Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Percaya yang tidak Sungguh-Sungguh Percaya

Ibadah

Percaya yang tidak Sungguh-Sungguh Percaya

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 6 November 2016

Bacaan Alkitab: Yoh 2:23–3:3

Tujuan utama Rasul Yohanes di dalam memberitakan dan menulis Kitab Injil ini yaitu supaya kita percaya bahwa Yesus adalah Mesias, anak Allah itu sendiri.  Yohanes memberitakan ayat demi ayat, peristiwa demi peristiwa, perkataan demi perkataan Tuhan Yesus dengan tujuan yaitu menyatakan pekerjaan Kristus, perkataan-Nya, kuasa-Nya, kemuliaan-Nya supaya orang yang melihat, membaca, mendengar Firman Tuhan itu menjadi percaya, mengenal akan Kristus dan melalui pengenalan dan iman mereka kepada Kristus mereka memperoleh hidup yang penuh dengan kemuliaan. Hidup yang berkelimpahan yang Tuhan sediakan, hidup kekal yang bukan hanya dinyatakan dialami nanti tetapi hidup yang dialami sekarang.

Pembacaan ayat Alkitab di atas, khususnya Yoh 2: 23-25 seharusnya menggelisahkan kita dan paling sedikit membuat kita berpikir dalam dan merenungkannya dengan sungguh.

Dalam ayat 23 dikatakan: “Dan sementara Ia di Yerusalem selama hari raya Paskah, banyak orang percaya dalam nama-Nya, karena mereka telah melihat tanda-tanda yang diadakan-Nya.”  Bukankah ini tujuan dari Yohanes dan bukankah ini tujuan dari Yesus? Yesus datang supaya mereka percaya kepada-Nya. Namun Yoh 2:24-25 menyatakan: “Tetapi Yesus sendiri tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka, karena Ia mengenal mereka semua, dan karena tidak perlu seorangpun memberi kesaksian kepada-Nya tentang manusia, sebab Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia”.

Ada dua hal yang akan kita renungkan dalam bagian ini:

1. Kemuliaan Kristus yang Maha Tahu, yang melihat isi sedalam hati manusia.

Dalam Yohanes 1:14 dan 16, Kitab Suci ingin kita melihat kemuliaan Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. Ayat Yoh 2:23-25 secara khusus menyatakan kemuliaan Kristus yang Maha Tahu supaya orang percaya, beriman sungguh-sungguh dan mengalami anugerah demi anugerah yang Tuhan inginkan.

Tiga langkah kemuliaan Kristus yang dinyatakan Injil Yohanes ayat 23-25:

  • Yesus mengenal mereka semua (ayat 24). Implikasi hal ini adalah Dia tahu/mengenal apa yang ada dalam hati manusia. Yesus tahu semua hal tentang semua orang. Contoh Yohanes 6: 64: “…Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya.” Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia.”  Dari pertama Tuhan Yesus memanggil Yudas dan kemudian dalam perjalanan selama tiga setengah tahun bersama dengan murid-murid yang lain, Dia sudah tahu hati Yudas. Dia tidak pernah dikagetkan dengan pengkhianatan Yudas, dan Dia menentukan waktu, keadaan, situasi Dia akan diserahkan untuk mati menebus dosa kita.

Biarlah kebenaran ini yaitu bahwa Yesus mengetahui segala sesuatu tentang semua orang itu boleh kita terima dan simpan dalam hati kita, dan kita boleh mengerti dan kagum akan kebenaran ini. Banyak hal yang kita tidak tahu, tetapi bagi Tuhan tidak ada yang tersembunyi. Kadang-kadang kita kagum pada orang-orang yang begitu banyak pengetahuan dan bijaksana. Tetapi kita harus sadar waktu kita berhadapan dengan Tuhan berapapun besar pengetahuan seseorang dibandingkan dengan pengetahuan Kristus maka itu seperti 1 titik air di dalam lautan.

Kristus tahu sejak awal penciptaan segala sesuatu hingga akhir segala sesuatu, dari kekekalan sampai kekekalan, Dia mengetahui satu persatu dari semua orang di dalam semua hati kita. Dia mengetahui sedalam-dalamnya hati kita. Kita harus menyadari betapa besarnya Dia, betapa dahsyatnya, agung dan mulianya Kristus.  Tidak ada bagian hidup kita yang tersembunyi di hadapan-Nya. Seperti pemazmur berdoa “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal” (Mazmur 139:23-24).

  • Tidak perlu seorangpun memberi kesaksian kepada-Nya tentang manusia.
  • Kita harus bersyukur bahwa Dia tahu sedalam-dalamnya hati kita, tetapi Dia tetap mengasihi kita. Contoh: Petrus yang menyangkal Yesus 3 kali. Setelah Yesus bangkit, Dia menghampiri Petrus yang masih goncang, sedih, bingung dan kacau hatinya. Tuhan memulihkan Petrus: 3 kali Petrus menyangkal Tuhan dan 3 kali Tuhan bertanya kepada Petrus  (lihat Yoh 21) “Apakah engkau mengasihi Aku?” dan Petrus menjawab dengan sedih “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu,…”.  Tuhan tahu segala kejahatan kita, tetapi Dia tetap rela mati bagi kita.

2. Ketika Yesus melihat isi sedalam hati manusia, maka ada sejenis percaya yang tidak sungguh-sungguh percaya

Yohanes 1:12 menyatakan: “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;”

Dalam Yoh2:23 dikatakan banyak orang yang percaya pada Yesus tapi Yesus tidak bersukacita karena Yesus mampu melihat hati mereka. Yesus tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka (Yoh 2:24). Artinya mereka bukan anak-anak Allah, mereka bukan beriman seperti dalam Yohanes pasal 1:12. Kalau mereka anak-anak Allah, pasti Yesus bersukacita, mempercayakan diri-Nya kepada mereka.

Ada dua petunjuk yang menyatakan bahwa orang-orang itu bukan orang yang sungguh-sungguh percaya:

  • Dalam Yohanes 3:1-2  Nikodemus percaya bahwa Yesus diutus Allah dan Allah menyertai Yesus. Tetapi disini percaya yang bukan menyelamatkan, bukan iman yang sejati, percaya yang bukan menjadikan dia dan orang-orang yang percaya seperti Nikodemus menjadi anak-anak Allah, percaya yang belum mencapai apa yang Tuhan inginkan. Karena itu Yesus menjawab “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah” (Yoh 3:3)
  • Yohanes 2:23: “Dan sementara Ia di Yerusalem selama hari raya Paskah, banyak orang percaya dalam nama-Nya, karena mereka telah melihat tanda-tanda yang diadakan-Nya”.  Mereka percaya karena melihat mujizat-mujizat yang dilakukan Tuhan Yesus, tetapi mereka tidak mengerti tanda-tanda itu menunjuk kepada siapa dan apa artinya, apa yang Tuhan Yesus mau nyatakan melalui tanda-tanda, mujizat yang dilakukan itu. Mereka melihat mujizat itu dan mereka kagum pada Tuhan: pasti yang diutus Allah, Allah menyertai; tetapi mereka tidak sampai pada inti mengerti Dialah anak Allah, Dialah Tuhan, Dialah Mesias, Juruselamat yang mati menebus dosa. Mereka tidak masuk ke dalam inti iman itu.

Kedua petunjuk ini intinya sama. Mereka adalah orang-orang yang mementingkan dan mengutamakan tanda-tanda, mujizat yang dilakukan Tuhan Yesus, namun sesungguhnya menunjukkan bahwa mereka tidak sungguh-sungguh percaya. Mereka bukan orang Kristen sejati. Contohnya Yohanes 7:3 -5, Yohanes 5:44. Disini Tuhan Yesus mau mengatakan bahwa percaya yang sesungguhnya adalah bukan menerima kemuliaan dari manusia, tetapi mencari kemuliaan dan hormat dari Allah yang esa. Itulah iman yang sejati.

Hal ini mengingatkan dan menyadarkan kita betapa berbahayanya orang-orang yang sangat menekankan mujizat. Dalam Matius 24:24 dikatakan: “Sebab Mesias-Mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga”.

Tuhan bisa bekerja, bisa melakukan mujizat karena Dia adalah Tuhan yang Maha Kuasa, tetapi kita jangan mengutamakan hal ini. Yang harus diutamakan adalah kebenaran Firman, Kristus, Injil.

Akan sangat berbahaya jika orang-orang datang ke Gereja, “percaya kepada-Nya” karena ingin tanda-tanda mujizat tetapi tidak mendengar Injil yang sejati. Hal ini menunjukkan mereka bukan anak-anak Tuhan yang sejati.

 

Ringkasan oleh Adrian Gandanegara | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya