Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Natal bukan a Fairy Tale

Ibadah

Natal bukan a Fairy Tale

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 25 Desember 2016

Bacaan Alkitab: Matius 1:1, 3, 5, 6, 16-17

Peristiwa natal yang ditulis oleh Matius tidak dimulai dengan kisah orang Majus yang terkenal, juga tidak dimulai dengan kisah malaikat Tuhan yang datang kepada Yusuf yang memberitakan bahwa Maria, tunangannya itu sedang mengandung. Tetapi Matius memulai akan berita dan peristiwa natal itu dengan menuliskan tentang silsilah Yesus Kristus. Ini sesuatu yang agak membingungkan bagi banyak orang dan juga bagi kita yang hidup di dalam zaman ini. Dalam menceritakan sesuatu, mana ada cerita dimulai dengan silsilah: ini anak siapa; bahkan silsilah yang ditarik sampai begitu jauh sampai pada Abraham – Yesus Kristus anak Daud, anak Abraham.

Di hari natal ini kita akan melihat dan merenungkan bahwa silsilah ini adalah satu berita yang sangat penting yang ditulis oleh Matius bagi kita, khususnya untuk kita mengerti arti natal yang Tuhan ingin nyatakan kepada kita. Hari ini kita akan merenungkan dari silsilah ini dua hal dari apa yang tidak dikatakan oleh Matius dan juga dua hal dari apa yang dikatakan oleh Matius di dalam bagian ini.

 Dua hal yang tidak dikatakan oleh Matius:

1. Matius tidak memulai berita natal ini dengan kalimat  “Pada suatu hari…. (Once upon a time….)”. Dengan kata lain Matius mau mengatakan bahwa apa yang dia tulis bukanlah suatu legenda/fairy tales/dongeng. Waktu Matius menuliskan silsilah, dia mau mengatakan bahwa Yesus Kristus ini adalah tokoh yang lahir di dalam sejarah, pribadi yang pernah hidup di dalam sejarah, bukan metaphor dan fiktif, tetapi suatu pribadi yang real yang ada ayahnya, ibunya, keturunan, nenek moyangnya. Ini adalah sesuatu hal yang penting untuk kita boleh mengerti natur daripada Injil: bahwa Injil adalah kabar baik, berita baik dan bukan nasehat baik (the gospel is the good news and the gospel is not a good advice/ a good story/a good legend). Kalau kita membaca cerita dongeng (fairy tales) seperti si Malin Kundang, itu adalah cerita yang menarik dan menyentuh hati kita karena mengajarkan sesuatu yang baik (pengajaran moral), tetapi kita tahu bahwa itu tidak sungguh-sungguh terjadi. 

Matius mau mengatakan kepada kita Alkitab ditulis dengan silsilah, pertama-tama untuk menyatakan bahwa Injil, Yesus Kristus adalah tokoh sejarah, firman dalam sejarah. Dia hadir dalam sejarah, Dia hidup dalam dunia ini.  Seluruh Injil menyatakan bahwa apa yang Dia katakan, apa yang Dia lakukan, apa yang Dia genapi khususnya di dalam kematian dan kebangkitan-Nya itu adalah berita yang real, berita yang nyata dan seluruh iman kita bergantung pada-Nya.

2. Meskipun Matius tidak memulai dengan “once upon a time…”, tapi apa yang dikatakan tentang Yesus Kristus ini menolong kita untuk mengerti fairy tales khususnya cerita-cerita yang terbaik dengan tepat dan benar. Maksudnya adalah kita tahu bahwa fairy tales/dongeng itu bukanlah peristiwa yang terjadi sungguh-sungguh tetapi sangat disukai orang-orang sepanjang zaman (contoh The Beauty & The Beast) karena cerita dongeng/fairy tales itu menyentuh dan memuaskan kerinduan hati manusia yang dalam; meskipun kita tahu hanya dongeng tetapi ada kebenaran-kebenaran/realita yang kita percaya atau kita ingin percaya bahwa ini adalah sesuatu yang benar (seperti kematian itu bukan akhir dari hidup manusia, kasih itu akan mematahkan kutukan, kejahatan itu ultimately akan dikalahkan) yang seringkali dalam cerita yang realistik itu tidak bisa. Dalam cerita-cerita yang realistik, umumnya berakhir dengan mati, tragedi.  

Masalahnya adalah ketika kita mendengar berita natal dan kita mulai berpikir bahwa ini adalah another fairy tales. Matius mau menegaskan bahwa kisah Natal bukanlah suatu dongeng yang indah yang menunjuk kepada kebenaran-kebenaran di belakangnya. Tetapi Yesus Kristus adalah kebenaran-kebenaran di belakangnya itu. Natal adalah titik temu antara yang ideal dengan yang nyata/ real, yang kekal dengan yang temporary.

 Dua hal yang Matius katakan:

1. Matius menulis silsilah ini dengan menuliskan seluruh nenek moyang dari Yesus Kristus. Kalau kita melihat konteks budaya pada zaman itu, silsilah yang ditulis oleh Matius tidak hanya menceritakan sejarahnya, tetapi hal ini seperti resume hidup seseorang pada zaman itu. Pada zaman itu, jati diri seseorang – siapakah kita, itu lebih banyak ditentukan bukan apa yang kita bisa, pendidikan apa yang kita terima, kemampuan apa yang kita miliki, pengalaman apa yang kita dapatkan, tetapi lebih banyak ditentukan oleh siapa orang tua kita, siapa nenek moyang kita.

Yang mengherankan waktu kita membaca Injil Matius yang memulai dengan silsilah, dia melakukan hal yang mengagetkan tentang resume Yesus Kristus ini. Dalam pembacaan ayat Alkitab hari ini, Matius menuliskan ada 5 wanita yang menjadi nenek moyang Kristus. Hal ini saja sudah mengagetkan karena dalam resume orang Yahudi, wanita hampir tidak pernah ditulis, tetapi hanya para pria (patriarkal). Yang lebih mengagetkan lagi dari 5 wanita itu, ada 3 wanita orang kafir/gentile: Tamar (ayat 3), Rahab dan Rut (ayat 5). Mereka bukan orang-orang Israel, ini adalah orang-orang kafir bagi orang Israel. Lebih lagi dari banyak orang-orang yang ditulis ini memiliki reputasi yang tidak baik kalau kita mempelajari sejarah:

    • Tamar adalah seorang yang mengelabui ayah mertuanya supaya tidur dengan dia. Ini adalah sesuatu yang dilarang oleh hukum Allah; dan dari keluarga yang dysfunctional inilah kemudian Yesus Kristus lahir.
    • Rahab adalah seorang pelacur dan dari keturunannyalah Juruselamat lahir.
    • Dalam ayat ke 6 dikatakan: “Isai memperanakkan raja Daud, Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria”. Di sini sangat mengagetkan karena raja Daud memperanakkan Salomo bukan dari isterinya, tetapi dari isteri Uria. Kalau kita mempelajari sejarah kita tahu siapa Uria dan semakin sadar berapa besarnya kejahatan dari raja Daud. Uria adalah salah satu dari 37 orang yang mempertaruhkan nyawanya untuk Daud ketika Daud dikejar-kejar oleh Saul (2 Samuel 23). Matius tidak menulis nama dari isteri Uria (Batsyeba). Hal ini bukan untuk menghina Batsyeba, tetapi menjadi suatu kritikan yang tajam pada Daud; bahwa dia adalah nenek moyang Kristus dengan mengambil isteri orang lain dan membunuh suaminya.

Dengan menuliskan resume seperti ini Matius mau menyatakan bahwa orang-orang yang tidak dianggap oleh masyarakat, yang dihina oleh banyak orang, bahkan orang-orang yang bersalah dan berdosa berdasarkan hukum-hukum Allah ini adalah orang-orang yang bisa menjadi keluarga Yesus Kristus. Berapa jahatnya, berdosanya mereka, tetapi kemudian mereka bertobat dan percaya kepada Kristus, merekapun boleh menjadi the family of God, brothers and sisters in Christ. Anugerah Allah di dalam Kristus ini menyucikan orang-orang ini termasuk kita dari segala dosa kita dan mempersatukan kita melalui pekerjaan Roh Kudus. Disini Matius mau menyatakan tidak peduli berapa besarnya dosa kita, betapa jahatnya hidup kita, jika bertobat dan percaya kepada Kristus maka anugerah Allah di dalam Kristus menyucikan kita dari segala dosa kita. Pada sisi lain juga dinyatakan bahwa di dalam hidup Kristus ketika kenajisan datang kepada Dia, ketika orang-orang najis itu percaya kepada-Nya justru kesucian Kristus yang akan menular kepada mereka. Kita juga melihat raja Daud yang memiliki semua kehebatan, kemuliaan dan kekayaan dunia. Matius juga menyatakan bahwa Daud pun bisa diselamatkan dan ada di dalam keluarga Yesus Kristus itu adalah semata-mata karena anugerah Tuhan (only by grace). Matius mau menyatakan kepada kita bahwa tidak ada orang yang begitu hebat, yang berkuasa, yang kaya yang tidak memerlukan anugerah dari Yesus Kristus. Dan tidak ada orang yang begitu rusak, begitu jahat, sehingga anugerah Kristus tidak mampu menjangkau dan mengubah dia ketika dia bertobat dan percaya kepada Kristus.

Melalui silsilah ini dengan menceritakan orang-orang yang kejam, orang-orang rusak, yang terpinggirkan, orang-orang yang melakukan kejahatan, Matius mau menyatakan: semua orang bisa masuk, menerima Kristus beriman kepada Dia hanya karena anugerah-Nya. Tidak ada dosa, kejahatan sebesar apapun dimana darah Kristus tidak bisa mengampuni dosa orang ini. Tetapi sekaligus tidak ada orang sehebat apapun, sekaya apapun yang tidak memerlukan anugerah Kristus.

2. Kita boleh mempelajari dari silsilah ini bahwa karya dan pertolongan Tuhan mungkin kita rasa terlalu lambat tetapi Dia pasti menggenapi janji-Nya. Apa yang telah difirmankan-Nya itu tidak mungkin diingkari. Bagaimana kita bisa mengerti hal ini? Matius menulis silsilah ini dengan begitu panjang, ditarik dari Abraham. Memang janji tentang kedatangan Mesias itu sudah diberikan secara lebih spesifik kepada Abraham kira-kira lebih dari 2000 tahun sebelum Yesus lahir: bahwa akan ada keturunan Abraham yang memberkati seluruh bangsa. Malaikat Tuhan baru datang kepada Maria kira-kira 2000 tahun kemudian dan ketika Maria mendengar berita dari malaikat itu, dia memuji Tuhan dan berkata: “Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya” (Lukas 1:54-55).

Point yang sangat penting adalah: kita tidak boleh menilai Tuhan berdasarkan rencana dan timetable kita. Dalam pergumulan, kesulitan, penantian dalam hidup kita yang tidak kunjung tiba, kita kadang-kadang bertanya “berapa lama lagi Tuhan?”  Tetapi kalau Tuhan sudah berjanji dan kalau kita mengerti akan janji-Nya maka biarlah melalui kisah natal ini kita diingatkan bahwa Tuhan janjinya mungkin lambat, tetapi pada waktu-Nya janji Tuhan itu pasti akan terlaksana.

Natal mengingatkan kita bahwa meski pertolongan Tuhan terasa begitu lama, tetapi biarlah kita mengingat selalu bahwa Dia tidak pernah ingkar janji. Dan ketika Dia menyatakan janji-Nya, Ia akan melakukannya melampaui apa yang dapat kita pikir dan kita harapkan. Juga mengingatkan kita untuk terus taat, terus percaya, terus berjalan di dalam kehendak-Nya dan kita akan melihat pimpinan-Nya yang ajaib yang tidak pernah kita pikir dan bayangkan. 

Ringkasan oleh Adrian Gandanegara | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya