Ibadah

Logos

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Senin, 6 Juni 2016

Bacaan Alkitab: Yohanes 1:1, Mazmur 33:6-9, Ibrani 1:1-3, Ibrani 4:12-13

“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.”

Martin Luther pernah mengatakan bahwa Kitab Injil Yohanes adalah kitab yang unik, sangat indah dan penting; jikalau ada suatu penguasa yang datang dan menghancurkan seluruh Alkitab, tetapi hanya tersisa Kitab Roma dan Kitab Yohanes, maka Kekristenan akan tetap  bisa bertahan. Mengapa Yohanes menyebut Yesus Kristus sebagai Firman, atau Logos? Konsep Logos sudah banyak dipakai pada saat itu dan berasal dari orang-orang Yunani. Logos diterjemahkan dengan lebih tepat ke dalam Bahasa Indonesia, “Firman”, bukan “kata” (word) seperti di dalam terjemahan bahasa Inggris.

Orang yang mulai menggunakan kata Logos adalah Heraclitus pada tahun ke-6 sebelum Masehi, namun dikembangkan oleh Stoicism sebagai rasio yang kekal, sebuah prinsip rasional yang ada di dalam seluruh alam semesta dan pikiran manusia. Dari Logos, muncul berbagai ilmu pengetahuan. Logos menjadi dasar kata dari nama-nama bidang pengetahuan seperti bio-logy (bios+logos), yang berarti ilmu pengetahuan kebenaran tentang bios, mahluk hidup. Logos adalah dasar dari kebenaran dalam berbagai bidang. Oleh karena itu, saat Yohanes menulis Kristus sebagai Logos, orang Yunani mengerti Kristus sebagai sumber pengetahuan tentang kebenaran. Seluruh ilmu tentang kebenaran di seluruh dunia bersumber dari Dia. Oleh karena itu, theology Reformed memegang all truth is God’s truth. Seluruh kebenaran sejati bersumber dari Kristus.

Dalam Perjanjian Lama, orang Yahudi menekankan Firman sebagai suatu perbuatan. Perkataan Tuhan adalah perbuatan, saat Tuhan berfirman segala sesuatu menjadi ada. Saat Tuhan berkata, perkataan-Nya pasti akan terjadi. Sedangkan kita, sebagai manusia seringkali hanya berbicara tanpa bertindak. Namun, di sisi lain kita juga juga tahu bahwa perkataan begitu penting. Kita tahu bahwa di dalam berbagai konteks, perkataan menjadi begitu penting. Seringkali, penyiksaan yang paling menyakitkan adalah penyiksaan dengan perkataan yang menghina dan merendahkan. Orang-orang post-modern mengkritik orang modern dengan memakai kata-kata untuk menguasai, menyatakan realita yang sebenarnya sebaliknya. Perkataan memiliki kuasa.

Yakobus mengatakan (lihat Yakobus 3) bahwa barangsiapa tidak salah dengan perkataannya, ia adalah orang sempurna yang dapat mengendalikan seluruh tubuhnya. Karena kita diciptakan menurut gambaran Allah, perkataan kita memiliki kemiripan dengan perkataan Allah. Saat Tuhan berkata sesuatu, sesuatu itu pasti terjadi. Saat kita berkata, sesuatu juga terjadi. Oleh karena itu kita harus berhati-hati dengan lidah kita karena perkataan kita dapat membangun atau menghancurkan seseorang. John Frame mengatakan bahwa Firman Tuhan termasuk diantara  pekerjaan-pekerjaan Tuhan yang agung. Tindakan Tuhan membawa perkataan Tuhan. Kita mengerti setiap karya Tuhan melalui Firman yang Tuhan berikan kepada kita.

Dalam Ibrani 4:12-13, dinyatakan bahwa Firman Tuhan begitu tajam dan menghakimi seluruh pikiran dan sikap hati dari manusia. Dalam ayat Ibrani 4:13, dinyatakan bahwa tidak ada suatu mahluk pun tersembunyi di hadapan Firman Allah itu sebab segala sesuatu terbuka di depan Firman Tuhan itu dan kepada Firman itu kita harus bertanggungjawab. Perkataan Allah sangat identik dengan Allah sendiri. Kita bisa mengerti Allah Bapa sebagai pribadi yang berfirman, dan Allah Anak adalah Firman yang diucapkan itu, yaitu Yesus Kristus. Roh Kudus adalah nafas yang membawa Firman itu kepada tujuan-Nya. 2 Tim 3:16 mengatakan "Segala tulisan yang diilhamkan Allah ..." namun di dalam bahasa aslinya dikatakan "setiap Firman yang dinafaskan Allah".

Mazmur 119, pasal terpanjang dari Alkitab, menyatakan bahwa Firman Allah memiliki atribut-atribut dari Allah itu sendiri. Dalam Roma 1:16, Paulus mengatakan bahwa Injil adalah kuasa Allah. Injil adalah Firman tentang Kristus yang mati dan bangkit, yang merupakan kuasa Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya kepada-Nya. Oleh karena itu, Firman Allah begitu berkuasa dan begitu penting karena Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.

Mengapa Yohanes menyebut Yesus sebagai Firman? Yohanes adalah salah satu murid yang paling dekat dengan Tuhan Yesus, yang mendengar pengajaran Tuhan Yesus, mukjizat, kematian dan kebangkitan-Nya. Yohanes menyimpulkan bahwa bukan hanya sekedar perkataan dan perbuatan-Nya namun hidup-Nya dan diri-Nya sendiri adalah berita utama yang Allah ingin beritakan kepada manusia sepanjang jaman

Aplikasi pertama dalam hidup kita adalah, jika Yesus adalah Firman dan pribadi-Nya dengan Firman begitu menyatu, maka kita sebagai pengikut Yesus harus hidup di dalam Firman Tuhan. Tidak mungkin, seseorang yang beriman di dalam Kristus Kristus, tidak hidup di dalam Firman Allah. Dalam Yohanes 8:31, Tuhan Yesus mengatakan jikalau kita tinggal di dalam Firman-Nya, kita adalah murid-murid-Nya. Dalam Yohanes 15:4-5, Tuhan Yesus mengatakan agar kita tinggal di dalam Dia, sebab di luar Dia kita tidak bisa melakukan apa-apa. Dalam ayat Yoh 15:7 Tuhan Yesus mengatakan bahwa jika kita tinggal di dalam Dia dan firman-Nya tinggal di dalam kita, kita bisa meminta apapun yang kita kehendaki dan kita akan menerimanya.

Saat ini banyak orang yang mengaku sebagai orang Kristen namun tidak mengenal Firman. Hal-hal praktikal memang perlu, namun harus didasari oleh pengenalan akan Allah yang bersifat doktrinal. Seperti dalam Kitab Roma, Paulus baru membahas hal-hal praktikal di pasal 12 setelah membahas doktrin dalam 11 pasal sebelumnya. Doktrin menjadi poros dan inti dari hal-hal praktikal. Di luar Kristus, kita tidak bisa melakukan apapun. Kita dipanggil untuk merenungkan dan bersuka di dalam Firman. John Frame mengatakan bahwa Allah selalu bersama dan di dalam Firman-Nya, ketika kita membaca atau mendengar Firman Tuhan, kita bertemu dengan Tuhan itu sendiri. Ketika kita bertemu dengan Tuhan, kita akan mendegar Firman-Nya.

Hal yang paling penting adalah Firman Tuhan adalah Yesus Kristus sendiri, yang adalah Allah itu sendiri, yang datang ke dalam dunia. Karena Dia adalah Allah itu sendiri, kematian-Nya adalah satu-satunya kematian yang bisa menghapus dosa manusia. Jika Dia hanya manusia saja, maka kematian-Nya tidak berarti apa-apa  karena berarti maut telah menang. Kita bersyukur karena Kristus adalah hidup itu sendiri, maka tidak mungkin kematian menelan Dia. Kematian Dia membenarkan kita dan memperdamaikan kita dengan Allah.

 

Ringkasan oleh David Sukuandi | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya