Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Inkarnasi Kristus (KKR Natal 2016)

Ibadah

Inkarnasi Kristus (KKR Natal 2016)

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Sabtu, 19 November 2016

Bacaan Alkitab: Matius 1:18-23

Kita bersyukur karena hari ini kita merayakan Natal, walaupun masih di bulan November, karena sebenarnya kita tidak tahu bulan apa Kristus datang ke dunia. Tetapi yang pasti, kita tahu bahwa Kristus telah lahir ke dalam dunia, karena itu kita boleh merayakan Natal kapan saja.

Natal bukan hanya dirayakan oleh orang-orang Kristen, tetapi hampir semua orang khususnya di dunia barat merayakan Natal. Kita yang ada di kota Melbourne ini sangat merasakan suasana Natal. Biasanya Natal menjadi suatu kesempatan kita berkumpul dengan keluarga. Tetangga-tetangga saya sangat sibuk sekali, mereka pergi ke Mall membeli banyak hadiah dan memberikannya kepada anak-cucu mereka. Natal menjadi kesempatan untuk makan bersama dan berpesta. Tetapi keadaan ini membuat kegelisahan dalam orang-orang Kristen dan orang-orang bukan Kristen.

Bagi orang-orang Kristen, mereka sedih karena Natal menjadi semakin sekuler. Apa yang dikerjakan dalam Natal, tidak ada hubungannya dengan iman Kristen. Kita dulu mendengar lagu Joy to The World, tetapi kita sekarang mendengar lagu Have Yourself a little Merry Christmas, yang kalau kita baca kata-kata lagu ini, tidak ada hubungannya dengan apa yang Alkitab katakan.

Tetapi sebaliknya orang-orang yang bukan Kristen merasakan kegelisahan tersendiri. Mereka merasa berita-berita Natal yang berasal dari Alkitab, sangat mengganggu mereka. Mereka gelisah ketika anak-anak bertanya kepada mereka apa artinya Christ was born to give the second birth? Seperti dinyanyikan dalam Hark the Herald Angel Sing. Apa artinya Kristus dilahirkan untuk memberikan kelahiran kedua ?

Saya mengajak saudara untuk merenungkan berita utama dari Natal. Berita Natal yang sangat penting yang sudah Tuhan nyatakan dalam Alkitab. Bahwa Allah telah datang ke dalam dunia menjadi manusia dan tinggal beserta kita. Ini adalah suatu misteri yang besar. Bagaimana Allah pencipta langit dan bumi, boleh datang ke dalam dunia sebagai seorang bayi.

Kita akan merenungkan tiga aspek:

  • Yang pertama, bahwa Yesus itu adalah Allah itu sendiri
  • Yesus itu adalah manusia, dan
  • Yesus ada beserta kita.

Saat saya mempersiapkan kotbah ini, saya berpikir untuk membahas ketiga secara terpisah. Tetapi waktu saya merenungkan ternyata tiga aspek ini bercampur menjadi satu. Ini adalah suatu misteri yang besar yang boleh kita renungkan bersama-sama.

Yesus adalah Allah. Ada beberapa hal yang dinyatakan Matius, untuk memberitakan berita utama Natal. Matius mau mengatakan Yesus bukan sekedar guru yang hebat, namun Yesus jauh lebih besar daripada malaikat. Matius mau mengatakan bahwa Yesus adalah Allah itu sendiri. Mat 1:20 mengatakan ketika malaikat datang kepada Yusuf, dia berkata, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.” Malaikat berkata kepada Yusuf bahwa dia hanya akan menjadi ayah dalam pengertian yang sekunder, karena Yusuf bukanlah sesungguhnya ayah kandung daripada Yesus. Maria sudah mengandung, dan mengandung dari Roh Kudus. Malaikat mau mengatakan Allah-lah ayah yang utama daripada Yesus Kristus. Terlebih lagi, Matius 1:23 mengatakan “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" --yang berarti: Allah menyertai kita”. Ini adalah kutipan dari Yes 7:14 yang ditulis kira-kira 700 tahun sebelumnya. Para pemimpin agama Yahudi mengetahui nubuatan ini. Tetapi mereka tidak pernah berpikir bahwa ayat ini harus diterima secara literal. Matius mau mengatakan kepada orang Yahudi yang menerima surat Matius, bahwa janji yang dinyatakan Yesaya adalah jauh lebih besar daripada yang kamu pikirkan. Yesus Kristus adalah Allah beserta kita. Karena janin yang sedang bertumbuh di dalam kandungan Maria, adalah mukjijat yang dilakukan Allah. Anak ini adalah Allah itu sendiri. Kehadiran Kristus adalah Allah beserta kita.

Semakin mengagetkan kalau kita mengerti latar belakang Matius. Matius adalah seorang Yahudi yang tidak pernah menerima konsep bahwa Allah bisa menjadi manusia. Seorang Yahudi pada jaman itu berbeda dengan orang-orang yang mengikuti agama-agama dari Timur. Agama-agama Timur mempercayai bahwa allah itu adalah allah yang impersonal, sehingga kuasanya bisa ada dimana-mana. Percikan ilahi itu bisa ada di pohon, bisa ada di batu, apalagi bisa mungkin ada di dalam diri manusia. Jadi agama timur tidak terlalu susah menerima bahwa Yesus itu adalah Allah. Juga pada waktu itu, agama-agama di Barat percaya bahwa allah itu personal, tetapi personal-god itu bukanlah yang maha kuasa. Sehingga allah itu bisa menyamar sebagai manusia biasa. Mirip seperti acara Undercover Boss, yang tidak ada yang mengetahui sampai di akhir acara dibukakan bahwa orang itu adalah Boss. Agama-agama di Yunani dan Romawi percaya bahwa allah bisa menampakkan diri sebagai manusia. Tetapi bagi orang Yahudi, Allah itu personal dan tidak terbatas. Sehingga bagi orang Yahudi sangat sulit untuk menerima Allah yang tidak terbatas itu bisa datang sebagai seorang manusia. Terlebih lagi orang-orang Yahudi sangat menyadari bahwa perjanjian lama menyatakan perbedaan yang sangat mendasar akan creator dan creatures. Agama Yahudi sangat percaya bahwa pencipta itu tidak mungkin diciptakan, dan yang diciptakan itu tidak mungkin adalah pencipta. Pencipta tidak diciptakan, yang diciptakan pasti bukan pencipta. Jadi mengatakan bahwa Yesus adalah Allah adalah sangat tidak masuk akal di dalam konteks sejarah Yahudi.

Tetapi Yesus Kristus datang ke dalam dunia melalui hidup-Nya dan perkataan-Nya, khususnya kematian-Nya dan kebangkitan-Nya, maka murid-murid termasuk Matius menyadari sesuatu yang melampaui pikiran mereka. Bahwa Yesus Kristus bukan hanya seorang nabi yang mengajar manusia bagaimana mencari Allah, tetapi Yesus Kristus adalah Allah sendiri yang datang untuk mencari manusia.

Kalau kita melihat di dalam Alkitab, maka bukan hanya Matius yang mengatakan hal ini, Yoh 1:1 mengatakan bahwa “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Dengan kata lain Firman yang menjadi manusia itu adalah Allah itu sendiri. Dia tidak diciptakan tetapi segala sesuatu diciptakan melalui Dia. Paulus dalam Kol 2:9 mengatakan “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan”. Petrus mengatakan Yesus adalah Allah dan juruselamat kita.

Terlebih lagi Yesus sendiri menyamakan diri-Nya dengan Allah, dengan apa yang Dia katakan. Yesus mengatakan “Anak Manusia berkuasa untuk mengampuni dosa” (Mat 9:6), tidak ada seorangpun yang boleh mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa, hanya Allah yang mampu mengampuni dosa manusia. Tuhan Yesus mengatakan “Aku akan datang kembali untuk menghakimi bumi”, ini adalah pekerjaan yang hanya bisa dilakukan oleh Allah. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya banyak orang yang menjadi percaya dan menyembah Dia. Thomas yang tadinya tidak percaya ketika bertemu dengan Kristus dia tunduk menyembah Tuhan dan berkata “Ya Tuhanku dan Allahku” (Yoh 20:28).

Saya mengajak kita untuk memikirkan apa artinya hal ini bagi saudara. Jika Yesus adalah Allah, apa dampaknya bagi kita? Ada beberapa hal yang menjadi implikasi dalam hidup kita.

Yang pertama adalah “Yesus adalah Allah” adalah sesuatu yang menjungkirbalikkan pikiran kita. Ada orang yang mengatakan sulit untuk menerima mukjijat yang dilakukan Yesus Kristus. Tetapi kalau Yesus yang datang ke dalam dunia adalah Allah itu sendiri maka tidak ada kesulitan apapun untuk membangkitkan orang mati menjadi hidup, tidak ada kesulitan apapun untuk meredakan badai, tidak ada kesulitan untuk memberi makan 5000 orang dengan 5 roti dan 2 ikan. Ada orang yang mengatakan kebangkitan Yesus Kristus dari kematian adalah mukjijat yang terbesar, tetapi banyak juga teolog yang mengatakan bahwa inkarnasi adalah mukjijat yang terbesar. Karena pencipta alam semesta datang sebagai seorang bayi,tanpa kehilangan keilahian-Nya. J.I. Parker mengatakan “nothing in fiction is so fantastic as this truth of the incarnation.” Sesuatu yang tidak ada di dalam pikiran manusia, sesuatu yang menjungkir balikkan pikiran manusia.

Yang kedua, jika kita mengerti dan percaya bahwa Yesus adalah Allah itu sendiri, maka kita harus mengalami krisis di dalam hidup kita. Krisis adalah suatu peristiwa yang menjadi turning-point di dalam hidup kita. Kalau kita mengikuti apa yang terjadi di Indonesia, khususnya di Jakarta, maka banyak orang yang mengatakan apa yang terjadi terhadap Pak Ahok, menjadi krisis di dalam bangsa Indonesia. Pak Tong sendiri mengatakan peristiwa Ahok ini bisa menjadi turning point dari bangsa Indonesia. Kalau dia diperlakukan tidak adil, kemungkinan besar Indonesia harus mundur kira-kira 40 tahun, tetapi kalau dia diperlakukan dengan benar dan adil, maka Indonesia justru maju menjadi negara demokrasi yang sangat dikagumi di tengah-tengah dunia ini.

“Yesus adalah Allah” adalah krisis yang jauh lebih besar di dalam hidup manusia. Kita bisa melihat hal ini dari apa yang dikatakan dan dilakukan Yesus. Apa yang Dia lakukan mendapatkan reaksi yang ekstrim dari orang-orang pada saat itu. Orang-orang menjadi sangat marah, dan melakukan konspirasi untuk menangkap dan membunuh Kristus. Tetapi sebagian orang lain yang mendengar dan melihat apa yang dilakukan Kristus, mereka menyadari bahwa Yesus adalah Tuhan. Mereka sujud dan menyembah Dia.

Mengapa ada dua reaksi yang ekstrim terhadap Yesus Kristus? Karena apa yang Dia katakan tentang diri-Nya sendiri. Karena kalau apa yang Dia katakan itu benar, maka hidup kita harus berpusat kepada Dia. Tetapi kalau apa yang Dia katakan adalah tidak benar, maka Dia adalah orang yang harus dibenci bahkan harus dibunuh.

Tetapi ada satu hal yang tidak mungkin kita lakukan terhadap Dia, yaitu kita tidak bisa hanya menyukai Yesus. Kalau kita membaca respons orang-orang terhadap Kristus, tidak ada orang di dalam Alkitab yang berkata seperti ini “oh Yesus itu sangat memberi saya banyak inspirasi, memberi keinginan untuk hidup lebih baik”. Banyak orang di jaman ini yang berpikir seperti demikian. Menghargai Dia menghormati Dia tetapi tidak mau mengakui bahwa Dia adalah Tuhan atas hidup mereka. Pengaruh Yesus jauh lebih dalam dan radikal daripada perkataan-perkataan itu. Jika bayi yang terbaring di dalam palungan itu adalah Allah yang perkasa, maka kita harus menundukkan seluruh hidup kita kepada-Nya.

C.S. Lewis memberikan point di dalam bukunya “Mere Christianity”. Yesus Kristus datang bukan hanya untuk menambal gigi kita, bukan untuk membersihkan pohon dengan memotong daun-daun, bukan untuk memperbaiki kehidupan kita yang lama. Dia datang untuk mencabut seluruh gigi kita, Dia datang untuk mencabut pohon sampai akar-akarnya. Dia datang untuk menghabisi dan membunuh hidup kita yang lama. Tetapi kemudian Dia datang untuk memberikan hidup yang baru !

Kita tidak bisa hanya menyukai Yesus Kristus. Hanya ada dua kemungkinan: kita memperlakukan Dia sebagai penjahat yang besar, pembohong yang besar, atau kita mengakui Dia adalah Tuhan dan berkuasa atas seluruh hidup kita. 

Kita juga bisa melihat dari hidup Yusuf. Ketika Malaikat Tuhan datang kepada Yusuf, dia memberitahu Yusuf untuk menamakan anak itu Yesus (Matius 1:21). Jaman itu memberi nama seorang anak adalah hak absolut dari ayahnya. Ini adalah hak prerogatif ayah, sebagai bentuk otoritas antara orang tua kepada anak. Malaikat mengambil hak itu dari tangan Yusuf. Malaikat mau berkata kepada Yusuf: jika Yesus hadir ke dalam hidupmu, engkau tidak berkuasa atas Dia, tetapi Dia akan berkuasa penuh akan hidupmu.

Ada orang mengatakan “aku tertarik menjadi orang Kristen asalkan aku tidak harus melakukan hal-hal tertentu, saya mau taat kepada Tuhan jikalau saya tetap dapat melakukan apa yang saya ingin lakukan.” Apa yang sedang dikatakan orang-orang semacam ini? Mereka berusaha mendefinisikan atau menamakan Yesus. Mereka menjadikan Yesus pemberi nasihat, yang nasihatnya boleh mereka terima atau tidak. 

Malaikat Tuhan mau berkata kepada Yusuf dan kepada kita: tidak bisa begitu, jika Yesus hadir di dalam hidupmu, sungguh-sungguh datang dan beserta kita, maka Dia akan berkuasa atas hidup kita. Dia yang akan menamakan kita, dan bukan kita yang menamakan Dia. Ini adalah sebenarnya kabar yang terindah. Ketika Dia datang ke dalam hidup kita, bukan kita yang menamakan Dia, tetapi Dia yang memberi nama kepada kita. Nama yang paling mendasar yang diberikan Kristus kepada kita adalah “orang berdosa”. Matius 1:21 mengatakan “karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Dia datang ke dalam dunia untuk menyelamatkan orang berdosa.

Kita harus mengakui dan menyadari hal ini, sebelum kita boleh mengalami segala penghiburan, pengharapan dan suka-cita yang dijanjikan Kristus. Tanpa menyadari dan mengakui bahwa kita adalah orang berdosa, maka kita tidak mempunyai bagian apapun dari apa yang Tuhan janjikan. Kita bersyukur memiliki Allah yang maha kudus dan maha kasih. Dia datang ke dalam dunia untuk menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.

Jikalau Allah hanya Maha Kudus, maka Dia tidak akan datang ke dalam dunia. Dia hanya akan memerintah dan memaksa kita untuk hidup sesuai tuntutan moral dan kesucian-Nya. Kalau Allah hanya Maha Kasih, juga Dia tidak perlu datang ke dalam dunia, karena Dia akan mengabaikan dosa dan kejahatan, dan menerima kita begitu saja. Kalau Allah hanya Maha Kudus atau Allah hanya Maha Kasih maka tidak ada hari Natal.

Kita bersyukur hari Natal kita rayakan karena Allah dua-duanya Maha Kudus dan Maha Kasih. Dia Maha Kudus karena itu Dia mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk mati bagi kita. Dia tidak bisa mengabaikan dosa begitu saja sebab dosa adalah sesuatu yang begitu besar di mata Tuhan. Dosa itu melawan apa yang ada di dalam pikiran, rencana, dan diri Allah. Dia mengatakan upah dosa adalah maut. Kalau Tuhan mau menyelamatkan kita maka harus ada kematian. Kematian yang Dia berikan adalah kematian Anak-Nya sendiri yang datang ke dalam dunia bagi kita. Kita bersyukur Allah adalah juga Maha Kasih, karena itu Dia mengirim Anak-Nya yang tunggal menyelamatkan kita dari dosa kita.

Di atas kayu salib ketika Yesus Kristus berseru “My God, My God why hast Thou forsaken me?” (Mat 27:49) di situ Dia menyatakan kesucian dan keadilan Allah. Karena kesucian dan keadilan Allah, maka Allah tidak bisa berkompromi dengan dosa. Anak Allah yang tunggal harus mati di atas kayu salib. Kita bersyukur karena bukan kita yang mati di atas kayu salib, tetapi Anak-Nya yang tunggal mati menggantikan kita. Sehingga kita yang percaya dan beriman di dalam Kristus, boleh diselamatkan dari murka Allah yang Kudus itu. Kita bersyukur Allah yang Maha Kasih sekaligus Maha Kudus, sehingga kita boleh merayakan Natal pada hari ini.

Saya akan tutup dengan suatu perumpamaan yang Tuhan Yesus ajarkan di dalam Alkitab yaitu perumpamaan anak yang hilang (lihat Luk 15). Sebagian besar dari kita sudah pernah mendengar cerita ini. Seorang anak yang melawan orang-tuanya dan meminta warisannya yang seharusnya hanya akan dia dapatkan waktu orang-tuanya meninggal. Namun dia mengambil warisan itu, dan menghabiskannya. Ketika uangnya sudah habis, tidak ada apapun yang bisa dia makan, dan dia harus pergi menjaga babi, sesuatu yang sangat merendahkan dia sebagai seorang Yahudi. Waktu menjaga babi, dia sangat lapar dan waktu dia mau makan makanan babi, maka penjaga mengatakan “tidak boleh, itu untuk babi, bukan untuk kamu, tidak ada makanan yang boleh kau makan.” Maka dalam kesusahan yang begitu berat, dia teringat akan ayahnya, akan kasih ayahnya, maka dia berkata “aku akan kembali kepada ayahku, karena di rumah ayahku, begitu banyak karyawan yang mendapat makanan yang begitu limpah, dan saya kelaparan di sini. Aku akan pergi dan berkata kepada ayah, “Bapa, aku telah berdosa terhadap Bapa dan terhadap sorga, terimalah saya sebagai salah satu pegawaimu.” Waktu dia berjalan pulang maka ayahnya dari jauh melihat dia, maka berlarilah ayah itu mendapatkan anaknya itu.

Satu kali seorang Kristen membaca cerita ini, dan pergi kepada seorang pelukis yang terkenal di kotanya. Orang itu meminta pelukis itu untuk membaca dan melukiskan kisah ini. Pelukis itu kemudian membacanya dan meminta waktu untuk membuat lukisan. Satu bulan kemudian orang itu datang lagi, dan pelukis itu sudah menyelesaikan lukisannya. Waktu orang itu mencari lukisan yang dia pesan, dia tidak menemukan lukisan yang seperti dia inginkan. Ternyata pelukis itu membuat lukisan yang tidak dia duga. Lukisan itu menggambarkan dari belakang seorang yang sudah tua yang berlari sambil membuka tangannya. Orang itu berpikir lukisan itu memberi fokus kepada anak yang hilang, tetapi pelukis itu melukiskan dengan tepat apa yang diceritakan dalam kisah ini. Anak yang hilang digambarkan jauh sekali, kecil sekali. Tetapi yang besar adalah ayahnya yang sudah tua yang berlari membuka tangannya. Ketika anaknya itu masih jauh, maka ayahnya yang sudah tua itu berlari mendapatinya, memeluk dia, dan berkata “anakku yang sudah mati, sekarang hidup kembali, anakku yang hilang, sekarang ditemukan kembali”. 

Inilah kasih Tuhan yang mengutus Anak-Nya yang tunggal – Yesus Kristus – datang ke dalam dunia. Kita rayakan kelahiran Anak itu di dalam Natal. Inilah kasih Tuhan yang begitu besar, mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk mati bagi kita. Anak-Nya itu adalah Allah itu sendiri yang datang ke dalam dunia sebagai manusia. Dia menjadi manusia berdaging dan berdarah seperti kita, supaya Dia boleh mati menggantikan kita.

Sekarang kita tahu mengapa Yesus harus datang ke dalam dunia? Karena Allah adalah suci yang tidak mungkin berkompromi dengan dosa. Kasih Allah yang begitu besar yang menerima seperti seorang ayah yang menerima anaknya yang sudah berdosa dan hancur hidupnya. Kita tahu bahwa Allah menerima kita bukan dengan begitu saja tetapi Dia menerima kita dengan harga Anak-Nya sendiri yang mati bagi kita.

Inilah misteri Inkarnasi. Allah pencipta langit dan bumi datang sebagai manusia, dan di dalam keadaan-Nya sebagai manusia Dia taat seumur hidup-Nya, bahkan taat sampai mati di atas kayu salib.

Biarlah kita mengerti satu hal bahwa Yesus Kristus yang datang sebagai seorang bayi adalah Allah sendiri. Dia adalah Allah yang sejati sekaligus manusia sejati, Dia datang untuk mati menebus dosa kita. Kalau ada diantara kita yang tergerak akan kisah ini, biarlah saudara tergerak di dalam hatimu, menjadi percaya dan beriman kepada Kristus. Karena Tuhan Yesus berkata “Barang siapa percaya kepada-Ku, ia akan diselamatkan, Aku akan memberi hidup kekal kepadamu, Aku memberi hidup baru ke dalam hidupmu.” Hidupmu menjadi hidup yang ada di dalam Kristus, dan engkau boleh makin mengenal Dia, dan mengerti mengapa kita ada di dunia ini. Bukan hanya engkau menjadi orang yang diterima Kristus, tetapi juga engkau boleh memiliki kesukaan, damai sejahtera yang dari Tuhan yang melampaui segala akal. Bukan berarti tidak ada kesulitan dan pergumulan di dalam hidup kita tetapi ada Tuhan yang selalu menyertai dan memimpin kita. 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya