Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Bait Allah yang Sejati

Ibadah

Bait Allah yang Sejati

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 30 Oktober 2016

Bacaan Alkitab: Yohanes 2:13-22

Pada bagian sebelumnya kita sampai kepada Yoh 2:17. Ketika para murid melihat apa yang dikerjakan Tuhan Yesus, membongkar, membalikkan meja pedagang-pedagang di Bait Allah itu, maka murid-murid teringat akan Firman Tuhan bahwa “Cinta akan rumah-Mu menghanguskan Aku.” Kemarahan Tuhan Yesus ini adalah karena Tuhan Yesus melihat pergeseran hati dari manusia. Ini adalah rumah Allah di mana orang datang untuk beribadah kepada Allah, menyembah Allah, mendengarkan Firman-Nya, bersekutu dengan Allah, tetapi Tuhan melihat dengan segala perdagangan yang terjadi di Bait Allah itu bahwa mulai ada pergeseran di dalam hati mereka. Orang-orang yang berdagang di situ dan para imam yang juga mengijinkan para pedangang itu, hati mereka bergeser dari cinta akan Allah kepada cinta akan uang.

C. S. Lewis menulis dengan tajam mengenai hal ini, “Sesuatu yang sangat sulit kita lakukan adalah menyerahkan seluruh hidup kita, keinginan dan harapan kita kepada Tuhan. Tetapi hal ini tetap jauh lebih mudah daripada apa yang coba kita lakukan, yaitu tetap menjadi diri kita sesuai apa yang kita mau tetapi sekaligus tetap hidup baik-baik.” Apa maksudnya? Hidup kita tetap berpusat pada uang, kenikmatan duniawi, kesuksesan duniawi tetapi tetap mencoba hidup jujur, rendah hati, hidup baik-baik supaya Tuhan tidak murka kepada kita. “But that is exactly what Christ warned us: you could not do,” kata C. S. Lewis. Karena apa? Karena lalang tidak mungkin menghasilkan gandum. Lalang itu akan tumbuh subur dan menjadi panjang, lalu kamu bisa potong lalang itu sampai pendek dan kelihatan seperti gandum tetapi dia akan tumbuh lagi menjadi lalang. Lalang pasti menghasilkan lalang, tetapi gandum pasti akan menghasilkan gandum. Jadi yang harus kau lakukan adalah mencabut seluruh lalang itu, membajak tanah itu, menggalinya dan kemudian menanam benih gandum, barulah kemudian akan muncul biji gandum.

Jika kita seperti para pedagang di Bait Allah yang pusat hatinya adalah uang, kenikmatan duniawi atau apapun yang tidak berkenan kepada Tuhan, maka itu pasti akan muncul di dalam hidup kita. Orang-orang di sekeliling kita yang pasti akan tahu, keluarga kita, teman-teman dekat kita, pasti akan tahu apa sebenarnya yang menjadi inti dari hidup kita, apa yang ada dalam hati kita, siapa yang bertahta di dalam kita. Tentu ada struggle saat kita mau mengutamakan Kristus dalam hati kita, tidak begitu mudah. Tetapi bagi C. S. Lewis itu tetap jauh lebih mudah dibandingkan jika hatimu tidak beres namun engkau coba di luar hidupnya seperti orang Kristen.

Sebelumnya kita telah melihat contoh positif dari Zakheus yang berubah hatinya dari cinta akan uang menjadi sungguh-sungguh mencintai Tuhan dengan segenap hati dan terlihat dari apa yang dia janjikan kepada Tuhan. Minggu ini kita melihat contoh negatif dari orang-orang Yahudi. Ketika mereka melihat Tuhan membalikkan meja, marah, membuat cambuk dan mengusir semua yang berjualan di Bait Allah, maka di Yoh 2:18 orang-orang Yahudi menantang Tuhan Yesus, “Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?” Dengan perkataan ini sebenarnya mereka tidak mempertanyakan apakah yang Yesus lakukan itu benar atau salah. Mereka tahu bahwa yang dilakukan Tuhan Yesus adalah benar. Akan tetapi mereka mempertanyakan tentang status Yesus, apakah Dia berhak atau tidak. Di bagian lain, Matius 12:38-39, juga status Yesus dipertanyakan. Orang-orang Farisi menuntut suatu tanda, maka Yesus menjawab: “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda….” Kata ‘tidak setia’ di sini sebenarnya terlalu ringan, sebenarnya dari bahasa Inggris: adulteress (pezinah). Kenapa Tuhan Yesus menyebut mereka demikian? Karena hati mereka sebenarnya sudah mencintai uang, bukan mencintai Tuhan. Seperti seorang istri yang berkata kepada suaminya, “hai suami, buktikan bahwa engkau suamiku!” Istri berkata seperti itu bukan karena dia perlu bukti tetapi karena hatinya mencintai orang lain. Demikian di sini orang-orang itu meminta bukti dari Yesus sebenarnya hanya sebagai suatu alasan, mereka mencoba melarikan persoalan dari problem hati mereka kepada pertanyaan akademik/ rasional untuk menghindari hati mereka yang tertusuk.

Ini mirip seperti yang terjadi di Jakarta belakangan ini, yaitu oknum/kelompok yang mengangkat persoalan penistaan agama oleh perkataan Ahok. Sebenarnya ini hanyalah kedok untuk menghancurkan orang-orang keturunan dan orang-orang Kristen. Saudara hati-hati mendengarnya, saya menegaskan ini bukan untuk menimbulkan permusuhan, karena ini adalah oknum, kelompok-kelompok minoritas. Sebenarnya mereka tahu sekali bahwa ini bukan persoalan penistaan agama, karena NU sudah mengklarifikasi dan polisi sudah menyelidiki. Namun mereka masih pakai alasan itu untuk membangkitkan kemarahan banyak orang untuk menghancurkan orang-orang keturunan dan orang-orang Kristen. Tujuan asli utama mereka padahal adalah untuk mendirikan negara Islam, memasukkan Piagam Jakarta ke dalam Pancasila, karena di Piagam Jakarta sila Pertama adalah Ketuhanan yang Maha Esa dan Melakukan Syariah-Syariah Islam. Beberapa tahun yang lalu saya pernah ikut rapat dengan PGI, mereka mengatakan bahwa selalu ada kelompok-kelompok radikal/ekstrimis yang terus berjuang memasukkan Piagam Jakarta ke dalam Pancasila untuk mendirikan negara Islam. Saudara jangan kuatir, jangan takut, saya percaya ini tidak akan terjadi karena sepanjang ada Presiden Jokowi, ada TNI, ada Polri, maka mereka akan menjaga supaya NKRI utuh. Kita juga jangan menjadi benci kepada orang-orang Islam hanya karena kelompok minoritas yang demikian, kebanyakan orang Islam di Indonesia adalah orang-orang yang cinta damai. Kita patut mengasihi mereka dan memberitakan Injil kepada mereka. Contoh riil sekarang ini saya ambil karena sama seperti apa yang terjadi pada orang-orang di zaman Yesus, yang memakai kedok penistaan agama untuk menuduh Yesus.

Apa artinya jawaban Tuhan Yesus di ayat 19, “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali”? Jawaban Tuhan Yesus memiliki 2 lapisan.

  1. Tuhan Yesus sedang mau mengatakan kepada orang-orang Yahudi ini bahwa mereka sedang menghancurkan Bait Allah ini. Ketika mereka mengubah hal yang paling utama dalam Bait Allah yaitu Allah sendiri, Bapa yang seharusnya disembah dan dimuliakan, dan menggesernya dengan ketamakan mereka yang terselubung, maka mereka sedang menghancurkan inti dari Bait Allah. Bangunannya masih ada, tetapi inti/maksud Bait Allah didirikan sudah digeser, maka Tuhan akan murka. Memang akan terjadi tahun 70 Masehi (perkataan Yesus ini kira-kira tahun 40-an Masehi) bahwa Bait Allah ini memang betul-betul dihancurkan oleh Romawi dan tidak ada satu bata pun berdiri di atas bata yang lain. Ini menjadi penghakiman Tuhan atas mereka.
  2. Tuhan Yesus mau mengatakan kepada mereka bahwa ketamakan/cinta akan uang ini juga akan menghancurkan Yesus sendiri. Bait Allah yang dimaksud adalah tubuh-Nya sendiri. Yesus dan Bapa adalah satu. Ketika engkau menggeser Bapa, melawan Bapa, maka engkau sedang melawan Aku. Ketika engkau menghancurkan rumah-Nya, maka engkau juga sedang menghancurkan Aku juga dengan tiga puluh keping perak. Yudas mengkhianati Yesus karena dia cinta akan uang.

Tetapi jawaban Tuhan Yesus tidak berhenti di situ. Dalam tiga hari Dia akan mendirikan Bait Allah kembali. Apa artinya? Ada 2 level pengertian.

  1. Yoh. 10:17-18, “Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku.” Maksudnya adalah Dia mati memberikan nyawa-Nya untuk dosa-dosa kita, tetapi kemudian tubuh-Nya yang dihancurkan itu akan bangkit pada hari yang ketiga.
  2. Bait Allah adalah tempat pertemuan antara Allah dan manusia. Ketika bangunan Bait Allah itu dihancurkan maka sekarang Yesus-lah yang menjadi titik temu antara Allah dan manusia. Ketika Kristus bangkit dari kematian pada hari yang ketiga, maka Dialah sekarang yang menjadi Bait Allah sejati. Mat. 12:6 berkata, “… Di sini ada yang melebihi Bait Allah.” Yesus mau mengatakan bahwa Dia lebih besar dari Bait Allah. Bangunan Bait Allah memang akan hancur karena dosa orang-orang Yahudi, tetapi ketika Yesus bangkit dari kematian maka tidak perlu ada bangunan Bait Allah lagi, manusia bisa datang kepada Allah bukan di Yerusalem, bukan ke Mekkah, tetapi di dalam Kristus. Satu-satunya Pribadi yang adalah the true temple of God.

Yohanes pasal 4 menceritakan ketika Tuhan Yesus berbicara kepada perempuan Samaria, Yesus membongkar dosa perempuan itu untuk membawanya kepada pertobatan. Namun kemudian seperti orang-orang Yahudi, perempuan ini tertusuk hatinya dan mulai membuat kedok dengan mengatakan hal yang lain, “Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah.” Kita juga kadang membuat kedok-kedok seperti ini untuk lari dari persoalan yang sebenarnya. Yesus Yoh 4:21-23 berkata, “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.”

Dalam bagian ini berarti sekarang tempat tidak lagi menjadi persoalan. Kita akan menyembah dalam Roh Kudus, di dalam roh hati kita yang dibangkitkan oleh Roh Kudus, dan juga di dalam kebenaran yaitu Yesus sendiri, karena Dia mengatakan (Yoh 14:6): “Akulah jalan, kebenaran dan hidup.” Krituslah sekarang Bait Allah itu. Ketika Dia bangkit pada hari ketiga, semua orang dari semua penjuru dunia bisa datang dan bertemu dengan Allah hanya melalui Kristus dan di dalam Kristus. Bahkan gedung gereja sebagai tempat tidak lagi menjadi penting karena yang paling utama adalah Kristus. Kita boleh beribadah di mana saja. Kalau tidak ada gedung, kita bisa buka tenda, bisa di rumah, asal di dalam Kristus.

Satu-satunya perjalanan yang perlu kita lakukan bukanlah dari tempat kita ke Yerusalem atau ke Mekkah atau ke mana saja. Satu-satunya perjalanan yang perlu kita lakukan untuk menyembah Allah adalah perjalanan hati. Dari hati yang cinta akan uang atau cinta apapun di luar Tuhan kemudian mulai bergeser kembali kepada Tuhan. Yang berubah ketika kita datang kepada Allah adalah hati kita. Hati yang mau mengenal Dia, percaya kepada Dia, melihat bahwa Kristus adalah satu-satunya Juruselamat, satu-satunya Allah yang telah datang ke dalam dunia menjadi manusia, dan kemudian mati di atas kayu salib lalu bangkit pada hari yang ketiga. Dialah satu-satunya Tuhan yang boleh kita sembah. Ketika kita memiliki hati yang seperti demikian, maka kita memiliki hati seperti hati Kristus bahwa “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku.”

Salah satu tanda dari orang-orang yang mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan adalah adanya zealousness (semangat yang besar, kegairahan yang sungguh). Seorang puritan, John Reynolds, di dalam bukunya Living Zealously mengatakan bahwa dalam hidup orang Kristen harus ada zealous. Orang Kristen harus zealous karena melihat yang indah itu tidak diperdulikan, zealous karena yang mulia itu diinjak-injak, zealous karena Pencipta dari segala sesuatu dilupakan oleh ciptaan-Nya, zealous karena Penguasa alam semesta diabaikan oleh rakyat-Nya, hukum-hukum-Nya diludahi, kata-kata-Nya dihina, rumah-Nya ditinggalkan, nama-Nya dipermainkan, dan Tuhan yang mulia disalibkan dan dipermalukan setiap hari. Orang-orang Kristen yang sejati akan tebakar, berapi-api untuk pekerjaan Tuhan. Mencintai Tuhan bukan dengan membakar sesama manusia, tetapi justru dengan mengasihi mereka dan mendoakan mereka, memberitakan Injil bagi mereka dan menginginkan yang terbaik bagi mereka. Zealousness bukan seperti orang fanatik yang membabi buta, tetapi mengerti kasih dan anugerah Tuhan di dalam Kristus yang menyerahkan nyawa-Nya bagi kita.

Di dalam kelas katekisasi, saya melihat banyak hal yang indah, baik yang Tuhan kerjakan di dalam hidup saudara-saudara yang berasal dari latar belakang yang beragam. Salah satu yang menjadi kerinduan banyak di antara saudara adalah menginginkan sungguh-sungguh bahwa keluarganya boleh juga sungguh-sungguh mengenal Tuhan. Ini suatu sikap hati yang benar, karena Yesuslah satu-satunya pertemuan antara Allah dan manusia. Kita boleh datang kepada-Nya karena Dia adalah satu-satunya Allah yang menyerahkan nyawa-Nya bagi kita. Dengan kasih yang begitu besar Dia mengasihi kita, demikian juga kita ingin mengasihi orang-orang sekeliling kita.

Yesus satu-satunya pendiri agama yang mati dan bangkit dari kematian. Kubur-Nya kosong menyatakan bahwa Dia adalah Tuhan yang mengalahkan maut dan satu-satunya pengharapan manusia. Maut dimatikan dalam kematian-Nya dan kebangkitan-Nya. (1 Kor 15:55) “Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?”

Saya tutup dengan kisah nyata dari kematian Bapak Angsono, seorang direktur Asaba yang sangat kaya di Indonesia, dan juga adalah majelis dari GRII pusat. Berita kematiannya menjadi besar dan mengagetkan karena setelah pulang dari bermain basket bersama teman-temannya dan masuk ke mobil, tiba-tiba beberapa orang mengejar dan menembaki dia dan pengawalnya. Setelah diselidiki polisi, diketahui bahwa mantan menantunya yang menjadi otak pembunuhan ini. Di dalam kebaktian penghiburan, setelah Firman Tuhan diberitakan, maka Ibu Angsono (istri beliau) mengatakan satu kalimat, “Saya mau mengatakan, melalui kematian Pak Ang biarlah kejahatan berhenti. Engkau bisa membunuh tubuh Pak Ang, tetapi engkau tidak bisa membunuh jiwanya. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” Pak Ang yang sudah percaya dan beriman kepada Kristus, maka sekarang dia sudah ada bersama-sama dengan Tuhan selamanya. Biarlah kita yang percaya sudah kepada Kristus, mengerti akan anugerah dan kasih-Nya, boleh mencintai Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap kekuatan dan hidup penuh dengan gairah untuk mengasihi sesama kita juga. 

Ringkasan oleh Dewi Sanjaya | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya