus mengatakan (Mat 16:24) barangsiapa mau mengikut Aku, maka Dia harus menyangkal diri dan memikul salib. Waktu kita mengikut Tuhan, maka akan banyak penderitaan yang kita alami, tetapi itulah yang Tuhan inginkan bagi kita. Supaya kita didalam segala kesulitan dan air mata yang kita alami, kita mendapat penghiburan karena Kristus sudah terlebih dahulu mati bagi kita. Melalui kematian-Nya, Dia mampu membuka seluruh maksud Allah bagi kita. Meskipun sekarang kita tidak bisa mengerti seluruhnya, tetapi kita tahu apa yang akan terjadi pada akhirnya: bahwa Tuhan akan memulihkan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya. Tidak lagi mengalami lapar dan dahaga, tidak ada lagi kesulitan dan penderitaan, dan segala air-mata kita akan dihapus. 
Tetapi kalau di dalam hidup kita, kita tidak pernah mencucurkan air-mata bagi orang-orang yang berdosa, tidak pernah mencucurkan air-mata di dalam ketaatan kepada Tuhan, maka air mata siapa yang Tuhan hapus. Setelah melihat salib Kristus, melihat penderitaan-Nya yang dinyatakan bagi kita, kita harus taat hidup seperti Kristus, mendorong kita untuk juga menderita bagi Tuhan. Ini memberikan penghiburan dan kekuatan bukan hanya pada saat ini, tetapi juga sampai kita bertemu muka dengan Tuhan. Bagi saudara yang belum sungguh-sungguh percaya kepada Kristus dan mengalami penderitaan, saya mengajak saudara untuk memandang salib Kristus, dan engkau akan mendapat jawaban yang paling penting di dalam hidup saudara.

Ringkasan oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya