Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Kematian di dalam Terang Kebangkitan Kristus (Paskah 2017)

Ibadah

Kematian di dalam Terang Kebangkitan Kristus (Paskah 2017)

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 16 April 2017

Bacaan Alkitab: Lukas 23: 33, 39–43

Saya akan mulai dengan satu cerita tentang seorang pendeta tua yang sudah mau meninggal. Pada saat dia sekarat di tempat tidurnya dan merasa sudah hampir mati, dia meminta kepada orang-orang untuk boleh memanggil dua orang dari jemaat mereka dari gereja di mana pendeta ini melayani. Maka dia minta si A dan si B, di mana si A adalah seorang kaya yang sangat sombong dan si B ada seorang politikus yang sok berkuasa, untuk datang. Pada saat diberitahu kepada mereka, maka mereka senang sekali bahwa ternyata pendeta ini di saat-saat terakhir hidupnya mau mengakui pengaruh dan kontribusi kita, mau memberkati kita. Ini mungkin permintaan terakhir dari bapak pendeta ini sebelum dia mati. Maka dua bapak ini, orang kaya yang sombong dan polikitus yang sok berkuasa, datang dengan cepat-cepat menghadap kepada pendeta ini. Lalu Pak Pendeta ini bilang kepada mereka, coba kamu satu berdiri di sebelah kiri saya dan satu lagi berdiri di sebelah kanan saya. Kemudian pendeta ini memegang tangan si orang kaya dan si politikus dan berkata, “Ah, akhirnya aku kesampaian juga. Aku ingin mati seperti Tuhan Yesus, yaitu mati di tengah-tengah dua penjahat.”

Seperti yang kita baca dari kitab Lukas tadi, bahwa Tuhan Yesus mati diantara dua penjahat. Bukan untuk meremehkan kematian tetapi mau menegaskan bahwa bagi orang-orang di dalam Kristus kematian sebenarnya bukan lagi sesuatu yang harus kita takuti. Karena seperti lagu-lagu yang kita nyanyikan, menyatakan kebenaran bahwa Kristus adalah Tuhan yang sudah mati, Dia betul-betul mati, dan Dia juga Tuhan yang bangkit dari kematian-Nya. Dia satu-satunya Tuhan yang mati dan bangkit dan mengalahkan maut. Bahkan kuburpun tidak bisa menahan-Nya. Kuasa maut tidak bisa menahan-Nya. Saudara sekalian, seberapa besar kuasa maut yang merupakan kuasa yang mencengkeram hidup setiap kita. Tetapi bagi orang yang hidup di dalam Kristus, yang dipersatukan dengan Kristus, maka kuasa mautpun tidak bisa mencengkeram dan membinasakan hidup kita lagi. Karena Kristus sudah bangkit dari kematian-Nya dan peristiwa kebangkitan Kristus adalah suatu peristiwa yang sangat ajaib, sangat heran dan tidak pernah terjadi sekalipun, tetapi jika saudara sudah melihat fakta-fakta yang dinyatakan, setiap bukti-bukti yang ada dan segala macam aspek maka kebangkitan Kristus adalah salah satu fakta sejarah yang tidak mungkin ditolak.

Ada seorang mengatakan kalau engkau menolak kebangkitan Kristus, menolak serjarah dari pada kebangkitan Kristus, maka engkau akan bisa menolak fakta apapun, sejarah apapun yang pernah terjadi dunia ini. Saudara sekalian, salah satu fakta kebangkitan Kristus yang sangat tidak mungkin ditolak adalah perubahan yang ajaib daripada murid-murid Kristus yang tadinya ketakutan, lari, kecewa dan mengkhianati Yesus karena kaget dan bingung. Mengapa Yesus yang mereka percayai sebagai Mesias, Juruselamat yang akan datang dengan kekuatan militer, politik, kekuatan kuda dan perang, tetapi sekarang ditangkap dan menjadi begitu lemah, tidak mempunyai kekuatan sama sekali. Murid-muridNya lari, menjadi kecewa dan bersembunyi di rumah-rumah mereka.

Pada saat kita melihat Kisah Para Rasul, maka kita tahu bahwa murid-murid yang tadinya begitu ketakutan menjadi sangat berani. Murid-murid yang tadinya bersembunyi, sekarang keluar dan pergi ke mana-mana memberitakan Kristus yang sudah bangkit. Ada beberapa hari yang terjadi di situ, bukan hanya satu atau dua orang yang berani mati, tetapi ratusan orang yang kemudian sungguh-sungguh berani mati demi nama Kristus. Ada sesuatu yang terjadi, yaitu karena mereka sudah melihat dengan mata mereka sendiri dan bertemu dengan Kristus yang sudah bangkit. Ada orang-orang yang mengatakan bahwa banyak orang berani dan rela mati untuk sesuatu yang bohong dan salah, seperi orang-orang ISIS dengan melakukan bom bunuh diri. Ada sesuatu perbedaan yang sangat mendasar daripada orang-orang ISIS itu, orang-orang ekstrimis yang rela mati dengan para murid Kristus yang rela mati. Perbedaannya ialah orang-orang ISIS dan ekstrimis itu adalah mereka rela mati demi sesuatu yang mereka percaya dengan segenap hati adalah benar meskipun itu salah. Pada saat mereka mati, mereka akan diberikan pahala dan bertemu 72 bidadari yang akan melayani mereka. Mereka percaya itu dengan segenap hati mereka. Tetapi kalau murid-murid Yesus tahu bahwa Yesus tidak dibangkitkan, yang sebelumnya mereka tahu bahwa Yesus mati dan tidak pernah bertemu dengan Tuhan dan kemudian mereka berkata Tuhan itu bangkit maka itu adalah sesuatu yang tidak mungkin. Tidak ada orang yang berani mati demi sesuatu yang dia tahu itu adalah kebohongan. Dari mereka yang ketakutan menjadi berani mati karena mereka sudah bertemu Kristus yang sudah bangkit dari kematian. Kristus yang menyatakan diri-Nya kepada murid-murid-Nya secara pribadi. Paulus mengatakan bahwa Kristus menyatakan diri-Nya kepada 500 orang satu-persatu.  Peristiwa ini yang mengubah seluruh kehidupan mereka.

Saudara sekalian, kita bersyukur untuk Kristus yang sudah bangkit dan hari ini saya secara khusus akan membawa kita merenungkan di dalam terang kebangkitan Kristus. Kita akan melihat tiga macam kematian yang dinyatakan di dalam teks kita.  Tiga macam kematian, Kristus yang mati di tengah dan ada penjahat yang di sebelah kiri dan penjahat yang di sebelah kanan. Tidak tahu penjahat mana yang bertobat, banyak yang mengasumsikan kemungkinan penjahat sebelah kanan yang bertobat. Kemungkinan yang kanan, karena “right is right”. Jadi penjahat yang kiri, sampai matipun dia tidak percaya kepada Tuhan. Jadi ada tiga salib. Di Jakarta ada satu gereja yang namanya Salib Tiga. Itu menggambarkan akan peristiwa tiga salib, di mana salib Kristus yang di tengah, di sebelah kiri adalah penjahat dan di sebelah kanan yang tadinya penjahat, tetapi kemudian dia bertobat dan percaya kepada Tuhan.

Tiga kematian ini mewakili tiga macam kematian di dalam terang kebangkitan Kristus yang kita boleh mengerti. Yang pertama adalah orang penjahat yang di sebelah kiri yang digantung itu dan menghujat Yesus adalah orang yang mati di dalam dosa. Yang kedua adalah Kristus yang mati di tengah-tengah adalah kematian yang “died for sin”, mati bagi dosa. Yang ketiga, penjahat yang di sebelah kanan itu, adalah kematian “died to sin”, mati terhadap dosa.

Kita akan merenungkan bagian ini di dalam terang akan kebangkitan Kristus. Mari kita melihat orang macam pertama adalah orang yang mati di dalam dosa. Lukas 4:39 mengatakan “…seorang dari penjahat yang digantung itu menghujat Dia katanya,”Bukankah Engkau adalah Kristus. Selamatkan diri-Mu dan kami!” Jadi sampai di atas kayu salibpun, dia masih menghujat Yesus Kristus dan memaksa keinginannya sesuai dengan keinginan dia. Orang ini mewakili orang yang sampai mati di dalam dosa. Saudara sekalian, kematian bukanlah rencana awal dari Allah, tetapi kematian adalah akibat dari manusia yang membelakangi Allah, sumber kehidupan itu. Allah yang adalah kehidupan itu dan sumber daripada kehidupan itu. Dialah yang menciptakan kehidupan itu.

Ketika Tuhan menciptakan segala sesuatu, maka segala sesuatu adalah baik. Tidak ada kematian di situ. Kematian baru tiba ketika manusia melanggar perintah Tuhan, membelakangi akan perintah Tuhan. Tuhan sudah mengatakan di dalam Kejadian 2:16-17 sebelum manusia jatuh di dalam dosa. Ada peringatan tentang kematian – Semua pohon di dalam taman ini kamu boleh makan dengan bebas. Dengan bebas berarti bukan hanya dengan kehidupan kamu tetapi juga untuk kesukaan engkau. “You can eat freely from any trees all the fruits in this garden. Freely..” Bisa dengan bebas, engkau boleh makan semua buah dari setiap pohon yang ada di dalam taman ini. Kalau boleh digambarkan, Taman Eden itu adalah “The Garden of the King”. Mereka disuruh mengusahakan taman itu. Bukan saja disuruh mengusahakan taman itu, tetapi juga mereka boleh menikmati buahnya, sayurannya, hasil panennya dari segala tanaman dan pohon di taman itu. Kemudian Tuhan berkata,”Tetapi ada satu pohon yang kau tidak boleh makan buahnya, yaitu Pohon Pengetahuan Baik dan Jahat, karena pada waktu engkau memakannya maka pastilah engkau mati.” Saudara sekalian, kita tahu banyak persoalan mengapa Tuhan menempatkan pohon di taman itu. Kita tidak akan bahas dengan detail, tetapi saya mau mengatakan bahwa pohon itu ditaruh oleh Tuhan supaya Adam dan Hawa sadar dan harus percaya kepada perkataan Tuhan meskipun Adam dan Hawa tidak mengerti seluruhnya. Seperti hari Jumat yang lalu saya ceritakan, seorang intelek berkata kepada anaknya,”Meskipun aku jelaskan engkau tidak mengerti, tetapi engkau harus taat kepada apa yang aku katakan. Karena aku adalah ayahmu. Karena aku umur 38 dan engkau 8.”

Tujuan daripada Tuhan supaya Adam dan Hawa taat kepada Tuhan meskipun tidak mengerti seluruhnya, tetapi percaya bahwa perkataan dan kehendak Tuhan dan hati daripada Tuhan adalah yang terbaik yang diberikan kepada manusia. Dan engkau taatlah kepada kehendak-Nya itu dan engkau akan hidup. Kamu boleh makan dengan bebas dari semua pohon di dalam taman ini tetapi hanya satu yang tidak boleh. Itulah anugerah yang besar, tetapi mereka melupakan akan kebebasan yang diberikan oleh Tuhan kepada mereka. Mereka fokus kepada satu itu. Nah ini adalah pekerjaan siap? Ini adalah pekerjaan iblis. Mereka melupakan kebebasan yang diberikan Tuhan tetapi berfokus kepada satu yang tidak boleh. Singkat cerita, Kejadian 3 manusia, Adam dan Hawa, kemudian melawan dan melanggar perintah Tuhan. Mereka tertarik dan makan buah dari Pohon Pengetahuan yang Baik dan Jahat.

Pada saat itulah kematian itu menimpa mereka. Bukan kematian fisik. Setelah mereka makan buah itu mereka tidak mati secara fisik. Seperti kita tahu, Adam mati pada umur 930 tahun kemudian. Kematian itu betul-betul tiba saatnya, kematian secara rohani. Apa yang disebut kematian? Kematian itu terpisah daripada kehidupan. Kematian itu terputus daripada kehidupan. Orang yang mati terputus daripada kehidupan. Saudara sekalian, Allah adalah sumber daripada kehidupan itu. Ketika manusia makan buah pengetahuan yang baik dan jahat itu, relasi dengan Tuhan yang tadinya begitu indah, akrab dan dapat bercakap-cakap dengan Tuhan. Kalau kita baca Kejadian 3 itu, Tuhan datang pagi-pagi ke taman itu artinya Tuhan ingin bersekutu dengan Adam dan Hawa, yang Tuhan ciptakan menurut gambar dan rupa-Nya. Tidak ada ciptaan yang mulia daripada manusia. Begitu mulia dan agung yang Tuhan ciptakan untuk dapat bersekutu bersama-sama. Bersekutu dengan Tuhan yang merupakan sumber air kehidupan itu. Dia ingin bersekutu, senang bersekutu, bersuka-cita bersama di dalam waktu-waktu sebelumnya.

Tetapi ketika manusia sudah makan buah pengetahuan yang baik dan jahat itu maka ketika Tuhan datang, ketika Tuhan berjalan, takutlah mereka. Mereka sembunyi. Mereka membuat cawat, mereka sembunyi. Itulah kematian. Tuhan berkata,”Di mana engaku, Adam?” Adam berkata,”Ketika aku mendengar Engkau berjalan di taman, aku menjadi takut dan aku sedih.” Tadinya persekutuan dengan Tuhan itu adalah kesukaan dan kebahagian yang besar daripada manusia, tetapi ketika manusia jatuh ke dalam dosa maka kehadiran Tuhan menjadi ketakutan daripada biasanya. Ada seorang yang pernah mengatakan, ada seorang guru menyuruh anak-anak di kelas menggambar apa saja yang diinginkannya dan guru itu akan bertanya tentang apa yang digambar dan jelaskan. Ada macam-macam gambar yang digambar oleh anak-anak tersebut, ada binatang, gunung, dsb. Tetapi ada satu anak yang menggambar mata, matanya mengerikan, matanya seperti seperti garang sekali. Kemudian guru itu bertanya kepada anak tersebut,”Mengapa engkau menggambar mata seperti itu?” Matanya kelihatan seperti marah sekali. Anak itu menjawab,”Ini adalah matanya Tuhan dan saya ingin colok matanya Tuhan.” Inilah manusia berdosa. Kehadiran Tuhan, Tuhan yang melihat akan keberadaan manusia yang sedalam-dalamnya menjadi ketakutan, marah dan sembunyi. Tuhan bertanya,”Apakah engkau makan buah pengetahuan yang baik dan jahat itu?”Langsung Adam tidak mengaku dan langsung mengatakan,”Perempuan yang Engkau tempatkan di sisiku itu yang memberi aku makan sehingga aku berdosa.”Dia tidak mengaku dosanya tetapi dia langsung menyalahkan Tuhan.

Rusaklah semua hubungan antara manusia dengan Tuhan. Itulah kematian. Sejak saat itu manusia mati, Adam akhirnya mati, kematian secara spiritual. Kematian yang terputus dari Allah dan nanti akhirnya nyata dan bukti di dalam kematian secara fisik yang terus menerus makin tua, semakin tua dan akhirnya mati. Adam mati 930 tahun. Kemudian anak daripada mereka Habel, mati ditangan saudaranya sendiri. Dibunuh oleh saudaranya sendiri. Kalau saudara membaca Kejadian 5, maka terus menerus dikatakan mati. Keturunan-keturunan daripada Adam. Seth hidup 912 tahun, lalu ia mati. Enos hidup 905 tahun, lalu ia mati. Kenan hidup 110 tahun, lalu ia mati. Yaref hidup 962 tahun, lalu ia mati. Kejadian 5 sengaja memberitahukan kita setiap orang hidup sekian tahun lalu ia mati. Kematian menjadi fakta dalam kehidupan setiap manusia yang sudah jatuh di dalam dosa.

Pujangga Yunani, Yuri Pedes mengatakan “Death is the debt we all must pay.” Kematian adalah hutang yang kita semua harus bayar. Tidak ada pengecualian. Suatu kali saya baca tentang anjing pitbull. Itu anjing yang sangat mengerikan. Kalau saudara tahu tentang anjing ini yang sangat kuat dan garang. Kalau anjing ini berkelahi dan menggigit sesuatu, anjing ini tidak akan melepaskan gigitannya. Karena sangat kuatnya gigitan itu, untuk melepaskannya rahang anjing itu harus dipatahkan. Seorang penulis mengatakan kalau saya mempunyai anjing pitbull maka nama yang tepat buat anjing ini adalah “death”. Karena kematian itu mencengkeram manusia dan dia tidak akan melepaskannya sampai mati. Itulah kematian.

Kematian bukanlah akhir, setelah kematian ada penghakiman. Ibrani 9:27 mengatakan “Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja dan sesudah itu dihakimi.” Setelah kematian ada penghakiman Tuhan. Orang harus berhadapan dengan Tuhan. Kalau tidak ada intervensi Tuhan sebelum kita mati, sebelum manusia mati secara fisik, mati di dalam dosa, mati secara rohani yang terputus dari Allah dan dia akan menuju kepada kematian yang pasti akan mati, kematian yang kekal. Dari spiritual death kepada physical death dan masuk kepada eternal death artinya terpisah selama-lamanya dari sumber kehidupan. Itulah akibat dosa yang direpresentasikan dengan penjahat yang pertama ini, yang sudah mau mati masih memerintahkan dan mengejek Kristus dengan berkata,”Bukankah Engkau Kristus? Selamatkan dirimu dan kami.” Saudara sekalian, penjahat yang di sebelah kanan Kristus sebenarnya pada awalnya mengejek Dia. Penjahat ini mewakili semua kita, manusia yang berdosa. Tetapi nanti kepada penjahat ini Tuhan memberikan anugerah. Semua kita seperti penjahat pertama, yang mati di dalam dosa dan tanpa anugerah, tanpa belas kasihan Tuhan maka kita semua akan mati untuk selama-lamanya.

Kita bersyukur kepada Tuhan, bahwa Allah mengintervensi manusia yang menuju ke eternal death. Kita bersyukur melalui kematian Kristus mewakili anugerah Tuhan yang besar bagi manusia dan satu-satunya jalan, manusia boleh mengalahkan kematian, boleh tidak dicengkeram oleh gigitan anjing pitbul itu.  Meskipun kemungkinan besar kita masih mengalami kematian fisik, tetapi kematian itu tidak lagi menakutkan bagi anak-anak Tuhan. Karena apa? Karena Kristus mengintervensi kita, mulai dari Kejadian 3:15 Tuhan sudah berjanji…kepada ular Dia berkata,”Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dengan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya...” Dan keturunan perempuan itu akan meremukan kepala si ular.

Inilah Kristus yang datang ke dalam dunia, yang mati untuk menebus dosa manusia. Inilah satu-satunya kematian Juruselamat kita, yang adalah kematian bagi dosa. Kematian yang kedua adalah kematian Kristus bagi dosa-dosa kita. Bagian ini mengingatkan kita akan suatu penggenapan dari Yesaya 53:12, yang dinyatakan di dalam Lukas 23:33 “Ketika mereka tiba di tempat yang bernama tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ dan juga kedua orang penjahat itu yang seorang di sebelah kanannya yang lain di sebelah kirinya. Ini adalah penggenapan dari Yesaya 53, yang menyatakan Dia terhitung daripada pemberontak-pemberontak. Pada hari Jumat yang lalu kita menyanyikan…”He was numbered among transgression…” Dia dihitung di antara pemberontak-pemberontak. Saudara bisa membanyangkan betapa ajaibnya Kristus mati di antara dua pemberontak, Sang Kudus dari Allah, yang suci dari Allah itu mati diantra pemberontak. Bagaimana itu bisa terjadi? Orang tidak bisa terpikirkan, setiap peristiwa di dalam hidup Yesus, setiap detail di dalam hidup-Nya. Itu merupakan rencana Allah, bukan sesuatu kebetulan yang terjadi. Tetapi seluruh hidup-Nya menggenapi apa yang menjadi rencana daripada Allah, BapaNya yang di surga.

Ini menunjukkan kedalaman penghinaan yang dialami oleh Juruselamat kita. Dia lahir di antara binatang, Dia mati di antara dua penjahat. Ini menjadi batu sandungan dan kebodohan yang besar bagi orang-orang yang tidak percaya. Paulus mengatakan kematian Kristus, salib Kristus adalah suatu batu sandungan bagi orang Yahudi dan suatu kebodohan bagi orang Yunani. Suatu batu sandungan, karena bagi orang Yahudi bagi orang yang mati di kayu salib, orang yang dihujat dan dikutuk Allah. Allah mengutuk dia, terkutuklah orang yang dipaku di atas kayu salib. Yesus yang mati diatas kayu salib, bagaimana Dia mati sebagai orang yang terkutuk boleh menyelamatkan manusia. Orang Farisi berkata,”Turun dari salib itu dan kami akan percaya kepadaMu.” Tetapi kalau Dia tetap di atas salib itu bagaimana mungkin kami percaya kepadaMu, orang yang terkutuk oleh Allah. Tetapi, puji Tuhan, Dia tidak turun dari salib itu. Ironisnya, justru kalau Dia turun dari salib itu, dan Dia sangat mampu untuk turun dari salib itu, maka tidak ada keselamatan bagi kita. Tidak ada lagi dasar untuk kita percaya kepada Tuhan.Puji Tuhan, Dia tidak turun dari salib itu dan menjadi juruselamat dan dasar iman kita untuk percaya kepada Tuhan. Kematian Kristus adalah kebodohan bagi orang Yunani. Suatu kebodohan, kematian yang merupakan suatu penghinaan yang besar. Tidak ada orang Yunani, yang kebanyakan adalah warga negara Roma. Tidak ada warga Roma yang terhormat yang mati disalib. Salib bagi orang Roma suatu penghinaan dan tidak berani mengatakannya. Ini adalah suatu kebodohan yang di mana orang yang mati di atas salib sebagai seorang budak, seorang yang dianggap sebagai pemberontak dapat menyelamatkan kita, menjadi juruselamat kita. Bagaimana engkau bisa percaya kepada orang seperti itu? Tetapi Alkitab mengatakan salib adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah bagi setiap orang yang percaya kepadaNya. Karena justru di dalam salib itulah, di dalam segala kelemahan Allah, kuasa dan kekuatan Tuhan dinyatakan paling besar. Di dalam saliblah Allah menyatakan anugerahNya yang tebesar kepada manusia.

Puisi oleh Edward Shillito sangat menyentuh hati. Dia mengatakan demikian:

The other gods were strong; but thou wast weak;
They rode, but thou didst stumble to a throne;
But to our wounds only God’s wounds can speak,
And not a god has wounds, but thou alone.

Allah-allah yang lain yang disembah oleh manusia begitu kuat tetapi Engkau begitu lemah. Allah-allah atau dewa-dewa lain itu begitu kuat menaiki kuda dan berperang dengan gagah perkasa, tetapi Engkau tertatih-tatih dan jatuh ketika Engkau memikul salib menuju Golgota. Tetapi kepada luka kami, hanya luka Allah yang boleh berkata dan tidak ada Allah yang terluka kecuali Engkau saja. Saya rasa itu menjadi perbedaan yang jelas keindahan daripada berita Injil, Kristus yang mati di dalam segala kelemahan-Nya, Dia justru menyatakan kekuatan-Nya di dalam luka-Nya. Justru Dia adalah orang yang bisa berbicara di dalam luka kita, kepada penderitaan kita, kepada kesulitan kita. Hanya Kristus Tuhan kita adalah Tuhan yang terluka dan yang menderita dan yang mati bagi kita semua. Inilah kematian macam yang kedua, satu-satunya kematian yang unik. Tidak ada kematian seperti Kristus, kematian yang adalah die for sins, mati bagi dosa-dosa kita.

Kematian yang ketiga yang mewakili seluruh kita adalah kematian terhadap dosa, die to sin. Kristus mati untuk dosa-dosa kita, sehingga kita yang ada di dalam Kristus boleh mati terhadap dosa. Christ die for sins so that we, who are in Christ, we who believe in Christ, can die to sin. Kita dipersatukan dengan Kristus, boleh berkata,” Aku sudah putus hubungan dengan dosa. Aku sekarang hidup bagi Kristus.” Inilah orang yang ketiga yang kita boleh mempelajari teladannya pada hari ini, yaitu mulai dari ayat 40 yang seorang penjahat di sebelah kanan-Nya yang menegur teman-Nya itu, yang sama-sama penjahat, dan dia mengatakan tidakkah engkau takut juga kepada Allah, sedang engkau sendiri menerima hukuman yang sama. Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.

Seperti yang saya katakan tadi, ini adalah representasi orang berdosa yang diselamatkan, karena sebelumnya dia mengejek. Matius dan Markus menceritakan itu dua orang yang disebelah kanan dan kiri Kristus juga menghujat dan mengejek Dia. Tetapi kemudian sesuatu terjadi di dalam diri penjahat yang di sebelah kanan ini. Kita tidak dijelaskan apa yang terjadi, tetapi kemungkinan besar dia mendengar apa yang Kristus katakan selama proses yang terjadi. Dia mendengar bagaimana Tuhan Yesus yang berkata,”Ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Dia mungkin melihat di atas tulisan salib Kristus “Inilah Yesus Raja orang Yahudi”. Maka dia melihat itu, mungkin dia pernah mendengar sebelumnya tentang Yesus Kristus. Dan hari itu dia melihat inilah Yesus Raja orang Yahudi. Roh Kudus bekerja di dalam hatinya. Dia mulai sadar. Dia mulai menyadari akan dirinya yang berdosa. Dia menyadari keadaan sebenarnya, ayat 41… kita sepatutnya dihukum. Sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita. Menyadari betapa dia orang yang berdosa dan layak menerima hukuman mati itu. Ini merupakan representasi orang yang bertobat. Orang yang sadar akan dosanya. Biarlah ini menjadi hati daripada setiap kita, yang menyadari bahwa kita adalah orang yang berdosa yang selayaknya menerima hukuman dan murka dari Allah. Kalau kita tidak menyadari akan hal ini,

Alkitab mengajarkan kepada kita bahwa kita diciptakan dan Tuhan memerintahkan kita perintah yang utama dan terutama yaitu kasihilah Tuhan Allahmu dengan seluruh hatimu, dengan seluruh jiwamu, dengan seluruh kekuatanmu, dengan seluruh pikiranmu. Siapa yang di antara kita yang berani berkata aku sudah mengasihi Tuhan dengan seluruh hatinya? Siapa yang di antara kita yang bisa berakata aku sudah mengasihi Tuhan dengan seluruh jiwa? Tidak ada orang yang pernah bisa mengatakan seperti itu. Alkitab mengatakan bahwa kita selalu mengasihi yang lain, kita selalu mencintai sesuatu yang lain di luar daripada Tuhan. Kita selalu mencintai di luar dari pada Tuhan, mungkin karir kita, mungkin suami kita, mungkin istri kita, mungkin anak-anak kita, mungkin keluarga kita, mungkin comfort zone kita, kita selalu mengasihi itu lebih daripada Allah kita. Manusia berdosa mengasihi keinginannya sendiri, kepuasannya sendiri lebih daripada mengasihi Allah dengan seluruh hati, seluruh jiwa, seluruh kekuatan. Tidak ada orang yang tidak berdosa dan hukuman dosa adalah maut. Sejak Adam dan Hawa berdosa, dosa itu menjalar ke semua manusia dan menjadi buktinya adalah kita mati. 

Kita bersyukur kalau Roh Kudus bekerja di dalam hati orang ketiga ini mulai menyadari akan dosanya, mulai meyadari betapa jahatnya, betap licik hatinya. Yeremia menyatakan betapa liciknya hati lebih licik daripada segala sesuatu. Hatinya telah membatu. Siapa yang bisa menyelamatkannya? Betapa liciknya hati manusia. Suatu buku yang saya baca “The History of the Wickedness of the Heart of Man” yang menceritakan sejarah kejahatan-kejahatan hati manusia yang berdosa. Seorang pernah berkata,”Kalau engkau pikir orang yang paling licik, kau pikir, kau kenal, pasti di antara kita pernah tahu orang yang licik sekali, kita benci sekali sama dia, kesal sekali, keki sekali, marah sekali kepada orang itu.” Dan Yeremia mengatakan kalau kau tahu itu, maka sekarang kau lihat hatinya, hatimu lebih licik dari hati orang itu. Karena hatimu lebih licik daripada segala sesuatu. Itulah manusia berdosa. Manusia berdosa yang selalu menggantikan Tuhan menjadikan tempat yang utama dan selalu mencari sesuatu di luar Tuhan yang mengakibatkan, yang hasilnya adalah kekosongan jiwa yang habis-habis.

Sekali lagi Yeremia 2 mengatakan engaku meninggalkan Aku sumber air hidup dan engkau menggali kolam yang bocor, engkau menginginkan air, tetapi engkau tidak datang kepada-Ku sumber air hidup itu. Kecuali engaku bertemu kepada Tuhan, engkau kembali kepada Tuhan, bertemu dengan Dia, sumber air hidup itu, engkau baru sadar bahwa di dalam Dialah ada kehidupan, di dalam Dialah ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kananya ada nikmat senantiasa. Tuhan ingin menarik kita kembali kepada-Nya, percaya kepada Dia dan Tuhan bekerja di dalam hati orang ini. Roh Kudus bekerja, mulai dia sadar akan dosanya, kebobrokannya, kebodohannya.

Penjahat di sebelah kanan mulai bertobat, beriman kepada Tuhan, dan dia berkata dan menegur temannya yang terus menghujat Kristus. Dia berkata,”Tidakkah takut juga tidak kepada Allah?” Mulai sadar, ini kalimat yang indah daripada orang ini. Dia bukan bicara, tidakkah engkau takut kepada hukuman Allah, dia sadar, tidakkah engkau takut kepada Allah. Dia kemudian berkata,”Yesus, Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Ini kalimat yang agung sekali daripada seorang penjahat, yang dipaku di atas kayu salib, ini bahkan kalimat yang sangat agung melebihi daripada perkataan murid-murid-Nya. Karena murid-murid, ketika Kristus di atas kayu salib, pergi, lari ketakutan meninggalkan Dia. Tetapi penjahat ini berkata kepada Yesus untuk mengingatkannya. Dia percaya. Roh Kuduslah yang bekerja atas kepercayaannya. Dia berkata,”Jesus remember me when you come…” bukan “…if you come..” karena dia tahu kalau Kristus adalah raja di atas segala raja. Dia akan datang kembali. Penjahat ini memohon untuk mengingatkannya. Ini suatu iman yang humble, iman yang sungguh-sungguh sadar keberadaan dirinya, ketidaklayakan dirinya dia hanya minta Tuhan ingatlah aku apabila Engkau datang sebagai Raja. Dan Tuhan menjawab doa yang sungguh-sungguh dari seorang penjahat ini. Dia berkata,”Aku bukan hanya mengingat engkau, nanti ketika Aku akan datang sebagai Raja. Tidak. Tetapi hari ini juga engkau akan bersama-sama dengan Aku berada di Firdaus.” Inilah jawaban Tuhan, anugerah Tuhan yang selalu melampaui dari apa yang kita minta. Permintaan ini adalah permintaan yang sungguh.

Di sini kita melihat Kristus yang sedang menderita, adalah juruselamat manusia, yang sedang dipaku kesakitan, yang memperhatikan akan penjahat yang di sebelah kanannya. Ketika Dia ditanya oleh Pilatus, Dia tidak menjawab, ketika Dia diejek, dihina oleh orang Farisi, orang ahli Taurat, Dia tidak jawab sama sekali. Dia seperti anak domba yang dibawa ke tempat pembantaian, tidak membuka mulut-Nya, diam. Tetapi ketika seorang berdosa, berdoa kepada-Nya, ditengah kesakitan, Dia menjawab doa yang sungguh itu.

Tuhan tidak meremehkan seorangpun yang datang kepada Dia dan memohon dengan sungguh-sungguh. Dia memperhatikan. Dia di dalam penderitaan-Nya pun, Dia menyelamatkan orang ini.

Itulah anugerah Kristus yang terbesar di dalam saat-saat Dia menderita, Dia menyelamatkan penjahat itu. Apalagi kalau Dia sudah bangkit dari kematian-Nya. Apalagi kalau Dia sudah berkata kepada kita bahwa segala kuasa di sorga dan di bumi sudah diberikan kepada-Nya. Pergilah, pergilah jadikan seluruh bangsa murid-Ku. Beritakan Injil, beritakan Aku yang sudah mati dan bangkit ini, percayalah kepada-Ku. Tetapi jangan sampai kita menunggu kematian kita di tempat tidur, seperti penjahat ini sampai pada saat-saat terakhir masih ada kesempatan. Mungkin kita tidak ada kesempatan itu. Mungkin kita tidak mati di tempat tidur. Seorang puritan mengatakan kalimat ini, peristiwa kematian orang ketiga ini dicatat supaya orang yang sekarat-pun masih ada pengharapan. Kepada orang yang sekarat-pun, engkau boleh memberitakan injil, engkau boleh berdoa baginya. Meskipun dia tidak respon tetapi masih bisa mendengar, beritakanlah injil kepadanya. Tetapi peristiwa ini dicatat hanya satu orang, supaya jangan engkau menganggap banyak orang seperti ini.

Kali ini apabila engkau percaya, mendengar injil, biarlah supaya engkau mati, mati terhadap dosa. Bukan mati secara fisik, tetapi hidupku sekarang adalah hidup yang sudah terputus daripada dosa, sudah mati terhadap dosa, karena aku beriman kepada Kristus yang sudah mati terhadap dosa, mati bagi dosa-dosa saya. Aku hidup di dalam Kristus dan Kristus yang hidup di dalam aku. Hidup yang sudah mengalahkan dosa. Kita yang mati terhadap dosa, pada saat matipun akan dibangkit bersama-sama dengan Kristus. Bagi kita yang sudah di dalam Kristus, yang sudah percaya biarlah ini menjadi penghiburan dan kekuatan bagi kita. Ini menjadi tugas dan tanggung jawab kita, menjadi suatu panggilan Tuhan bagi kita untuk memberitakan kabar baik ini kepada orang-orang yang masih di dalam dosa dan orang-orang yang mati di dalam dosa tanpa Kristus. 

 

Ringkasan oleh Budiman | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya