Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Kristus yang penuh Anugerah dan Kebenaran

Ibadah

Kristus yang penuh Anugerah dan Kebenaran

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 21 Agustus 2016

Bacaan Alkitab: Yohanes 1:14-18, Yohanes 18:36-38, Roma 8:32

Sebagai anak-anak Allah, kita diharapkan sungguh-sungguh mengalami kemuliaan Allah yang penuh dengan anugerah dan kebenaran. Ketika kita datang kepada Kristus dan makin mengenal Dia, maka kita akan menemukan bahwa Dia adalah Allah yang penuh anugerah. Semakin kita bergaul dan mengenal Dia, maka kita semakin menyadari bahwa dari kepenuhan-Nya, kita semua telah menerima anugerah demi anugerah. Artinya ketika kita datang kepada Dia dan mengenal Dia - Allah yang penuh anugerah itu - maka kita memiliki kesadaran dan pengertian bahwa Allah yang penuh anugerah itu sendiri merupakan anugerah Tuhan. Hal itu dinyatakan dalam hubungan Yohanes 1:14 dan Yohanes 1:16. Dimana ayat 14 tertulis: “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran”, yang disambung dengan ayat 16 yang berkata: “Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia”.

Mengapa kita bisa melihat kemuliaan Allah yang penuh anugerah seperti yang tertulis dalam ayat 14? Karena dari kepenuhan-Nya itu, kita memperoleh anugerah demi anugerah, sehingga ketika kita mengerti bahwa Allah penuh dengan kemuliaan, itu karena Tuhan telah terlebih dahulu memberikan anugerah-Nya kepada kita. Ketika kita makin bergaul dan mengenal Dia, maka kita akan mengetahui bahwa Dia, Allah yang penuh dengan anugerah, continue and never exhausted grace. Ketika satu anugerah selesai maka anugerah yang lain akan tiba. Roma 8:32 mengatakan “Dia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia.

Sekali lagi, sebagai anak-anak Tuhan, kita diharapkan sungguh mengalami kebaikan dan kemuliaan Tuhan. Bukan berarti kehidupan anak-anak Tuhan tidak pernah mengalami kesulitan dan penderitaan setelah mengalami anugerah Tuhan. Tetapi kita percaya bahwa di tengah kesulitan dan penderitaan yang kita hadapi, Tuhan sedang mendatangkan kebaikan melalui kesulitan dan penderitaan tersebut. Seperti iman rasul Paulus, salah satu pengikut Kristus yang dalam penderitaannya masih mampu berkata (2 Kor 4:17) “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami”.  Jadi sebagai anak-anak Tuhan, kita masih bisa memuji Tuhan di tengah-tengah tantangan, pergumulan dan kesulitan yang dihadapi karena kita percaya pada akhirnya Tuhan yang penuh anugerah itu akan mendatangkan kebaikan bagi kita. 

Banyak orang Kristen atau gereja yang percaya akan kasih dan anugerah Tuhan yang diselewengkan. Contohnya orang-orang yang memperjuangkan legalisasi pernikahan sesama jenis (same sex marriage). Mereka mengatakan “kita saling mengasihi, mengapa kita dilarang menikah?”. Mereka memakai kata “kasih” dimana kata “kasih” itu sudah tidak sesuai dengan apa yang Alkitab katakan. Kadang-kadang Gereja hanya mengajarkan tentang kasih, anugerah dan kebaikan dari Tuhan, namun tidak disertai dengan kebenaran. Memang suatu keharusan, Gereja mengajarkan hal-hal yang baik tentang Tuhan, namun Gereja juga tidak boleh lupa menekankan kemuliaan Tuhan yang penuh kebenaran. Richard Niebuhr menganalisa gejala Gereja jaman ini yang mengajarkan “A God without wrath, brought men without sin into a kingdom without judgement through a ministration without a cross”. Mereka mengajarkan Allah tanpa murka (karena murka tidak disukai dunia), yang membawa manusia tanpa dosa (karena dosa tidak suka diberitakan) ke dalam kerajaan tanpa penghakiman (karena penghakiman merupakan sesuatu yang merusak), melalui pelayanan Kristus yang tanpa salib (karena salib merupakan kematian atau kekejaman yang tidak disukai banyak orang). Pengkotbah terkenal yaitu Joel Osteen, dia tidak pernah mengkotbahkan tentang salib Kristus. Sebaliknya dia terus dan hanya menekankan tentang kebaikan-kebaikan Kristus. Hal itu sangat berbahaya sekali karena nilai kemuliaan Tuhan yang penuh anugerah dan kebenaran menjadi rendah (murah). Dietrich Bonhoeffer mengatakan Although God’s grace is free but it is not cheap. Banyak gereja jaman kini yang memberitakan kebaikan, kemurahan, kasih dan anugerah Tuhan yang begitu murah. Kita memang mengerti bahwa Gereja harus menekankan kemuliaan Allah yang penuh anugerah sehingga anak-anak Tuhan boleh mengalami kebaikan dan anugerah Tuhan, namun disisi yang lain kita tidak boleh melupakan kemuliaan Tuhan yang penuh dengan kebenaran. Kita tidak boleh menekankan aspek yang satu namun membuang aspek yang lain, melainkan kita harus harus memegang dan menekankan kedua-duanya.

Pada bagian sebelumnya, kita telah membahas dan menekankan tentang anugerah Tuhan, tetapi kali ini kita ingin membahas dan menekankan tentang kebenaran Allah. Karena kebenaran merupakan konsep yang penting dalam keseluruhan isi alkitab. Bahkan kedatangan Kristus merupakan puncak yang menyatakan kebenaran itu sendiri. Inilah yang dikatakan dalam Yohanes 18:37 “Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku”. Di dalam Yohanes 14, Yesus sendiri berkata “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” Allah kita merupakan Allah yang mencari penyembah-penyembah di dalam roh dan kebenaran. Kebenaran merupakan hal yang sangat penting, dan Kristus menyatakan kebenaran Allah dalam hidup-Nya. Inilah puncak yang dinyatakan oleh Kristus yang jauh lebih berharga dari wahyu umum (general revealation). Wahyu umum dimana Tuhan menyatakan kemuliaan-Nya melalui ciptaan-Nya yang juga sangat baik. Kalau kita memikirkan sedikit tentang wahyu umum, maka kita akan semakin menghargai Kristus yang lebih mulia daripada seluruh ciptaan yang lain.

Dalam salah satu bagian buku Nancy Pearcy yang berjudul “Finding Truth”, dia bercerita bahwa kita boleh mengenal Allah dari fine tuning of the universe. Maksudnya ialah bila kita melihat keberadaan alam semesta ini, kita bisa melihat adanya tuning yang begitu tepat yang ada di dalam dunia ini. Bila kita belajar gaya gravitasi, perbandingan massa proton dan electron dalam sebuah atom, maka semua itu memiliki keakuratan yang begitu tinggi agar kita bisa hidup di dalam dunia ini. Pernahkan kita berpikir kenapa apel selalu jatuh ke bawah, bukan ke atas, bukan ke kiri atau ke kanan. Berapa kecepatan dan percepatan jatuhnya apel dari ketinggian tertentu. Dari penelitian Newton, akhirnya dia menetapkan bahwa gaya gravitasi bumi ialah 9.8 m/detik2. Menurut ilmuan, apabila nilai gaya gravitasi bumi ini bergeser 10-16 saja maka manusia sudah tidak bisa hidup di bumi ini. Kenapa nilainya harus persis atau presisi begitu? Menurut penulis, hal ini dinamakan “Fine Tuning” atau “Intelligent Design” dari alam semesta ini. Yang mau ditarik dari cerita ini ialah apabila kita melihat alam semesta ini, maka seharusnya ada Genius Intelligent Designer yang membuat ini semua. Ketika kita melihat alam semesta ini, kita masih belum mengetahui siapakah Intelligent Designer itu, sampai Tuhan Yesus datang ke dunia ini dan menyatakannya kepada kita bahwa Tuhanlah Pencipta alam semesta ini. Seperti yang tertulis dalam kitab Yohanes 1:18 “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya”. Tetapi ironisnya, Allah yang begitu Agung, begitu mulia itu tidak diberitakan oleh Gereja. Banyak Gereja jaman ini yang hanya menekankan sesuatu yang sepertinya Allah itu penuh kasih, maha baik, penuh anugerah, namun mereka tidak melihat Allah yang penuh kemuliaan. Ada seorang penulis berkata, bila ada para ilmuwan yang mengerti dan melihat alam semesta ini dengan penuh kekaguman akan ciptaan Tuhan, lalu kemudian datang ke Gereja yang tidak sesungguhnya menyatakan Allah yang begitu besar dan mulia, maka penulis itu berkata bahwa para ilmuwan itu mungkin akan berkata bahwa pendeta itu sedang menghujat Allah. Biarlah kita menjadi Gereja yang setia memberitakan kemuliaan Allah yang penuh dengan kebenaran. Karena tanpa kebenaran, maka semua yang kita beritakan akan menjadi dusta dan kebodohan. Roma 1:25 mengatakan “Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya”.

Jika kita kembali ke injil Yohanes, maka kebenaran yang paling puncak yang dinyatakan oleh Kristus ialah kebenaran tentang kematian dan kebangkitan Kristus. Dalam injil Yohanes, kebenaran sangat diutamakan dan ditekankan terus menerus. Karena di dalam injil Yohanes ini, kata “kebenaran” disebutkan sebanyak 48 kali. Sedangkan injil Matius 2 kali, injil Markus 4 kali dan injil Lukas hanya 5 kali saja. Hari ini akan dikotbahkan kebenaran tentang kematian dan kebangkitan Kristus. Di dalam kelas katekisasi ada yang bertanya, kenapa Allah harus menjadi manusia? Inilah yang dikatakan dalam Yohanes 1:14 “Firman itu telah menjadi manusia (daging), dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran”. Kita tahu bahwa Firman itu merupakan Allah itu sendiri dan Allah menjadi manusia. Mengapa Allah harus menjadi manusia? Jawabannya ialah Allah harus menjadi manusia karena dia harus mewakili manusia. Dia mewakili manusia untuk mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Dan Yohanes mengatakan “Firman menjadi daging”, suatu kata yang sangat kasar sekali. Yang artinya, Yohanes ingin menekankan bahwa Yesus betul-betul berdaging seperti manusia sehingga Dia boleh mati di kayu salib mewakili kita semua. Karena semua manusia berdosa, dan hukuman dosa ialah mati, sehingga manusia harus mati karena semua manusia berdosa. Kristus tidak berdosa tetapi dia harus datang sebagai manusia untuk menerima hukuman manusia yang berdosa. Kalau Dia bukan manusia, maka Dia tidak mungkin mati untuk menebus dosa manusia.

Selain Kristus merupakan manusia sejati, Dia tentunya harus Allah yang sejati. Kalau Dia hanya manusia sejati maka Dia juga ikut berdosa karena semua manusia berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Tetapi Dia dilahirkan tidak seperti manusia biasa. Dia dilahirkan oleh Roh Kudus melalui darah Maria. Kristus boleh mati di kayu salib sebagai Dia manusia sejati dan kemudian Kristus boleh bangkit karena Dia adalah Allah yang sejati. Inilah kebenaran yang penting yaitu kebenaran Kristus yang bisa mati karena Dia merupakan Firman yang menjadi daging, dan kebenaran Kristus yang bisa bangkit karena Dia merupakan Allah yang sejati.

Kebangkitan Kristus merupakan kebenaran yang penting, terutama bagi Paulus, dimana dia sadar sekali bahwa hidupnya diubahkan setelah dia mengerti arti kebangkitan Kristus. Dalam 1 Kor 15, Paulus berkata “Kalau Kristus tidak dibangkitkan maka sia-sialah iman kita karena kita masih hidup dalam dosa”. Dan terlebih lagi dia mengatakan “Kalau Kristus tidak dibangkitkan, maka saya akan makan dan minum, sebab besok kita mati”. Apa arti kalimat ini? Karena bagi Paulus, bila Kristus tidak dibangkitkan, maka hidupnya normal biasa-biasa saja lalu kemudian mati. Tetapi bila Kristus telah bangkit, maka keseluruhan hidupnya akan berubah sama sekali. Mengutip perkataan Paulus di I Korintus 15:19 “Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus (maksudnya Kristus tidak dibangkitkan), maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia”. Lalu dalam I Korintus 15:32, dia berkata “Kalau hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan manusia saja aku telah berjuang melawan binatang buas (bertaruh nyawa) di Efesus, apakah gunanya hal itu bagiku? Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka "marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati". Ayat 32 mengatakan kalau Kristus tidak dibangkitkan, semua akan hidup seperti biasa saja, tetapi jika Kristus sudah dibangkitkan dan buktinya memang Kristus sudah dibangkitkan maka hidupku akan ditandai dengan hal seperti ini yaitu orang yang tidak percaya bahwa Kristus sudah dibangkitkan dan ketika mereka melihat hidupku yang percaya Kristus yang sudah dibangkitkan, maka seharusnya mereka akan mengatakan bahwa kamu adalah orang yang paling malang di dunia ini, kamu adalah orang yang paling bodoh di dunia ini.

Mengapa demikian? Mengapa orang yang tidak percaya Kristus yang dibangkitkan itu akan mengatakan hal demikian kepada kita atau Paulus yang percaya Kristus yang telah dibangkitkan itu? Karena bagi Paulus, hidup dalam terang kebenaran kebangkitan Kristus adalah hidup yang menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Kristus. Dengan kata lain, dia tetap akan menjalankan hidupnya dalam segala ketaatan kepada Kristus walaupun hidupnya harus menghadapi bahaya atau menghadapi kesulitan dan penderitaan. Hidup kita ialah hidup yang percaya Kristus telah dibangkitkan, dengan demikian kita boleh menyerahkan segala hidup kita bagi Dia. Hidup yang selalu taat dan memuliakan Tuhan, kita tahu hidup yang demikian merupakan hidup yang penuh kesulitan dan penderitaan. Tuhan Yesus mengatakan (lihat Mat 16) “barang siapa yang mengikut Aku, dia harus menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Aku”. Tuhan Yesus mengatakan “kalau mereka menganiaya Aku, maka mereka pasti menganiaya kamu kalau kamu mengikut Aku”. Paulus mengatakan kepada Timotius (lihat 2 Tim 3:12) “barang siapa yang menjalankan Godly life, maka mereka akan dianiayai”.

Sebagai orang yang percaya Kristus yang telah dibangkitkan, sudah berapa banyak hal yang sudah kita lakukan dalam hidup, misalnya bagaimana kita mengatur waktu kita, bagaimana kita mengatur hidup kita di dunia ini, bagaimana kita menggunakan uang kita, bagaimana kita menggunakan leisure time kita, sehingga orang-orang yang tidak percaya Kristus yang dibangkitkan yang melihat kehidupan kita akan berkata “kamu bodoh sekali, kenapa kamu menjalani hidup yang seperti itu!”. Paulus mengerti hidup yang demikian karena dia sudah mengalami berbagai hal yang sulit, penderitaan sampai harus bertaruh nyawa dalam pelayanan, seperti kalimat yang diucapkannya dalam I Korintus 15:32 “Kalau hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan manusia saja aku telah berjuang melawan binatang buas (bertaruh nyawa) di Efesus, apakah gunanya hal itu bagiku? Paulus tahu Yesus sudah dibangkitkan, dan dia percaya bahwa ketaatannya kepada Kristus semasa hidup tidak akan sia-sia karena dia yakin bahwa dia juga akan dibangkitkan setelah mati, dan akan bertemu muka dengan muka dengan Kristus yang telah dibangkitkan itu. Itulah sukacita yang dinanti-nantikan Paulus.

Janganlah seperti Pilatus yang dapat kita baca dari Yohanes 18:36-38. Ketika Yesus berkata “Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku." Kata Pilatus kepada-Nya: "Apakah kebenaran itu?" Walaupun Pilatus bertanya demikian, dia sebenarnya tidak mau tahu tentang kebenaran. Karena setelah dia bertanya, dia langsung meninggalkan Yesus dan menjumpai orang-orang Yahudi dan berkata kepada mereka: "Aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya. Dia tahu Yesus tidak bersalah dan merupakan orang yang benar. Tetapi bagi Pilatus, apakah Yesus benar atau tidak, hal itu tidak terlalu penting. Yang terpenting ia dapat mempertahankan kekuasaannya sebagai gubernur di kota itu. Realita atau kebenaran bagi Pilatus saat itu ialah begitu dia melepaskan Yesus, walaupun dia tahu Yesus tidak bersalah, maka kekacauan akan terjadi di kota itu, sehingga dia bisa dicopot oleh penguasa Roma. Mempertahankan kekuasaan merupakan “Kebenaran” dan realita bagi Pilatus.

Sebagai anak-anak Tuhan, janganlah kita seperti Pilatus yang mencari kebenarannya sendiri. Karena kebenaran dari alkitab atau kebenaran dari Kristus adalah kebenaran yang memberi definisi “apa itu realita”.  Realita saat itu bagi Pilatus, dia berada di posisi yang sulit. Realita bagi kita, mungkin bisa berupa tantangan dan kesulitan. Tetapi biarlah kita dapat melihat realita hidup kita dari kebenaran Kristus. Kita boleh mengerti apa yang kita hadapi berdasarkan kebenaran firman Tuhan. Tuhan Yesus berkata” Jikalau kamu tinggal di dalam firmanKu, maka engkau sungguh-sungguh muridKu. Dan kamu  akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka". Biarlah kebenaran firman itu yang memerdekakan kita dan membuat kita hidup dalam kebenaran. Inilah persekutuan yang memerdekakan dan menjadikan kita murid-mudri Kristus. Merdeka dari dosa dan merdeka dari rasa bersalah. Kemerdekaan yang sejati ialah jika kita boleh hidup dalam kebenaran Allah. Kadang-kadang kita berpikir bahwa firman Allah itu sesuatu yang mengekang kita. Tetapi kitab Yohanes berkali-kali berkata kebenaran itulah yang akan memerdekakan kita. Firman Allah itu bukanlah mengekang, namun justru memberikan arah kepada kita. Firman itu ibarat rel kereta, sepanjang kereta berjalan di atas rel, maka kereta itu bisa berjalan dengan bebas, secepat atau sebebas kecepatan yang diizinkan. Namun bila dia berjalan diluar rel, maka kereta itu akan bertabrakan dan hancur. Firman Tuhan merupakan rel di dalam hidup kita, sehingga kita boleh hidup merdeka dalam kebenaran firman Tuhan. Tetapi kehidupan dalam dosa dan melanggar firman Tuhan, justru merupakan kehidupan yang mengikat dan menghancurkan.

Biarlah kita menjadi Gereja yang memberitakan kemuliaan Tuhan yang penuh kebenaran dan anugerah. Hidup dalam kebenaran merupakan hidup yang transparan. Apa yang kita lakukan dan katakan akan menjadi surat yang terbuka. Hidup dalam kebenaran merupakan hidup yang merdeka, tetapi hidup yang bertopeng merupakan hidup yang sangat melelahkan. Jika kita berkata, maka perkatakan yang kita ucapkan juga harus penuh kebenaran. Termasuk ketika kita berkata kepada anak-anak kita, kepada teman-teman kita, sekalipun untuk hal kecil, kita juga harus mengatakan kebenaran dari mulut kita. Biarlah kita boleh bertumbuh dan hidup kita sungguh-sungguh di dalam kebenaran.

 Sebagai penutup, saya akan mengutip pernyataan CS Lewis yang mengatakan, apabila kita hidup mentaati firman Tuhan, maka hidup yang demikian akan penuh dengan resiko. Dia mengambil contoh dalam alkitab dimana kita diperintahkan untuk mengasihi orang lain. Ketika kita sungguh-sungguh mengasihi orang lain, maka hati kita beresiko dipatahkan. Mengasihi siapapun, hati kita beresiko terluka. Maka CS Lewis memberikan alternatif. Bila hati kita tidak mau terluka, maka jagalah hatimu dan bungkus rapat-rapat. Jangan berikan hatimu kepada siapapun, bahkan kepada anjing sekalipun. Karena jika anda mengasihi anjing dan anjing itu mati, maka hatimu akan terluka. Jadi jangan berikan hatimu kepada siapapun. Jika anda mengunci hatimu rapat-rapat, maka hatimu tidak akan terluka. Ketika hatimu dikunci rapat-rapat, maka hatimu juga akan berubah, dia juga tidak bisa ditembus oleh apapun, dan tidak dapat ditebus. Karena alternatif surga ialah neraka. Alternatif dari mentaati kebenaran Kristus yang penuh resiko itu ialah neraka yang penuh dengan murka Allah. Sekali lagi, biarlah kita menjadi anak-anak yang hidup dalam kebenaran Kristus meskipun penuh dengan resiko dan tantangan. Kita boleh setia dari hal-hal kecil dan terus dalam seluruh hidup kita, kita boleh mengerti kebenaran firman itu dalam hidup kita. Khususnya tentang kebenaran kematian dan kebangkitan Kristus, yang boleh mengubah dan mendorong hidup kita untuk menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Kristus. Dan didalamnya kita juga akan menemukan anugerah Tuhan sehingga kita akan mengalami kebaikan Tuhan. Kita akan mengalami pembentukan terdalam di dalam hidup jika kita mentaati kebenaran Tuhan, walaupun kita berada di tengah-tengah kesulitan dan tantangan.

Mazmur 23 mengatakan “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya”. Itu adalah hal baik yang Tuhan berikan kepada kita. Dan Mazmur 23 itu selalu menyebut “Ia…, Ia…, Ia…”, yang dalam tata bahasa memakai kata pengganti orang ketiga tunggal. Tetapi ketika sampai pada ayat “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku”. Bukan lagi kata ketiga tunggal yang dipakai disini, tetapi orang kedua tunggal yaitu “Engkau”. CS Lewis mengatakan Tuhan berkata-kata kepada kita di saat-saat yang lancar, tetapi Tuhan bertanya di telinga kita, ketika kita di tengah-tengah kesulitan. Kesulitan kita di dalam ketaatan kita kepada Tuhan. Karena kita hidup dalam kebenaran yang diinginkan Tuhan, maka Ia lebih dekat dan lebih intim kepada kita.  Mentaati Tuhan berarti mentaati kebenaranNya. Biarlah kita boleh mengalami kemuliaan Tuhan yang penuh dengan anugerah dan kebenaran. Agar kedua-duanya boleh menjadi realita (kenyataan) dalam kehidupan kita ketika kita mentaati Tuhan. 

 

 

Ringkasan oleh Budi Walujo | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya