Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Firman yang Mulia dan Penuh Anugerah

Ibadah

Firman yang Mulia dan Penuh Anugerah

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 7 Agustus 2016

Bacaan Alkitab: Yoh 1:14-18

Saudara sekalian, minggu lalu saya sempat ngobrol-ngobrol dengan dengan salah seorang jemaat tentang bangunan. Karena dia adalah seorang ahli bangunan, maka saya berbicara tentang bangunan dan bisa belajar banyak tentang bangunan. Kemudian saya mengatakan di Alkitab Tuhan Yesus juga pernah mengatakan (lihat Mat 7:23-27) satu kalimat bahwa: orang yang bodoh itu membangun rumahnya di atas pasir, dan orang yang bijaksana itu membangun rumahnya di atas batu. Ketika hujan dan banjir datang menghantam dua macam rumah itu, maka yang dibangun di atas pasir hancur berantakan dan rusak total. Sedangkan bangunan yang di atas batu itu berdiri kokoh. Lalu saya tanya kepadanya, “Apa maksudnya bangunan berdiri di atas batu?” Maka jawabnya, itu adalah prinsip dasar dari membangun pondasi, yaitu di tanah-tanah tertentu kita harus menggali sampai dalam sampai mendapat batu yang keras di bawah. Contohnya di salah satu daerah di Jakarta ada yang harus membor sampai kira-kira 18-20 meter dan baru menemukan batu yang kokoh. Di atas batu itulah membangun pondasi. Membangun di atas pasir itu gampang sekali, cepat sekali jadinya dan kelihatan dari luar sama dengan bangunan yang di atas batu. Tetapi ketika hujan dan banjir datang, hancurlah rumah itu. Membangun pondasi di atas batu sangat susah.

Saudara sekalian, inilah yang sedang kita kerjakan di sini. Alkitab sendiri mengajarkan bahwa orang yang membangun di atas batu itu tidak mudah, harus menggali dalam. Tetapi kalau sudah membangun di atas pondasi yang kuat, maka bangunan itu menjadi kuat dan kokoh dan tidak mudah digoyahkan. Kita baru mulai Injil Yohanes 1 beberapa bulan ini. Itu artinya masih ada beberapa tahun. Kita mau belajar menyelidiki. Salah satu keunikan dari teologi dan mimbar Reformed adalah menggali Firman Tuhan sedalam-dalamnya. Ini tentu tidak mudah, tetapi sangat penting bagi hidup kita. Jadi setiap kali biarlah saudara memperhatikan, sungguh-sungguh memikirkan dan membuka hati, maka saudara sedang menggali dalam dan ketika nanti berdiri di atas batu karang itu maka iman kita menjadi kokoh dan tidak mudah digoyahkan.

Kita masih membahas 1 Yohanes ayat 14, satu ayat penting yang dikatakan Leon Morris demikian: Satu ayat yang dahsyat ini Yohanes memaparkan ide besar pada jantung Kekristenan, yaitu Sang Firman Allah menjadi daging untuk keselamatan manusia.” Lalu kita melihat kalimat selanjutnya bahwa Firman itu diam di antara kita dan kita telah melihat kemuliaan-Nya yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa penuh kasih karunia dan kebenaran. Apa artinya kita boleh melihat kemuliaan Kristus?

Saya berdoa biarlah setiap kita hari ini dan minggu-minggu yang akan datang boleh semakin mengenal Kristus. Kita juga boleh membagikan Injil kepada orang-orang lain sehingga mereka juga boleh melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus. Apa artinya mengerti dan melihat kemuliaan Kristus? Sesuatu yang sangat abstrak, tetapi mungkin lebih mudah untuk dijelaskan dengan beberapa contoh. Salah satu contoh dalam Alkitab adalah ketika Yesus mengajak murid-murid-Nya menyeberang danau Galilea (lihat Mrk 4). Murid-murid-Nya adalah para nelayan yang sangat mahir, tetapi di tengah-tengah perjalanan itu, ada badai datang. Kemudian terombang-ambinglah perahu itu, dan murid-murid yang adalah nelayan berpengalaman ketakutan. Mereka pikir perahu mereka akan terbalik dan tenggelam dan mati. Mereka berusaha dengan segala kemampuan tetapi tidak sadar bahwa ini badai yang besar sekali. Karena itu mereka membangunkan Yesus yang tidur di tengah-tengah badai itu. “Bangun Guru! Tidak pedulikah Engkau kalau kita binasa?” Maka Yesus bangun dan berkata pada badai: “Tenanglah!” Maka tenanglah badai itu. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Mengapa Engkau begitu takut, hai orang yang kurang percaya?”

Ini kalimat yang mengagetkan sebenarnya. Karena siapa yang tidak takut di tengah-tengah badai seperti itu? Ini pun adalah badai yang tidak biasa, sehingga nelayan yang berpengalaman pun menjadi takut. Tetapi perkataan Yesus mengagetkan mereka sehingga mereka harus berpikir. Ketika kemudian mereka menyaksikan pekerjaan Tuhan yang menenangkan badai, heran sekali Markus 4:41 mencatat satu respons dari murid-murid. Tadinya saat badai datang, mereka takut karena mereka hampir mati, tetapi ketika mereka menyaksikan Yesus menenangkan badai, mereka menjadi sangat takut. Inilah salah satu repons yang kita boleh lihat ketika orang betul-betul menyaksikan kemuliaan Kristus. Ketika melihat Tuhan dan kemuliaan-Nya, maka respons pertama-tama dari manusia berdosa bukanlah bersyukur kepada Tuhan, bukan memuji Tuhan, tetapi menyadari betapa besar kemuliaan-Nya dan betapa berdosa dan kecilnya manusia itu.

Ketika Yesaya melihat kemuliaan Tuhan maka dia berkata (Yes 6:5), “Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam.” Para murid menjadi sangat ketakutan dan berkata di antara mereka (Mrk 4:41), “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?” Melihat kemuliaan Tuhan adalah sesuatu yang mengagetkan dan menggoncangkan hati kita pertama-tama, karena kita adalah manusia yang berdosa. Tetapi di sisi yang lain, ketika kita melihat kemuliaan Tuhan, kita menyadari betapa besarnya anugerah-Nya kepada kita. Inilah yang dialami oleh John Newton dan orang-orang Kristen sepanjang zaman.  John Newton dulu adalah seorang budak dan kemudian dia menjadi penjual budak.  Ia menjadi orang yang sangat jahat, melakukan banyak dosa, tetapi ketika dia bertemu dengan Tuhan, dia sungguh-sungguh berubah hidupnya.  Sepanjang hidupnya kemudian dia menjadi hamba Tuhan dan melayani Tuhan.  Ketika dia sudah semakin tua dan sudah mulai pikun, maka dia mengatakan: “Saya lupa banyak hal, tetapi saya tidak mungkin lupa 2 hal bahwa aku adalah pendosa besar, dan Kristus adalah Juruselamat yang besar.” Oleh sebab itu dia menulis lagu Amazing Grace.

Dalam bagian yang kita baca hari ini, Yohanes mengatakan Firman telah menjadi daging dan diam di antara kita dan kita telah melihat kemuliaan-Nya. Selanjutnya dijelaskan kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. Kata grace di sini sering juga diterjemahkan sebagai anugerah, selain kasih karunia. Hari ini kita belajar bahwa kemuliaan Kristus itu adalah kemuliaan yang penuh kasih karunia.  Lain waktu kita akan membahas kemuliaan yang penuh kebenaran. Memang perlu ada dua-duanya, ketika kita bertemu dengan Kristus, maka kemuliaan-Nya yang kita saksikan itu penuh kasih karunia dan kebenaran.  Kebenaran adalah sesuatu yang sangat penting dalam Injil Yohanes. Kata kebenaran dalam bahasa Yunani adalah Aletheia, ada 48 kali dikatakan di Injil Yohanes. Matius hanya 2 kali, Markus hanya 4 kali, Lukas hanya 5 kali. Bagi Yohanes kebenaran ini sangat amat penting. Di bagian lain Yohanes mengutip Yesus berkata: “Akulah kebenaran itu.” Dia berdoa kepada Bapa untuk menguduskan murid-murid dalam kebenaran. “Firman-Mu adalah kebenaran.” Jadi bagaimanapun ketika kita menerima kasih anugerah Allah, maka itu harus diimbangi dengan kesadaran bahwa anugerah itu juga datang bersama-sama dengan kebenaran. Berapa pun banyaknya kita mengalami anugerah Tuhan, berapa pun banyaknya kita klaim mengalami pengalaman yang berkuasa bersama dengan Roh Kudus, kalau tidak di dalam kebenaran, maka semua itu menjadi tidak ada artinya, menjadi salah. Sebab Roh Kudus adalah Roh Kebenaran. 

Penekanan kali ini adalah kemuliaan-Nya itu penuh dengan anugerah. Artinya jika kita sungguh-sungguh ingin mengenal dan mencari Allah, biarlah kita boleh memandang kepada Yesus, Sang Firman yang menjadi daging, boleh menatap dengan tajam, menyelidiki dan menggali dan mengenal siapa Yesus ini. Maka kita akan menemukan kemuliaan Tuhan ini adalah kemuliaan yang penuh dengan anugerah. Jika kita mempelajari apa yang Dia katakan, lakukan, dan puncaknya di dalam kematian-Nya di atas kayu salib, maka kita akan melihat kemuliaan Tuhan yang penuh anugerah. Dan ketika kita menyadari dan melihat kemuliaan-Nya yang penuh anugerah itu, maka kesadaran itu pun adalah anugerah Tuhan yang besar. Saya ingin saudara melihat kaitan ayat 14 dan 16 di sini, ayat 15 itu adalah penjelasan sampingan. Mengapa saya katakan kita bisa melihat kemuliaan-Nya itu adalah kemuliaan yang penuh kasih karunia dan kebenaran? Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia (ay. 16). Di sini terjemahan Indonesia bagus, tidak kehilangan kata ‘karena’. Jadi kemampuan dan kemungkinan kita bisa melihat kemuliaan Tuhan yang penuh dengan anugerah itu, disebabkan oleh karena Dia telah memberikan kepada kita anugerah demi anugerah.

Yohanes ingin kita menyadari betapa besarnya anugerah Tuhan. Pertama-tama anugerah itu diberikan waktu kita lahir baru, ketika kita mendengar Injil, Roh Kudus bekerja dan memberikan kita kehidupan yang baru. Itulah yang dikatakan ayat 12-13. Kemudian bukan hanya diberi hidup yang baru, kita juga diberi hak menjadi anak-anak Allah. Ini adalah anugerah yang begitu besar.  Lebih lagi, ketika kita semakin mengenal-Nya, bergaul dengan Dia, menaati Dia, kita akan semakin menyadari bahwa dari kepenuhan-Nya, Dia memberikan anugerah di atas anugerah. Ini adalah anugerah yang tidak pernah habis, tidak pernah selesai.

Ketika kita datang kepada Tuhan dan mengenal siapakah Kristus itu, biarlah kita boleh mengalami dan menyadari akan anugerah-Nya yang begitu besar. Bukankah kita memerlukan anugerah Tuhan dalam hidup kita, untuk memimpin hidup kita? Bukankah kita memerlukan anugerah Tuhan untuk mendidik anak-anak kita? Karena kita tidak tahu hati mereka mengarah kemana. Kita perlu anugerah Tuhan yang memimpin hati mereka menjadi hati yang takut akan Tuhan. Hari ini biarlah kita sungguh-sungguh datang kepada Tuhan dan melihat, mengenal Kristus dan kemuliaan-Nya yang penuh dengan anugerah. Firman itu telah menjadi daging. Firman itu ada dari semula dan Firman itu adalah segala-galanya. Dia begitu besar dan mulia. Yang begitu besar itu penuh dengan anugerah. Kebenaran ini dinyatakan dengan indah oleh satu lagu yang berjudul He Giveth More Grace. Di bait kedua khusunya yang begutu indah, “When we have exhausted our store of endurance, When our strength has failed, ere the day is half done, When we have reached the end of our hoarded resources, our Father’s full giving is only begun. His love has no limit, His grace has no measure, His power has no boundary known unto men. For out of His infinite riches in Jesus, He giveth and giveth and giveth again.” Biarlah kita menyadari akan Tuhan yang penuh dengan anugerah itu dan kemudian kita boleh sadar betapa Dia adalah Tuhan yang mengasihi kita.

Yohanes kemudian melanjutkan akan kebenaran ini. Dia semakin ingin menyatakan dan menjelaskan keagungan akan kebenaran itu, khususnya ayat ke -17 berkata: “sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.” Mengapa Yohanes tiba-tiba berbicara tentang Musa dan hukum Taurat? Saya percaya ini dikarenakan Musa adalah nabi terbesar Perjanjian Lama dan adalah seorang nabi yang sungguh-sungguh ingin melihat kemuliaan Allah. Saya akan membacakan beberapa bagian dari Keluaran 33. Ayat Kel 33:11 menggambarkan hubungan Musa dengan Tuhan. Tuhan berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya. Ini adalah keakraban yang tidak digambarkan tentang orang lain. Tetapi bagi Musa ini tidak cukup. Dia ingin mengenal Allah lebih jauh lagi. Di dalam Kel 33:13 Musa ingin mengetahui jalan dan kehendak Tuhan. Tetapi Musa tidak berhenti sampai di situ. Dalam Kel 33:15 Musa ingin Tuhan sendiri hadir di tengah-tengah bangsa Israel. Dalam Kel 33:17 Tuhan mengabulkan keinginan Musa. Saudara di sini melihat kasih karunia demi kasih karunia yang diberikan Tuhan kepada Musa. Tetapi bagi Musa bahkan ini pun tidak cukup. Musa bertanya dan meminta kepada Tuhan sesuatu yang tidak pernah diminta orang di Perjanjian Lama. Dalam Kel 33:18 Musa meminta Tuhan memperlihatkan kemuliaan-Nya kepada dia. Ayat Kel 19-22 adalah jawaban Tuhan. Kalau kita membaca pasal selanjutnya, maka kemudian Tuhan memberikan dua loh batu baru melalui Musa kepada bangsa Israel. Di Kel 34:6 Tuhan berseru demikian: “TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya.”

Menjadi jelas bagi kita di sini mengapa Yohanes membandingan Musa, hukum Taurat dengan Yesus Kristus. Musa dibandingkan dengan Kristus bukan karena hukum Taurat bertentangan dengan anugerah Tuhan. Hukum Taurat adalah anugerah Tuhan yang besar. Namun hukum Taurat menunjuk kepada anugerah yang terbesar yaitu Yesus Kristus. Musa menunjuk kepada anugerah Tuhan tetapi Kristus melakukan, menggenapi anugerah, dan Dia sendiri adalah anugerah terbesar itu. Musa memberitakan Firman Tuhan, tetapi Kristus adalah Firman Tuhan itu sendiri. Hukum Taurat merefleksikan terang Allah, Kristus adalah terang Allah itu sendiri. Musa menjadi sarana mana dari sorga, Kristus adalah benar-benar mana dari sorga. Musa meninggikan ular tembaga di padang gurun supaya orang yang memandangnya tetap hidup, Kristus ditinggikan di atas kayu salib supaya setiap orang yang memandangnya, percaya kepada-Nya akan diselamatkan. Musa memandang bagian belakang dari Allah, tetapi Kristus ada di pangkuan Bapa (Yoh 1:18).

Yohanes semakin menjelaskan kepada kita betapa besarnya anugerah Allah di dalam Yesus Kristus. Kita boleh melihat kemuliaan Kristus pertama-tama di dalam inkarnasi-Nya ke dalam dunia. Firman menjadi Daging. Namun puncak daripada kemuliaan diri-Nya dinyatakan ketika Dia mati di atas kayu salib. Yohanes mempersiapkan kita untuk mengerti akan kemuliaan Kristus ini. Khususnya dalam ayat 10-11, “dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya”, ini termasuk kita yang tidak mengenal, tidak percaya dan tidak menerima-Nya. Tetapi Firman itu datang ke dunia menjadi daging supaya Dia boleh menjadi sama dengan manusia sehingga boleh mati untuk menebus dosa kita. Di atas kayu salib itulah tujuan dan kemuliaan Tuhan dinyatakan secara penuh. Kita lihat dalam Yoh 12:23-24 Yohanes menjelaskan akan hal ini: “Tetapi Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” Juga Yoh 12:27-28, “Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini. Bapa, muliakanlah nama-Mu!” Maka terdengarlah suara dari sorga: "Aku telah memuliakan-Nya, dan Aku akan memuliakan-Nya lagi!” Sangat jelas di sini ‘saatnya Anak Manusia dimuliakan’ yang dibicarakan Tuhan adalah saat kematian-Nya di atas kayu salib. Dari situlah kita bisa menyaksikan anugerah-Nya yang begitu besar.

Kristus mati bagi kita ketika kita masih berdosa. Yesus mati bagi kita ketika kita masih seteru daripada Allah. Kemuliaan Tuhan dinyatakan di atas kayu salib, dan hanya boleh dimengerti dan dilihat oleh orang-orang yang memiliki iman di dalam Kristus. Karena tanpa iman, orang-orang melihat salib adalah kekalahan dan kebodohan besar. Tetapi mereka yang mengerti apa yang sedang Tuhan kerjakan, mereka tahu Dia datang ke dunia justru untuk mati menggantikan manusia. Jika Dia tidak menjadi manusia sama seperti kita, Dia tidak berhak untuk mati menggantikan kita. Jika Dia tidak menjadi manusia, Dia tidak mungkin mati di atas kayu salib menggantikan kita. Firman itu menjadi daging, supaya tubuh-Nya boleh dipaku di atas kayu salib menggantikan kita. Itulah satu-satunya jalan Tuhan menyelamatkan kita. Meskipun orang-orang yang tidak mengerti, melihat hal itu sebagai kekalahan, tetapi Alkitab mengatakan justru di situlah kuasa dan kemuliaan Allah dinyatakan. Karena justru di dalam kelemahan, kekalahan Kristus di atas kayu salib, maka kuasa terbesar yang menguasai dunia ini dikalahkan dan dipatahkan. “Hai maut di manakah sengatmu? Hai maut, di manakah kekuatanmu? Maut tidak menjawab, karena maut sudah dikalahkan melalui kematian dan kebangkitan Kristus.

Ketika kita menerima perjamuan kudus, kita menyadari kemuliaan Tuhan yang besar yang dinyatakan di atas kayu salib yang dimulai dengan Dia datang ke dunia menjadi manusia. Ketika kita menyaksikan kemuliaan-Nya di atas kayu salib, kita menyadari juga anugerah-Nya yang begitu besar. Anugerah demi anugerah yang Dia terus berikan untuk kita. Roma 8:32 mengatakan: “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” Dia sudah memberikan yang terbaik, yang terutama, jantung hati-Nya sendiri bagi kita, bagaimana mungkin Dia meninggalkan kita, tidak memberikan hal-hal yang kita perlukan untuk menaati Dia di tengah-tengah dunia ini? Yohanes mengajak kita untuk datang kepada Kristus dan melihat, mengerti, memandang kemuliaan-Nya. Kita akan melihat kemuliaan-Nya itu penuh dengan anugerah. Percaya dan berimanlah kepada Dia, taat dan hiduplah di dalam Dia, maka kita akan mengalami anugerah demi anugerah Tuhan yang dinyatakan kepada kita.

Salah satu perkataan indah dari Os Guinness di dalam salah satu seminar di Jakarta, bahwa: “Seluruh konstitusi yang ada di negara-negara yang ada di Eropa termasuk Indonesia sebenarnya berakar dari covenant antara Allah dengan Israel.” Covenant yang berarti Tuhan berjanji untuk memimpin, memberkati umat Israel, dimana Israel harus menaati dan melakukan perjanjian itu. Problemnya adalah kita seringkali melanggar perjanjian itu. Manusia seringkali tidak memegang perkataan dan janji yang sudah dibuatnya dengan Allah. Tetapi kita sekali lagi melihat anugerah Tuhan yang begitu besar, karena meskipun kita tidak setia, Tuhan tidak pernah melanggar janji-Nya. Dia akan terus memelihara dan menggenapi kehendak-Nya yang sudah dinyatakan pada kita. Kali ini kita diingatkan untuk memandang kepada Kristus, mengenal Dia dan makin mengasihi Dia, karena dari kepenuhan-Nya kita telah menerima kasih karunia demi kasih karunia. 

Ringkasan oleh Dewi Senjaya | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya