Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Pengharapan Kita hanyalah di dalam Firman Tuhan

Ibadah

Pengharapan Kita hanyalah di dalam Firman Tuhan

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 2 Oktober 2016

Bacaan Alkitab: 2 Raja-Raja 3:1-18

Kerinduan hamba Tuhan sejati adalah supaya jemaatnya tidak bergantung kepada mereka. Karena bukan hanya kami, para hamba Tuhan, bisa berdosa kepada Tuhan tetapi juga karena kami tidak mampu menyelesaikan sendiri beban jemaat. Karena kami hanya bisa bergantung kepada Tuhan dan Dia-lah dengan Firman-Nya yang satu-satunya bisa menopang dan memberi harapan bagi umat Tuhan di segala jaman. John Calvin ketika mati dia tidak ingin ada batu nisan di atas kuburannya. John Calvin, seorang reformator terbesar sepanjang sejarah, setelah beberapa bulan dia meninggal, ada seorang yang mencari di mana kuburannya, namun dia tidak bisa menemukan kuburan John Calvin, karena kuburan John Calvin sama dengan kuburan-kuburan orang-orang lain.

Kali ini kita mau merenungkan bahwa pengharapan kita hanyalah di dalam Firman Tuhan. Kita tidak boleh bergantung kepada hamba Tuhan, pengharapan kita hanyalah kepada Tuhan dan Firman-Nya.

Yang pertama kita melihat dalam 2 Raja-Raja 3:1-3, bahwa sifat Firman Tuhan adalah absolut dan total.

“Yoram, anak Ahab, menjadi raja di Samaria atas Israel dalam tahun kedelapan belas zaman Yosafat, raja Yehuda, dan ia memerintah dua belas tahun lamanya. Ia melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, tetapi bukan seperti ayahnya dan seperti ibunya: ia menjauhkan tugu berhala Baal yang didirikan ayahnya. Namun demikian, ia masih berpaut kepada dosa Yerobeam bin Nebat yang mengakibatkan orang Israel berdosa pula; ia tidak menjauhinya.”

Yoram di satu sisi melakukan sesuatu yang lebih baik daripada orang tuanya, dia menjauhkan diri dari penyembahan kepada baal, tetapi dia tidak menjauhi tuduhan Allah yang lain.

Di sini kita melihat impression daripada Firman Tuhan, engkau sudah meninggalkan baal, tetapi engkau tidak meninggalkan dewa-dewa yang lain, yang juga merupakan kekejian di hadapan Tuhan. Firman Tuhan tidak akan pernah puas sampai seluruh hati dan tindakan kita ditundukkan di hadapan Allah.

Penulis ayat 1-3, seolah-olah mengatakan bahwa “that’s not enough”, tidak cukup menganggap diri tidak terlalu rusak. Kita bisa berkata hai pelacur, engkau hidupnya rusak sekali, tetapi mereka bisa menjawab bahwa mereka bisa melakukan hal ini karena kebutuhan tetapi pria-pria hidung belang yang datang adalah jauh lebih berdosa daripada mereka. Pria-pria tersebut sebaliknya bisa juga berkata, saya cuma hidungnya yang belang, ada banyak orang lain yang seluruh hidupnya yang belang.

Firman Tuhan di sini mengatakan, seluruh hidup kita, seluruh hati kita, seluruh apa yang kita miliki, boleh kita tundukkan kepada Firman Tuhan. Seorang pengkotbah John Jasper, pernah mengkotbahkan tentang total depravity, tentang ketidakmampuan manusia untuk memuliakan Tuhan. Ada seorang jemaatnya yang menjumpainya dan berkata “kotbahmu membuat saya merasa begitu kecil”, tetapi John Jasper mengatakan “that’s too big”, terlalu besar; kita tidak mengerti betapa besar tuntutan daripada Firman Tuhan: bahwa seluruh hidup kita harus dipersembahkan kepada-Nya, karena Dia adalah pemilik daripada segalanya. Tuhan ingin kita mengasihi Dia, dengan seluruh hati kita, seluruh pikiran kita, seluruh kekuatan kita, tidak ada bagian daripada hidup kita yang kita boleh serahkan kepada yang lain, apapun itu.

Yang kedua kita boleh melihat berbahayanya firman Tuhan. 2 Raja-Raja 3:4- mengatakan

“Mesa, raja Moab, adalah seorang peternak domba; sebagai upeti ia membayar kepada raja Israel seratus ribu anak domba dan bulu dari seratus ribu domba jantan. Tetapi segera sesudah Ahab mati, memberontaklah raja Moab terhadap raja Israel. Keluarlah raja Yoram pada waktu itu dari Samaria, lalu ia memeriksa barisan seluruh orang Israel. Selanjutnya ia menyuruh orang kepada Yosafat, raja Yehuda, dengan pesan: "Raja Moab telah memberontak terhadap aku! Maukah engkau bersama-sama aku berperang melawan Moab?" Jawabnya: "Aku akan maju. Kita sama-sama, aku dan engkau, rakyatku dan rakyatmu, kudaku dan kudamu.””

Yoram membentuk koalisi 3 raja: raja Israel (Yoram), raja Yehuda (Yosafat) dan raja Edom, untuk melawan raja Moab. Tetapi setelah perjalanan 7 hari mereka kehabisan air (2 Raja-Raja 3:9).  Raja Yoram putus asa dan berkata (2 Raja-Raja 3:10) “Wahai, TUHAN telah memanggil ketiga raja ini untuk menyerahkan mereka ke dalam tangan Moab!”

Tetapi ada Raja Yosafat, Raja Yehuda, yang tidak putus asa dan bertanya apakah ada Nabi disekitar tempat itu (2 Raja-Raja 3:11). Maka mereka menemukan Elisa, dan Elisa langsung berkata kepada raja Yoram (2 Raja-Raja 3:12) "Apakah urusanku dengan engkau? Pergilah kepada para nabi ayahmu dan kepada para nabi ibumu." Elisa berkata to-the-point, bahwa ia tidak akan memberikan apa yang raja Yoram inginkan, karena dia sudah tidak memperdulikan Firman Tuhan. Raja Yoram ada pada posisi yang sangat berbahaya, Tuhan tidak lagi mau menyatakan Firman-Nya kepada Raja Yoram. Ini menunjukkan betapa berbahayanya Firman Tuhan.

Selanjutnya Elisa berkata (2 Raja-Raja 3:14)

“"Demi TUHAN semesta alam yang hidup, yang di hadapan-Nya aku menjadi pelayan: jika tidak karena Yosafat, raja Yehuda, maka sesungguhnya aku ini tidak akan memandang dan melihat kepadamu.”

Kalau bukan karena Yosafat yang masih takut akan Tuhan, Tuhan tidak akan melihat dan memperdulikan Yoram sama sekali.

Kita tidak boleh take-for-granted akan Firman Tuhan, karena ada waktunya ketika kita keras hati, ketika kita terus tidak mau taat kepada Firman Tuhan, maka Tuhan akan berhenti berkata-kata kepada kita, dan itulah keadaan yang sangat berbahaya di dalam kehidupan kita. Ketika kita datang hanya kalau kita mengalami kesulitan, ketika kita tidak pernah benar-benar mencari dan tunduk kepada Firman Tuhan, maka ada waktunya Tuhan akan berhenti berkata-kata kepada kita.

Suatu kali ketika ahli taurat bertanya kepada Yesus (lihat Mrk 11:28-33): atas kuasa apa Yesus melakukan segala mukjijat. Sebelum menjawab pertanyaan itu, Yesus balik bertanya kepada mereka: darimana baptisan Yohanes itu? Dari Sorga atau dari manusia. Maka mereka berkumpul, kalau mereka menjawab dari Sorga, maka Yesus akan bertanya, mengapa mereka tidak percaya. Sebaliknya kalau mereka menjawab dari manusia, maka orang-orang akan marah kepada mereka, karena orang-orang menganggap Yohanes Pembaptis adalah seorang nabi. Jadi mereka serba salah. Mereka menjawab bahwa mereka tidak tahu, dan Tuhan Yesus berkata, kalau engkau tidak tahu, maka Aku tidak akan menjawab pertanyaanmu. That’s enough I have nothing to do with you anymore. Aku tidak akan mengatakan apapun kepadamu karena engkau tidak mempunyai hati yang mencari kebenaran. Engkau tidak sungguh-sungguh mencari Tuhan, hanya luarnya saja, tetapi sedalam hatimu, engkau hanya datang kepada Tuhan untuk membenarkan dirimu, untuk mendapat pertolongan dalam hidupmu. Ini menjadi kebahayaan dalam hidup kita.

Saya berharap di antara kita tidak ada yang di dalam posisi yang sedemikian. Kalau pattern hati kita seperti Yoram, yang menemui Tuhan hanya untuk menyatakan Tuhan menyerahkan mereka ketangan musuh, hanya untuk menyalahkan Tuhan. Raja Yoram menyatakan kedaulatan Tuhan hanya untuk melawan Dia, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh menundukkan diri kepada Tuhan. Kalau kita seperti ini, maka ada waktunya Tuhan berhenti berbicara kepada kita, dan ini adalah kebahayaan yang paling besar.

Yang ketiga, kita melihat kebaikan daripada kuasa Firman Tuhan. Hal ini dinyatakan di dalam ayat-ayat selanjutnya (2 Raja-Raja 3:16-18) :

“Kemudian berkatalah ia: "Beginilah firman TUHAN: Biarlah di lembah ini dibuat parit-parit, sebab beginilah firman TUHAN: Kamu tidak akan mendapat angin dan hujan, namun lembah ini akan penuh dengan air, sehingga kamu serta ternak sembelihan dan hewan pengangkut dapat minum. Dan itupun adalah perkara ringan di mata TUHAN; juga orang Moab akan diserahkan-Nya ke dalam tanganmu.”

Yang mengherankan ini adalah perkara ringan bagi Tuhan. Mereka datang kepada Tuhan dalam kehausan, hampir mati, dan mereka mengharapkan pertolongan dari Tuhan. Namun mereka bukan hanya mendapatkan air, tetapi mereka mendapat segala pertolongan Tuhan, menghancurkan Moab, musuh mereka.

Firman Tuhan yang berkuasa itu juga adalah Firman Tuhan yang baik. Kita berdosa kepada Tuhan karena kita tidak percaya bahwa Firman Tuhan itu adalah baik bagi kita. Firman Tuhan adalah for the best of our interests in His heart. Seringkali kita merasa terpaksa dan susah melakukan Firman Tuhan karena kita tidak percaya bahwa apa yang Dia perintahkan itu adalah yang terbaik bagi kita. Bukan hanya untuk kemuliaan-Nya, tetapi juga untuk kebaikan kita.  Harap kita semua mengalami hal ini di dalam hidup kita. Kita mendapatkan anugerah di atas anugerah, mendapatkan belas kasihan di atas belas kasihan Tuhan.

Saya mendapat anugerah besar, ketika mendengarkan kisah yang sangat indah dari Ravi Zakarias. Di tahun 1971, dia bertemu Hien Tham di Vietnam, yang saat itu sedang di dalam keadaan perang. Mereka mengadakan KKR di kota-kota Vietnam, di dalam suasana yang sangat tegang, kadang-kadang mereka harus ditemani tentara masuk ke kota-kota tertentu.

17 tahun kemudian, suatu malam Ravi menerima telepon; ternyata dari brother Hien, dan dia mulai bercerita tentang semua pengalaman dia sejak mereka berpisah. Setelah Amerika kalah di Vietnam, maka dia dipenjara oleh VietCong. Dia tidak boleh membaca segala macam buku dari barat, termasuk Alkitab, hanya boleh membaca buku-buku komunis. Setahun di dalam penjara, dia mengatakan kepada Tuhan, “setahun ini aku susah luar biasa, seakan-akan Tuhan tidak eksis sama sekali, sudah tidak ada lagi pengharapan, aku tidak lagi percaya kepada-Mu, dan besok ketika aku bangun aku tidak akan berdoa kepada Engkau.”

Lalu pagi harinya, dia diberi tugas untuk membersihkan toilet, tempat yang paling mengerikan dan paling kotor di dalam penjara. Dia membersihkan toilet satu persatu dengan tangan kosong. Namun ketika dia melakukan itu, dia melihat secarik kertas di antara kotoran manusia. Ternyata ada tulisan bahasa Inggris, dan kemudian dia bersihkan. Malam itu dia dengan diam-diam membaca tulisan itu, dan waktu dia membaca, langsung membuat hatinya hancur, karena kertas itu adalah robekan dari Alkitab dari Roma 8. Dia langsung berkata “Engkau Tuhan ternyata tidak pernah meninggalkan aku seharipun. Roma 8:28 mengatakan “bahwa llah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”“

Dia bertobat dan sadar bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan dia. Besoknya dia minta kepada komandan penjara untuk diberi tugas membersihkan toilet lagi. Setiap kali dia membersihkan toilet, dia menemukan secarik kertas yang merupakan sobekan dari Alkitab. Ternyata beberapa waktu lalu komandan itu diberikan Alkitab, dan sang komandan setiap hari menyobek secarik halaman dari Alkitab, dan menggunakannya sebagai tissue toilet. Tetapi Hien, setiap kali membersihkan kotoran manusia, dia mendapatkan ayat-ayat Alkitab, yang dia gunakan untuk devotion setiap hari.

Saudara sekalian, kalau ada kisah-kisah seperti ini, hal itu adalah untuk menggerakkan kita untuk membaca Firman. Menyadari bahwa Firman Tuhan itu lebih indah daripada emas, Firman itu lebih manis daripada madu, bahkan dari madu tetesan dari sarang lebah. Pemazmur berkata “Firmanmu adalah pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Mazmur 119  mengatakan Firman sebanyak 176 kali; Mazmur 119 terdiri dari 22 bagian yang mewakili 22 karakter abjad ibrani, setiap bagian terdiri dari 8 ayat (22 x 8= 176), seluruhnya mengenai satu tema yaitu Firman Tuhan itu begitu berharga.  

Beban Firman Tuhan adalah enak dan ringan. Di dalam 2 Raja-Raja 3:26-27

“Ketika raja Moab melihat, bahwa peperangan itu terlalu berat baginya, diambilnyalah tujuh ratus orang pemegang pedang bersama-sama dia untuk menerobos ke jurusan raja Edom, tetapi tidak berhasil. Kemudian ia mengambil anaknya yang sulung yang akan menjadi raja menggantikan dia, lalu mempersembahkannya sebagai korban bakaran di atas pagar tembok. Tetapi kegusaran besar menimpa orang Israel, sehingga mereka berangkat meninggalkan dia dan pulang ke negeri mereka.”

Raja Moab sudah terdesak dan merasa akan kalah, sehingga di tengah keadaan yang desperate ini, dia mempersembahkan anaknya yang sulung, calon penggantinya, sebagai korban bakaran bagi dewa baal.

Ini adalah gambaran yang harus dibayar ketika engkau mengikuti berhala. Orang-orang yang mengikuti berhala, akan mengorbankan segalanya, baru kemudian berhala-berhala itu memberikan berkatnya. Penulis mau mengatakan “oh Israel, betapa berharganya mengikuti Yahwe, karena engkau tidak harus mengorbankan anakmu, tetapi Dia yang telah mengorbankan Anak-Nya sendiri”. Kita datang kepada Tuhan bukan dengan mengorbankan segala sesuatu. Keselamatan adalah anugerah Tuhan, keselamatan yang kita miliki adalah karena Dia terlebih dahulu sudah memberikannya kepada kita. Kita diajarkan untuk mengasihi Dia dengan segenap hati dan segenap jiwa, tetapi kita tidak mungkin bisa melakukannya, kecuali Dia terlebih dahulu sudah mengasihi kita.  

Ravi Zakaria juga mempunyai cerita, suatu ketika dia bertemu dengan seorang Sheik pemimpin dari Hamas. Sheik ini telah kehilangan beberapa anaknya, melakukan suicide bombing. Dia begitu bangga menceritakan anaknya melakukan hal itu. Ravi kemudian berkata “engkau tahu kisah daripada Abraham, ketika Abraham diperintah Tuhan untuk mempersembahkan anaknya, Tuhan berkata “Abraham jangan kau apa-apakan anakmu”, Tuhan menghentikan pisau daripada Abraham, karena anak itu bukanlah juruselamat. Tetapi beberapa ribu tahun kemudian, tidak jauh dari tempat kita berbicara sekarang, ada satu bukit, di situ Allah Bapa tidak menghentikan pisau yang membunuh Anak-Nya. Sheik, sampai engkau dan saya menerima Anak Allah di atas kayu salib, engkau dan saya akan terus mengorbankan anak-anak kita untuk segala alasan yang salah.” 

Memang kita tidak sungguh-sungguh mengorbankan anak kita sendiri, tetapi kalau kita tidak mentaati Tuhan, kalau kita tidak mengutamakan Allah dan hal hal yang bersifat kekal, maka kita akan mengorbankan keluarga kita, dan diri kita sendiri.

Mengikut Tuhan itu adalah enak dan ringan. Tuhan Yesus sendiri berkata (Mat 11:28-30) “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan."”. 

Engkau merasa mengikut Tuhan itu berat, tetapi cobalah mengikut berbahala, engkau akan tahu berapa beratnya dan berapa habisnya hidupmu. Memang mengikut Tuhan itu banyak tantangan dan ini adalah jalan yang sempit, tetapi jalan itu adalah enak dan ringan. Mengapa? Karena ada Tuhan yang menyertai, ada Tuhan yang memimpin. Tuhan yang sudah terlebih dahulu memberikan Anak-Nya yang tunggal bagi kita. Tuhan bukan hanya memberikan keselamatan bagi kita, tetapi Dia juga berjanji akan terus menyertai kita.

Perjalanan Salib penuh dengan tantangan yang berat, tetapi sekaligus juga ada paradoks, memikul salib itu ringan, karena Tuhan terlebih dahulu sudah mengerjakannya. Tuhan sudah memberikan hati yang baru, hidup yang baru, sehingga tidak ada apapun yang kita lakukan, kita boleh hanya percaya saja. Tentu dengan percaya yang sungguh-sungguh, yang menyadari bahwa Dia sudah memberikan segalanya bagi kita, dengan hidup yang mengasihi, yang mentaati dan yang memuliakan Tuhan.  Kita akan mempercayai itu, dan mengalami perjalanan itu adalah yang enak dan ringan. Ada suka cita yang berlimpah-limpah di hadapan Tuhan, seberapa banyak sukacita kita ketika kita berhadapan dengan wajah Tuhan? Berapa lama? Selama-lamanya. Ada nikmat senantiasa, bukan 8 hari, bukan 8 tahun, apalagi bukan 8 menit bersama pelacur, tetapi ada sukacita yang berlimpah-limpah dan selama-lamanya. 

Ringkasan oleh Matias Djunatan | Diperiksa oleh Sianny Lukas


Ringkasan Khotbah lainnya