Ibadah

Yoh 3:16

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 12 Februari 2017

Bacaan Alkitab: Yoh 3:16-18

Kita masuk ke dalam ayat yang terkenal Yoh 3:16, dan dua ayat selanjutnya yang mendukung ayat ini. Tidak terlalu sulit untuk mengerti bahwa ayat ini sangat terkenal dan banyak diingat orang, memberikan kekuatan bagi banyak orang dan di dalam sejarah. Saya harap kita boleh menghafal ayat ini.

Kita bisa mengerti akan hal ini karena di dalam Yoh 3:16 terdapat hal-hal yang paling penting dalam iman Kristen dan dalam kehidupan manusia. Apa yang lebih penting daripada Allah, apa yang lebih besar daripada kasih, apa yang paling manusia dambakan kecuali hidup yang kekal. Ini adalah satu ayat yang mencakup, merangkum akan Injil yang sangat berharga itu, dan dinyatakan dengan begitu ketat dan begitu ringkas.

Kali ini kita akan merenungkan tujuh kata yang menjelaskan tujuh realitas yang sangat penting: “Allah”, “dunia”, “mengaruniakan”, “Anak”, “percaya”, “tidak binasa”, “hidup”, dan “kasih”. Kali ini saya akan men-skip “Kasih” karena saya akan bahas dalam kali berikutnya.  Kita akan melihat keindahan ayat ini, melihat kuasa dan betapa berharganya Firman Tuhan yang sudah dinyatakan kepada kita. Semoga Firman ini boleh menguasai hati kita, mencengkram hidup kita, dan hidup kita bisa sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki di dalam hidup kita.

“Allah”

“Karena begitu besar kasih Allah”. Kalau kita melihat ayat-ayat selanjutnya, maka kita tahu bahwa konteks ayat ini adalah percakapan Yesus dengan Nikodemus, yang adalah orang Yahudi. Dengan demikian Allah yang dimaksud di sini adalah Allah perjanjian lama. Allah yang adalah pencipta dan penopang segala sesuatu. Allah yang berkata dan segala sesuatu jadi. Allah yang ada di dalam sejarah Israel. Seringkali orang menganggap Allah di dalam perjanjian lama adalah Allah yang bengis, yang kejam, yang menghukum dengan keras orang yang berdosa. Tetapi Allah yang dikatakan Yesus di sini adalah persis sama dengan Allah perjanjian lama.

Pengertian “Allah” di sini adalah bukan deisme. Pengertian Allah deisme banyak dianut banyak orang, termasuk orang-orang Kristen. Gereja-Gereja sepertinya mengajarkan pengertian akan Tuhan yang bersifat deisme.  Allah deisme itu adalah Allah yang menciptakan segala sesuatu, tetapi ketika setelah selesai penciptaan, Dia tidak lagi involve dalam kehidupan sehari-hari manusia. Seperti seorang pembuat jam, setelah jamnya selesai, dia putar jam itu sekencang-kencangnya, dan dia tinggalkan jam itu. Jam itu berjalan terus sampai habis dan mati, si pembuat jam tidak involve lagi. Sebagai gambaran lain, pengertian Allah semacam ini bagaikan airbag di dalam mobil. Kita tahu kita airbag itu kita perlukan, tetapi kita berharap kita tidak pernah memakainya seumur hidup kita. Kalau kecelakaan atau kesusahan maka airbag itu menyelamatkan kita, tetapi kalau bisa kita tidak pernah pakai airbag itu. Yang penting airbag itu ada di situ, tetapi tidak ada hubungannya dengan hidup kita sehari-hari. Allah yang kita senang kalau Dia ada, tetapi apakah Dia hadir dan memimpin di dalam hidup kita, itu tidak terlalu perlu.

Salah satu slogan orang Reform adalah “Coram Deo”, bahwa hidup itu Living every moment in the presence of God. Apapun yang kita kerjakan, di kantor, waktu kita sendiri, waktu suami-istri berhubungan seks, Tuhan hadir di dalam hidup kita. Apakah kita mengkaitkan seluruh hidup kita dengan Allah. Apakah Allah menjadi fokus dalam hidup kita?

Orang-orang Deisme mengatakan Allah itu tidak sungguh-sungguh real di dalam kehidupan kita, yang lebih real adalah uang kita, keluarga kita, dan segala macam yang bisa kita lihat. Bila kita tidak mengutamakan Allah, maka kita bisa terjebak di dalam konsep deisme.

Contoh praktis lainnya, adalah orang yang selalu datang telat ke Gereja. Selalu ada alasan, tetapi kalau ke tempat kerja telat tidak, ke sekolah telat tidak? Kalau ke gereja selalu telat maka itu artinya kita tidak sungguh-sungguh datang menghadap Tuhan. Allah yang seharusnya lebih penting daripada pekerjaan dan studi kita, lebih penting daripada segala sesuatu di dalam dunia ini.

Ketika Yesus berkata di dalam ayat ini, kata “Allah” menunjuk kepada suatu Pribadi yang hadir di dalam dunia ini. Pribadi yang kehendak-Nya telah dinyatakan kepada manusia, Pribadi yang paling berharga. Perjanjian lama mengutip “Your Word is my live”: Perkataan-Mu, kehendak-Mu adalah hidup itu sendiri.

Apakah kita menyadari hal ini. Yoh 3:16 mengingatkan kita bahwa Allah itu hidup dan berkata, dan menyatakan kehendak-Nya kepada kita. Kehendak-Nya adalah sesuai dengan karakter-Nya yang suci dan adil. Ketika Dia menyatakan kehendak-Nya: jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan ada Allah lain dihadapanmu. Sucilah engkau karena Aku suci, seluruh kehendak-Nya itu dinyatakan kepada kita supaya kita hidup dan mentaati, percaya untuk merefleksikan karakter-Nya yang suci dan adil, yang penuh kasih dan kebenaran. Dia menyatakan kehendak-Nya kepada manusia supaya manusia mentaati, bukan hanya karena hal itu akan menyukakan hati-Nya, tetapi juga hal itu menyatakan karakter-Nya. Dia menyatakan kehendak-Nya supaya manusia mengalami kepenuhan hidup di dalam Dia, “The life that is truly life.”  

Allah seperti inilah yang berkata-kata kepada kita. Allah yang menginginkan apa yang terbaik bagi umat-Nya dan tentu apa yang terbaik itu sekaligus memuliakan diri-Nya. Karena Dia adalah Allah yang patut dipermuliakan dan itu juga sekaligus memberikan kesukaan yang besar bagi orang-orang yang taat kepada-Nya.

Tetapi sepanjang sejarah, orang telah gagal melakukan kehendak-Nya. Ini bukan saja menimbulkan murka Allah yang suci itu, tetapi juga mengakibatkan segala penderitaan hidup manusia, dan ujungnya adalah “upah dosa adalah maut” (Roma 6:23).

Karena itulah Yoh 3:16 menjadi begitu berharga, karena menggambarkan cara Allah memberi solusi kepada keadaan manusia yang tanpa pengharapan ini. Allah melakukan sesuatu untuk memberikan jalan keluar kepada manusia.

“Dunia”

Kata “Dunia” di dalam arti yang paling umum, khususnya di dalam Injil Yohanes berbicara tentang totalitas manusia yang telah jatuh di dalam dosa dan yang melawan Allah. Yesus mengatakan dalam Yoh 7:7 “Dunia membenci Aku, sebab Aku bersaksi tentang dia, bahwa pekerjaan-pekerjaannya jahat”. Kata “World” (bukan “earth” = bumi) menunjuk kepada totalitas manusia yang telah berdosa dan melawan Allah. Kata “dunia” tidak menunjuk kepada pribadi tetapi kepada keseluruhan manusia yang membenci Tuhan. Yesus bersaksi tentang kejahatan dunia, dan karenanya dunia melawan Kristus dan akhirnya menyalibkan Dia.

“Dunia” adalah bukanlah individu-individu, tetapi kumpulan massa yang besar yang sedang menuju kebinasaan. Karena itu Dia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal.

“Mengaruniakan”

“Dia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal”. Kata “mengaruniakan” artinya adalah Dia turun dari sorga. Yoh 3:17 menjelaskan “Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” Allah mengutus Anak-Nya dari sorga untuk menyelamatkan dunia, dengan mati di atas kayu salib. Kristus mengatakan (Mat 20:28) “Anak manusia datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang”.

Allah “mengaruniakan” dengan mengutus, memberikan Anak-Nya yang tunggal, datang dari sorga untuk mati. Untuk mati memberi jalan keluar, memberi solusi bagi hidup manusia. Harap kita menyadari akan betapa besarnya hal yang Tuhan kerjakan ini.

Suatu ilustrasi Ravi Zakaria, tentang apa yang dia baca di Reader Digest, tentang “the Spy family”. Pada saat perang Vietnam, banyak tentara Amerika yang meninggal karena di-ambush oleh musuh. Musuh sepertinya sudah siap karena the Spy family itu membocorkan informasi-informasi intelijen kepihak musuh. Akhirnya setelah perang selesai, the Spy family itu terbongkar, dan keluarga itu diadili. Mereka mendapat uang banyak sekali dari informasi yang mereka berikan kepada musuh. Hakim memutuskan mereka dihukum seumur hidup, dan mengatakan kalimat yang menggambarkan kemarahan orang Amerika kepada keluarga ini: “Engkau orang Amerika, engkau adalah orang yang betul-betul rusak sampai ketulang sum-sum. Engkau telah memberikan informasi kepada musuh, sehingga tentara-tentara Amerika yang terbaik mati dibunuh. Sementara mereka mati, engkau mendapatkan ratusan-ribu dollar, dan hidup dengan kemewahan, sedangkan orang-orang terbaik ini mati, ibu-ibu kehilangan suami mereka. Saya akan pastikan kamu masuk ke dalam penjara dan tidak pernah keluar lagi sampai engkau mati di sana.”

Ravi Zakarias mengatakan kalimat yang baik sekali. Kita bisa mengerti kemarahan itu, tetapi kita seharusnya sadar bahwa itulah saudara dan saya, yang sudah melawan dan mengkhianati Tuhan kita yang sudah menciptakan kita menurut gambar dan rupa-Nya, yang merupakan refleksi dari diri-Nya. Tuhan memberikan segala sesuatu yang baik yang kita perlukan untuk memuliakan Tuhan untuk bersuka-cita di dalam kehendak-Nya. Tetapi kita memutarbalikkan semua itu dan kita sudah menjadi pengkhianat yang begitu besar.

Tetapi bayangkan, orang seperti “the Spy family”, tetapi Hakim itu berkata “Aku sekarang mengirim Anak-Ku satu-satunya untuk menggantikan kamu mati di atas kayu salib.” Itulah yang dikerjakan oleh Tuhan. Dia yang murka terhadap dosa manusia, Dia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal dari sorga, menjadi manusia, untuk mati menebus dosa manusia.

“Anak” (Putera – the Son)

Kata “Anak” di sini lebih tepat diterjemahkan sebagai “Putera” (the Son). “Mengaruniakan Putera-Nya yang tunggal.” Kata “Anak” menjadi batu sandungan yang besar bagi orang Islam. Bagaimana Allah mempunyai “Anak”. Kita perlu menjelaskan dan kita sendiri perlu mengerti bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah bukan karena Allah berhubungan seks dengan Maria. Tetapi Yesus Kristus adalah Anak Allah sejak kekal. Dia bukan ada waktu Dia lahir 2000 tahun yang lalu di Bethlehem. Yoh 1:1 mengatakan “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah”. Firman itu tidak diciptakan, dari dulunya Dia sudah ada bersama-sama dengan Allah. Sebelum Dia lahir 2000 tahun, sejak kekekalan sampai kekekalan Dia sudah ada. Pada mulanya adalah Firman, dan selanjutnya Yoh 1:14 mengatakan “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita”, menjadi manusia dan lahir melalui kandungan Maria.

Yesus bukannya lahir kemudian menjadi Anak Allah, tetapi Dia adalah Anak Allah yang kekal, sejak dulu sampai selama-lamanya. Pada mulanya Firman itu bersama-sama dengan Allah, Firman itu berbeda dengan Allah, tetapi Firman itu adalah Allah. Ini adalah misteri Allah tritunggal, Yesus adalah pribadi yang kedua yang berada di dalam persekutuan yang saling mengasihi. Dia adalah Anak yang Tunggal, relasi antara Bapa dan Anak dan Roh Kudus yang kekal dan selama-lamanya. Allah yang hadir dalam tiga pribadi, satu Allah yang menyatakan diri-Nya di dalam tiga pribadi.

Yesus turun ke dunia, meninggalkan kesetaraannya dengan Allah, menjadi manusia, menjadi fondasi bagi kita untuk boleh saling mengasihi, merendahkan diri satu sama lain. Kalau Allah meninggalkan seluruh kemuliaan-Nya datang kepada dunia, menjadi sama seperti manusia, maka tidak ada penghinaan apapun yang kita bisa terima yang bisa dibandingkan dengan penghinaan yang dialami Kristus sendiri. Yesus yang datang ke dalam dunia, dicaci maki, dihajar dan akhirnya mati di atas kayu salib. Demikian besarnya pengorbanan-Nya, sehingga kita yang percaya kepada-Nya sudah pasti kita harus mengasihi dan merendahkan diri satu dengan yang lain.

“Percaya”

supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Implikasi dari kalimat ini adalah tidak semua orang akan diselamatkan. Hanya orang percaya yang diselamatkan, tetapi yang lain adalah orang-orang yang akan binasa. Yoh 3:18 menegaskan sekali lagi: “Barangsiapa percaya kepada-Nya …”.  Percaya kepada-Nya adalah kunci bagi keselamatan. Karena itu kita pergi memberitakan Injil, supaya mereka boleh percaya kepada-Nya.

Orang-orang yang tidak percaya adalah orang-orang yang akan binasa, orang-orang yang sudah ada di dalam hukuman Allah, tetapi orang-orang yang percaya adalah orang-orang yang akan diselamatkan dan menerima hidup yang kekal. Percaya semacam apa? Percaya di dalam Kristus. Biasanya kita percaya kepada seseorang, (“seperti percaya kepada Ahok”) percaya akan perkataannya, percaya akan apa yang sudah dia kerjakan, percaya akan integritasnya. Percaya semacam ini tentu ada konsekuensinya. Percaya kepada Tuhan tidak bisa dibandingkan dengan percaya kepada seseorang, karena percaya kepada Kristus artinya percaya bahwa segala perkataan dan perintah-Nya itu adalah benar, bukan masalah 5 atau 10 tahun, tetapi masalah hidup atau mati yang kekal. Percaya kepada-Nya supaya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Percaya artinya mengakui Kristus adalah satu-satunya jalan dan hidup seperti yang Dia katakan. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku. 

Percaya juga berarti menyerahkan seluruh hidup kita kepada-Nya. Percaya bukan hanya setuju secara intelektual. Kalau kita percaya kepada seseorang, kita melakukan apa yang dia katakan. Tetapi percaya di dalam Kristus memiliki kedalaman yang tidak ada di dalam percaya kepada seseorang. Percaya di dalam Kristus itu not only the object of our faith but the place of our faith. Bukan hanya percaya kepada Dia tetapi percaya di dalam Dia. Percaya di dalam Dia, dipersatukan dengan Dia, Dia memberi hati yang boleh bekerja merubah hidup kita. Dia mati di atas kayu salib, Dia mewakili kita, artinya kita sudah mati bersama-sama dengan Dia di atas kayu salib.

Paulus berkata (Gal 2:19) “Aku sudah disalibkan dengan Kristus.” Ketika kita percaya di dalam Kristus, manusia lama kita dipaku di atas kayu salib, mati di atas kayu salib, bersama-sama dengan Kristus. Namun aku hidup tetapi hidupku yang sekarang bukan aku lagi karena manusia lamaku sudah mati. Tetapi hidupku yang masih didunia ini adalah hidup oleh iman di dalam Anak Allah, yang telah mengasihi aku dan menyerahkan nyawa-Nya untuk aku (lihat Gal 2:20). Inilah iman kita.

Kalau kita sungguh-sungguh percaya, kita boleh berkata hidupku bukan aku lagi tetapi Kristus hidup didalamku. Sadar bahwa seluruh hidup kita adalah milik Tuhan, yang harus kita jalani sesuai dengan kehendak-Nya, harus kita isi dengan hal-hal yang berkenan kepada Dia. Tentu ada jatuh-bangun, namun intinya adalah hidupku di dalam Kristus. Hidupku, perkataanku, perbuatanku harus memancarkan Kristus.

Satu ilustrasi yang menggambarkan hal ini: suatu kali seorang berjalan di atas tali yang terbentang sepanjang Niagara Falls. Setelah bolak-balik beberapa kali, dia bertanya siapa yang percaya dia bisa bolak balik sekali lagi. Mereka menjawab “percaya”. Namun orang itu menantang penonton siapa yang percaya untuk dia gendong menyeberangi Nigara Falls. Tidak ada yang berani, namun ada anak kecil yang memberanikan diri. Kemudian dia menggendong anak itu menyeberang, dan akhirnya sampai bolak balik Niagara Falls. Orang kagum akan dia dan juga anak kecil itu. Namun orang-orang mulai bertanya siapakah anak kecil itu? Ternyata anak kecil itu adalah anak orang itu. Itulah artinya percaya, menyerahkan seluruh hidupnya. Bukan hanya berkata “percaya”.

Setuju secara intelektual juga adalah percaya, namun percaya kepada Kristus itu menyatakan keberanian kita. Betulkah kita percaya kepada Kristus, betulkah apa yang Dia firmankan kepada kita adalah memuliakan Dia dan percaya kehendak-Nya adalah yang terbaik bagi kita.

Semua orang Kristen pasti percaya bahwa doa itu penting. Tetapi betulkah doa itu penting? Betulkah Tuhan mendengar doa? Alkitab berkali-kali mengatakan berdoalah, mintalah dengan segenap hatimu. Seperti perumpamaan Yesus tentang seorang janda yang meminta seorang hakim yang bengis agar perkaranya dibela (lihat Luk 18). Mintalah seperti janda itu yang minta terus-menerus, maka hakim itu menolong juga janda itu. Kalau hakim yang bengis saja akhirnya mengabulkan permintaan janda itu, apalagi Bapamu yang di surga,  yang mempedulikan engkau, yang menginginkan apa yang terbaik bagi mu. Tentu yang terbaik itu bisa jadi tidak mengabulkan keinginan kita, karena yang kita inginkan itu bukan yang terbaik bagi kita. Tuhan memberikan kepada kita sesuai dengan anugerah-Nya.

Engkau tidak dapat apa-apa karena engkau tidak pernah berdoa. Bagaimana hidup doa kita? Doa itu nafas orang Kristen, artinya kalau tidak bernafas itu mati. Tanpa berdoa, hidup rohani kita akan kering, makin jauh dari pada Tuhan, dan akhirnya mati. Saya mendorong kita untuk datang kepersekutuan doa, mendengarkan sharing saudara-saudara seiman yang menguatkan kita. Menyaksikan Tuhan itu begitu real di dalam pergumulan mereka, di dalam pembentukan Tuhan. Itu semua menguatkan iman kita. Tuhan yang hidup di dalam saudara-saudara kita adalah Tuhan yang hidup juga di dalam hidup saya.

Tuhan memberikan doa menjadi sarana menyalurkan anugerah-Nya kepada kita, oleh karena itu datanglah ke persekutuan doa. Kalau kita sungguh-sungguh datang kepada Tuhan, menyerahkan kepada-Nya segala pekerjaan di Gereja ini, juga pergumulan kita masing-masing, saya percaya kita akan dipimpin Tuhan. Tuhan akan memberkati kita, membentuk hidup kita, menyatakan kemuliaan-Nya di dalam hidup kita.

“Binasa”

“..supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Kata “binasa” disini adalah alternatif daripada hidup yang kekal. Kalau engkau percaya maka engkau memperoleh hidup yang kekal, tetapi kalau engkau tidak percaya maka engkau akan binasa, bahkan sudah berada di bawah penghukuman Allah. Yoh 3:18 mengatakan “barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.”  Manusia adalah orang berdosa yang sudah ada di dalam hukuman Allah yang murka terhadap dosa manusia. Yoh 3:36 mengatakan “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada diatasnya.”

Dengan tegas Alkitab mengatakan orang yang tidak percaya itu ada di bawah hukuman. Hukuman Allah yang adil, yang murka terhadap dosa manusia. Tanpa Kristus datang membawa anugerah-Nya, maka kita adalah orang-orang yang berada di bawah hukuman karena dosa-dosa kita. Ketika Injil diberitakan kepada seseorang dan orang itu menolak Injil itu, dan tidak percaya kepada Kristus, maka dia akan binasa. Binasa artinya berada di bawah hukuman murka Allah untuk selama-lamanya. Tidak ada yang lebih mengerikan daripada mengalami murka Allah yang maha kuasa.

Kita boleh melihat kengerian itu dengan singkat ketika melihat Yesus Kristus dipaku di atas kayu salib. Anak Allah yang tunggal, yang suci, yang mentaati Bapa-Nya seumur hidup-Nya, karena Dia menanggung dosa kita, Dia seperti ular tembaga yang ditinggikan. Murka Allah dinyatakan kepada Yesus. Di atas kayu salib Dia berkata “My God, My God why hast thou forsaken me” (Mat 27:46).  Seorang penulis mengatakan bahwa Yesus mengatakan kalimat ini supaya setiap kita yang percaya di dalamnya, tidak perlu meneriakkan kalimat ini lagi.

Tetapi setiap orang yang tidak percaya, yang menolak Yesus, orang-orang itu akan selama-lamanya berteriak di neraka: “My God, My God why hast thou forsaken me”. Ditinggalkan selama-lamanya oleh Allah, adalah arti daripada binasa.

Tetapi Tuhan tidak menginginkan manusia binasa, karena itu Dia mengutus Anak-Nya yang tunggal, supaya barangsiapa yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.

Di akhir hidup kita hanya ada dua alternatif: hidup yang kekal atau mati yang kekal. Kita akan tetap eksis, eksistansi kita tidak akan hilang, tetapi akan ada dua cabang: hidup yang kekal, bersuka selama-lamanya, menatap muka Allah, berbahagia di dalam kemuliaan Kristus, menjadi serupa dengan Dia; atau mengalami mati yang kekal, terpisah selama-lamanya dari pada Sang Hidup itu.

Bagi setiap kita yang percaya, kita mengalami hidup yang kekal bukan hanya nanti tetapi sekarang ini. Hidup yang kekal itu sudah diberikan kita sekarang. Hidup yang baru, Roh Kudus yang memberikan hidup yang baru, sehingga kita menjadi manusia yang baru, menjadi ciptaan yang baru. Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Hidup yang baru itu ditandai dengan hati yang baru, hati yang mengasihi Tuhan, yang mau taat kepada-Nya, hati yang memiliki arah yang baru. Hati yang sebelumnya meninggalkan Tuhan hidup di dalam dosa, sekarang berbalik 180 derajat mentaati Tuhan, makin berkenan kepada Dia, menjadi saksi di tengah-tengah dunia ini. Hidup yang kekal itu sudah mulai sekarang ini, meskipun hidup itu akan menjadi sempurna ketika kita mati dan bertatapan muka dengan Dia.

Kita boleh menyaksikan itu di tengah-tengah saudara seiman. Biarlah kita berjuang dan menyatakan hidup yang sudah Tuhan berikan itu memancar di dalam hidup kita sehari-hari. Biarlah Firman Tuhan ini mengembalikan hidup kita sesuai dengan kehendak-Nya, mengalami jawaban dari doa-doa kita, menjadi berkat yang besar bagi orang-orang di sekitar kita. 

 

 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya