Ibadah

Born Again (4)

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 8 Januari 2017

Bacaan Alkitab: 1 Yoh 5:1-5

Kita sedang melanjutkan eksposisi Yoh 3, tentang percakapan Yesus dengan Nikodemus mengenai kelahiran baru. Doktrin kelahiran kembali adalah doktrin yang sangat penting, yang membentuk kerohanian kita seturut dengan kehendak Tuhan.

Kali ini dari 1 Yoh, kita akan merenungkan apa yang menjadi tanda-tanda kelahiran kembali? Apa yang menjadi hasilnya, buahnya, apa yang menjadi kriteria/ciri-ciri seseorang yang sudah dilahirkan kembali? Surat 1 Yoh sebenarnya ditujukan untuk menjawab pertanyaan ini. Kita tentu tidak akan bisa melihat secara keseluruhannya. Seorang teolog mengatakan bahwa 1 Yoh adalah “the test of life”. 1 Yoh ini berbicara tentang test atau kriteria-kriteria untuk mengetahui apakah kita sudah mengalami kelahiran baru.

Bacaan 1 Yoh 5 menjadi ringkasan dari tema ini. Kita merenungkan ada tiga hal yang menjadi tanda bahwa seseorang sudah memiliki lahir baru. Biarlah waktu kita merenungkan bagian ini, kita juga bisa menguji diri kita masing-masing apakah kita adalah orang yang sudah dilahirkan kembali, apa kekurangan kita dalam hal ini, dan apa yang harus kita kerjakan sebagai orang yang sudah memiliki hidup yang baru.

Kasih kepada Allah dan Sesama

Tanda pertama yang dinyatakan dalam 1 Yoh 5, adalah orang itu memiliki kasih kepada Allah dan kasihnya kepada Allah memancar keluar di dalam kasih kepada sesama.

  • 1 Yoh 5:1 - “Setiap orang yang percaya, bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi Dia yang melahirkan, mengasihi juga Dia yang lahir dari pada-Nya.”
  • 1 Yoh 5:3 - “Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat,”

Ketika seorang sudah mengalami lahir baru, tanda pertama yang ada di dalam hidup orang itu adalah memiliki kasih kepada Allah; dan kasih itu dinyatakan dengan mentaati perintah-perintah-Nya.

Kadang-kadang orang menyamakan mengasihi Tuhan dengan menuruti perintah-perintah-Nya. Namun ini bisa menjadi sesuatu yang keliru karena bukan berarti orang yang menuruti perintah-perintah-Nya itu mengasihi Tuhan. Jadi jangan dibalik. Kalau orang melakukan perintah-perintah Tuhan, bisa melayani dengan giat di Gereja, memberitakan Injil dlsb, belum tentu orang itu mengasihi Tuhan. Orang yang mengasihi Tuhan pasti akan melakukan perintah-perintah-Nya, tetapi bukan berarti orang yang melakukan perintah-perintah-Nya itu mengasihi Tuhan. Karena mengasihi Tuhan itu lebih besar dan lebih dalam daripada hanya menuruti perintah-perintah Tuhan. Sebagai contoh, kalau kita disetop polisi di jalan, maka kita taat kepada polisi itu, tetapi kita tidak mengasihi polisi itu.

1 Yoh 5: 3 menambahkan “Perintah-perintahnya itu tidak berat”. Orang yang mengasihi Allah bukan hanya menuruti perintah-perintah-Nya, tetapi juga orang itu menganggap perintah-perintah-Nya itu tidak berat. Orang itu melakukan perintah-perintah-Nya dengan suka cita. Mazmur 10 mengatakan “Aku suka melakukan kehendak-Mu ya Allah, Taurat-Mu ada dalam dadaku”. Jadi bukan hanya mentaati, tetapi juga suka melakukannya. Mazmur 119:35 “Biarlah aku hidup menurut petunjuk perintah-perintah-Mu, sebab aku menyukainya.”

Kalau kita mengasihi seseorang maka kita akan melakukannya dengan ringan. Sebagai ilustrasi yang lain: ketika saya sedang istirahat di rumah di waktu malam, cuaca dingin sekali dan hujan, dan tiba-tiba ditelepon untuk pergi mendoakan seseorang di rumah sakit yang cukup jauh. Ketika sudah sampai di rumah sakit ternyata kondisi orang itu sudah membaik. Orang sakit itu mengatakan “Pak Budi tidak usah datang, saya hanya merepotkan bapak saja”. Kalau saya menjawab “Sebenarnya saya tidak mau datang, tetapi saya melakukan itu karena itu tugas saya.” Maka orang itu tidak merasa dikasihi oleh saya. Meskipun saya melakukan tugas saya sebagai hamba Tuhan bagi orang itu. Kalau saya tidak mengalami suka cita, dan melakukan itu dengan terpaksa, maka saya tidak mengasihi dia.

Kebenaran Firman itu berinteraksi dengan hidup kita, dan kita bisa mendalaminya. Ada seorang pemuda yang bertanya “Saya punya mamah, saya amat sayang kepada mamah saya, tetapi dia terus perintahkan saya untuk membersihkan toilet, saya sama sekali tidak suka membersihkan toilet, tetapi saya melakukannya juga karena saya mengasihi dia.” Tetapi waktu membersihkan toilet, saya tidak suka melakukan itu. Apakah ini berarti saya tidak mengasihi mamah saya?

Alkitab mengatakan kalau engkau mengasihi Tuhan maka engkau akan melakukan perintah-Nya. Meskipun pemuda itu tidak suka membersihkan toilet, tetapi dia melakukannya juga. Tetapi kalau pemuda itu selalu melakukannya sambil menggerutu, pemuda itu tidak akan tahan melakukan itu, mamahnya lama kelamaan juga akan kesal. Namun kalau pemuda itu terus berusaha, senyuman mamahnya yang melihat toilet yang sudah bersih, itu pasti akan melampaui ketidaksukaan dia dalam membersihkan toilet. 

Kasih kepada Allah itu adalah melakukan perintah-perintah-Nya, dan bukan hanya itu, tetapi juga menyadari perintah-Nya itu tidak berat, dan kita suka melakukannya. Ini adalah ciri yang pertama dari seorang yang sudah lahir baru.

Kita harus mentaati seluruh perintah Tuhan, tetapi secara khusus Yohanes dengan sangat jelas menunjuk kepada perintah kasih kepada sesama, seperti yang dikatakan dalam pasal 1 Yoh 4:20-21 “Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.”

Jadi secara khusus tanda seorang yang sudah lahir kembali adalah dia mengasihi sesamanya, terutama saudara-saudara seiman.

Yoh 13:35: “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”

Kasih kepada sesama adalah tanda saudara sudah lahir kembali. Kasih itu tidak mudah. Kalau kita mengasihi orang-orang yang mengasihi kita tentu itu adalah hal yang mudah. Namun mengasihi orang yang melawan kita, menyakiti kita, yang mengatakan hal-hal yang negative terhadap kita, maka itu tidak mudah, tetapi itulah tandanya kita mengasihi sesama.

Kemudian, Yohanes membalikkan argument ini. (1 Yoh 5:2) “Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya.” Apa kita melihat kebalikkan dari ayat sebelumnya ?  1 Yoh 4:20-21 dan juga 1 Yoh 5:1 mengatakan bagaimana kita bisa mengasihi Allah kalau kita tidak mengasihi saudara seiman? Tanda kita mengasihi Allah adalah kita mengasihi saudara-saudara seiman.

Tapi 1 Yoh 5:2 justru terbalik … Tanda kita mengasihi saudara-saudara seiman adalah jika kita mengasihi Allah serta melakukan perintahnya. Ini membingungkan , apa maksud ayat-ayat ini?

Yohanes menyatakan bagian ini untuk menjaga kita dari salah mengerti tentang kasih. Yohanes tidak ingin kita mengerti akan kasih sebagai kasih yang terlepas dari pada Allah. 1 Yoh 5:2 mengatakan engkau tidak bisa mengasihi saudara-saudara seiman dalam pengertian yang sesungguhnya jika engkau tidak mengasihi Allah. Engkau bisa memberi makan, merawat, memberi kebutuhan orang lain, tetapi engkau tidak bisa melakukan kebaikan yang ultimate kepada orang itu, kalau engkau tidak mengasihi Allah. Apakah kebaikan ultimate itu? Membawa orang itu mengenal Allah, untuk mengasihi Allah. Kalau engkau tidak mengasihi Allah, maka engkau sesungguhnya tidak pernah bisa mengasihi orang itu secara sesungguhnya seperti yang Firman Tuhan katakan. Alkitab itu begitu limpahnya, menjaga kita supaya kita tidak jatuh menjadi orang yang sepertinya munafik, tetapi hidupnya tidak mengasihi saudara seiman. Alkitab juga menjaga kita, untuk mengasihi sesama dengan membawa orang itu untuk mengasihi Allah. Kalau engkau tidak mengasihi Tuhan, engkau tidak bisa melakukannya, dan engkau tidak bisa mengasihi orang lain. Ini menjadi suatu hal yang menarik sekali. Ini menjadi tanda seorang yang sudah lahir baru: kita mengasihi Allah dengan memberikan kasih yang ultimate yaitu dengan membawa orang untuk mengenal Allah.

Ada gereja-gereja tertentu yang amat menekankan kasih, tetapi kasihnya itu menurut pandangan mereka sendiri. Mereka mengatakan Tuhan akan menyembuhkan engkau, memberikan kemakmuran kepada engkau sebagai kasih Tuhan. Tetapi itu bukanlah kasih Tuhan yang sejati yang Tuhan inginkan.

Pak Tong dengan sangat keras menentang pengajaran yang salah dari gereja karismatik. Pak Tong membongkar ajaran yang salah dari siapapun juga, bahkan dari gereja Reform. Mereka memberitakan berita yang salah, yang bukan membawa manusia mengasihi Tuhan, tetapi yang hanya menginginkan berkat-Nya, pertolongan-Nya namun bukan kepada pemberi berkat. Pak Tong memberi contoh saat Musa turun dari gunung Sinai, bersama Yosua, dia mendengar orang Israel yang menyembah lembu emas. Melihat hal itu, Musa marah sekali, Musa melemparkan dua loh batu yang berisi hukum Taurat yang ditulis dengan tangan Tuhan sendiri, sehingga pecah. Untuk mengilustrasikan kemarahan ini Pak Tong melempar Alkitab yang besar dengan keras ke lantai seperti Musa melempar dua loh batu tersebut.

Ini menjadi peringatan bagi kita sekalian. Jangan sampai kita jatuh kepada kasih yang menurut definisi kita sendiri. Tanpa kasih kepada Allah yg sungguh dan benar , maka mengasihi sesama, toleransi kepada sesama, itu adalah tidak mungkin.

Mengalahkan Dunia

Tanda yang kedua dari orang yang sudah mengalami kelahiran baru: kita boleh mengalahkan dunia. 1 Yoh 5:4 mengatakan “Sebab semua yang lahir dari Allah mengalahkan dunia.” Kata “Sebab” di sini mengacu kepada alasan yang diberikan dalam ayat sebelumnya (1 Yoh 5:3) “Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat,”

Apa kaitan antara “perintah-perintahnya itu tidak berat?” dengan “yang lahir dari Allah mengalahkan dunia?” Ada kuasa di dalam dunia ini yang menghalangi kita untuk mengasihi Tuhan dan sesama. Di dalam kelahiran baru, kuasa-kuasa dunia ini sudah dikalahkan dan dipatahkan. 1 Yoh 2:15-17 menjelaskan kuasa-kuasa di dalam dunia: “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” Keinginan daging, keingingan mata, dan keangkuhan hidup adalah kuasa-kuasa dari dunia yang menghalangi kita kepada Allah. Ketiga hal ini adalah salah satu kategori daripada dosa.

Ini adalah alasan utama mengapa kita sulit mengasihi Tuhan, dan merasa perintah-perintah-Nya itu berat. Kita tergoda kepada ketiga hal ini. Kalau hidup kita dipenuhi dengan mengejar kekayaan, memiliki rumah yang lebih besar, pekerjaan yang lebih bagus, maka kita tidak mungkin mengasihi Dia, tidak mungkin mengasihi sesama kita. Justru kita akan menggunakan orang lain, supaya kita mendapat keinginan. Kalau pikiran kita dipenuhi oleh pornografi, oleh lust, keinginan mata, hidup kita ingin kesitu terus, maka kita tidak mungkin mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Kalau kita mengejar harga diri, kemuliaan kita, maka kita tidak mungkin mengasihi Allah dan sesama. Ada waktu-waktu kita bisa jatuh ke dalam ketiga hal ini.

Roh Kudus melalui anugerah-Nya melahirbarukan, dan tandanya adalah semua yang lahir dari Allah mengalahkan dunia. Ketika mendengar Firman dan percaya kepada Kristus, Roh Kudus memberikan hidup yang baru. Hidup yang baru itu mematahkan kuasa dosa, mematahkan keinginan-keinginan kita akan ketiga hal itu. Kita boleh berkata, “(Galatia 2: 20) : hidupku bukan aku lagi melainkan Kristus yang hidup di dalam aku, dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman di dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku”, maka hidup baru diberikan ke dalam hidup kita, dan tandanya adalah kita mengalahkan dunia.

Betulkah kita adalah orang-orang yang sudah mengalahkan dunia?

Iman di dalam Kristus

Tanda yang ketiga yang menunjukkan kita sudah lahir kembali: kita memiliki iman di dalam Kristus.

1 Yoh 5:4b mengatakan “Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.”

1 Yoh 5:5 menjelaskan lebih lanjut “Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?”

Bagaimana cinta akan dunia ini boleh dipatahkan? Karena kelahiran kembali menghasilkan iman di dalam Kritus. Dalam Kelahiran Baru, Roh Kudus memberikan hidup yang baru, dan pada saat yang bersamaan, kita boleh percaya, beriman kepada Kristus. Kita boleh melihat Kristus lebih berharga daripada segala sesuatu. Harta tidak jahat pada dirinya sendiri, pekerjaan kita keluarga kita, pacar kita adalah hal-hal yang baik. Tetapi Paulus mengatakan ketika dia mengenal Kristus maka segala sesuatu dia anggap sampah karena pengenalan akan Dia dia jauh lebih berharga daripada segala sesuatu. Tuhan yang menjadi utama di dalam hidupnya. Ini adalah iman yang mengalahkan dunia.

Percaya bukan hanya di mulut, bukan hanya mengaku pada waktu dibaptis, tetapi percaya bahwa Kristus adalah yang utama di dalam hidup. Dia adalah harta yang paling berharga. Aku akan menjual seluruh hartaku dengan suka cita, dan aku mendapatkan harta yang jauh lebih berharga. Sehingga aku bisa berkata hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. (Filipi 1:21)

Kalau seluruh hidupmu, yang penting adalah apa yang engkau dapatkan di dunia ini, maka waktu engkau mati, engkau akan meninggalkan semuanya, engkau tidak akan untung, tetapi malah rugi besar. Hanya orang-orang yang mengutamakan Kristus daripada segalanya, boleh mengatakan mati adalah keuntungan. Aku meninggalkan semua yang ada di dunia ini, tetapi aku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu Kristus.

Kelahiran kembali adalah penyebab kita boleh beriman kepada Kristus. 1 Yoh 5:1 “Setiap orang yang percaya, bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah”. Jadi lahir baru dulu, baru bisa percaya dan beriman kepada Kristus. Buah daripada kelahiran baru ini, boleh mengasihi Tuhan dan melakukan kehendak-Nya dengan suka-cita, juga mengasihi akan sesamanya.   

Kita harus dapat membedakan antara iman dan kasih. Kelahiran baru menghasilkan iman, iman kemudian dinyatakan dalam kasih kepada Tuhan dan sesama. Tetapi iman dan kasih, keduanya tidak dapat dipisahkan, engkau beriman maka engkau pasti mengasihi sesama; engkau mengasihi sesama, engkau pasti mengasihi Tuhan. Iman dan kasih harus dibedakan. Iman diberikan oleh Tuhan dan respons dari iman adalah kasih.

Mengapa kita harus membedakan antara iman dan kasih? Karena ada waktu-waktu dimana kita akan gagal, karena tarikan dunia ini begitu kuat. Waktu kita jatuh apakah berarti kita mengasihi dunia, dan kasih akan Bapa tidak ada di dalam kita ? 1 Yoh 1 ditulis untuk orang-orang yang bergumul dalam masalah seperti ini. 1 Yoh 2 menjawab persoalan ini: “Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil. Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.” Alkitab ditulis supaya kita jangan berbuat dosa, tetapi Alkitab juga sangat realistis, orang Kristen masih bisa berbuat dosa. Ketika engkau berdosa, engkau tidak mengasihi orang lain seperti seharusnya, jangan engkau ditipu oleh tuduhan setan “lihat kamu masih sama seperti orang lain. Tuhan memberikan penghiburan “jika seseorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara (advokat/pembela) yaitu Yesus Kristus. Meskipun kita berbuat dosa, kita bisa beriman bahwa kita mempunyai Yesus yang akan membela setiap orang yang percaya kepada-Nya, yang sudah dipersatukan dalam Dia. Yesus adalah satu-satunya pengharapan kita dan kita  diselamatkan dan diterima oleh Tuhan, bukan oleh kasih kita kepada orang lain. Sola Gratia, Sola Fide.

Ketika kita jatuh dalam dosa, ketika kita tidak mengasihi Tuhan dan sesama seperti seharusnya, ingatlah kita masih mempunyai seorang pembela. Sehingga kita mengerti bahwa bukan karena kehebatan kita dan pengorbanan kita, tetapi semata-mata karena pengorbanan Kristus yang sudah mati bagi kita. Kita dipersatukan di dalam Kristus, sehingga kita bisa datang kepada Bapa, dan Bapa akan melihat kita di dalam Kristus, bukan karena kehebatan kita, tetapi justru karena kita telah gagal dan boleh datang kepada Bapa di dalam Kristus.  

Seorang tentara Amerika dalam perang Vietnam, dalam kondisi yang sengit-sengitnya, ada tentara lain yang melihat ada ranjau, dan kemudian dia berdiri dan berteriak, sehingga dia tertembak dan mati. Setelah perang itu selesai, tentara yang akhirnya selamat ini ikut di dalam honorary memorial service. Di dalam acara itu, datang juga istri dan anak tentara temannya itu kecil yang tumbuh dengan tidak mengenal ayahnya. Tentara itu berlutut di sebelah anak itu, dan berkata “I want you to know your father saved my life”. Anak ini memandang tentara itu dengan air mata “Sir, were you worth it.” Apakah pengorbanan ayahku itu layak bagi aku.

Pertanyaan ini berlaku juga bagi kita: “Is what your living for is what Christ die for you?” Biarlah kita sebagai Anak-Anak Tuhan, tentu yang masih bisa berdosa,  boleh kembali kepada Tuhan, karena kita diselamatkan bukan karena ketaatan kita, bukan karena kasihku kepada Allah dan sesama, tetapi semata-mata karena kasih Allah kepada kita yang memberi hidup yang baru, oleh Roh-Nya yang Kudus. Sehingga kita boleh beriman, dan melalui iman itu kita harus menghasilkan hidup yang berkenan kepada Dia. 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya