Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > The Culture of Greed

Ibadah

The Culture of Greed

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 23 Oktober 2016

Bacaan Alkitab: Yoh 2:12-22

Pada bagian ini, Yesus menyucikan Bait Allah, ini adalah peristiwa yang penting. Konteks peristiwa ini adalah Paskah orang Yahudi, yang pada waktu itu sudah dekat. Orang Yahudi merayakan Paskah setahun sekali, sama seperti orang berlebaran di Indonesia, atau Chinese New Year di Cina.  Dari tempat-tempat yang jauh orang-orang Yahudi datang ke Yerusalem, ada yang datang dengan perjalanan berhari-hari, berminggu-minggu dengan satu tujuan: untuk mempersembahkan korban kepada Tuhan. Dengan demikian, saat itu pasti ramai sekali, banyak orang yang lalu-lalang di Yerusalem.

Saudara bisa membayangkan bagaimana mereka bisa memberikan persembahan kepada Tuhan di Yerusalem. Kalau mereka membawa domba dari tempat asal mereka, selama berminggu-minggu di dalam perjalanan, mungkin domba tersebut sudah mati, atau cacat, sehingga tidak layak lagi dijadikan persembahan.  Maka orang-orang membuat cara yang lebih mudah yaitu dengan berjualan kambing, domba atau burung merpati yang tidak ada cacat-nya. Mereka datang dari berbagai kota, dapat membawa uang untuk membeli persembahan. Juga pasti ada money changer karena hanya ada satu mata uang yang dipakai di bait Allah. Di tengah hiruk-pikuk itu, tiba-tiba ada seorang yang marah, memakai pecut, membalikkan meja-meja dan mengusir semua orang yang berdagang di bait Allah. Maka saudara bisa bayangkan suatu peristiwa yang menghebohkan.

Apa artinya ketika Dia berkata (Yoh 2:16) "Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan." Sebelum kita masuk secara lebih detil, kita akan melihat mengapa Yohanes menulis bagian ini. Yoh 2:22 mencatat “Kemudian, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, barulah teringat oleh murid-murid-Nya bahwa hal itu telah dikatakan-Nya, dan merekapun percayalah akan Kitab Suci dan akan perkataan yang telah diucapkan Yesus.”. Ayat ini adalah mirip dengan Yoh 2:11 “Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.” Waktu Yesus membuat mukjijat, murid murid melihat kemuliaan Kristus dan menjadi percaya, demikian pula setelah kematian dan kebangkitan-Nya, murid-murid teringat akan perkataan Yesus itu, dan mereka menjadi percaya.

Jadi tujuan Yohanes menuliskan kitab Yohanes adalah supaya mereka melihat kemuliaan Kristus dan menjadi percaya kepada-Nya, supaya mereka percaya kepada kitab Suci dan perkataan Yesus Kristus. Ini adalah juga tujuan dari Injil Yohanes bagi kita. Bukan hanya bagi orang yang belum percaya, tetapi bagi setiap kita, yang mengaku percaya, supaya semakin sadar bahwa Firman Tuhan itu begitu penting bagi kita. Supaya kita semakin bertanya betulkah kita sungguh-sungguh percaya kepada Kristus, betulkah Firman itu kita pegang dan menjadi realita di dalam hidup kita, betulkah kita sudah menjalani hidup sebagai orang yang percaya kepada Kristus sebagai murid-murid-Nya?

Salah satu ujian dari jawabannya adalah saudara bisa memikirkan apa jadinya terhadap ke-Kristenan kalau semua orang Kristen di seluruh dunia itu hidupnya seperti saya? Apakah kekristenan menjadi maju, apakah akan berkembang, apakah banyak orang yang menjadi percaya melalui apa yang engkau hidupi, melalui apa yang engkau katakan. Ataukah kalau semua orang Kristen seperti engkau, maka kekristenan pasti akan mundur, smakin pelan semakin mundur dan lama-lama mati? Apakah kita betul menjadi orang-orang Kristen yang sungguh-sungguh percaya kepada Kristus, akan segala perkataan Kristus. Percaya itu adalah pikiran, hati dan hidup kita dikontrol dan dikuasai oleh Kristus dan Firman-Nya. Percaya itu bukan hanya mengaku percaya. Percaya yang sungguh-sungguh dalam arti Alkitab adalah pikiran, hati dan hidup kita dipersatukan, dikuasai oleh Kristus dan Firman Tuhan. 

Saya kuatir sekali kalau kita mengaku percaya tetapi apa yang kita kejar di dalam hidup ini tidak ada bedanya dengan apa yang dikejar oleh orang yang tidak percaya kepada Kristus. Apakah yang kita inginkan itu adalah apa yang Tuhan inginkan, ataukah itu adalah seperti yang orang-orang dunia inginkan? Semua orang menginginkan pekerjaan yang baik, kesehatan, keluaraga yang tidak banyak masalah, keuangan yang cukup tetapi apakah itu yang engkau utamakan? Apakah itu adalah sesuatu yang paling berharga di dalam hidup kita. Kalau itu adalah sesuatu yang paling utama, dan bukan Tuhan dan Firman-Nya, bukan kehendak-Nya, maka itu bukanlah percaya yang sesungguhnya. Bagaimana kita memakai waktu kita, bagaimana kita memakai uang kita, itu merefleksikan apa yang paling berharga di dalam hidup kita.

Dalam suatu sharing keluarga, ada yang memusatkan seluruh perhatian mereka untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anak, buat pendidikan mereka. Tentu itu tidak salah, tetapi problemnya, adalah kalau itu menjadi yang paling utama dan bukan Tuhan dan Firman-Nya, maka itu adalah masalah yang besar. Sepertinya Tuhan dan Firman-Nya itu adalah seperti airbag, yang hanya diperlukan di dalam emergency; seperti airbag, yang kita berharap kita tidak usah pakai, tetapi kita perlukan kalau ada tabrakan. Kalau Tuhan dan Firman-Nya, seperti ini, maka Dia bukan yang paling utama. Kebenarannya bukan menjadi sentral keinginan hati kita. Ini menjadi problem di dalam kehidupan banyak orang Kristen.

God will not make His people comfortable in their sin. Ini bisa menjadi Good News bagi yang percaya, tetapi Bad News bagi yang tidak percaya dengan sungguh-sungguh. Kalau hidup kita sama dengan orang dunia ini, cuman bedanya adalah kita hari minggu ke Gereja, dan Tuhan dan Firman-Nya tidak masuk ke dalam karakter kita, cara kita hidup, ini menjadi masalah yang besar. Tuhan tidak akan membiarkan umat-Nya comfortable di dalam dosa-dosa mereka. Tuhan akan goncang, Tuhan akan bongkar. Mazmur 26 mengatakan “Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku.”, biarlah ini menjadi doa kita juga. Tuhan goncangkan aku, Tuhan bongkarlah aku, biarlah Tuhan boleh terus mengkoreksi dan menegur. Biar kita ada di dalam jalan yang sulit, jalan yang sempit, tetapi ada Tuhan yang memberi kekuatan.

Selanjutnya kalau kita melihat kepada Injil Sinoptik, ada peristiwa yang mirip di mana Yesus menyucikan bait Allah. Misalnya Matius 21 disebutkan “"Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun." “, peristiwa ini sepertinya mirip dengan peristiwa di Yohanes 2, tetapi kalau saudara melihat lebih detil, maka terlalu banyak perbedaan. Tuhan Yesus di Yoh 2 tidak menyebutkan “Rumah Doa”, tidak menyebutkan “Sarang Penyamun”. Lagipula di Injil Sinoptik, peristiwa itu terjadi di akhir pelayanan Tuhan Yesus, sedangkan Yoh 2 mencatat di awal pelayanan Tuhan Yesus. Jadi dengan demikian kemungkinan besar, kedua peristiwa ini adalah berbeda.

Yoh 2:16-17 mengatakan “jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan. Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: "Cinta untuk rumah-Mu Menghanguskan Aku." Mengapa Yesus begitu marah, sampai marah-Nya terbakar hangus. Ini adalah rumah Bapa-Ku, tetapi engkau menjadikannya pasar, tempat berdagang. Dikontraskan antara rumah Bapa-Ku dengan pasar. Rumah Bapa-Ku artinya adalah Bapa berkuasa di rumah itu, Dia adalah tuan rumah, Dia adalah yang paling utama, orang-orang datang ke sini adalah untuk mengenal dan mengasihi Bapa di surga. Mazmur 84 mengatakan “Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain.”  Seperti lagu yang dicipta oleh Pdt Billy Kristanto:

How lovely O’Lord is your dwelling place,

My heart yearns, even faints, for the courts of the Lord;

Tetapi engkau telah menjadikannya pasar; Yesus marah sekali terhadap orang-orang yang berdagang dan yang mengijinkan mereka berdagang di situ. Menjadi pasar artinya fokusnya sekarang bergeser kepada uang, kepada perdagangan, kepada untung-rugi. Pdt Agus pernah menggambarkan bahwa hari Sabat itu seperti suami yang sedang menantikan istrinya untuk berhubungan intim. Suami yang sudah mempersiapkan selama 6 hari, dan mempersiapkan hari itu untuk bertemu dan bersekutu dengan istrinya. Tetapi kemudian hari itu, istrinya datang, tetapi datang dengan teman-teman-nya yang lain, lalu mencari diskon di Mall, mengobrol tentang hal-hal yang lain, dan suaminya tidak diperhitungkan. Hati mereka tidak diarahkan kepada Allah tetapi kepada uang. Inilah yang membuat Tuhan Yesus marah sekali.

Yoh 2:25 mengatakan “karena tidak perlu seorangpun memberi kesaksian kepada-Nya tentang manusia, sebab Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia.” Dia begitu marah karena Dia melihat hati orang-orang yang berdagang; di rumah Bapa-Ku, bukan Bapa yang disembah tetapi uang yang di sembah; bukan cinta akan Allah yang menjadi utama, tetapi cinta akan uang yang menggerakkan seluruhnya. Yesus melihat kemunafikan dari orang-orang Parisi dan imam-imam kepala yang mengijinkan hal itu terjadi. Sepertinya mereka menolong orang-orang supaya tidak bersusah payah membawa domba dari tempat asal mereka, tetapi dibalik semua convenience ada cinta uang, yang menguasai hati dari imam-imam kepala dan para pedagang di situ. Dalam Matius 23:25, Yesus marah sekali kepada ahli-ahli taurat, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan.” 

Dalam Lukas 16:13-15, Tuhan Yesus berkata “Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia. berkata kepada mereka: "Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah.” Tuhan melihat hati orang-orang yang berdagang dan ahli-ahli Farisi. Yesus bukan melihat suatu ibadah yang ada kekurangannya, bukan itu, Yesus melihat suatu sistem agama yang fondasinya adalah cinta akan uang, akan keserakahan dan ketamakan.  Hal ini membuat Yesus begitu marah.

Ini menjadi peringatan bagi saya, bagi Gereja Tuhan, bagi kita di sini. Kita harus peka, apakah kita menggunakan bahasa-bahasa agama, tetapi intinya adalah cinta akan uang. The culture of greed sedang menggerogoti jiwa manusia, termasuk mereka yang mengaku kristen.  Bahkan hal itu juga telah mengakibatkan economic collapsed, begitu banyak juga berita yang menceritakan kerusakan ekonomi karena the culture of Greed. Problem dari greed ini adalah kita sulit melihatnya di dalam diri kita. Ketika kita marah, kita tahu problemnya apa karena kita berbenturan dengan orang lain. Biasanya kita bisa sadar dan datang kepada hamba Tuhan untuk meminta pertolongan dan pergumulan ini. Tetapi greed, hampir tidak ada orang yang datang, dan berkata aku sedang bergumul dengan ketamakan. Kata tamak jarang kita pakai dalam hidup sehari-hari, tidak seperti rakus atau serakah. Tamak itu lebih spesifik karena berkaitan dengan uang.

Mengapa kita sulit menyadari kalau kita jatuh dalam dosa ketamakan? Karena unsur social dan physicological dynamic. Maksudnya adalah kita cenderung hidup di dalam lingkungan sosial ekonomi tertentu, kita hidup sesuai dengan sosial ekonomi tertentu, seperti pakaian apa yang kita pakai, handphone kita apa, dlsb. Di dalam lingkungan sosial ekonomi itu, pasti ada orang yang lebih kaya daripada kita; kita tidak membandingkan diri kita dengan seluruh orang di dunia ini. Kita jarang membandingkan life-style kita dengan pedagang asongan di Jakarta. Kita selalu membandingkan dengan lingkungan di sekitar kita, dan selalu ada orang yang lebih kaya daripada kita di lingkungan tersebut. Kita bisa berkata bahwa dibandingkan dengan dia, hidup saya lebih sederhana. Semua orang betapa kayanya dia, berapa mewahnya dia hidup, dia tetap bisa berkata seperti demikian, karena dia hidup dalam sosial ekonomi tertentu.   

Dengan kesadaran ini, kita harus membuka hati, dan mengakui bahwa greed juga masalah saya. Bagaimana kita dapat membebaskan diri kita dari greed? Kita akan melihat contoh yang sangat indah di dalam Lukas 19 tentang Zakeus. Pemungut cukai adalah orang yang paling dibenci dan dihina pada jaman itu. Mereka dianggap kaki-tangan penjajah Romawi, yang memberikan tekanan yang berat kepada bangsa Yahudi. Orang Romawi memakai orang-orang Yahudi untuk menekan orang sebangsanya dengan memungut pajak, memeras, dengan begitu bera. Bangsa Yahudi sangat benci dengan pemungut cukai, karena bukan hanya uang mereka diambil, tetapi juga karena pemungut cukai itu adalah saudara mereka sendiri yang bekerja bagi penjajah dan dianggap sebagai pengkhianat dan orang berdosa, sama levelnya dengan pelacur. Zakeus adalah pemungut cukai, dan bukan sekadar pemungut cukai, dia juga kepala pemungut cukai. Dia adalah orang yang paling dibenci dari yang dibenci. Tubuhnya pendek, jadi kita bisa bayangkan semua orang menyikut-nyikut dia sehingga dia tidak bisa melihat Yesus.  Tetapi ada sesuatu yang menggerakkan Zakeus, dia lari dan melakukan sesuatu yang mengagetkan: naik ke pohon. Sebagai seorang yang tua, naik pohon itu berarti menjadi bahan tertawaan, tetapi Zakeus tidak perduli karena dia ingin bertemu dengan Tuhan Yesus. Dia pasti yang paling kaya diantara pemungut cukai, dia tidak perduli jika dibenci bangsanya, karena dia digerakkan oleh uang. Dia relakan reputasinya, korbankan persahabatan dengan teman sebangsanya, dia tidak perduli. Tetapi sesuatu kekosongan yang dalam di hatinya menggerakkan dia untuk bertemu Yesus. Dia ingin melihat Yesus dan mungkin Yesus dapat memberikan jawaban pada persoalannya yang paling dalam. 

Injil banyak sekali bicara tentang greed, dalam Lukas 12:15, Tuhan Yesus berkata “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu. “. Meskipun kaya berlimpah-limpah hidup seseorang tidak tergantung kepada “Tergantung” itu artinya hidup didefinisikan oleh kekayaan; kekayaan yang menjadi yang paling utama dalam hidup, yang paling dia kejar, segala-galanya bagi orang itu.  Berjaga-jagalah, karena kita sering tidak sadar akan hal ini.

Apakah hidupmu tergantung, didefinisikan oleh harta yang kita miliki? Apakah harga diri kita, kebanggaan kita, bergantung dari gaji yang kita terima setiap bulan? Tuhan Yesus berkata “berhati-hatilah”, Zakeus jatuh ke dalam hal yang seperti ini.

Zakeus, tergerak dari dalam hatinya, seorang yang tua, yang menghargai kekayaan, tiba-tiba naik ke pohon untuk menyatakan suatu kebutuhan yang dalam, yang desperate. Yesus dikerumuni orang-orang terhormat, yang terpelajar, yang merasa lebih suci dari pada pemungut cukai. Seperti orang Farisi yang berdoa (lihat Luk 18:11) “aku bersyukur kepada-Mu karena aku bukan pemungut cukai,  aku jauh lebih baik daripada pemungut cukai.” Tetapi Tuhan Yesus berkata (Luk 19:5) "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu."”. Ini adalah anugerah Tuhan: Aku akan ke rumahmu, mengadakan persekutuan dengan engkau. Zakeus naik ke pohon, dia rela ditertawakan, dipermalukan untuk melihat Yesus.

Zakeus sadar anugerah Tuhan datang kepadanya, dia ingin mengikut Yesus, namun dia langsung sadar ada problem di dalam hidupnya, dengan uang yang ada di seluruh hidupnya.  Zakeus kemudian mengatakan dua hal yang mengejutkan. Dia berkata (Luk 19:8) “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin.” Ini jauh lebih besar daripada 10 persen dalam perpuluhan. Dalam konteks realnya, mungkin jarang ada yang memberi 50%, tetapi kita harus melihat ketaatan kita kepada Tuhan. Ada orang yang bertanya di perjanjian baru tidak disebutkan harus membayar 10%, karena konsep perpuluhan hanya ada di perjanjian lama. Mengapa tidak ditekankan dalam perjanjian baru? Bukan artinya kita tidak harus memberikan perpuluhan? Jawabanya adalah memang tidak harus. Memang tidak harus 10%, tetapi kita boleh memberikan 20%, 30%, dsb. Karena di dalam perjanjian baru kita mengerti anugerah Tuhan lebih banyak dibanding perjanjian lama. Kita mengerti keselamatan di dalam Yesus yang mati di kayu salib. Yesus bukan hanya memberikan 10% dari darah-Nya, Dia memberikan semuanya. Karena itu kita harus menyerahkan seluruh hidup kita termasuk uang, yang harus dipertanggungjawabkan setiap sen uang kita.

Zakeus selanjutnya juga berkata (Luk 19:8) “sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat”. “Empat kali lipat” ini jauh lebih besar dari perjanjian lama, yang mengharuskan penunggak utang untuk mengembalikan utang ditambah 20% bunga (lihat Imamat 27). Zakeus mengembalikan 300%. Tuhan Yesus berkata (Luk 19:9) “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham”. Tuhan Yesus tidak katakan “Kalau engkau lakukan itu maka kamu akan diselamatkan”, tetapi Yesus mengatakan, “engkau bisa melakukan itu, hatimu generous, hatimu tidak lagi dikuasai oleh greed, adalah karena keselamatan yang sudah tiba di dalam rumah ini”. Generosity bukanlah alasan untuk keselamatan, tetapi generosity adalah akibat dari keselamatan, hasil daripada orang yang mengerti akan anugerah Tuhan yang lebih besar.

Orang Kristen yang betul-betul percaya, tidak akan bertanya how much must I give, tetapi dia akan bertanya how much can I give. Dia akan mengerti betapa besarnya anugerah Tuhan dan uang tidak lagi menjadi tuan, tidak lagi menguasai hatinya. Kita tidak menjadi hamba uang, tetapi uang menjadi hamba, kita pakai uang untuk pekerjaan Tuhan. Apakah engkau ingin melihat Yesus? Seperti Zakeus, yang berlari, naik ke pohon, dipermalukan tetapi dia tidak perduli, karena melihat sesuatu yang jauh lebih besar daripada harta yang dia miliki.

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya