Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Panggilan Yesus bagi Murid-Murid-Nya

Ibadah

Panggilan Yesus bagi Murid-Murid-Nya

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 18 September 2016

Bacaan Alkitab: Yoh 1:35-51

Melalui pembacaan Alkitab di atas, kita belajar melihat bagaimana murid-murid Yesus yang pertama, hidupnya diubahkan untuk selama-lamanya. Ini adalah panggilan pertama kali mereka bertemu dengan Kristus  dan hidup mereka diubah dan tidak pernah lagi sama seperti sebelumnya. Mereka adalah orang-orang yang hidupnya biasa saja, tetapi kemudian dipanggil oleh Kristus dan hidup mereka berubah menjadi rasul-rasul yang Tuhan pakai menjadi berkat yang besar melalui pelayanan dan pemberitaan Injil.  

Mengapa mereka berubah? Karena mereka telah bertemu dengan Kristus, telah melihat kemuliaan-Nya dan telah mengalami anugerah-Nya.

Kali ini kita akan melihat tujuh hal tentang kemuliaan Anak Tunggal Bapa.

1) Yesus adalah sasaran pelayanan Yohanes pembaptis. Hal ini kita lihat dari Yoh 1:35–37: “Pada keesokan harinya Yohanes berdiri di situ pula dengan dua orang muridnya. Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: “Lihatlah Anak Domba Allah!”  Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus.”

Ini adalah sesuatu yang sebenarnya tidak mudah bagi Yohanes pembaptis dilihat dari konteks antara guru dan murid pada saat itu.  Pada zaman itu ketika murid ikut kepada gurunya maka ia menyerahkan seluruh waktunya, hidupnya kepada guru itu dan ia hanya punya satu guru saja. Ia akan mengikuti terus guru itu kemana saja guru itu berada. Jadi murid-murid Yohanes pembaptis mengikuti dia, belajar dari dia, dibentuk oleh dia, mengikuti pelayanan dia, tetapi kemudian Yohanes pembaptis berkata “Lihatlah anak domba Allah” dan murid-murid itu kemudian pergi mengikuti Yesus. Inilah seluruh pelayanan daripada Yohanes pembaptis yang menyatakan kemuliaan Kristus. Dia menyadari bahwa dia harus makin menyusut; murid-muridnya pergi meninggalkan dia dan Yesus akan semakin bertambah.

2) Yesus adalah Anak domba Allah itu yang menghapus dosa dunia. Ketika murid-murid Yohanes pembaptis (Andreas dan Yohanes) datang kepada Kristus, mereka datang dengan kesadaran bahwa Dia adalah Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia dan mereka adalah anak-anak domba Allah yang mengikuti akan gembala yang memimpin, menjaga dan memberi mereka makan.

3) Yesus adalah pemberi/pencelik mata rohani kita (Yoh 1:38–39). Dalam ayat ini kita melihat satu contoh percakapan antara Yesus dengan Andreas dan Yohanes yang tidak menyambung karena “frekuensinya” berbeda. Seringkali Kristus berbicara di dalam “frekuensi” rohani, sementara orang-orang lawan bicara Yesus terus berpikir, berespons di dalam “frekuensi” fisikal.  Contoh lainnya adalah percakapan Yesus dengan Nikodemus bahwa orang harus dilahirkan kembali; bukan secara fisik, tetapi dilahirkan oleh Roh (spiritual reborn). 

Ketika Tuhan Yesus menanyakan Andreas dan Yohanes “Apakah yang kamu cari?”  sebenarnya Tuhan Yesus ingin mengajak dan membawa mereka kepada sesuatu yang lebih dalam, berbicara hal yang lebih luas, lebih rohani karena banyak orang yang mengikut Yesus dengan alasan dan motivasi yang salah. Pertanyaan ini juga adalah pertanyaan yang boleh dan harus kita jawab. Apakah yang kita cari datang ke Gereja hari ini? Apakah yang kita cari dalam mengikut Tuhan? Apakah yang kita cari dalam hidup kita?  Kalau kita masih mencari hal-hal yang fisikal, maka kita belum mengerti isi hati Tuhan. Banyak hal yang kita tidak mengerti apa yang Tuhan sedang bentuk dan ingin nyatakan kepada kita. Kita terus mencari apa yang kita pikir itu yang memberi kebahagiaan, damai sejahtera bagi hati kita. Kita terus mencari apa yang sesungguhnya bukan yang Tuhan tawarkan kepada kita, bukan kebutuhan kita yang paling dalam.  Jawaban Tuhan “Marilah dan kamu akan melihatnya” adalah suatu undangan dari Tuhan bukan hanya untuk melihat dimana Dia tinggal, tetapi untuk mengenal Dia sendiri.

4) Yesus adalah Mesias

5) Yesus adalah pemberi identitas kita. Dalam pembacaan ayat ke 42, Tuhan yang memberi identitas kepada Petrus. Tidak ada penjelasan mengapa Yesus mengubah nama Simon menjadi Kefas (Arabic) = Petrus (Greek) yang berarti batu karang. Penekanan di sini adalah Yesus memberi identitas baru, mengganti nama Simon.  Sesungguhnya Tuhan memberikan nama yang baru bagi setiap kita.  Dalam Wahyu 2:17 dituliskan: “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, kepadanya akan Kuberikan dari manna yang tersembunyi; dan Aku akan mengaruniakan kepadanya batu putih, yang diatasnya tertulis nama baru, yang tidak diketahui oleh siapapun, selain oleh yang menerimanya.”  

Tuhan lah yang memiliki otoritas untuk menentukan siapa kita. Nama itu bukan sekedar sebutan bagi seseorang. Pada zaman itu, nama berarti identitas, karakternya, menunjukkan siapa diri seseorang sesungguhnya. Siapakah kita? Biarlah kita juga boleh datang kepada Tuhan karena Dia yang memiliki otoritas dan Dia memiliki nama yang terindah bagi kita, Dia yang menentukan destiny kita, siapa kita dan biarlah hidup kita memenuhi, menggenapi, meresponi panggilan Tuhan tentang siapa kita. Setiap orang Kristen ada keunikan masing-masing, dari latar belakang yang berbeda,  pengalaman berbeda, talenta dan cara pikir yang berbeda, ada kemampuan yang berbeda. Tuhan ingin membentuk hidup kita masing-masing sebagai satu anggota tubuh Kristus yang memiliki fungsi yang berbeda-beda. Biarlah kita boleh datang kepada Tuhan dan berkata “Tuhan bentuklah aku, jadikan diriku sebagaimana apa yang Engkau inginkan”; ini adalah yang terindah bagi setiap kita.

6) Yesus berotoritas untuk memanggil kita. Dalam ayat 43 dikatakan: “ Pada keesokkan harinya Yesus memutuskan untuk berangkat ke Galilea. Ia bertemu dengan Filipus, dan berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!”.  Dia adalah Tuhan yang memang berotoritas untuk memanggil kita.  Dalam Yohanes 15:16 dikatakan: “Bukan kamu yang memilih Aku,  tetapi Akulah yang memilih kamu…”.

7) Kristus mengenal kita luar dalam.  Di dalam Yon 1:45-49, Natanael menyatakan prejudice-nya tentang Nazaret, tetapi dia mengatakan apa adanya, apa yang dipikirkan, yang ada dalam hatinya. Tuhan tahu inside dari Natanael, Dia mengerti hatinya dan berkata “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!’. Tuhan juga mengerti situasi, keadaan luarnya dengan mengatakan kepada Natanael ”Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara”.

Ini adalah sesuatu yang indah, yang menyatakan kemuliaan Kristus sekaligus menjadi penghiburan besar bagi kita ketika Tuhan berkata  “Aku tahu apa yang ada di dalam hatimu, pikiranmu sedalam-dalamnya lebih dari siapapun yang engkau kenal”. Dan bukan hanya itu, Dia juga tahu situasi di mana kita hidup, pengalaman, tantangan, kesulitan pergumulan yang kita hadapi, keadaan di mana kadang-kadang tidak ada orang lain yang tahu, yang tidak kita pernah ceritakan pada orang lain. Kalau kita percaya bahwa Dia adalah Tuhan yang besar, yang berkuasa, yang mengasihi kita, maka itu menjadi penghiburan yang besar bagi kita.

 

Ringkasan oleh Adrian Gandanegara | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya