Ibadah > Kebaktian Minggu > Ringkasan Khotbah > Firman Menjadi Daging

Ibadah

Firman Menjadi Daging

Pdt. Budy  Setiawan

Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan
Date: Minggu, 31 Juli 2016

Bacaan Alkitab: Yoh 1:14, Filipi 2:1-7

Dalam Yohanes 1:14 dikatakan: “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemulian-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran”. Ini adalah satu ayat yang paling padat dan paling lengkap menjelaskan tentang inkarnasi.  Inkarnasi itu bukan re-inkarnasi karena inkarnasi hanya satu kali saja terjadi, yaitu Firman menjadi daging, Allah menjadi manusia. Itulah satu-satunya inkarnasi dalam Alkitab.

Kata-kata yang begitu penting dalam satu ayat di atas adalah: Firman yang menjadi daging, diam, kemuliaan-Nya, anak tunggal Bapa, penuh kasih karunia (full of grace and truth). Kita sering mendengar dan membaca ayat ini, tetapi sayangnya ketika kita membacanya kita merasa biasa saja.

Hal yang bisa kita lihat dari ayat ini adalah:

1. Firman itu telah menjadi daging (The word become flesh)

Ini adalah kata yang memang dipakai dalam bahasa aslinya: daging, bukan manusia. Sebenarnya ini adalah kata yang boleh dikatakan hampir kasar sekali untuk menunjuk natur dari manusia. Kemungkinan besar karena Yohanes menghadapi pengajaran-pengajaran yang salah pada saat itu yang salah satunya adalah pengajaran yang disebut doketisme yang mengajarkan ketika Yesus datang ke dalam dunia, Dia tidak betul-betul menjadi daging; karena ada latar belakang Greek philosophy di dalamnya: daging, tubuh ini dianggap jahat, tubuh  adalah penjara jiwa. Bagaimana mungkin Allah yang suci, Allah yang mulia, Allah yang agung, Allah yang adalah roh itu sendiri bisa datang ke dalam dunia di dalam daging? Ini sesuatu yang tidak mungkin. Doketisme menyatakan ketika Yesus Kristus datang ke dalam dunia, Dia tidak betul-betul berdaging, tidak betul-betul menjadi manusia; Dia itu hanya kelihatannya seperti manusia. 

Yohanes kemungkinan besar sengaja memakai kata “Firman itu telah menjadi daging” untuk tidak membuka kemungkinan bahwa Yesus Kristus itu datang ke dalam dunia hanya sepertinya menjadi manusia, bukan sungguh-sungguh manusia.

Di sini Yohanes mau menekankan bahwa Firman itu yang adalah Allah itu sendiri juga adalah Firman yang datang betul-betul menjadi manusia.  Ini menjadi satu pengajaran iman yang kita harus pegang bahwa Dia adalah sungguh-sungguh Allah dan juga sungguh-sungguh manusia (Jesus Christ is truly God and truly man).

Bagaimana kita boleh melihat bahwa Allah menjadi manusia, Firman menjadi daging tanpa kemudian berhenti menjadi Allah:

  • Firman menjadi daging dan diam di antara kita, artinya Allah sendiri datang dan diam di antara kita. Itulah yang dikonformasi dalam Matius 1: 23 sebagai penggenapan nabi Yesaya:   

“Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” – yang berarti: Allah menyertai kita.

Dengan Kristus datang ke dalam dunia, Firman menjadi daging maka hendak menyatakan Allah beserta dengan kita.

  • Kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan dari anak tunggal Bapa., sang Firman itu sendiri yang adalah Allah itu sendiri.

Dalam pembacaan Alkitab dari Filipi 2: 1-7, kita melihat adanya persoalan-persoalan yang dihadapi oleh jemaat di Filipi seperti di jemaat-jemaat yang lain, seperti persoalan kesombongan, egoisme (ayat 3– 4).  Dalam menghadapi persoalan-persoalan ini, Paulus mengingatkan apa yang diajarkan dalam Yohanes 1:14  kepada jemaat di Filipi yaitu melalui perkataan: “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” Di sini Paulus memakai kebenaran inkarnasi Allah menjadi manusia, Firman menjadi daging untuk mengaplikasikan persoalan yang dihadapi oleh jemaat di Filipi.

Dalam membahas Injil Yohanes ini, banyak pengajaran doctrinal yang ada di dalamnya.  Biarlah kita boleh mengerti bahwa pengajaran doktrinal itu justru menjadi fondasi dari kehidupan kita yang praktikal, sehari-hari yang kita hadapi. Pengajaran doktrinal harus muncul dalam kehidupan yang praktikal.

2. Dalam Yohanes 1:14, siapakah yang dimaksud dengan “kita”?

Kita berpikir bahwa “kita” di sini adalah Yohanes dan orang-orang yang masih hidup pada zaman itu. Kita perlu mengingat bahwa Yohanes menuliskan kitab ini kepada orang-orang yang belum pernah melihat Yesus. “Kita” di sini bukan hanya bagi Yohanes dan orang- orang yang pernah melihat Yesus, tetapi juga bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya.

Dalam ayat Yoh1:12-13 yang dibahas sebelumnya, Yohanes menyatakan bahwa hanya orang-orang yang telah dilahir barukan, diperanakkan bukan dari darah atau daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan  seorang laki-laki melainkan dari Allah; mereka bisa menerima, percaya, melihat akan kemuliaan Kristus bukan dengan mata fisikal, tetapi dengan mata hati yang terang.  Ini adalah pekerjaan Roh Kudus yang melahir barukan kita, memberikan terang kepada hati kita sehingga kita boleh percaya kepada-Nya, beriman kepada-Nya dan boleh melihat kemuliaan-Nya. Dengan ini harus ada perubahan yang dahsyat dalam hidup kita.

Sebagai contoh adalah kehidupan Agustinus, bapa gereja. Sebelum menjadi bapa gereja, dia adalah seorang yang rusak hidupnya. Tetapi ketika dia bertemu dengan Tuhan dalam pergumulan hidupnya, dia bertobat, percaya kepada Tuhan. 

Biarlah kita boleh melihat kemuliaan Kristus, Firman yang datang ke dalam dunia menjadi daging.

 

 

Ringkasan oleh Adrian Gandanegara | Diperiksa oleh Matias Djunatan


Ringkasan Khotbah lainnya