Ibadah

Born Again (6)

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 22 Januari 2017

Bacaan Alkitab: 1 Petrus 1:22-25, 2 Kor 4:1-7

Setelah kita mempelajari aspek-aspek kelahiran baru, maka kali ini kita akan menyimpulkan apa yang telah kita pelajari. Setelah Roh Kudus melahirbarukan kita, maka “so what”, apa yang harus kita lakukan? Kita telah melihat apa itu kelahiran kembali, bagaimana itu bisa terjadi di dalam hidup kita, bagaimana kaitannya dalam pergumulan orang Kristen dengan dosa. Kali ini kita akan simpulkan dengan pertanyaan Apa yang harus kita lakukan? Apa dampaknya di dalam hidup kita? Apa yang harus kita lakukan dan apa peranan kita dalam menolong orang lain untuk mengalami kelahiran kembali.

Melalui bacaan 1 Petrus 1 dan 2 Kor 4 di atas, boleh disimpulkan apa yang harus kita lakukan untuk menolong orang mengalami kelahiran kembali. Yaitu kita harus memberitakan kabar baik tentang Yesus Kristus, dari hati yang mengasihi orang-orang itu dan dengan hidup yang melayani. Saya berharap bahwa seri kelahiran baru ini akan diakhiri di jalanan, di dalam rumah kita, di tempat kerja kita, di sekolah kita, di universitas, di kafe, di tempat parkir ibu-ibu yang sedang menunggu anaknya pulang, di pesawat, di forum-form Whats-App, facebook, Skype, twitter, di tempat olahraga dll. Atau dengan kata lain, akan diakhiri di hidup kita sehari-hari dan tidak akan berakhir di sini, akan terus berlanjut. Kita akan terus memberitakan Injil dari hati yang mengasihi dan dengan hidup yang melayani.

Yang pertama, dalam 1 Petrus 1, Petrus berbicara tentang buah kelahiran baru.

1 Petrus 1:23 menyatakan “Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal.” Setelah mengalami kelahiran kembali maka (1 Petrus 1:22) “hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.” Mengasihi saudara-saudara seiman dan juga orang-orang di luar sana yang belum mengalami kelahiran baru. Kita sadar hanya Allah yang bisa memberikan hidup yang baru itu di dalam jiwa manusia. Di satu sisi Tuhan yang hanya bisa memberikan hidup baru dari benih Firman Allah yang hidup dan yang kekal.  Namun bagaimana Firman itu boleh datang kepada kita, boleh datang kepada orang-orang yang belum mengalami kelahiran baru.

Firman adalah hidup yang artinya Firman yang mempunyai kuasa memberikan hidup yang baru. Kita tidak mampu memberi hidup yang baru, siapakah kita yang bisa membawa orang dari kematian kepada yang hidup. Hanya Firman yang mampu menghidupkan. Firman itu juga kekal, hidup yang baru itu juga akan ditopang Allah selama-lamanya. Ketika Firman itu memberi hidup yang baru, hidup itu bersifat kekal dan Tuhan akan terus memimpin kita.

1 Petrus 2:9 mengatakan “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:”. Panggilan memberitakan Injil adalah panggilan kita. Tuhan mengutus kita untuk memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, memberitakan Kristus yang sudah mati di kayu salib, menggantikan manusia yang berdosa, melalui kebangkitan-Nya mengalahkan dosa dan memberikan pengharapan satu-satunya bagi umat manusia. Kita diselamatkan dan diutus untuk memberitakan pekerjaan besar dari Allah, dan melalui pemberitaan ini, orang-orang boleh diselamatkan, boleh ditarik dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.

Ini adalah panggilan yang sangat mulia yang Tuhan berikan kepada anak-anak-Nya.

2 Kor 4 mengingatkan kita hanya Allah yang bisa membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita: (2 Kor 4:6) “Sebab Allah yang telah berfirman: "Dari dalam gelap akan terbit terang!", Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.”. Kita dulu juga orang yang hidup di dalam kegelapan tetapi karena anugerah Tuhan, melalui hamba-hamba-Nya, melalui teman-teman, melalui anggota keluarga, Tuhan memberikan terang-Nya ke dalam hati kita. Tetapi ayat 2 Kor 4:4 berbicara tentang orang-orang yang tidak percaya “yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus,” Berarti ada orang-orang yang buta, yang tidak mengenal Kristus, yang tidak dapat melihat dan mengerti bahwa Yesus adalah harta yang paling berharga, sehingga tidak mungkin mereka percaya kepada Dia. Karena itu mereka membutuhkan karya Tuhan di dalam hidup mereka. Yang membuka mata mereka sehingga mereka bisa melihat dan menerima Kristus. Karya Allah ini di dalam orang yang belum percaya di sebut sebagai kelahiran kembali.

Kita juga melihat hal yang dahsyat. 2 Kor 4:6 membandingkan kelahiran kembali dengan peristiwa Allah yang menciptakan segala sesuatu, (Kej 1:3) “Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang” Lalu terang itu jadi”. Dia juga yang akan membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita.

2 Kor 4:6 mengatakan “supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.” Ini adalah kalimat yang pendek tetapi begitu  padat dari Paulus. Terang-Nya menjadi jawaban bagi segala bangsa, segala budaya, segala jaman, segala kebutuhan yang paling dalam dari manusia.

Kalau saudara mengerti konteks Paulus waktu menulis bagian ini, dia ada di dalam tiga budaya dan tiga bangsa. Paulus adalah orang Yahudi, dia juga warga negara Romawi, dia juga hidup di kerajaan Romawi yang dikuasai budaya Yunani pada waktu itu. Ketiga bangsa yang Paulus hadapi di dalam hidupnya. Bangsa Yahudi adalah bangsa yang mengejar terang. Di dalam kehidupan orang Yahudi terang itu sangat penting dan sangat berharga. Orang Yahudi berkata kamilah yang memiliki terang itu, Allah yang memimpin mereka dengan tiang awan dan tiang api, di dalam perjalanan mereka di padang belantara. Orang-orang Yunani, bagi mereka yang paling penting adalah pengetahuan (Knowledge), Segala filsafat yang paling penting munculnya dari Yunani.Socrates, Aristotle, Plato adalah filsuf-filsuf Yunani yang memberikan fondasi filsafat sepanjang jaman. Philo-sophy adalah the love of wisdom, mereka sangat bangga akan pengetahuan mereka. Ketika Romawi mengalahkan bangsa Yunani, meskipun mereka dijajah Romawi, namun secara budaya, pemikiran dan pengetahuan, orang Yunani menjajah Roma. Kerajaan Roma menekankan aspek yang lain yaitu kemuliaan; the glory of Rome, kebesaran kaisar, mengalahkan musuh, semuanya ditaklukkan dan Romawi menjadi penguasa yang paling besar.

Paulus hidup di tengah-tengah persimpangan tiga budaya ini, dan di tengah-tengahnya Paulus memberitakan Injil Kristus. Paulus mengatakan (2 Kor 4:6) “Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.” Paulus menggabungkan ketiganya: terang, pengetahuan dan kemuliaan. Apa yang Paulus beritakan di sini artinya adalah Kristus dan Injilnya adalah jawaban segala pergumulan budaya, dari segala bangsa, dari seluruh jaman. Tuhan yang lebih tinggi dari segala kehebatan manusia, Dia adalah Firman yang menjadi sumber dari segala pengetahuan manusia. Dia adalah terang itu, yang menerangi setiap hati manusia yang gelap. Datanglah kepada Kristus karena Dia adalah jawaban dari pergumulan manusia yang paling dalam.

Bagaimana Allah menerangi kegelapan manusia sehingga manusia boleh memiliki terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang tampak pada wajah Kristus? Allah melakukan itu melalui orang-orang Kristen yang memberitakan Kristus dari hati yang mengasihi dan hidup yang melayani. 2 Kor 4:5 “Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus.”

Janganlah kita mendikotomikan atau mempertentangkan apakah kita memberitakan Injil melalui perkataan kita atau melalui hidup kita yang berkenan kepada Allah. Alkitab harus mengatakan harus kedua-duanya. Injil itu harus muncul dari dua aspek. Pertama, harus melalui perkataan kita, Injil itu harus diberitakan. Paulus, para rasul dan seluruh hamba Tuhan memberitakan Injil Kristus yang mati di kayu salib, tentang Kristus yang menebus dosa manusia.

Adalah sangat penting untuk memberitakan Injil. KKR regional juga adalah sesuatu yang rindu untuk kita lakukan. Saya pribadi sudah pernah ikut KKR regional namun kita secara Gereja lokal di sini belum pernah melakukannya bersama-sama. Saya mendengar banyak sharing dari mereka yang mengikuti dan menjalani sendiri KKR regional. Begitu indah pekerjaan memberitakan Injil. Memang kita tidak bisa menjadi kesaksian di sana, karena kita hanya datang sebentar saja, apa yang kita kerjakan tidak bisa memberikan kesaksian tentang hidup kita. Tetapi kita bisa memberitakan Injil, ke desa-desa, ke kota-kota kecil, ke pedalaman, juga ke kota-kota besar, menjadi berkat yang besar. Itulah apa yang Tuhan inginkan.

Hal yang kedua, memberitakan Injil bukan hanya melalui perkataan kita tetapi juga melalui hidup kita. Sering kita mendengar orang berkata “Nggak usah ngomong terlalu banyak lah, hidupnya juga nggak bener”. Tidak boleh salah satu, harus kedua-duanya. Memang engkau harus memberitakan Injil, tetapi hidupmu juga harus benar dengan yang melayani. Paulus mengatakan (2 Kor 4:5) “Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus.” Melayani sebagai hamba, melayani sebagai orang yang mengasihi orang lain, melalui apa yang kita lakukan.

Kalau engkau memberitakan Firman namun hidupmu tidak beres, orang akan menghina engkau. Kalau engkau korupsi, gambling, berzinah, bagaimana engkau bisa memberitakan Kristus, hidupmu sendiri tidak menyatakan terang dan kebenaran Kristus. Sebaliknya, kalau hidupmu beres, pekerjaan beres, keluarga beres, perkataanmu jujur dlsb, tidak cukup sampai di situ. Mengapa tidak cukup? Karena orang akan mengatakan hidup kita baik, tetapi mereka tidak mendengar akan Injil Kristus, mengapa hidupmu baik, orang tidak pernah mengerti alasan dibaliknya. Karena tidak ada Injil yang diberitakan kepada mereka.

Kisah Rasul 26 memberikan gambaran yang menakjubkan tentang peranan kita di dalam kelahiran kembali.  Kis 26:15-18, Paulus menceritakan pengalamannya bertemu Yesus kepada raja Agripa “Tetapi aku menjawab: Siapa Engkau, Tuhan? Kata Tuhan: Akulah Yesus, yang kauaniaya itu. Tetapi sekarang, bangunlah dan berdirilah. Aku menampakkan diri kepadamu untuk menetapkan engkau menjadi pelayan dan saksi tentang segala sesuatu yang telah kaulihat dari pada-Ku dan tentang apa yang akan Kuperlihatkan kepadamu nanti.Aku akan mengasingkan engkau dari bangsa ini dan dari bangsa-bangsa lain. Dan Aku akan mengutus engkau kepada mereka, untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah, supaya mereka oleh iman mereka kepada-Ku memperoleh pengampunan dosa dan mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan.”

Tuhan mengutus Paulus untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang. Di satu sisi memang hanya Allah yang bisa memberi terang, namun di sisi lain Tuhan mengerjakannya melalui kita. Tuhan mengerjakannya melalui perkataan kita, melalui perbuatan kita. Jelas Allah adalah satu-satunya pribadi yang bisa melahir barukan manusia tetapi Dia selalu memakai kita. Tuhan bisa memakai malaikat-Nya, tetapi malaikat tidak diutus untuk memberitakan Injil. Kitalah yang sudah diselamatkan, yang mengerti kasih Tuhan, sekarang kitalah yang diutus untuk membuka mata mereka.

Ini adalah pekerjaan yang terbesar dan terpenting bagi umat Tuhan di tengah-tengah dunia ini. Kalau kita mengerti akan hal ini, maka kita akan sadar akan pentingnya kita ada di dalam gerakan Reform Injili. Pak Tong sering kali mengingatkan kita, kita bukan hanya Gereja reform, tetapi kita juga Gereja reform injili. Karena banyak Gereja reform yang makin menyusut, makin mati, dan salah satu penyebab utamanya adalah karena tidak memberitakan Injil. Gereja reform yang mengerti doktrin yang benar, tetapi tidak dibagikan. Mungkin banyak di antara mereka yang hidupnya benar, tetapi mereka tidak mengatakan itu kepada duinia yang berdosa ini. Padahal Tuhan mengutus Paulus dan anak-anak Tuhan untuk memberitakan Injil untuk membuka mata orang-orang yang belum percaya, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang yang ajaib.

Kalau kita mengerti hal ini, maka kita harus sangat terdorong, dan diingatkan untuk sungguh-sungguh boleh memberitakan Injil Kristus di dalam waktu-waktu yang Tuhan sediakan kepada kita.

Kalau kita mengerti bahwa Injil Yesus Kristus adalah satu-satunya berita yang boleh membawa manusia untuk mengenal Kristus, maka meskipun orang menolak, menghina dlsb. kita harus berusaha habis-habisan. Kita di jaman ini hampir tidak mungkin dibunuh atau dipenjara memberitakan Injil, paling banter, kita diludahi.

Kita harus sadar bukan karena kehebatan kita orang boleh percaya, namun karena Tuhan yang bekerja dan beranugerah kepada orang itu.

Seorang pemuda mensharingkan bagaimana pada mulanya dia merasa takut dan bingung waktu pertama kali ingin memberitakan Injil. Dia datang ke suatu library, dia bertanya di dalam hati: mau berbicara apa? apa yang orang lain pikirkan tentang saya? Namun akhirnya dia menyadari, kalau dia berpikir terus seperti ini, dan Tuhan terus menanti dia, maka ya sudah pulang saja sekalian. Dia berdoa supaya Tuhan yang memimpin apa yang akan dia katakan dan supaya dia melupakan dirinya sendiri. Maka Tuhan pimpin, dan Tuhan memberikan suatu sukacita yang besar. Terlebih dalam percakapan dengan seseorang yang entah bagaimana dia bisa memberitakan Injil dengan cukup detail dan orang itu sepertinya mendengarkan. Memang dia tidak tahu apakah orang itu akhirnya percaya, tetapi sukacita menyadari bahwa Tuhan mengijinkan dia bertemu dengan suatu jiwa yang dibenturkan dengan Firman. Seringkali kita mengalami penolakan, orang-orang mencoba menutup diri, tetapi penghiburannya adalah kita memang diutus untuk memberitakan Injil dan bukan untuk membuat orang bertobat.

Salah satu halangan memberitakan Injil adalah perasaan takut dan tidak mampu. Biarlah 2 Kor 4:7 menjadi penghiburan bagi kita: “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” Kata “Harta” di sini mengacu pada harta akan pengetahuan akan kemuliaan Allah pada wajah Yesus Kristus (ayat sebelumnya 2 Kor 4:6). Harta yang begitu berharga itu ada di dalam bejana tanah liat. Bejana tanah liat itu adalah  yaitu Paulus, kita, saudara dan saya. Kita memberitakan bukan bejananya, bejana itu bukan dari emas. Kita adalah bejana tanah liat yang begitu sederhana, yang tidak memiliki kehebatan apa-apa, tetapi di dalamnya tersimpan harta yang begitu berharga. Harta yang membawa manusia dari gelap kepada terang, dari jeratan Iblis kepada Allah. Jika kita merasa tidak mampu, kesadaran ini posisinya lebih benar daripada orang yang merasa hebat memberitakan Injil. Paulus ingin setiap orang Kristen dari orang yang paling pengalaman sampai yang paling baru ,menyadari bahwa kita semuanya adalah bejana tanah liat, yang nilainya tidak bisa dibandingkan dengan barang yang terkandung di dalamnya. Kita bukan emas, yang emas adalah Injil, itulah yang berharga, yang ada di dalam tanah liat.  

Paulus mengatakan kepada jemaat di Korintus :”Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan”. Aku melakukan tugasku yaitu memberitakan Injil saja. Paulus sadar dia tidak mampu, tetapi Tuhanlah yang dia beritakan. Supaya apa? Supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami (2 Kor 4:7b).

Waktu kita memberitakan dalam kegentaran, rasa tidak mampu, tetapi kita tetap melakukannya, Tuhan akan memimpin dan bekerja, dan melahirbarukan orang-orang sesuai dengan kedaulatan-Nya, dan belas kasihan-Nya. Ketika orang itu bertobat dan percaya kepada Tuhan, kita sadar bukan kekuatan kita, tetapi karena Tuhan yang melahirbarukan.

Berapa hebatnya orang, tidak ada orang yang mampu membebaskan manusia dari gelap kepada terang, dari cengkeraman setan kepada Allah yang ajaib. Hanya Tuhan yang mampu bekerja, tetapi Tuhan ingin memakai kita memberitakan Injil-Nya.’

Kalau kita anak Tuhan maka kita menyadari bahwa Tuhan adalah segala-galanya. Kalau kita tidak pernah mengalami itu, kalau kita tidak mengalami bahwa Tuhan begitu baik, maka itu artinya kita belum pernah sungguh-sungguh sebagai anak Tuhan. Kita perlu terus menerus mengenal kasih Tuhan, di dalam doa, semakin mengenal Dia, makin sadar akan besarnya kebaikan Tuhan. Sehingga kita boleh secara otomatis membagikan anugerah itu kepada orang lain. Kita seolah olah seperti “a beggar telling another beggar where to find bread.” “There is free bread, come and take it”.

Biarlah kita mengalami anugerah dan pertolongan Tuhan di dalam hidup kita, dan terus membangun pengenalan akan Tuhan, sehingga kita bisa bagikan anugerah itu kepada orang-orang lain. 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya