Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Mukjijat di Kana

Ibadah

Mukjijat di Kana

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 9 Oktober 2016

Bacaan Alkitab: Yohanes 2:1-11

Kita mengetahui dari kehidupan sehari-hari, tiap orang bisa memiliki cara makan yang berbeda. Ada orang yang makan yang enaknya dulu, tetapi ada juga yang makan yang tidak enaknya dulu, ada juga yang makan yang enak dan yang tidak enak bersamaan. Ada istilah “Save the best for last”, yang paling enak dimakan yang terakhir. Istilah ini juga ada dalam perkawinan di Kana. Wedding Organizer di pesta itu, kaget dan sadar bahwa anggur yang terbaik diberikan belakangan, maka dia datang kepada mempelai pria dan menanyakan mengapa hal ini, karena biasanya anggur yang jelek diberikan belakangan (karena orang toh sudah mabuk). Banyak ungkapan lain juga diambil dari Alkitab, seperti “saved by the eleventh hour”. Ungkapan ini berasal dari perumpamaan Yesus tentang pekerja di kebun Anggur (lihat Mat 20) di mana pekerja yang baru mulai bekerja jam 5 sore (11 jam dari jam 6 pagi) juga mendapat upah dan diselamatkan.

Yohanes menceritakan perkawinan di Kana supaya kita boleh percaya dan melihat kemuliaan Yesus. Bagaimana kita bisa percaya? Yohanes menyatakan kepada siapakah Yesus Kristus itu dengan memperlihatkan kemuliaan-Nya kepada kita; dan oleh kemuliaan-Nya itu kita boleh percaya kepada-Nya. Kita akan kagum, terdorong untuk menyembah Yesus. Seluruh Injil Yohanes ingin memperlihatkan siapakah Yesus Kristus itu. Saya mengharapkan bagi kita yang belum percaya boleh mengenal Kristus melalui apa yang dinyatakan oleh Alkitab kepada kita. Bagi kita yang sudah percaya, kita boleh semakin mengenal Dia, semakin bertumbuh, semakin menyadari betapa mulia-Nya Dia, betapa penuh kebenaran dan kasih karunia Yesus Kristus itu. Sehingga hidup kita makin diubahkan, menjadi semakin serupa dengan Kristus.

Di dalam Yoh 2:11, “Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya”. Di dalam Injil Yohanes, segala mukjijat disebut sebagai tanda (“sign”). Sign itu bukan menunjuk kepada dirinya sendiri, tetapi menunjuk kepada sesuatu di luar dirinya sendiri. Mukjijat yang dilakukan Yesus bukan menyatakan kehebatan mukjijat itu sendiri, tetapi sebagai tanda untuk menunjuk kepada kemuliaan Kristus; supaya kita melihat kemuliaan Yesus dan menjadi percaya.

Secara khusus dalam peristiwa perkawinan d Kana, kita melihat kemuliaan Kristus di dalam tiga aspek.

1. Kemuliaan Kristus dalam ketaatan sebagai seorang anak.

Yang saya maksud di sini adalah bukan ketaatan sebagai anak Maria, tetapi ketaatan sebagai Anak Bapa di Surga. Yesus menyatakan ketaatan kepada Bapa-Nya jauh lebih penting daripada ketaatan kepada orang-tua-Nya ataupun seluruh ikatan keluarga. Yoh 2:3-4 “Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: "Mereka kehabisan anggur." Kata Yesus kepadanya: "Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba."” Kata “ibu” di sini dalam bahasa aslinya berarti “perempuan”, sehingga kalimat ini mengejutkan. Namun hal ini sebenarnya bukan suatu bentuk ketidakhormatan akan orang-tuanya. Yesus sangat menghormati ayah dan ibunya. Kata “perempuan” secara literal, di dalam konteks Yahudi itu bukan suatu disrespect. Kata yang sama juga digunakan di atas kayu salib “Ibu inilah anakmu”.

Tuhan Yesus sengaja memakai kata itu untuk menyatakan sesuatu: “sekarang ada jarak antara engkau dan Saya - ultimately Aku melakukan ini bukan karena engkau menyuruh Aku, atau karena engkau ibu-Ku, engkau adalah sama dengan perempuan yang lain”. Kita melihat ini di dalam ayat-ayat selanjutnya yang memang menunjukkan ada sesuatu yang tidak biasa dalam hubungan Yesus dengan Maria.

Semakin mengherankan, Yesus selanjutnya melakukan apa yang diminta Maria. Meskipun sebenarnya Maria hanya mengatakan “mereka kehabisan anggur”. Maria mengharapkan Yesus bisa melakukan sesuatu. Yesus tahu apa sebenarnya maksud  ibunya. Maria mengetahui bahwa Yesus ada bukan karena hubungannya dengan Yusuf suaminya, tetapi anak dari Tuhan, ada hal-hal yang ajaib daripada eksistansi Yesus. Kalau dia pada akhirnya melakukan apa yang diminta Maria, bukankah tidak lebih baik bagi Yesus untuk mengatakan “baik ibu, saya tahu masalahnya dan saya bereskan hal ini”. Sebaliknya Yesus mengatakan “mau apa engkau daripadaku, perempuan.” Karena Yesus ingin menyatakan kepada ibu-Nya, kepada saudara-saudara-Nya kepada murid-murid-Nya, dan juga kepada kita sekarang, bahwa identitas Yesus pertama-tama adalah bukan anak Maria. Yesus ingin menyatakan bahwa identitas-Nya pertama-tama adalah Anak Bapa-Nya yang di Surga. Ibu-Nya atau siapapun juga tidak bisa mengontrol-Nya.

Yesus mengatakan dalam Yoh 5:19 “"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.”. Tindakan Yesus melawan konsep yang berlaku pada jaman itu dan juga pada jaman sekarang bahwa menjadi keluarga mempunyai posisi dan priviledge yang khusus.  Mempunyai relasi keluarga memang sering memberikan priviledge, seperti yang biasa kita lihat dalam nepotisme dalam pemerintahan. Tetapi Yesus menyatakan bukan keluarga, tetapi orang-orang yang beriman, yang percaya, dan yang melakukan kehendak-Nya.

Dalam Luk 11:27-28, seorang perempuan berteriak “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau”. Tetapi Yesus berkata “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya”. Di dalam peristiwa lain, ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya datang untuk mencari Dia, dan orang-orang memberi tahu Yesus bahwa mereka sedang mencari-Nya (lihat Mat 12:46-50). Tetapi Yesus mengatakan “Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?" Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya: "Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku!

Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku."” Ini menjadi sesuatu yang penting.

Ketika Tuhan perintahkan Yosua untuk memberitakan kepada bangsa Israel untuk mengelilingi tembok Yerikho 7 kali (lihat Yosua 6:1-20), dan pada kali ke 7 mereka harus bersorak dengan keras dan tembok Yerikho akan runtuh (Yos 1:16). Tetapi segera setelah ayat 16,  tidak dikatakan bahwa mereka bersorak, namun ada ayat 17-19, yang memerintahkan beberapa hal: harus menyelamatkan Rahab, jangan mengambil barang-barang yang harus dimusnahkan, dan mengambil emas serta barang berharga lainnya untuk perbendaharaan Tuhan. Baru kemudian pada ayat 20, mereka bersoraklah dan rubuhlah tembok itu. Seorang penafsir memberikan penjelasan yang penting, karena bagi Tuhan perkataan Tuhan itu lebih penting daripada kemenangan itu. Selanjutnya kita juga melihat di dalam Yosua 7, ketika bangsa Israel tidak mendengarkan perintah Tuhan, maka kalahlah mereka di dalam medan peperangan. 

Mendengar Firman dan mentaati-Nya itu lebih penting daripada tembok Yerikho. Bagi Tuhan mendengar dan mentaati Firman itu lebih penting dari segala pelayananmu. Saya ingin memberitakan kebenaran dan mendorong kesadaran bahwa mendengar Firman Tuhan itu lebih penting daripada melayani ini itu dan tidak mendengarkan Firman Tuhan. Bukan berarti pelayanan itu tidak penting. Ketika tembok Yerikho itu runtuh, bangsa Israel tetap harus berjuang, untuk masuk ke Yerikho dan berperang, tetapi sebelum itu, mereka harus mendengarkan perintah Tuhan. Saya mengetahui ada banyak kesulitan terutama bagi keluarga yang memiliki anak-anak yang masih kecil, yang susah untuk hadir di dalam kebaktian kedua, setelah melayani di kebaktian minggu pagi. Tetapi saya ingin saudara menyadari bahwa mendengar Firman itu lebih penting. Karena kalau saudara terus sibuk melayani dan tidak mendengar Firman, maka hati saudara dapat mulai bergeser, seolah-olah pelayanan menjadi bergantung kepada saudara, dan merasa sombong. Ini menjadi sesuatu yang berbahaya.

Tuhan Yesus mau menyatakan siapakah saudara-saudara-Ku, siapakah ibu-Ku, mereka adalah yang mendengar Firman dan mentaati-Nya. Baru setelah mendengarkan Firman Tuhan, kita dapat memancarkan terang dari Firman itu di dalam pelayanan kita dan menjadi berkat yang besar bagi yang dilayani. Bukan karena orang lain membutuhkan saudara, bukan karena Tuhan membutuhkan saudara, tetapi karena anugerah Tuhan yang sudah Tuhan nyatakan melalui saudara untuk menjadi berkat bagi orang-orang lain.

Dalam kisah ini, Tuhan ingin menekankan bahwa yang membuat manusia memiliki relasi dengan Kristus adalah bukan keluarga, tetapi karena iman. Iman itu berasal dari pendengaran akan Firman Tuhan, dan iman itu menghasilkan buah ketaatan. Firman itu adalah makanan rohani kita, Firman itulah yang membuat kita bertumbuh, dan kemudian menghasilkan buah ketaatan.  

2. Tuhan mau Menyatakan Kemuliaan-Nya sebagai Pembasuh Dosa Manusia

Kalau kita melihat Yoh 2:6 ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat Yahudi. Tempayan tersebut sebenarnya bukan untuk minum, tetapi untuk ritual purification, sebelum mereka masuk ke dalam perjamuan. Yesus sengaja memakai tempayan-tempayan itu, yang kemudian di isi air yang diubah menjadi anggur. Hal ini Yesus lakukan untuk menunjuk kepada kematian-Nya yang akan membasuh dan menyucikan dosa manusia, menggantikan ritual-ritual pembasuhan orang Yahudi.

Ada beberapa tanda yang menunjuk kepada penafsiran ini:

  • Ayat Yoh 2:4, Yesus mengatakan “Saat-Ku belum tiba”. Apa maksud Yesus mengatakan hal ini? Ini adalah kalimat yang penting karena kata “Saat” (My Hour) berkali-kali digunakan dalam Injil Yohanes:
    • (Yoh 7:30) “Mereka berusaha menangkap Dia, tetapi tidak ada seorangpun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba.”
    • (Yoh 8:20)  “Dan tidak seorangpun yang menangkap Dia, karena saat-Nya belum tiba.”
    • (Yoh 12:23-24) “Tetapi Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan.”. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.”
    • (Yoh 12:27) “Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini”. Kata “Saat” di sini adalah saat Kristus akan dimuliakan, akan mati untuk menebus dosa manusia, saat Dia akan menyucikan mereka yang akan percaya, menyucikan dari segala dosa mereka.

Ketika Yesus akhirnya menolak permintaan Ibu-Nya, tetapi Yesus tetap menyuruh pelayan-pelayan itu mengisi tempayan-tempayan itu dengan air dan Yesus mengubahnya menjadi anggur. Ini sebagai tanda bahwa yang akan menyucikan dosa manusia adalah darah-Nya sendiri. Itulah yang kita lakukan di dalam perjamuan kudus, yang mengutip perkataan Tuhan (Mat 26:27-28) "Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.”

Inilah cara kedua Tuhan Yesus menyatakan kemuliaan-Nya, dengan memberi tanda yang menunjuk kepada kematian-Nya oleh darah-Nya pada saat-Nya yang menyucikan kita dari dosa-dosa kita. Hanya darah Kristus-lah yang menyucikan kita dari dosa. Meskipun dosamu merah seperti kirmizi, maka Dia akan menyucikannya menjadi putih seperti salju (Yes 1:18).

3. Kita boleh Melihat Kemuliaan Kristus sebagai Mempelai Pria yang Sempurna

Di dalam Yoh 3:29-30, Yohanes Pembaptis mengatakan kalimatnya yang terakhir: “Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Yohanes Pembaptis menyadari Yesus-lah mempelai laki-laki itu, Gereja-Nya dan murid-murid-Nya adalah mempelai wanita-Nya.

Kalau kita mengerti konteks pada waktu itu, sebelum pesta pernikahan pengantin pria dan wanita sudah bertunangan terlebih dahulu selama setahun, dan kemudian tibalah hari pernikahan. Pesta pernikahan dirayakan besar-besaran dan itu bisa satu minggu, sehingga kalau kehabisan anggur, itu adalah bencana. Bukan hanya sesuatu yang memalukan. Penyelenggara pesta bisa dituntut ke pengadilan. Kehabisan anggur menjadi masalah besar, dan orang yang paling bertanggung jawab adalah mempelai pria, bukan pemimpin pesta itu.  

Yoh 2:9-10 “Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu--dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya--ia memanggil mempelai laki-laki, dan berkata kepadanya: "Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang." Pemimpin pesta tersebut datang dan lapor kepada mempelai pria, mengira dia menyimpan anggur-anggur yang terbaik, save the best for last.

Namun bukan mempelai pria itu yang melakukannya, melainkan Kristus yang telah mengubah air di tempayan-tempayan itu menjadi anggur. Mempelai mempelai pria dari dulu sampai sekarang seringkali adalah mempelai yang gagal. Suami-suami banyak memiliki kelemahan, mengalami kegagalan di dalam hidup pernikahan.

Biarlah kita mengundang Kristus hadir di dalam pernikahan kita, Kristus menjadi yang utama dan dimuliakan. Kristus yang memimpin dan mengarahkan segala sesuatu di dalam keluarga. Bagi mereka yang belum berkeluarga, sebaiknya mereka mencari pasangan Kristen yang sejati. Bukan hanya orang beragama Kristen, tetapi carilah yang berteologia yang sama.

Di tengah pergumulan keluarga kita, seperti yang dialami pasangan di Kana ini, yang baru menikah, meskipun anggur kita habis, biarlah kita menyerahkan segala persoalan kepada Kristus. Di dalam pernikahan pasti banyak pergumulan, berserulah di dalam segala persoalanmu, dan serahkan segala persoalan kita kepada-Nya. Dia adalah Tuhan yang ingin menolong kita, Dia ingin untuk kita berseru dan datang kepada-Nya di dalam segala kelemahan dan pergumulan kita. Dia akan memelihara dan memimpin kita, karena Dia ingin dimuliakan, segala sesuatu dari Dia, oleh Dia, dan bagi Dia-lah kemuliaan untuk selama-lamanya. Karena ketika datang kepada-Nya dan berseru kepada-Nya, Tuhan akan menolong kita, dan ketika Dia menolong kita, nama Dia-lah yang  dipermuliakan. The chief end of man – to glorify God and enjoy Him forever, kita boleh memuliakan Dia dan menikmati Dia selamanya; bukan hanya untuk kemuliaan Dia, tetapi juga untuk kebaikan kita. Supaya kalau Dia menolongmu maka sukacitamu menjadi penuh.

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya