Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Saksi yang Sempurna

Ibadah

Saksi yang Sempurna

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 26 Maret 2017

Bacaan Alkitab: Yoh 3:31-36

Kita akan mulai dengan melihat siapa yang mengatakan bagian ini. Yoh 3:31-36 adalah perkataan Yohanes Pembaptis, karena kalau kita melihat ayat sebelumnya Yoh 3:27 dikatakan “Jawab Yohanes:..”. Kalau kita perhatikan  dalam terjemahan Indonesia, ada tanda kutip buka setelah “Jawab Yohanes”, dan itu tidak selesai sampai Yoh 3:36. Karena di dalam bahasa aslinya tidak ada tanda kutip, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) menafsirkan, ini adalah perkataan Yohanes Pembaptis. Kalau kita lihat di ESV, ada tanda kutip penutup di Yoh 3:30, dan mulai dari Yoh 3:31 selanjutnya itu adalah perkataan Rasul Yohanes. Sedangkan dalam NIV, ada kebingungan, karena di Yoh 3:27 ada tanda kutip pembukanya, tetapi tidak ada kutip penutupnya, dan Yoh 3:31 ada tanda kutip pembuka sekali lagi, jadi di mana tanda kutip penutupnya?

Tetapi yang mau saya ungkapkan di sini adalah supaya saudara aware siapa yang berkata-kata di bagian ini. Kalau kita pikir lebih dalam, mungkin ini tidak significant, karena meskipun ini perkataan Yohanes Pembaptis, penulis bagian ini yaitu Rasul Yohanes, tidak mengutip seluruh perkataan Yohanes Pembaptis, dia mendapat bimbingan Roh Kudus untuk mencatat bagian ini. 

Tetapi yang penting di sini adalah apa yang dituliskan di sini ini adalah kebenaran Allah yang dinyatakan oleh Yesus Kristus. Yoh 1:18 mengatakan “Tak seorangpun yang pernah melihat Allah, tetapi Anak tunggal Allah yang di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakannya.” Yoh 3:31-36 menyatakan siapakah Allah, melalui diri Yesus Kristus, melalui karya-Nya di dalam dunia ini. Ketika kita mengenal Allah yang dinyatakan di dalam Yesus Kristus, maka kita akan melihat kemuliaan Allah yang dinyatakan melalui Yesus Kristus.

Ketika kita mengenal Dia maka kita akan diubahkan menjadi serupa dengan Dia, dari anugerah ke anugerah yang lebih besar yang menjadikan kita semakin serupa dengan Kristus. Ketika kita mengenal Dia, bersekutu dengan Dia, memiliki relasi dengan Dia, hidup kita sendiri diubahkan hari demi hari menjadi serupa dengan Kristus; dan ini adalah hal yang sangat praktikal.

Hal yang kita bicarakan tentang Kristus, yang Dia kerjakan adalah hal yang praktikal. Ada jemaat yang bertanya, apa gunanya belajar t\ntang doktrin-doktrin yang tinggi, seperti justification, sanctification, dsb., yang rumit, yang dalam; sedangkan dalam realitanya hidup orang Kristen itu mengalami banyak kesulitan, di dalam pekerjaan, dalam rumah-tangga, keuangan, para pemuda bergumul dengan pornografi, ada yang sakit, anak-anak yang main game terus.

Yohanes berbicara tentang kemuliaan Kristus, tetapi apa relevansinya dengan hidup kita? Bukan berarti bahwa hal-hal hidup sehari-hari itu tidak penting, hal-hal itu memang perlu dibahas. Namun Gerakan Reformed Injili justru mengerti sekali pergumulan yang real ini. Apa hubungannya doktrin-doktrin kemuliaan Allah ini dengan anak saya yang sakit, dengan kesulitan mencari pekerjaan.

Gereja ini justru membahas rahasianya - justru waktu kita menghadapi hal-hal yang real seperti itu, jangan membahas hal-hal seperti itu secara fenomena, jangan membahas secara superficial saja. Karena dalam hal-hal praktikal itu, salah satu persoalannya adalah kita perlu mengenal Allah. Justru itulah intinya. Untuk menghadapi persoalan-persoalan tersebut justru kita perlu mengenal Dia, mengenal kemuliaan-Nya, memiliki relasi dengan Dia dan mengenal siapa Allah itu. Ketika kita mengenal Dia, maka sesungguhnya hidup kita akan diubahkan, kita akan menerima anugerah demi anugerah, Tuhan akan membentuk hidup kita, memberikan kita visi, memberikan pengertian dan bijaksana dalam kehidupan yang real, sehingga hidup kita diarahkan kearah yang benar.

Contoh yang pertama adalah kisah suku Efraim dan Manasye (lihat Yosua 17). Suatu kali suku Efraim dan Manasye datang kepada Yosua, dan bertanya mengapa Yosua memberikan kami, tanah yang sedikit, sedangkan orang kami itu banyak. Ini adalah masalah yang real bagi mereka. Lalu Yosua menjawab bahwa di sebelah tanah mereka ada hutan yang begitu luas, itu juga diserahkan kepada kamu, maka bukalah hutan itu, dan kamu mendapat tanah yang jauh lebih luas. Tetapi orang-orang Efraim dan Manasye berkata: tetapi di hutan itu, ada orang-orang Kanaan yang besar-besar, dengan kereta kuda besi dan banyak, dan mereka tidak berani. Yosua bertanya mengapa engkau tidak berani ? Karena sebenarnya engkau tidak mengenal Allah, karena engkau tidak mengenal janji Tuhan, karena engkau tidak pernah mengerti apa yang Tuhan sudah janjikan. Tuhan sudah berjanji berpuluh-puluh tahun yang lalu, bahwa Dia akan memberikan tanah ini kepadamu. Aku tahu ada bangsa Kanaan yang orangnya besar-besar, dengan kereta besi yang hebat, tetapi Aku adalah Tuhan yang telah membebaskan engkau dari Mesir, yang merupakan kekuatan yang paling besar saat itu; dan Aku akan menyertai dan memimpin engkau, dan tanah itu diserahkan kepadamu. 

Kalau engkau tidak puas dengan apa yang kau miliki, akarnya adalah karena engkau tidak percaya kepada janji Tuhan, karena engkau tidak mengenal kekuasaan Tuhan yang besar. Ini adalah persoalannya. Masalah mereka yang real, tidak memiliki tanah yang cukup, akarnya adalah karena mereka tidak mengenal Tuhan. Kita tidak mau menghadapi masalah hidup secara superficial, secara langsung, tetapi justru melalui pengenalan kepada Allah, melalui perspektif Allah, yang akan menuntun dan membentuk kita.

Contoh yang kedua adalah contoh yang John Piper berikan, tentang bagaimana Dia suatu kali sedang berkotbah mengenai Yesaya 6, yang mengatakan tentang kemuliaan Allah, di mana para seraphim berkata (Yes 6:3) “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan semesta alam, seluruh bumi penuh dengan kemuliaan-Nya”. Saat John Piper mengeksplore itu di dalam suatu kebaktian, Dia tidak tahu bahwa salah satu keluarga mengalami musibah di mana salah satu putri mereka baru di-abuse oleh pamannya. Beberapa minggu kemudian John Piper baru tahu kejadian itu, dan bertemu dengan keluarga itu. Keluarga itu berterima kasih kepada John Piper dan mengatakan bahwa hal yang membuat mereka bisa bertahan adalah visi yang John Piper gambarkan dalam Yesaya 6. Itulah yang menjadi batu karang bagi mereka untuk menghadapi kejadian yang baru terjadi.

Waktu saya mengeskspose apa yang Firman Tuhan nyatakan, harap kita boleh memperhatikan dengan baik, meskipun seolah-olah itu tidak ada hubungannya dengan masalah yang kita hadapi. Tetapi ini adalah kunci untuk kita boleh mengerti apa yang Tuhan yang sedang kerjakan di dalam hal-hal yang praktikal, mengapa Tuhan membiarkan hal-hal itu terjadi. Inilah kuncinya, mengenal isi hati Tuhan, dan kita boleh dipimpin dan diberi arah dalam hal hidup kita sehari hari.

Yoh 3:31-36 menyatakan kemulian Kristus; khususnya di dalam konteks Yesus yang adalah saksi yang sempurna. Yoh 3:32 mengatakan “Ia memberi kesaksian tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya,” Kita akan merenungkan apa yang menjadi kriteria saksi yang kredibel.

Hal yang pertama yang harus ada pada saksi yang kredibel adalah saksi itu harus hadir sendiri di tempat kejadian itu, dia ada di situ, menyaksikan peristiwa itu sendiri. Kristus adalah pribadi yang datang dari Surga. Yoh 3:31 menyatakan “Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi. Siapa yang datang dari sorga adalah di atas semuanya.”

Yoh 3:32 mengatakan "Ia memberi kesaksian tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya." Selanjutnya di dalam Yoh 3:34 “Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas.”  Kristus berasal dari Sorga, Dia memberi kesaksian tentang apa yang dilihat-Nya dan didengar-Nya. Dia diutus oleh Allah ke dalam dunia ini. Jadi Dia adalah saksi first-hand yang mengetahui segala sesuatu dan menyatakan Firman tentang kemuliaan Allah.

Seorang penulis William Barclay mengatakan jika kita ingin mengetahui informasi yang tepat, maka kita harus datang kepada orang yang tepat. Kalau kita ingin mengetahui informasi tentang suatu keluarga, maka kita harus bertanya kepada anggota keluarga itu. Kalau kita ingin mengetahui tentang suatu kota, maka kita harus bertanya kepada orang yang berasal dari kota itu. Kalau kita inigin mencari kebenaran tentang Surga, maka kepada siapa kita harus datang? Maka Kristus adalah satu-satunya pribadi yang berasal dari Surga. Dia adalah satu-satunya pribadi yang dapat menyatakan dengan tepat, memberikan informasi dengan sempurna tentang Allah dan surga.

Orang-orang lain, termasuk pemimpin-pemimpin agama berkata-kata dalam bahasa bumi. Tidak ada pernah ada dari antara mereka yang mengklaim dari mulut mereka sendiri bahwa mereka diutus Allah dari surga, tidak ada yang mengatakan mereka ada di dalam kekekalan, yang datang ke dalam dunia. Tidak ada yang mengklaim hal itu dari mulut mereka sendiri. Tetapi Kristus berasal dari Surga, Dia mengatakan hal-hal yang Dia lihat dan dengar sendiri dari dalam Surga.

Kata ”diutus” (Yoh 3:34) adalah kata yang penting di dalam Injil Yohanes. Kata “diutus” yang dipakai dalam bahasa Grikanya adalah “aposteleine”, dalam Injil Yohanes digunakan 23 kali. Hampir seluruhnya tentang Bapa yang mengutus Yesus Kristus. Ini adalah fakta yang penting.

Ini adalah fakta yang penting bahwa Yesus Kristus datang ke dalam dunia diutus oleh Allah. Diutus artinya Dia datang dari Surga, datang ke dalam dunia karena Dia diutus oleh Allah. Memang Yohanes Pembaptis dan murid-murid yang lain adalah orang-orang yang diutus oleh Allah dan diutus oleh Kristus. Tetapi dalam konteks mereka, mereka tidak diutus dari surga, tetapi mereka dipanggil dan diutus oleh Kristus seperti domba ditengah-tengah serigala, untuk bersaksi bagi Nama-Nya. Mereka hanya memberitakan apa yang sudah diberitahukan kepada mereka oleh Kristus. Sedangkan Kristus berkata-kata dari first hand experience, berasal dari Surga, sehingga Dia boleh menyatakan pengetahuan yang sempurna dari pada Allah. Ini adalah hal pertama yang boleh kita lihat dari pada kemuliaan Kristus. Dia saksi yang sempurna karena Dia berasal dari Allah, tidak ada orang lain dalam dunia ini yang mempunyai first hand information. Karena itu biarlah kita datang kepada Dia, mendengar Firman-Nya, membaca apa yang sudah dituliskan, dan makin diubahkan sesuai dengan kehendak-Nya.

Hal yang kedua, Yesus adalah juga saksi yang kredibel yang memiliki track record, integritas dalam hidup-Nya dan perkataan-perkataan-Nya. Seorang saksi, kalau hidupnya tidak kredibel, perkataannya penuh kontradiksi dan berubah-ubah, maka hancurlah kesaksiannya. Kalau kita melihat Yesus Kristus maka Dia adalah saksi yang sempurna, karena Dia mengatakan tentang Firman Allah dan karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas.

Yoh 3:34 mengatakan “Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas.” Dalam Yoh 4:24 Yesus juga berkata “God is spirit”, Allah itu adalah Roh. Lalu apa artinya Allah yang adalah Roh mengaruniakan Roh-Nya dengan tak terbatas kepada Kristus? Artinya seluruh keberadaan Allah itu ada di dalam Anak. Kalau Allah memberikan Roh-Nya kepada Anak, maka tidak ada yang disisakan, tidak ada yang ditahan. Seluruh perkataan Kristus adalah perkataan yang sempurna, bisa dipercaya, karena muncul dari Roh yang diserahkan kepada Dia dengan tidak terbatas. Tidak ada orang lain yang boleh mengklaim seperti demikian, yang mengklaim keberadaan Allah dalam dirinya secara tidak terbatas.

Seluruh keberadaan Allah ada di dalam diri Kristus, sehingga segala perkataan Kristus pasti kredibel, dan Dia hanya menyatakan Firman dari pada Allah. Saat peristiwa transfigurasi Yesus, terdengar suara dari surga yang berkata “Inilah Putera-Ku yang terkasih, kepada-Nya Aku berkenan.” Dalam bahasa aslinya kalimat ini berkata bahwa seluruh keberadaan-Allah ada di dalam Dia. Itulah sebabnya Yoh 3:35 meneruskan ayat 34 dengan berkata “Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya.”

Yesus juga bisa dipercaya sepenuhnya karena Yesus adalah Allah itu sendiri, karena Yesus berkuasa sebagai Allah. Yoh 3:31 mengatakan “Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya”, dan diulang lagi dalam ayat yang sama yaitu di Yoh 3:31 tapi bagian akhir “Siapa yang datang dari sorga adalah di atas semuanya.”

Dalam bahasa asli Yoh 3:35 dengan lebih tepat mengatakan “Bapa mengasihi Anak sehingga menyerahkan segala sesuatu di tangan-Nya” He has the whole world in His hand. Yesus berkuasa sebagai Allah, berkuasa atas segala sesuatu. Ibrani 1:3 mengatakan bahwa Kristus “menopang segala yang ada dengan Firman-Nya yang penuh kekuasaan”. Biarlah kita mengenal siapa Kristus.

Kristus dalam sejarah, dan dalam alam semesta berkuasa atas seluruh alam semesta. Biarlah pengenalan ini merubah kita hari demi hari, dari satu kemuliaan kepada kemuliaan yang lebih besar, mengalami kehadiran Tuhan, dan hidup kita menjadi semakin berkenan kepada-Nya, mengalami kesukaan dan damai sejahtera.

Yoh 3:36 menutup dengan suatu tantangan bagi kita sekalian, setelah kita melihat kemuliaan Kristus, Dia diutus Allah, mempunyai first-hand information, perkataan-Nya pasti benar, Dia sendiri juga memliki kuasa Allah, seluruh keberadaan Allah ada di dalam Diri-Nya, dan diberi kuasa sama seperti Allah karena Dia itu Allah itu sendiri, maka bagaimana response kita kepada-Nya. Setelah kita mendengar kesaksian-Nya, maka what is your verdict? Keputusan kita menentukan apakah kita memperoleh hidup yang kekal, atau kita mendapatkan murka Allah. (Yoh 3:36) “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya."”

Sebelum saudara salah mengerti, bukan keputusan kita yang menentukan nasib kita. Yoh 3:32-33 mengatakan “Ia memberi kesaksian tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya, tetapi tak seorangpun yang menerima kesaksian-Nya itu. Siapa yang menerima kesaksian-Nya itu, ia mengaku, bahwa Allah adalah benar.” Seolah-olah ada yang salah dalam kalimat-kalimat ini, ayat Yoh 3:32b mengatakan tidak ada yang menerima kesaksian-Nya, sedangkan ayat Yoh 3:33 mengatakan siapa yang menerima kesaksian-Nya. Apakah ini merupakan suatu kontradiksi? 

Kalau saudara tidak mengerti waktu membaca Alkitab, janganlah menganggap Alkitab itu penuh dengan kontradiksi. Kalau saudara membaca tulisan Plato, maka tentu saudara banyak yang tidak mengerti juga. Banyak hal yang kita tidak mengerti, tetapi waktu saudara membaca Plato saudara tidak mengatakan Plato itu omong kosong. Karena semakin saudara mengatakan Plato itu omong kosong, saudara malah dianggap bodoh. Kita tidak berani mengatakannya karena Plato adalah salah satu filsuf yang terbesar sepanjang jaman. Kalau kita yang tidak mengerti berarti kita yang bodoh, bukan karena tulisan Plato yang bodoh.

Namun mengapa waktu kita membaca Alkitab, kalau kita tidak mengerti mengapa kita tidak berusaha untuk mengerti. Waktu membaca tulisan Plato, kita merasa bodoh kalau kita tidak mengerti, namun waktu membaca Alkitab dan tidak mengerti, kita merasa lebih hebat daripada Alkitab dengan menganggap Alkitab itu banyak kontradiksi dan kita anggap tidak fair.

Adalah wajar kalau kita seringkali tidak mengerti Alkitab, karena ada hal-hal yang pasti kita tidak mengerti. Alkitab di satu sisi ada banyak hal yang sangat jelas, karena salah satu doktrin Alkitab adalah the simplicity of the Bible. Bahkan orang-orang yang di desa, ketika membaca hal-hal inti dari Alkitab, mereka bisa mengerti karena isinya sangat simple dan jelas. Berita Injil itu sangat simple tetapi juga sangat kompleks. Bahkan banyak professor dan hamba-hamba Tuhan yang begitu brilliant, tidak ada orang yang bisa menyelesaikan pengertian Alkitab secara tuntas. Karena Alkitab adalah tulisan yang ditulis beribu-ribu tahun yang lalu. Ada konteks budaya, bahasa dlsb yang kita tidak mengerti.

Apakah ada kontradiksi dalam Yoh 3:32 dan 3:33. Kalau kita melihat lebih detil ini adalah mirip dengan ayat-ayat sebelumnya, seperti Yoh 3:11 dan 3:12 “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami. (3:12) Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi?” Artinya kalau mereka tidak dilahirkan kembali seperti dalam konteks Yoh 3 bagian awal, yaitu percakapan Yesus dengan Nikodemus, maka mereka tidak akan mengerti. Perlu anugerah Tuhan dan Roh Kudus yang bekerja dalam dirimu supaya kamu dapat menerima kesaksian Kristus.

Jadi response kita, apakah kita percaya kepada Kristus atau menolak Dia, menentukan apakah kita menerima hidup yang kekal atau murka Allah pada kita. Tetapi kalau kita bisa percaya kepada Kristus, itu semata-mata karena Tuhan sudah terlebih dahulu menyatakan anugerah-Nya kepada kita sehingga kita boleh percaya kepada Dia dan menerima kesaksian Kristus.

Kalau kita bisa menerima kesaksian Kristus artinya kita adalah orang-orang yang sudah dilahirkan kembali; Roh Kudus sudah bekerja di dalam hati kita. Tetapi Yoh 1:5 mengatakan “Kalau engkau tidak percaya kepada kesaksian-Nya maka engkau sebenarnya mengatakan bahwa Allah itu pendusta”. Ketika engkau mengatakan Allah itu pendusta maka murka Allah ada pada dirimu.

Waktu kita percaya, mengenal Dia, secara personal, kita makin kagum kepada-Nya. Hidup kita semakin diubahkan, hari-demi-hari dari satu kemuliaan kepada kemuliaan yang lebih besar. Ketika kita dapat melihat Anak Tunggal Allah yang penuh dengan kebenaran, maka kita akan menerima kasih karunia demi kasih karunia. Anugerah yang boleh memampukan kita untuk menghadapi segala persoalan real yang ada di dalam hidup kita. 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya