Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Dia Harus Semakin Besar, Aku Harus Semakin Kecil

Ibadah

Dia Harus Semakin Besar, Aku Harus Semakin Kecil

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 19 Maret 2017

Bacaan Alkitab: Yoh 3:22-30

Kali ini kita akan merenungkan kebesaran Kristus, khususnya melalui perkataan Yohanes Pembaptis di dalam Yoh 3:22-30. Sebelum bagian ini, kita melihat pembicaraan Yesus dengan Nikodemus yang diakhiri dengan Yoh 3:21. Setelah itu Yesus pergi bersama murid-muridnya ke Yudea, kemudian membaptis di situ. Kita tahu dari Yoh 4:2, bahwa sebenarnya bukan Yesus yang membaptis tetapi murid-muridnya. Ini kemungkinan besar supaya tidak seorangpun mengatakan bahwa dia dibaptis oleh Tuhan Yesus, dan dia menjadi orang yang elit. 

Dalam Yoh 3:23, kita melihat Yohanes Pembaptis membaptis juga di tempat yang lain. Kemudian muncullah perselisihan antara murid-murid Yohanes Pembaptis dengan seorang Yahudi tentang penyucian (Yoh 3:25). Tidak dijelaskan di sini apa isi perselisihan itu, tetapi kemungkinan besar hal itu adalah baptisan siapa yang lebih mujarab. Kalau kita melihat di Yoh 3:26, murid-murid Yohanes Pembaptis datang kepadanya, dan mengatakan bahwa Yesus dan murid-murid membaptis juga dan orang-orang datang kepada-Nya. Mereka mulai kuatir bahwa pengikut Yohanes Pembaptis berpindah ke Yesus dan pengikut mereka semakin berkurang. Response Yohanes Pembaptis menjadi sesuatu yang menarik, karena secara sekilas tidak ada hubungannya dengan penyucian, tetapi seluruhnya berhubungan dengan siapakah Kristus itu, siapakah dia – Yohanes Pembaptis – dan bagaimana respon hati Yohanes Pembaptis yang melihat banyak orang pindah mengikut Yesus dan meninggalkan dia. Inilah yang akan kita renungkan di bawah ini.

Kita bisa bertanya mengapa penulis Injil ini memasukkan Yohanes Pembaptis kembali ke dalam tulisannya. Yohanes Pembaptis ada di dalam pasal Yoh:1, tidak ada dalam Yoh 2, dan tiba-tiba ada lagi dalam Yoh:3:23. Ada begitu banyak hal yang penulis tidak tulis mengenai Yesus, karena begitu banyak yang Yesus kerjakan. Jadi penulis-penulis Alkitab bersifat selektif, mereka menulis bagian-bagian tertentu saja dalam hidup Yesus. Kita harus mengerti apa maksud penulis, dan kita percaya bahwa penulis dipimpin oleh Roh-Kudus, supaya kita boleh mengerti bagian yang paling penting yang boleh kita terima.

Saya pikir penulis memasukkan lagi Yohanes Pembaptis karena Yohanes Pembaptis mewakili orang-orang yang dia tulis dalam Yoh 3:21. Yohanes Pembaptis adalah contoh daripada orang-orang yang melakukan yang benar, yang datang kepada terang, supaya menjadi nyata bahwa perbuatan-perbuatannya adalah dilakukan di dalam Allah. Penulis memasukkan Yohanes Pembaptis ke dalam cerita ini sebagai contoh seseorang yang melakukan, yang sikap hidupnya, perbuatannya, seluruh kebenaran yang dilakukannya adalah semata-mata karena anugerah Allah, di dalam Allah, di dalam pertolongan yang Tuhan berikan. Bukan Nikodemus, karena kita tidak mengetahui apa response Nikodemus pada waktu itu.

Kemudian Yohanes Pembaptis menyatakan kebesaran dan keterutamaan dari pada Allah, maka itu adalah rahasia sukacita yang sempurna. Yoh 3:29 menyatakan “Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh.”

Tidak ada orang yang tidak mengingini suka cita, hidup yang berbahagia, bahkan Blaise Pascal mengatakan orang yang pergi gantung-diri pun, motivasinya adalah untuk berbahagia. Yohanes Pembaptis mengajarkan bahwa ketika dia memuliakan Tuhan, itu adalah sukacitanya yang sempurna.

Orang-orang di dunia ini mengejar suka-cita tetapi tidak mengerti suka-cita yang sejati. Mereka mencarinya di tempat-tempat yang salah, seperti yang CS Lewis katakan: kita seperti anak kecil yang bodoh yang selalu bermain di dalam lumpur, di dalam comberan dan tidak mau diajak keluar dari situ; tidak mau di ajak ke pantai yang putih dan bersih. Itulah keadaan orang-orang berdosa, kadang-kadang juga bagi anak-anak Tuhan. Mereka menganggap suka cita dunia ini sudah cukup dan tidak mengerti akan suka cita yang begitu besar yang Tuhan sediakan bagi kita. Pemazmur berkata : …‘di tangan kananMu ada nikmat senantiasa’.(Mazmur 16:11)

Yoh 3:26 murid-murid Yohanes Pembaptis berkata "Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya."

Yohanes Pembaptis menjawab dalam Yoh 3:27-28:  “Tidak ada seorangpun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga. Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya.” Di sini Yohanes Pembaptis mau menyatakan bahwa orang-orang yang dibaptis olehnya, itu adalah kehendak Allah. Allah ingin orang-orang percaya kepada Yesus Kristus, datang kepada terang itu. Hal itu sekarang terjadi dan orang-orang itu sekarang datang kepada Yesus Kristus; Yohanes Pembaptis mengatakan bahwa ini adalah karya Allah. Seperti dalam Yoh 6:44 “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku.” Fakta orang-orang yang meninggalkan Yohanes Pembaptis dan datang kepada Kristus, adalah pekerjaan Bapa. Yohanes Pembaptis menyatakan bahwa dia datang untuk hal ini.

Ini adalah sesuatu yang indah dan mengherankan. Banyak orang yang datang kepada Yohanes Pembaptis namun kemudian mereka meninggalkan dia dan datang kepada Yesus Kristus. Tetapi Yohanes Pembaptis bersuka cita akan hal ini. Biarlah kita mengerti apa yang menjadi isi hati Yohanes Pembaptis dan menjadikannya contoh bagi kita. Itulah suka cita yang besar ketika orang-orang datang kepada Yesus Kristus.

Yohanes  Pembaptis kemudian memberikan gambaran yang baru dalam Yoh 3:29 “Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh.” Yohanes Pembaptis menegaskan kesukacitaannya dengan menggambarkan dirinya sebagai sahabat mempelai laki-laki, seperti best-man. Pada waktu itu, dalam budaya Israel, best-man itu juga bertindak sebagai event-organiser; yang juga membawa mempelai wanita itu ke mempelai pria; dia adalah orang yang sangat penting dalam pernikahan itu. Sahabatnya itu membawa pengantin wanita kepada mempelai laki-laki, dan sangat bersuka cita ketika mendengar suara mempelai laki-laki.

Adalah menarik kalau kita membandingkan suara mempelai laki-laki dengan suara Yohanes Pembaptis. Yohanes Pembaptis juga menggambarkan dirinya sebagai (Yoh 1:23) “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan.” I’m the voice – Yohanes Pembaptis mempersiapkan jalan bagi raja yang akan datang, bagi mempelai laki-laki. Sekarang raja itu sudah datang, mempelai laki-laki itu sudah tiba, sehingga sahabat mempelai laki-laki itu bersuka cita.  Yohanes Pembaptis bersuka cita karena mempelai wanita itu meninggalkan dia dan pergi ke mempelai pria, yaitu Kristus itu; karena Dia harus makin bertambah sedangkan aku harus makin kecil.

Ini adalah rahasia dari sukacita yang sejati daripada seorang anak Tuhan ketika Kristus ditinggikan di dalam hidupnya. Ketika semua yang aku kerjakan bukan menyatakan kebesaranku, tetapi menyatakan kebesaran Tuhan, pertolongan Tuhan, itu adalah sukacitaku yang besar. Tentu ini adalah sesuatu yang bertentangan dengan orang dunia ini, yang mengejar kesenangan di tempat-tempat yang salah, yang berfokus pada diri sendiri. Mereka justru akan kehilangan diri, berakhir kepada kekosongan hidup, meaninglessness of life di dalam hidupnya.

Ketika Yohanes Pembaptis mendengar suara mempelai pria, suara gembala yang baik, yang dikenal oleh domba-domba-Nya, dan dia akan datang kepada gembala itu. Ada seorang gembala yang memberi contoh kepada banyak orang bagaimana memanggil domba-dombanya. Ketika orang-orang lain melakukan dengan kata-kata, cara dan intonasi yang persis sama, domba-domba itu tidak peduli. Tetapi ketika gembala yang asli memanggil, domba-domba itu langsung datang. Domba-domba-Nya pasti akan mengenal suara Gembala yang sejati.

Kita juga harus belajar dari respons Yohanes Pembaptis yang berkata “Dia harus makin besar, makin bertambah, tetapi aku harus makin kecil”; ini adalah kehendak Tuhan. Yohanes Pembaptis tidak berkata Dia “mungkin” makin besar, tetapi dia berkata Dia “harus” makin besar; itulah kesukaanku. Ketika orang-orang datang kepada Tuhan, itu adalah kehendak Tuhan, dan aku masuk ke-dalam rencana-Nya, maka aku akan bersuka cita; suka cita itu menjadi sempurna. Melalui seluruh hidup kita, mengatur perkerjaan kita, uang kita, keluarga kita, kita harus mengatakan bahwa Tuhan adalah yang utama, bukan aku yang utama, bukan keluargaku, bukan jemaatku. Itu adalah rahasia suka cita yang terbesar; karena kita memang diciptakan untuk itu.

John Piper mengatakan kita harus seperti teleskop, yang bisa melihat bintang yang jaraknya begitu jauh. Karena Tuhan itu dianggap kecil oleh dunia ini, karena jaraknya jauh, Tuhan itu dibuang. Bahkan negara-negara seperti Australia yang dibangun dengan latar belakang kekristenan, sekarang justru membuang nilai-nilai kekristenan, yang mendiskriminasi nilai-nilai kebenaran. Ada seorang jemaat kita yang menjadi guru child-care, dia menceritakan di sekolahnya, anak-anak diberi kebebasan. Guru-guru tidak boleh memberi tahu apakah anak-anak itu laki-laki atau perempuan. Kalau ada anak laki-laki yang memakai baju balet, maka dia tidak boleh dilarang. Sekarang ada buku buku anak-anak yang menggambarkan keluarga, sebagai yang ada papa dan mamanya, juga ada yang berkulit hitam, ada juga yang hanya papa atau hanya mamanya saja. Namun kita tahu kemana arahnya, selanjutnya buku-buku itu juga menggambarkan keluarga itu dengan dua papa, dengan dua mama. Saya ingin menambahkan, kalau bisa buku itu juga menggambarkan keluarga itu juga bukan hanya dua papa, dua papa, tetapi juga satu papa, dua mama; atau dua papa, satu mama; bisa juga tiga papa, tiga mama. Sepertinya buku-buku itu anti diskriminasi, tetapi sesungguhnya mereka-pun sedang melakukan diskriminasi terhadap yang mereka tidak setuju.

Kita hidup dalam konteks yang seperti ini, ditengah-tengah orang-orang yang tidak memperdulikan Kristus, melawan akan kebenaran Firman. Di dalam lingkungan seperti ini, banyak orang muda yang depresi. Obat anti-depressant adalah obat yang paling laku. Kita bisa melihat kaitannya; dari kecil, mereka tidak diberi tahu yang mana yang benar; setelah mereka besar mereka bingung, siapa diri mereka. Kebingungan ini adalah sumber depresi mereka. Anak-anak kita menghadapi tantangan yang lebih besar, diperlengkapi dengan pengajaran yang baik, dengan prinsip-prinsip Firman Tuhan.   

Di negara-negara seperti ini, bahkan mengajarkan Alkitab itu dianggap diskriminasi, Tuhan dianggap kecil dan tidak berarti. Biarlah apa yang kita hidupi mencontoh teladan Yohanes Pembaptis, sungguh-sungguh menyatakan bahwa Tuhan adalah yang utama, Tuhan harus semakin besar, sedangkan aku harus semakin kecil. Biarlah di dalam pelayanan kita, tidak ada seorangpun yang merebut kemuliaan Tuhan, tidak ada seorangpun yang menyatakan kehebatan dirinya sendiri. Seperti teleskop, melalui apa yang kita kerjakan, orang melihat Tuhan yang jauh itu, melihat Tuhan itu besar, mulia, betul-betul berharga.

Ketika kita melakukan itu, memfokuskan kepada Dia, maka kita justru akan bersuka-cita; karena memang Tuhan menciptakan kita untuk itu.

Ketika kita memuliakan Dia, sadar bahwa Dia adalah yang terbesar, terutama dalam hidup kita, dan itu terpancar dari apa yang kita lakukan, maka kita akan mengalami kesukaan yang besar. Selain daripada itu maka kita akan terlibat dalam kerusakan, egoisme, kekosongan dan ketidakpuasan hidup yang tidak ada habis-habisnya. Ketika Tuhan kita tempatkan sebagai yang terutama, maka justru kita boleh menikmati anugerahnya, suami kita, istri kita, anak-anak kita, Gereja Tuhan, persahabatan, kasih di antara kita. Bukan karena kehebatan kita tetapi semata-mata karena anugerah Tuhan.

Seluruh perkataan Yohanes Pembaptis di sini, dimulai dengan perdebatan mengenai penyucian, Yoh 3:25 “Maka timbullah perselisihan di antara murid-murid Yohanes dengan seorang Yahudi tentang penyucian.” Seolah-olah perkataan selanjutnya tidak ada hubungannya dengan penyucian, melainkan berbicara mengenai mempelai pria dan wanita. Apakah betul bagian ini tidak ada hubungannya dengan penyucian?

Kita bisa melihat suatu hubungan yang erat. Kalau kita tengok kembali, perkataan Yohanes Pembaptis dalam Yoh 1:29 “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.” Maka kita langsung mengerti, ini berkaitan dengan penyucian, darah yang dicurahkan Anak domba Allah itu menyucikan dengan menghapus dosa manusia. Tetapi mengapa Yohanes dalam Yoh 3 berbicara mengenai pernikahan? 

Sebenarnya ada clue, dalam Wah 21:9 yang ditulis oleh penulis yang sama dari pada kitab Yohanes: “Maka datanglah seorang dari ketujuh malaikat yang memegang ketujuh cawan, yang penuh dengan ketujuh malapetaka terakhir itu, lalu ia berkata kepadaku, katanya: "Marilah ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu pengantin perempuan, mempelai Anak Domba." Ternyata mempelai dari pada pengantin perempuan adalah Anak Domba. Karena itu tidak mengherankan Paulus berkata dalam Ef 5:25-27 “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya (26) untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, (27) supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.”      

Jadi Yohanes Pembaptis menjawab persoalan penyucian dengan menyebutkan bahwa mempelai pria yang disebutkan dalam Yoh 3:29 adalah Anak Domba Allah, yang mencurahkan darah-Nya untuk menyucikan akan dosa daripada mempelai wanita. Karena itu datanglah kepada-Nya. Ketika orang-orang datang kepada Kristus, maka itu adalah apa yang Yohanes Pembaptis dan Yohanes - sang penulis - mengerti bahwa Kristuslah mempelai pria itu, yang sudah menyerahkan nyawa-Nya bagi kita.

Jangan datang kepada saya, karena saya tidak pernah mencurahkan darah untuk engkau, jangan datang kepada pak Tong karena pak Tong tidak pernah mati untuk engkau, jangan kepada Mohamad karena Mohamad tidak pernah mati untuk engkau, jangan datang kepada Sidharta Budha Gautama, karena dia tidak pernah mati engkau. Datanglah kepada mempelai pria itu, kepada Anak  domba Allah yang sejati, sehingga kita boleh disucikan dosanya karena Dia sudah mati untuk kita. Inilah pengajaran Yohanes Pembaptis bagi kita. Ketika dia berbicara tentang mempelai pria, maka dia sedang menjawab masalah penyucian.

Kadang-kadang ada pergumulan dalam hidup berkeluarga yang membuat suami/istri sulit sekali mengasihi satu sama lain. Tetapi biarlah kita mengerti apa yang sudah Kristus kerjakan, mati untuk menebus dosa kita, menyucikan kita. Maka biarlah kita mengasihi sesama kita sebagaimana Kristus sudah mengasihi kita. Datanglah kepada Dia, muliakan Dia dengan mengajak orang-orang lain, seperti Yohanes Pembaptis, yang mengajak orang-orang datang kepada Kristus. Biarlah kita menjadi semakin kecil dan Dia menjadi semakin besar, karena itulah kesukaan daripada Anak-Anak Tuhan. Biarlah kita mencontoh Yohanes Pembaptis yang sudah memberikan teladannya dalam bagian Alkitab kali ini.

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya