Ibadah

Born Again (5)

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 15 Januari 2017

Bacaan Alkitab: 1 Yohanes 3:7-10; 4:1-3

Saudara sekalian, kita masih melanjutkan akan seri tentang kelahiran kembali. Kali ini saya akan mulai dengan mensharingkan kisah seekor anjing, sebagai ilustrasi untuk boleh masuk ke dalam tema kita secara khusus tentang dampak kelahiran kembali di dalam kehidupan kita.

Anjing ini diberinama Kit, milik seorang jemaat Gereja kita. Pertama kali ditemukan memang sangat kecil sekali seperti anak kambing. Kit ditemukan hampir mati di pinggir tanggul pantai di Jakarta saat orangtua jemmat kita ini sedang lari pagi. Suara Kit kecil sekali, tidak bisa berdiri, dan badannya penuh koreng, hampir mati tetapi masih hidup. Awalnya anjing kecil itu mau ditinggalkan saja tapi muncul rasa belas kasihan dari mereka sehingga akhirnya dibawa pulang. Beratnya cuma 0.5 kg. Setelah dibawa ke dokter, diberi antibiotik dan dirawat selama beberapa minggu, Kit jadi bersih dan sembuh sehingga bulunya mulai muncul. Sekarang Kit berubah menjadi anjing yang sangat lucu, bulunya sangat bagus, matanya jernih, dan beratnya kira-kira 5 kg.

Ini menjadi ilustrasi bahwa seperti itulah hidup kita. Kalau seorang anjing bisa berubah karena kasih sayang dari pemiliknya, begitulah juga hidup kita. Begitulah Tuhan karena anugerah-Nya mengangkat kita dari seorang yang begitu rusak, kacau, tidak berdaya, bukan saja hampir mati tetapi Alkitab mengatakan kita sudah benar-benar mati dalam dosa-dosa kita. Tuhan mengangkat kita, memberi hidup yang baru bagi kita dan kita menjadi hidup segar kembali. Suatu keindahan yang Tuhan kerjakan di dalam hidup kita.

Hari ini kita akan memikirkan bagaimana dampak kelahiran kembali di dalam hidup kita, secara khusus di dalam kaitannya dengan dosa. Ini adalah suatu pertanyaan yang sangat penting dan menjadi pergumulan saya sendiri sebagai orang Kristen. Bagaimana kita yang sudah lahir baru, menjadi manusia baru, bahkan kalau memakai istilah Paulus – aku sudah disalibkan bersama dengan Kristus, berarti manusia lamaku sudah mati, dan hidupku yang sekarang ini bukan lagi aku sendiri yang hidup melainkan Kristus yang hidup di dalam aku – masih bisa berbuat dosa? Ini bukan hanya persoalan konsep, tetapi sangat praktis dalam pergumulan kita sebagai anak-anak Tuhan.

Ada dua hal yang bisa terjadi dalam pergumulan kita ketika kita merenungkan hal ini:

  1. Jika kita dengan jujur menyadari bahwa kita masih berbuat dosa, dan kita pun sadar sebenarnya kita sudah percaya kepada Tuhan, sudah lahir baru, maka apakah sebenarnya kita sudah benar-benar lahir kembali?
  2. Sebagian orang Kristen menganggap adalah suatu hal yang wajar jika orang yang sudah lahir baru itu berbuat dosa. Semua orang Kristen, baik majelis, pengurus, pendeta sekalipun masih berbuat dosa di dalam perkataan, motivasi dan perbuatannya. Jika demikian, berarti memang normal saja bahwa orang Kristen berbuat dosa. Kita terima saja. Ini menjadi suatu kebahayaan karena Yohanes mengatakan dalam bacaan kita tadi bahwa setiap orang yang lahir dari Allah tidak berbuat dosa lagi (3:9). Terjemahan lebih tepatnya adalah ‘tidak terus menerus berbuat dosa’.

1 Yohanes ditulis dengan tujuan supaya kita tahu dengan pasti bahwa kita sudah lahir kembali, bahwa Roh Kudus sudah memberi hidup kekal di dalam hidup kita, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup. 1 Yoh. 5:13 mengatakan, “Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.” Lalu bagaimana kita bisa mengalami realita kebenaran ini di tengah-tengah fakta bahwa kita, orang Kristen, masih berbuat dosa?

Untuk melihat jawaban Yohanes ini sebenarnya kita juga perlu mengerti ajaran-ajaran yang salah yang sedang dihadapi Yohanes pada waktu itu. Pada intinya ajaran yang palsu dan sesat yang dihadapi Yohanes itu menolak bahwa Kristus, Sang Firman yang kekal, telah datang ke dalam daging seperti manusia. Seperti yang ditekankan Yohanes di pasal 4:2. Orang-orang yang tidak mengaku bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia berarti mereka itu tidak berasal dari Allah. Mengapa mereka menolak mengakui hal itu? Karena ada pengaruh dari ajaran Gnostisisme yang mengajarkan bahwa roh itu baik, sedangkan materi itu jahat. Maka mereka mengatakan bahwa tubuh ini adalah penjara jiwa/ roh. Tubuh dianggap jahat. Keselamatan dalam konsep mereka adalah lepas dari tubuh yang jahat dan kemudian mendapat secret knowledge. Gnostik = knowledge/mind/roh yang tak kelihatan. Apa hubungan antara konsep yang sedang dihadapi oleh Yohanes dengan persoalan kita? Konsep yang seperti itu memberi dampak yang besar di dalam hidup kita. Konsep bahwa Yesus Kristus, Allah, Sang Firman yang kekal itu tidak mungkin datang berdaging seperti kita, karena materi ini jahat dan berdosa. Konsep yang salah ini mengatakan tidak mungkin Dia yang adalah Roh bisa bersatu dengan tubuh yang jahat ini.

Doktrin/pengajaran itu memberi dampak sangat besar dalam hidup kita khususnya ketika pengajaran itu membentuk pengertian yang bersifat dualisme (pasal 3:7-8). Di ayat-ayat ini dikatakan ada yang ingin menyesatkan orang-orang Kristen. Kenapa Yohanes menulis seperti ini? Karena orang-orang Gnostik ini mengatakan bahwa tidak apa-apa berbuat dosa, cabul, mabuk-mabukan, pesta pora, dsb karena dosa itu dilakukan di dalam daging; daging kitalah yang berdosa, yang berzinah, yang mencuri, sedangkan rohmu/jiwa kita tidak bisa berdosa. Inilah persoalannya, sehingga Yohanes memperingatkan supaya jangan kita disesatkan karena barangsiapa berbuat benar adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar. Perbuatan mengkonfirmasi akan dirimu. Kalau engkau berbuat jahat maka sebenarnya engkau tidak memiliki Allah, tidak memiliki hidup baru di dalam dirimu.

Saudara sekalian, kita perlu mengerti bahwa segala ajaran/ konsep yang salah akan berdampak di dalam hidup. Itu justru menjadi inti dari hidup yang tidak beres karena pengajarannya tidak beres. Kita selalu berperang, juga di dunia ini ketika gereja-gereja tidak lagi mengajarkan doktrin yang benar sesuai Firman, melainkan mengatakan bahwa yang penting deeds, not creeds. Yohanes dengan jelas mengatakan setiap orang yang berbuat kebenaran adalah benar. Engkau harus mengerti kebenaran, barulah engkau bisa menghasilkan perbuatan yang benar. Kalau hidupmu tidak benar, itu menyatakan bahwa dirimu sendiri tidak benar dan berasal dari iblis.

Kalau kita mengikuti kasus Ahok, saya rasa baik sekali kalau Ahok masuk ke pengadilan. Orang-orang mengatakan bahwa ini adalah langkah cantik dari Presiden Jokowi yang membiarkan Ahok diadili. Begitu masuk ke pengadilan, baru terbongkar semuanya bahwa semua yang menuduh adalah orang-orang bodoh yang tidak memiliki argumentasi apa pun, tidak ada saksi yang jelas, tidak kredibel. Dari situ rakyat yang menonton bisa mulai sadar, tentu ada yang tetap tidak sadar dan hanya ngotot supaya Ahok dipenjara apa pun alasannya. Kehidupan seseorang akhirnya harus bisa dipertanggungjawabkan dari apa yang dia mengerti. Harus ada alasan di balik perbuatannya. Mengapa mereka ngotot memenjarakan Ahok? Tidak ada argumentasi yang jelas, melainkan hanya ada kebencian, dan segala sesuatu yang bersifat SARA.

Demikian juga ketika kita mempelajari akan kehidupan kita sebagai anak-anak Tuhan. Kita harus mengerti bahwa pengajaran yang salah akan memunculkan kehidupan yang salah. Yohanes menjawab akan ajaran yang salah itu menjadi 3 bagian:

1. Yohanes menekankan bahwa Kristus, Sang Firman yang kekal itu, telah datang ke dalam dunia di dalam daging. Persatuan dua natur/ hakikat di dalam diri Kristus ini berlangsung selamanya, karena Dia adalah Allah sejati dan manusia sejati. Dia berinkarnasi menjadi manusia tanpa meninggalkan keilahian-Nya. Salah satu ajaran Gnostisisme yang salah mengajarkan Kristus yang ilahi itu memang datang ke dunia dan bersatu dengan manusia Yesus waktu baptisan saja, hanya sementara, kemudian ketika sebelum mati di atas kayu salib, maka Kristus yang ilahi meninggalkan manusia Yesus, karena itu Yesus mengatakan, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Alkitab menegaskan itu tidak benar. Yohanes berkali-kali menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah satu pribadi yang memiliki dua natur, Allah sejati dan manusia sejati, tidak pernah terpisah selama-lamanya. Ketika Yesus bangkit dari kematian, Dia masih berdaging meskipun daging-Nya sekarang tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu. Thomas mencucukkan jarinya ke tubuh Yesus. Setelah bangkit, Yesus juga makan. Itulah bayang-bayang tubuh kita nanti ketika kita dimuliakan.

Dari kitab Kejadian juga Alkitab menegaskan bahwa Tuhan menciptakan bukan saja roh di dalam dunia kita, tetapi juga menciptakan dunia materi, dan dikatakan bahwa semuanya baik. Tuhan mengambil dari debu dan tanah dan menciptakan manusia dari materi. Ini adalah hal yang baik. Kita tidak boleh meremehkan tubuh kita. Tubuh kita dikatakan menjadi tempat tinggal Roh Kudus, karena itu jagalah tubuh dan taklukkan tubuh kita menjadi senjata-senjata kebenaran. Meskipun tubuh ini memang sudah jatuh di dalam dosa, sehingga bisa mengalami sakit dan penderitaan, tetapi nanti kita mati dan dibangkitkan bersama-sama Kristus. Oleh sebab itu pengakuan iman rasuli mengatakan bahwa kita percaya akan kebangkitan tubuh. Alam semesta yang adalah ciptaan Tuhan, bersifat materi, juga menceritakan kemuliaan Tuhan.

Salah satu dampak dari pengertian ini juga berpengaruh dalam bekerja. Ketika kita mengerti bahwa dunia materi ini tidak pernah diremehkan oleh Allah dan Allah yang menciptakannya, maka kerja dilihat bukan hanya seperti pendeta yang berkhotbah, seperti kerja kantor yang banyak berpikir, seperti Profesor di sekolah yang mengajar, tetapi bahkan pekerjaan fisik yang sehari-hari juga adalah pekerjaan yang berharga. Tuhan pun menempatkan manusia pertama kali di taman Eden sebagai tukang kebun, diperintahkan untuk mengerjakan dan mengusahakan tanah. Ketika Yesus Kristus datang ke dunia, Dia datang bukan sebagai ahli filsafat atau ahli retorika yang sangat dihargai di zaman itu, melainkan sebagai tukang kayu. Martin Luther mengatakan ketika kita berdoa, “berikanlah kepada kami makanan kami yang secukupnya”, maka Tuhan tidak langsung menurunkan roti dari sorga, tetapi ada pimpinan Tuhan melaui proses yang panjang mulai dari pembuat rotinya, ada yang bikin ovennya, ada sopir yang mengirim gandum ke tempat tukang roti, ada petani yang menanam gandum, sehingga roti itu bisa tersedia di meja kita.

2. Yohanes melawan dualisme antara being dan doing. 1Yoh. 2:29, Yohanes menegaskan bahwa kebenaran yang dilakukan seseorang secara fisik mengkonfirmasi bahwa dirinya benar. 1 Yoh. 3:9-10. Yang sudah lahir dari Allah (being) tidak terus menerus berbuat dosa (doing). Jadi karena ada benih ilahi ada di dalam seseorang maka ia tidak terus bebuat dosa. Ini berlawanan dengan ajaran Gnostik. Tidak mungkin seseorang yang mengaku anak Allah dan lahir baru tetapi terus menerus berdosa. Sebab jika pebuatanmu jahat, maka itu menunjukkan keadaan dirimu yang belum lahir baru.

3. Yohanes melawan ajaran bahwa orang Kristen yang sudah lahir baru tidak berbuat dosa. Ini kelihatan seperti berkontradiksi dengan poin 2, tetapi sebenarnya tidak. Orang Kristen memang tidak bisa terus menerus berbuat dosa, tetapi bukan berarti orang Kristen tidak bisa atau tidak berbuat dosa lagi. Ajaran Gnostisisme yang salah mengatakan bahwa the real you is never sin, tubuhmu saja yang berdosa. Yohanes menentang ajaran ini paling tidak 3 kali:

(i)   1 Yoh. 1:8 “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.” Siapa yang dimaksud Yohanes dengan ‘kita’? Kita ini termasuk Yohanes, orang-orang Kristen yang sudah lahir baru. Meskipun kita sudah dibenarkan dan memiliki hidup baru, kita faktanya masih berbuat dosa. Tidak ada orang Kristen yang tidak pernah lagi berbuat dosa. Bahkan Paulus di akhir hidupnya, yang sudah hampir mencapai garis akhir, tetap mengatakan bahwa di antara orang berdosa, dialah yang paling berdosa. John Calvin mengatakan bahwa aspek doa yang paling penting adalah pengakuan dosa. Kita datang kepada Tuhan mengaku dosa-dosa kita (1Yoh. 1:9). Kita perlu mengaku bukan hanya dulu sebelum percaya, tetapi sekarang pun sebagai anak-anak yang sudah lahir baru, kita pun perlu mengakui dosa. Perkataan kita kadang tidak bijaksana, perbuatan kita kadang egois, banyak hal yang kita sadar dan tidak kita sadari tidak berkenan kepada Allah dan menjadi batu sandungan bagi orang lain.

(ii) 1 Yoh. 2:1 “Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil.” Yang lebih tepat bukan pengantara melainkan advokat (pembela). Yesuslah yang membela kita. Kita diselamatkan bukan karena kebenaran kita, bukan karena ketaatan atau kesucian kita, melainkan karena semata-mata kesucian Kristus maka kita boleh datang kepada Bapa. Segala murka dan dosa sudah ditimpakan kepada Kristus, sehingga barangsiapa percaya dan beriman kepada-Nya, boleh menerima kebenaran Kristus. Khususnya ketika kita sadar berbuat dosa, kita datang kepada Kristus dan Dia boleh menjadi pembela kita.

(iii)   1 Yoh. 5:16-17, “Kalau ada seorang melihat saudaranya berbuat dosa, yaitu dosa yang tidak mendatangkan maut, hendaklah ia berdoa kepada Allah dan Dia akan memberikan hidup kepadanya, yaitu mereka, yang berbuat dosa yang tidak mendatangkan maut. Ada dosa yang mendatangkan maut: tentang itu tidak kukatakan, bahwa ia harus berdoa. Semua kejahatan adalah dosa, tetapi ada dosa yang tidak mendatangkan maut.” Apa dosa yang mendatangkan maut? Tuhan Yesus mengatakan bahwa kalau engkau menghujat Anak Manusia, dosamu akan diampuni; tetapi jika engkau menghujat Roh Kudus, maka dosamu tidak akan diampuni. Apa artinya menghujat Roh Kudus? Ini adalah orang-orang yang menolak pekerjaan Roh Kudus yang terus menerus datang kepada mereka. Roh Kudus adalah pribadi satu-satunya yang boleh melahirbarukan kita, memberi hidup kekal bagi kita. Jadi menghujat berarti suatu kekerasan hati yang terus-menerus menolak pekerjaan Roh sampai akhirnya cross the line to the point of no return. Inilah dosa yang tidak bisa diampuni.

Kalau ada orang yang mendengar kebenaran ini dan kemudian gentar, maka kemungkinan besar orang yang memiliki kegelisahan takut menghujat Roh Kudus adalah orang yang belum melakukan dosa yang mendatangkan maut ini. Sebaliknya jika ada yang mendengar kebenaran ini lalu kemudian take for granted, berpikir bahwa dia tidak mungkin pernah masuk ke dalam dosa yang mendatangkan maut ini karena merasa sudah beriman, maka justru bahaya besar.

Pergumulan di atas, kadang-kadang membuat orang Kristen menjadi putus asa, dan kemudian setan memakai ayat Alkitab untuk menuduh kita dengan cara yang salah contohnya 1 Yoh. 3:9. Sehingga kemudian kita putus asa dan makin meninggalkan jalan yang benar. Setan tertawa atas keberhasilannya. Bagi orang-orang yang bergumul, peka dan sadar akan dosanya dan sampai jatuh ke titik ini, saya percaya jika mereka benar-benar anak Tuhan yang sejati, maka Tuhan akan terus menggelisahkan dia. Tuhan tidak akan memberi mereka rasa tenang hidup dalam dosa, dan menarik mereka untuk datang kembali pada-Nya.

Kesalahan kedua adalah banyak orang merasionalisasi memakai ayat Alkitab bahwa orang Kristen memang berbuat dosa, contohnya 1 Yoh. 1:8. Akhirnya kita membenarkan diri dan bersantai karena kita toh mempunyai seorang advokat yang akan membela kita (1Yoh. 2:1) meskipun berbuat dosa. Ini juga tipuan iblis untuk menjauhkan kita dari Tuhan. Kita harus mengerti Firman sesuai dengan apa yang Tuhan inginkan.

Yang benar adalah justru bagi orang-orang yang putus asa, yang sadar diri sering gagal maka sebenarnya ayat-ayat yang kita baca memberi kita pengertian bahwa memang orang Kristen bisa jatuh dalam dosa. Lalu ketika jatuh dalam dosa, kita bisa datang kepada Tuhan, menyadari bahwa perbuatan dosa ini tidak sesuai dengan jati diri kita yang sudah dibenarkan oleh Tuhan, dan boleh membenci dosa itu. Kita datang pada-Nya memohon pengampunan, kita memiliki pembela yang akan terus membela kita. Ini menjadi penghiburan dan kekuatan bagi semua anak-anak Tuhan yang sejati. Sebaliknya bagi orang-orang merasionalisasi hidup berdosanya dan menganggap diri baik-baik saja, maka ayat-ayat yang kita baca menjadi peringatan yang besar. Peringatan bahwa orang yang memiliki benih ilahi tidak bisa terus menerus berbuat dosa. Kita akan berduka ketika berdosa, menyesalinya, minta pengampunan Tuhan, meninggalkan dosa, dan menaati Dia.

Biarlah Tuhan menyatakan anugerah-Nya, memberi konfirmasi kepada kita akan realita kelahiran baru di dalam hidup kita melalui respons kita terhadap Firman-Nya. Respons untuk serius tidak lagi terus menerus berbuat dosa dan respons menerima penghiburan karena adanya Kristus sebagai pembela bagi kita yang masih bisa jatuh dalam dosa. Biarlah kita sebagai anak-anak Tuhan boleh menyambut dua hal ini. Kita jatuh dan bangun lagi, jatuh dan bangun lagi, dan melalui proses ini Tuhan juga boleh turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi Dia, bagi orang-orang yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya, bagi anak-anak-Nya, bagi orang-orang yang sudah lahir baru. Dia turut bekerja bahkan di dalam dosa-dosa kita. Kalau kita lihat Daud, setelah dia berdosa dan kemudian bertobat, Tuhan memakai dia, memberkatinya lagi. Setelah Petrus berdosa dan kemudian bertobat, Tuhan bekerja memakai dia, yang sebelumnya sangat ketakutan menghadapi budak perempuan yang kecil itu, untuk berdiri di hadapan pembesar-pembesar memberitakan Injil Kristus. Biarlah kita juga boleh menyambut peringatan atau penghiburan dari Firman yang dinyatakan bagi kita.

Bapa di sorga yang mengetahui isi hati, pergumulan dan keadaan kita. Biarlah Firman Tuhan yang sudah diberitakan boleh mengerjakan sesuai dengan maksud dan rencana-Nya di dalam hidup kita masing-masing, menegur, memberi peringatan bagi kita yang hidup dalam dosa dan merasa bahwa hal itu adalah hal yang lumrah, menegur dengan keras bahwa yang kita lakukan memberi konfirmasi siapa diri kami sesungguhnya. Biarlah Roh Tuhan bekerja juga menghibur, memberi kekuatan dan kepastian bagi kita, anak-anak Tuhan yang kadang-kadang jatuh di dalam dosa, yang kadang membuat kami frustrasi, yang membuat kita bertanya apakah kita adalah anak-anak-Nya. Biarlah Firman Tuhan meneguhkan, menghibur, bahwa kita yang percaya kepada Kristus adalah orang-orang yang sudah dilahirbarukan, bahwa kita adalah anak-anak-Nya yang memang masih mungkin jatuh dalam dosa tetapi kami boleh datang kepada-Nya mengakui dosa kami. Firman-Nya menghibur dan memberi kekuatan karena kita karena kita memiliki seorang pembela yang membela kita di hadapan Allah Bapa.  Biarlah penghiburan dan peringatan dari Firman Tuhan boleh ada dalam hati dan hidup kami. 

Ringkasan oleh Dewi Sanjaya | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya