Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Mesias, Anak Allah, Raja Israel, dan Anak Manusia

Ibadah

Mesias, Anak Allah, Raja Israel, dan Anak Manusia

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 25 September 2016

Bacaan Alkitab: Yoh 1:43-51, 2 Samuel 7:12-14a,16

Ketika kita melihat seluruh injil Yohanes pasal pertama, paling tidak Yohanes menyatakan sepuluh titel/nama tentang siapakah Yesus Kristus. Yohanes 1:1 menyatakan “Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Disini ada dua titel dari Yesus: pertama Ia adalah Firman dan kedua Ia adalah Allah itu sendiri. Ketiga, Ia adalah terang (Yoh 1:9). Keempat, Ia adalah Yesus Kristus (Yoh 1:17). Kelima Ia adalah Anak domba Allah (Yoh 1:29). Keenam, Ia adalah rabbi (Yoh 1:38). Ketujuh, Ia adalah Mesias (Yoh 1:41). Kedelapan dan kesembilan, Ia adalah Anak Allah dan Raja Israel (ayat Yoh 1:49). Kesepuluh, Anak Manusia (Yoh 1:51).

Di dalam Alkitab, nama bukan hanya sebuah sebutan tetapi juga merupakan sesuatu yang menunjukan identitas seeorang; nama Yesus menunjukan karakter seperti apa yang ingin Ia ingin nyatakan kepada kita. Jadi melalui nama-nama ini, kita bisa mengenal pribadi dan kemuliaan Kristus.

Kita akan merenungkan 4 titel yang terakhir: Mesias, Anak Allah, Raja Israel, dan Anak Manusia. Ini adalah nama-nama yang sangat penting didalam kehidupan Yesus karena melalui nama-nama ini Ia ditangkap, disalibkan ,dan mati untuk menebus kita dari segala dosa.

Nama Mesias, Anak Allah, dan Raja Israel sering digabung didalam perjanjian lama untuk menunjukan pribadi Kristus. Respon Nathanael kepada Kristus “Rabi engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” menunjukan kekaguman Nathanael terhadap pribadi Kristus karena ia sadar kalau Kristus mengenal pribadi Nathanael secara menyeluruh; baik pikiran dan hati Nathanael maupun lingkungan tempat ia berada dan tingkah lakunya. Nathanael sadar kalau Kristus bukan manusia biasa melainkan Anak Allah dan Raja orang Israel. Meskipun waktu Kristus datang kedalam dunia sebagai manusia ada keterbatasan karena Ia membatasi diri-Nya sendiri, Ia tetap adalah Allah sehingga Kristus bisa mengenal pribadi Nathanael secara komprehensif. Kiranya kebenaran ini bisa menjadi penghiburan yang besar bagi kita karena Tuhan mengenal sedalam-dalamnya hati kita dan, bukan hanya itu, Ia mengetahui keadaan dan persoalan yang kita hadapi. Dia mengerti dan menginginkan apa yang terbaik bagi anak-anak-Nya.

Perkataan Nathanael ini mau menyatakan bahwa Yesuslah Raja Israel yang dijanjikan didalam perjanjian lama. Kristus adalah anak Daud yang dinantikan dan dijanjikan di Perjanjian Lama, misalnya di 2 Samuel 7: 12-14. Ayat ini juga merupakan ayat yang memiliki double fulfillment; ayat ini digenapi to some extent oleh Salomo anak Daud, tetapi ada penggenapan kedua yang lebih utuh dari ayat ini, yaitu ayat ini digenapi oleh Yesus Kristus. Kristuslah keturunan Daud itu yang mendirikan kerajaan yang kokoh sampai selama-lamanya (2 Sam 7:16); tentu ini bukan menunjuk kepada kerajaan Salomo, yang sebentar saja hilang. Lukas 1:32-33 juga mengkonfirmasi akan hal ini “…Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”

Nubuatan inilah yang dinanti-nantikan bangsa Israel; bahwa akan ada seorang Raja Israel yang akan membebaskan mereka. Namun, bangsa Israel mengira bahwa Raja ini akan membebaskan mereka dari perbudakan Roma. Kristus menyatakan diri-Nya bahwa Ia adalah Raja Israel yang bukan akan membebaskan Israel dari penjajahan Roma tetapi akan membebasan Israel dan setiap orang yang percaya kepada-Nya dari perbudakan dosa; perbudakan yang lebih besar kuasanya dari kerajaan Roma dan yang menguasai akan setiap manusia.

Titel raja Israel adalah titel yang penting yang akhirnya membawa Yesus keatas salib mati untuk menebus dosa manusia. Keitka Pilatus berusaha membebaskan Yesus, pemimpin-pemimpin agama bangsa Yahudi berkata kepada Pilatus: “Jikalau engkau membebaskan Dia, engkau bukanlah sahabat Kaisar. Setiap orang yang menganggap dirinya sebagai raja, ia melawan Kaisar.” (Yoh 19:12). Jadi memang Yesus menyatakan diri-Nya sebagai raja meskipun tidak secara eksplisit. Namun, Ia menyatakan hal itu secara nyata melalui hidupnya. Misalnya, ketika akhirnya Yesus diolok-olok dan diberi mahkota duri para tentara itu menyembah dan berkata “salam, hai Raja orang Yahudi.” (Yoh 19:3). Ketika Yesus dipaku diatas kayu salib, pemimpin-pemimpin Israel juga mengolok-olok Dia berkata “Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya.” (Mat 27:42). Ini adalah ironi dari salib: Yesus Kristus yang diolok-olok sebagai raja sesungguhnya Dialah Raja diatas segala raja. Dialah Raja Israel yang mati menebus dosa kita.

Di 2 Samuel 7:12-14, bukan hanya Kristus disebut sebagai Raja, tetapi Ia adalah Anak Allah. Mazmur 2:2,5-7, yang merupakan Mazmur nubuat tentang kedatangan Mesias (“yang diurapi-Nya”), mengkonfirmasi atas hal ini. Yesus adalah Mesias, Raja yang diurapi itu, Ia adalah Anak Allah yang kekal.

Bisa dipastikan Nathanael ketika ia berkata bahwa Yesus adalah Anak Allah dan Raja Israel, ia tidak mengerti sepenuhnya apa artinya Yesus sebagai Raja, Mesias, dan Anak Allah. Injil Yohanes memberi kita pengertian akan apa artinya Kristus sebagai Anak Allah.

Kita melihat di dalam Yohanes 5:18, Yesus menyamakan diri-Nya dengan Allah. Ini adalah satu blasphemy bagi orang Israel. Namun, Kristus terus menyatakan bahwa Ia adalah Anak Allah sepanjang hidup-Nya kepada orang Israel. Misalnya di Yohanes 8: 57-58, Kristus berkata: ”…sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” Inilah perkataan yang membuat orang Yahudi mau melempari Yesus dengan batu; orang Yahudi sadar bahwa Yesus menyatakan bahwa dirinya sama dengan Allah karena kata “I am” (Aku telah ada) adalah kata yang sama yang Tuhan katakan ketika Musa bertanya tentang siapakah nama-Nya (Keluaran 3:14). “I AM WHO I AM” artinya Allah tidak bisa dibandingkan dengan siapapun (dan  tidak ada sesuatu yang bisa menjelaskan sepenuhnya tentang Allah). Kalau kita lihat selanjutnya di Yohanes 10:33, maka ketika Yesus dibawa ke Pilatus, orang Yahudi menggunakan alasan yang sama untuk menghukum Yesus. Lagipula, ketika kita membaca Alkitab dan mengenal Kristus (dan melihat apa yang Ia katakan dan kerjakan), tidak ada kesimpulan lain yang bisa kita tarik.

C.S. Lewis mengatakan “kau tidak bisa mengatakan kalau Kristus adalah guru yang agung saja; karena tidak ada guru yang agung yang mengatakan kepada orang lain kalau engkau mengasihi ayahmu, ibumu, anakmu laki-laki dan perempuan, engkau tidak layak menjadi murid-Ku (Matius 10:37), kau harus menyatakan kalau dia adalah orang yang gila, atau satu-satunya kemungkinan adalah Ia adalah Allah itu sendiri.”. Perkataan Kristus begitu menuntut kita untuk mengasihi Ia dengan segenap hati dan jiwa, karena bukankah keluarga adalah orang yang terdekat kepada kita dan orang-orang yang kita paling andalkan? Kecuali Kristus adalah benar-benar Allah, maka kita tidak bisa menerima Ia sebagai guru yang agung dan kita tidak bisa sungguh-sungguh percaya kepada-Nya.

Apa artinya percaya sungguh-sungguh kepada Yesus Kristus? Artinya kita menempatkan Yesus di tempat yang paling utama didalam hidup kita, bukan hanya datang ke Gereja, persekutuan doa, dan melakukan pelayanan di gereja. Kita mengatahui bahwa Kristus adalah sumber sukacita kita dan kerinduan kita yang paling besar; hidup kita bukanlah kita lagi tetapi Kristus yang hidup didalam kita.

Ada orang yang menempatkan Kristus sebagai ban cadangan: “if other failed, try my Jesus.”, coba saja tidak ada salahnya bukan? Tidak, mengikut Tuhan tidak boleh seperti itu. Ketika kita mengenal Kristus Anak Allah yang mati bagi kita, maka sesungguhnya  hidup kita akan berubah. Paulus berkata dalam 1 Korintus 15, kalau Kristus tidak dibangkitkan dari antara orang mati, aku akan hidup biasa saja. Tetapi Kristus benar-benar dibangkitkan dari antara orang mati; maka hidupku akan berubah menjadi hidup yang memuliakan Dia, taat kepada-Nya, mengasihi Dia dengan segenap hatiku, hidupku akan menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Kristus karena Dia adalah Tuhan dan Juruselamat kita.

Semakin kita mengenal siapa Dia, semakin kita mengenal betapa agungnya Yesus Kristus, semakin kita sadar betapa besarnya kasih Tuhan kepada kita. Yesus Kristus, yang adalah Allah itu sendiri, namun tidak menanggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan, tetapi Ia mengosongkan diri-Nya, datang kedalam dunia, menjadi sama dengan manusia. Didalam keadaan-Nya sebagai manusia Ia seluruh hidup-Nya taat kepada Bapa-Nya, bahkan taat sampai mati diatas kayu salib (Filipi 2:8) untuk menebus dosa kita. Biarlah kita semakin kagum kepada-Nya, sungguh-sungguh percaya kepada-Nya, dan hidup kita boleh memuliakan akan nama-Nya karena tidak ada nama lain yang olehnya kita diselamatkan (Kisah Para Rasul 4:12).

Ada satu titel favorit dari Yesus yang Ia sendiri pakai; didalam seluruh injil lebih dari 80 kali Yesus menyebut diri-Nya sendiri sebagai Anak Manusia. Tidak ada orang lain yang menyebut Kristus sebagai Anak Manusia, hanya Kristus yang menyebut diri-Nya sebagai anak manusia. Title ini bukan hanya menunjukan Yesus datang sebagai manusia, titel Anak Manusia menyatakan kemuliaan-Nya, kekuasaan-Nya yang besar (Daniel 7:13-14). Titel ini memberi kesan yang berbeda dari titel Anak Allah dan Raja Israel karena titel Anak Manusia memberi kesan seperti sesuatu yang biasa saja, meski sama-sama digunakan untuk menyatakan kemuliaan Yesus.

Yesus memang adalah Anak Allah dan Raja Israel tetapi belum waktunya hal itu dinyatakan secara penuh. Maka, selama hidup-Nya di dalam dunia Yesus lebih mau menyatakan diri-Nya sebagai anak manusia. Hal ini hanya bisa dimengerti oleh orang yang mempunyai iman; Tuhan tidak menyatakan secara penuh, tetapi orang yang bisa mengerti justru akan melihat Anak Manusia itu adalah figur yang penuh dengan keagungan.

Lalu apa arti perkataan Kristus ketika Ia berkata: “sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan melaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.” (Yohanes 1:51)? Peristiwa ini menunjuk kepada peristiwa di Bethel dimana Yakub bermimpi dan ia melihat tangga yang ujungnya sampai ke langit dan malaikat turn naik di tangga itu (Kejadian 28:12); disitu Tuhan berjanji kepada Yakub bahwa tanah tempat ia berbaring akan diberikan kepadanya dan Tuhan menyatakan penyertaan-Nya kepada Yakub. Ketika Yakub bangun, ia menyebut tanah itu sebagai Bethel yang artinya rumah Tuhan. Kalau kita membandingkan perikop ini dengan perkataan Yesus di Yohanes 1:51, maka malaikat turun naik bukan kepada tangga tetapi kepada Anak Manusia. Hal ini berarti bahwa Yesuslah pengantara antara surga dan bumi. Jadi di Yoh 1:51, Kristus mau menyatakan kepada Nathanael bahwa suatu saat ia akan mengerti bahwa tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui-Nya  dan Ia adalah satu-satunya jalan dan kebenaran dan hidup (Yoh 14:6). Kedua, didalam Yesuslah kepenuhan Allah itu dinyatakan. Yesus adalah Bethel yang baru, tidak ada tempat suci dimana orang Kristen perlu berziarah karena tempat khusus dimana Tuhan hadir bukanlah disebuah tempat tetapi di seorang pribadi yaitu Yesus Kristus. Maka, satu-satunya cara agar manusia bisa diselamatkan adalah Yesus harus mati dikayu salib menggantikan kita.

Upah dosa adalah maut dan semua orang telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Semua manusia sudah mati secara rohani karena dosa menyebabkan putusnya hubungan manusia dengan Allah. Manusia akan mengalami kematian secara fisik dan akan mengalami kematian kekal yaitu keadaan dimana manusia terpisah selama-lamanya dari Allah jika tidak diselamatkan oleh Kristus. Itulah neraka. Tidak ada lagi doa yang dikabulkan di neraka (Luk16:24-31). Biarlah kita sungguh-sungguh percaya akan berita Injil yang di Alkitab; jika kita merasa bahwa berita injil di Alkitab tidak cukup bagi kita maka kebangkitan orang mati pun bahkan tidak akan membuat kita bertobat (Luk 16:31; Yoh 11:43-57; Yoh 12:9-11).

Biarlah kita boleh mengenal siapa Yesus Kristus itu melalui injil yang adalah perkataan Tuhan; biarlah kita mendengar dan membaca Injil dengan sungguh-sungguh. Yesus Kristus adalah Raja Israel, Anak Allah, Mesias, dan Anak Manusia yang telah datang ke dalam dunia dan menyatakan seluruh keberadaan Allah didalam diri-Nya. Bagi kita yang sudah percaya biarlah kita makin kagum kepada-Nya, sungguh-sungguh beriman kepada-Nya dan Tuhan akan memimpin hidup kita bukan hanya di dunia ini tetapi juga sampai selama-lamanya.

Ringkasan oleh David Hartana | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya